Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

Meningioma adalah tumor yang berasal dari meningens yang berfungsi sebagai membran pelindung yang menutupi otak. Meningioma berasal dari sel induk arachnoid yang terletak di lapisan arachnoid yang menutupi permukaan dari otak yang dapat terjadi intrakranial atau antara saluran spinal. Angka kejadian meningioma 20% dari seluruh tumor primer otak. Tumor ini lebih sering dialami wanita daripada pria dan biasanya terjadi pada usia 50 !0 tahun" tetapi tidak menutup kemungkinan dapat muncul pada masa kanak kanak atau pada usia lanjut dan memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu keluarga. #orelasinya dengan trauma kapitis masih dalam pencarian karena belum cukup bukti untuk memastikannya. $ada umumnya meningioma dianggap sebagai neoplasma yang berasal dari glioblas di sekitar %ili arachnoid. &el di medulla spinalis yang sebanding dengan sel tersebut ialah sel yang terletak pada tempat pertemuan antara arachnoid dengan dure yang menutupi radiks. Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen. &ekitar 25% mengenai fal' dan parasagital yang dapat dibedakan menjadi sepertiga anterior" tengah" dan posterior. Tumor ini tertutup oleh korteks di atasnya dan cenderung tumbuh mayoritas pada satu hemisfer tetapi bisa bilateral. $ada beberapa pasien" tumor tumbuh ke tepi inferior sinus sagital. Meskipun kebanyakan meningioma bersifat jinak (benigna) tumor ini bisa mengalami kekambuhan setelah diangkat. Manifestai klinis yang ditimbulkan sangat ber%ariasi sesuai dengan bagian otak yang terganggu yang dapat mengakibatkan kondisi serius dan berpotensi mengakibatkan kematian. (*+,T -)

BAB II MENINGIOMA

II.1 DEFINISI MENINGIOMA Meningioma adalah tumor pada menin'" yang merupakan selaput pelindung yang melindungi otak dan medulla spinalis. .i antara sel sel meningen itu belum dapat dipastikan sel mana yang membentuk tumor" tetapi terdapat hubungan erat antara tumor ini dengn %illi arachnoid. Tumbuhnya meningioma kebanyakan ditempat ditemukan banyak %illi arachnoid. Meningioma dapat timbul pada tempat manapun di bagian otak maupun medulla spinalis" tetapi umumnya terjadi di hemisphere otak di semua lobusnya. #ebanyakan meningioma bersifat jinak (benign). Meningioma malignant jarang terjadi. II.2 EPIDEMIOLOGI Meningioma merupakan neoplasma intracranial nomor 2 dalam urutan frekuensinya yaitu mencapai angka 20% dan -2% dari semua tumor medulla spinalis. Meningioma biasanya jinak" tetapi bisa kambuh setelah diangkat. Tumor ini lebih sering ditemukan pada wanita dan biasanya muncul pada usia 50 !0 tahun" tetapi tidak tertutup kemungkinan muncul pada masa kanak kanak atau pada usia yang lebih lanjut" dan memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu keluarga. $aling banyak meningioma tergolong jinak (benign) dan -0% melignant. $erbandingan antara wanita dan laki laki adalah /02. Tempat predileksi di ruang cranium supretentorial ialah daerah parasagital. 1ang terletak di krista sphenoid" parasellar" dan baso frontal biasanya gepeng atau kecil bundar. 2ilamana meningioma terletak infratentorial" kebanyakan didapati di samping medial os petrosum di dekat sudut serebelopontin. Meningioma spinalis mempunyai kecenderungan untuk memilih tempat di bagian T3 sampai T4. Meningioma yang bulat sering menimbulkan penipisan pada tulang tengkorak sedangkan yang gepeng justru menimbulkan hyperostosis. Meningioma dapat tumbuh dimana saja di sepanjang meningen dan dapat menimbulkan manifestasi klinis yang sangat ber%ariasi sesuai dengan bagian otak yang terganggu. &ekitar 30% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20% menimbulkan gejala sindroma lobus frontalis. &indroma lobus frontalis sendiri merupakan gejala ketidakmampuan mengatur perilaku seperti impulsif" apati" disorganisasi" defisit memori dan atensi" disfungsi eksekutif" dan ketidakmampuan mengatur mood. (*+,T -)

II.3 ANATOMI 1. Kulit Kepala (Scalp) #ulit kepala terdiri atas lima lapis" tiga lapisan yang pertama saling melekat dan bergerak sebagai sebuah unit. #elima lapisan tersebut adalah kulit" jaringan ikat di bawah kulit yang merupakan jaringan lemak fibrosa" aponeurosis (epicranial)" jaringan ikat longgar dan pericranium. (2)

5ambar -. 6apisan kepala dari scalp sampai otak

2. Pe !a a"a# !e#!$ i% %ulit %epala Truncus utama saraf sensorik terletak pada fascia superficialis. .ari anterior di garis tengah menuju ke lateral ditemukan saraf saraf berikut ini" n. supratrochlearis" n. supraorbitalis" n. 7ygomaticotemporalis" n. auriculotemporalis" n. occipitalis minor dan n. occipitalis major.
(2)

