Anda di halaman 1dari 21

HERPES SIMPLEKS

I. PENDAHULUAN Virus herpes simpleks termasuk jenis patogen yang dapat menyesuaikan diri dengan tubuh host. Ada dua jenis yaitu virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) dan tipe 2 (HSV-2). eduanya berkaitan erat tetapi berbeda dalam gambaran epidemiologinya. HSV-1 dikaitkan dengan penyakit oro!a"ial# sedangkan HSV-2 dikaitkan dengan penyakit genital# namun lokasi lesi tidak selalu menunjukkan virus type.1 Sekitar $%& dari in!eksi herpes simpleks tidak menunjukkan gejala. 'ejala in!eksi dapat di"irikan dengan rekurensi yang sering terjadi dimana pada host yang immunocompromised# in!eksi dapat menyebabkan komplikasi yang mengan"am ji(a.1 Herpes simpleks virus (HSV) adalah virus )*A yang patogen pada manusia yang se"ara intermitten dapat teraktivasi kembali. Setelah replikasi di kulit atau mukosa# virus mengin!eksi ujung sara! lokal dan menuju ke ganglion yang kemudian menjadi laten hingga teraktivasi kembali.2 +revalensi in!eksi HSV di seluruh dunia telah meningkat selama beberapa dekade terakhir# membuatnya menjadi permasalahan kesehatan masyarakat. Sehingga deteksi dini in!eksi herpes simpleks dan inisiasi a(al dari terapi adalah sangat penting dalam pengelolaan penyakit ini.

II. DEFINISI

Herpes simpleks adalah in!eksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe 1 atau tipe 2 yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit eritematosa pada daerah dekat mukokutan# sedangkan in!eksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens., Virus herpes simpleks tipe 1 sebagian besar terkait dengan penyakit oro!a"ial# sedangkan virus herpes simpleks tipe 2 biasanya terkait dengan in!eksi perigenital. -etapi# keduanya dapat mengin!eksi daerah oral dan genital.2

III. EPIDEMIOLOGI Virus Herpes simpleks memiliki distribusi di seluruh dunia dan menghasilkan in!eksi primer# laten dan berulang. .ebih dari sepertiga populasi dunia diperkirakan memiliki kemampuan untuk menularkan virus selama periode penyebaran virus. +ada anak-anak berumur kurang dari 1% tahun# in!eksi herpes sering asimtomatik dan dengan type tersering adalah HSV-1 ($%-/%&). Analisis yang dilakukan se"ara global telah menunjukkan adanya antibodi HSV-1 pada sekitar /%& dari individu berumur 2%-0% tahun. HSV-2 merupakan penyebab in!eksi herpes genital yang paling banyak (1%-/%&)# meskipun studi terbaru menunjukkan peningkatan kejadian dapat disebabkan oleh HSV-1 (1%-,%&). Antibodi untuk HSV-2 jarang ditemukan sebelum masa remaja karena asosiasi HSV-2 terkait dengan aktivitas seksual.0#2 HSV dapat mengin!eksi janin dan menyebabkan kelainan. Seorang ibu yang terin!eksi HSV dapat menularkan virus itu padanya baru lahir selama persalinan vagina# terutama jika ibu memiliki in!eksi akti! pada saat pengiriman. *amun# 3% $%& dari in!eksi HSV didapat oleh bayi yang baru lahir terjadi pada (anita yang tidak memiliki gejala in!eksi HSV atau ri(ayat in!eksi HSV genital.3 Seropositi! HSV-1 biasanya dikaitkan dengan in!eksi orolabial dan virus herpes simpleks tipe-2 seropositi! biasanya dikaitkan dengan in!eksi kelamin. HSV-1 sekarang menjadi penyebab signi!ikan genital herpes dan terlibat dalam 2& sampai
2

