Anda di halaman 1dari 41

Penerapan Pembeajaran Kooperatif J igsaw I I I Terhadap Hasil Belajar Dan Kreatifitas

Siswa Kelas X SMA N 1 Payakumbuh Tahun Pelajaran 2013/2014.



Diajukan Sebagai Salah Satu Memenuhi Tugas Terstruktur
di dalam Mata Kuliah Metodologi Penelitian


Oleh:
ANGGUN SASMITA
2411.063
Kelas : VB

Dosen Pembimbing:
M. IMAMUDDIN, M.Pd

PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SJECH M.DJAMIL DJAMBEK
BUKITTINGGI
1434 H/2013 M

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Matematika adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting
dalam dunia pendidikan. Dalam perkembangan IPTEK yang terjadi tidak terlepas dari
ilmu matematika, oleh karena itu hendaknya pembelajaran matematika dapat menjadi
suatu pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik, sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar matematika.
Pemerintah telah melakukan berbagai usaha dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan matematika, antara lain dengan melakukan peningkatan kemampuan guru
melalui penataran dan pelatihan, seperti dalam pelatihan berbagai model-model
pembelajaran contecstual teaching and learning (CTL). Serta dengan melakukan
perbaikan kurikulum. Sejak tahun 1975 sudah beberapa kali pertukaran kurikulum
mulai dari kurikulum 1984, 1994, rensi kurikulum 1994, kurikulum 2004, Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK), dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
namun perbaikan kurikulum ini belum dapat mencapai hasil yang sesuai dengan
keinginan, hal ini terlihat dari hasil ujian tengah semester di SMA N 1 Payakumbuh,
rata- rata ujian tengah semester belum memuaskan, seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Rata-rata nilai ujian tengah semester kelas X SMA N 1 Payakumbuh
Tahun Pelajaran 2013-2014
Kelas Jumlah siswa Rata- rata nilai ujian tengah semester


X
X
24
24
25
50,89
49,56
52,89
(sumber: Guru mata pelajaran matematika SMA N 1 Payakumbuh Tahun
pelajaran 2013-2014)
Dari tabel terlihat bahwa hasil ujian tengah semester ganjil siswa kelas X
SMA N 1 Payakumbuh tahun pelejaran 2013-2014 masih dibawah Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM), menurut kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran dikelas X harus
mencapai 61, di SMA N 1 Payakumbuh tersebut.
Rendahnya hasil belajar matematika siswa tersebut dipengaruhi oleh berbagai
faktor, terutama berkaitan dengan proses pembelajaran, selama ini siswa cendrung
bersifat pasif dan lebih terpusat pada guru (teacher center), hanya menerima apa yang
disampaikan guru tanpa menemukan sendiri solusi permasalahannya, keadaan ini
terlihat dari kemampuan kreativitas mereka yang masih kurang dalam belajar, dan juga
kurang bisa bersosialisasi dengan teman-teman selokalnya.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan pada tanggal 21 Oktober 2013 di
SMA N 1 Payakumbuh kelas

, pada saat peneliti mendapat tugas dari guru


pamong. Guru menjelaskan materi secara konvensional, yang menitik beratkan pada
ceramah, latihan soal dan penugasan, yang terkait langsung dengan hasil belajar, di
kelas X SMA N 1 Payakumbuh siswa masih sulit untuk mengerjakan soal yang
diberikan oleh guru, walaupun soal itu sesuai atau sama persis dengan contoh soal
yang diberikan sebelumnya, saat guru menjelaskan materi pembelajaran yang diikuti
dengan contoh soal.
Dalam belajar matematika dikelas X SMA N 1 Payakumbuh tersebut terlihat
bahwa banyak siswa yang kurang aktif dalam mengerjakan soal-soal yang ditulis oleh
guru dipapan tulis, sehingga sebagian besar soal itu masih dibahas oleh guru. Hal ini
menyebabkan mereka sulit untuk memahami konsep yang diberikan dari contoh soal
yang diterangkan, sehingga siswa masih belajar matematika dengan sistem hafalan
tanpa dilengkapi dengan latihan, dan menyebabkan hasil belajar merekapun rendah.
Berdasarkan uraian diatas, diduga bahwa salah satu penyebab rendahnya hasil
belajar matematika siswa adalah proses pembelajaran yang berlangsung masih bersifat
konvensional, selain itu guru kurang mengkaitkan ilmu matematika dengan kehidupan
sehari-hari, guru lebih terfokus pada teori dan kurang menjelaskan penerapan dengan
ilmu lainnya atau dunia nyata. Sehingga siswa cendrung menghafal materi pelajaran
tanpa ada pemahamannya, hal ini menyebabkan kreativitas siswa tidak dapat
berkembang dengan baik, walaupun mereka telah disuruh mengerjakam latihan-
latihan, namun mereka masih belum dapat menyelesaikan soal-soal dengan benar dan
tepat, sesuai dengan apa yang telah diterangkan oleh guru.
Berdasarkan uraian diatas perlu diadakan pengembangan pembelajaran
kooperatif. Modal pembelajaran yang penulis pilih adalah model pembelajaran Jigsaw
III. Karena modal pembelajaran kooperatif jigsaw III ini memiliki suatu keunggulan
adanya suatu kerja sama dalam kelompok. Selain itu memiliki kemampuan
menyampaikan informasi kepada teman- temanya yang lain dan setiap siswa mendapat
kesempatan yang sama untuk menunjang kelompok mendapat nilai yang maksimal.
Sehingga siswa mendapat tugas dan tanggung jawab sendiri- sendiri. Hal ini bertujuan
supaya pembelajaran kooperatif dapat berjalan secara bermakna dan tercapai optimal
sesuai yang diharapkan kurikulum.
Berdasarkan penjelasan diatas peneliti ingin mengadakan penelitian yang
berjudul Penerapan Pembeajaran Kooperatif J igsaw I I I Terhadap Hasil Belajar
Dan Kreatifitas Siswa Kelas X SMA N 1 Payakumbuh Tahun Pelajaran 2013/2014.


