Anda di halaman 1dari 3

Editorial

Deteksi Dini Retinopati Diabetik di Pelayanan Primer Indonesia, Mungkinkah?

Kholisah Nasution
Dokter di Jakarta

Prevalensi Retinopati Diabetik Retinopati diabetik (RD) adalah penyebab kebutaan utama para penyandang diabetes melitus (DM). Seiring meningkatnya jumlah penyandang DM, meningkat pula prevalensi retinopati diabetik dan risiko kebutaan akibatnya. Survei kesehatan di Amerika Serikat dari tahun 2005-2008 melibatkan penyandang DM menunjukkan 28,5% di antaranya didiagnosis RD dan 4,4% dengan RD yang terancam buta.1 Prevalensi RD berbeda di negara lain melalui berbagai penelitian.2-5 Berdasarkan The DiabCare Asia 2008 Study, 42% penderita DM di Indonesia mengalami komplikasi retinopati.6 Angka tersebut berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Di RS M. Djamil Padang, sekitar 50,7% pasien DM mengalami RD, baik non proliferatif ataupun proliferatif.7 Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan retina akibat DM ini berkaitan dengan lama penyakit DM yang diderita. Hampir semua penyandang DM tipe 1 akan mengalami RD dengan berbagai derajat setelah 20 tahun dan 60% pada DM tipe 2.8 Mengapa Prevalensi Tinggi? Prevalensi RD terus meningkat dengan peningkatan penyandang DM disertai gula darah tidak terkontrol. Menurut
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 8, Agustus 2011

penelitian di RS M. Djamil, jumlah penyandang DM dengan kadar gula darah relatif stabil hanya 181 orang (48%) dibandingkan dengan 196 orang (52%) dengan kadar gula darah tidak stabil. Tujuh puluh penyandang dengan gula darah terkontrol tersebut mengalami RD, sementara 121 penyandang yang tidak terkontrol glukosa darahnya mengalami RD.7 Selain kadar glukosa darah, beberapa hal menjadi penghambat penatalaksanaan RD. Hernett9 menyebutkan masalah keuangan merupakan penghambat dari sisi penyandang, sedangkan pendidikan penyandang yang inadekuat merupakan penghambat menurut dokter. Hal utama lainnya yang menjadi penghambat adalah keterbatasan akses pada pelayanan kesehatan. Tidak adekuatnya pendidikan pasien sebagai penghambat didukung oleh penelitian pengetahuan, sikap, dan perilaku (PSP) yang dilakukan Hellen Keller International10 pada penyandang DM di Bangladesh. Penelitian tersebut menunjukkan pengetahuan penyandang DM yang buruk mengenai kesehatan mata berkaitan dengan DM. Selain itu, Munoz et al.11 Juga menunjukkan pengetahuan mengenai komplikasi pada mata akibat DM hanya diketahui oleh kurang dari 50% setiap populasi sub-grup penelitiannya, baik dengan DM ataupun tidak.
307