,%& dari semua kasus episode pertama. +roporsi HSV-1 pada in!eksi herpes genital a(al (primer) lebih tinggi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria(03#/&) dibandingkan di kalangan (anita(21#0&) dan terendah di antara pria heteroseksual (10#3&). Seks oral resepti! se"ara signi!ikan meningkatkan kemungkinan bah(a penyebab in!eksi a(al adalah HSV-1 daripada HSV-2. 'enital HSV-1 sering bisa diperoleh melalui kontak dengan mulut mitra.1 4sia dan jenis kelamin merupakan !aktor risiko penting yang terkait dengan didapatkannya in!eksi genital HSV-2. 5ahkan# prevalensi in!eksi HSV sangat rendah di masa kanak-kanak dan remaja a(al tetapi meningkat dengan usia# men"apai maksimum sekitar 0% tahun.$ -ingkat in!eksi HSV meningkat dengan prevalensi tertinggi pada pasien dengan Human 6mmunode!i"ien"y Virus (H6V). +enyakit ulkus genital merupakan !aktor risiko transmisi Human 6mmunode!i"ien"y Virus-1 (H6V-1). Virion H6V-1 dapat dideteksi dalam ulkus genital yang disebabkan oleh HSV-2 dimana menunjukkan bah(a in!eksi herpes genital "enderung meningkatkan e!isiensi transmisi seksual dari H6V-1. +engobatan herpes genital menurunkan tingkat in!eksi H6V. 7esistensi A"y"lovir lebih umum dalam kelompok ini# tetapi menggunakan A"y"lovir dapat memperpanjang hidup pada beberapa pasien seropositi! H6V.1 IV. ETIOLOGI elompok virus herpes sebagian besar terdiri dari virus )*A. 8elakukan replikasi se"ara intranuklear dan menghasilkan inklusi intranuklear khas yang terdeteksi dalam preparat pe(arnaan. HSV-1 dan HSV-2 adalah virus doublestranded )*A yang termasuk dalam Alphaherpesvirinae# sub!amily dari Herpes viridae. edua virus# bertransmisi melalui sel epitel mukosa# serta melalui gangguan kulit# bermigrasi ke jaringan sara!# di mana mereka tetap dalam keadaan laten. HSV-1 lebih dominan pada lesi oro!a"ial dan biasanya ditemukan di ganglia trigeminal# sedangkan HSV-2 lebih dominan pada lesi genital dan paling sering

ditemukan di ganglia lumbosakral. *amun virus ini dapat mengin!eksi kedua daerah oro!a"ial dan saluran genital melalui in!eksi silang HSV-1 dan HSV-2 melalui kontak oral-genital.2#3 -ransmisi dapat terjadi tidak hanya saat gejala mani!estasi HSV akti!# tetapi juga dari pengeluaran virus dari kulit dalam keadaan asimptomatis. +un"ak beban )*A virus telah dilaporkan terjadi setelah 0$ jam# dengan tidak ada virus terdeteksi di luar /3 jam setelah permulaan gejala. Se"ara umum# gejala mun"ul ,-3 hari setelah kontak dengan virus# namun mungkin tidak mun"ul sampai untuk satu bulan atau lebih setelah in!eksi.$ 8anusia adalah reservoir alami dan tidak ada vektor yang terlibat dalam transmisi. HSV ditularkan melalui kontak pribadi yang erat dan in!eksi terjadi melalui inokulasi virus ke permukaan mukosa yang rentan (misalnya# oropharyn9# serviks# konjungtiva) atau melalui luka ke"il di kulit. Virus ini mudah dilemahkan pada suhu kamar dan pengeringan.1 V. PATOGENESIS 6n!eksi virus Herpes simpleks ditularkan oleh dua spesies virus# yaitu virus Herpes simpleks-6 (HSV-1) dan virus Herpes simpleks 66 (HSV-2). Virus ini merupakan kelompok virus )*A rantai ganda. 6n!eksi terjadi melalui kontak kulit se"ara langsung dengan orang yang terin!eksi virus tersebut. -ransmisi tidak hanya terjadi pada saat gejala mani!estasi HSV mun"ul# akan tetapi dapat juga berasal dari virus shedding dari kulit dalam keadaan asimptomatis. 2 +ada in!eksi primer# kedua virus Herpeks simpleks # HSV 1 dan HSV-2 bertahan di ganglia sara! sensoris . Virus kemudian akan mengalami masa laten# dimana pada masa ini virus Herpes simpleks ini tidak menghasilkan protein virus# oleh karena itu virus tidak dapat terdeteksi oleh mekanisme pertahanan tubuh host.