B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat diidentifikasikan beberapa
masalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran yang berlangsung masih terpusat pada guru
2. pembelajaran yang berlangsung masih bersifat konvensional
3. Siswa hanya menerima apa yang disampaikan guru
4. Nilai siswa yang masih berada dibawah kriteria ketuntasan minimal
(KKM)
5. Kemampuan kreativitas siswa belajar matematika masih rendah

C. Batasan Masalah
Masalah yang dibahas oleh penulis adalah:
1. Hasil belajar matematika siswa kelas X SMA N 1 Payakumbuh tahun
pelajaran 2013-2014 masih dibawah KKM.
2. Aktivitas belajar siswa kelas X SMA N 1 Payakumbuh tahun
pelajaran 2013-2014 rendah.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka permasalahan dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Hasil belajar matematika siswa kelas X SMA N 1 Payakumbuh tahun
pelajaran 2013/2014 dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif jigsaw III siswa yang menggunakan pembelajaran
konvensional.
2. Kemampuan aktivitas siswa kelas X SMA N Payakumbuh taun
pelajaran 2013/2014 dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif jigsaw III
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dari penelitian ini adalah:
Hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif jiksaw III lebih memperoleh hasil yang lebih baik dari pembelajaran
konvensional pada siswa kelas X SMA N 1 Payakumbuh tahun pelajaran 2013-2014.

F. Tujuan Penelitiaan
Berdasarkan permasalahan penelitian yang akan diteliti maka penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Melihat pengaruh pembelajaran kooperatif jigsaw III dalam
meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMA N 1 Payakumbuh
2. Mengetahui kemampuan kreatifitas siswa dikelas X SMA N 1
Payakumbuh tahun pelajaran 2013/2014


G. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Bagi Guru
a. Dapat memberikan alternatif pemecahan masalah dalam menemukan
model pembelajaran matematika.
b. Memberikan informasi bagi guru matematika khususnya guru SMA
mengenai model pembelajaran kooperatif jigsaw III.

2. Bagi Siswa
a. Melatih siswa untuk dapat bekerja sama dalam sebuah kelompok
bersama- sama siswa lain dalam lokal.
b. Melatih siswa berfikir kritis, kreatif dan inofatif dalam menyelesaikan
masalah yang dihadapi khususnya yang berhubungan dengan soal- soal
matematika.
c. Membiasakan siswa dalam mencari sendiri atas solusi suatu
permasalahan dalam soal- soal matematika.

3.Bagi Lembaga
Diharapkan dapat memberi kontribusi dalam meningkatkan kualitas sekolah










BAB II
KERANGKA TEORITIS

A. KAJIAN TEORI
1. Tinjauan Tentang Pembelajaran Matematika
Belajar adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan individu sehingga
menghasilkan atau mengakibatkan perubahan tingkah laku yang dapat diamati dalam
waktu yang relatif lama dengan disertai usaha individu tersebut
1
.
Belajar menurut A. Tarbani dkk adalah suatu proses tingkah laku individu
berinteraksi dengan lingkungannya. Jadi belajar memerlukan usaha dari individu untuk
aktif dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya sehingga dapat mengakibatkan
perubahan tingkah lakunya
2
.
Belajar juga dapat meningkatkan taraf dan nilai hidup seseorang, keluarga dan
bahkan suatu negara. Karena dengan belajarlah, manusia dapat mengalami
pencerahan, mereka yang belajar seharusnya bisa menjalani hidup secara sempurna
sebagai manusia.
Berdasarkan kutipan diatas dapat diperjelas bahwa belajar itu dapat merobah
tingkah laku seseorang, yang nantinya aka berguna bagi dirinya sendiri, keluarga dan
bahkan suatu negara.
Nikson Marpaung dan Mulyadi menyatakan bahwa pembelajaran matematika
adalah upaya membantu siswa untuk mengkonstruksi konsep- konsep atau prinsip-
prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses interaksi sebagai
konsep dan prinsip itu dibentuk kembali. Jadi guru dituntut untuk memberi dorongan

1
ibid, h 5

2
Tarbani dkk, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta : Grasindo, 1992), h 2
kepada siswa dengan memfasilitasi siswa agar aktif mengkonstruksi kompetensi
matematika mereka. Guru juga dituntut untuk membantu peserta didik untuk menjadi
sadar terhadap bakat personal yang ada dalam dirinya dan untuk mengembangkan serta
merealisasikannya agar mencakup berbagai maslah
3
.
Dalam kaitannya dengan matematika, menurut Bruner matematika adalah
belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat dalam
materi yang akan dipelajari serta mencari hubungannya dalam matematika itu, Bruner
(1988: 56-57) mengemukakan bahwa belajar matematika dapat berlangsung 4 tahap,
yaitu:
1. Teorema (contruction teorema)
Bahan belajar matematika yang terbaik bagi siswa yaitu dengan
memulai belajar konsep dan prinsip matematika dan mengkonstruksikan
gagasan- gagasan yang dipelajari.
2. Teorema Notasi
Bahwa notasi konstruksi awal belajar dibuat lebih sederhana secara
kognitif dan dapat di mengerti lebih baik oleh siswa, hal ini dilakukan dengan
pendekatan spiral.
3. Teorema perbedaan dan vanasi
Bahwa belajar matematika berlangsung dari kongkrit menuju abstrak
harus disertai perbedaan dan fariasi.
4. Teorema konektivitas
Bahwa belajar matematika mengenai setiap suatu konsep, struktur dan
keterampilan berhubungan dengan suatu konsep, struktur dan keterampilan
yang lain.

3
Nikson Marpaung dan Mulyadi, Belajar Matematika Aktif, ( Bandung : Sinar Baru Agresindo, 2002), h 101
Jadi dalam belajar matematika siswa dituntut aktif dalam proses pembelajaran
agar pelajaran itu mudah dipahami dan diterapkan baik untuk diri sendiri,
lingkungan dan negara dengan adanya bimbingan dari seorang guru agar siswa
itu menyadari kemampuan personal yang ada dalam dirinya.
5. Hal yang perlu diperhatikan peserta didik yaitu adab belajar menurut ajaran
islam, merujuk pada Al-Quran dan sunnah yaitu: (Achjar Chail, 2008,
pembelajaran berbasis fitrah)
6. belajar efektif
Belajar efektif adalah kegiatan belajar yang diikuti oleh keimanan dan
kecintaan kepada sang pencipta Alam Semesta. Allah akan meninggikan
derajat orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.
7. belajar dengan cermat
Kecermatan dan ketelitian adalah bukti dari keseriusan kita terhadap
suatu pekerjaan yang dilakukan.
8. sabar dalam menuntut ilmu
sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 153 yang
artinya:
hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. (QS. Al
Baqarah: 153 )
kesabaran yang tinggi dan kasih saying dan tulus insya Allah akan membuat
peserta didik akan merasa betah duduk lama didalam kelas.
9. Belajar dengan cara bertanya
seorang guru hendaknya dapat merangsang timbulnya pertanyaan dari
peserta didik di dalam pembelajarannya, sehingga pembelajaran yang
berlangsung dapat bersifat aktif.


