Anda di halaman 1dari 11

Treponema pallidum 1. Klasifikasi Kingdom Filum Ordo Famili Genus Species : Bacteria : Spirochaetes : Spirochaetales : Spirochaetaceae : Treponema : T.

pallidum

Treponema pallidum merupakan bakteri yang motil (dapat bergerak), yang umumnya menginfeksi melalui kontak seksual langsung, masuk ke dalam tubuh inang melalui celah di antara sel epitel. Organisme ini juga dapat ditularkan kepada janin melalui jalur transplasental selama masa-masa akhir kehamilan. Struktur tubuhnya yang berupa heliks memungkinkan Treponema pallidum bergerak dengan pola gerakan yang khas untuk bergerak di dalam medium kental seperti lendir (mucus). Dengan demikian organisme ini dapat mengakses sistem peredaran darah dan getah bening inang melalui jaringan dan membran mukosa.

Struktur bakteri Treponema pallidum identik dengan struktur Treponema secara umum, hanya kandungannya lebih jelas diketahui. Susunan Treponema pallidum (bobot kering) kira-kira adalah 70% protein, 20% lipid,dan 5% karbohidrat. Kandungan lipidnya relative tinggi untuk bakteri. Dari lipid total, 68% adalah fosfolipid (terutama fosfatidilkolin, sfingomiolin, serta kardiolipin) dan 32% merupakan lipid netral (terutama kolesterol).

2. Morfologi

Treponema pallidum termasuk dalam bakteri gram negatif berbentuk spiral, dengan ukuran panjang 5-10 m (rata-rata 10-13 m) dan tebal 0,1-0,2 m (ratarata 0,1-0,15 m). Lilitan spiralya tertata dengan jarak 1 m satu sama lainya.

Susunan Treponema pallidum (bobot kering) kira-kira adalah 70% protein, 20 % liipid dan 5 % karbohidrat. Organisme ini bergerak secara aktif dengan mengadakan rotasi secara terus-menerus pada filamen aksialnya yang sentral meskipun telah menambatkan pada sel hospes dengan ujungnya yang meruncing. Treponema pallidum dapat bergerak selama 3-6 hari pada suhu 25C. Di dalam darah lengkap atau plasma yang disimpan pada suhu 4C, organisme ini tetap viabel selama sedikitnya 24 jam, yang secara potensial penting pada tranfusi darah. Telah dipostulasikan daur hidup Treponema pallidum, termasuk stadium granular dan badan serupa kista yang berbentuk bulat, disamping bentuk Spirochaeta. Kemampuan Triponema pallidum untuk sesekali menembus saringan bakter diperkirakan akibat stadium granular.

Treponema pallidum merupakan organisme yang mempunyai rentang optimal yang sempit, yaitu tentang pH optimal (7,2-7,4), rentang Eh (-230 sampai -240 mV), dan rentang suhu (30-37C). Bakteri ini diinaktifkan secara cepat dengan pemanasan sedang, keadaan dingin, kekeringan dan oleh sebagian desinfektan. Bakteri ini bersifat mikroaerofilik dan membutuhkan keadaan oksigen redah (14%). Bakteri ini dengan zat warna anilin tidak terwarnai dengan baik, tetapi mampumereduksi perak nitrat menjadi logam perak, yang diletakkan pada permukaan bakteri, sehingga di dalam jaringan dapat diperlihatkan bakteri yang dikenal denganimpregnasi perak menurut Levaditi.

3. Patogenesis

Manusia merupakan hospes alami satu-satunya bagi Treponema pallidum, dan infeksi terjadi melalui kontak seksual. Organisme ini menembus mukosa atau masuk melalui kulit yang mempunyai luka kecil. Setelah berada di dalam hospes, organisme tersebut akan memperbanyak diri.

