Anda di halaman 1dari 4

Produksi Bersih merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan pendekatan secara konseptual dan operasional terhadap proses

produksi dan jasa, dimana dampaknya dari keseluruhan daur hidup produk terhadap lingkungan dan manusia diupayakan sekecil mungkin. Produksi bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang berifat preventive dan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan (UNEP, 2003). Strategi produksi bersih mempunyai arti yang sangat luas karena didalamnya terdapat upaya pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pilihan jenis proses yang ramah lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup dan teknologi bersih berupa pengurangan pemakaian bahan beracun yang kesemuanya terfokus pada kata kunci dampak lingkungan, limbah berbahaya, bahan-bahan beracun dan pencemaran. Pencegahan terhadap pencemaran dan perusakan lingkungan adalah strategi yang perlu diprioritaskan dalam upaya mewujudkan industri dan jasa yang berwawasan lingkungan, namun bukanlah merupakan satu-satunya strategi yang harus diterapkan. Strategi lain seperti program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan sehingga dapat saling melengkapi satu dengan lainnya. Menurut Pramono (1999), terdapat beberapa prinsip pokok dalam strategi produksi bersih, antara lain : 1. Mengurangi atau meminimumkan penggunaan bahan baku, air dan energi serta menghindari penggunaan bahan baku beracun dan berbahaya. Pengolahan bahan baku yang baik dan perbaikan good house keeping agar tidak menambah beban pencemaran. Jika diterapkan dapat menekan biaya pengolahan limbah yang berarti mengurangi biaya produksi. 2. Perubahan dalam pola produksi dan konsumsi baik terhadap proses ataupun produk yang dihasilkan. Analisis daur hidup produk (product life cycle analysis) harus dipahami dengan baik. 3. Upaya produksi bersih tidak dapat berhasil dilaksanakan tanpa adanya perubahan dalam pola pikir, sikap dan tingkah laku dari semua pihak Konsep pencegahan pencemaran dengan penerapan produksi bersih dapat diperinci urutan penerapannya atau hirarki pelaksanaan produksi bersih seperti di bawah ini:

Gambar 1. Konsep Penerapan Produksi Bersih Strategi untuk menghilangkan limbah atau mengurangi limbah sebelum terjadi (preventive strategy), lebih disukai daripada strategi yang berurusan dengan pengolahan

limbah atau pembuangan limbah yang telah ditimbulkan (treatment strategy). Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan strategi berikut ini: 1. Eliminasi Strategi ini dimasukkan sebagai metode pengurangan limbah secara total. Bila perlu tidak mengeluarkan limbah sama sekali (zero discharge). Didalam konsep penerapan Produksi Bersih hal ini dimasukkan sebagai metode pencegahan pencemaran. 2. Minimisasi Limbah (mengurangi sumber limbah) Strategi pengurangan limbah yang terbaik adalah strategi yang menjaga agar limbah tidak terbentuk pada tahap awal. Pencegahan limbah mungkin memerlukan beberapa perubahan penting terhadap proses. 3. Daur Ulang Jika timbulnya limbah tidak dapat dihindarkan dalam suatu proses, maka strategi-strategi untuk meminimkan limbah tersebut sampai batas tertinggi yang mungkin dilakukan harus dicari, seperti misalnya daur ulang (recycle) dan/atau penggunaan kembali (re-use). Jika limbah tidak dapat dicegah, pengolahan limbah dapat dilakukan. 4. Pengendalian Pencemaran Strategi yang terpaksa dilakukan mengingat pada proses perancangan produksi perusahaan belum mengantisipasi adanya teknologi baru yang sudah bebas terjadinya limbah. 5. Pengolahan dan Pembuangan Strategi terakhir yang perlu dipertimbangkan adalah metoda-metoda pembuangan altematif. Pembuangan limbah yang tepat merupakan suatu komponen penting dari keseluruhan program manajemen lingkungan; tetapi, ini adalah teknik yang paling tidak efektif. 6. Remediasi Strategi penggunaan kembali bahan-bahan yang terbuang bersama limbah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar peracunan dan kuantitas limbah yang ada. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya pelaksanaan produksi bersih adalah sebagai berikut : 1. Proses Mencakup upaya konservasi bahan baku dan energi, menghindari pemakaian bahan berbahaya dan beracun, mengurangi jumlah dan toksisitas semua limbah dan emisi yang dikeluarkan sebelum meninggalkan proses. 2. Produk Menitik beratkan pada upaya pengurangan dampak pada keseluruhan daur hidup produk, mulai dari ekstraksi bahan baku sampai pembuangan akhir setelah produk tidak digunakan. 3. Jasa Menitik beratkan pada upaya penggunaan proses 3R (Reduce, Re-use dan Recycle) diseluruh kegiatannya, mulai dari penggunaan bahan baku sampai ke pembuangan akhir. Penerapan produksi bersih dalam proses produksi dapat dilakukan dengan mengintegrasikan aspek-aspek tersebut di atas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2. Integrasi Manajemen Lingkungan Dalam Proses Produksi Secara umum produksi bersih dapat dilakukan dengan dua metode atau teknik. Teknik pertama adalah pengurangan limbah pada sumbernya (source reduction) dan teknik yang kedua adalah daur ulang (recycle). Source reduction dapat dilakukan melalui pengubahan produk, perubahan material input, pengubahan teknologi atau tata cara operasi yang baik. Daur ulang limbah adalah teknik pengelolaan limbah hasil proses industri dengan memanfaatkan kembali limbah. Cara yang dapat digunakan adalah limbah dikembalikan lagi ke proses semula sebagai bahan baku pengganti untuk proses industri lain, recovery bagian yang bermanfaat dari limbah atau diolah menjadi produk samping (Indriyati, 2000). Secara umum teknik produksi bersih dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Teknik Produksi Bersih

Indriyati (2000), mendefinisikan terdapat beberapa hambatan yang dihadapi dalam penerapan produksi bersih di industri, yaitu : 1. Hambatan kultural y hambatan kultural adalah hambatan pertama yang dapat muncul dalam mengimplementasikan progra m produksi bersih. Keengganan untuk berubah dan konflik internal antara bagian-bagian dalam industri yang bersangkutan dapat menjadi penghambat. Hambatan kultural dapat timbul karena kurang komitmennya manajemen puncak, kurang peduli terhadap tujuan target perusahaan, adanya individu atau bagian yang enggan untuk berubah, lemahnya komunikasi internal, pembatasan karyawan dalam kerja, struktur organisasi yang tidak fleksibel, birokrasi dan sebagainya. Namun dengan mengetahui faktor-faktor penyebab hambatan tersebut, hambatan ini dapat diatasi dengan melaksanakan program pendidikan, pelatihan dan perbaikan manajemen. 2. Hambatan finansial dan teknis adalah Hambatan finansial dan teknisadalah timbulnya biaya yang akan dikeluarkan perusahaan untuk program produksi bersih ini merupakan beban tambahan bagi industri. Industri biasanya enggan untuk mengeluarkan biaya untuk membiayai program produksi bersih. Hambatan teknis yaitu keterbatasan informasi teknik dalam suatu industri. Hambatan ini terjadi akibat ketidakpedulian karyawan terhadap perkembangan dan dinamisasi informasi yang berlangsung baik internal maupun eksternal perusahaan. Hambatan teknik dapat diatasi apabila karyawan lebih meningkatkan kepeduliannya terhadap sumber-sumber informasi. Sumber informasi dapat diperoleh dari dalam perusahaan, pengalaman, lembaga pemerintah, asosiasi, institusi profesional, konsultan dan literatur. Diluar dari hambatan-hambatan diatas, produksi bersih sangat menguntungkan untuk diterapkan pada suatu industri. Manfaat yang akan diperoleh dari penerapan penerapan produksi bersih adalah sebagai berikut : 1. Lebih efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya alam. 2. Mengurangi biaya-biaya yang berkenaan dengan lingkungan 3. Mengurangi atau mencegah terbentuknya pencemar 4. Mencegah berpindahnya pencemar dari satu media ke media lain 5. Mengurangi resiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan 6. 6. Memberikan peluang untuk mencapai sistem manajemen lingkungan pada ISO 14000 7. Memberikan keunggulan daya saing dipasar domestik dan internasional (Bratasida, 1996). Indriyati. 2000. Strategi Penerapan Program Produksi Bersih dan Manfaatnya bagi Industri.Laporan Teknis Intern. Direktorat Teknologi Lingkungan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi : Jakarta. Suprihatin, M.Romli dan A.Ismayana. 2004. Penerapan Membran Filtrasi dari Selulosa Asetat dan Chitosan Untuk Produksi Bersih pada Industri Pulp dan Kertas. J. Tek. Ind. Pert. Vol. 13(3) : 75-82. [UNEP. 2003]. Cleaner Production Assesment in Industries. Di dalam http://www.uneptie.org/pc/cp/understanding_cp/cp industries. htm. diakses pada 4 Desember 2013. Bratasida, L. 1996. Prospek Pengembangan Sistem Manajemen Lingkungan di Indonesia. BAPEDAL :Jakarta.