10. Restu Orang tua
kecerdasan dapat dicapai dengan tekun dan giat belajar dan
berlatih, factor kecerdasan yang pertama yaitu Allah, karena dialah
yang menggerakkan saraf-saraf diotak kita, Allahlah yang menyimpan
semua materi di alam raya untuk kita teliti, factor kedua untuk
mencapai keutamaan kecerdasan adalah sejati adalah kesadaran bahwa
orang tua mempunyai persn besar dalam usaha dan proses pencapaian
kecerdasan.
11. hormat kepada guru
Guru adalah orang tua anak didik disekolh. fungsi-fungsi
pendidikan menjadi tanggung jawab guru saat anak didik ada
disekolah. peserta didik yang berhasil menguasai ilmu,
mengaplikasikan, dan memiliki karakter karena ilmunya tentu saja tak
lepas dari peran guru-guru yanga ada disekolah.

2. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang secara sadar dan
sengaja mengembangkan interaksi yang silih asah atau saling tenggang rasa untuk
menghindari ketersinggungan dan kesalah pahaman yang dapat menimbulkan
kerusuhan untuk menyelesaikan satu masalah secara bersama- sama (kooperatif).
Menurut Muslim (2006: 6) unsur pembelajaran kooperatif adalah:
a. Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka
sehidup sepenanggungan bersama.
b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu didalam kelompoknya
seperti miliknya sendiri.
c. Siswa haruslah melihat bahwa anggota didalam kelompoknya memiliki
tujuan yang sama.
d. Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama
diantara anggota kelompoknya.
e. Siswa akan dikenakan evaluasi atau akan diberikan hadiah/
penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota
kelompok.
f. Siswa berbagai kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan
untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g. Siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual
materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Dalm pembelajaran kooperatif juga melatih siswa dalam mencapai tujuan-
tujuan hubungan sosial dan manusia yang mana pada akhirnya hal ini berpengaruh
terhadap prestasi akademik siswa.

3. Model Jigsaw III
Salah satu model pembelajaran kooperatif ialah model pembelajaran
kooperatif Jigsaw III, model pembelajaran kooperatif jigsaw ini dikembangkan oleh
Eiuot Aronson dkk dari Universitas Texas (1978) kemudian diadaptasi oleh Slavin
dkk dari Universitas Hopkins, model pebelajaran kooperatif jigsaw adalah model
pembelajaran dengan pemecahan masalah secra bersama-sama dengan cepat. Dalam
penerapan jigsaw mengalami perkembangan pemikiran dasar, jigsaw ialah
memberikan kesempatan pada siswa untuk berbagi dengan yang lain mengajar serta
diajari oleh sesama merupakan bagian penting dalam proses belajar dan sosialisasi
yang berkesinambungan.
Langkah-langkah dalam penerapan jigsaw oleh Aroson dkk adalah sebagai
berikut:
1. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok dengan setiap
kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat
kemampuan tinggi, sedang dan rendah serta jika mungkin anggota dari
kelompok berasal dai ras, budaya, suku yang berbeda serta kesetaraan gender.
Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal
menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan di pelajari siswa
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam tipe jigsaw ini. Setiap
siswa di beri tugas mempelajari salah satu bagian materi pelajaran tersebut. Semua
siswa dengan materi pelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang sama
disebut kelompok ahli (conterpart group) dalam kelompok ahli siswa mendiskusikan
bagian materi pelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaiamana
menyampaikan pada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh
Aroson disebut jigsaw (gigi gergaji).
Misalkan : suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang
akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 5 bagian materi
pembelajaran maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggota 8
siswa dan 8 kelompok yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan
kembali kekelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari
kelompok ahli.
Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli
maupun kelompok asal.
2. Setelah siswa-siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun
kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing- masing kelompok atau
dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok
yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran
yanng telah didiskusikan.
4. Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual.
5. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor
penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor
dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
6. Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi bagian materi
pembelajaran.
7. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan jigsaw untuk belajar
materi baru perlu dipersiapkan suatu tuntunan dari isi materi yang runtut serta cukup
sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai.
Teknik mengajar jigsaw yang dikembangkan oleh Aronson ini sebagai metode
kooperatif learning. Teknik ini bisa digunakan dalam membaca, menulis,
mendengarkan ataupun berbicara. Pendekatan ini juga bisa pula digunakan dalam
beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial,
matematika, agama dan bahasa. Teknik ini cocok untuk semua kelas.
Dalam ini guru memperhatikan skema atau latar belakang pengalaman siswa
dan membantu siswa mengaktifkan skema ini agar bahan pelajaran lebih bermakana.
Selain itu siswa bekerjasama dengan siswa dalam suasana gotong royong dan
mempunyai banyak kesempatan untuk mengelola informasi dan meningkatkan
keterampilan berkomonikasi.
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini dicirikan oleh struktur tugas, tujuan
dan penghargaan kooperatif, yang melahirkan sikap ketergantungan diantara sesama
siswa, penerimaan terhadap perbedaan individu dan mengembangkan keterampilan
bekerja sama dan kalaborasi. Kondisi seperti ini akan memberikan kontribusi yang
berarti untuk membantu siswa yang kurang pintar dalam mempelajari konsep- konsep
yang dirasa sulit dalam matematika. Pada akhirnya setiap siswa dalam kelas dapat
mencapai hasil belajar yang maksimal dan sejajar.
Pada pembelajaran kooperatif tekhnik jigsaw ini siswa lebih aktif dan guru
hanya berfungsi sebagai fasilitator, konsultan dan menejer mengkoordinir proses
pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif tipe jiksau dibagi mvenjadi 3 macam, yaitu tipe
jigsaw, Jigsaw II dan Jigsaw III. Untuk lebih jelasnya dibuat perbedaan karakteristik
ketiga jenis tipe jigsaw.
Perbedaan karakteristik dari ketiga jenis tipe jiksaw menurut Djufri
4
.
Tabel 2. karakteristik ketiga jigsaw
Jigsaw Jigsaw II Jigsaw III
1. Siswa membaca ahli
saja.
2. Guru tidak
menyajikan materi
1. Siswa membaca
materi disamping
materi ahli saja.
2. Guru tidak
1. Siswa membaca ahli
saja.
2. Guru menyajikan
materi diawal.