Setelah masa laten# virus bereplikasi disepanjang serabut sara! peri!er dan dapat menyebabkan in!eksi berulang pada kulit atau mukosa. 2 Virus Herpes simpleks ini dapat ditularkan melalui sekret kelenjar dan se"ret genital dari individu yang asimptomatik# terutama di bulan-bulan setelah episode pertama penyakit# meskipun jumlah dari lesi akti! 1%%-1%%% kali lebih besar.$

'ambar 1: Herpes labialis A. 6n!eksi virus herpes simpleks primer# virus bereplikasi di oro!aringeal dan naik dari sara! sensoris peri!er ke ganglion trigeminal. 5. Herpes simple9 virus dalam !ase latent dalam ganglion trigeminal ;. 5erbagai rangsangan memi"u reaktivasi virus laten# yang kemudian turun dari sara! sensorik ke daerah bibir atau perioral menyebabkan herpes labialis rekuren. Herpes simple9 virus sangat menular dan disebarkan langsung oleh kontak dengan individu yang terin!eksi virus tersebut. Virus Herpes simpleks ini dapat menembus epidermis atau mukosa dan bereplikasi di dalam sel epitel.1
5

Virus Herpes simpleks 1 (HSV-1) biasanya menyerang daerah (ajah (non genitalia) dan virus Herpes simpleks 2 (HSV-2) biasanya menyerang alat kelamin. perubahan patologis sel epidermis merupakan hasil invasi virus herpes dalam vesikel intraepidermal dan multinukleat sel raksasa. Sel yang terin!eksi mungkin menunjukkan inklusi intranuklear.$ VI. Manifestasi Klinik 6n!eksi primer pada HSV yaitu mereka yang tanpa adanya kekebalan baik terhadap HSV-1 atau HSV-2 dan sering subklinis. *amun bila lesi klinis tanda dan gejala dari in!eksi berkembang# biasanya lebih parah# dan lebih sering dengan

sistemik#dan mereka memiliki tingkat komplikasi yang lebih tinggi

rekuren. 6n!eksi genital primer lebih sering bergejala dibandingkan dengan oral.2#$ +ada in!eksi primer# gejala biasanya terjadi dalam (aktu , sampai 1 hari setelah terpapar dengan masa inkubasi selama 2 sampai 2% hari. 'ejala prodromal seperti lim!adenopati# malaise# anoreksia dan demam# serta nyeri setempat# pembengkakan dan rasa terbakar sering terjadi sebelum timbulnya lesi mukokutan. A(alnya nyeri# kadang-kadang terpusat# vesikel pada dasar eritematous kemudian mun"ul# diikuti dengan adanya pustul dan ulserasi. 5eberapa vesikel berkelompok dan tersebar. -erbentuk krusta dan gejala resolusi mun"ul dalam (aktu 2 sampai 3 minggu. 'ejala prodromal serupa dapat mendahului lesi rekuren# tetapi yang terakhir sering mengalami penurunan dalam jumlah# tingkat keparahan dan durasi dibandingkan dengan in!eksi primer.0#1

'ambar 2 : Vesikel +ada )asar =ang 8erah.