3. Pe &a a'a# %ulit %epala #ulit kepala mempunyai banyak suplai darah untuk memberi makanan ke folikel rambut" dan oleh karena itu" luka kecil akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Arteri terletak di dalam fascia superficialis. .ari arah anterior ke lateral" ditemukan

arteri arteri berikut ini" a. supratrochlearis dan a. supraorbitalis" a. temporalis superficialis" a. auricularis posterior cabang a. carotis e'terna dan a. 8ccipitalis. (2) (. Ota% 8tak manusia kira kira merupakan 2 % dari berat badan orang dewasa (sekitar / pon). 8tak menerima sekitar 20 % curah jantung dan memerlukan 20 % pemakaian oksigen tubuh dan sekitar 300 kilokalori energi setiap harinya. 8tak merupakan jaringan yang paling banyak memakai energi dalam seluruh tubuh manusia dan terutama berasal dari proses metabolisme oksidasi glukosa. 9aringan otak sangat rentan dengan kebutuhan akan oksigen dan glukosa melalui aliran darah yang bersifat konstan. Metabolisme otak merupakan proses tetap dan kontinu" tanpa ada masa istirahat. (2) a. Me#i#)e! (Lapi!a# peli#&u#)) 8tak terdiri dari rangka tulang bagian luar dan tiga lapisan jaringan ikat yang disebut meninges. Menin' adalah suatu selaput jaringan ikat yang membungkus enchepalon dan medulla spinalis. #etiga lapisan meninges adalah dura mater" arakhnoid" dan piamater" yang letaknya berurutan dari superfisial ke profunda. 2ersama sama" arachnoid dan piamater disebut leptomening. Masing masing mempunyai fungsi tersendiri dan strukturnya berbeda dari struktur lainnya. (/" *+,T -) Dura mater adalah membran luar yang liat" semitranslusen" dan tidak elastis. .uramater terdiri dari jaringan fibrous yang kuat" berwarna putih" yang terdiri dari duramater bagian luar yang disebut lamina endostealis dan duramater bagian dalam yang disebut lamina meningialis. $ada medulla spinalis lamina endostealis melekat erat pada dinding canalis %ertebralis" menjadi endosteum (periosteum)" sehingga di antara lamina meningialis dan lamina endostealis terdapat spatium e'traduralis (!patiu* epi&u al) yang berisi jaringan ikat longgar" lemak" dan pleksus %enosus. $ada enchepalon lamina endostealis melekat erat pada permukaan interior cranium" terutama pada sutura" basis crania dan tepi foramen occipital magnum. 6amina meningialis mempunyai permukaan yang licin dan dilapisi oleh suatu lapisan sel" dan membentuk empat buah septa" yaitu0 -. :al' cerebri 2. Tentorium cerebella /. :al' cerebella 3. .iaphragma sellae (*+,T -"2)

5ambar 2. &epta pada lamina meningialis

:ungsi duramater adalah untuk melindungi otak" menutupi sinus sinus %ena (yang terdiri atas dura mater dan lapisan endothelial saja tanpa jaringan %askular)" dan membentuk periosteum tabula interna. .ura memiliki banyak suplai darah. 2agian tengah dan posterior disuplai oleh arteria meningea media yang bercabang dari arteria %ertebralis dan arteria karotis interna. $embuluh darah anterior dan etmoidalis juga merupakan cabang dari arteria karotis interna dan menyuplai fosa anterior. Arteria meningea posterior" yaitu cabang dari arteria oksipitalis" menyuplai darah ke fosa posterior. (/) .i dekat dura (tetapi tidak menempel pada dura) terdapat membran fibrosa halus dan elastis yang dikenal sebagai arakhnoid. Membran ini tidak melekat pada dura mater. +amun demikian" ruangan antara kedua membrane tersebut yaitu !patiu* !u+&u al" merupakan ruangan potensial yang berisi sedikit cairan jernih menyerupai getah bening. $ada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan %ena yang menghubungkan sistem otak dengan meningen serta dipenuhi oleh cairan serebrospinal. ;ena %ena otak yang melewati ruangan ini hanya mempunyai sedikit jaringan penyokong

dan oleh karena itu mudah sekali terkena cedera dan robek pada trauma kepala (otak).
(/"*+,T 2)

.i antara arakhnoid dan pia mater (yang terletak langsung di bawah arakhnoid) terdapat !patiu* !u+a a,'#$i& yang berisi li<uor cerebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang" dimana pada reaksi radang ruangan ini berisi sel radang. =uangan ini melebar dan mendalam pada tempat tertentu" dan memungkinkan sirkulasi cairan serebrospinalis. Arachnoid yang membungkus basis serebri berbentuk tebal sedangkan yang membungkus facies superior cerebri tipis dan transparan. $ada sinus sagitalis superior dan trans%ersal" arakhnoid membentuk tonjolan %ilus disebut granulation arachnoidea (badan $acchioni) yang bertindak sebagai lintasan untuk mengosongkan cairan serebrospinalis ke dalam sistem %ena.(/"*+,T -) Pia mater adalah membran halus yang memiliki sangat banyak pembuluh darah halus yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak dan merupakan satu satunya lapisan meningeal yang masuk ke dalam semua sulkus dan membungkus semua girus> kedua lapisan yang lain hanya menjembatani sulkus. $ada beberapa fisura dan sulkus di sisi medial hemisfer otak" pia mater membentuk sawar antara %entrikel otak dan sulkus atau fisura. &awar ini merupakan struktur penyokong dari pleksus koroideus setiap %entrikel. (/"*+,T 2)