4
Djufri, Model-Model Pembelajaran, (Padang: Tim UNIF, 2005), h 56
sama sekali.
3. Siswa mandiri.
4. Jika siswa kurang
memahami secara
mandiri,
pembelajaran kurang
berhasil.
5. Tidak ada ketentuan
presentasi
penyelesaian tugas.
6. Waktu yang
dibutuhkan lebih
lama dari jigsaw II
menyajikan materi
sama sekali siswa
mandirri.
3. Siswa mandiri.
4. Tingkat kesulitan
terkurangi karna
sebelum menerima
penjelasan, setiap
siswa mudah
membaca materinya
terlebih dahulu.
5. Tidak ada ketentuan
presentasi
penyelesaian tugas.
6. Waktu yang
dibutuhkan lebih
lama dari jigsaw III
3. Pada awal
pembelajaran masih
membutuhkan bantuan
guru sebelum dilepas.
4. Resiko kesulitan siswa
dapat teratasi karena
materi yang sullit
disajikan langsung
oleh guru.
5. Ada penyelesaian
tugas dengan cara
diundi.
6. Waktu yang
dibutuhkakn lebih
singkat dibandingkan
jigsaw dan jigsaw II

Dari hasil pengamatan maka penulis memilih model pembelajaran kooperatif
jigsaw III karna lebih banyak kebaikanya dibandingkan jigsaw dan jigsaw II.
Untuk melaksanakan model pembelajaran kooperatif jigsaw III dapat
dilibatkan langkah- langkah sebagai berikut:
1. Siswa dibagi menjadi kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang
perkelompok sesuai dengan perencanaan sebagai kelompok asal.





belajar materi 1 belajar materi 2 belajar materi 3
belajar materi 4 belajar materi 5

misalkan suatu kelas berjumlah 35 orang siswa, dan materi yang akan dicapai
sesuai dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, dan dari
35 orang siswa terdiri dari 5 kelompok ahli yang beranggota 7 orang dengan jumlah 7
kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali
kekelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di
kelompok ahli, serta setiap siswa menyampaikan apa yang telah ia peroleh atau
dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik kelompok
ahli maupun kelompok asal.
5

2. Guru menjelaskan standar kompetensi yang diharapkan dan
menjelaskan secara umum materi yang akan dibahas.
3. Guru menjelaskan aturan dalam kelompok pembelajaran kooperatif.
4. Masing- masing kelompok asal bergabung membentuk kelompok ahli.
5. Guru membagikan LKS. Sehingga tugas yang harus dikerjakan setiap
siswa dalam kelompok ahli.
6. Masing- masing siswa dalam kelompok mengerjakan tugas dan siswa
diberi kesempatan membaca, menyelidiki, berdiskusi dalam kelompoknya.

5
http://www.p4tkmatematika.org/downloads/ppp/PPP_Pembelajaran_Kooperatif.pdf (diakses pada hari
senin tanggal 17 januari 2011)

kelompok
asal 1
kelompok asal
7

kelompok asal
6

kelompok
asal 5

kelompok
asal 4

kelompok
asal 3

kelompok
asal 2

kelompok
ahli 5

kelompo
k ahli 4
kelompok
ahli 3

kelompo
k ahli 2

kelompo
k ahli 1
7. Kelompok ahli kembali kekelompok asal dan masing- masing anggota
menerangkan bagian materi yang telah ditugaskan kepada teman yang lain dalam suatu
kelompok.
8. Guru memberikan bimbingan jika ada kelompok yang bermasalah.
9. Guru mengundi kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya.
10. Guru memberikan penghargaan terhadap kelompok.
3. Hasil Belajar Matematika
Proses pembelajaran matematika berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran itu
dengan berbagai model pembelajaran yang digunakan salah satunya model
pembelajaran koopertif jigsaw III di lihat dari hasil pelajaran yang di peroleh oleh
siswa, yang dinilai dari segi kognitif, efektif dan psikomotor.
Hasil dari belajar metematika itu dapat di tentukan dari evaluasi dari suatu
pelajaran baik dengan diadakanya ujian harian, ujian tengah smester maupun ujian
akhir semester, berhasil atau tidaknya guru mengajar di lihat dari hasil belajar yang
diperoleh oleh siswanya dan berhsil atau tidaknya siswa dalam belajar dilihat dari hasil
belajar selama pembelajaran berlangsung.
Hasil belajar nampak dari kemampuan yang diperoleh siswa, menurut Gagne
dapat dilihat dari 5 ketegori yaitu
6
:
a. Keterampilan intelektual (intelektual skiil)
b. Informasi ferbal (ferbal information)
c. Strategi koognitif(cognitif strategies)
d. Keterampilan motorik (moror skiil)
e. Sikap (atitudes).

6
Gagne, . . . , h 27
Hal ini berarti bahwa orang dengan hasil belajarnya, selain harus dapat
menunjukan kemampuan-kemampuan tertentu, kemampuan-kemampuan tertentu dapat
pula di ukur tinkatanya. Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap dalam diri seseorang sebagai
akibat dari interaksi seseoarang dengan lingkungan
7
.
4. Kreatifitas
a. Pengertian kreatifitas
Menurut Fans (1991) kreativitas adalah suatu aktifitas mental untuk membuat
hubungan-hubungan (conektion) yang terus menurus (continue), sehingga di temukan
kombinasi yang benar atau sampai seseorang itu menyerah. Berfikir kreatif dapat
juga di pandang suatu proses yang di gunakan ketika seoramng individu memunculkan
suatu ide baru.
Beberapa pendapat para ahli tentang berfikir kreatif atau kreatifitas:
1. Berfikir aktif adalah kemampuan mencipta atau daya cipta(KBBI).
2. Kreatifitas adalah pengalaman mengekpresikan dan
mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan
diri sendiri, dengan alam dan dengan orang lain (clark moustais)
3. Berfikir kreatif merupakan untuk meeberikan gagasan baru yang
menerapkanya dalam pemecahan masalah(Conny R. Semlawan)
4. Kreatifitas dalah untuk mengaktuaisasikan diri, mewujudkan potensi
dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecendrungan untuk
mengekpresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme (rogers).
5. Kreatifitas dalah kegiatan yang dapat hasil yang sifatnya:

