Anda di halaman 1dari 44

Gas Chromatography Mass-Spectrophotometry

GCMS adalah Instrumen dari gabungan dari alat GC(Kromatografi gas) dan MS (spektrofotometri massa) yang digunakan untuk memisahkan suatu senyawa menjadi komponenkomponen penyusunnya menggunakan fase gerak berupa gas. Pemisahan seyawa dengan GCMS didasarkan pada volatilitas zat yang dianalisa. Berdasarkan fase diam yang digunakan kromatografi gas dibedakan menjadi GSC( fase diamnya berupa zat padat) dan GLC (fase diamnya berupa zat cair). GC-MS digunakan secara luas dalam Kimia Organik sejak tahun 1960. alasannya: GCMS dapat menguapkan hampir seluruh senyawa organik dan mengionkan uap. Serta fragmen yang dihasilkan dari ion molekul dapat dihubungkan dengan struktur molekulnya. Prinsip GCMS : Sampel yang dibawa fase gerak(gas pembawa) akan cenderung menempel pada fase diam dan bergerak lebih lama dari komponen lainnya, sehingga masingmasing komponen akan keluar dari fase diam pada saat yang berbeda. Kegunaan GC-MS: hanya dapat digunakan untuk mendeteksi senyawa-senyawa yang mudah menguap. Glukosa, sukrosa, sakarosa bersifat tidak menguap, sehingga tidak dapat dideteksi dengan alat GC-MS. GCMS dapat digunakan sebagai analisa kualitatif maupun kuantitatif. GCMS dapat digunakan untuk menentukan berat molekul dengan sangat teliti sampai 4 angka di belakang decimal, untuk meneliti gugus fungsi komponen sampel. Dengan MS sebagai alat lanjutanya dapat digunakan untuk mengetahui Rumus Molekul tanpa melalui Analisa Unsur. Sehingga, dalam GCMS tidak diperlukan library. Instrument penyusun GCMS : 1. Tabung gas : mensuplai gas. Gas yang digunakan sebagai gas pembawa dapat berupa hidrogen, nitrogen maupun helium. Namun yang lebih baik adalah helium, karena tidak dapat bereaksi dengan sampel(cuplikan). 2. Sistem injeksi sampel : Untuk mendapatkan efisien, maka sampel dimasukkan ke dalam aliran gas dan jumlah yang sedikit dengan waktu yang tepat. Jika sampel berupa cairan harus diencerkan terlebih dahulu dalam bentuk larutan. Injeksi sampel dapat diambil melalui karet silicon ke dalam oven, banyak sampel + 0,1-10 ml. Suhu dalam tempat injeksi tinggi, biasanya 50 C lebih tinggi daripada titik didih komponen dari sampel. Namun tidak terlalu tinggi karena dapat perubahan atau perubahan molekulnya. Sedangkan kalu terlalu rendah, pemisahan komponen kurang maksimal. 3. Oven : digunakan untuk memanaskan column pada temperature tertentu sehingga mempermudah proses pemisahan komponen sample. 4. Control System : berfungsi untuk: 1) Mengontrol pressure dan flow dari mobile phase yang masuk ke column. 2) Mengontrol temperature oven. 5. Kolom : berisi fase diam dimana fase gerak akan lewat didalamnya sambil membawa sample. Secara umum terdapat 2 jenis column, yaitu: 1) Packed column, umumnya terbuat dari glass atau stainless steel coil dengan panjang 1 5 m dan diameter kira-kira 5 mm. 2) Capillary column, umumnya terbuat dari purified silicate glass dengan panjang 10-100 m dan diameter kira-kira 250 mm. Suhu pada kolom di atas titik lebur dari fasa cair. suhu rendah memberikan pemisahan yang lebih baik, namun waktu retensinya lebih panjang yaitu menjadi 2x lipat lebih lama untuk setiap penurunan 30 C. 6. Detector : diperlukan suhu yang cukup tinggi untuk mencegah kondensasi dari cuplikan. Detector berfungsi mendeteksi adanya komponen yang keluar dari column. 7. Data Acquisition System : berfungsi sebagai: 1) Control automatic calibration; 2) Gas analysis; dan 3) Graphics & Reporting. Data aquisition merupakan perangkat gabungan

dari Software dan Hardware (PC, Interface & Communication) dalam GCMS, MS termasuk dalam system ini. Operasi GCMS 1. 2. 3. 4. Buka kran tabung gas Tekan tombol power GCMS Nyalakan computer dan proses pemvakuman, perhatikan hingga auto vakum selesai. Pada menu Real Time Analisis klik metode file. Bila ingin memanggilo metode lama klil open lalu pilih metode yang diinginkan. Bila ingin membuat metode baru klik new lalu isi sampel login dan tentukan temperatur program, kolom oven, suhu injeksi,split rasio, lalu OK dan tunggu hingga kondisi temperatur tercapai dan siap analisis (redy, berwarna hijau)

Gas Chromatography-Mass Spectrometri (GCMS)


Maret 20, 2008 at 12:17 pm Tinggalkan Komentar borger=0 style=float: left; margin: 0px 15px 15px 0px Sejak tahun 1960, GC-MS digunakan secara luas dalam Kimia Organik. Sejak saat itu terjadi kenaikan penggunaan yang sangat besar dari metode ini. Ada dua alasan utama terjadinya hal tersebut. Pertama adalah telah ditemukannya alat yang dapat menguapkan hampir semua senyawa organik dan mengionkan uap. Kedua, fragmen yang dihasilkan dari ion molekul dapat dihubungkan dengan struktur molekulnya.GC-MS adalah singkatan dari Gas ChromatographyMass Spectrometri. Instrumen alat ini adalah gabungan dari alat GC dan MS, hal ini berarti sampel yang hendak diperiksa diidentifikasi dahulu dengan alat GC (Gas Chromatography) baru, kemudian diidentifikasi dengan alat MS (Mass Spectrometry). GC dan MS merupakan kombinasi kekuatan yang simultan untuk memisahkan dan mengidentifikasi komponenkomponen campuran. Adapun kegunaan alat GC-MS adalah : a. Untuk menentukan berat molekul dengan sangat teliti sampai 4 angka di belakang desimal. Guna menentukan sampai 4 angka di belakang desimal contohnya adalah sebagai berikut: misalnya ada senyawa-senyawa: CO Massa Molekul = 28 ; N2 Massa Molekul = 28 ; H2C=CH2 Massa Molekul = 28. Kalau dihitung Massa masing-masing dengan teliti, maka masing-masing massa molekulnya akan berbeda. b. Spektroskopi massa dapat digunakan untuk mengetahui Rumus Molekul tanpa melalui Analisa Unsur. Misalnya C4H10O, biasanya memakai cara kualitatif atau kuantitatif, mula-mula

diketahui rumus empiris dulu (CxHyOz)n, kemudian baru ditentukan BM-nya. Sekarang karena adanya komputer pada alat GC-MS dapat langsung diketahui Rumus Molekulnya. c. Bila kita memasukkan senyawa dalam spektroskopi massa, maka senyawa itu akan ditembaki oleh elektron dan molekul akan mengalami reaksi fragmentasi. Molekul akan pecah karena tembakan elektron dalam spektrometer. Pecahnya molekul itu tergantung pada gugus fungsi yang ada dalam molekul itu, jadi melalui suatu corak tertentu, tidak secara random. Sebelum ini hanya Spektrometri IR, Resonansi Magnit Inti yang bisa mengetahui gugus fungsi. Dengan adanya fragmentasi kita juga bisa mengenali senyawa tersebut, sehingga kita bisa mendapatkan cara tambahan untuk mengetahui apakah senyawa tersebut termasuk golongan alkohol, amin, karboksilat, aldehid dan lain sebagainya. GC-MS hanya dapat digunakan untuk mendeteksi senyawa-senyawa yang mudah menguap. Glukosa, sukrosa, sakarosa bersifat tidak menguap, sehingga tidak dapat dideteksi dengan alat GC-MS. Kriteria menguap adalah pada: (1). Kondisi vakum tinggi, tekanan rendah. (2). Dapat dipanaskan. (3). Uap yang diperlukan tidak banyak. Pada umumnya senyawa-senyawa dengan BM kurang dari 1000 dapat diuapkan, bisa ditentukan massa molekulnya dengan cara spektroskopi massa. Analisis GC-MS dengan predikat pemisahan yang high resolution serta MS yang sensitif sangat diperlukan dalam bidang aplikasi, antara lain bidang lingkungan, arkeologi, kesehatan, forensik, ilmu antariksa, kimia, biokimia dan lain sebagainya

PERBEDAAN GC DAN GC-MS


Sama-sama GC, tapi detektornya beda. Kalau GC (aja) biasanya pakai detektor flame ionization detector (FID) atau thermal conductivity detector (TCD). Nah, kalau GC-MS, detektornya menggunakan mass spectrometer (spektrometer massa). GC : gas chromatography, prinsipnya sama saja dengan kromatografi2 yang lain, memisahakan komponen. hasil GC yg kita tahu cuma intensitas sinyal, dan retention time. kalau intensitas diintegrasi terhadap waktu, maka kita dapat area, yang menyatakan konsentrasi komponen tersebut. informasi tentang komponen apakah itu, dan kapan keluarnya, kita tidak tahu. jadi dibutuhkan kalibrasi dengan komponen standar (biasanya 95% keatas) untuk mengetahuinya.