5ambar /.- 6apisan 8tak

5ambar /.2 6apisan 8tak

+. -e#t i%el &a# .ai a# !e e+ $!pi#ali! ;entrikel merupakan serangkaian dari empat rongga dalam otak yang saling berhubungan dan dibatasi oleh sel ependim (semacam sel epitel yang membatasi semua rongga otak dan medulla spinalis) dan mengandung cairan serebrospinalis (?&:). $ada setiap hemisferium serebri terdapat satu %entrikel lateral. ;entrikel ketiga terdapat dalam diensefalon" sedangkan %entrikel keempat dalam pons dan medulla oblongata. ;entrikel lateral berhubungan dengan %entrikel ketiga melalui sepasang foramen interventrikularis Monro. ;entrikel ketiga dan keempat dihubungkan melalui suatu saluran sempit di dalam otak tengah yang dinamakan akuaduktus Sylvii. $ada %entrikel keempat terdapat tiga lubang @ sepasang foramen Luschka di lateral dan satu foramen Magendie di medial" yang berlanjut ke ruang subarachnoid otak dan medulla spinalis. (2)

5ambar /. ;entrikel di otak

.alam setiap %entrikel terdapat struktur sekresi khusus yang dinamakan pleksus koroideus. $leksus ini terdiri dari jalinan pembuluh darah pia mater yang mempunyai hubungan langsung dengan ependima. $leksus koroideus yang menyekresi ?&: jernih dan tak berwarna" yang merupakan bantal cairan pelindung di sekitar susunan saraf pusat. ?&: terdiri dari air" elektrolit" gas oksigen" dan karbondioksida yang terlarut" glukosa" beberapa leukosit (terutama limfosit)" dan sedikit protein. &elain itu" cairan ini juga banyak mengandung kadar natrium dan klorida yang lebih tinggi dibandingkan dengan cairan ekstraseluler lainnya" sedangkan kadar glukosa dan kaliumnya lebih rendah. (/) &etelah mencapai ruang subarachnoid" ?&: dalam sirkulasi di sekitar otak dan medulla spinalis" lalu keluar menuju sistem %ascular (&&$ tak mengandung sistem getah bening). &ebagian besar ?&: direabsorpsi ke dalam darah melalui struktur khusus yang dinamakan vili arakhnoidalis atau granulasio arakhnoidalis, yang menonjol dari ruang subarachnoid ke sinus sagitalis superior otak. ?&: diproduksi dan direabsorpsi secara terus menerus dalam &&$. ;olume total ?&: di seluruh rongga serebropsinal sekitar -25 ml" sedangkan kecepatan sekresi pleksus koroideus sekitar 500 sampai A50 ml perhari. Tekanan ?&: merupakan fungsi kecepatan pembentukan cairan dan resistensi terhadap reabsorpsi oleh %ili arakhnoidal. (/) ,. Pe &a a'a# Ota% i. A te i $ta% 8tak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri %ertebralis. #eempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk circulus Willisi (circulus arteriosus). (2) Arteri carotis interna keluar dari sinus ca%ernosus pada sisi medial processus clinoideus dengan menembus duramater. #emudian arteri ini membelok ke belakang menuju sulcus cerebri lateralis. .i sini" arteri ini bercabang menjadi arteri cerebri anterior dan arteri cerebri media. ?abang cabang dari arteri carotis interna yaitu 0 arteri opthalmica" arteri communicans posterior" arteri choroidea" arteri cerebri anterior" arteri cerebri media (merupakan cabang terbesar dari arteri carotis interna). (2) Arteri %ertebralis cabang dari bagian pertama arteri subcla%ia" berjalan ke atas melalui foramen processus trans%ersus %ertebrae ?- !. $embuluh ini masuk ke

tengkorak melalui foramen magnum dan berjalan ke atas" depan" dan medial medulla oblongata. $ada pinggir bawah pons arteri ini bergabung dengan arteri dari sisi lainnya membentuk arteri basilaris. (2) ;ena %ena otak tidak mempunyai jaringan otot di dalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup. ;ena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus %enosus cranialis. Terdapat %ena %ena cerebri" cerebella" dan batang otak. ;ena magna %erebri dibentuk dari gabungan kedua %ena interna cerebri dan bermuara ke dalam sinus rectus. (2)

(3) 5ambar 3. ;askularisasi otak

II.( PATOFISIOLOGI(INET 1) &eperti banyak kasus neoplasma lainnya" masih banyak hal yang belum diketahui dari meningioma. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk. $atofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. #askade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan edema peritumoral. Meningioma juga berhubungan dengan hormon seks dan seperti halnya faktor etiologi lainnya mekanisme hormon seks hingga memicu meningioma hingga saat ini masih menjadi perdebatan. $ada sekitar 2B/ kasus meningioma ditemukan reseptor progesteron. Tidak hanya progesteron" reseptor hormon lain juga ditemukan pada tumor ini termasuk estrogen" androgen" dopamin dan reseptor untuk platelet deri%ed growth factor. 2eberapa sereptor