7
Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h.213
a) Baru (novel): inofatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh,
mengejudkan.
b) Berguna (Useful): lebih enak, praktis, mempermudah, mendoronng,
mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan. Mengatasi kesulitan,
mendatangkan hasil yang lebih baik/ banyak.
c) Dapat dimengerti (understand able) hasil yang sama dapat di mengerti
dan dapat dibuat di lain waktu (Dafi Cambell).
Dari beberapa defeinisi kreatifitas di atas dapat disimpulkan bahwa berfikir
kreatif atau kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang
baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk aktitude maupun
non aktitude, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang sudah ada
sebelumnya.
b. Kreatifitas Sebagai Multi Kecerdasan
Proses pemikiran untuk penyampaian masalah secara efektif melibatkan otak
kiri dan otak kanan, pemecahan masalah adalah kombinasi dan pemikiran logis dan
kreatif secara umum, otak kiri memainkan peranan dalam pemprosesan logika, kata-
kata, matematika dan urutan yang di sebut pembelajaran akademis otak kanan
berurusan dengan irama- irama, musik, gambar, dan imajinasi yang di sebut aktifitas
kreatif.

Tabel 3. Bagan proses pemikiran otak
Otak kiri Otak kanan
Vertikal
Kritis
Lateral
Hasil
Strategis
Dinamis
Kreatif

Keterangan:
1. Berfikir vertikal, yaitu suatu proses bergerak selangkah demi
selangkah menuju tujuan anda, seolah- olah anda sedang menaiki
tangga.
2. Berfikir lateral, yaitu melihat permasalahan anda dari beberapa sudut
baru, seolah- olah melompat dari satu tangga ke tangga lainya.
3. Berfkir kritis, yaitu berlatih atau memasukan penilaian atau evaluasi
yang cermat, seperti menilai kelayakan gagasan produk.
4. Berfikir analitis, yaitu suatu proses pemecahan masalah atau gagasan
anda menjadi bagian-bagian.
5. Berfikir strategi, yaitu mengembangkan strategi khusus untuk
perencanaan dan arah operasi- operasi skala besar dengan melihat
proyeksi itu dari semua sudut yang mungkin.
6. Berfikir tentang hasil, yaitu meninjau tugas dari perspektif solusi yang
di kehendaki.
7. Berfikir kreatif, yaitu memecahkan masalah dengan menggunakan
kombinasi dari semua proses.
c. Ciri- Ciri Berfikir Kreatif
Menurut Davit Cambell, ciri-ciri berfikir kreatif tau kretifitas ada 3 kategori,
yaitu:
1. Ciri-ciri produk yaitu kuncu untuk melahirkan ide, gagasan, ilham,
pemecahan, cara baru penemuan.
2. Ciri-ciri yang memungkinkan yaitu , yang membuat mampu
mempertahankan ide-ide kreatif, sekali sudah di temukan tetap hidup.
3. Ciri-ciri sampingan yaitu tidak lagsung berhubungan dengan
penciptaan atau menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap
hidup, tetapi tetap mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif.
4. Ciri-ciri kreatifitas.

Tabel 4. Ciri-ciri kreatifitas
Ciri-ciri pokok Ciri-ciri yang
memungkinkan
Ciri-ciri sampingan
1. Berfikir dari
segala arah(covergent
thinking)
2. Berfikir kesegala
arah(divergent
thingking)
3. Fleksibel
konseptual(kemampuan
secara spontan
mengganti
cara,memandang
pendekatan,karja yang
tak jalan.
4. Orisinalitas
(kemampuan
mengeluarkan ide yang
1. Kemampuan
untuk bekerja keras.
2. Berfikir
mandiri.
3. Pantang
menyerah.
4. Mampu
beromunikasi dengan
baik.
5. Lebih tertarik
pada konsep dari pada
detail(segi-segi kecil).
6. Keingin tahu
intelektual.
7. Kaya humor
dan fantasi.
1. Tidak
mengambil pusing
apa di pikirkan
orang lain.
2. Kekacapan
psisikologis.
asli bahkan
mengejudkan).
5. Lebih menyukai
konfleksitas dari pada
simplisitas.
6. Latar belakang
hidup yang meransang
(hidup dalam lingkungan
yang dapat menjadi
contoh).
7. Kecakapan dalam
banyak hal(mulltple
skills)
8. Tidak segera
menolak ide atau
gagasan baru.
9. Arah hidup
yang mantap

Remi Akbar Hawadi dalam bukunya keberbakatan intelektual menyebutkan
ciri-ciri kreaktifitas sebagai berikut:
1. Memiliki rasa ingin tahu yang mendalam.
2. Sering mengajukan pertanyaan yang berbobot.
3. Memberikan banyak gagasan,usu-usul terhadap suatu masalah.
4. Mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu.
5. Mempunyai atau menghargai rasa keindahan.
6. Menonjol dalam satu atau lebih bidang studi.
7. Dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai segi.
8. Mempunyai rasa humor.
9. Mempunyai daya imajinasi(seperti memikirkan hal yang baru tidak
biasa).
10. Mampu mengajukan pemikiran,gagasan pemecahan masalah yang
berbeda dengan orang lain(orisinil).
11. Kelancaran dalam menghasilkan berbagai macam gagasan.
12. Mampu mengahadapi masalah dari berbagai sudut pandang.
d. Kiat- Kiat Menjadi Kreatif
Kiat-kiat untuk kreatif menurut Bobbi D.Porter dan Mike Hernacki (2001:
321) dalam bukunya quantum learning adalah sebagi berikut:
1. Ingatlah sukses-sukses anda di masa lalu.
2. Yakinlah ini dapat menjadi hari terobosan.
3. Latihkan kretifitas anda dengan permainan mental.
Kreatifitas perlu di pupuk sejak dini karena:
1. Dengan berkreasi orang dapat
mewujudkan(mengaktualisasikan)dirinya, dan perwujudan atau
aktualitas diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tinggi dalam
hidup manusia(Maslow,1997).kreatifitas merupakan menifestasi dari
individu yang berfungsi sepenuhnya.
2. Kreatifitas atau berfikir kreatif sebagai kemampuan untuk melihat
bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah
merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini kurang mendapat
perhatian dalam pendidikan (Gull ford, 1967).
3. Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat(bagi diri pribadi dan
bagi lingkungan) tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu.
4. Kreatifitas memungkinkan manusia meningkatkan kwalitas hidupnya.