kalau kita tahu kemungkinannya senyawa apa, bisa dengan coba2 membandingkan retention time sample dengan standar. tapi kalo tidak tahu, ya harus memisahkan masing2 komponen itu (preparative), lalu dianalisa lagi dengan proses lain. kalau volume samplenya banyak sih nggak papa, tapi kalo cuman sekian ml, mau dipisah pake kolom kromatografi atau penyulingan kan nggak mungkin. GC-MS menggabungkan mass spectrometry dengan GC. GC berfungsi sebagai pemisah, dan MS menganalisa masing2 peak GC tersebut. Lebih seru lagi kalau MS nya punya database dan software yang bisa memprediksi struktur senyawa dari masing2 peak. kita tinggal inject, it does the rest. praktis kan? (idealnya loh) jadi biasanya CG-MS buat identifikasi masing2 peak saja (qualitative), selebihnya ketika kita cuma butuh analisa kuantitatif, cukup pake GC. GC merupakan alat kromatrografi Gas yang berfungsi untuk memisahkan suatu senyawa dengan bantuan gas nitrogen, hidrogen, dll. Sedangkan GC-MS kerjanya sama dengan GC, tetapi alat tersebut dilengkapi dengan pencacah fragmen sehingga kita dapat mengetahui pemecahan ion fragmen senyawa dan dapat mengetahui Berat Molekul senyawa yang di analisis. GC merupakan suatu alat atau suatu sistem yang dapat menganalsis sample berupa gas atau larutan yang dapat berubah menjadi gas pada tekanan dam temperatur tertentu. kalau prinsip dasarnya yaitu pemisahan komponen-komponen berdasarkan daya absorpsinya terhadap fasa diamnya. jadi yang namanya GC mempunya dua fasa yaitu fas gerak (cariier gas) dan fasa diam. Fasa gerak : Helium, Hydrogen (harus yang UHV = ultra high purity) Fasa Diam :senyawa polimer yang terdapat dalam kolom tsb GC itu menpunyai tiga komponen utama yaitu : inlet (injector) Oven, Detector (FID, TCD, ECD, etc) Berarti kalau yang namanya GC-MS adanya penambahan detector dari GC tsb. jadi kalu GC sudah tsbt sudah menggunakan MS maka kita akan mengetahui senyawa-senyawa yang akan kita analysis berdasarkan dari berat komponen-komponen setiap peaknya berdasarkan mol weight nya juga. Dan kita kan tahu senyawa-senya yang telah kita injeksikan ke dalam GC tersebut senyawa apa misalnya H2O itu mempunya MW nya = 18 Kalo GC cuma digunakan untuk memisahkan senyawa2 dalam suatu campuran larutan dan identifikasi biasa. Biasanya identifikasinya harus dicocokkan dengan suatu reference yang sudah diketahui dengan tepat baik komponennya maupun konsentrasinya... tapi jika GC yang ditandem dengan MS atau dikenal sbg GC-MS bisa digunakan utk identifikasi gugus fungsi dan posisi gugus fungsi-nya juga

Dugaan Perkosaan Menggunakan Obat (Tugas Kuliah Farmasi Forensik)


Dugaan Perkosaan Menggunakan Obat oleh Made Chandra Wrasmitha Dewi, I M.A. Gelgel Wirasuta Jurusan Farmasi Udayana

KASUS : Dua orang tersangka dituduh memperkosa perempuan yang mereka undang ke apartemen mereka. Mereka mengklaim bahwa korban minum sehingga mabuk dan tidak sadarkan diri dalam rentang waktu 30 menit setelah kedatangannya, dimana dia berimajinasi telah diperkosa. Korban tersadar empat jam kemudian. Korban bersaksi bahwa dia memang meminum dua bir dan satu skochi selama 2,5 jam. Setelah dia berhenti minum, dia merasakan pusing dan tidak sadarkan diri. Dia terjaga dan merasa sedang diperkosa, namun rasanya seperti mimpi dan dia tidak bisa berbicara atau bergerak.

PENYELESAIAN : Menurut KUHP pasal 285 perkosaan adalah dengan kekerasan atau ancaman kekerasan menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan. Termasuk dalam kategori kekerasan disini adalah dengan sengaja membuat orang pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP). Hukuman maksimal untuk delik perkosaan ini adalah 12 tahun penjara (Atmadja, 2009). Mengungkap suatu kasus perkosaan pada tahap penyidikan, akan dilakukan serangkaian tindakan oleh penyidik untuk mendapatkan bukti-bukti yang terkait dengan tindak pidana yang terjadi. Terkait dengan peranan dokter dalam membantu penyidik memberikan keterangan medis mengenai keadaan korban perkosaan, hal ini merupakan upaya untuk mendapatkan bukti atau tanda pada diri korban yang dapat menunjukkan bahwa telah benar terjadi suatu tindak pidana perkosaan. Keterangan dokter yang dimaksudkan tersebut dituangkan secara tertulis dalam bentuk surat hasil pemeriksaan medis yang disebut dengan visum et repertum (Atmadja, 2009). Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup maupun mati, ataupun

bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk kepentingan peradilan. Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan tentang segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaikbaiknya (Kuntawiaji, tt).

Untuk mengetahui apakah korban diperkosa, maka harus dilakukan pemeriksaan antara lain tanda kekerasan dan tanda persetubuhan. 1. Tanda Kekerasan Yang dimaksud dengan kekerasan pada delik susila adalah kekerasan yang menunjukkan adanya unsur pemaksaan, seperti jejas bekapan pada hidung, mulut dan bibir, jejas cekik pada leher, kekerasan pada kepala, luka lecet pada punggung atau bokong akibat penekanan, memar pada lengan atas dan paha akibat pembukaan secara paksa, luka lecet pada pergelangan tangan akibat pencekalan dsb (Atmadja, 2009). Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum digunakan untuk membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan, karena tindakan membuat orang mabuk atau pingsan secara sengaja dikategorikan juga sebagai kekerasan. Obat-obatan yang perlu diperiksa adalah obat penenang, alkohol, obat tidur, obat perangsang (termasuk ecstasy) dsb (Atmadja, 2009). Untuk uji toksikologi untuk mengetahui apakah pada minuman korban diberikan obat penenang, maka dilakukan uji sebagai berikut (dimisalkan raped drug yang digunakan diazepam): a. Uji skrinning Uji skrinning adalah pemeriksaan pendahuluan laboratorium sebagai upaya penyaring untuk mengetahui ada atau tidaknya dan jenis obat yang menimbulkan efek toksis atau efek gangguan kesehatan. Dalam deteksi penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, uji skrining dilakukan untuk menentukan golongan analit (narkotika dan psikotropika) yang digunakan. Hasil dari uji skrining dapat dijadikan dasar dugaan atau hanya sebagai petunjuk dan bukan merupakan bukti yang kuat bahwa seseorang telah mengkonsumsi narkotika dan psikotropika karena uji skrining belum mampu mendeteksi jenis zat narkotika dan psikotropika spesifik yang terkandung di dalam sampel (Wirasuta, 2008). Pemeriksaan skrining positif berarti suatu obat atametabolitnya terdapat dalam darah sebanyak atau lebih banyak dari batas deteksi alat (BNN, 2008).

Alat yang dapat digunakan untuk melakukan uji skrinning dan hanya memerlukan waktu sesaat untuk membaca hasilnya secara manual adalah strip test. Strip test merupakan teknik immunoassay dengan menggunakan dasar reaksi imunologi antara antigen dan antibodi (Sukasediati dan Matta, 1987). Hasil dinyatakan - (negatif) bila tampak dua garis pada huruf C (zona kontrol validitas) dan T (zona tes/uji), sedangkan hasil dinyatakan + (positif) bila tampak satu garis pada huruf C (zona kontrol validitas) (Suwarso, 2002). Pada kasus di atas, sampel darah korban di ambil kemudian diteteskan ke alat strip test, apabila strip test menunjukkan hasil positif bahwa pada darah korban mengandung obat golongan benzodiazepin (BZD) yang memiliki efek sedatif-hipnotika, maka selanjutnya dilakukan uji konfirmasi untuk memastikan jenis zat narkotika dan psikotropika yang terkandung di dalam sampel tersebut.

b. Uji konfirmasi Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat karena hasil yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan jenis zat narkotika psikotropika yang terkandung di dalam sampel tersebut. Pemeriksaan dilakukan apabila hasil pemeriksaan pendahuluan (screening test) memberi hasil positif (BNN, 2008). Uji konfirmasi atau pemastian senyawa BZD dapat dilakukan dengan GC-MS (Gas Chromatography- Mass Spectra) atupun KLT-Spektrofotodensitometri. Kelebihan dari GC-MS, antara lain GC-MS sensitif karena mampu mendeteksi kadar obat < 1g/L dan membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif singkat. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan derivatisasi sampel dan biaya operasional GC-MS relatif mahal. Kelebihan metode KLT-

Spektrofotodensitometri adalah biaya operasional yang lebih murah dan tidak membutuhkan derivatisasi sampel sedangkan kelemahannya adalah limit deteksi yang besar (Peat, 1988). Sistem fase gerak yang digunakan adalah TAEA dan TD. Dari hasil uji konfirmasi ini akan diketahui jenis zat golongan benzodiazepin yang terdapat pada sampel, contohnya pada sampel darah diketahui positif mengandung diazepam. Untuk mengetahui apakah pada saat kejadian korban berada di bawah pengaruh obat diazepam, maka perlu dilakukan penetapan kadar.

c. Penetapan kadar

Diazepam memiliki waktu paruh 20-40 jam, diekskresikan sebanyak 70% dalam bentuk utuh di urin. Diazepam diabsorbsi secara cepat dan menyeluruh setelah konsumsi oral dengan puncak kadar plasma dicapai dalam waktu 30-90 menit. Reaksi Metabolik adalah N demetilasi, 3 hidroksilasi dan konjugasi asam glukoronat. Metabolit aktif adalah desmetildiazepam serta oxazepam dan tenazepam. Ekskresi terutama dalam bentuk metabolitnya dalam urin. Ekskresinya lambat, 71 % dari dosis terdeteksi di urin, 10 % di feses. Diazepam dan Ndesmetildiazepam tetap ada di dalam darah setelah pemberian dosis dalam waktu yang lama (BNN, 2008). Penetapan kadar dilakukan untuk mengetahui kadar diazepam dalam darah. Penetapan kadar dapat dilakukan dengan metode KLT-Spektrofotodensitometri. Apabila analisis dilakukan 5 jam setelah kejadian dan hasil tes menunjukkan bahwa kadar diazepam dalam darah korban sebesar 0,44 mg/L (Cp), maka untuk mengetahui kadar diazepam dalam darah ketika kejadian, maka dilakukan perhitungan runut balik. Perhitungan runut balik dilakukan dengan bantuan waktu paruh farmakokinetik, yaitu dengan dengan asumsi waktu paruh diazepam 20 jam, maka : Apabila telah diketahui nilai k. Berdasarkan literatur, kadar diazepam yang menimbulkan efek dalam plasma adalah 0,1 sampai 1,0 mg/L (Moffat et al., 2005). Ini berarti pada minuman korban telah positif dicampur dengan diazepam dan pada saat kejadian korban berada di bawah pengaruh obat tersebut.

2.

Tanda Persetubuhan Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda penetrasi dan tanda ejakulasi. Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih kecil atau belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai 7, luka lecet, memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir kemaluan maupun daerah perineum. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut pada korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penetrasi (Atmadja, 2009). Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada persetubuhan, meskipun adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti menyatakan bahwa telah terjadi persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan komponen cairan mani. Usapan lidi kapas (swab vagina) diambil dari daerah labia minora, liang vagina dan kulit yang

menunjukkan adanya kerak. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal harus diambil dengan cara digunting, karena umumnya merupakan akibat ejakulasi di daerah luar vagina (Atmadja, 2009). Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari bahan swab dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopik secara langsung terhadap ekstrak atau dengan pembuatan preparat tipis yang diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau christmas tree. Jika yang akan diperiksa sampel berupa bercak peda pakaian dapat dilakukan pemeriksaan Baechi, dimana adanya sperma akan tampak berupa sel sperma yang terjebak diantara serat pakaian. Sel sperma positip merupakan tanda pasti adanya ejakulasi. Kendala utama pada pemeriksaan ini adalah jika sel sperma telah hancur bagian ekor dan lehernya sehingga hanya tampak kepalanya saja. Untuk mendeteksi kepala sperma semacam ini harus diyakini bahwa memang kepala tersebut masih memiliki topi (akrosom). Dengan adanya sperma ini, maka dapat diketahui DNA pelaku pemerkosaan (Atmadja, 2009). DNA (deoxyribonucleic acid) merupakan jenis asam nukleat yang menyimpan semua informasi genetika manusia (Putra, 2007). DNA merupakan blueprint segala aktivitas sel yang nanti diturunkan ke generasi berikutnya. Jadi secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik. DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Sehingga DNA juga berperan dalam menentukan jenis rambut, warna kulit, dan sifat-sifat khusus manusia. Jadi, seorang anak pasti memiliki ciri tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Hal ini disebabkan karena komposisi DNA-nya sama dengan sang orang tua. Struktur DNA terdiri atas dua untai yang berpilin membentuk struktur double helix. Satu untai berasal dari ibu dan satu untai lagi dari ayah. Masing-masing untai terdiri atas rangka utama dan basa nitrogen yang menyatukan dengan untai DNA lain (Anonim, tt). DNA fingerprinting adalah teknik untuk mengidentifikasi seseorang berdasarkan pada profil DNAnya. Ada 2 aspek DNA yang digunakan dalam DNA fingerprinting, yaitu di dalam satu individu terdapat DNA yang seragam dan variasi genetik terdapat diantara individu . Prosedur DNA fingerprinting memiliki kesamaan dengan mencocokkan sidik jari seseorang dengan orang lain. Hanya saja perbedanya adalah proses ini dilakukan tidak menggunakan sidik jari, tetapi menggunakan DNA individu karena secara individu DNA seseorang itu unik. Digunakan DNA karena DNA memiliki materi hereditas yang berfungsi untuk menentukan suatu urutan keturunan dalam suatu keluarga secara turun-menurun dengan pola yang acak (karena

berasal dari fusi inti ovum dan sperma) sehingga dapat digunakan untuk identifikasi pelaku kejahatan walaupun telah berganti wajah (Anonim, tt). Pemeriksaan DNA dalam bidang forensik pertama kali diperkenalkan oleh Jeffrey pada tahun 1985. Beliau menemukan bahwa pita DNA dari setiap individu dapat dilacak secara simultan pada banyak lokus sekaligus dengan pelacak DNA (DNA probe) yang diciptakannya. Pola DNA ini dapat divisualisasikan berupa urutan pita-pita yang berbaris membentuk susunan yang mirip dengan gambaran barcode pada barang di supermarket. Uniknya ternyata pita-pita DNA ini bersifat spesifik individu, sehingga tak ada orang yang memiliki pita yang sama persis dengan orang lain (Atmadja, 2009). Perkembangan lebih lanjut pada bidang forensik adalah ditemukannya pelacak DNA yang hanya melacak satu lokus saja (single locus probe). Berbeda dengan teknik Jeffreys yang menghasilkan banyak pita, disini pita yang muncul hanya 2 buah saja. Penggunaan metode ini pada kasus perkosaan sangat menguntungkan karena ia dapat digunakan untuk membuat perkiraan jumlah pelaku pada kasus perkosaan dengan pelaku lebih dari satu. Sebagai contoh, jika pita DNA pada bahan usapan vagina ada 6 buah, maka sedikitnya ada (6 : 2) yaitu 3 orang pelaku. Untuk mempertinggi derajat keakuratan pemeriksaan ini, umumnya dilakukan pemeriksaan beberapa lokus sekaligus. Adanya pita yang sama dengan tersangka menunjukkan bahwa tersangka itu adalah pelakunya, sedang pita yang tidak sama menyingkirkan tersangka sebagai pelaku (Atmadja, 2009). Ditemukannya metode penggandaan DNA secara enzimatik (metode Polymerase Chain Reaction atau PCR) oleh kelompok Cetus, membuka lebih banyak kemungkinan pemeriksaan DNA. Dengan metode ini bahan sampel yang amat minim jumlahnya tidak lagi menjadi masalah karena DNAnya dapat diperbanyak jutaan sampai milyaran kali lipat di dalam mesin yang dinamakan mesin PCR atau thermocycler. Dengan metode ini waktu pemeriksaan juga banyak dipersingkat, lebih sensitif serta lebih spesifik pula. Pada metode ini analisis DNA dapat dilakukan dengan sistim dotblot yang berbentuk bulatan berwarna biru, sistim elektroforesis yang berbentuk pita DNA atau dengan pelacakan urutan basa dengan metode sekuensing (Atmadja, 2009). Pemecahan kasus pemerkosaan dapat dilakukan dengan menganalisa DNA yang terdapat pada sperma yang tertinggal dalam vagina korban. Untuk kasus pemerkosaan diperiksa spermanya tetapi yang lebih utama adalah kepala spermatozoanya yang terdapat DNA inti sel

didalamnya. Sedangkan jika di TKP ditemukan satu helai rambut maka sampel ini dapat diperiksa asal ada akarnya. Namun untuk DNA mitokondria tidak harus ada akar, cukup potongan rambut karena diketahui bahwa pada ujung rambut terdapat DNA mitokondria sedangkan akar rambut terdapat DNA inti sel. Bagian-bagian tubuh lainnya yang dapat diperiksa selain epitel bibir, sperma dan rambut adalah darah, daging, tulang dan kuku (Putra, 2007). Pada pengambilan sampel dibutuhkan kehati-hatian dan kesterilan peralatan yang digunakan. Setelah didapat sampel dari bagian tubuh tertentu, maka dilakukan isolasi untuk mendapatkan sampel DNA. Bahan kimia yang digunakan untuk isolasi adalah Phenolchloroform dan Chilex. Phenolchloroform. Tahapan selanjutnya adalah sampel DNA dimasukkan kedalam mesin PCR. Langkah dasar penyusunan DNA fingerprint dengan PCR yaitu dengan amplifikasi (pembesaran) sebuah set potongan DNA yang urutannya belum diketahui. Prosedur ini dimulai dengan mencampur sebuah primer amplifikasi dengan sampel genomik DNA. Satu nanogram DNA sudah cukup untuk membuat plate reaksi (Putra, 2007). Primer amplifikasi tersebut kemudian digunakan untuk penjiplakan pada sampel DNA yang mempunyai urutan basa yang cocok. Hasil akhirnya berupa kopi urutan DNA lengkap hasil amplifikasi dari DNA sampel. Selanjutnya kopi urutan DNA akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk melihat pola pitanya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu juga berbeda. Pola pita inilah yang dimaksud DNA fingerprint (Putra, 2007). Gel dengan DNA yang sudah terfraksinasi berdasarkan ukurannya diterapkan pada lembaran kertas nitrosellulosa sehingga DNA tersebut dapat melekat secara tetap pada lembaran tersebut. Lembaran ini disebut Southern blot. Untuk menganalisis suatu southern blot digunakan suatu probe genetik radioaktif yang akan melakukan reaksi hibridisasi dengan DNA yang dipertanyakan. Jika suatu sinar-X dikenakan pada southern blot, setelah probe-radioaktif dibiarkan berikatan dengan DNA yang telah terdenaturasi pada kertas, hanya area di mana probe radioaktif berikatan yang terlihat pada film. Keadaan ini yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi DNA seseorang dari kejadian dan frekwensi pemunculan pola genetik khusus yang terkandung pada probe (Subandi, 2001). Finishing dari metode ini adalah mencocokkan tipe-tipe DNA fingerprint dengan pemilik sampel jaringan (tersangka pelaku kejahatan). Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau korban yang ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka

menunjukkan bahwa tersangkalah yang menjadi donor sperma tadi. Adanya kemungkinan percampuran antara sperma pelaku dan cairan vagina tidak menjadi masalah, karena pada proses kedua jenis DNA ini dapat dipisahkan satu sama lain. Satu-satunya kesalahan yang mungkin terjadi adalah kalau pelakunya ternyata adalah saudara kembar identik dari si tersangka, karena keduanya memiliki pita DNA yang sama persis (Atmadja, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, tt. Metode Analisis DNA Finger printing Metode RFLP (Restriction Fragment length Polymorphism), (cited 2010 Nov, 25). Available from: http://www.scribd.com/mobile/documents/40166464?query=metode+analisis+dna+finger+printi ng+metode+rflp+%28restriction+fragment+length+polymorphism%29 Atmadja, D.A. 2009. Pemeriksaan Forensik pada Kasus Perkosaan dan Delik Aduan, (cited 2010 Nov, 29). Available from : http://reproduksiumj..com/2009/12/pemeriksaan-forensik-pada-kasus.html BNN. 2008. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Narkotika, Psikotropik, dan Obat Berbahaya. Jakarta : BNN. Kuntawiaji. tt. Aspek Medikolegal Pertolongan Kecelakaan, (cited 2010 Nov, 29). Available at : http://kuntawiaji.tumblr.com/post/274685901/aspek-medikolegal-pertolongankecelakaan Moffat, C. A., D. Osselton, and B. Widdop. 2005. Clarkes Analysis of Drugs and Poisons in Pharmaceutical, Body Fluids, and Post-Mortem Material. 3rd Edition. London: The Pharmaceutical Pres Peat, M.A. 1988. Analyticaland Technical Aspects of Testing for Drug Abuse: Confirmatory Procedures. J. Clin. Chem. Chic : 34/3, 471-473. Putra, 2007. DNA fingerprint, Metode Analisis Kejahatan pada Forensik, (cited 2010 Nov, 25) Availale from : http://www.biotek.lipi.go.id/index.php?view=article&catid=8&id=315%3ADNA+fingerprint%2 C+Metode+Analisis+Kejahatan+pada+Forensik&format=pdf Subandi, 2001. Sidik Jari DNA Forensik : Teknologi, Penerapan, dan Implikasinya, (cited 2010 Nov, 29)

Available from : http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/02201/nursamran.htm Sukasediati, N. dan Matta Sinta Sari W. 1987. EMIT: Salah Satu Cara Penetapan Obat dalam Serum untuk Pemantauan Kadar Terapi. Jakarta: Departemen Kesehatan Indonesia Suwarso. 2002. Manajemen Laboratoris Penyalahgunaan Obat dan Komplikasinya. Yogyakarta: Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Wirasuta. 2008. Aspek-aspek Teknis Pemeriksaan Skrining dan Konfirmasi dalam Peningkatan Mutu Program PME. Disampaikan pada: Rapat Konsultasi Pemantapan Mutu Eksternal Laboratorium Kesehatan Denpasar, 31 Juli 2 Agustus 2008.

GC - MS
Analisa ini menggunakan penggabungan 2 alat yaitu Gas Chromatography (GC) fungsi menganalisa struktur molekul senyawa dan memisahkan fraksi-fraksi kimia dalam senyawa. Mass Spectrometry (MS) fungsi utk menganalisa jumlah senyawa scr kuantitatif (mencari kandungan kimia dlm senyawa serta massa partikel dan konsentrasinya). Gas Chromatography adalah teknik pemisahan berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi komponen penyusun senyawa. Mass Spectrometry adalah teknik mencari perbandingan massa terhadap muatan dari ion dimana muatannya dapat diketahui dengan mengukur jari-jari orbit, sehingga didapatkan berat molekul. "This analysis using fusion of 2 instruments such as GC that function to analize molecular structure of compound and separation chemical fraction in compound. MS that function to analize quantitative number compound (looking for chemical content in compound and particle mass also concentration). GC is separation technique based on differences migration velocity of constituent component compound MS is technique looking for mass ratio of the ion charge which that charge can be known with measuring radius of the orbit so that we get molecular weight." Komponen-komponen penyusun GC-MS adalah

Carrier Gas Supply (gas pembawa), gas yang dipakai dapat berupa He, N2, H2, Ar. Gas yg dipakai disyaratkan inert agar tidak bereaksi dengan sampel Injection System, sampel yg akan dianalisis di injeksikan dg jarum kecil melalui diafragma silicon / sekat / septum Kolom, tempat pemisahan komponen dari sampel dan terdapat fase diam dan fase gerak. Terdapat 2 jenis yaitu packed column dan capilllary column

Detector, fungsi mendeteksi komponen yg keluar kolom dan merespon perubahan komposisi dari sampel Recorder, fungsi merekam hasil dan mencetaknya pada sebuah grafik Sumber Ion, komponen yg melewati ini akan diserang elektron karena utk melewati filter komponen harus bermuatan Filter, fungsi menyaring ion-ion berdasarkan perbedaan massa dan meneruskan ke detektor Oven, fungsi memanaskan kolom pada suhu tertentu shg mempermudah proses pemisahan Control System, fungsi mengontrol tekanan dan laju fase gerak yg masuk ke kolom dan mengontrol suhu oven

"Components of GC-MS are :


Carrier Gas Supply, gas that used are He, N2, H2, Ar. Gas is used required inert that no reaction with sample Injection System, will be analyzed in the sample injected with small tube pass silicon diaphragm / seal Column, place separation of the sample and there are stationary phase and mobile phase. There are 2 kinds are packed column and capillary column Detector, function to detect of components out from column and response composition change of the sample Recorder, function to record result and print to graph Ion Source, component pass will attacked electron because to pass component filter must have charge Filter, to filter ions based on mass differences and continue to the detector Oven, to heating column at specific temperature so that ease separation process Control System, function to control pressure and mobile phase to the column and control the oven temperature."

Cara kerja GC - MS adalah


Komponen yang telah dilarutkan dengan pelarut kemudian dinjekkan di injection system dan dibawa oleh carrier gas supply melewati kolom yg telah dipanaskan dulu di oven Komponen tersebut dibaca di detector dan direkam dalam recorder, disini akan didapatkan pembacaan berupa peak area yg menunjukkan % area dari komponen yang di analisa. % Area didapatkan dari pembacaan grafik, grafik berupa peak pada rentang waktu tertentu menunjukkan kecepatan migrasi komponen dan setiap komponen punya rentang waktu tertentu. Waktu utk mencapai peak kemudian di cocokkan dengan literatur yg tersimpan dalam perangkat GC - MS dan pembacaanya adalah waktu utk mencapai peak masuk dalam rentang yang terdapat dalam literatur dan pembacaan tidak akurat tapi hanya sekadar menduga. Pembacaan % komposisi yg lebih akurat adalah GC karena menggunakan standar dari komponen yg telah diketahui komposisinya sehingga sampel yang dianalisa dicocokkan dengan standar dan akan diketahui kuantitasnya.

"The working of GC - MS are

Components is dissolved with solvent then injected at injection system and carried by carrier gas supply through column which preheated in the oven Components is read in the detector and recorded in the recorder, here will be obtained peak area reading that perform % area component in the analysis. % Area is obtained from reading of graphic, graphic form at specific interval that indicate migration velocity of components and each components have specific interval time. Time to reach peak then matched with saving literature in GC - MS instrument and reading of time to reach peak at interval in the literature and reading GC - MS inaccurate but only guess. Accurate reading % composition is GC due to using component standard that known composition so that sample in the analysis can be matched with standard and will be known quantity."

GC - MS

Grafik GC - MS

Kromatografi gas menggunakan kolom kapiler yang tergantung pada dimensi kolom itu (panjang, diameter, ketebalan film) serta sifat fase (misalnya 5% fenil polisiloksan). Perbedaan sifat kimia antara molekul-molekul yang berbeda dalam suatu campuran dipisahkan dari molekul dengan melewatkan sampel sepanjang kolom. Molekul-molekul memerlukan jumlah waktu yang berbeda (disebut waktu retensi) untuk keluar dari kromatografi gas, dan ini memungkinkan spektrometer massa untuk menangkap, ionisasi, mempercepat, membelokkan, dan mendeteksi

molekul terionisasi secara terpisah. Spektrometer massa melakukan hal ini dengan memecah masing-masing molekul menjadi terionisasi mendeteksi fragmen menggunakan massa untuk mengisi rasio.

Kedua komponen, yang digunakan bersama-sama, memungkinkan tingkat lebih baik dari identifikasi substansi dari pada unit yang digunakan secara terpisah. Tidaklah mungkin untuk membuat identifikasi akurat dari molekul tertentu dengan kromatografi gas atau spektrometri massa sendirian. Proses spektrometri massa murni biasanya membutuhkan sampel yang sangat murni sementara kromatografi gas menggunakan detektor tradisional (misalnya Flame Ionisasi Detektor) mendeteksi beberapa molekul yang terjadi untuk mengambil jumlah waktu yang sama untuk melakukan perjalanan melalui kolom (yaitu memiliki waktu retensi yang sama) yang hasil dalam dua atau lebih molekul untuk bersama-elute. Kadang-kadang dua molekul yang berbeda juga dapat memiliki pola yang sama fragmen terionisasi dalam spektrometer massa (spektrum massa). Menggabungkan dua proses membuatnya sangat tidak mungkin bahwa dua molekul yang berbeda akan berperilaku dengan cara yang sama di kedua kromatografi gas dan spektrometer massa. Oleh karena itu ketika mengidentifikasi spektrum massa muncul pada waktu retensi karakteristik dalam analisis GC-MS, biasanya meminjamkan untuk meningkatkan kepastian bahwa kepentingan adalah analit dalam sampel.

Sumber:

http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2152083-gc-ms-kromatografi-gas-

spektrometer/#ixzz2d18DAIe5

Keracunan dipengaruhi oleh dosis, cara pemberian, bentuk fisik dan susunan kimianya, dan kepekaan korban, bergantung usia, penyakit, kebiasaan, keadaan hiperaktif dll. Masuknya racun ke dalam tubuh dapat terjadi karena disengaja atau tidak disengaja.

PROSEDUR MEDIKOLEGAL

Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu pada sumpah dokter dan etika kedokteran.

Kewajiban dokter Dalam membantu peradilan (Menurut Hukum di Indonesia) HUKUM INDONESIA

Pasal 120 KUHAP.

1. Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. 2. Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.

Pasal 133 KUHAP

1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 134 KUHAP

1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. 2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. 3. Apabila dalam kurun waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 135 KUHAP Dalam hal penyidik untuk keterangan peradilan perlu melakukan penggalian mayat, dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat 2 dan pasal 134 ayat 1 undang-undang ini. Wewenang penyidik meminta keterangan ahli diperkuat dengan kewajiban dokter untuk memberikannya bila diminta, seperti yang ada pada :

Pasal 179 KUHAP

1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya menurut

pengetahuan dalam bidang keahliannya. Bentuk Bantuan Dokter bagi Peradilan dan Manfaatnya

Pasal 183 KUHAP


o

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa

suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Pasal 184 KUHAP

1. Alat bukti yang sah ialah :


o o o o o

Keterangan saksi Keterangan ahli; Surat; Petunjuk; Keterangan terdakwa.