'ambar , : rusta )an .esi +enyembuhan dengan atau -anpa Sikatrik

Infeksi Orofa ial Herpes <rolabial: Herpes labialis (cold sores, fever blisters) paling sering dikaitkan dengan in!eksi HSV-1. .esi <ral disebabkan oleh HSV-2 telah diidenti!ikasi yang biasanya sekunder dari kontak orogenital. 6n!eksi primer HSV-1 sering terjadi pada masa kanak-kanak dan biasanya asimtomatik.2 etika timbul gejala (mayoritas in!eksi orolabial primer tidak menunjukkan gejala)# in!eksi primer herpes orolabial biasanya hadir sebagai gingivostomatitis pada anak-anak atau sebagai !aringitis pada orang de(asa muda. Se"ara umum# mulut dan bibir adalah daerah yang paling sering terlibat# dengan lesi mun"ul pada mukosa
7

bukal# gingival dan membran oro!aringeal lainnya. >dema signi!ikan# rasa sakit dan ulserasi dari membran oro!aringeal dapat menyebabkan dis!agia dan pengeluaran air liur terus-menerus.1

'ambar 2 : Herpes simple9 virus : gingivostomatitis +enyakit ini dapat dorman untuk beberapa (aktu. HSV-1 reaktivasi di

ganglia sensoris trigeminal menyebabkan rekurensi di (ajah dan oral# labial# dan mukosa mata. *yeri# panas# gatal# atau paresthesia biasanya mendahului lesi vesikular berulang yang akhirnya mengalami ulserasi atau membentuk kusta. .esi yang paling sering terjadi di perbatasan Vermillion1

'ambar 3:+aparan matahari memi"u rekurensi.

Infeksi Genital Herpes genital adalah presentasi klinis utama dari in!eksi HSV-2# tetapi dapat juga disebabkan HSV-1 yaitu 1%&-0%& dari kasus# terutama berkaitan dengan kontak oral-genital.2#1 Herper genitalis primer terjadi dalam (aktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus dan memiliki mani!estasi klinis yang paling parah. 'ejala episode primer biasanya berlangsung 2-, minggu.11 Vesikel mun"ul sekitar 3 hari setelah kontak seksual. Vesikel membentuk "ekungan ditengah (umbilikasi) di hari 2 atau ,# kemudian terkikis. in!lamasi yang hebat. terjadi. rusta dan lesi sembuh pada satu atau dua minggu kedepan. ?aringan parut dapat terbentuk pada Discharge# dysuria# dan lim!adenopati inguinal biasanya Adanya keluhan sistemik# termasuk demam# mialgia# kelesuan# dan

photophobia# terjadi pada 1%& pada pasien dan lebih sering terjadi pada perempuan. )iagnosis klinis tidak sensiti! dan spesi!ik. *yeri khas vesikel atau lesi ulserati! tidak tampak pada kebanyakan orang yang terin!eksi.1 +ada laki-laki# lesi biasanya mun"ul pada glans penis atau batang penis. +ada pria# nyeri# eritem# lesi vesikular yang mengalami ulserasi paling sering terjadi pada penis# tetapi mereka juga dapat terjadi di anus dan perineum. 2#$

'ambar 1 : Herpes simpleks primer. elompok vesikel yang rupture# meninggalkan erosi. -ampak +ada (anita# lesi dapat melibatkan vulva# peri!er. perineum# bokong# vagina# atau vesikel didaerah "ervi9. @anita memiliki gejala penyakit yang lebih luas dan insiden yang tinggi mungkin dikarenakan area permukaan yang terlibat lebih luas. HSV servisitis terjadi pada $% persen (anita dengan in!eksi primer. )apat tampak sebagai vaginal discharge purulen atau berdarah # dan pada pemeriksaan menunjukkan area yang di!us dan kemerahan# lesi ulserati! yang luas di eksoserviks# atau# yang jarangn terjadi# nekrotik servisitis. Cervical discharge biasanya berbentuk mukoid tetapi kadang-kadang mukopurulen.2#1 Adanya keterlibatan lokal yang lebih luas# lim!adenopati regional dan demam umumnya membedakan in!eksi primer dari in!eksi rekuren. 7ekurensi lebih sering terjadi pada bulan pertama sampai satu tahun setelah in!eksi pertama. 7eaktivasi HSV-2 pada ganglion lumbosakral menyebabkan rekurensi pada daerah di ba(ah pinggang. 7ekurensi dari lesi genital dapat didahului dengan gejala prodromal seperti bengkak# gatal# rasa terbakar# atau geli dan perjangkitan penyakitan tidak separah pada in!eksi primer.2#0 Infeksi Pa!a "a#ian K$lit %an# Lain

10

Eczema herpeticum yang terlokalisir atau tersebar juga dikenal sebagai Kaposi varicelliform. )isebabkan oleh HSV-1# Eczema herpeticum adalah varian dari in!eksi HSV yang biasanya berkembang pada pasien dengan dermatitis atopik# luka bakar# atau kondisi kulit in!lamasi. Anak-anak yang paling sering terkena.$

Gambar $ : Eczema herpeticum se"ara "epat menyebar# tampak

erosi dan ulserasi bersamaan dengan demam pada anak umur 22 bulan dengan ri(ayat dermatitis atopik parah.

Herpetic whitlow merupakan in!eksi herpes simpleks pada jari dan sering mengenai anak-anak dan tenaga medis dan gigi yang se"ara rutin menggunakan sarung tangan. 8eskipun Herpetic whitlow yang terdahulu terutama disebabkan HSV-1# peningkatan jumlah kasus sekarang karena HSV-2 dari jariA kontak kelamin. +eriungual eritema# nyeri# dan kemudian terbentuk vesikel.0 Herpes gladiatorum disebabkan oleh HSV-1 dan tampak sebagai erosi papular atau vesikular pada torsos atlet dalam olahraga yang melibatkan kontak !isik dekat (gulat klasik).$ VII. PEMERIKSAAN PENUN&ANG

11

Pe'eriksaan sitolo#ik untuk perubahan sel dari in!eksi herpes virus tidak sensitive dan tidak spesi!ik baik menggunakan pemeriksaan -Bank (lesi genital) dan apusan serviks +apani"olaou dan tidak dapat diandalkan untuk diagnosis konklusi! in!eksi herpes simpleks.1 ?enis yang lebih tua dari pengujian virologi# tes +ap -Ban"k# mengorek dari lesi herpes kemudian menggunakan pe(arnaan @right dan 'iemsa. +ada pemeriksaan ditemukan sel raksasa khusus dengan banyak nukleus atau partikel khusus yang memba(a virus (inklusi) mengindikasikan in!eksi herpes. -es ini "epat tapi akurat 2%-1%& dari (aktu. Hal ini tidak dapat membedakan antara jenis virus atau antara herpes simpleks dan herpes Boster.$

'ambar /: Herpes simpleks : Sel 7aksasa 5erinti 5anyak.

Tes k$lt$r (ir$s dilakukan dengan mengambil sampel "airan# dari luka sedini mungkin# idealnya dalam , hari pertama mani!estasi. Virus# jika ada# akan bereproduksi dalam sampel "airan namun mungkin berlangsung selama 1 - 1% hari untuk melakukannya. ?ika in!eksi parah# pengujian teknologi dapat mempersingkat periode ini sampai 20 jam# tapi memper"epat jangka (aktu selama tes ini mungkin

12

membuat hasil yang kurang akurat.

ultur virus sangat akurat jika lesi masih dalam

tahap blister jelas# tetapi tidak bekerja dengan baik untuk luka ulserasi tua# lesi berulang# atau laten"y. +ada tahap ini virus mungkin tidak "ukup akti!. $ Tes P)R yang jauh lebih akurat daripada kultur virus# dan ;);