B. KERANGKA KONSEPTUAL
Dalam proses pembelajaran matematika interaksi antara guru dan
siswa menentukan perubahan tingkah laku yang terjadi, perubahan tingkah
laku yang terjadi tergantung pada bagaimana seorang guru dalam mendidik
siswanya secara baik, guru di tuntut untuk mengembangakan kemampuanya
dalam mengorganisasi dan merancang suatu model pembelajaran agar
tercapainya tujuan pembelajaran yang baik dan tepat sasaran.
Untuk melihat pengaruh model pembelajaran kooperatif jigsaw III
terdapat siswa dengan membandingkan nilai quis(x) dengan hasil belajar
matematika setelah dilakukan model pembelajaran kooperatif jigsaw III
tersebut (y). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat kerangka konseptualnya
sebagai berikut:
Siswa

BBM dengan melakukan
Pembelajran kooperatif Jiksaw III


Quis (x)


Tes akhir/ hasil belajar (y)


BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka jenis penelitian ini adalah
penelitian ekspriment jenis rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized
control Group Only Design yaitu penelitian yang dilakukan pada dua kelompok
sampel, yaitu kelas control dan kelas eksperiment. Pada kelas ekspriment pembelajaran
menggunaknan model kooperatif Jigsaw III, sedangkan kelas control dilakukan proses
pembelajaran konvensional, menurut Surya Brata rancangan penelitian Randomized
control Group Only Design dapat dilihat pada table 2
8
.
B. Rancangan Penelitian
Untuk melihat dampak perlakuan yang diberikan terhadap hasil belajar dan
berfikir kreatif siswa dalam belajar matematika dengan menggunakan model
kooperatif tipe Jigsaw III dapat dilihat yaitu : Pada penelitian ini kelas sampel
diberikan perlakuan yaitu pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe
jigsaw III, untuk melihat hasil belajar dan berfikir kreatif siswa. Siswa di kondisikan
berkelompok baik itu kelompok asal maupun kelompok ahli. Kelompok ahli diberi
lembar kerja siswa (LKS). Siswa mengerjakan tugas dalam kelompoknya dengan
membaca. Menyelidiki dan berdiskusi tugas kelompok ahli ini yaitu menyampaikan
informasi yang ia dapat kelompok asalnya. Kelompok asal diundi untuk
memprestasikan hasil diskusinya siswa akan mendapat penghargaan dalam
presentasinya.

8
Surya Brata, Sumadi, Metode Penelitian, ( Bandung : PT Raja Grapindo Persada, 2002), h 43
Tabel 5. Rancangan Penelitian
Kelas Perlakuan Hasil Blogar
Eksprimen T


Kontrol -



Keterangan :
T = Pembelajaran

= Hasil Belajar Kelas Eksperimen


= Hasil Belajar Kelas Kontrol


C. Populasi Dan Sampel
a. Populasi
Populasi adalah Objek penelitian yang berpungsi sebagai sumber data. Objek
populasi dapat berupa manusia, benda- benda, tumbuh- tumbuhan atau peristiwa-
peristiwa .
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X yang terdiri atas 3
kelas di SMA N 1 Payakumbuh Tahun Pelajaran 2010/2011.
Tabel 6. Jumlah siswa kelas X SMA N 1 Payakumbuh Tahun Pelajaran
2010/2011.
No Kelas Jumlah Siswa
1

24
2

24
3

25

Sumber : Guru SMA N 1 Payakumbuh
b. Sampel
Sampel dilakukan oleh penelitian berdasarkan pertimbangan masalah,
tujuan, hipotesis, objek, populasi, metode dan instrument penelitian,
disamping pertimbangan waktu, tenaga dan biaya.
Berdasarkan masalah yang ditulis penulis membolehkan satu kelas
sampel, dari tiga kelas pada populasi. Dimana setelah diteliti ternyata ke tiga
kelas dari populasi homongen hal ini dilihat dari hasil ujian tegah semester
ganjil kelas X SMA N 1 Payakumbuh tersebut.
Sampel adalah bagian dari populasi, segala karektaristik populasi
tercermin dalam sampel yang diambil. Sampel penelitian adalah sebagian
dari populasi yang memilki sifat dan karakter yang sama sehingga betul-betul
mewakili populasinya.
9

Agar sampel dapat mewakili dan mengambarkan sifat serta
karekteristik dari populasi, maka perlu dilakuakan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Mengumpulkan data nilai ujian akhir matematika kelas X
semester I SMA N 1 Payakumbuh tahun ajaran 2010/2011 ,
kemudian dihitung rata-rata dan simpangan bakunya..
b. Melakukan uji normalitas populasi terhadap nilai ujian akhir
matematika kelas X yang bertujuan untuk mengetahui apakah
populasi tersebut berdistribusi normal atau tidak
Hipotesis yang diajukan adalah:
H
0
= Populasi berdistribusi normal.
H
1
= Populasi berdistribusi tidak normal

9
Nana Sudjana, Metode Statistika,( Bandung: Tarsito, 2005), h.84

Untuk melihat sampel berdistribusi normal, digunakan uji Liliefort dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Data X
1
, X
2
, X
3
, , X
n
diperoleh dan disusun dari data yang terkecil
sampai yang terbesar.
2) Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
S
X X
Zi
i

=


Dimana:
S = Simpangan Baku
X
= Skor rata-rata
X
i
= Skor dari tiap soal
Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian
dihitung peluang F (Zi) = P (P < Zi)
Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih baku atau sama Z
i

yang dinyatakan dengan S(Z
i
) dengan menggunakan rumus:

( )
n
Z Z
n
Zi yang ,...., , Z Banyaknya
Z S
2 1
i
s
=

Menghitung selisih F (Z
i
) S(Z
i
), kemudian ditentukan nilai
mutlaknya.
Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi
simbol L
o
. L
o
= maks ( ) ( )
i i
Z S Z F
Bandingkan nilai Lo yang diperoleh dengan nilai Lo yang ada pada
tabel. Pada taraf 0,05 jika Lo L
tabel
maka Ho diterima. Dari hasil
analisis data pada taraf nyata = 0,05 terlihat bahwa Lo < Ltabel maka
Ho diterima. Berarti data tersebut berasal dari populasi berdistribusi
normal.
10


c. Melakukan uji homogenitas varians dengan menggunakan uji Bartlet dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menghitung varians gabungan dari semua populasi dengan menggunakan
rumus :

=
) 1 (
) 1 (
2
2
i
i i
n
S n
S
2) Menghitung harga satuan Bartlett (B) dengan rumus :
) 1 ( ) (log
2
=
i
n S B

10
ibid, h 29
3) Untuk uji Bartlet digunakan statistik uji Chi Kuadrat dengan rumus:
{ }
2 2
log ) 1 ( 10 ln
i i
S n B =

_
Kemudian harga hitung
2
_ dibandingkan dengan harga tabel
2
_ , kriteria
pengujian H
0
jika ) 1 , 1 (
2 2
< k hitung o _ _ , dimana H
0
adalah populasinya
mempunyai variansi yang homogen.
2
) 1 )( 1 ( k
x
o
didapat dari distribusi chi kuadrat
dengan peluang (1-o ) dan dk = (k-1).
d. Melakukan uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan teknik anava satu arah.
Adapun langkah-langkahnya adalah :
1) Menentukan jumlah kuadrat rata-rata dengan rumus :


=
i
i
n
X
R JK
2
)) ( (
) (
2) Menghitung jumlah kuadrat antar kelompok dengan rumus :
) (
) (
) (
2
R JK
n
X
A JK
i
i

|
|
.
|

\
|
=



3) Menghitung jumlah kuadrat total dengan rumus :

=
2
) (
i
x T JK
4) Menghitung jumlah kuadrat dalam kelompok dengan rumus :
JK(D) = JK(T) - JK(R) - JK(A)
5) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat antar kelompok dengan rumus
1
) (
) (

=
k
A JK
A RJK
6) Menghitung rata-rata kuadrat dalam kelompok dengan rumus :
k n
D JK
D RJK

=
) (
) (
7) Menguji signifikan dari kelompok dengan rumus :
) (
) (
D RJK
A RJK
F =
8) Memasukkan hasil perhitungan langkah 1-7 kedalam tabel analisis variansi
untuk uji kesamaan rata-rata. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 7. Format Analisa Variansi untuk Uji Kesamaan Rata-rata
Sumber Variansi DK JK RJK F
Rata-rata 1 JK(R)
F=
( )
( ) D RJK
A RJK

Antar Kelompok k-1 JK(A) RJK(A)
Dalam Kelompok n-k JK(D) RJK(D)
Total N JK(T)

Kriteria pengujian adalah terima Ho :
1
=
2 =

3,
jika F
hitung
< F
(1-o)(k-
1;n-k)
di dapat dari daftar distribusi F, dengan peluang o sedangkan dk = (k-1) dan
(n-k).
d. Menentukan sampel dari populasi.
Menentukan sampel dari populasi setelah dilakukan uji homogenitas
variansi dan uji kesamaan rata-rata.
D. Variabel dan Data
a. Variabel
Variabel merupakan suatu objek penelitian yang menjadi titik fokus perhatian
peneliti dalam meneliti. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel
11
, yaitu :
i. Variabel bebas : model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw III dan
pembelajaran konvensional

11
Zarmislina, Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Kancing Gemerincing Terhadap Hasil Belajar
dan Aktivitas Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Batang Anai Tahun Pelajaran 2008-2009 ( skripsi), 2009 ( tidak
diterbitkan)
ii. Variabel terikat : Aktivitas dan hasil belajar siswa.
b. Data
Jenis data dari peneltian ini terdiri dari :
1. Data Primer, Yaitu berfikir kreatif siswa yang diperoleh melalui
presentase dari kelompok asal dalam membahas tugas yang diberikan guru pada
lembar kerja siswa (LKS). Sumber data primer merupakan siswa yang menjadi subjek
penelitian dan observer.
2. Data Skunder. Meliputi data jumlah siswa dan nilai ujian tengah
semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010. Sumber data skunder yaitu Guru
matematika SMA N 1 Payakumbuh.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu :
1. Perencanaan
a. Menentukan Jadwal Penelitian
b. Mempersiapkan Perangkat Pembeljaran
Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah LKS yang sebelumnya
dilakukan validasi oleh guru matematika SMA N 1 Payakumbuh, dengan tujuan
apakah perangkat peljaran tersebut sesuai dengan materi pelajaran yang disampaikan
guru.
c. Mempersiapkan sumber- sumber, alat dan bahan yang diperlukan
untuk memecahkan masalah pada LKS.
d. Membagi kelompok berdasarkan ketentuan yang terdapat pada BAB II
e. Melaksanakan uji coba.
2. Plaksanaan
a. Pertemuan pertama
Sebelum pembeljaran degan model kooperatif Jigsaw III dilaksanakan terlebih
dahulu dijelaskan pada siswa bagaimana teknik pembelajaran Jigsaw III, pembagian
kelompok dan tugas masing- masing kelompok dalam kelompok belajar kooperatif tipe
Jigsaw III. Kemudian guru menjelaskan standar kompetensi dan kompetensi dasar
setelah itu siswa dikondisikan dalam kelompok, setiap kelompok akan
mempresentasikan hasil diskusi mereka untuk mengetahui bagaimana berfikir kreatif
belajar matematika siswa.
b. Pertemuan kedua
Pertemuan kedua sama dengan pertemuan pertama. Namun pada pertemuan
kedua ini diberikan tes diakhir pertemuan.
c. Pertemuan ketiga, empat dan lima sama dengan pertemuan kedua
d. Pertemuan ke enam diberikan tes akhir pada siswa.
e. Tahap akhir penilaian
1. Melaksanakan tes uji coba.
2. Melaksanakan tes uji akhir pada pokok bahasan.
3. Analisis tes akhir pokok bahasan.
F. Insterumen Penelitian
Instrument merupakan suatu alat atau teknik untuk mengumpulkan data, jenis
instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, lembar observasi, lks, tes.
Berikut akan di jelaskan jenis instrument yang digunakan :
a. Lembar Observasi
Lembaran obervasi yaitu lembaran untuk menyatakan evaluasi dengan cara
pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, dan rasional mengenal fenomena
yang diselidiki tentang proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe Jigsaw III
berlangsung.
b. Lembar Kerja Siswa (LKS)
LKS diberikan pada semua kelompok yang terdapat dalam kelas ekspriment
LKS yang digunakana disesuaikan dengan sub pokok bahasan yang dipelajari pada
setiap pertemuan, LKS yang dikonsultasi dapat dengan guru matematika dan dosen
pembimbing sebelum digunakan, dan diberikan kepada guru matematika untuk
dikuasai.
c. Tes
Instrument tes akbin diberikan kepada siswa setelah proses pelajaran berakhir,
tes ini berfungsi untuk melihat bagaimana dampak pembelajaran dengan model
kooperatif Jigsaw III terhadap hasil belajar dan berfikir kreatif siswa kelas X.
Langkah- langkah menyusun tes akhir :
a. Menyusun kisi- kisi tes
1. Mengkaji konsep yang diajarkan
2. Membuat kisi- kisi soal
3. Menyusun Item soal
4. Melaksanakan tes
b. Uji coba tes
Dalam suatu penelitian, hasilnya dapat dipercaya apa bila data yang digunakan
betul- betul akurat dan berkulitas, maka terlebih daulu dilakukan uji coba tes terhadap
tes yang telah disususn, uji coba tes dilakukan di kelas X SMA N 1 Payakumbuh.
c. Melaksanakan Analisis Item
Setelah uji coba dilakukan, dilanjutkan dengan analisis data untuk melihat
apakah keberadaan suatu soal yang disususun itu baik atau tidak baik untuk
menyelidiki keberadaan soal sebelum di uji cobakan ada 4 yang perlu dia analisis yaitu
:
1. Validitas Untuk melakukan validitas tes objektif dapat digunakan
korelasi poin bisonil dengan rumus


