KEKSI GIRINDRA SWASTI, M.

Kep

Dahulu klien masuk ke RSJ pada tahap akut (klien dg respon koping maladaptif), sekarang klien yg masuk RS berada pd tahap krisis dimana tujuan terapi adalah untuk stabilisasi daripada penurunan gejala. RSJ mengalokasikan lama perawatan untuk klien berada pd rentang 5-10 hari, dan waktu yg digunakan untuk stabilisasi kondisi krisis adalah 2-3 hari dr waktu rawat.

Manajemen gejala berat yg disebabkan oleh confusion. disorganization. Proses penangan awal untuk klien dg risiko keamanan yg perlu pengawasan dr tenaga spesialis. Kebutuhan segera. yg memerlukan observasi ketat oleh tenaga spesialis.     Pencegahan thd tindakan menbahayakan diri sendiri & oranglain. evaluasi diagnosa multidisiplin. . & inability. Stabilisasi untuk menyertakan klien pd tk perawatan yg lebih rendah.

    Evaluasi & diagnosis segera Menurunkan perilaku yg membahayakan diri sendiri maupun orang lain Mempersiapkan klien dan mengelola klien untuk menjalani perawatan pd tingkat pewatan yg lebih rendah Menyusun perawatan lanjutan yg efektif untuk memfasilitasi perkembangan kondisi & tk fungsional klien scr berkelanjutan .

dan pengembalian ke komunitas. stabilisasi segera. Secara umum kegiatan pd program crisis beds meliputi pengkajian. Selain meminimalkan biaya perawatan program ini jg cukup efektif dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan jiwa di masyarakat. . tenaga pemberi intervensi krisis. serta komponen terkait lainnya. Untuk keberhasilan program ini diperlukan kerjasama & komunikasi dengan pelayanan yg ada dimasyarakat. Crisis beds difokuskan pd membantu klien melewati     periode krisis (< 72 jam) untuk kemudian dikembalikan ke komunitas. Penerapan konsep ini tergantung pd sistem pelayanan kesehatan yg berlaku. kegawatdaruratan.

terapi keluarga. konselor vokasional   . Tim: psikiatris. Partial hospital program diorientasikan pd hal medis yg difokuskan pd pemberian terapi spesifik spt medikasi. terapis aktivitas. terapi kelompok pd pengorganisasian dan struktur kegiatan yg lebih besar. perawat jiwa. Fungsi utama : stabilisasi kondisi krisis & penanganan intermediate. terapi individu. pekerja sosial.

.

perasaan atau tindakan yg saling mempengaruhi shg dapat diperlukan terapi terapeutik. Sikap ganguan yg ada pd pikiran. .  Aplikasi klinis dr psikiatrik pd kondisi darurat.

pelecehan & pemerkosaan. perilaku kekerasan.Ruang lingkup kegawatdaruratan psikIatri meliputi:  Psikiatri umum: percobaan bunuh diri. gangguan kepribadian. bencana. penuaan. kecemasan. kompetensi.  Masalah sosial: tunawisma. psikosis. AIDS . ketergantungan & penyalahgunaan obat.

Psychiatric Emergency Care Centres.Layanan kegawatdaruratan psikiatri biasa dikenal dgn sebutan Psychiatric Emergency Service.    Ruang rawat inap RSJ Bangsal jiwa Unit gawat darurat . atau Comphrehensive Psychiatric Emergency Programe.

       Menilai permasalahan klien Memberikan perawatan jangka pendek Memberikan pengawasan selama 24 jam Mengerahkan tim untuk menyelesaikan intervensi pd tempat kediaman klien Menggunakan layanan manajemen keadaan darurat untuk mencegah krisis lebih lanjut Memberikan peringatan pd klien rawat inap & klien rawat jalan Menyediakan layanan konseling melalui telepon .

status mental. dan pemeriksaan fisik lengkap. memulai pengobatan atau merujuk ke pengaturan pengobatan yg paling tepat. mengidentifikasi faktor. Dokter : membuat diagnosa awal.  Dilakukan standar pengkajian jiwa meliputi sejarah/riwayat ggn jiwa. .

Pelayanan kedaruratan psikiatri TTV Triase oleh petugas Klasifikasi status gawat darurat Evaluasi psikiatri Evaluasi medik Observasi ketat .

yaitu: 1. Apakah aman bagi klien berada di ruang gawat darurat? 2. fungsional. Apakah klien bunuh diri atau membunuh? 5.Evaluasi psikiatrik mencakup 5 pertanyaan. atau kombinasi? 3. Apakah masalah organik. Apakah klien psikotik? 4. Apakah klien mampu melakukan perawatan diri? .

  Prinsip: menstabilkan kondisi kehidupan Ketika distabilkan klien yg menderita kondisi kronis dpt dipindahkan ke unit rehabilitasi psikiatrik jangka panjang. .

    Pengobatan darurat psikoterapi Farmakoterapi Pengekangan ECT .

