Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PENYEDIAAN LAHAN DAN BUDIDAYA TEBU

Diajukan untuk memenuhi persyaratan salah satu tugas Mata Kuliah Budidaya Tanaman Perkebunan Utama

Oleh : Irlanggana (071510101054)

PROGRAM STUDI AGRONOMI JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN - UNIVERSITAS JEMBER 2012

PENDAHULUAN

Pada umumnya mahkluk hidup membutuhkan sumberdaya alam berupa air, oksigen, karbondioksida, makanan dan sinar matahari. Kecuali karbon dioksida dan oksigen, sumberdaya alam lainnya berada pada kondisi yang terbatas dan sering tidak mencukupi kebutuhan, sehingga terkadang memerlukan usaha untuk mencukupi kebutuhan tersebut dengan tindakan pengelolaan hidup. Sebagai contoh misalnya tanaman tebu membutuhkan hara untuk mencapai pertumbuhan normalnya, namun ketersediaan di dalam tanah tempat tanaman itu tumbuh tidak tersedia hara N yang memadai. Pada keadaan demikian tanaman tersebut tentu tidak akan mungkin tumbuh normal (karena defisiensi N). Untuk mencapai kondisi pertumbuhan normal, maka upaya budidaya diperlukan yaitu dengan cara memberikan pupuk N untuk kasus kekurangan hara N tersebut. Sumberdaya alam selama periode pertumbuhan tebu sangat dibutuhkan. Namun laju kebutuhan setiap fase pertumbuhan tanaman terhadap kebutuhan jenis maupun kuantitasnya selalu tidak sama. Dengan demikian terdapat ukuran ukuran kebutuhan yang secara keseluruhan sangat ditentukan oleh kebutuhan biologi pertumbuhan. Sebagai contoh, tanaman tebu memiliki 5 stadium pertumbuhan yaitu fase perkecambahan, pertunasan, pemanjangan batang, kemasakan dan kematian, kebutuhan akan sumberdaya air pada setiap stadium berbeda. Stadium perkecambahan sampai pemanjangan batang dapat dikatakan menghendaki kebutuhan air yang sangat banyak. Namun pada fase kemasakan dan bahkan kematian, kebutuhan terhadap air justru pada kondisi yang lebih sedikit untuk mengoptimalkan pengisiaan gula dalam batang. Hal yang lain yang berkaitan dengan kebutuhan hidup tanaman tebu adalah secara agregat setiap sumber daya alam selalu dibutuhkan, meskipun kuantitasnya dapat berlainan antara setiap fase pertumbuhannya. Tidak terpenuhi salah satu atau lebih sumberdaya alam yang dibutuhkan tanaman tebu, maka akan berakibat pada penurunan kualitas pertumbuhan maupun produktivitas tanaman yang dihasilkan. Dalam budidaya tebu, upaya

untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya alam pada saat optimal diperlukan akan memberikan hasil panen yang maksimal. Yang dimaksud dengan budidaya tebu adalah upaya menciptakan kondisi fisik lingkungan tanaman tebu, berdasarkan ketersediaan sumberdaya lahan, alat dan tenaga yang memadai agar sesuai dengan kebutuhan pada fase pertumbuhannya, sehingga menghasilkan produksi (gula) seperti yang diharapkan. Dewasa ini budidaya yang efisien adalah pengelolaan tanaman tertentu yang diusahakan menyesuaikan dengan lingkungan agroklimat (ketersediaan lahan). Karekteristik agroklimat terdiri dari iklim, kesuburan tanah dan topografi. Budidaya tebu hendaknya menyesuaikan dengan kondisi karakteristik agroklimat di lahan tegalan yang umumnya dijumpai untuk tanaman tebu. Produktifitas tebu ditentukan oleh karakteristik agroklimat yang paling minimum. Secara definisi telah dikemukakan di atas arti dari budidaya yang sesungguhnya dapat disederhanakan lagi yaitu suatu upaya manusia

mengoptimalkan kondisi tanaman agar memperoleh sumberdaya alam yang dibutuhkan untuk hidupnya, sehingga dapat dimaksimalkan perolehan

produktivitas tanaman. Dengan demikian tujuan akhir dari upaya budidaya adalah mengoptimalkan kondisi tanaman untuk memaksimumkan hasil panen.

