Anda di halaman 1dari 7

Nama : Debby Lia Anggrainy

NIM

: 201312005 / 06032681318030

Prodi : Teknologi Pendidikan

UJIAN PERTENGAHAN MATRIKULASI


PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN AJARAN 2013/2014
Mata Kuliah
Dosen Pengampu

: Psikologi
: Prof. Dr. H. Fuad Abd. Rachman, M.Pd.
Dr. Nyayu Khodijah, S.Ag.,M.Si.

Pembahasan :
1. Dua defenisi psikologi dari para ahli, analisis dan pembahasan terhadap defenisi
tersebut, serta kesimpulan yang dimaksud dengan psikologi berdasarkan defenisi
tersebut!
Pertama :
Menurut Crow dan Crow, psichology is the study of human behavior and human
relationship
Analisis :
Dari batasan tersebut jelas bahwa yang dipelajari oleh psikologi adalah tingkah
laku manusia, yaitu interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik yang berupa manusia
lain (human relationship) maupun yang bukan manusia seperti apa yang ada di alam,
hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya. Jelaslah bahwa psikologi tidak hanya
berhubungan dengan tingkah laku sesama manusia saja.
Pengertian tingkah laku dalam batasan ini mempunyai arti yang luas, meliputi
tingkah laku yang nyata (eksplisit) seperti berbicara, membaca, tertawa, melompat, dan
sebagainya, dan tingkah laku yang tidak nyata (implisit) seperti berpikir, mengingat,
merasakan, menghendaki, dan sebagainya.
Kesimpulan :
Jadi, pada hakikatnya, bidang kajian psikologi banyak menyentuh bidang
kehidupan diri mahluk hidup (organisme), baik hubungan manusia terhadap manusia,
maupun hubungan manusia terhadap alam sekitarnya (hidup maupun tidak hidup). Namun
secara lebih khusus, psikologi lebih banyak dikaitkan sebagai ilmu pengetahuan yang

berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan
juga memahami bagaimana manusia berpikir dan berperasaan. Ditinjau dari pengertian
behavior itu sendiri yaitu tingkah laku (sikap) maka psikologi lebih dikhususkan oleh
Crow dan Crow merupakan studi tingkah laku manusia dan hubungan manusia yang tidak
terlepas dengan dirinya sendiri, namun berkaitan erat dengan segala sesuatu yang ada
disekitar kehidupannya.
Kedua :
Menurut Sigmund Freud (1856-1939), Psikologi adalah ilmu tentang ketidaksadaran
manusia
Analisis :
Dalam sejarahnya, tokoh berkebangsaan Jerman ini dikenal memiliki beberapa teori
dan konsep-konsep mengenai ilmu Psikologi, diantaranya:
a. Alam ketidaksadaran (unconciousmind), yang dia ulas melalui sebuah buku yang ia tulis
dengan judul Interpretation of Dreams, dan masih dijadikan rujukan hingga saat ini.
b. Perkembangan psikoseksual (Theory of Psychosexual Development), adalah sebuah teori
yang mengatakan bahwa seksualitas adalah faktor pendorong terkuat untuk melakukan
sesuatu dan bahwa pada masa balita pun anak-anak mengalami ketertarikan dan kebutuhan
seksual.
c.

The Oedipal Complex, mengatakan bahwa anak (kecil) akan berusaha semaksimal
mungkin untuk mendapatkan perhatian dari sang Ibu tercinta.

d. KonsepId, Ego, dan Superego. Mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanism)

Kesimpulan :
Psikologi merupakan ilmu tentang ketidaksadaran manusia, jadi dapat
disimpulkan menurut Sigmund Freud manusia memiliki alam tersendiri yang bahkan
manusia itu sendiri pun sulit untuk menyadarinya, yang disebut dengan alam
ketidaksadaran. Seringkali alam ketidaksadaran membuat manusia bertingkah laku secara
spontan atau yang sering disebut dengan insting. Keberadaan ego dan superego yang
diungkapkan oleh Sigmund Freud juga merupakan faktor utama yang seringkali
mendorong manusia untuk melakukan kehendak atau sesuatu sesuai keinginannya
sehingga mendasari manusia untuk bertingkah laku, walaupun tingkah laku manusia
tentunya dibatasi akal dan tidak semata-mata mengikuti ego. Selebihnya manusia dapat
mengikuti ego selama dibenarkan oleh lingkungannya.
Ketiga :