    Dilakukan untuk membantu klien mengembalikan harga dirinya. Diperlukan sikap empati Melibatkan > 1 psikoterapis dan menggunakan > 1 psikoterapi Menekankan bagaimana modalitas kejiwaan bertindak secara sinergis untuk meningkatkan pemulihan .

dan reaksi ekstrapiramidal.seperti distonia dan akatisia sebagai efek samping obat psikiatris. atau lorazepam (Ativan). Klien kekerasan paling efektif dengan obat penenang sesuai atau antipsikotik. Klien yang memerlukan obat-obatan IM dapat dibius dengan haloperidol. Diazepam(Valium). dapat diberikan perlahan-lahan secara intravena (IV) lebih dari 2 menit.    Indikasi utama untuk penggunaan obat psikotropika di ruang gawat darurat meliputiperilaku kekerasan atau Menyerang. 5 sampai 10 mg IM. 5 sampai 10 mg. . Dokter harus memberikan obat IV dengan hati-hati untuk menghindari komplikasi ke pernapasan. 2 sampai 4 mg. kecemasan besar atau panik.

Kadang-kadang lebih baik untuk menggunakan IM kecil atau dosis oral waktu setengah jam sampai 1 jam interval (misalnya haloperidol. tekanan darah dan TTV lainnya harus dipantau. 20 mg) sampai klien dikendalikan daripada menggunakan dosis besar awalnya. atau diazepam. Selama pengobatan awal.   Jika gangguan itu adalah bagian dari proses psikotik yang sedang berlangsung dan kembali segera setelah obat IV habis . yang dapat mengakibatkan klien overmedicated. . 2 sampai 5 mg. dapat diberikan pengobatan terus.

 Pengekangan digunakan ketika klien sangat berbahaya untuk diri sendiri atau orang lain. . mereka menimbulkan ancaman berat yang tidak dapat dikontrol dengan cara lain.

.

dkk.   PICU merupakan pelayanan yang ditujukan untuk klien gangguan jiwa dalam kondisi krisis psikiatri (Keliat. yang dapat diselenggarakan di rumah sakit jiwa atau unit psikiatri rumah sakit umum (Keliat. 2010). 2009). 2009). . PICU adalah suatu unit yang memberikan perawatan khusus kepada klien-klien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan pengawasan ketat (Maryree. dkk. PICU merupakan gabungan pelayanan gawat darurat psikiatri dan pelayanan intensif.

kerusakan harta benda dan lingkungan. . kesehatan. b. Telah menyebabkan kehilangan kehidupan. Memiliki kecenderungan peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan. harta benda atau lingkungan. gangguan kesehatan. harta benda atau lingkungan. Ancaman segera terhadap kehidupan.a. kesehatan. c.

kegembiraan manik) ATAU kadang-kadang gagal untuk mempertahankan perawatan diri yang minimal (misalnya mengusap fases) ATAU gangguan yang jelas dalam komunikasi (sebagian besar inkoheren atau membisu) Skor 11 – 20 Skor 1 – 10 Bahaya melukai diri sendiri atau orang lain persisten & parah (misalnya kekerasan rekuren) ATAU ketidakmampuan persisten untuk mempertahankan hiegene pribadi yang minimal ATAU tindakan bunuh diri yang serius tanpa harapan bunuh diri yang jelas. .Untuk mengukur tingkat kedaruratan pd klien menggunakan skala GAF (General Adaptive Function) dengan rentang skor 1-30. tidak memiliki pekerjaan. sering melakukan kekerasan. Skor 21 – 30 Perilaku dipengaruhi oleh waham atau halusinasi ATAU gangguan serius pada komunikasi atau pertimbangan (misalnya kadang-kadang inkoheren. tindakan jelas tidak sesuai preokupasi bunuh diri) ATAU ketidakmampuan untuk berfungsi hampir pada semua bidang (misalnya tinggal ditempat tidur) sepanjang hari. Terdapat bahaya melukai diri sendiri atau orang lain (misalnya usaha bunuh diri tanpa harapan yang jelas akan kematian.

. Dari respons tersebut kemudian dirumuskan diagnosa skor RUFA dibuat berdasarkan diganosa keperawatan yang ditemukan pada klien.Pada keperawatan katagori klien dibuat dengan skor RUFA (Respons Umum Fungsi Adaptif)/ GAFR (General Adaptive Funtion Response) yang merupakan modifikasi dari skor GAF karena keperawatan menggunakan pendekatan respons manusia dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan fungsi respons yang adaptif.

Risiko bunuh diri yg berhubungan dengan kejadian akut dan atau suatu perubahan alam perasaan atau perilaku yang menetap. Penyalahgunaan NAPZA atau kedaruratan yang berhubungan dan berlangsung relatif singkat .Secara umum klien yg dirawat di PICU adalah klien dengan kriteria: a. b.