Budidaya merupakan prasarana untuk meningkatkan respon tanaman terhadap input yang diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menunjang dan memacu proses pertumbuhan. Keberhasilan budidaya ditentukan oleh berlangsungnya proses-proses pertumbuhan dalam setiap stadium secara normal dan berkesinambungan. Setiap proses fase pertumbuhan harus berjalan dengan sempurna, untuk memberikan kesempatan proses fase pertumbuhan berikutnya sehingga berjalan sempurna juga. Gangguan pada salah satu proses fase pertumbuhan tebu, harus dipandang sebagai titik dari mata rantai yang terlemah dan yang paling bertanggung jawab terhadap hasil panen yang akan diperoleh. Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan faktor pembatas yang paling menentukan terhadap perolehan hasil tanaman, maka upaya dari budidaya sesungguhnya untuk mengeleminir sekecil mungkin kekurangan ketersedian

sumber

daya

alam

yang

dibutuhkan

setiap

fase

pertumbuhan

guna

memaksimumkan hasil panen yang akan diperoleh. Landasan Pola Budidaya Tebu. Budidaya tebu yang paling sesuai adalah budidaya tebu yang menyesuaikan dengan kondisi agroklimat, yaitu iklim, kesuburan tanah dan tofografi. Selain itu, keberhasilan budidaya tebu ditentukan pula oleh penggunaan sarana pendukung seperti tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang akan menunjang pengelolaan pertanian berkelanjutan. Lebih spesifik lagi, keberhasilan penyesuaian budidaya tebu ditentukan oleh kesesuaian tebu terhadap kondisi iklim, kesesuaian tebu terhadap kesuburan tanah, kesesuaian pengelolaan tebu dengan tofografi, kesesuaian pengelolaan tebu berdasarkan keterbatasan tenaga, sehingga mengharuskan penerapan peralatan mekanisasi dan kesesuaian tebu menuju pertanian berkelanjutan. - Kesesuaian Tebu Terhadap Iklim Budidaya tebu harus mengupayakan kebutuhan tebu terhadap variabel iklim, khususnya terhadap ketersediaan air, baik dalam mengatur kecukupan air maupun mengurangi ketersediaannya. Dalam budidaya, singkronisasi kebutuhan pertumbuhan tebu dengan kebutuhan SDA iklim, seperti mengatur masa tanam yang baik untuk mendapatkan kebutuhan air optimal pada fase pertumbuhan awal dan ditebang pada periode musim kemarau. Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, curah hujan bulanan ideal untuk pertanaman tebu adalah 200 mm / bulan pada 5-6 bulan berturut - turut, 125 mm/bulan pada 2 bulan transisi dan kurang 75 mm / bulan pada 4 - 5 bulan berturut-turut. Menurut tipe iklim Oldeman, zona yang terbaik untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2 dan C3. Dalam pengembangannya ke lahan kering selain kedua tipe iklim tersebut ada beberapa lahan dengan tipe iklim yang dapat diusahakan untuk tebu dengan masukan-masukan teknologi adalah B2, C2, C3, D2, E3. Lahan yang dapat dikembangkan untuk pertumbuhan tebu dengan tanah cukup ringan dan berdrainase baik B1, C1, D1 dan E1.