hormon seks diekspresikan oleh meningioma. .engan teknik imunohistokimia yang spesifik dan teknik biologi molekuler diketahui bahwa estrogen diekspresikan dalam konsentrasi yang rendah. =eseptor progesteron dapat ditemukan dalam sitosol dari meningioma. =eseptor somatostatin juga ditemukan konsisten pada meningioma. $ada meningioma multipel" reseptor progesteron lebih tinggi dibandingkan pada meningioma soliter. =eseptor pregesteron yang ditemukan pada meningioma sama dengan yang ditemukan pada karsinoma mammae. Meningioma merupakan tumor otak yang peertumbuhannya lambat dan tidak mengin%asi otak maupun medulla spinalis. &timulus hormon merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan meningioma. $ertumbuhan meningioma dapat menjadi cepat selama periode peningkatan hormon" fase luteal pada siklus menstruasi dan kehamilan. Trauma dan %irus sebagai kemungkinan penyebab meningioma telah diteliti" tapi belum didapatkan bukti nyata hubungan trauma dan %irus sebagai penyebab meningioma. II./ KLASIFIKASI(INET 1) Cho mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah diketahui" termasuk meningioma. Tumor diklasifikasikan malalui tipe sel dan derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop. $enatalaksaannya pun berbeda beda di tiap derajatnya. a. 5rade * Meningioma tumbuh dengan lambat. 9ika tumor tidak menimbulkan gejala" mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobser%asi dengan M=* secara periode. 9ika tumor semakin berkembang" maka pada akhirnya dapat menimbulkan" kemudia penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan. #ebanyakan meningioma grade * diterapi dengan tindakan bedah dan obser%asi yang continue. b. 5rade ** Meningioma grade ** disebut juga meningioma atipikal. 9enis ini tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan grade * dan mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi juga. $embedahan adalah penatalaksaan awal pada tipe ini. Meningioma grade ** biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan. c. 5rade *** Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meninguoma malignant atau meningioma anaplastik. Meningioma malignant terhitung kurang dari -% dari seluruh kejadian meningioma. $embedahan adalah penatalaksaan yang pertama untuk

grade *** diikuti dengan terapi radiasi. 9ika terjadi rekurensi tumor" dapat dilakukan kemoterapi. Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtipe berdasarkan lokasi dari tumor 0 -. Meningioma :al' dan $arasagital (25% dari kasus meningioma). :al' adalah selaput yang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. :al' cerebri mengandung pembuluh darah besar. $erasagital meningioma terdapat di sekitar fal'. 2. Meningioma ?on%e'itas (20%). Tipe meningioma ini tedapat pada permukaan otak. /. Meningioma &phenoid (20%). .aerah &phenoidalis berlokasi pada daerah belakang mata. 2anyak terjadi pada wanita. 3. Meningioma 8lfactorius (-0%). Tipe ini terjadi di sepanjang ner%us yang menghubungkan otak dengan hidung. 5. Meningioma :ossa posterior (-0%). Tipe ini berkembang di permukaan bawah bagian belakang otak. !. Meningioma &uprasellar (-0%). Terjadi di bagian atas sella tursica" sebuah kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary. A. &pinal meningioma (kurang dari -0%). 2anyak terjadi pada wanita yang berumur antara 30 dan A0 tahun. Akan selalu terjadi pada medulla spinalis setingkat thora' dan dapat menekan spinal cord. Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti radikuler di sekeliling dinding dada" gengguan kencing dan nyeri tungkai. 4. Meningioma *ntraorbital (2%). Tipe ini berkembang di sekitar ca%um orbita. D. Meningioma *ntre%entrikuler (2%). Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di seluruh bagian otak

II.0 DIAGNOSIS(INET 1) Ge1ala Kli#i! 5ejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada otak dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunya fungsi normal dari bagian khusus dari otak). &ecara umum" meningioma tidak bisa didiagnosa pada gejala awal. 5ejala umumnya seperti0 -. &akit kepala" dapat berat atau bertambah berat saat berakti%itas atau pada pagi hari 2. $erubahan mental /. #ejang 3. Mual muntah 5. $erubahan %isus" misalnya pandangan kabur 5ejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi0 -. 6obus :rontalis a. Menimbulkan gejala perubahan kepribadian b. 2ila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontralateral" kejang fokal c. 2ila tumor menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia d. 2ila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy e. $ada lobus dominan menimbulkan gejala afasia 2. 6obus $arietal a. .apat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym b. 2ila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada gyrus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmannEs /. 6obus Temporal a. Akan menimbulkan gejala hemianopsi" bangkitan psikomotor" yang disahului dengan aura atau halusinasi b. 2ila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese c. $ada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat ditemukan gejala choreoathetosis" parkinsonism 3. 6obus 8ksipital a. Menimbulkan bangkitan kejang yang didahului dengan gangguan penglihatan b. 5angguan penglihatan yang permulaan bersifat <uadranopia berkembang menjadi hemianopsia" objeckanognosia

5. Tumor di %entrikel ke *** Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial mendadak" pasien tiba tiba nyeri kepala" penglihatan kabur dan penurunan kesadaran. !. Tumor di ?erebello $ontin Angle a. Tersering berasal dari + ;*** yaitu acusticusneurinoma b. .apat dibedakan dengan tumor jenis lain" karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran c. 5ejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin angle A. Tumor Fipotalamus a. Menyebabkan gejala TT*# akibat oklusi dari foramen Monroe b. 5angguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala gangguan perkembangan sekseal pada anak anak" amenorrhoe" dwarfism" gangguan cairan dan elektrolit" bangkitan 4. Tumor di ?erebellum a. Gmumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TT*# akan cepat terjadi disertai dengan papil udem b. +yeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari otot otot ser%ikal D. Tumor :ossa $osterior .itemukan gangguan berjalan" nyeri kepala dan muntah disertai dengan nystagmus" biasanya merupakan gejala awal dari medulloblastoma Pe*e i%!aa# 2a&i$l$)i! -. :oto $olos Fiperostosis adalah salahsatu gambaran mayor dari meningioma pada fotopolos. .inidikasikan untuk tumor pada menin'. Tampak erosi tulang dandekstruksi sinus sphenoidales" kalsifikasi dan lesi litik pada tulangtengkorak. $embesaran pembuluh darah menin' menggambarkan dilatasi arteri menin' yang mensuplai darah ke tumor. #alsifikasi terdapat pada 20 25% kasus dapat bersifat fokal maupun difus.

