Anda di halaman 1dari 5

PR LAPSUS DAN REFERAT DEMAM TIFOID RISKA RATWITA WIBAWA / 082011101028

ISI DARI KARTU MENUJU SEHAT BALITA ITU APA ?

Pengertian.

Kartu Menuju Sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah kartu yang memuat data pertumbuhan anak, yang dicatat setiap bulan dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun (Depkes Jawa Timur, 2005)

(Kartu Menuju Sehat) untuk Balita adalah suatu kartu / alat penting yang digunakan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak . (Nursalam, 2005 : 68 ).

KMS yaitu kartu yang memuat grafik pertumbuhan serta indicator perkembangan yang bermanfaat untuk mencatat dan memantau tumbuh kembang balitasetiap bulannya dari sejak lahir sampai berusia 5 tahun (dapat diartikan sebagai rapor kesehatan dan gizi) (Depkes RI, 1996). (Nursalam, 2005 : 68 )

Tujuan penggunaan KMS 1. Sebagai alat bantu bagi ibu atau orang tua untuk memantau tingkat pertumbuhan dan tingkat perkembangan yang optimal 2. Sebagai alat bantu untuk memantau dan menentukan tindakan yang diperlukan untuk mewujudkan tumbuh kembang yang optimal 3. Mengatasi malnutrisi di masyarakat secara efektif dengan peningkatan pertumbuhan yang memadai (promotivea) (Nursalam, 2005 : 68 ) Manfaat / fungsi KMS 1. Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi: pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vit A, ASI eksklusif, dan makanan pendamping ASI 2. Sebagai media penyuluhan bagi orang tua mengenai kesehatan balita

3. Sebagai sarana pemantauan yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi terbaik bagi balita 4. Sebagai kartu analisis tumbuh kembang balita (Nursalam, 2005 : 68 ). Penyuluhan balita yang mengacu pada KMS : 1. Jadwal pemberian imunisasi dan manfaatnya 2. Cara membina pertumbuhan anak yang baik 3. Pemberian ASI eksklusif ( 0-6 bulan ) 4. Pemberian makanan pendamping ASI untuk bayi diatas 6 bulan sampai 2 tahun 5. Merawat kesehatan gigi dan mulut 6. Gizi dan pemberian vitamin A untuk balita 7. Perkembangan anak dan latihan yang perlu diberikan sesuai dengan usia anak 8. Pertolongan pertama pada anak diare (Depkes Jawa Timur, 2005) Isi dari KMS antara lain : 1. Tentang pertumbuhan 2. Perkembangan anak/Balita 3. Imunisasi 4. Penanggulangan diare 5. Pemberian kapsul vitamin A dan kondisi kesehatan anak 6. Pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI 7. Pemberian makanan anak/Balita dan rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit. 8. Berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tentang kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000). Cara Memantau Pertumbuhan Balita

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat,

berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Grafik pertumbuhan dalam KMS terdiri dari garis merah, pita warna kuning, hijau tua dan hijau muda. (Depkes RI, 2000) a). Balita naik berat badannya bila : 1. Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna, atau 2. Garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya. b). Balita tidak naik berat badannya bila : 1. Garis pertumbuhannya turun, atau 2. Garis pertumbuhannya mendatar, atau 3. Garis pertumbuhannya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya c). Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit. d). Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T), artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/ Rumah Sakit. e). Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya. f). Balita sehat, jika : Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita warna diatasnya.

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN ISOLASI PADA PASIEN DEMAM TIFOID ? Dalam upaya untuk meningkatken perawatan penderita tersangka demam tifoid diperlukan suatu hasil pemeriksaan laboratorium sedini mungkin, untuk menyokong penegakkan diagnosis klinisnya. Adapun jenis pemeriksaan laboratorium yang dapat lebih menyokong diagnosis klinis demam tifoid adalah menemukan kuman Salmonella dengan cara mengisolasikannya dari darah, urin, tinja atau cairan badan lainnya. Frekuensi dapat ditemukannya kuman dari darah, urin, tinja ataupun cairan badan lainnya berhubungan dengan patogenesis penyakit

APA SAJA VAKSIN UNTUK DEMAM TIFOID ? Dianjurkan untuk wisatawan ke daerah endemis, pekerja laboratorium, apabila terjadi kontak dengan pasien demam tifoid, terjadi kejadian luar biasa, dan untuk turis yang bepergian ke daerah endemis. 1. Oral live attenuated vaccine (TY21la) Kuman hidup yang dilemahkan Penyimpanan pada suhu 20C-80C Kemasan dalam bentuk kapsu, direkomendasikan untuk anak 6 tahun lebih. Cara pemberian : 1 kapsul vaksin dimakan tiap hari ke 1,3, dan 5, 1 jam sebelum makan dengan minuman yang tidk lebih dari 370C. Kapsul ke-4 pada hari ke-7 terutama wisatawan. Kapsul harus ditelan utuh dan tida boleh dibuka karena kuman dapat mati oleh asam lambung. Vaksin tidak boleh diberikan bersamaan dengan antibiotic, sulfonamide, atau antimalaria yang aktif terhadap Salmonella, orang dengan penurunan sistem kekebalan tubuh (HIV, Keganasan), orang sedang mengalami gangguan pencernaan. Vaksin juga menimbulkan respon yang kuat dari interferon mukosa, pemberian vaksin polio oral sebaiknya ditunda dua minggu setelah pemberian terakhir dari vaksin tifoid oral. Imunisasi ulangan diberikan tiap 5 tahun. Namun pada individu yang terus terpapar dengan infeksi Salmonella sebaiknya diberikan 3-4 kapsul tiap beberapa tahun. Efek samping : mual, muntah, rasa tidak nyaman di perut, demam, sakit kepala, urtikaria. Daya proteksi vaksin ini hanya 50%-80%, maka yang sudah divaksinasipun dianjurkan untuk melakukan seleksi pada makanan atau minuman. 2. Vi parental Vaksin

Susunan vaksin polisakarida setiap 0,5 ml mengandung kuman Salmonella typhi , polisakarida0,025 mg, fenol dan larutan buffer yang mengadung natrium klorida, disodium fosfat, monosodium fosfat dan pelarut untuk suntikan. Penimpanan pada suhu 20C-80C, jangan dibekukan Pemberian secara suntikan intramuscular atau subkutan pada daerah deltoid atau paha, direkomendasikan untuk anak mulai umur 2 tahun.

Imunisasi ulangan tiap 3 tahun Reaksi samping local berupa demam, nyeri kepala, pusing, nyeri sendi, nyeri otot, nausea, nyeri perut jarang di jumpai. Sangat jarang bisa terjadi reaksi alergi berupa pruritus, ruam kulit dan urtikaria.

Kontraindikasi : alergi terhadap bahan-bahan dalam vaksin. Juga pada saat demam, penyakit akut maupun penyakit kronik progresif.

Daya proteksi 50%-80%, maka yang sudah divaksinasipun dianjurkan untuk melakukan seleksi pada makanan dan minuman.