Anda di halaman 1dari 4

Disusun oleh: Amalia Virgita (04111004061) OBAT KARDIOVASKULAR: KETERLIBATAN DALAM PRAKTIK DENTAL Obat-obatan yang secara langsung

bekerja pada jantung (cardiovascular drugs) akan menghasilkan tiga aktivitas jantung seperti kontraktilitas jantung, irama jantung, dan konduksi saraf intrinsik. Obat-obatan kardiovaskular ini terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu digitalis glycosides (digoxin), beta-blockers, calcium channel blockers, obat-obatan anti aritmia, diuretic, dan vasodilator. 1. DIGITALIS GLYCOSIDES Digoxin adalah satu-satunya turunan dari digitalis glycoside yang digunakan saat

ini. Digoxin akan menghasilkan 3 pengaruh kardiotonik. Yang paling terkenal adalah kemampuannya dalam meningkatkan kontraktilitas miokard, sehingga dapat digunakan pada pasien dengan gagal jantung kongestif. Digoxin memperlambat laju impuls dari SA node serta menunda konduksi melalui AV node. Akan tetapi, digoxin juga memiliki potensi signifikan untuk toksisitas jantung. Selain gagal jantung kongestif, indikasi digoxin lainnya yaitu pasien dengan fibrilasi atrium kronis. Berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh digoxin dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Efek Samping Digoxin

Untuk pasien yang dirawat dan diberi digoxin, kita harus selalu mengukur denyut nadi awal dan ritme sebelum memulai perawatan gigi. Karena efek samping dari digoxin yang paling serius berhubungan dengan aritmia jantung, kita harus hati-hati saat pemberian epinefrin atau antikolinergik yang dapat menyebabkan eksitasi jantung bertambah. Selain itu, pemberian antibiotik golongan macrolide (seperti eritromisin) dan antibiotik tetrasiklin harus dihindari karena dapat meningkatkan konsentrasi digoxin dan meningkatkan resiko toksisitas. 2. BETA-BLOCKERS Efek terapi dari beta-blocker disebabkan karena kemampuannya untuk bertindak

sebagai antagonis pada reseptor 1 di jantung, sehingga dapat menghambat efek

stimulasi dari sistem simpatik. Beta-blocker berguna dalam penanganan penyakit arteri koroner (angina), aritmia, dan hipertensi. Mekanisme kerja obat ini yaitu dengan mengurangi cardiac output dan menghambat pelepasan renin, yang selanjutnya menyebabkan vasokonstriksi berkurang. Contoh obat yang tergolong beta-blockers yaitu propanolol, nadolol, timolol, pindolol, carteolol, atenolol, metoprolol, acebutolol, esmolol, carvedilol dan labetalol. Pasien yang diobati dengan beta-blocker memiliki risiko yang signifikan, yaitu dapat terjadi hipertensi akut ketika mereka menerima vasopressor yang terkandung dalam anestesi lokal, yaitu: epinefrin atau levonordefrin. Jika kita merawat pasien yang diberi obat beta-blocker, sangat penting untuk mengukur tekanan darah dan denyut jantung pasien sebelum memberikan anestesi lokal. 3. CALCIUM CHANNEL BLOCKERS Calcium channel blockers dapat menghambat masuknya ion kalsium. Masuknya kalsium sangat penting bagi generasi impuls pada sel SA node dan AV node pada jantung, dan untuk proses kontraktil sel otot polos yang terdiri dari dinding arteri dan pembuluh darah besar. Calcium channel blockers ini menyebabkan vasodilatasi dan penurunan denyut jantung sehingga obat ini digunakan bagi penderita hipertensi, angina, dan aritmia. Contoh obat yang termasuk dalam golongan calcium channel blockers ini yaitu verapamil, diltiazem, nifedipine, nicardipine, isradipine, dan amlodipine. Obat-obatan yang tergolong dalam calcium channel blockers ini dikenal dapat menyebabkan pembesaran gingiva (gingival enlargement). 4. ANTI-ARITMIA Jantung terdiri dari 2 jenis sel utama: sel bekerja dan sel-sel khusus. Sel bekerja terdiri dari otot atau miokardium dari atrium dan ventrikel. Sel-sel khusus terdiri dari SA node, AV node, dan sistem His-Purkinje. Sel-sel ini memulai dan menjalankan impuls listrik ke seluruh miokardium, serta mengatur irama siklus jantung. Sel-sel khusus memiliki sifat yang disebut ''automaticity'' yang mencerminkan kemampuannya untuk depolarisasi secara spontan. Aritmia adalah kelainan pada laju atau keteraturan siklus jantung. Karena siklus jantung diatur oleh sel-sel khusus seperti yang telah disebutkan sebelumnya (SA node,