2. ?T &can ?T &can kontras dan ?T &can tanpa kontras memperlihatkan paling banyak meningioma. Tanpa kontras gambaran meningioma A5% hiperdens dan -3"3% isodens. 5ambaran spesifik dari meningioma berupa enchancement dari tumor dengan pemberian kontras. Meningioma tampak sebagai masa yang homogen dengan densitas tinggi" tepi bulat dan tegas. .apat terlihat juga adanya hiperositosis kranialis" destruksi tulang" udem otak yang terjadi sekitar tumor dan adanya dilatasi %entrikel. /. M=* M=* merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk menge%aluasi meningioma. M=* memperlihatkan lesi berupa masa dengan gejala tergantung pada lokasi tumor berada. 3. Angiografi Gmumnya meningioma merupakan tumor %ascular. .an dapatmenimbulkan gambaran Hspoke wheel appearanceI. &elanjutnya arteridan kapiler memperlihatkan gambaran %ascular yang homogen dan prominen yang disebut dengan mother and law phenomenon. II.3 PENATALAKSANAAN $enatalaksanaan meningioma terganting darilokasi dan ukuran tumor itusendiri. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. 2eberapa faktor yang mempengaruhi operasi remo%al massa tumor iniantara lain lokasi tumor" ukuran dan konsistensi" %askularisasi dan pengaruhterhadap sel saraf" dan pada kasus rekurensi" riwayat operasi sebelumnya dan atauradioterapi. 6ebih jauh lagi" rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkanfaktor resiko" pola" dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak hanyamengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura" jaringan lunak" dan tulanguntuk menurunkan kejadian rekurensi. 2e#,a#a p e$pe ati4e $ada pasien dengan meningioma supratentorial" pemberian antikon%ulsandapat segera diberikan" deksametason diberikan dan dilindungi pemberian F2 antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan. $emberian antibiotik perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organismestafilokokkus" dan pemberian cephalosporin generasi *** yang memiliki aktifitasterhadap organisem pseudomonas" serta pemberian

metronida7ol (untuk organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui mulut" sinus paranasal" telinga" atau mastoid. #lasifikasi &imptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial0 5rade * =eseksi total tumor" perlekatan dural dan tulang abnormal 5rade ** =eseksi total tumor" koagulasi dari perlekatan dura 5rade *** =eseksi total tumor" tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan dura" atau mungkin perluasan ekstradural ( misalnya sinus yangterserang atau tulang yang hiperostotik) 5rade *; =eseksi parsial tumor 5rade ; .ekompresi sederhana (biopsy) 2a&i$te api $enggunaan e'ternal beam irradiation pada meningioma semakin banyak dipakai untuk terapi. ,'ternal beam irradiation dengan 3500 !000 c5y dilaporkanefektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal" kasus kasusrekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. $ada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit" keadaan pasien yang buruk" atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi" e'ternal beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya. Teori terakhir menyatakan terapi e'ternal beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus meningioma yang agresif (atyppical" malignan)" tetapi informasi yang mendukung teori ini belum banyak dikemukakan ,fektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus dengan pertimbangan komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma. &araf optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi. #omplikasi lainyang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibatradioterapi. 2a&ia!i Ste e$ta%ti% Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kalidiperkenalkan pada tahun -D!0an menggunakan alat Far%ard proton beam.&etelah itu penggunaan stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukanuntuk meningioma. &umber energi yang digunakan

didapat melalui teknik yang ber%ariasi" yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang berasal dari ?ogamma (gamma knife) atau linear accelerators (6*+A?) dan partikel berat(proton" ion helium) dari cyclotrons. &emua teknik radioterapidengan stereotaktik ini dapat mengurangi komplikasi" terutama pada lesi dengandiameter kurang dari 2"5 cm. Ke*$te api Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. #emoterapisebagai terapi aju%an untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikitsekali diaplikasikan pada pasien" tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi(baik intra%ena atau intraarterial cis platinum" decarba7ine (.T*?) dan adriamycin menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (.eMonte dan 1ung)" walaupun regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak. 6aporan dari ?hamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakancyclophosphamide" adriamycin" dan %incristine dapat memperbaiki angka harapan hidup dengan rata rata sekitar 5"/ tahun. $emberian obat kemoterapi lain sepertihydro'yurea sedang dalam penelitian. $ertumbuhan sel pada meningiomadihambat pada fase & dari siklus sel dan menginduksi apoptosis dari beberapa seldengan pemberian hydro'yurea. .an dilaporkan pada satu kasus pemberianhydro'yurea ini memberikan efek pada pasien pasien dengan rekurensi danmeningioma yang tidak dapat direseksi. $emberian Alfainterferon dilaporkandapat memperpanjang waktu terjadinya rekurensi pada kasus meningioma yangagresif. .ilaporkan juga terapi ini kurang menimbulkon toksisitas dibanding pemberian dengan kemoterapi. II.5 P2OGNOSIS $ada umumnya prognosa meningioma adalah baik" karena pengangkatan tumor yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. $adaorang dewasa sur%i%alnya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak anak"dilaporkan sur%i%al rate lima tahun adalah A5%. $ada anak anak lebih agresif" perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar. $ada penyelidikan pengarang pengarang barat lebih dari -0% meningioma akan mengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi. &ejak -4 tahun meningioma dipandang sebagai tumor jinak" dan bilaletaknya mudah dapat diangkat seluruhnya. .egenerasi keganasan tampak bilaada0 in%asi dan kerusakan tulang

tumor tidak berkapsul pada saat operasi in%asi pada jaringan otak. Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarang dilaporkan" dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli bedah maka angka kematian post operasi makin kecil. .iperkirakan angka kematian postoperasi selama lima tahun (-D32@-D3!) adalah A"D% dan (-D5A@-D!!) adalah 4"5%. &ebab sebab kematian menurut laporan laporan yang terdahulu yaitu perdarahan dan edema otak.

BAB III LAPO2AN KASUS I. IDENTITAS +ama Gmur 0 +n. M9 0 2A tahun

$ekerjaan 0 *bu rumah tangga Agama Alamat M=& =M# 0 #risten 0 9orong 0 -2 :ebruari 20-0 D2 0- 22

II. ANAMNESA -. #eluhan Gtama0 benjolan di kepala 2. =iwayat $enyakit &ekarang0 $asien mengaku timbul benjolan di kepala bagian belakang sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu" pada awalnya diameter benjolan sebesar dua sentimeter" semakin lama semakin membesar hingga sekarang sebesar lima sentimeter. 2enjolan terasa keras dan kadang kadang sakit bila ditekan. $asien mengaku" pernah mengalami trauma pada kepala tepat di tempat benjolan tersebut muncul kurang lebih satu tahun sebelum munculnya benjolan" tapi setelah kurang lebih satu minggu setelahnya pembengkakan yang ditimbulkan hilang. $asien juga mengeluhkan terjadi penurunan ketajaman penglihatan sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu. #eluhan mengenai kedua mata tetapi dirasakan lebih berat pada mata sebelah kanan dan tidak berkurang walaupun dikoreksi dengan kacamata. &elain itu" pasien juga mengeluhkan sering sakit kepala" pada awalnya terasa di bawah benjolan yang semakin lama semakin menyebar dan lebih dominant pada kepala sebelah kanan. $asien juga mengeluh sering mengalami nyeri kepala hebat" terutama pada saat pagi hari" disertai rasa mual. $asien kadang kadang mendengar

suara gemuruh pada telinga kanannya. $asien tidak mengeluhkan adanya gangguan pada pengecapan dan penciumannya. &ejak beberapa bulan sebelum masuk rumah sakit" pasien beberapa kali mengalami kejang. &etiap kejang berlangsung selama kurang lebih lima menit berupa kekakuan seluruh tubuh dengan kedua tangan bergerak secara ritmik. Tiga bulan sebelum masuk rumah sakit" pasien mengeluhkan rasa kebal pada wajah kanan yang berlangsung sampai sekarang. $asien juga mengaku mengalami penurunan daya ingat dalam beberapa bulan terakhir ini.$asien mengaku telah menggunakan #2 suntik selama ! tahun. 2i6a7at Pe#7a%it Da'ulu 8s mengaku tidak ada riwayat kejang" hipertensi ataupun kencing manis. 2i6a7at Pe#7a%it Kelua )a Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit serupa.

II. PEME2IKSAAN FISIK STATUS INTE2NE SINGKAT 2erat 2adan Tekanan .arah &uhu 2adan +adi $ernapasan $ulmo ?or Fepar 6impa 0 34 kg 0 --0B40 mmFg 0 /!"5o? 0 44 kaliBmenit" reguler" kuat angkat 0 2- kaliBmenit" reguler 0 &uara napas %esikuler" =honki ( B )" Chee7ing ( ) 0 &-dan &2 tunggal regular 0 .alam batas normal 0 .alam batas normal

=en

0 .alam batas normal

STATUS LOKALIS #epala 0 terdapat massa di regio oksipitalis (midline) dengan diameter 5 cm" soliter" konsistensi keras" immobile" permukaan licin" hiperemis ( )" nyeritekan ( ) STATUS NEU2OLOGIK A. Ke!a# U*u* #esadaran $embicara 0 5?& 3 @ 5 @ ! 0 .isarti 0( ) Monoton0( ) &canning 0( ) Afasia 0Motorik 0( ) &ensorik 0( ) Amnestik (Anomik) 0( ) #epala 02esar 0 normal Asimetri 0( ) &ikap $aksa 0( ) Tortikolis 0( ) Muka 0Mask0( ) Mypathik 0( ) :ullmoon 0( ) 6ain lain 0 tidak ada B. Pe*e i%!aa# K'u!u!

1. 2a#)!a#) Selaput Ota% #aku tengkuk 0( ) 2rud7inski * 0( ) 6ase<ue 0( B ) 2rud7inski ** 0( ) #ernig 0( B ) 2. Sa a" Ota% N. I FypBAnosmi 0( B ) $arosmi 0( B ) Fallusinasi 0( B ) N. II ;isus (8.B8&) 0 -BJ B 2B5 1ojana penglihatan 0 + Melihat warna 0+ :unduscopi 0 N. III8 I-8 -I #edudukan bola mata 0normal $ergerakan bola mata 0 ke nasal 0normal ke temporal 0normal ke atas 0 normal ke bawah 0normal ke temporal bawah 0normal ,'ophthalmus 0( B )

?elah mata (ptosis) 0( )

