Anda di halaman 1dari 12

KASUS 1 Kebakaran Indo Glove Medan tewaskan 4 orang

MEDAN | Dikonews- Kebakaran pabrik sarung tangan milik PT Indo Glove di KIM Mabar yang menewaskan 4 karyawan dan melukai 5 lainnya harus dipertanggungjawabkan oleh manajemen PT Indo Glove. Hal ini sudah dipastikan merupakan akibat lalainya perusahaan sarung tangan Indo Glove dalam menerapkan standar keselamatan kerja dipabrik,ujar Direktur LBH Medan Suryadinata dalam rilisnya. Pemilik pabrik telah menunjukan kelalaian kriminal dan pelanggaran aturan keselamatan kerja. Menurut aturan setiap pabrik harus menyediakan alat pemadam api, adanya alarm kebakaran kemudian dilatihnya buruh dalam cara penggunaan alat pemadam kebakaran, jikalau semua hal tersebut terpenuhi maka kemungkinan besar korban jiwa dapat diminimalisir.

Lanjutan
Diduga disekitar pabrik tidak ada ditemukan hidrant air padahal merupakan suatu kewajiban pemilik pabrik untuk menyediakan hidrant air apalagi pabrik tersebut bahan baku dan bahan jadinya adalah karet yang resiko kebakaran sangat tinggi. Perbuatan pemilik pabrik yang tidak menyediakan hidrant air disekitar pabrik dapat dikualifisir sebagai bentuk kelalaian pemilik pabrik yang dapat dipidana. Dikatakannya, para keluarga korban maupun keluarga korban yang telah meninggal dunia dapat menuntut pertanggungjawaban perusahaan secara pidana maupun secara perdata dan pemerintah dapat mengenakan denda terhadap perusahaan.

Masalah
Tidak adanya unit penanggulangan kebakaran di dalam pabrik sarung tangan Indo Glove seperti hidran serta tidak adanya pelatihan buruh dalam cara penggunaan alat pemadam kebakaran. Buruh dalam cara penggunaan alat pemadam kebakaran. Disekitar pabrik juga tidak ada ditemukan hidrant air padahal merupakan suatu kewajiban pemilik pabrik untuk menyediakan hidrant air apalagi pabrik tersebut bahan baku dan bahan jadinya adalah karet yang resiko kebakaran sangat tinggi. Perbuatan pemilik pabrik yang tidak menyediakan hidrant air disekitar pabrik dapat dikualifisir sebagai bentuk kelalaian pemilik pabrik yang dapat dipidana karena melanggar Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per04/MEN/1980.

Solusi
LBH meminta kepada pemerintah agar melakukan pemantauan dan pengawasan yang efektif d tempat kerja khususnya pabrik-pabrik agar insiden serupa tidak terjadi kembali dimasa yang akan datang. Ketidaksesuaian dengan aturan tentang INSTRUKSI TENAGA KERJA NOMER: INS. 11/ M/ BW/ 1997 tentang pengawasan khusus K3 penanggulangan kebakaran yang menginstruksikan untuk melakukan pengawasan pemasangan sarana proteksi kebakaran pada proyek konstruksi bangunan.

KASUS 2 Kebakaran Hebat Pabrik Swallow


Kronologis Kejadian
Kebakaran hebat terjadi di Pabrik Swallow yang berlokasi di Jalan Kamal Raya Nomor 34, Kalideres, Jakarta Barat pada Kamis, 11 Maret 2010. Pabrik Swallow merupakan salah satu Rubber Industrial Products yang berada dibawah perusahaan PT Sinar Jaya Perkasa. PT Sinar Jaya Perkasa merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam Pengadaan Barang dan Jasa Industri, salah satu produk yang ditawarkan adalah Sandal Swallow merupakan salah satu produk yang dihasilkan oleh industri ini.

Lanjutan
Kebakaran ini menelan empat korban jiwa yaitu Andrew Anggrayani (29) yang diketahui tengah hamil lima bulan, Liana yang merupakan staf administrasi, Rusli (70) kepala gudang, dan Parngat (60) petugas keamanan. Selain korban jiwa kebakaran ini juga mengakibatkan kerugian material seperti gedung pabrik yang habis terbakar, persediaan bahan kimia yang sudah ludes terbakar, kerusakan peralatan, barang, dan material.

Kronologi kebakaran ini diawali oleh seorang pekerja yang menyalakan mesin forklift (mesin pengangkut barang) di daerah rawan yang tidak dianjurkan yakni di gudang penyimpanan bahan kimia. Kemudian terjadi hubungan pendek arus listrik ketika seorang karyawan menghidupkan mesin forklift atau kendaraan pengangkut barang. Percikan api yang timbul karena arus pendek ini langsung menyambar bahan-bahan kimia yang ada disekitarnya dan menjadi besar hingga sulit dijinakkan. Pabrik ini menyimpan 95% bahan mudah terbakar, selain itu bahan pembuat sandal yaitu karet juga mempercepat proses pembakaran yang melalap bangunan pabrik Hal itu juga yang menyulitkan pihak berwenang untuk mengevakuasi korban dan memperkecil kerugian.

Investigasi Kecelakaan
Penyebab kebakaran ini diduga oleh human error atau kelalaian pekerja, akan tetapi suatu kecelakaan kerja disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks atau multikausa oleh karena itu untuk mengetahui akar penyebab dari peristiwa kebakaran Pabrik Swallow ini maka dilakukanlah investigasi kecelakaan.

Investigasi kecelakaan Investigasi kecelakaan kerja adalah kegiatan pemeriksaan, penyelidikan kasus kecelakaan kerja yang dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kejadian kecelakaan kerja yang terjadi. Investigasi kecelakaan merupakan upaya atau tindakan untuk memperkaya informasi tentang kejadian kecelakaan, mencari penyebab, hal terpenting dalam suatu kejadian dan menemukan kesalahan yang terjadi sehingga menimbulkan kecelakaan. (Bird, 1990)

Pembahasan Hasil Analisis Penyebab Kebakaran Pabrik Swallow


1. Immediate Causes (Penyebab Langsung) a. Unsafe Acts Dilihat bahwa penyebab langsungnya adalah seorang pekerja yang menyalakan mesin forklift di gudang penyimpanan bahan kimia (area rawan) tanpa sepengetahuan mandor/pengawas. Sehingga dapat dikatakan bahwa pekerja tidak mematuhi peraturan atau prosedur di tempat kerja

b. Unsafe Conditions Gudang penyimpanan bahan kimia merupakan area yang dipenuhi oleh bahan kimia yang mudah menguap. Sehingga lokasi ini rawan terjadi ledakan atau kebakaran ketika dipicu oleh sumber api. Selain itu terdapat karet sebagai bahan pembuat sandal yang juga merupakan bahan yang mudah terbakar. Pada kasus ini peristiwa dipicu oleh percikan dari arus pendek yang timbul dari mesin forklift, dan percikan api tersebut langsung menyambar bahan kimia dan karet.

2. Basic Causes (PenyebabPendukung)


a. Kondisi Mental Pekerja b. Tidak Mematuhi Peraturan c. Tidak Memadainya Standar Kerja d. Kurangnya Pengawasan dari Pihak Manajemen e. Kurangnya Tindakan Monitoring dan Evaluasi oleh Pihak Manajemen