Anda di halaman 1dari 36

Glaukoma

Purnamandala 03008195

Pendahuluan
Glaukoma berasal dari kata Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberi kesan warna tersebut. Glaukoma adalah penyebab kebutaan kedua terbesar di dunia setelah katarak. Diperkirakan 66 juta penduduk dunia sampai tahun 2010 akan menderita gangguan penglihatan karena glaukoma. Kebutaan karena glaukoma tidak bisa disembuhkan, tetapi pada kebanyakan kasus glaukoma dapat dikendalikan

Anatomi dan Fisiologi

Anatomi dan Fisiologi


Cairan Akueus

Diproduksi di prosesus siliaris

Proses Produksi 1.Transport aktif (sekresi) 2. Ultrafiltrasi 3.Difusi

Fungsi 1. menjaga tekanan intraokuler 2. memberi nutrisi ke kornea dan lensa 3. memberi bentuk ke bola mata anterior

Aliran Akueus Humour

Tinjauan Pustaka
Glaukoma
Definisi
sekelompok penyakit neurooptic yang menyebabkan kerusakan serat optik (neuropati optik), yang ditandai dengan kelainan atau atrofi papil nervus opticus yang khas, adanya ekskavasi glaukomatosa, serta kerusakan lapang pandang dan biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan intraokular sebagai faktor resikonya.

Epidemiologi

Di Amerika Serikat, kira-kira 2.2 juta orang pada usia 40 tahun dan yang lebih tua mengidap glaukoma, sebanyak 120,000 adalah buta disebabkan penyakit ini. Menurut WHO Indonesia nomer satu kebutaan di Asia Tenggara yaitu 3 juta orang., kebutaan tersebut disebabkan oleh katarak (0,78%), glaukoma (0,2%), kelainan refraksi (0,14%) dan penyakit (0,38%).

Etiologi
Glaukoma terjadi karena peningkatan tekanan intraokuler yang dapat disebabkan oleh bertambahnya produksi humor akueus oleh badan siliar ataupun berkurangnya pengeluaran humor akueus di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil.

Faktor Resiko
Tekanan intarokuler yang tinggi umur Riwayat glaukoma dalam keluarga Obat-obatan Riwayat trauma pada mata Riwayat penyakit lain

Kongenital

Klasifikasi Galukoma
Glaukoma Primer Glaukoma Sekunder

Glaukoma Kongenital
Epidemiologi 0,01% dari 250000 penderita
Manifestasi Klinis Pemeriksaan Oftamologis Skelra:tipis dan terlihat lebih biru Kornea : keruh difuse,Udem, globe buphthalmos (> 12mm) , membran decement mudah robek. COA : akan menjadi dalam Lensa : Lensa tertekan kebelakang, dapat ditemukan dislokasi lensa Papil saraf optik : awalnya normal, akan tetapi dalam jangka waktu yang lama terdapat atrofi seperti pada glaukoma dewasa. TIO meningkat

Gejala Klinis Fotofobia Lakrimasi Blefarospasme

Glaukoma Primer Sudut Tertutup


Etiologi

Faktor Anatomi Bulbus okuli yang pendek, biasa pada mata yang hipermetrop. Tumbuhnya lensa,. Kornea yang kecil Tebalnya iris

Faktor Fisiologis
Akomodasi Dilatasi pupil

Stadium Prodroma
Anamnesis
Penglihatan kabur,terdapat halo sign,cephalgia,Nyeri Periorbita,Kelemahan Akomodasi Gejala timbul selama - 2 jam Hilang pada saat Istirahat Keluhan bisa menahun

Pemeriksaan Oftalmologi
Pada saat serangan

Visus turun Injeksi silier ringan, Udem kornea COA dangkal Pupil sedikit midrasis TIO meningkat

Stadium Kongestif
Anamnesis
Mengeluhkan sakit berat Penglihatan kabur, terdapat halo sign, cephalgia, Nyeri Periorbita Mual Muntah Lakrimasi

Pemeriksaan Oftalmologi
Visus turun Udem Palpebra Injeksi silier Udem kornea COA dangkal Pupil midrasis TIO meningkat

Akut

Iris Plateu

Klasifikasi Glaukoma Sudut Tertutup

Subakut

Kronik

Glaukoma Primer Sudut Terbuka


Etiopatogenesis

Degenerasi sel sel trabekula

Drainase berkurang

Peningkatan TIO

Menekan papil saraf optik

Faktor Resiko

Gejala Klinis

Umur lebih dari 40 tahun Peningkatan tekanan intra okuler Keturunan Afro-Amerika Riwayat trauma occular Penggunaan kortikosteroid yang lama Myopia Diabetes Melitus Hipertensi

Anamnesis Penglihatan kabur Cephalgia hilang timbul Halo sign Lapang pandang berkurang bertahap

Pemeriksaan Oftalmologis Visus turun Mata Tenang TIO meningkat Pada fundufkopi Excavatio glukomatous

Glaukoma Sekunder
Definisi

peningkatan tekanan intraokular yang terjadi sebagai suatu manifestasi dari penyakit mata lain dan obat obatan.

Sudut Terbuka

Klasifikasi

Sudut Tertutup

Sudut Tertutup sering karena blok pupil yang menyebabkan iris bonmbe

Etiologi Glaukoma Sekunder


Glaukoma Pigmentasi Glaukoma Pseudoeksfoliasi Dislokasi Lensa Fakotopik Fakolitik Glaukoma Kapsukaris Uveitis Melanoma Rubeosis Iridis Pasca Operasi

Sindrom Iridokornea Endotel

Akibat Perubahan Lensa

Peningkatan vena episklera Glaukoma Neovaskular

Kelainan pada uvea Hifema Kontusiso Bulbi Robek kornea

Akibat Trauma

Pemberian Steroid

Manifestasi Klinis
Sudut Tertutup (Gejala Akut)

Anamnesis

Pemeriksaan Oftalmologi

Lakrimasi Nyeri kepala hebat terutama daerah periorbita Muntah muntah Halo sign

Palpebra Udem Konjungtiva bulbi :injeksi siliar sampai mix injeksi Kornea : Udem COA :Dangkal Pupil : Midriasis TIO meningkat

Manifestasi Klinis
Sudut Terbuka (Gejala Kronik)

Pemeriksaan Oftalmologi Anamnesis Cephalgia hilang timbul Penglihatan kabur Lapang pandang berkurang secara bertahap sampai tunnel syndrom Visus turun Mata Tenang Funduskopi

Terdapat excavatio glukomatous


TIO meningkat Perimetri : Pengurangan lapang pandang

Pemeriksaan Penunjang
Uji Lain Glaukoma Tajam Penglihatan Tononmetri Gonioskopi Lapang Pandang Oftalmoskopi Test Provokasi Uji Kopi Uji Minum Air Uji steroid Uji variasi diurnal Uji Kamar Gelap Uji Provokasi Pilokarpin

Diagnosis Banding

Glaukoma Akut Keratitis Uveitis

Glaukoma Kronik Katarak Retinopati

Penatalaksanaan
Sudut Tertutup (AKUT) Sudut Terbuka (KRONIK)

Dilakukan Terapi Awal 2-4 hari sebelum operasi Parasimpatomimetik: pilokarpin 24%, setiap menit 1 tetes selama 5 menit. Kemudian diteruskan setiap jam. Inhibitor karbonik anhidrase: asetazolamid 250 mg, 2 tablet. Kemudian disusul dengan 1 tablet tiap 4 jam. Hiperosmotik: gliserin 50%, 1-1,5 gr/kg yang diberikan per oral.