2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Pasal 185 KUHAP

1. Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan 2. Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya. 4. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada .hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu. 5. Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan keterangan saksi.

Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguhsungguh memperhatikan a. Persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain b. Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain

c. Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang tertentu d. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya. Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain tidak merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.

Pasal 186 KUHAP Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Sanksi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter

Pasal 216 KUHP

1. Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana, demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancan dnegan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2. Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. 3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemindanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga.

Pasal 222 KUHP

Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 224 KUHP


o

Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undangundang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam. 1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;

2. dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan. Pasal 522 KUHP
o

Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

ASPEK HUKUM Penyelidikan dan Penyidikan

Pasal 4 KUHAP
o

Penyelidik adalah setiap pejabat polisi Negara Republik Indonesia.

Pasal 5 KUHAP
o

Penyelidik sebagaimana dimaksud pasal 4:

a.) Karena kewajibannya mempunyai wewenang:

Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;

Mencari keterangan dan barang bukti; Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;

Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

b) Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat,

penggeledahan dan penyitaan;

2. Pemeriksaan dan penyitaan surat; 3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; 4. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik. Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik.

Pasal 6 KUHAP

1. Penyidik adalah :
o o

a. pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia; b. pejabat pegawai negeri sipil yang diberi wewenang khusus oleh UndangUndang

2. Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah.

Pasal 7 KUHAP

1. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang: Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang terjadinya tindak pidana; Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa surat atau tanda pengenal diri tersangka; Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan; Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

Mengadakan penghentian Penyidikan; Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan Undang-Undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam pasal 6 ayat (1) huruf a. 3. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.

Pasal 2 PP no. 27 / 1983 Penyidik adalah:


o

a)Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat Pembantu Letnan Dua Polisi;

b) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang sekurangkurangnya berpangkat Pengatur Muda Tingkat I (Golongan II/b) atau yang disamakan dengan itu. Dalam hal di suatu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1) huruf a, maka Komandan Sektor Kepolisian yang berpangkat bintara di bawah Pembantu Letnan Dua Polisi, karena jabatannya adalah penyidik. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a ditunjuk oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Wewenang penunjukan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dapat dilimpahkan kepada pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b diangkat oleh Menteri atas usul diri. Departemen yang membawahkan pegawai negeri tersebut, Menteri sebelum melaksanakan pengangkatan terlebih dulu mendengarkan pertimbangan Jaksa Agung dan

Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Wewenang pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dapat dilimpahkan kepada pejabat yang di ditunjuk oleh Menteri.

Pasal 3 PP no. 27 / 1983 Penyidik pembantu adalah:


o

Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat Sersan Dua Polisi

Pegawai Negeri Sipil Tertentu dalam lingkungan Kepolisian Negeri Republik Indonesia yang sekurang-kurangnya berpangkat Pengatur Muda (Golongan II/a) atau yang disamakan dengan itu.

Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf b diangkat oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia atas usul komandan atau pimpinan kesatuan masingmasing. Wewenang pengangkatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilimpahkan kepada pejabat Kepolisian Negari Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 79 UU Kesehatan

1. Selain penyidik pejahat polisi negara Republik Indonesia juga kepada pejabat pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. 2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
o o

melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan

o o o o o

meminta keterangan dan bahan bukti dan orang atau badan usaha melakukan pemeriksaan atas surat dan atau dokumen lain melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan tentang adanya tindak pidana di bidang kesehatan.

Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Penangkapan dan Penahanan

Pasal 17 KUHAP
o

Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup.

Pasal 19 KUHAP
o

1) Penangkapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17, dapat dilakukan untuk paling lama satu hari.

2) Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak diadakan penangkapan kecuali dalam hal ia telah dipanggil.

Barang bukti dan penyitaan

Pasal 39 KUHAP
o

Yang dapat dikenakan penyitaan adalah:

Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindak pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana.

Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana untuk mempersiapkannya.

Benda yang dipergunakan untuk menghalangi penyidikan tindak pidana.

Benda khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan.

Pasal 338 KUHP


o

Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 339 KUHP


o

Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.

Pasal 340 KUHP


o

Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun

Konsep Polaris Dalam Kromatografi

PENDAHULUAN

Di dalam kromatografi, berlaku suatu prinsip umum : LIKE DISSOLVE LIKE, artinya polar menyukai yang polar dan tak polar menyukai yang tak polar. Dalam hal ini, fasa diam yang polar akan mengikat lebih kuat komponen yang relatif polar, sedangkan fasa diam yang tak polar akan mengikat lebih kuat komponen-komponen yang juga tak polar. Hal yang sama berlaku bagi fasa gerak; fasa gerak yang polar akan melarutkan lebih baik komponen yang juga polar, sebaliknya fasa gerak yang tak polar akan melarutkan relatif lebih baik komponen yang juga tak polar. Hubungan polaritas antara fasa diam, fasa gerak dan molekul inilah yang memegang peranan penting pada kromatografi.

PENGERTIAN POLAR DAN TAK POLAR Molekul terbentuk dari beberapa atom. Atom terdiri atas suatu inti bermuatan positif yang sangat kecil dan rapat, yang terletak jauh di dalam atom, dan dikelilingi oleh semacam awan elektron. Elektron sendiri bermuatan negatif. Atom dapat bergabung dengan atom lain, membentuk suatu molekul melalui suatu ikatan yang disebut ikatan kimia. Pada penggabungan atom, tidak terjadi perubahan pada susunan inti atom. Perubahan terjadi hanya pada susunan awan elektron. Sebaliknya molekul yang terbentuk dari jenis atom yang berbeda umumnya bersifat polar. Oleh karena itu dengan mudah dapat dipahami bahwa hidrogen (H2) dan klorida (Cl2) bersifat tak polar, sedangkan hidrogenklorida (HCl) bersifat polar. Dengan demikian antara dua unsur sejenis hanya mungkin terbentuk ikatan kovalen, karena daya tarik elektron dari kedua unsur pembentuk ikatan adalah sama sehinggga elektron ikatan tersebar rata diantara kedua atom. Keadaan sebaliknya terjadi bila daya tarik antara kedua unsur tak seimbang. Dalam hal ini elektron dapat berpindah dari unsur yang satu ke unsur yang lain, sehingga ikatan yang terjadi adalah ikatan ion. Keadaan yang umumnya ditemukan terletak diantara kedua kemungkinan yang ekstrim tersebut. Pembentukan ikatan umumnya terjadi antara dua unsur yang tak sama tetapi perbedaan daya tarik terhadap elektron dari kedua untur tersebut tidak terlalu besar. Dalam keadaan ini ikatan yang terjadi masih ikatan kovalen tetapi titik berat muatan negatif agak bergeser kearah atom yang mempunyai daya tarik terhadap elektron relatif besar. Dalam hal ini atom menjadi bersifat relatif lebih negatif (titik berat muatan negatif bergeser kearah atom tersebut) dan sebagai akibatnya, sepanjang ikatan terdapat dua kutub muatan yang berlawanan tanda dan terpisah satu sama lain dengan jarak tertentu. Ikatan semacam ini disebut ikatan polar. Berbeda dengan ikatan polar, pada ikatan kovalen murni, titik berat muatan positif dan negatif saling impit. Dengan demikian suatu molekul dikatakan tak polar apabila titik berat muatan (+) dan (-) berada bersama-sama pada pusat molekut tersebut. Sebaliknya suatu molekul dikatakan polar, jika molekul tersebut merupakan dwi kutub (dipole), dimana titik berat muatan positif (+) dan negatif (-) tidak saling berimpit (Gambar 1). Molekul polar terbentuk apabila elektronegativitas dari atom-atom yang menyusun molekul cukup berbeda satu sama lain.

Gambar 1. Molekul Polar dan Tak Polar ELEKTRONEGATIVITAS Seperti telah diketahui, kepolaran suatu ikatan antara dua atom ditentukan oleh perbedaan daya tarik elektron dari kedua atom tersebut. Bila daya tariknya sama, maka akan terbentuk ikatan kovalen, sedangkan bila berbeda, akan terbuntuk ikatan polar dimana kepolarannya akan sebanding dengan perbedaan tersebut. Untuk dapat menyatakan apakah suatu ikatan bersifat kovalen atau polar diperlukan pengetahuan tentang daya tarik elektron dari suatu atom. Suatu besaran yang dapat digunakan untuk mengukur daya tarik elektron adalah afinitas elektron. Kesulitan dari penggunaan afinitas elektron adalah bahwa besaran ini menggambarkan daya tarik elektron dari atom yang bebas, sedangkan yang diperlukan adalah daya tariknya dalam suatu ikatan. Karena itu dikembangkan konsep elektronegativitas dari suatu unsur, yang secara langsung menggambarkan daya tarik elektron dalam ikatan. Elektronegativitas menunjukkan besarnya kecenderungan (tendensi) suatu ataom untuk menarik elektron (yang digunakan bersama), dari atom tetangganya. Terdapat berbagai cara untuk mengembangkan konsep elektronegativitas, salah satu diantaranya adalah skala elektronegativitas yang dikembangkan oleh Pauling. Oleh Pauling unsur F dinyatakan sebagai unsur yang paling elektronegatif dengan skala elektronegativitas sama dengan 4. Besar elektronegativitas beberapa unsur menurut skala Pauling dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Elektronegativitas Unsur-unsur Dari Tabel 1. Dapat terlihat bahwa perbedaan elektronegativitas antara H dan C misalnya tidak terlalu besar (rx = 0,4), sedangkan unsur-unsur yang mempunyai elektronegativitas tinggi antara lain F, O, N dan Cl. Apabila unsur-unsur ini bergabung dengan unsur C membentuk suatu gugus, maka gugus tersebut akan menyumbangkan sifat polar pada molekul. Dengan demikian mudah dipahami bahwa contoh molekul-molekul di bawah ini :

Polaris dalam fenilklorida terbentuk karena adanya gabungan antara atom karbon dengan atom Cl yang mempunyai elektronegativitas tinggi (3,0). Pada propanol sifat polar dari molekul timbul karena adanya gabungan antara atom C dan O yang juga mempunyai skala elektronegativitas relatif tinggi (3,5).