AV node dan sistem His-Purkinje) maka obat antiaritmia harus bekerja pada sel-sel tersebut. Berbagai contoh obat anti aritmia tertera pada Tabel 2. Obat anti-aritmia kelas I dan III adalah obat kardiovaskular yang paling kompleks, yang dapat digunakan dalam pengobatan aritmia atrial dan aritmia ventrikular. Tabel 2. Obat-obatan Anti-aritmia Kelas I A B C II III IV Efek / aksi Sodium channel blockade Prolong repolarization Shorten repolarization Little influence on repolarization Beta receptor blockade Prolong repolarization Calcium channel blockade Open potassium channel Quinidine, procainamide Lidocaine, tocainide, phenytoin Encainide, flecainide, propafenone Propanolol, dll Amiodarone, dll Verapamil, dll Adenosine Nama Obat

Epinefrin dan antikolinergik harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat aritmia jantung. Pengukuran tekanan darah dan denyut jantung harus dilakukan sebelum dan setelah pemberian epinefrin atau antikolinergik. Elektrokardiografi juga digunakan, terutama ketika dilakukan sedasi. Penggunaan amiodarone telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan juga terlibat dalam interaksi yang merugikan dengan obat tambahan yang sering digunakan dalam bidang kedokteran gigi, yaitu lidokain. Amiodarone menghambat metabolisme lidokain yang meningkatkan kadar serum lidocaine. Toksisitas anestesi lokal telah terjadi selama prosedur bedah menggunakan anestesi ini. Oleh karena itu, sebaiknya kita mengurangi dosis maksimum anestesi lokal menjadi setengahnya, ketika merawat pasien yang dimedikasi dengan amiodaron. 5. DIURETIC Diuretik menyebabkan hilangnya air dan zat terlarut (diuresis). Diuretik dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok: thiazide, loop, dan potassium-sparing. Diuretik sangat penting untuk memperbaiki retensi natrium dan air secara konsisten, sehingga

dapat mengobati pasien dengan gagal jantung kongestif. Diuretik juga berguna sebagai obat antihipertensi. Obat-obatan yang tergolong dalam diuretik antara lain yaitu hydrochlorothiazide, chlorthalidone, furosemide, triamterene, dan amiloride. Efek samping yang bisa timbul dari obat-obat ini adalah hiperglikemia dan meningkatnya kadar kolesterol. 6. VASODILATOR Vasodilator dapat menurunkan tekanan darah dan mengurangi kerja jantung. Obat golongan ini penting untuk pasien hipertensi, gagal jantung kongestif, dan arteri koroner (angina). Obat yang tergolong sebagai vasodilator ini terbagi menjadi beberapa kelompok: a) Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, obat-obatan yang termasuk di dalamnya yaitu: captopril, enalapril dan lisinopril b) Angiotensin II receptor blockers (ARBs): losartan dan valsartan c) Alpha-blockers, termasuk di dalamnya antara lain: doxazosin, prazosin, terazosin d) Miscellaneous agents: nitroglycerin, hydralazine, minoxidil dan calcium channel blockers. Obat-obatan tersebut dapat mengganggu jalur renin-angiotensin. Angiotensin adalah sebuah protein yang disintesis di hati dan dilepas ke aliran darah. Renin, adalah sebuah enzim yang dilepas oleh sel juxtaglomerular, yang dapat mengubah angiotensin menjadi precursor inaktif (Angiotensin I). ACE (Angiotensin-converting enzyme), yang ditemukan pada sel endotel pembuluh darah, dapat mengubah angiotensin I menjadi molekul aktif (Angiotensin II). Angiotensin II adalah vasokonstriktor. Ini akan membuat reabsorpsi air dan garam pada ginjal meningkat. ACE inhibitor akan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. ACE inhibitor ini juga bertindak sebagai vasodilator. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh obat-obat yang tergolong vasodilator ini adalah kemerahan pada wajah, sakit kepala, dan hipotensi. Obat yang termasuk golongan ACE inhibitors dan angiotensin-receptor blockers (ARBs) dapat menyebabkan hipotensi yang parah selama anestesi umum, sehingga beberapa ahli anestesi menganjurkan pasien untuk menunda medikasi dengan obatobatan tersebut.