$G$*6 0 2entuk 6ebar $erbedaan lebar =ekasi cahaya langsung =eaksi cahaya konsensuil N. - .a+a#) M$t$ i% 9 8tot maseter 8tot temporal 8tot pterygoideus .a+a#) Se#!$ i% 9 8ftalmikus 9 Maksilaris Mandibularis =efleks #ornea langsung =eflleks kornea konsensuil N. -II Caktu diam #erutan dahi Tinggi alis &udut mata 6ipatan nasolabial Caktu gerak 0 +B+ 0 +B+ 0 +B+ 0 +B+ 0 +B+ 0 KB+ 0 KB+ 0 +B+ 0 +B+ 0 +B+ 0 +B+ 0 +B+ 0bulat 05 mmB / mm 0anisokor 0 KB+ 0 KB+

Mengerutkan dahi Menutup mata 2ersiul Memperlihatkan gigi $engecapan 2B/ depan lidah Fiperakusis &ekresi air mata N. -III ;estibular ;ertigo +istagmus 0( ) 0( )

0 0 0 0 0 tdl 0( B) 0 +B+

Tinitus Aureum 0 +B+ Tes kalori ?ochlearis =inne Ceber &chwabah 0 tdl 0 tdl 0 tdl 0 tde

Tuli #onduktif 0 tdl Tuli perseptif N. I:8 : 2agian Motorik &uara Menelan 0+ 0+ 0 tdl

#edudukan arcus pharyn' #edudukan u%ula $ergerakan arcus pharin'Bu%ula .etak jantung 2ising Gsus Ba)ia# Se#!$ i% $engecapan -B/ belakang lidah =eflek muntah =eflek palatum Mole N. :I Mengangkat bahu Memalingkan wajah N. :II #edudukan lidah waktu istirahat #edudukan lidah waktu bergerak Atrofi :ascikulasi B Tremor #ekeuatan lidah menekan pipi Si!te* M$t$ i% 5 5 3. 2e"le%!92e"le%! =efle' fisiologis =efleks biseps 0 LBL 5 5 0 +B+ 0 +B+

0 +B+ 0 sentral 0+ 0+ 0+

0 tdl 0 tdl 0 tdl

0 di tengah 0 di tengah 0( B) 0( B) 0 +B+

=efleks triceps =efleks patella =efleks Achiles =efleks patologis Tungkai =efleks babinsky =efleks ?haddock Lengan

0 LBL 0 LBL 0 LBL

0( B) 0( B)

=efleks Foffman tromer 0 ( B ) (. Su!u#a# Sa a" Ot$#$* Miksi .efekasi &ekresi keringat &ali%asi 5angguan %asomotor 8rtostatik hipotensi /. Pe*e i%!aa# a&i$l$)i, .T S,a# ; Tampak 6esi massa hyperdens" semisolid dengan central necrosis pada left occipital lobe. &trong contrast enhancment 55'30'A0mm Mass ,ffect (L) Midline &hift (L) ke kiri -"A! cm &ystem ?ysterm menyempit dan %entrikel menyempit &ulci dan 5yri Femisphere .e'tra et &inistra tampak menyempit 0+ 0+ 0+ 0+ 0( ) 0( )

8rbita et retroorbita normal 6ain lain tak tampak kelainan" regio nasopharyn' tak tampak kelainan #esimpulan 0 Mendukung Meningioma pada =ight 8ccipital 6obe55'35'A0mm 0. Pe*e i%!aa# Ta*+a'a# Laboratorium Darah Rutin Fb 6eukosit ,ritrosit Fematokrit Trombosit 0 -5"3 gBdl 0 --.-00 mgBul 0 5"3/ jutaBul 0 32 % 0 /32.000Bul

Laboratorium imia Darah Greum #reatinin 6Albumin &58T &5$T $T A$TT 3. Dia)#$!i! Ke 1a -. Meningioma 5. Pe#atala%!a#aa# $ro 8perasi BAB I0 2- mgBd6 0 0"D mgBd 0 5"- gBdl/5 0 /0 0 5D 0 -2"A 0 2!"4A.

PEMBAHASAN

$ada kasus ini" pasien seorang wanita" berumur 2A tahun" datang dengankeluhan utama timbul benjolan di kepala bagian belakang sejak kurang lebih tigatahun yang lalu" ditambaha keluhan lain berupa penurunan ketajaman penglihatan dan kejang. $asien kemudian didiagnosis dengan diganosa meningioma berdasarkan gjala klinis disertai defisit neurologis yang sesuai yaitu adanya benjolan di kepala" nyeri kepala hebat" kejang" penurunan penglihatan" rasa kebaldi wajah" dan penurunan daya ingat. :aktor resiko yang didapat berupa penggunaan kontrasepsi hormonal dalam waktu lama. Fasil pemeriksaan penunjang berupa ?T &can yang menunjukkan adanya massa hyperdens padaregio 8ccipital berukuran 55'35'A0mm. $enyebab nyeri kepala dan kejang pada kasus ini diduga karena adanya peningkatan tekanan intrakranial yang disebabkan oleh efek massa tumor" dankarena in%asiBkompresi bangunan peka nyeri seperti 0 duramater" pembuluh darah" periosteum. +yeri pada pasien ini terutama dirasakan pada pagi hari. Falini terjadi karena peninggian p?8 2 selama tidur karena depresi pernapasan"sehingga terjadi %asodilatasi" peninggian %olume darah intrakranial serta pembengkakan otak yang berakibat perburukan pada traksi atau pergeseran pembuluh darah. 6obus oksipitalis terdiri dari area -A" -4" dan -D 2roadmann" merupakan akhir jalur genaikulokalkarina dan adalah penting untuk sensasi dan persepsi %isual. 6esi destruktif pada satu lobus oksipitalis mengakibatkan hemianopiahomonym kontralateral" misalnya kehilangan penglihatan pada sebagian atausemua lapang pandang homonym. Fal ini dapat menyebabkan pasien mengeluh perubahan bentuk dan kontor objek yang dirasa secara %isual (metamorfosia)"seperti pergantian citra secara khayal dari satu sisi lapangan penglihatan kelapangan penglihatan lainnya (allestesia %isual) atau citra %isual yang abnormaldan menetap setelah objek tersebut dipindahkan (palinopsia). *lusi %isual danhalusinasi dasar mungkin juga terjadi. 6esi bilateral menyebabkan kebutaan kortikal" suatu keadaan kebutaan tanpa perubahan pada fundus optikus ataurefleks pupil. .efisit neurologis lainnya dapat terjadi karena adanya destruksi ataupun kompresi langsung. Terapi yang dipilih adalah operasi" sesuai dengan algoritma penatalaksanaan meningioma dimana pada pasien ini merupakan primary tumor yang symptomatic. Terapi

meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. 2eberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor" ukuran dan konsistensi" %askularisasidan pengaruh terhadap sel saraf" dan pada kasus rekurensi" riwayat operasisebelumnya dan atau radioterapi. 6ebih jauh lagi" rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko" pola" dan rekurensi tumor. Tindakan operasitidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura" jaringan lunak"dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi.

$ada saat dilakukan operasi" didapat Tumor dengan klasifikasi simpson 5rade ***" dimana terdapat tumor di sinus yang ditinggalkan.

Kla!i"i%a!i Si*p!$# &etelah operasi pada pasien ini diberikan terapi kortikosteroid. Mekanismeaksi kortikosteroid pada tumor otak termasuk penurunan permeabilitas pembuluhdarah" efek sitotoksik pada tumor" penghambatan pembentukan tumor" dan penurunan produksi ?&:. &ehingga pada kasus ini pemberian kortikosteroiddiharapkan dapat mengurangi gejala dan mencegah terjadinya edema.

$ada umumnya prognosa meningioma baik" karena pengangkatan tumor yang sempurna akan memberikan peyembuhan yang permanen. $ada orang dewasa relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak anak" dilaporkan sur%i%al rate lima tahun adalah A5%. $ada kasus ini prognosis terjadinya kekambuhan diperkirakan sebesar 2D% karena tumor tidak dapat terangkat seluruhnya. 8leh karena itu pada pasien ini direncanakan akan dilakukan radioterapi. .alam kasus meningioma 5rade ** dan ***" standar saat ini melibatkan pengobatan radiasi pascaoperasi terlepas dari tingkat reseksi bedah. Fal ini disebabkan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi. .iharapkan dengan radiasi dan pemberian modulasi hormon" tumor yang tersisa tidak bertambah besar" tidak bertambah banyak" dan tidak berulang. $asien juga harus diberitahu untuk tidak menggunakan kontrasepsi hormonal. $asien diperbolehkan pulang - minggu setelah operasi dengan keadaan umum baik. $rognosis ad %itam pada pasien ini bonam. Ad fungsionam dubia admalam" sangat susah untuk mengembalikan fungsi penglihatan" tanpa melihatukuran tumor dan pendekatan pembedahan. $ada pasien ini terdapat defek %isual pada kedua mata" dengan defek lebih berat pada mata kanan." sehingga kemungkinan kembalinya fungsi penglihatan sangat sulit. $rognosis adsanationam dubia karena pada pasien ini terdapat sisa tumor pada sinus" yang tidak mungkin direseksi total.

BAB KESIMPULAN

Telah dilaporkan sebuah kasus wanita 2A tahun" dengan keluhan utama timbul benjolan di kepala sejak tiga tahun lalu" disertai keluhan nyeri kepala" gangguan penglihatan" dan kejang. .ari pemeriksaan fisik dan penunjang didapatkan diagnosis meningioma. Terapi yang dilakukan pada pasien ini adalah operasi. $ada saat operasi ditemukan tumor dengan klasifikasi simpson grade ***. $asien diperbolehkan pulang - minggu setelah operasi dengan keadaan umum baik. $rognosis ad %itam pada pasien ini bonam. ad fungsionam dubia ad malam" dan ad sanationam dubia.

DAFTA2 PUSTAKA

1. S1a*!u'i&a1at8 2.8 &a# <i* &e =$#). Buku Ajar Ilmu Bedah. E&.2. =a%a ta; Pe#e +it Bu%u Ke&$%te a# EG.8 2>>/ 2. .a l T8 P'ilip T8 =$'#a#e! G. Atla! Te%#i% Be&a'. =a%a ta EG. 1??2. 3. Sa+i!t$# D.. Te@t+$$% O" Su )e 7A T'e Bi$l$)i,al Ba!i! O" M$&e # Su )i,al P a,ti,eA 13t' e&iti$# <.B. Sau#&e ! .$*pa#7 (. Ma &1$#$ M8 Si&'a ta P8 Neu $l$)i Kli#i! Da!a 8 Dia# 2a%7at8 =a%a ta8 2>>( /. Ma#!1$e A &%% E&it$ 8 T au*a Su!u#a# Sa a" &ala* Kapita Sele%ta

Ke&$%te a# e&i!i Keti)a 1ili& 28 Me&ia Ae!,ulapiu!8 =a%a ta8 2>>> 0. Pat$"i!i$l$)i *e#i#)i$*a. A,,e!e& $# Septe*+e 2#&8 2>12. A4aila+le at

'ttp;BB666.!, i+&.,$*B&$,B/5333331B0BPATOFISIOLOGI