merekomendasikan tes ini untuk mendeteksi herpes dalam "airan serebrospinal ketika mendiagnosa herpes ense!alitis .+;7 dapat membuat banyak salinan )*A virus sehingga bahkan sejumlah ke"il )*A dalam sampel dapat dideteksi.$ Tes serolo#i dapat mengidenti!ikasi antibodi yang spesi!ik untuk virus dan jenis# Herpes Simple9 Virus 1 (HSV-1) atau Virus Herpes Simpleks 2 (HSV-2). etika herpes virus mengin!eksi seseorang# sistem kekebalan tubuh tersebut menghasilkan antibodi spesi!ik untuk mela(an in!eksi. Adanya antibodi terhadap herpes juga menunjukkan bah(a seseorang adalah pemba(a virus dan mungkin mengirimkan kepada orang lain.$ -es tes antibodi terhadap dua protein yang berbeda yang berkaitan dengan virus herpes yaitu 'likoprotein ''-1 dikaitkan dengan HSV-1 dan 'likoprotein ''2 berhubungan dengan HSV-2.$ 8eskipun glikoprotein ('') jenis tes-spesi!ik telah tersedia sejak tahun 1///# banyak tes khusus nontipe tua masih di pasar. ;); merekomendasikan hanya tipespesi!ik glikoprotein ('') tes untuk diagnosis herpes.$ +emeriksaan serologi yang paling akurat bila diberikan 12-13 minggu setelah terpapar virus. Citur tes meliputi:

>.6SA immunosorbent assay enzim-lin!) atau 6mmunoblot. -es sangat akurat dalam mendeteksi kedua jenis virus herpes simpleks. "io!it H#V-$ %uga dipasar!an sebagai #ureVue H#V-$&' -es ini mendeteksi HSV-2 saja. eunggulan utamanya adalah bah(a hanya membutuhkan tusukan jari dan hasil yang disediakan dalam (aktu kurang dari 1% menit. Hal ini juga lebih murah.

13

(estern "lot )est adalah standar emas untuk peneliti dengan tingkat akurasi sebesar //&. -es ini mahal# memakan (aktu lama# dan tidak tersedia se"ara luas sebagaimana tes lainnya.3

-es serologi herpes terutama dianjurkan untuk:

<rang yang memiliki gejala genital berulang tapi tidak ada kultur virus negati!. on!irmasi in!eksi pada orang yang memiliki gejala yang terlihat herpes genital. 8enentukan jika pasangan seseorang didiagnosa menderita herpes genital. <rang-orang yang memiliki banyak pasangan seks dan yang perlu diuji untuk berbagai jenis +8S (+enyakit 8enular Seksual).1

VIII. DIAGNOSIS )alam kebanyakan kasus# diagnosis didasarkan pada karakteristik tampilan klinis lesi. )iagnosis klinis dapat dibuat se"ara akurat ketika beberapa karakteristik lesi vesikuler pada dasar eritema dan bersi!at rekuren. *amun# ulserasi herpes dapat menyerupai ulserasi kulit dengan etiologi lainnya. 6n!eksi mukosa HSV juga dapat hadir sebagai uretritis atau !aringitis tanpa lesi kulit. -anda-tanda dan simptom yang berhubungan dengan HSV-66 dapat sangat berbeda-beda. etersediaan pelayanan kesehatan dapat mendiagnosa herpes genital dengan inspeksi visual jika perjangkitannya khas# dan dengan mengambil sampel dari luka kemudian mengetesnya di laboratorium. -es darah untuk mendeteksi in!eksi HSV-6 atau HSV66# meskipun hasil-hasilnya tidak selalu jelas. herpes3#$ I*. DIAGNOSIS "ANDING ultur dikerjakan dengan kerokan untuk memperoleh material yang akan dipelajari dari luka yang di"urigai sebagai

14

Herpes simpleks di daerah sekitar mulut dan hidung harus dibedakan dengan impetigo vesikobulosa. +ada daerah genital harus dibedakan dengan ulkus durum# ulkus mole# maupun ulkus yang mendahului penyakit lim!ogranuloma venereum.2#,

+. I',eti#o Vesiko-$losa elainan kulit pada impetigo vesikobulosa berupa eritem# bula# dan bula hipopion. eadaan umum tidak dipengaruhi# kadang-kadang (aktu penderita datang berobat# vesikelAbula telah meme"ah sehingga yang tampak hanya koleret dan dasarnya masih eritematosa.1