Penatalaksanaan Seumur Hidup Parasimpatomimetik: pilokarpin 24%, 1 tetes, 3-6 kali sehari atau eserin 0,25-0,5%, 1 tetes, 3-6 kali sehari Agonis-: epinefrin 0,5-2%, 1 tetes, 2 kali sehari -blocker: timolol maleat 0,250,5%, 1 tetes, 1-2 kali sehari Inhibitor karbonik anhidrase: asetazolamid 250 mg, 1 tablet, 4 kali sehari

Pembedahan

Pembedahan dipilih karena TIO tidak dapat dikontrol hanya dengan pakan indikasi obat dan merupakan Indikasi Utama pada Glaukoma akut

Trabekulektomi

Iridektomi perifer Sklerotomi dari Scheie Cryotherapy surgery

Komplikasi
Sinekia anterior perifer Iris perifer melekat pada jalinan trabekel dan menghambat aliran mata keluar Katarak Lensa kadang-kadang melekat membengkak, dan bisa terjadi katarak. Lensa yang membengkak mendorong iris lebih jauh kedepan yang akan menambah hambatan pupil dan pada gilirannya akan menambah derajat hambatan sudut. Atrofi retina dan saraf optik Daya tahan unsure-unsur saraf mata terhadap tekanan intraokular yang tinggi adalah buruk.

Prognosis
Tanpa pengobatan, glaukoma dapat mengakibatkan kebutaan total. Apabila obat tetes anti glaukoma dapat mengontrol tekanan intraokular pada mata yang belum mengalami kerusakan glaukomatosa luas, prognosis akan baik. Apabila proses penyakit terdeteksi dini sebagian besar pasien glaukoma dapat ditangani dengan baik

Kesimpulan
Glaukoma merupakan sekelompok penyakit neurooptic yang menyebabkan kerusakan serat optik (neuropati optik), yang ditandai dengan kelainan atau atrofi papil nervus opticus yang khas, adanya ekskavasi glaukomatosa, serta kerusakan lapang pandang dan biasanya disebabkan oleh efek peningkatan tekanan intraokular sebagai faktor resikonya. Secara garis besar glaukoma dibagi menjadi dua yaitu sudut tertutup dan sudut terbuka,keduanya memiliki gejala dan prognosis berbeda.Penyebab dari keduanya dibagi menjadi kongenital,primer, dan sekunder.Gejala akut terlihat pada glaukoma sudut tertutup. Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan visus, Tonometri, Genioskopi, Lapang pandang, Oftalmoskopi, Tonografi, Tes provokasi.Semakin cepat diagnosis mempengaruhi prognosis pasien.

Daftar Pustaka
Drake Ricahrd L,Vagi A.Wayne,Mitchell Adam W,M.. Grays anatomy for Students, 2010,ed 2 ,Philadelphia .Elsavier Dorland, W. A.. Newman. Kamus Kedokteran Dorland, 2002,edisi 29. Jakarta.EGC. Wijana,Nana.Ilmu penyakit mata. 1993,Jakarta :Abadi Tegal Khurana,A.K,Comprehensive Ophthalmology,2005,ed 4,New Delhi,NAIL Ilyas S. Glaukoma dalam ilmu penyakit mata. Ed 3. Cetakan ke 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007 Vaughan DG, Eva RP, Asbury T. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Widya Medika. Jakarta. 2000. Ilyas S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. Ningrum. Glaukoma Neovaskular. [Online] 2010. Accesed 8 September 2013 tersedia dari. http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/06/29/glaukoma-neovaskuler.html Kanski JJ. Sign in Ophtalmology. Butterworth Heineann. London. 2010 Vegan. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Glaukoma. [Online] 2010. Tersedia dari http://drvegan.wordpress.com/2010/07/31/diagnosis-dan-pemeriksaan-penunjangglaukoma/ Accesed 8 Septmber 2013 Gerhard KL, Oscar, Gabriele, Doris, Peter. Ophtalmology a short textbook. Second edition. Thieme Stuttgart : New York. 2007.

Anda mungkin juga menyukai