- Kesesuaian Tebu Terhadap Kesuburan Tanah Kesuburan tanah menentukan keberhasilan budidaya tebu, menyangkut aspek faktor pembatas fisik dan kimia tanah. Sifat fisik tanah yang menonjol adalah drainase / permeabilitas, tekstur dan ruang pori. Sedangkan sifat kimia tanah adalah kadar bahan organik, pH, ketersediaan hara esensial dan KTK tanah. Tekstur tanah yang sesuai bagi tanaman tebu berdasarkan sifat olah tanah adalah sedang sampai berat atau menurut klasifikasi tekstur tanah (Buckman and Brady, 1960) adalah lempung, lempung berpasir, lempung berdebu, liat berpasir, liat berlempung, liat berdebu dan liat atau yang tergolong bertekstur agak kasar sampai halus. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada kisaran 6,0 7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5. Kesuburan tanah (status hara), berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk menentukan kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5, P2O5 tersedia > 75 ppm, K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al <> 4 bulan, masa tanam yang optimal pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir musim hujan sampai awal musim kemarau (pola II) dengan kondisi tanah ringan, ngompol dapat diolah sepanjang musim. Pada daerah basah (bulan kering 2 bulan) masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau. - Mencukupi Kebutuhan Hara Tanaman Ketersediaan hara dalam tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman pada masing-masing fase pertumbuhannya sangat ditentukan oleh kondisi lahan dan ketepatan pemupukan. Dalam pemupukan perlu diperhatikan efektivitas dan efisiensi. - Pengendalian Hama dan Penyakit Prinsip pengendalian jasad pengganggu (gulma, hama dan penyakit) adalah memastikan bahwa input dan tanaman tebu tidak termakan oleh jasad pengganggu yaitu pengendalian secara preventif. - Penanganan Panen Dalam pengusahaan tanaman tebu, upaya budidaya yang ditunjukkan untuk meningkatkan bobot tebu dan rendemen yang tinggi pada akhirnya banyak

ditentukan oleh sejumlah mana tebu tersebut ditebang dan digiling dalam keadaan Masak, Bersih dan Segar (MBS). Untuk menciptakan panen MBS banyak berkaitan dengan aspek - aspek manajerial dan koordinasi, baik diintern Pabrik Gula (antara Bagian Tanaman, Tebang Angkut dan Pabrik) maupun koordinasi PG dengan Petani. - Pemantauan Pertumbuhan Tanaman Pemantauan perrtumbuhan tanaman yang bertujuan untuk mengetahui dampak dari tindakan - tindakan budidaya yang dilakukan. Pemantauan pertumbuhan tanaman dapat dilakukan dengan pengetahuan pertumbuhan setiap fase dan faktor - faktor yang mempengaruhi dan dinamika populasi. Dengan membandingkan antara jumlah populasi atau pertumbuhan suatu saat pada suatu kebun dengan standar pertumbuhan / dinamika populasi normal serta dihubungkan dengan fase pertumbuhan saat pemantauan, sehingga dapat ditentukan tumbuh normal atau tidak serta antisipasi / tindakan yang diperlukan. - Konsistensi Pengelolaan Tanaman Agar dapat diperoleh hasil gula yang optimal diperlukan konsistensi pengelolaan yang prima sejak pembukaan lahan sampai tebu dipanen dan digiling, mengingat kualitas suatu fase pertumbuhan menentukan pertumbuhan berikutnya dan kualitas bahan baku akan menentukan sejauh mana potensi gula yang ada di batang dapat dijadikan gula kristal yang diharapkan. Salah satu yang harus diwaspadai adalah ketidak konsistenan pada saat panen, tebu yang ditanam dan dipelihara dengan baik hasil gulanya kurang menggembirakan karena kehilangan gula yang cukup besar saat panen akibat mutu tebang dan angkut kurang baik. Secara teknis pembukaan lahan tanaman tebu dikenal adanya sistem Reynoso (Manual) dan Sistem Mekanisasi (Plough Out). 1. Sistem Mekanisasi Sistem yang menggunakan traktor/ mekanisasi sebagai alat kerjanya. Urutanya 2 kali bajak dengan arah berbeda (cross) yang selanjutnya dibuat kairan. Setelah itu dilakukan pembuatan got dan selanjutnya tanam. 2. Sistem Reynoso (manual)

Adalah sistem yang dikerjakan dengan sistem manual/ orang berprinsip pada pembuatan got-got untuk penampungan dan pembuangan air. Urutanya adalah: a. Pembuatan patusan/ saluran pembuangan/ afvoer tujuanya alah untuk membuang air yang masih didalam kebun apabila terjadi kelebihan air. Kedalamanya adalah 90 cm, dan lebar 80 cm b. Pembuatan got mujur got mujur berfungsi menampung kelebihan air dari got malang. Arah got mujur tegak lurus dengan got malang atau juringan. Ukuran got mujur adalah adalah dalam 70 cm dan lebar 60 cm. c. Pembuatan got malang Berfungsi untuk menampung kelebihan air dari juringan, menurunkan permukaan air tanah dan menahan air sementara guna pekerjaan sirat/ebor. Arah got malang adalah searah dengan kemiringan tanah. Ukuran got malang adalah dalam 60 cm dan lebar 50 cm. - Ukuran Got dalam system Reynoso