'ambar 1% : #taphylococcus aureus: 6mpetigo 5ulosa. 5ulla Super!isial dan >rosi di )aerah Hidung .. Ulk$s !$r$' ;han"re (ulkus durum) si!ilis biasanya mun"ul sebagai lesi tunggal yang tidak menyakitkan dan tidak berulang. 4lkus tersebut biasanya bulat# dasarnya ialah jaringan granulasi ber(arna merah dan bersih# diatasnya hanya tampak serum. =ang khas ialah ulkus tersebut indolen dan teraba indurasi.,#1

15

'ambar 11 : ;han"re pada si!ilis primer

/. )0an roi! 1Ulk$s Mole2 ;han"roid adalah penyakit in!eksi menular ulserati! akut yang disebabkan oleh organisme Haemophilus ducreyi, sering bermani!estasi sebagai ulkus dengan eksudat abu-abu kekuningan diatas dasar jaringan granulasi. 4lkus ke"il# lunak pada perabaan# tidak terdapat indurasi# berbentuk "a(an# pinggir tidak rata# sering bergaung dan dikelilingi halo yang eritematosa.2#,#1

'ambar 12 : +embesaran "han"roid dengan eksudat abu-abu yang telah merusak !renulum (kissing ul"er).

16

*. PENATALAKSANAAN

E!$kasi +asien dengan herpes genital harus dinasehati untuk menghindari hubungan seksual selama gejala mun"ul dan selama 1 sampai 2 hari setelahnya dan menggunakan kondom antara perjangkitan gejala. -erapi antiviral supressi dapat menjadi pilihan untuk individu yang peduli transmisi pada pasangannya.2

A#en Anti(iral +engobatan dapat mengurangi simptom# mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan se"ara "epat yang berhubungan dengan perjangkitan# serta dapat memper"epat (aktu penyembuhan. -iga agen oral yang akhir-akhir ini diresepkan# yaitu A"y"lovir# Cam"i"lovir# dan Vala"y"lovir. etiga obat ini men"egah multiplikasi virus dan memperpendek lama erupsi. +engobatan peroral# dan pada kasus berat se"ara intravena adalah lebih e!ekti!. +engobatan hanya untuk menurunkan durasi perjangkitan.1

7ekomen regimen terapi herpes simplek De3asa A 4 lo(ir 56 .77'# 80ari Anak +5 '#8k# a 4 lo(ir !$rasi 9:+7 0ari ata$

Orofa ial 0er,es

Pri'er infeksi

17

A 4 lo(ir /6 ;77'#8 0ari Vala 4 lo(ir .6+777'# 80ari Fa' i lo(ir /6.57'#8 Rek$ren infeksi 0ari A 4 lo(ir 56 ;77'#8 0ari Fa' i lo(ir /6 577'# Vala 4 lo(ir .6.777'# 8 0ari

5680ari

s4',to' 0ilan#.

;:5 0ari ata$ sa',ai se'-$0 Ke $ali (ala 4 lo(ir 0an4a + 0ari 9:+7 0ari ata$ s4',to' 0ilan#

Genital 0er,es

Pri'er infeksi

A 4 lo(ir 56.77'# 80ari A 4 lo(ir /6;77'# 8 0ari Vala i lo(ir .6+777'#8 0ari Fa' i lo(ir

A 4 lo(ir ;7:<7 '#8k# 8 0ari oral !i-a#i =a!i /:; !osis 1 'a6 +#80ari2 A 4 lo(ir +777'#80ari !i-a#i /:5 !osis I( a 4 lo(ir +7'#8k# /680ari

/6.57'#80ari Rek$ren A 4 lo(ir /6;77'# 80ari infeksi A 4 lo(ir 56.77'#80ari Vala 4 lo(ir .6 +777'# Fa' i lo(ir Disse'inate! infeksi .6577'#80ari I( a 4 lo(ir +7:+5 '#8k# /6 80ari

5:+70ari 8 sa',ai se'-$0

+;:.+ 0ari

18

*I. KOMPLIKASI omplikasi jarang tetapi dapat serius. diantaranya:


6n!eksi bakteri sekunder# 6ni biasanya karena Staph. Staphylo"o""us. )isseminated herpes simpleks# merupakan in!eksi virus herpes yang menyebar berupa yang terjadi pada bayi baru lahir atau imunosupresi! pasien.

Herpes simpleks kronis# biasa terjadi pada penderita H6V Herpes ense!alitis. Herpes ense!alitis 6ni adalah komplikasi serius herpes simpleks# tidak selalu disertai dengan lesi kulit.

arsinoma leher rahim. 6ni lebih umum pada (anita dengan bukti serologi in!eksi herpes simpleks tipe 2# yang merupakan !aktor predisposisi.1

*II. PROGNOSIS ematian oleh in!eksi HSV jarang terjadi. 6n!eksi dini yang segera diobati mempunyai prognosis lebih baik# sedangkan in!eksi rekuren hanya dapat dibatasi !rekuensi kambuhnya. +ada orang dengan gangguan imunitas# misalnya penyakitpenyakit dengan tumor di system retikuloendoteial# pengbatan dengan imunosupressan yang lama# menyebabkan in!eksi ini dapat menyebar ke alat-alat dalam dan !atal. +rognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang de(asa. -erapi anti virus e!ekti! menurunkan mani!estasi klinis herpes genitalis.2#, *III. KESIMPULAN Herpes simpleks virus (HSVs) adalah virus )*A yang menyebabkan in!eksi kulit akut dan dikarakteristikan sebagai vesikel berkelompok pada dasar yang

19

eritema. 8eskipun jarang# virus ini dapat menyebabkan penyakit yang serius dan dapat mempengaruhi kehamilan# menyebabkan gangguan pada janin. ebanyakan in!eksi berulang dan "enderung mun"ul pada atau dekat lokasi yang sama. Herpes labialis adalah in!eksi paling umum disebabkan oleh HSV tipe 1 (HSV-1)# sedangkan herpes genital biasanya disebabkan oleh HSV tipe 2 (HSV-2). 8ani!estasi klinis in!eksi HSV lain yang kurang umum. 6n!eksi HSV berlangsung dalam tiga tingkat yaitu in!eksi primer# laten dan rekuren.2#3

Daftar P$staka
1. Sal(a##io MR . Herpes Simple9. 2%%/

)ate D"ited 2%1% 8ei# 2%thE: elamin. 2 ed. ?akarta: C -

Available !rom: http:AAemedi"ine.meds"ape."om 2. HamBah 8# Aisah S. 6lmu +enyakit 46F 2%%1. ,. )ugdale );. Herpes Simple9. 2%%/ )ate D"ited 2%1% 8ei# 2% thE: Available !rom: http:AAmedlineplus."om
4. An>i(ino '? Fioriti )#dkk. Herpes Simple9 Virus 6n!e"tion 6n +regnan"y

ulit dan

And 6n *eonate: Status <! Art <! >pidemiology# )iagnosis# -herapy And +revention. .77@. Date 1 ite! .7+7? .7t02. http:AAvirology journal."om
5. Torres G. Her,es Si',le6. .77@ Date A ite! .7+7 Mei? .7t0BC A(aila-le

fro'C 0tt,C88e'e!i ine.'e!s a,e. o'


6. Anoni'. Herpes simple9 G )iagnosis. 4pdate on 22 8ey 2%1%. ;ited on:

1/ 8ei 2%1% http:AA(((.umm.eduApatientedAarti"lesAho(HseriousHherpesHsimple9H%%%% 22H2.htm


20

7. Pinninti SG. Herpes Simple9 Virus 6n!e"tion: )i!!erential )iagnoses I

@orkup. 4pdate on 22 8ey 2%1%. ;ited on 1/ 8ei 2%1% http:AAemedi"ine.meds"ape."omAarti"leA/30$33-diagnosis


8. Torres G. Herpes Simple9: -reatment I 8edi"ation. 2%%/ )ate D"ited

2%1% 8ei# 2%thE: Available !rom: http:AAemedi"ine.meds"ape."om

21