Unsur N termasuk unsur yang mempunyai elektronegativitas relatif tinggi (3,0), oleh karena itu gugus C=N menyumbangkan sifat polar pada molekul benzonitril.

IKATAN POLAR PADA MOLEKUL BERATOM BANYAK Dari contoh di atas dapat terlihat bahwa ikatan polar bukan hanya terjadi di dalam suatu molekul beratom dua. Di dalam suatu molekul beratom banyak yang terdiri atas beberapa atom berlainan, akan terdapat kumpulan ikatan-ikatan polar yang saling berhubungan satu sama lain. Tergantung dari arah masing-masing kutub, molekul secara keseluruhan dapat bersifat polar atau tak polar. Apabila arah pergeseran setiap ikatan dalam molekul adalah sedemikian rupa sehingga saling meniadakan (sebagai akibat dari simetri molekul misalnya), maka molekul secara keseluruhan bersifat tak polar. Salah satu contoh adalah molekul CO2 yang berbentuk lurus : O=C=O Masing-masing ikatan C=O merupakan ikatan polar dengan muatan negatif mengarah keatom oksigen. Tetapi dalam molekul CO2, karena ketiga atom terletak pada satu garis, dengan atom C diantara kedua atom O, maka arah pergeseran muatan dari kadua ikatan dalam molekul CO2 akan saling meniadakan. Dari itu molekul CO2 bukan molekul polar. Keadaan sebaliknya terjadi apabila arah kepolaran dari ikatan-ikatan dalam suatu molekul tidak saling meniadakan. Suatu contoh sederhana adalah molekul H2O :

Masing-masing ikatan O H merupakan ikatan polar dengan muatan negatif mengarah ke atom oksigen. Tetapi arah kepolaran kedua ikatan di sini tidak saling meniadakan. Sebagai akibatnya pada molekul H2O, titik berat muatan negatif bergeser kearah oksigen dan titik berat muatan positif bergeser kearah atom hidrogen. Dengan demikian molekul H2O bersifat polar. Analisa yang serupa berlaku bagi molekul CCl3 dan CCl4.

Mengapa ????

Pada kloroform dan karbontetraklorida terdapat gugus C Cl, dimana umsur Cl yang mempunyai elektronegativitas relatif tinggi akan berusaha menarik elektron dari atom tetangganya. Gugus tersebut dapat digambarkan sebagai :

Tanda panah menunjukkan arah dari daya tarik antara kedua atom yang menyebabkan terjadinya polarisasi muatan. Apabila kedua atom ini bergabung dengan atom-atom lain yang serupa membentuk suatu molekul yang simetris, maka daya tarik yang terjadi akan saling meniadakan dan molekul keseluruhan akan bersifat tak polar.

Pada kloroform, arah dari pergerakan elektron dapat digambarkan sebagai berikut :

Apabila ataom-atom Cl diberi nomor (1), (2) dan (3) seperti tampak pada gambar, maka penjumlahan vektor dari daya tarik atom Cl (1) dan (2) akan saling meniadakan, meninggalkan hanya daya tarik atom Cl (3) yang menyumbangkan sifat polar pada molekul. Lain halnya dengan molekul karbontetraklorida.

Karena molekul CCl4 simetris, maka kecenderungan atom Cl (1) menarik elektron ke kiri diimbangi oleh kecenderungan atom Cl (2) untuk menarik elektron ke kanan. Demikian pula halnya, kecenderungan atom Cl (3) menarik elektron ke bawah diimbangi oleh kecenderungan atom Cl (4) untuk menarik elektron ke atas. Dengan demikian keseluruhan molekul sifatnya tak polar.

GUGUS FUNGSIONAL Para ahli dalam meneliti sifat-sifat senyawa karbon menemukan keteraturan-keteraturan. Terbukti dari eksperimen, bahwa dalam tiap reaksi hanya bagian tertentu saja dari molekul senyawa karbon yang mengalami perubahan dan juga beberapa senyawa memberikan reaksi yang sama terhadap satu macam pereaksi. Sebagai contoh dapat diambil molekul etanol (CH3CH2OH). Bila etanol bereaksi , bagian yang aktif ialah gugus OH (gugus hidroksil), sedangkan bagian yang lainnya, yaitu gugus etil, kerapkali tinggal tetap saja. Jadi molekul etanol terdiri atas gugus etil (CH3 CH2 -) yang tidak berubah selama reaksi dan gugus OH yang dapat berubah. Bagian yang mengalami perubahan ini disebut gugus fungsionil dan dapat terdiri atas satu atom atau beberapa macam atom. Gugus fungsionil dalam molekul inilah yang terutama menentukan sifat kimia senyawa itu. Adakalanya suatu senyawa mempunyai lebih dari satu gugus fungsionil. Sifat senyawa dalam hal ini akan merupakan gabungan dari sifat berbagai gugus fungsionil yang dimilikinya. Gugus fungsionil juga memegang peranan penting dalam menentukan polaritas suatu senyawa/molekul. Contoh beberapa gugus fungsional (bagian yang dilingkari) dalam suatu molekul :

Polaritas beberapa gugus fungsionil dapat disusun sebagai berikut :

MENGENAL POLARITAS FASA DIAM PELARUT DALAM KROMATOGRAFI Fasa diam pada kromatografi gas ada yang bersifat polar, semipolar dan tak polar yang dapat dikenali berdasarkan prinsip dasar diatas. Berdasarkan gugus fungsionil yang dimiliki oleh setiap jenis fasa diam tersebut, dapat disusun urutan polaritas dari beberapa jenis fasa diam yang umum digunakan pada kromatografi gas (Tabel 2). Disamping keenam jenis fasa diam tersebut, masih terdapat banyak lagi jenis fasa diam lainnya.

Tabel 2. Urutan Polaritas beberapa Fasa Diam pada Kromatografi Gas. Fasa diam yang paling banyak digunakan pada TLC dan HPLC adalah silika dan alumina. Berbagai pemisahan pada selulosa dan poliamida juga telah banyak dipublikasikan, hanya saja pemakaiannya tidak seluas silika dan alumina. Karena tidak semua pemisahan dapat dilakukan pada silika maka dikembangkan fasa terikat (bonded phase) seperti RP 2, RP 8, RP 18, diol, amina dan siano. Susunan fasa diam yang umum digunakan pada TLC dan HPLC, dimulai dari yang paling polar (C18) diberikan pada tabel 3 di bawah ini :

Tabel 3. Ukuran Polaritas Fasa Diam pada TLC dan HPLC Bagaimana halnya dengan urutan polaritas fasa gerak?. Fasa gerak yang umum digunakan pada TLC dan HPLC terdiri dari campuran berbagai pelarut organik. Polaritas pelarut dapat disusun menurut ukuran kekuatan teradopsinya pelarut tersebut pada adsorben (yang banyak digunakan alumina) dan susunan yang terbentuk dikenal sebagai deret eluotropik pelarut. Suatu pelarut bersifat relatif polar, dapat mengusir pelarut yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina. Dalam deret eluotropik menurut Trappe, Wren dan Strain, pelarut-pelarut disusun menurut besarnya kekuatan pelarut (solvent strength) eo, berangkat dari yang tak polar menuju ke yang sifatnya polar (makin ke bawah makin polar).

Tabel 4. Deret Eluotropik Pelarut Deret eluotropik dapat dipakai untuk menentukan kekuatan pelarut yang optimal untuk suatu pemisahan tertentu. Misal pada suatu pemisahan HPLC menggunakan fasa diam silika, diperoleh nilai tr yang terlalu besar, dalam arti komponen ditahan terlalu kuatoleh kolom. Dengan menggunakan deret eluotropik, fasa gerak yang dipakai dapat dimodifikasi jenisnya atau diubah komposisinya menjadi eluen dengan kepolaran relatif lebih tinggi agar komponen dapat terelusi oleh fasa gerak relatif lebih cepat. Dapat juga digunakan campuran dari dua, tiga bahkan empat pelarut untuk mendapatkan kekuatan pelarut untuk mendapatkan kekuatan pelarut yang optimal.

Misalnya dibuat campuran isooktana (eo =0,42) dengan komposisi sedemikian rupa sehingga mempunyai kekuatan sama dengan CCl4 (eo =0,18). Bagaimana strategi emngubah komposisi pelarut dalam TLC dan HPLC, akan dibahas pada tulisan yang akan datang. (Julia Kantasubrata, Puslitbang Kimia Terapan LIPI).

DAFTAR PUSTAKA
1. Snyder, L.R., dan J.J. Kirkland, Introduction to Modern Liquid Chromatography, John Wiley & Sons Inc., 1979. 2. Dean, J.A., Chemical Separation Method, D. Van Nostrand Company, New York (1969). 3. Pattison, J.B., A Programmed Introduction to Gas Liquid Chromatography, 2nd ed., Heyden & Son, London (1973)

GC-MS

DEFINISI, INSTRUMENTASI, PRINSIP KERJA, DAN METODE ANALISIS GAS CROMATOGRAFY MASS SPECTROMETRY (GCMS)

DEFINISI, INSTRUMENTASI, PRINSIP KERJA, DAN METODE ANALISIS GAS CROMATOGRAFY MASS SPECTROMETRY (GCMS)

A. Defenisi Gas Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS) GCMS merupakan metode pemisahan senyawa organik yang menggunakan dua metode analisis senyawa yaitu kromatografi gas (GC) untuk menganalisis jumlah senyawa secara kuantitatif dan spektrometri massa (MS) untuk menganalisis struktur molekul senyawa analit. Gas kromatografi merupakan salah satu teknik spektroskopi yang menggunakan prinsip pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan migrasi komponen-komponen penyusunnya. Gas kromatografi biasa digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa yang terdapat pada campuran gas dan juga menentukan konsentrasi suatu senyawa dalam fase gas.