TEKNIS BUDIDAYA TEBU 1. Persiapan Lahan Pengolahan tanah hendaknya dilakukan dengan pembajakan,

penggemburan dan pembuatan juringan. Dengan demikian perkecambahan tebu berjalan normal. 1. Pembajakan (plowing) Adalah upaya pembongkaran tanah yang bertujuan untuk memperdalam batas olah tanah, membalikkan tanah agar sirkulasi udara lebih baik serta untuk menghancurkan sisa-sisa tumbuhan yang sebelumnya sudah ada (Dinas Perkebunan, 2004). Biasanya hasil pembajakan berupa tanah bongkahan yang masih cukup besar. 2. Penggemburan (harrowing) Adalah upaya memperhalus hasil olahan tanah dari kondisi tanah besar menjadi lebih kecil. Tujuannya untuk membuat kondisi tanah berpori lebih banyak dan lebih remah sehingga permukaan tanah mudah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan (Dinas Perkebunan, 2004). Dilakukan dengan menggunakan implement Rome Master dengan alat tarik Crowler-D5. Penggemburan untuk tanah ringan boleh ditarik dengan traktor roda ban. 3. Pembuatan juringan (furrowing) Sesudah tanah dibajak dan digembur maka pekerjaan pembuatan alur tanaman dapat dimulai. Alat yang digunakan adalah furrower dengan kedalaman juringan 25-30 cm yang ditarik dengan traktor rantai atau traktor ban. Pada satu kali jalan dibuat 2 sampai 3 alur. Jarak antar juringan adalah 135 cm 2. Pembibitan Bibit merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan tebu giling. Bibit yang bermutu baik dan sehat akan menghasilkan tanaman yang baik dan sehat pula. Penurunan produksi tebu antara lain disebabkan pemakaian bibit yang kurang baik. Bibit bisa didapatkan dari : a. Bibit pucuk Bibit ini berasal dari pucuk batang tebu giling. Untuk keperluan ini, dipilih tebu yang baik dan sehat serta yang tidak banyak bercampur dengan jenis-jenis

tebu lain. Daun kering yang membungkus bibit tidak diklentek/dilepas, karena dapat melindungi mata dari kerusakan. b. Bibit kebun Bibit ini merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan bahan tanam bagi kebun tebu giling. Lokasi kebun pembibitan diusahakan dekat dengan areal tebu giling. c. Bibit mentah/bibit krecekan Bibit ini berasal dari tanaman yang berumur 0-7 bulan. Bibit ini dipotong tanpa mengklentek daun pembungkusnya agar mata-mata tunas tidak rusak. d. Bibit seblangan Bibit ini diambil dari tanaman yang telah tumbuh untuk mencukupi penyulaman. Bibit yang diambil jika tanaman sudah berumur 16-18 hari atau yang telah bermata tunas dua. e. Bibit siwilan Jika tanaman sudah tidak tumbuh atau pucuknya mati, maka keluarlah tunas-tunas yang disebut siwilan. Siwilan ini bisanya digunakan untuk penyulaman (Sutardjo, 1994). Jenjang bibit kebun atau kebun pembibitan adalah sebagai berikut : Kebun Bibit Pokok Utama (KBPU) KBPU adalah kebun bibit yang diselenggarakan oleh P3GI (Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia) Pasuruan. Kemurniannya berada dibawah pengawasan Pemulian Tanaman. KBPU ditanam pada bulan Juli-Agustus. Kebun Bibit Pokok (KBP) KBP merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan bahan tanam bagi kebun nenek. Kebun ini menggunakan bahan tanam yang berasal dari KBPU. Kebun ini dikelola oleh Riset Pengembangan. KBP ditanam pada bulan Januari-Februari. Kebun Bibit Nenek (KBN) KBN merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan bahan tanam bagi kebun bibit induk. Kebun ini menggunakan bahan