Keterangan :

= Koefisien korelasi poin bisonil yang menegembangkan


kekuatan korelasi antara vanabel dengan vanbel II , yang dlam hal ini dianggap sebagi
koofisien validitas Item

= Skor- rata hitung yang dimiliki oleh testee untuk butir Item
yang bersangkutan telah dijawab betul.

= Skor rata- rata dari skor total


= Deviasi standar dari skor total


P = Proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir Item
yang sedang diuji validitas Itemnya.
= Proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir Item
yang sedang diuji validitas Itemnya.
Untuk validitas essay digunakan rumus korelasi product moment yaitu


()()
*

()

+ *

()

+

Keterangan :

= Koofisien korelasi antara variabel x dan variabel y


N = Jumlah testee

= Jumlah perkalian antara skor Item dan skor total


= Jumlah skor Item


= Jumlah skor total


Kesejajaran untuk mengadakan interprestasi mengenal besarnya koefisien
konlasi adalah sebagai berkas :
1. Antara 0, 800 1,00 : Sangat tinggi
2. Antara 0,600 0,800 : tinggi
3. Antara 0,400 0,600 :cukup
4. Antara 0, 200 0,400 : rendah
5. Antara 0, 000 0,200 : Sangat rendah
2. Reliabilitas
Untuk menentukan Reliabelitas digunakan rumus Alpha yaitu :

)(

)

Keterangan :

= Jumlah Vanansi (Standa deviasi kuadrat butir)

= Vanansi skor total


k = 5
N = 10
3. Indeks Kesukaran
Indek kesukaran dapat dicari dengan rumus Sumadi Suryabrata yaitu
12
:


Keterangan :
TK = Tingkat yang dicari
WH = Jumlah siswa yang menjawab salah dari kelompok pandai
WL = Jumlah siswa yang menjawab salah dari kelompok rendah
= Jumlah pandai dan sampel rendah
4. Daya pembeda
Rumus untuk mencari daya pembeda adalah

12
Sumdi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grasindo Persada, 1987) , h 97


Keterangan :
DP = Besarnya daya pembeda yang ingin dicari
n = Besarnya sampel dari salah satu kelompok
G. Teknis Analisis Data
1. Hasil Observasi
Hasil observasi dihitung dengan menggunakan rumus
13
:
Pencapaian =



Nilai =


, ( Diknas, 2003)
nilai yang diperoleh merupakan hasil belajar afektif dan psikomotor
dari hasil observasi.
Dengan kategori untuk belajar affektif adalah :
Sama atau = sangat baik
18 23 = baik
12 18 = kurang baik

13
Desi sudiati, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui model Pembelajaran Kooperatif Investigasi
Kelompok Pada Pokok Bahasan Gaya dan Percepatan Kelas VII SMP Negeri 2 Bukateja Tahun Ajaran 2005-2006
(skripsi), 2006 ( diterbitkan)
6 12 = amat kurang
Untuk penilaian dalam hasil belajar psikomotor adalah:
Sama atau = sangat terampil
15 19 = terampil
11 15 = kurang terampil
5 11 = tidak terampil
2. Kreatifitas Siswa
Analisis tehadap hasil pengamatan hasil pembelajaran dan kemampuan
Kreatifitas siswa dalam proses pembelajaran setiap waktu dihitung dengan hasil tes.
Setelah dilakukan presentasi kreafitas siswa, tindakan dinilai berdasarkan jumlah siswa
yang terlibat selama proses pembelajaran dengan presentase menggunakan rumus :


Keterangan :
P = % Aktivitas siswa
= Frekuensi
N = Sampel
Penilaian setiap siklus berdasarkan presentasi rata- rata aktifitas siswa setiap
pertemuan.



Keterangan :

= nilai akttifitas siswa


= Rata- Rata
n = Sampel (Peserta tes)
Penilaian Aktifitas siswa menurut Depdiknas (2004) adalah sebagai berikut :
1. 0 20% Kurang Sekali
2. 21 40% Kurang
3. 41 60% Cukup
4. 61 80% Baik
5. 81 100% Sangat Baik
3. Hasil Belajar
Untuk mengolah skor dalam tes bentuk pilihan ganda menurut Suharsimi
Arikunto ada dua rumus yang dapat digunakan yaitu :
1. Dengan denda rumusannya adalah:




Keterangan :
S = Skor yang diperoleh (raw Skor)
R = Jawaban yang betul
W = Jawaban yang salah
O = Banyaknya obtion
I = Bilangan tetap
2. Rumus dengan tanpa denda