Spektroskopi massa adalah suatu metode untuk mendapatkan berat molekul dengan cara mencari perbandingan massa terhadap muatan dari ion yang muatannya diketahui dengan mengukur jari-jari orbit melingkarnya dalam medan magnetik seragam. Penggunaan kromatografi gas dapat dipadukan dengan spektroskopi massa. Paduan keduanya dapat menghasilkan data yang lebih akurat dalam pengidentifikasian senyawa yang dilengakapi dengan struktur molekulnya. Kromatografi gas ini juga mirip dengan distilasi fraksional, karena kedua proses memisahkan komponen dari campuran terutama berdasarkan pada perbedaan itik didih (atau tekanan uap). Namun, distilasi fraksional biasanya digunakan untuk memisahkan komponen-komponen dari campuran pada skala besar, sedangkan GC dapat digunakan padaskala yang lebih kecil (yaitu mikro)(Pavia:2006). B. Instrumentasi Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS) Rangkaian instrumentasi untuk gas kromatografi dan spekstroskopi massa bergabung menjadi satu kesatuan rangkaian yang sering disebut dengan GCMS. Secara umum rangkaian GCMS : Gambar 1. Diagram Alir Kromatografi Gas-Cair (Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Gas_chromatographydiakses tanggal 12 Des 2011) Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing instrument pada rangkaian GCMS. 1. Instrumentasi Gas Kromatografi a. Carrier Gas Supply Gas pembawa (carrier gas) pada kromatografi gas sangatlah penting. Gas yang dapat digunakan pada dasarnya haruslah inert, kering, dan bebas oksigen. Kondisi seperti ini dibutuhkan karena gas pembawa ini dapat saja bereaksi dan dapat mempengaruhi gas yang akan dipelajari atau diidentifikasi. b. Injeksi Sampel Sejumlah kecil sampel yang akan dianalisis diinjeksikan pada mesin menggunakan semprit kecil. Jarum semprit menembus lempengan karet tebal (Lempengan karet ini disebut septum) yang mana akan mengubah bentuknya kembali secara otomatis ketika semprit ditarik keluar dari lempengan karet tersebut. c. Kolom Ada dua tipe utama kolom dalam kromatografi gas-cair. Tipe pertama, tube panjang dan tipis berisi material padatan; Tipe kedua, lebih tipis dan memiliki fase diam yang berikatan dengan pada bagian

terdalam permukaannya. Ada tiga hal yang dapat berlangsung pada molekul tertentu dalam campuran yang diinjeksikan pada kolom:

Molekul dapat berkondensasi pada fase diam. Molekul dapat larut dalam cairan pada permukaan fase diam Molekul dapat tetap pada fase gas

2.Instrumentasi Spekstroskopi massa a. Sumber Ion Setelah melewati rangkaian gas kromatografi, sampel gas yang akan diuji dilanjutkan melalui rangkaian spekstroskopi massa. Molekul-molekul yang melewati sumber ion ini diserang oleh elektron, dan dipecah menjadi ionion positifnya. Tahap ini sangatlah penting karena untuk melewati filter, partikelpartikel sampel haruslah bermuatan. b. Filter Selama ion melui rangkaian spekstroskopi massa, ion-ion ini melalui rangkaian elektromagnetik yang menyaring ion berdasarkan perbedaan masa. Para ilmuwan memisahkan komponen-komponen massa untuk kemudian dipilih yang mana yang boleh melanjutkan yang mana yang tidak (prinsip penyaringan). Filter ini terus menyaring ion-ion yang berasal dari sumber ion untuk kemudian diteruskan ke detektor. c. Detektor Ada beberapa tipe detektor yang biasa digunakan. Detektor ionisasi nyala dijelaskan pada bagian bawah penjelasan ini, merupakan detektor yang umum dan lebih mudah untuk dijelaskan daripada detektor alternatif lainnya. Dalam mekanisme reaksi, pembakaran senyawa organik merupakan hal yang sangat kompleks. Selama proses, sejumlah ion-ion dan elektron-elektron dihasilkan dalam nyala. Kehadiran ion dan elektron dapat dideteksi. Seluruh detektor ditutup dalam oven yang lebih panas dibanding dengan temperatur kolom. Hal itu menghentikan kondensasi dalam detektor. Hasil detektor akan direkam sebagai urutan puncak-puncak; setiap puncak mewakili satu senyawa dalam campuran yang melalui detektor. Sepanjang anda mengontrol secara hati-hati kondisi dalam kolom, anda dapat menggunakan waktu retensi untuk membantu mengidentifikasi senyawa yang tampak-tentu

saja anda atau seseorang lain telah menganalisa senyawa murni dari berbagai senyawa pada kondisi yang sama. C. Prinsip Kerja Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS) 1. Kromatografi Gas (Gas Chromatography) Kromatografi gas (GC) merupakan jenis kromatografi yang digunakan dalam kimia organik untuk pemisahan dan analisis. GC dapat digunakan untuk menguji kemurnian dari bahan tertentu, atau memisahkan berbagai komponen dari campuran. Dalam beberapa situasi, GC dapat membantu dalam mengidentifikasi sebuah senyawa kompleks. Dalam kromatografi gas, fase yang bergerak (atau "mobile phase") adalah sebuah operator gas, yang biasanya gas murni seperti helium atau yang tidak reactive seperti gas nitrogen. Stationary atau fasa diam merupakan tahap mikroskopis lapisan cair atau polimer yang mendukung gas murni, di dalam bagian dari sistem pipa-pipa kaca atau logam yang disebut kolom. Instrumen yang digunakan untuk melakukan kromatografi gas disebut gas chromatograph (atau "aerograph", "gas pemisah"). 2. Spektroskopi Massa (Mass Spectrometry) Umumnya spektrum massa diperoleh dengan mengubah senyawa suatu sample menjadi ion-ion yang bergerak cepat yang dipisahkan berdasarkan perbandingan massa terhadap muatan. Spektroskopi massa mampu menghasilkan berkas ion dari suatu zat uji, memilah ion tersebut menjadi spektum yang sesuai dengan perbandingan massa terhadap muatan dan merekam kelimpahan relatif tiap jenis ion yang ada. Umumnya hanya ion positif yang dipelajari karena ion negative yang dihasilkan dari sumber tumbukan umumnya sedikit. 3. Kombinasi GCMS Saat GC dikombinasikan dengan MS, akan didapatkan sebuah metode analisis yang sangat bagus. Peneliti dapat menganalisis larutan organik, memasukkannya ke dalam instrumen, memisahkannya menjadi komponen tinggal dan langsung mengidentifikasi larutan tersebut. Selanjutnya, peneliti dapat menghitung analisa kuantitatif dari masing-masing komponen. Pada Gambar 4, sumbu z menyatakan kelimpahan senyawa, sumbu x menyatakan spektrum kromatografi, dan sumbu y menyatakan spektrum spektroskopi massa. Untuk menghitung masing-masing metode dapat divisualisasikan ke dalam grafik dua dimensi.

4. Metode Analisis Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS) Pada metode analisis GCMS (Gas Cromatografy Mass Spektroscopy) adalah dengan membaca spektra yang terdapat pada kedua metode yang digabung tersebut. Pada spektra GC jika terdapat bahwa dari sampel mengandung banyak senyawa, yaitu terlihat dari banyaknya puncak (peak) dalam spektra GC tersebut. Berdasarkan data waktu retensi yang sudah diketahui dari literatur, bisa diketahui senyawa apa saja yang ada dalam sampel. Selanjutnya adalah dengan memasukkan senyawa yang diduga tersebut ke dalam instrumen spektroskopi massa. Hal ini dapat dilakukan karena salah satu kegunaan dari kromatografi gas adalah untuk memisahkan senyawa-senyawa dari suatu sampel. Setelah itu, didapat hasil dari spektra spektroskopi massa pada grafik yang berbeda. Informasi yang diperoleh dari kedua teknik ini yang digabung dalam instrumen GC/MS adalah tak lain hasil dari masing-masing spektra. Untuk spektra GC, informasi terpenting yang didapat adalah waktu retensi untuk tiap-tiap senyawa dalam sampel. Sedangkan untuk spektra MS, bisa diperoleh informasi mengenai massa molekul relatif dari senyawa sampel tersbut. Tahap-tahap suatu rancangan penelitian GC/MS: 1. Sample preparation 2. Derivatisation 3. Injeksi Menginjeksikan campuran larutan ke kolom GC lewat heated injection port. GC/MS kurang cocok untuk analisa senyawa labil pada suhu tinggi karena akan terdekomposisi pada awal pemisahan. 4. GC separation Campuran dibawa gas pembawa (biasanya Helium) dengan laju alir tertentu melewati kolom GC yang dipanaskan dalam pemanas. Kolom GC memiliki cairan pelapis (fasa diam) yang inert. 5. MS detector

Aspek kualitatif : lebih dari 275.000 spektra massa dari senyawa yang tidak diketahui dapat teridentifikasi dengan referensi komputerisasi. Aspek kuantitatif : dengan membandingkan kurva standar dari senyawa yang diketahui dapat diketahui kuantitas dari senyawa yang tidak diketahui. 6. Scanning Spektra massa dicatat secara reguler dalam interval 0,5-1 detik selama pemisahan GC dan disimpan dalam sistem instrumen data untuk digunakan dalam analisis. Spektra massa berupa fingerprint ini dapat dibandingkan dengan acuan.

Daftar Pustaka Fowlis, Ian A.,1998. Gas Chromatography Analytical Chemistry by Open Learning. John Wiley & Sons Ltd: Chichester. Pavia, Donald L., Gary M. Lampman, George S. Kritz, Randall G. Engel (2006). Introduction to Organic Laboratory Techniques (4th Ed.). Thomson Brooks/Cole. pp. 797817. Skoog, Douglas A., Donald M. West, F. James Holler. 1991. Fundamental of Analytical Chemistry. Seventh Edition. New York: Saunders College Publishing. http://fuadrofiqi.blogspot.com/2012/02/definisi-instrumentasi-prinsip-kerja.html 15:53

GCMS

Kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) adalah metode yang mengkombinasikan kromatografi gas dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi senyawa yang berbeda dalam analisis sampel. Kromatografi gas dan spketometer masa memilki keunikan masing-masing dimana keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan menggambungkan kedua teknik tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemamapuan dalam menganalisis sampel dengan mengambil kelebihan masing-masing teknik dan meminimalisir kekurangannya. Kromatografi gas dan spketometer masa dalam banyak hal memiliki banyak kesamaan dalam tekniknya. Untuk kedua teknik tersebut, sampel yang dibutuhkan dalam bentuk fase uap, dan keduanya juga sama-sama membutuhkan jumlah sampel yang sedikit ( umumnya kurang dari 1 ng). Disisi lain, kedua teknik tersebut memiliki perbedaan yang cukup besar yakni pada kondisi operasinya. Senyawa yang terdapat pada kromatografi gas adalah senyawa yang digunakan untuk sebagai gas pembawa dalam alat GC dengan tekanan kurang lebih 760 torr, sedangkan spketometer massa beroperasi pada kondisi vakum dengan kondisi tekanan 10 -6 10-5 torr.

Prinsip kerja GC-MS adalah terdiri dari dua blok bangunan utama: kromatografi gas dan spektrometer massa . Kromatografi gas menggunakan kolom kapiler yang tergantung pada dimensi kolom itu (panjang, diameter, ketebalan film) serta sifat fase (misalnya 5% fenil polisiloksan). Perbedaan

sifat kimia antara molekul-molekul yang berbeda dalam suatu campuran dipisahkan dari molekul dengan melewatkan sampel sepanjang kolom. Molekul-molekul memerlukan jumlah waktu yang berbeda (disebut waktu retensi) untuk keluar dari kromatografi gas, dan ini memungkinkan spektrometer massa untuk menangkap, ionisasi, mempercepat, membelokkan, dan mendeteksi molekul terionisasi secara terpisah. Spektrometer massa melakukan hal ini dengan memecah masing-masing molekul menjadi terionisasi mendeteksi fragmen menggunakan massa untuk mengisi rasio.

Instrumen/alat : 1. Gas Chromatography (GC) Injection port Dalam pemisahan dengan GLC cuplikan harus dalam bentuk fase uap. Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk cairan dan padatan. Oleh karena itu, senyawa yang berbentuk cairan dan padatan pertama-tama harus diuapkan. Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk dalam kolom. Panas itu terdapat pada tempat injeksi. Namun demikian suhu tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab kemungkinan akan terjadi perubahan karena panas atau penguraian dari senyawa yang akan dianalisa. Kita juga tidak boleh menginjeksikan cuplikan terlalu banyak, karena GC sangat sensitif. Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada waktu kita mengadakan analisa 0,5 -50 ml gas dan 0,2 - 20 ml untuk cairan seperti pada gambar di bawah. Oven Oven digunakan untuk memanaskan column pada temperature tertentu sehingga mempermudah proses pemisahan komponen sample. Biasanya oven memiliki jangkauan suhu 30oC 320oC. Column Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Ada beberapa bentuk kolom, diantaranya lurus, bengkok, misal berbentuk V atau W, dan kumparan/spiral. Kolom selalu merupakan bentuk tabung. Berisi fasa diam, sedangkan fasa bergerak akan lewat didalamnya sambil membawa sample. Secara umum terdapat 2 jenis kolom, yaitu:

1) Packed column, umumnya terbuat dari glass atau stainless steel coil dengan panjang 1 5 m dan diameter kira-kira 5 mm. 2) Capillary column, umumnya terbuat dari purified silicate glass dengan panjang 10-100 m dan diameter kira-kira 250 mm. Beberapa jenis stationary phase yang sering digunakan: Polysiloxanes untuk nonpolar analytes/sample. Polyethylene glycol untuk polar analytes/sample. Inorganic atau polymer packing untuk sample bersifat small gaseous species.

2. Mass Spectrometer (MS) sebagai detektor Sumber ion Setelah analit melalui kolom kapiler, ia akan diionisasi. Ionisasi pada spektroskopi massa yang terintegrasi dengan GC ada dua, yakni Electron Impact ionization (EI) atau Chemical Ionization (CI), yang lebih jauh lagi terbagi menjadi negatif (NCI) dan positif (PCI). Berikutnya akan dijelaskan ionisasi EI. Ketika analit keluar dari kolom kapiler, ia akan diionisasi oleh elektron dari filamen tungsten yang diberi tegangan listrik. Ionisasi terjadi bukan karena tumbukan elektron dan molekul, tapi karena interaksi medan elektron dan molekul, ketika berdekatan. Hal tersebut menyebabkan satu elektron lepas, sehingga terbetuk ion molekular M+, yang memiliki massa sama dengan molekul netral, tetapi bermuatan lebih positif. Adapun perbandingan massa fragmen tersebut dengan muatannya disebut mass to charge ratio yang disimbolkan M/Z. Ion yang terbentuk akan didorong ke quadrupoles atau mass filter. Quadrupoles berupa empat elektromagnet.

Filter Pada quadrupoles, ion-ion dikelompokkan menurut M/Z dengan kombinasi frekuensi radio yang bergantian dan tegangan DC. Hanya ion dengan M/Z tertentu yang dilewatkan oleh quadrupoles menuju ke detektor.

Detector Detektor terdiri atas High Energy Dynodes (HED) dan Electron Multiplier (EM) detector. Ion positif menuju HED, menyebabkan elektron terlepas. Elektron kemudian menuju kutub yang

lebih positif, yakni ujung tanduk EM. Ketika elektron menyinggung sisi EM, maka akan lebih banyak lagi elektron yang terlepas, menyebabkan sebuah arus/aliran. Kemudian sinyal arus dibuat oleh detektor proporsional terhadap jumlah ion yang menuju detektor.

3. Komputer Data dari spekrometri masa dikirim ke computer dan diplot dalam sebuah grafik yang disebut spectrum masa.

Limitasi/Batasan Secara umum, penggunaan metode GC-MS hanya terbatas untuk senyawa dengan tekanan uap berkisar10-10 torr. Kebanyakan senyawa dengan tekanan lebih rendah hanya dapat dianalisis jika senyawa tersebut merupakan senyawa turunan (contoh , trimetilsili eter). Penentuan penentuan gugus fungsional pada cincin aromatic masih sulit. Untuk senyawa isomer tidak dapat dibedakan oleh spketometer (sebagai contoh : naftalena vs azulena), tapi dapat dipisahkan dengan kromatograpi. Sensivitas dan Batas Deteksi Bergantung pada faktor pelarutan dan metode ionisasi, sebuah ekstrak dengan 0,1 100 ng dari setiap komponen mungkin dibutuhkan agar sesuai jumlah yang diinjeksikan. Perbandingan dengan Teknik lainnya IR spketometer dapat menyediakan informasi posisi aromatic isomer dimana GC-MS tidak bisa; namun IR biasanya lebih rendah sensitivitasnya sebesar 2 4. NMR (nuclear magnetic resonance) spektrometri dapat memberikan informasi rinci pada konformasi molekuler ekstrak; namun biasanya NMR lebih rendah sensivitasnya sebesar 2-4. Sampel Keadaan sampel harus dalam keadaan larutan untuk diijeksikan ke dalam kromatografi. Pelarut harus bersifat volatile dan organic (sebagai contoh heksana atau dikllorometana). Jumlah sampel bergantung pada metode ionisasi yang dilakukan, biasanya yang sering digunakan untuk analisis sensivitas adalah sebesar 1 100 pg per komponen. Informasi analitikal

GC-MS digunakan untuk identifikasi kualitatif dan pengukuran kuantitatif dari komponen individual dalam senyawa campuran kompleks. Terdapat perbedaan strategi analisis data untuk aplikasi keduanya. Keunggulan dari metode ini adalah sebagai berikut : 1. Efisien, resolusi tinggi sehingga dapat digunakan untuk menganalisa partikel berukuran sangat kecil seperti polutan dalam udara 2. Aliran fasa bergerak (gas) sangat terkontrol dan kecepatannya tetap. 3. Pemisahan fisik terjadi didalam kolom yang jenisnya banyak sekali, panjang dan temperaturnya dapat diatur. 4. Banyak sekali macam detektor yang dapat dipakai pada kromatografi gas (saat ini dikenal 13 macam detektor) dan respons detektor adalah proporsional dengan jumlah tiap komponen yang keluar dari kolom. 5. Sangat mudah terjadi pencampuran uap sampel kedalam fasa bergerak. 6. Kromatograf sangat mudah digabung dengan instrumen fisika-kimia yang lainnya, contohnya GC/FT-IR/MS. 7. Analisis cepat, biasanya hanya dalam hitungan menit. 8. Tidak merusak sampel. 9. Sensitivitas tinggi sehingga dapat memisahkan berbagai senyawa yang saling bercampur dan mampu menganalisa berbagai senyawa meskipun dalam kadar/konsentrasi rendah. Seperti dalam udara, terdapat berbagai macam senyawa yang saling bercampur dan dengan ukuran partikel/molekul yang sangat kecil. Kekurangan dari metode ini adalah sebagai berikut : 1. Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap 2. Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode lain. 3. Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.

DAFTAR PUSTAKA Hites. Ronald. Gas Chromatography Mass Spectrometry. School of Public and Enviromental Affairs and Departement of Chemstry. Indiana Universitas Khopkar, S.H. 1985. Konsep Dasar Kimia Analitik. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press) : Indonesia Skoog, Douglas A., West, Donald M., dan Holler, F.James. 1996. Analytical Chemistry. Saunders College Publishing : Amerika. Shalahuddin, Iqbal. 2012. Mengenal Kromatografi (diakses Gas. 27

http://iqshalahuddin.wordpress.com/2012/03/15/mengenal-kromatografi-gas/ november 2012).

Skoog, Douglas A., West, Donald M., dan Holler, F.James. 1996. Analytical Chemistry. Saunders College Publishing : Amerika.

Anda mungkin juga menyukai