tanam yang berasal dari KBP. Kebun ini dikelola oleh Riset Pengembangan. KBN ditanam pada bulan Juli-Agustus. Kebun Bibit Induk (KBI) KBI merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan bahan tanam bagi kebun bibit datar. Kebun ini menggunakan bahan tanam yang berasal dari KBN. Kebun ini dikelola oleh Asisten Afdeling. KBI ditanam pada bulan Januari-Februari. Kebun Bibit Datar (KBD) KBD merupakan kebun pembibitan yang diselenggarakan sebagai penyediaan bahan tanam bagi kebun tebu giling. Kebun ini menggunakan bahan tanam yang berasal dari KBI. Kebun ini dikelola oleh Asisten Afdeling. KBD ditanam pada bulan Juli-Oktober.

Gambar 1. Pola pembibitan tebu PTPN II Sumatera Utara 3. Penanaman Bibit yang digunakan di lahan sawah dapat berupa bibit bagal atau bibit rayungan. Umumnya digunkaan bibit dengan 2 mata untuk menjaga kepastian tumbuh. Dalam satu meter juringan ditanam 5 6 stek bibit. Waktu tanam yang ideal untuk tebu sawah adalah bulan Mei Juni, sehingga pada saat panen bulan Juli September tanaman sudah cukup masak dan memiliki bobot tebu yang tinggi.

Penanaman bibit diusahakan agar mata bibit menghadap ke samping. Apabila mata bibit menghadap keatas maka tunas akan muncul lebih dulu pada permukaan tanah daripada mata bibit yang menghadap kebawah. Keadaan tersebut disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan oleh tunas untuk mencapai permukaan tanah menjadi dua kali lebih lama, secara perhitungan jaraknya saja sudah jelas lebih jauh untuk mencapai permukaan tanah sehingga mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam dan pertumbuhan tunas terganggu. 1. Bibit Bagal/debbeltop/generasi Tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah. 2. Bibit Rayungan (bibit yang telah tumbuh di kebun bibit) Jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya menghadap ke samping dan sedikit miring, + 45 derajat. Jika bibit rayungan bermata dua; batang bibit terpendam dan tunas menghadap ke samping dengan kedalaman + 1 cm. 3. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata. - Penyulaman 1. Sulam sisipan, dikerjakan 5 - 7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanaman rayungan bermata satu. 2. Sulaman ke - 1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3 - 4 helai. Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan. 3. Penyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanaman berumur + 1 bulan 4. Penyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama dengan pemberian air ke - 2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,5 bulan 5. Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2 - Pemupukan

Tujuanya adalah untuk menambah unsur hara di dalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman. Dosis setiap daerah lainya tergantung dari hasil analisa hara dalam tanah. Jenis pupuk : ZA, TSP, KCL. Dosis pupuk/jenis pupuk :

Waktu Pemupukan : Pupuk I : 1 s/d 7 hari setelah tanam, TSP : 100 % dosis , ZA : 30 % s/d 70 % dosis. Pupuk II : 1 bulan setelah pupuk 1 ; ZA : 30 % s/d 70 % (sisanya), KCL : 100 % dosis. Pemupukan dengan ditegal/lencog dan ditutup tanah. - Penyiraman / Pengairan Tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan Air bagi Proses Pertumbuhan Tanaman. Kekurangan air akan sangat berpengaruh pada Produksi. Dalam pelaksanaannya Pengairan meliputi : a. Ebor Muka Tanam, dilakukan sebelum bibit ditanam untuk membuat kondisi tanah basah. b. Sirat Patri, dilakukan 3 4 hari setelah tanam dengan tujuan memacu perkecambahan tunas dan mempercepat pertumbuhan akar. c. Ebor Pupuk I, dilakukan setelah Pupuk I dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman. d. Ebor Pupuk II, dilakukan setelah Pupuk II dengan tujuan melarutkan pupuk supaya segera dapat diserap oleh Tanaman. e. Ebor Muka Bumbun II, bertujuan untuk menghancurkan lungko agar dalam pelaksanaan Bumbun II nantinya akan didapatkan tanah yang halus. f. Ebor Muka Bumbun III, bertujuan untuk memberikan air yang cukup untuk tanaman juga untuk memudahkan pelaksanaan Bumbun III.