Menurut Wilhelm Wundt (1832-1920), Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang


mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia, seperti perasaan
panca indera, pikiran, merasa (feeling) dan kehendak
Analisis :
Ia dikenal dengan Bapak Psikolog Modern atas jasanya mendirikan Laboratorium
Psikologi Pertama di Dunia. Karena sebagai pemula dan perintis ilmu psikologi, dia belum
menuliskan secara terperinci tentang konsep yang dia cetuskan tentang ilmu yang sangat
asing dan belum dikenal dalam masyarakat luas, namun ia telah banyak melakukan banyak
eksperimen-eksperimen untuk mengeluarkan ilmu psikologi dari ilmu fisafat dan ilmu
Faal. beberapa karya besar yang dia ukir melalui penulisan buku diantaranya : " Beitrage Zur
Theorie Der Sines Wahrnemung" (Persepsi yang dipengaruhi kesadaran,1862),
"Grundzugeder Physiologischen Psychologie" (Dasar fisiologis dari gejala-gejala
psikologi,1873) dan "Physiologische Psychologie". Di dalam beberapa buku tersebut ia
tuliskan pendapat dan konsep-konsep nya mengenai ilmu yang baru melepaskan diri dan
berdiri sendiri tersebut.
Kesimpulan :
Berdasarkan definisi psikologi di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah
ilmu yang berkaitan dengan pengamalan yang dialami maupun yang timbul dari apa yang
nyata maupun tersirat dalam diri manusia yang dapat mempengaruhi pola manusia dalam
bertingkah laku.

2. Secara garis besar, perkembangan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor
hereditas dan lingkungan. Dari kedua faktor ini yang lebih dominan
pengaruhnya pada perkembangan manusia beserta contohnya adalah sebagai
berikut :
Terdapat 3 aliran yang mendasari faktor perkembangan psikologi, berdasarkan aliran
ini telah dikemukakan oleh para ahli psikologi tentang faktor mana yang menjadi
dominan dalam perkembangan psikologi manusia, yaitu sebagai berikut :
a. Aliran Nativisme, yang dipelopori Arthur Schopenhauer (1788-1860), menitik beratkan
pandangannya pada peranan sifat bawaan dan keturunan (hereditas) sebagai penentu
perkembangan tingkah laku, persepsi tentang ruang dan waktu tergantung pada faktorfaktor alamiah atau pembawaan dari lahir, asumsi yang mendasari aliran ini adalah
bahwa pada diri anak dan orangtua terdapat banyak kesamaan baik fisik maupun
psikis. Aliran ini dipandang sebagai aliran pesimistik dan deterministik.
Jadi, menurut aliran ini faktor hereditas menjadi faktor yang dominan dalam
perkembangan karena terjadi secara alamiah dari lahir dalam diri setiap
manusia. Contoh :

bayi manusia yang hidup dihutan walau dia dirawat oleh srigala nantinya dia akan
berkembang layaknya manusia seperti berjalan dengan dua kaki

b. Aliran Empirisme, yang dipelopori John Locke (1632-1704) menitik beratkan


pandangannya pada peranan lingkungan sebagai penentu perkembangan tingkah
laku, asumsi psikologisnya adalah bahwa manusia lahir dalam keadaan tidak memiliki
pembawaan apapun, bagaikan kertas putih (tabula rasa) yang dapat ditulisi dengan apa
saja yang dikehendaki. Perwujudan tingkah lakunya ditentukan oleh lingkungan
dengan kiat-kiat rekayasa yang bersifat impersonal dan direktif. Aliran ini dikenal
sebagai aliran yang optimistik dan positivistik, hal ini disebabkan bahwa suatu tingkah
laku menjadi lebih baik apabila dirangsang oleh usaha-usaha yang nyata, karena
manusia bukanlah robot yang diprogram secara deterministik.
Jadi, pada aliran ini yang dominan mempengaruhi manusia adalah lingkungan,
karena manusia berkembang tingkah lakunya sesuai dengan prinsip tabula rasa.
Contoh : Bayi yang lahir mempunyai kecenderungan yang sama, yaitu menyusu jika
bibirnya bersentuhan dengan payudara ibunya, menangis ketika merasa haus, lapar dan
sakit
c. Aliran Konvergensi, yang dipelopori oleh William Stern (1871-1929) aliran ini
menggabungkan dua aliran di atas. Konvergensi adalah interaksi antara faktor
hereditas dan faktor lingkungan dalam proses perkembangan tingkah laku. Hereditas
tidak akan berkembang secara wajar apabila tidak diberi rangsangan dari faktor
lingkungan. Sebaliknya rangsangan lingkungan tidak akan membina perkembangan
yang ideal tanpa didasari oleh faktor hereditas. Karenanya penentuan kepribadian
seseorang ditentukan dengan kerja integral antara faktor internal (potensi bawaan) dan
faktor eksternal (lingkungan pendidikan).
Jadi, pada aliran ini faktor hereditas dan lingkungan sama-sama memiliki
peranan dalam perkembangan manusia. Contoh : anak yang terlahir pintar harus
diberikan sarana dan prasarana pendukungnya agar dapat mengoptimalkan
pengetahuannya.
Kesimpulan :
Hereditas dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan karakteristik
biologis individu dari pihak kedua orang tua ke anak atau karakteristik biologis individu
yang dibawa sejak lahir yang tidak diturunkan dari pihak kedua orang tua. Kita dapat
mengatakan bahwa sifat-sifat atau ciri-ciri pada seorang anak adalah keturunan, jika sifatsifat atau ciri-ciri tersebut diwariskan atau diturunkan melalui sel-sel kelamin dari
generasi yang lain.

Sifat-sifat keturunan adalah sifat-sifat atau ciri-ciri yang diwariskan atau diturunkan
melalui sel-sel kelamin dari generasi yang lain. Jadi ada dua syarat:
1) persamaan sifat atau ciri-ciri.
2) ciri-ciri ini harus menurun melalui sel-sel kelamin.
Sesuatu sifat atau ciri-ciri yang terdapat pada seseorang yang merupakan
keturunan itu belum pasti diterima dari orang tuanya. Tidak semua individu-individu dari
suatu generasi menunjukkan sifat-sifat keturunan, dapat juga sifat-sifat ini bersembunyi
selama beberapa generasi. Besarnya perbedaan antara dua individu atau lebih selalu
tergantung kepada dua faktor: pembawaan keturunan dan pengaruh lingkungan.
Lingkungan ialah faktor yang datang dari luar diri individu, merupakan
pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya. Pengaruh pendidikan
dan pengaruh lingkungan sekitar itu sebenarnya terdapat perbedaan. Pada umumnya
pengaruh lingkungan bersifat pasif, dalam arti bahwa lingkungan tidak memberikan suatu
paksaan kepada individu. Lingkungan memberikan kemungkinan-kemungkinan atau
kesempatan-kesempatan kepada individu. Bagaimana individu mengambil manfaat dari
kesempatan yang diberikan oleh lingkungan tergantung kepada individu bersangkutan.
Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan material jasmaniah di dalam
tubuh. Dan secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh
individu mulai sejak dari konsensi, kelahiran hingga kematiannya, yaitu :
a. Keluarga
b. Sekolah
c. Masyarakat
d. Keadaan alam sekitar
Menurut Sartain lingkungan itu dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1) Lingkungan alam/ luar (external or psyical environment)
2) Lingkungan dalam (internal environment)
3) Lingkungan social/masyarakat ( social evironment)
Bahwa semua yang berkembang dalam diri suatu individu ditentukan oleh
hereditas dan juga oleh lingkungannya.
Sebagai kesimpulan dapat dikatakan jalan perkembangan manusia sedikit banyak
ditentukan oleh hereditas yang turun temurun oleh aktifitas atau penentuan manusia
sendiri yang dilakukan dengan bebas di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan tertentu
berkembang menjadi sifat-sifat.
Perkembangan merupakan perubahan kearah yang lebih maju/lebih dewasa.
Perkembangan seseorang dipengaruhi oleh faktor hereditas (internal) dan faktor
lingkungan (eksternal), agar tidak terjadi ketimpangan dalam bertingkah laku
keduanya harus berjalan secara bersamaan/saling melengkapi.
Contoh : anak yang terlahir pintar secara hereditas (IQ) harus diberikan lingkungan
pendukung seperti sarana, prasarana, kondisi keluarga, sekolah, hingga kondisi religius
(EQ,SQ) agar dapat mengoptimalkan dan menyeimbangkan pengetahuannya.

3. Keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Disemua faktor


tersebut salah satu faktor yang menurut saya dapat diintervensi oleh guru dan
contoh intervensi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar Menurut Slameto (2010: 54) ada
dua yaitu :
1) Faktor intern terdiri dari :
a) Faktor Jasmaniah antara lain, faktor kesehatan, dan cacat tubuh.
b) Faktor Psikologi yaitu, intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan
kesiapan.
c) Faktor Kelelahan Faktor kelelahan sangat mempengaruhi hasil belajar, agar siswa
dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan
dalam belajarnya. Sehingga perlu diusahakan kondisi yang ebbas dari kelelahan.
2) Faktor Ekstern terdiri dari :
a) Faktor Keluarga, seperti cara orang tua mendidik, relasi antar anggota, suasana
rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang
kebudayaan.
b) Faktor Sekolah, seperti metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa,
relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar
pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
c) Faktor Masyarakat, seperti kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman
bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
Bentuk intervensi atau campur tangan guru menurut saya yang dapat dilakukan
berkaitan erat dengan faktor ektern (luar) yang ada di sekolah sebagai lingkungan
pendidikan formal yaitu :
1. Metode mengajar, guru melakukan variasi metode mengajar kepada siswa agar siswa
terintervensi untuk mengikuti perubahan metode yang pada akhirnya akan menjadikan
siswa lebih siap dan ikut aktif dalam belajar. Suasana belajar pun akan ditunggutunggu oleh siswa karena belajar dilakukan secara menarik, bersama-sama, dan tidak
membosankan.
Contoh :
Sebagai guru kimia, saya biasanya tidak hanya melakukan metode ceramah dalam
mengajar, harus ada metode pembalikan misalnya dilakukan dalam kelas praktik
kimia, siswa selalu tertarik, menunggu, dan mempersiapkan diri dengan baik jika suatu
hari saya hendak mengintervensi mereka dengan tugas praktik yang berkaitan dengan
materi dan melakukan penilaian psikomotor serta pemahaman mereka yang tidak
dirasakan terlalu menekan bagi siswa, sebaliknya menjadi menyenangkan karena
pembelajaran kimia tidak selalu berhitung dan menghapal reaksi melainkan
melakukan secara nyata apa yang diabstrakkan.

2. Relasi guru dengan siswa, guru bukan hanya sebagai media transfer ilmu tetapi juga
sebagai fasilitator siswa dalam meraih keberhasilan belajar.
Contoh :
Saat memberi tugas, guru tidak boleh lepas tangan, guru mengintervensi siswa yang
sulit memahami tugas dan memberikan bimbingan, pengertian dan perhatian khusus
bagi keberhasilan siswa dalam belajar.
Saat di dalam kelas, guru memberikan motivasi dan penguatan terhadap materi dan
dihubungkan dengan minat siswa sebagai bentuk intervensi, walaupun terkadang sulit
dilakukan karena minat setiap siswa berbeda-beda dan sulit untuk mengetahuinya
secara detail dan mendalam. Guru-guru berjuang untuk menciptakan suatu lingkungan
yang nyaman untuk pencapaian prestasi siswa dengan merubah organisasi kelas
tradisional. Biasanya, rasio siswa:guru yang lebih kecil, guru dapat menciptakan tipetipe aktivitas mengajar dan belajar yang kurang konvensional (friendly), guru dapat
menempatkan diri sebagai pendidik, pengajar, sekaligus teman bagi siswa, guru-guru
juga memberikan kepada siswa beberapa pilihan dan kebebasan di dalam menyalin
pengendaliannya terhadap iklimnya (keadaan kelas), serta siswa didorong untuk
menggunakan strategi belajar yang berbeda.
(Studi Emerick mengindikasikan bahwa suatu tipe intervensi yang efektif adalah
didasarkan pada kekuatan dan minat siswa (Renzulli, 1977; Renzulli & Reis, 1985,
1997). Dalam studinya yang mutakhir, peneliti menggunakan self-selected Type III
dari Proyek Pengayaan sebagai suatu intervensi sistematik untuk siswa AB2K.
Pendekatan secara spesifik mentargetkan kekuatan dan minat siswa sehingga
membantu mengatasi gejala berprestasi kurang bidang akademik. (Baum, Renzulli, &
Hebert, 1995b).)