Deteksi Dini Retinopati Diabetik di Pelayanan Primer Indonesia Pengetahuan penyandang DM mengenai RD tentu bukan hanya tanggung jawab pribadi penyandang DM tersebut, tetapi juga petugas kesehatan. Moss et al . 12 menyebutkan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penyandang DM tidak memeriksakan matanya, yaitu karena tidak diberitahukan untuk memeriksa oleh dokternya (75%) dan merasa tidak memiliki keluhan pada mata (33%). Di Jakarta, kawasan urban Indonesia, hal yang sama diteliti oleh Adriono et al.13 Dalam penelitian tersebut diketahui kurang dari 50% penyandang DM yang pernah diinformasikan oleh dokternya untuk memeriksakan mata secara rutin. Bahkan alasan utama penyandang DM tidak melakukan pemeriksaan mata adalah kurangnya pengetahuan mengenai perlunya pemeriksaan tersebut, sedangkan masalah ekonomi hanya diutarakan 13,6% penyandang. Selain kurangnya promosi dan edukasi mengenai RD oleh para petugas kesehatan di pelayanan primer, prevalensi RD terus tinggi karena tidak tersedianya pelayanan deteksi dini di pelayanan primer yang terjangkau penyandang, khususnya golongan ekonomi lemah. Read et al.4 mendapatkan 23,6% penyandang DM pernah diperiksa funduskopi namun hanya 5,2% yang melakukannya rutin setiap tahun. Moss12 menyebutkan tidak tersedianya waktu dan tidak mampu membayar adalah salah satu alasan penyandang DM tidak memeriksakan matanya, apalagi rutin setiap tahun. Jelas bahwa pelayanan pemeriksaan mata untuk penyandang DM di pelayanan primer yang terjangkau dari segi jarak dan dana oleh pasien golongan ekonomi lemah sangat diperlukan. Metode Deteksi Dini di Pelayanan Primer Tidak dideteksinya RD sejak dini meningkatkan kemungkinan seorang penyandang DM menjadi buta. Dengan deteksi dini dan penatalaksanaan yang segera di awal perjalanan penyakit, kebutaan akibat RD dapat dicegah. Sangat disayangkan Pedersen14 hanya mendapatkan angka yang rendah untuk pemeriksaan deteksi dini RD oleh penyandang DM dalam dua tahun penelitiannya. Pemeriksaan funduskopi merupakan pemeriksaan baku emas untuk penegakan diagnosis RD. Menjadi pertanyaan bagi kita dan seharusnya perhatian bagi perhimpunan profesi spesialis mata apakah pemeriksaan funduskopi menjadi kompetensi dokter umum. Penelitian di Australia15 yang memberikan pelatihan pemeriksaan mata bagi penyandang DM mendapatkan kemampuan para dokter umum setelah pelatihan sesuai dengan kriteria National Health and Medical Research Council (NHMRC) Australia dan dinilai dapat melakukan skrining di komunitas. Penelitian lain di Brisbane, Australia menunjukkan sensitivitas dan spesifitas diagnostik RD oleh dokter umum menggunakan funduskopi adalah 87% dan 95%.16 Penelitian lain di Spanyol menunjukkan indeks Kappa pemeriksaan retinografi oleh dokter umum adalah 80%-95%.17 Pada beberapa pusat kesehatan komunitas di daerah berpenghasilan rendah di Amerika 10,9% pasien yang difunduskopi oleh dokter umum memiliki gambaran sesuai dengan RD. Setelah dikonfirmasi dengan pemeriksaan oleh dokter muda, 35 dari 344 pasien yang seharusnya perlu dirujuk dalam penelitian ini tidak dirujuk oleh dokter umum. Walaupun begitu, penelitian tersebut menyimpulkan akurasi dokter umum cukup baik dan memerlukan pelatihan lanjutan.18 Saat ini, penelitian untuk mencari alat diagnostik yang memudahkan deteksi dini dilakukan di pelayanan primer terus dilakukan. Salah satunya adalah deteksi dini menggunakan pencitraan retina digital yang meningkatkan angka rujukan pasien curiga RD ke rumah sakit yang memiliki dokter mata.19 Berbagai alat dan metode lain mulai banyak diciptakan untuk memudahkan dan meningkatkan akurasi dokter umum melakukan pemeriksaan retina. Penelitian tersebut banyak dilakukan di luar Indonesia. Fakta ini menunjukkan perhatian para ahli untuk menyediakan sarana deteksi dini RD di pelayanan primer sangat besar. Dukungan Edukasi dan Promosi Kesehatan Sarana deteksi dini yang dapat diterapkan di pelayanan primer sebagai upaya pencegahan sekunder harus didukung oleh edukasi dan promosi kesehatan. Kegiatan edukasi dan promosi kesehatan mengenai RD harus dilakukan dengan berbagai inovasi. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi seperti telepon.20 Artikel CPD dalam JInMA edisi Agustus 2011 menitikberatkan peran dokter umum untuk edukasi mengenai kontrol DM dan pemeriksaan mata rutin. Edukasi mengenai kontrol DM tersebut sesuai dengan penelitian Abdul-Ghani21 yang memperoleh prevalensi RD lebih tinggi pada pasien DM yang disertai dengan sindrom metabolik dibanding tanpa sindrom metabolik. Murthy dan Raman22 menekankan pemeriksaan mata di pelayanan primer merupakan kegiatan di garis depan dan terintegrasi dengan sistem pelayanan kesehatan primer secara keseluruhan, khusus untuk RD, seharusnya merupakan bagian dari kegiatan pelayanan Bagian Penyakit Tidak Menular (PTM). Namun, sampai saat ini organisasi profesi terkait di bawah bimbingan Kemenkes RI, khususnya Direktorat PTM, belum mengeluarkan buku panduan pelayanan RD atau materi promosi RD di pelayanan primer. Deteksi dini RD, sebagai bagian dari keseluruhan pencegahan komplikasi DM di pelayanan primer, sepertinya masih menjadi impian. Daftar Pustaka
1. Zhang X, Saadine JB, Chiu-Fang C, Cotch MF, Cheng YJ, Geiss LS, et al. Prevalence of diabetic retinopathy in United States, 2005-2008. JAMA. 2010;304(6):649-56. Pedersen ML, Jacobsen JL, Lynge AR. Micro- and macrovascular complications among Greenlanders and Danes with type 2 diabetes mellitus in Nuuk, Greenland. Int J Circumpolar Health. 2010; 69:195-207.

2.

308

J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 8, Agustus 2011

Deteksi Dini Retinopati Diabetik di Pelayanan Primer Indonesia


3. Manaviat MR, Rashidi M, Afkhami-Ardekani M, Shoja MR. Prevalence of dry eye syndrome and diabetic retinopathy in type 2 diabetic patients. BMC Ophthalmology. 2008;8:10. Downloaded from http://www.biomedcentral.com/1471-2415/8/10. Read O, Cook C. Retinopathy in diabetic patients evaluated at a primary care clinic in Cape Town [scientific letter]. South African Med J. 2007;97:941-3. Tam TKW, Lau CM, Tsang LCY, Ng KK, Ho KS, Lai TC. Epidemiological study of diabetic retinopathy in a primary care setting in Hong Kong. Hong Kong Med J. 2005;11:438-44. Soewondo P, Soegondo S, Suastika K, Pranoto A, Soeatmadji DW, Tjokroprawiro A. The DiabCare Asia 2008 study - Outcomes on control and complications of type 2 diabetic patients in Indonesia. Med J Indon. 2010;19(4):235-43. Rahman K. Epidemiologi retinopati diabetika di Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/Perjan RS Dr. M. Djamil Padang. Majalah Kedokteran Andalas. 2002; 26:49-58. American Diabetes Association. Diabetic retinopathy. Diabetes Care. 2002;25(supp1):590-3. Harnett ME, Key IJ, Loyacano NM, Horswell RL, DeSalvo KB. Perceived barriers to diabetic eye care. Arch Ophthalmol. 2005; 123:387-91. Hellen Keller International. Diabetic retinopathy education treatment and training (DRETT) knowledge, attitude, and practice survey results. Bangladesh: HKI Bulletin; 2010. Munoz B, OLeary M, Fonseca-Becker F, Rosario E, Burguess I, Aguilar M, et al. Knowledge of diabetic eye disease and vision care guidelines among Hispanic individuals in Baltimore with and without diabetes. Arch Ophthalmol. 2008;126:968-74. Moss SE, Klein R, Klein BEK. Factor associated with having eye examinations in person with diabetes. Arch Fam Med. 1995; 4:529-34. Adriono G, Wang D, Octavianus C, Congdon N. Use of eye care services among diabetic patients in urban Indonesia. Arch Ophthalmol. 2011;129:930-5. 14. Pedersen ML. Management of type 2 diabetes mellitus in Greenland, 2008: examining the quality and organization of diabetes care. J Circumpolar Health. 2009;68:123-32. 15. Jackson CL, Laurence H, de Jong IC, Smith N. Can Australian general practitioners effectively screen for diabetic retinopathy? a pilot study. BMC Family Practice. 2002:3. Downloaded from http://www.biomedcentral.com/1471-2296/3/4. 16. Askew D, Schluter PJ, Spurling G, Maher CL. Diabetic retinopathy screening in general practice a pilot study. Australian Family Physician. 2009;38:650-6. 17. Andonegui J, Berategui L, Serrano L, Eguzkika A, Gaminde I, Aliseda D. Agreement among ophthalmologist and primary care physicians in the evaluation of retinographies of diabetic patients. Arch Soc Esp Oftalmol. 2008;83:527-32. 18. Farley TF, Mandava N, Prall FR, Carsky C. Accuracy of primary care clinicians in screening for diabetic retinopathy using singleimage retinal photography. Ann Fam Med. 2008;6:428-34. 19. Wilson C, Horton M, Cavallerano J, Aiello LM. Addition of primary care-based retinal imaging technology to an existing eye care professional referral program increased the rate of surveillance and treatment of diabetic retinopathy. Diabetes Care. 2005; 28:318-22. 20. Walker EA, Schechter CB, Caban A, Basch CE. Telephone intervention to promote diabetic retinopathy screening among the urban poor. Am J Prev Med. 2008;34:185-91. 21. Abdul-Ghani M, Nawaf G, Nawaf F, Itzhak B, Minuchin O, Vardi P. Israel Medical Association Journal. 2006;8:378-82. 22. Murthy GVS, Raman U. Perspective on primary eye care. Community Eye Health Journal. 2009;22:10-1.

4.

5.

6.

7.

8. 9.

10.

11.

12.

MH/MS

13.

J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 8, Agustus 2011

309