g. Ebor Garbu Muka Gulud, diberikan dalam jumlah yang cukup banyak karena tanah yang diolah adalah tanah waras. Tujuannya adalah untuk memudahkan pelaksanaan Garbu. h. Ebor Muka Gulud, diberikan pada tanah guludan yang telah digarbu. Tujuannya adalah agar tanah blabagan menjadi gembur dan mudah dibuat guludan. - Pembubunan Tanah 1. Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3 - 4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumputrumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah. 2. Pembumbunan ke - 2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar + 20 cm, sehingga tidak dikuatirkan rusak atau patah sewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan. 3. Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm. 4. Penyiangan Penyiangan adalah membuang rumput-rumput yang tumbuh di kebun, supaya jangan mengadakan pesaingan dengan tanaman tebu dan merintangi tumbuhnya. Penyiangan dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan cangkul Koret (Adisewojo, 1991). 5. Klentek (pelepasan daun kering) Klentek bertujuan untuk memperbaiki sirkulasi udara dan kebersihan kebun, memperbanyak sinar matahari yang masuk mengenai batang tebu dan meningkatkan kualitas tebangan. Daun yang diklentek adalah daun kering yang kelopak daunnya sudah membuka 50%. Klentek dilakukan pada saat tanaman berumur 6 bulan, apabila diperlukan klentek bisa dilakukan lagi pada saat tanaman berumur 8 bulan (PTPN II, 2008). 6. Hama dan Penyakit Hama

Hama merupakan binatang pengganggu tanaman. Gangguan dilakukan dengan cara menghisap atau memakan bagian tanaman. Beberapa hama penting yang sering menyerang tanaman tebu antara lain : 1. Penggerek Pucuk (Tryporina nivella) Hama ini berupa ulat yang menyerang pucuk tanaman sehingga mematikan titik tumbuh. 2. Penggerek Batang (Phragmatoecia castaneae) Hama ini berupa ulat yang merusak ruas-ruas batang tebu sehingga pada serangan yang parah dapat merobohkan tanaman. 3. Kutu Bulu Putih (Ceratovacuna laniagara) Pada daun-daun yang mulai nampak ada kutu bulu putih segera dipangkas, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk dimusnahkan atau dibakar. 4. Uret Hama ini menyerang akar dan pangkal tanaman tebu. Tanaman yang terserang menampakkan gejala kelayuan daun. 5. Tikus Hama ini menyerang tanaman berumur kurang dari satu bulan. Tanaman yang terserang akan mati. (Muljana, 1983). Penyakit 1. Penyakit Pokkahbung (Gibbrela moniliformis) Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur dan terutama timbul di musimhujanTanda-tanda penyakit ini adalah pada daun muda terlihat memutih (chlorosis). Pokkahbung adalah salah satu jenis penyakit yang sangat berbahaya bagi tanaman tebu, terutama di daerah beriklim basah (Sutardjo, 1994). 2. Penyakit Blendok (Xanthomonas albilincans) Penyakit ini menyerang tanaman tebu berumur 1,5-2 bulan. Tanda-tanda penyakit ini adalah pada penampang membujur dari batang-batang kelihatan perubahan warna dari kuning sampai merah tua, titik tumbuh dan

tunas-tunas juga berwarna merah. Gejala penyakit ini akan lenyap bila hujan turun. 3. Penyakit Mosaik Penyebab penyakit ini adalah virus mosaik. Tanda-tanda penyakit ini yaitu pada daun terdapat gambaran mosaik berupa garis-garis dan noda-noda berwarna hijau muda sampai kuning. 4. Penyakit Luka Api (Smut) Penyebab penyakit ini adalah Ustilago scitaminea syd. Gejala penyakit ini adalah timbul cambuk hitam pada pucuk tebu. 5. Penyakit Pembuluh Penyebab penyakit ini adalah bakteri Clavibacter xylisubsp xyli. Tanaman yang terserang menampakkan gejala pertumbuhan yang kurang sempurna terutama tanaman keprasan tampak kerdil (Dinas Perkebunan, 1994). Panen Tebang Muat Angkut (TMA) adalah tiga kegiatan yang tidak dapat dipisah dalam rangka memungut hasil batang tebu layak giling untuk dibawa ke pabrik. Kegiatan TMA dapat mempengaruhi kualitas kadar gula jika tidak ditangani dengan baik. Di lapangan kegiatan TMA masih jauh dari yang diharapkan. Walaupun telah memperoleh pengalaman, namun untuk mendapatkan tenaga tebang yang terampil sangat sulit untuk diharapkan. Umumnya tenaga tebang lebih banyak dilakukan oleh tenaga perempuan dari pada pria (Dinas Perkebunan, 2004). Tebang Tebangan baik untuk PC (tanaman yang berasal dari bibit baru) maupun Ratoon (tanaman yang tumbuh setelah penebangan plant cane) dilakukan dalam bentuk tebu segar (green cane). Waktu penebangan dan giling adalah Januari-Juli. Untuk menentukan waktu tebangan maka faktor yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut : Umur 10-12 bulan dan dapat dilihat dari masa tanamnya Gejala-gejala visual antara lain daun-daun tanaman tebu secara keseluruhan telah menguning

Nilai Kemasakan Tebu, dengan adanya Analisa Pendahuluan untuk mengetahui Faktor Kemasakan, Kosien Peningkatan dan Kosien Daya Tahan. Rencana Kapasitas Giling Pabrik

Pemeliharaan Tanaman Keprasan Pekerjaan Kepras harus dilakukan secepat mungkin setelah ditebang. Hal ini bertujuan agar Tunas yang dikepras masih dalam keadaan segar sehingga pertumbuhan tunas nantinya baik. Sebelum Keprasan perlu dilakukan Pembersihan dan Pembakaran sisa-sisa tanaman dan daduk. Keprasan dilakukan dengan cara manual menggunakan cangkul. Bentuk hasil Keprasan melihat apakah tanaman tersebut bekas TS I atau bekas keprasan yang sudah dikepras berulang-ulang. Untuk bekas tanaman TS I dibuat Model U, sedangkan untuk bekas keprasan yang sudah dikepras berkali-kali dibuat Model W. Pemeliharaan Pemeliharaan Tanaman TS Keprasan I, hanya pada yang dasarnya sama dengan :

Tanaman

membedakan

adalah

- PEDOT OYOT, dilakukan segera setelah dikepras. Tujuannya adalah untuk memutus akar lama dan mendorong tumbuhnya akar-akar baru yang sehat dan kuat, juga berguna Budidaya Tebu Lahan Kering ( Tegalan ) Penggarapan tanah. Waktu pengolahan tanah menjelang musim kemarau (periode I ) dan atau menjelang musim penghujan ( periode II ). Pembuatan got ditegalan hanya didaerah beriklim B1 dan B2 (daerah basah ) pada periode I Pengolahan tanah dengan membongkar, membalik dan menghancurkan tanah. Tanah yang diolah minimal 30 cm ; Pengolahan anah bertekstur berat dapat menggunakan bajak atau garu yang ditarik traktor. Tanah bertekstur sedang diolah dengan tenaga manusia. Diakhir pengolahan tanah dilakukan pembuatan kairan/jolangan sedalam 25 30 cm, jarak antara pusat kepusat 95 125 cm, panjang kairan sekitar 50 m tergantung keadaan lahan. Bahan tanaman Bibit bagal dari KBD dengan 3 4 mata tunas ;

Bibit pucuk (top stek ) panjang 35 40 cm ; Penanaman Waktu tanam untuk periode I bulan mei dan juli sedangkan periode II September Nopember. Bibit diletakan pada jaringan/jolangan dengan mata tunas disamping. Bibit ditutup tanah setebal 3 cm (periode I ) dan 5 cm ( periode II ) ; Penyulaman Penyulaman I tanaman umur 2 minggu. Penyulaman 2 tanaman umur 4 minggu. Bibit sulaman dan sumpingan yang ditanam diujung jolangan. - Pemupukan

Pembumbunan Bumbun I : Setelah pemupukan II, Bumbun 2 setelah tanaman berumur 3 3,5 bulan (semua tunas telah tumbuh) Penyiangan, pengendalian hama penyakit dan penebangan dilakukan seperti pada tebu lahan sawah. Tanaman Keprasan ( TRIT II IV ). Tebu lahan kering dapat dikepras sampai 3 x ; Pengeprasan seperti tebu pada lahan sawah ; Pemeliharaan TRIT II IV hampir sama dengan TRIT I :

Pemupukan TRIT II IV :

Pemupukan I : TSP 100% dosis, ZA 30 70%, dilakukan 2 minggu setelah kepras. Pemupukan I : ZA 70 30% (sisanya), KCL diberikan 6 minggu setelah kepras. Diberikan dengan cara ditabur dalam alur yang dibuat didekat tanaman kemudian ditutup tanah atau dengan cara ditugal.

Pengolahan gula putih, perhitungan rendemen dan bagi hasil. Pengolahan. Setelah tebu di panen/ditebang diangkut ke pabrik gula untuk diolah menjadi gula putih dengan menggunakan peralatan yang sebagian besar bekerja secara otomatis ; Beberapa tahap pengolahan gula putih yaitu : pemerahan cairan tebu ( nira), penjernihan, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, pengeringan pengemasan dan penyimpanan. Rendemen Rendemen adalah persentase perbandingan antara gula yang dihasilkan dengan sejumlah tebu yang digiling ; Beberapa macam rendemen yang dikenal antara lain rendemen contoh ( untuk menentukan kemasakan optimal tanaman tebu ), rendemen sementara, rendemen efektif. Prosedur perhitungan rendemen dan bagi hasil.

Pengendalian beberapa penyakit Hama tikus dikendalikan dengan pengumpanan menggunakan pestisida dan gropyokan yang dilakukan secara terpadu Hama penggerek batang ; Diroges ; Pelepasan Trichogramma nanun, T. minutun atau T Australian. ; Pelepasan Diatracophaga ( Lalat jatiroto ). ; Dengan insektisida.

Hama penggerek pucuk : Pelepasan trichogramma japonium ; Penyuntukan karbofuran ditengah batang atau melalui tanah dengan cara ditugal ; Hama Uret. Tanah disingkap dan hama uretnya dibunuh ; Insektisida ditaburkan pada dasar jolangan (sebelum tanam ).

DAFTAR PUSTAKA

Booker Tate Ltd. 1999. Study of The Indonesian Sugar Industry, (Vol.1-3). Research Report for Meneg BUMN, UK. Jakarta. Dewan Gula Indonesia. 1999. Restrukturisasi Gula Indonesia April 1999. Publikasi Interen DGI dan Bahan Diskusi Reformasi Gula Indonesia. Jakarta. Ditjen Bina Produksi Perkebunan. 2002. Program Akselerasi Peningkatan Produktivitas Gula Nasional: 2002-2007, (Buku 1). Ditjen BPP Deptan, Jakarta. Hadi, P.U., A.H. Malian, A. Djulin, A. Agustian, S.H. Suhartini dan S.H. Susilowati. 2002. Kajian Perdagangan Internasional Komoditas Petanian Indonesia Tahun 2001; Laporan Akhir Penelitian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. Lembaga Penelitian IPB. 2002. Studi Pengembangan Sistem Industri Pergulaan Nasional. Kerjasama antara Ditjen Bina Produksi Perkebunan dengan LP IPB, Bogor, Desember 2002. Malian, A.H., M. Ariani, K.S. Indraningsih, A.K. Zakaria, A. Askin dan J. Hestina. 2004. Revitalisasi Sistem dan Usaha Agribisnis Gula; Laporan Akhir. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor. Pusat Penelitian dan Pengembangan Gula Indonesia (P3GI). 2003. Studi Konsolidasi Pergulaan Nasional. Kerjasama Ditjen BPP Deptan dengan P3GI, Jakarta. Sawit, M.H., Erwidodo, T. Kuntohartono, dan H.Siregar. 2003. Penyelamatan dan Penyehatan Industri Gula Nasional. Naskah akademis final (19 Agustus 2003).