Treponema pallidum segera memasuki aliran darah dan pembuluh limfe dan menyebar ke jaringan lain. Jaringan yang menjadi sasaran meliputi kelenjar limfe,

kulit, selaput mukosa, hati, limpa, ginjal, jantung, tulang, mata, selaput otak, dan susunan syaraf pusat. Pada wanita, lesi awal biasanya terdapat pada labia, dinding vagina, atau pada serviks. Pada pria, lesi awal terdapat pada batang penis atau glans penis. Lesi primer dapat pula terjadi pada bibir, lidah, tonsil, atau daerah kulit lainnya.

Setelah

menembus

aliran

darah

secara

specifik

Treponema

pallidum

menambatkan diri pada sejumlah besar jaringan. Selain menambatkan diri, Treponema pallidum memiliki sedikitnya 3 faktor virulensi yang secara parsial menetralkan respons imun. Zat glikosaminoglikan yang serupa dengan asam hialuronat bekerja sebagai faktor antikomplemen. Polisakarida berantai lurus panjang ini melapisi seluruh permukaan luar organisme. Zat tersebut mengganggu daya bunuh bakteri Treponema pallidum melalui jalur komplemen

klasik(tergantung antibodi). Disamping itu Treponema pallidum membawa asam sialat pada permukaannya, yang dapat memperlambat aktivasi dan pembunuhan melalui jalur komplemen alternative(tidak tergantung antibodi). Treponema pallidum tampaknya memiliki suatu jalur siklooksigenase yang utuh dan mampu membentuk prostaglandin E2-nya sendiri dan mampu menghambat pemrosesan imun dini dengan cara merangsang kegiatan supresor dari makrofag.

Patogenesis syphilis dalam stadium-stadium adalah sebagai berikut : a. Tahap Masuknya Treponema Treponema pallidum masuk ke dalam tubuh melalui lesi kulit atau selaput lendir. Jika melalui kulit harus ada mikro/makro lesi, sedangkan jika melalui selaput lendir dapat dengan tanpa ada lesi. Pada tempat masuknya kuman dapat mengadakan multiplikasi dan tubuh akan bereaksi dengan timbulnya infiltrat yang terdiri atas limfosit dan sel plasma yang secara klinis dapat dilihat sebagai papula. Reaksi radang tersebut tidak hanya terbatas pada tempat masuknya kuman, tetapi juga di daerah perivaskuler.

b. Stadium I (SI)

Kerusakan vaskuler ini mengakibatkan aliran darah pada daerah tersebut berkurang sehingga terjadi erosi atau ulkus, dan keadaan ini disebut afek primer SI. Treponema masuk aliran darah dan limfe, kemudian menyebar ke seluruh jaringan tubuh, termasuk kelenjar getah bening regional. Bila sudah mengenai kelenjar getah bening regional disebut kompleks primer SI.

c. Stadium II (SII) Perjalanan secara hematogen akan menyebarkan kuman ke seluruh jaringan tubuh, tetapi manifestasinya baru akan tampak kemudian. Reaksi jaringan terhadap multiplikasi ini akan terlihat 6-8 minggu setelah kompleks primer dan reaksi ini bermanifestasi sebagai SII dengan berbagai bentuk kelainan yang biasanya didahului oleh gejala prodromal. Lesi primer perlahan-lahan menghilang karena kuman di tempat tersebut berkurang jumlahnya dan penyembuhan terjadi tanpa atau dengan jaringan parut tipis. Lesi SII secara perlahan-lahan juga menghilang dan akhirnya tidak terlihat sama sekali dalam waktu kurang lebih 9 bulan.

d. Stadium Laten Stadium laten adalah stadium tanpa tanda atau gejala klinis, tetapi infeksi masih ada dan aktif yang ditandai dengan S.T.S (Serologic Test for Syphilis) positif. Kadang-kadang proses imunitas gagal mengendalikan infeksi, sehingga Treponema pallidum berkebang lagi dan menimbulkan lesi seperti pada SI atau SII dan stadium ini disebut stadium rekuren. Stadium ini terjadi tidak lebih dari 2 tahun terhitung sejak permulaan infeksi. Stadium laten lanjut dapat berlangsung beberapa tahun, antibody tetap ada dalam serum penderita (S.T.S positif).

e. Stadium Gumma Keseimbangan antara Treponema dan jaringan dapat tiba-tiba berubah, sebabnya belum jelas, mungkin trauma merupakan salah satu faktor untuk timbulnya SIII yang berbentuk gumma. Pada stadium gumma ini, Treponema sukar ditemukan tetapi reaksinya bersifat destruktif. Lesi sembuh dengan berangsur-angsur dengan pembentukan jaringan fibrotik dan lesi tersier ini dapat berlangsung beberapa

tahun. Treponema pallidum dapat mencapai sistem kardiovaskuler dan saraf pusat dalam waktu dini tetapi kerusakan yang ditimbulkannya terjadi perlahan-lahan sehingga perlu waktu bertahun-tahun untuk menimbulkan gejala klinis. Hampir 2/3 kasus dengan stadium laten dapat meneruskan hidupnya tanpa menimbulkan gejala klinis.

4. Epidemiologi

Saat ini, insiden syphilis meningkat di berbagai dunia. Semua syphilis diperoleh melalui hubungan seksual, kecuali syphilis kongenital dan syphilis pada tenaga medis yang diperoleh akibat kontak di tempat kerja. Insiden tertinggi terdapat pada laki-laki homoseksual, dan sering reinfeksi pada orang yang telah diobati. Mayoritas khasus infeksi syphilis terjadi pada orang yang aktif secara seksual dalam kelompok usia 20 hingga 40 tahun. Sebagai akibat dari infeksi ini, chancres (luka) terjadi diseluruh bagian luar alat kelamin, vagina, anus, atau dubur. Chancre ini mungkin juga dapat berkembang di bibir atau di dalam mulut. Infeksi menyebar melalui kontak langsung dan melalui hubungan seksual.

5. Gejala

Gejala penyakit sipilis biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian. Sedangkan pada fase laten dimana tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini bisa berlangsung bertahuntahun atau berpuluh-puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksius kembali muncul.

Gejala penyakit sipilis dibedakan berdasarkan jenis kelamin penderitanya dan stadium penyakitnya. Pada stadium pertama, seorang wanita akan menemukan luka kecil (Syanker) dekat dengan vagina. Seorang pria akan menemukan ulkus

yang berupa benjolan keras di sekitar venis. Gejala ini bisa juga tumbuh di bibir dalam mulut, atau disekitar rektum. Jika gejala ini tidak segera diatasi, maka orang yang mengidap penyakit sipilis akan memasuki gejala-gejala stadium ke dua.

Gejala penyakit sipilis umum seperti bercak di sekujur tubuh yang timbul beberapa minggu. Ada kemungkinan gejala-gejala lainpun muncul. Seperti, bintik di dalam mulut serupa sariawan, atau bercak di tangan dan kaki. Jika hal tersebut juga tidak diobati, ini dapat merusak sel otak atau melumpuhkan tulang sum-sum atau merusak jantung, serta pembuluh darah. Dengan kata lain penyakit sipilis bisa membuat penderitanya menjadi gila dan lumpuh.

Gejala penyakit sipilis lain adalah merasa tidak enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia. Gejala dan tanda dari Sipilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut Peniru Besar karena sering dikira penyakit lainnya.

Saat penyakit sipilis masuk minggu ke 3-6 penderita akan merasa penyakitnya seolah-olah sembuh. Walau pun tanpa pengobatan. Gejala-gejala luar dirasa

hilang. Padahal ini masih dalam efek primer dominan. Masuk 2 bulan setelah tertular (bulan ke 3) penyakit sipilis masuk tahap stadium II. Penderita sipilis akan demam, kepala sakit, sakit tulang dan sebagainya. Kulit dan selaput lendir masih ada luka tapi tidak terasa gatal.

Pada sipilis stadium 2 ini kelenjar getah bening masih mengalami bengkak. Bahkan sudah menyeluruh. Kondisi ini disebut limfadenitis generalisata. Dimana jaringan sistem imunitas tubuh di bagian limfosit diserang.

Gangguan di kulit penderita sipilis ini dapat menghilang walau pun tanpa pengobatan. Kemudian akan muncul lagi dalam bentuk yang tidak simetris.

Bahkan hilang sama sekali. Penderita akan menganggap dirinya sudah sembuh. Padahal belum sama sekali dan masih menular. Kondisi ini disebut sebagai sipilis laten. Atau sipilis tanpa gejala yang terlihat tapi masih sangat berbahaya dan sangat menular.

Satu-satunya cara untuk mengetahui sembuh atau tidaknya hanya dengan pemeriksaan tes VDRL dan TPHA di laboratorium. Tes ini harus sering dilakukan selama tahap pengobatan agar penderita mengetahui perkembangan pengobatan. Juga untuk mengetahui jumlah kuman pada cairan tubuh dan darah.

Setelah 3-10 tahun sejak tertular penyakit sipilis akan masuk ke stadium 3. Pada stadium ini sipilis tidak menular. Tapi banyak organ tubuh penderita sipilis yang sudah rusak.

Anda sangat berisiko tertular penyakit Sipilis jika melakukan hubungan seks tidak aman atau tanpa pelindung. Hubungan seks yang dilakukan meliputi seks vaginal, anal dan oral.

6. Pencegahan

Sama seperti penyakit menular seksual lainnya, sifilis dapat di cegah dengan cara melakukan hubungan seksual secara aman misalkan menggunakan kondom. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang agar tidak tertular penyakit sifilis. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain : ganti pasangan b. Berhubungan seksual yang aman: selektif memilih pasangan dan pempratikkan protective sex. c. Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi darah yang sudah terinfeksi. a. Tidak berganti-

7. Diagnosis

Diagnosis penyakit sifilis secara pasti dipersulit karena Treponema pallidum belum dapat dibiakkan secara in vitro. Manifestasi klinik, demonstrasi bakteri Treponema pada bahan lesi, dan reaksi serologi digunakan untuk mendiagnosis. Pada sebagian besar kasus, manifestasi klinik sudah cukup khas. Bila manifestasi tersebut mencakup lesi eksudatif, harus dapat ditemukan bakteri Treponema di dalam bahan lesi. Mikroskop lapangan gelap digunakan untuk memvisualisasi organisme motil dan non motil. Pada mikroskop lapangan gelap, Treponema pallidum akan tampak seperti pembuka tutup botol (corkscrew), dan akan bergerak seperti spiral, undulasi yang khas pada titik tengahnya. Suatu lesi hanya dianggap bersifat non sifilitik bila telah didapatkan hasil negative pada tiga kali pemeriksaan.

Uji serologik untuk sifilis Uji serologik penting dalam diagnosis, terutama pada kasus dengan manifestasi klinis yang membingungkan atau bila tidak terdapat bahan eksudat. Selama bertahun-tahun telah dikembangkan berbagai uji serologik, yang terbagi dalam dua kelompok umum yaitu: (1) Uji non-treponemal (missal VDRL,RPR) bermanfaat untuk penapisan. Agar pemeriksaan dapat memberikan hasil positif maka diperlukan waktu minimum 1-3 minggu dari saat infeksi terjadi. Pemeriksaan biasanya positif pada sifilis primer dan selalu positif pada sifilis sekunder. Meskipun demikian pemeriksaanpemeriksaan tersebut non spesifik; hasil positif palsu biologik (biasanya 1:8) terjadi pada para pengguna obat intravena, pada banyak infeksi akut(misalnya mononucleosis infeksiosa, infeksi mycoplasma), pada berbagai penyakit kronis (misalnya : lupus erythematosus sistemik) dan kemungkinan kehamilan.

(2) Uji Treponemal mengukur kadar antibodi yang timbul sebagai respon terhadap komponen antigenic Treponema pallidum. Uji antibody specifik kemungkinannya tinggi apabila ada infeksi Treponemal pada saat ini maupun pada waktu lampau. Contoh uji Treponemal: a. Fluorescent Treponema Antibody-Absorbtion (FTA-Abs) Test.

Uji ini menggunakan imuno fluoresensi indirek (Treponema pallidum yang dimatikan+serum penderita+anti gammaglobulin manusia yang berlabel), dan menunjukkan spesifisitas dan sensitifitas yang sangat baik untuk antibody sifilitik, bila serum penderita telah diabsorbsi oleh spirochaeta galur reiter yang disonifikasi sebelum dilakukan uji FTA. Uji FTA-Abs merupakan uji pertama yang menjadi positif pada sifilis stadium dini, dan biasanya tetap positif bertahuntahun setelah pengobatan yang efektif pada sifilis stadium dini. Uji ini tidak dapat digunakan untuk menentukan efektifitas pengobatan. Keberadaan FTA IgM di dalam darah neonates merupakan bukti yang baik tentang terjadinya infeksi secara in utero (sifilis congenital).

b. Treponema pallidum Hem Aglutination (TPHA) Test Sel eritrosit dibuat supaya dapat mengabsorbsi bakteri Treponema pada permukaanya.bila dicampur dengan serum yang mengandung antibodi anti treponemal, eritrosit tersebut akan menggumpal. Uji ini serupa dengan uji FTAAbs dalam hal spesifisitas dan sensitifitas, tetapi memberikan hasil positif dalam perjalanan infeksi yang lebih lanjut.

8. Pengobatan

Pengobatan terhadap wanita baik yang hamil maupun tidak adalah sama, demikian juga bagi mereka yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi HIV.

1.

Medikamentosa a. Sifilis primer dan sekunder - Penisilin benzatin G dosis 4,8 juga unit injeksi intramuskular (2,4 juta/ kali) dan diberikan satu kali seminggu, atau - Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi intramuskular sehari selama 10 hari, atau - Penisilin prokain + 2% alumunium monostearat, dosis total 4,8 juta unit, diberikan 2,4 juga unit/ kali sebanyak 2 kali seminggu.

b. Sifilis laten - Penisilin benzatin, dosis total 7,2 juga unit, atau - Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juga unit (600.000 unit sehari) - Penisilin prokain + 2% alumunium monostearat, dosis total 7,2 juta unit (diberikan 1,2 juga unit/ kali, 2 kali seminggu)

c. Sifilis stadium III - Penisilin benzatin dengan dosis total 9,6 juta unit, atau - Penisilin dengan prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit sehari) - Penisilin prokain + 2% alumunium monostearat, dosis total 9,6 juta unit (diberikan 1,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu) Untuk pasien sifilis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan : - Tetrasiklin 500 mg per oral 4x sehari selama 15 hari atau - Eritromisin 500 mg per oral 4x sehari selama 15 hari.

Untuk pasien sifilin laten lanjut (> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan : - Tetrasiklin 500 mg per oral 4x sehari selama 30 hari - Eritromisin 500 mg per oral 4x sehari selama 30 hari Obat ini tidak boleh diberikan kepada wanita hamil, menyusui dan anakanak.

2. Pemantauan serologik dilakukan pada bulan I, II, VI dan XII tahun pertama dan setiap 6 bulan pada tahun kedua.

3. Nonmedi Kamentosa

- Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut : - Bahaya PMS dan komplikasinya - Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan - Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya. - Hindari hubungan sexual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindari lagi. - Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang.

4. Tindak lanjut - Wanita hamil : ulangi titer serologi pada trimester ketiga dan pada saat kelahiran, beritahukan kepada perawat kesehatan anak, sebagai tindakan antisipasi.

DAFTAR PUSTAKA http://adhienbinongko.wordpress.com/2012/12/03/penyakit-kelamin-sifilisepidemiologi-penyakit-menular/

http://primavanilla.blogspot.com/2011/06/treponema-pallidum-penyebabpenyakit.html

http://selselvi.blogspot.com/2011/06/treponema-pallidum-penyebab-sifilis-di.html

http://liskanurjanah.blogspot.com/2012/10/sifilis-dalam-kehamilan-danpersalinan.html

http://emweje.com/gejala-penyakit-sipilis/