Perilaku kekerasan b.Sedangkan berdasarkan masalah keperawatan maka klien yang perlu dirawat di PICU adalah klien dgn masalah keperawatan sbb: a. Percobaan bunuh diri 1) Gangguan sensori persespsi: halusinasi (Fase IV) 2) Gangguan proses pikir: waham curiga 3) Masalah-masalah keperawatan yang berkaitan dengan kondisi klien putus zat dan over dosis: a) Perubahan kenyamanan: nyeri b) Gangguan pola tidur c) Gangguan pemenuhan nutrisi d) Gangguan eliminasi bowel .

yaitu: a. Hubungan profesional d. Compensatory reward c. Pendekatan manajemen b.Pola penanganan di PICU mengadopsi pola pendekatan di ruang MPKP yang terdiri dari empat pilar. sebagai berikut: a. Manajemen asuhan keperawatan (pilar IV) . Manajemen asuhan keperawatan Sedangkan pada ruangan PICU keempat pilar ini dilebur menjadi 2 pilar. Manajemen pelayanan keperawatan (pilar I-III) b.

Skor 21-30 masuk ruang intensif III .Klien baru yang masuk PICU dilakukan triase dengan mengkaji keluhan utama klien dengan menggunakan skor RUFA (1-30) & tanda vital. Adapun katagori klien menurut skor RUFA adalah: a. Skor 11-20 masuk ruang intensif II c. Skor 1-10 masuk intensif I b.

   Fase intensif I (24 jam) Fase intensif II (24 – 72 jam) Fase intensif III (72 jam – 10 hari) .

orang lain dan lingkungan Indikasi Klien dengan skor 1-10 skala RUFA Pengkajian Hal-hal yang harus dikaji adalah: a) Riwayat perawatan yang lalu b) Psikiater atau perawat jiwa yg baru-baru ini menangani klien (bila memungkinkan) c) Diagnosa gangguan jiwa di waktu lalu yang mirip dengan tanda dan gejala yang dialami klien saat ini .Prinsip tindakan a) Life saving b) Mencegah cedera pada klien.

d) Stressor sosial. e) Kemampuan dan keinginan klien untuk bekerjasama dalam proses treatment. serta daftar obat terakhir yg diresepkan & nama dokter yg meresepkan. respons thd obat. g) Pemeriksaan kognitif untuk mendeteksi kerusakan kognitif atau neuro psikiatrik h) Tes kehamilan untuk semua klien usia subur. efek samping & kepatuhan minum obat. dosis. f) Riwayat pengobatan & respons thd terapi. . lingkungan. dan kultural yang menimbulkan masalah klien saat ini. mencakup jenis obat yg didapat.

Klien-klien yang berada dalam kondisi membutuhkan penangan sangat segera harus dikaji dan bertemu dengan psikiater/MOMH dalam 15 menit pertama.    Pengkajian lengkap harus dilakukan dalam 3 jam pertama. Klien harus diperiksa oleh seorang psikiater/dokter umum kesehatan jiwa (Psikiater/Medical Officer Mental Health (MOMH)/GP+(General Practitioner)/GP++) dalam 8 jam pertama dengan prioritas pertama adalah psikiater. Bila tidak ada MOMH dapat ditangani GP+ atau GP++. Bila tidak ada psikiater maka klien dapat ditangani oleh MOMH. .

f) Bila kondisi klien diatas 10 skala RUFA maka klien dapat dipindahkan ke intensif II. . e) Evaluasi: dilakukan setiap shift u/ menentukan apakah kondisi klien memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang intensif II.Intervensi a) Observasi ketat b) Bantuan pemenuhan kebutuhan dasar (makan. perawatan diri) c) Manajemen pengamanan klien yang efektif (jika dibutuhkan) d) Terapi modalitas: terapi musik. minum.

bila dibawah skor 11 skala RUFA maka klien dikembalikan ke fase intensif I. maka klien dapat dipindahkan ke intensif III.Prinsip tindakan · Observasi lanjutan dari fase krisis (Intensif I) · Mempertahankan pencegahan cedera pada klien. . orang lain dan lingkungan Indikasi: klien dengan skor 11-20 skala RUFA Intervensi Intervensi untuk fase adalah: · Observasi frekuensi & intensitas yg lebih rendah dari fase intensif I · Terapi modalitas: terapi musik dan terapi olahraga · Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menentukan apakah kondisi klien memungkinkan untuk dipindahkan ke ruang intensif III · Bila kondisi klien di atas skor 20 skala RUFA.

. terapi olahraga.& life skill therapy. Indikasi: klien dengan skor 21-30 skala RUFA Intervensi · Observasi dilakukan secara minimal · Klien lebih banyak melakukan aktivitas secara mandiri · Terapi modalitas: terapi musik. · Evaluasi dilakukan setiap shift untuk menentukan apakah kondisi klien memungkinkan untuk dipulangkan. · Bila kondisi klien diatas skor 30 skala RUFA maka klien dapat dipulangkan dengan mengontak perawat CMHN terlebih dahulu.Prinsip tindakan · Observasi lanjutan dari fase akut (Intensif II) · Memfasilitasi perawatan mandiri klien. Bila < skor 20 skala RUFA klien dikembalikan ke fase intensif II Bila dibawah skor 11 RUFA klien dikembalikan ke fase intensif I.

Perawat terampil c. ketenagaan yg terlibat di ruang PICU adalah: a. Instruktur teknis f. Psikiater konsultan b. Occupation terapist e.Menurut Rollesby (2009). Pekerja sosial d. Psikolog .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful