Anda di halaman 1dari 4

Pembentukan Urea.

Katabolisme protein dan asam-asam amino menghasilkan pembentukan urea, yang sebagian besar dibersihkan dari tubuh oleh ginjal. Protein Proteolisis, dilakukan oleh enzim,Asam amino Transaminasi dan deaminasi oksidatif , Amonia , Sintesis enzimatis dalam siklus urea , !rea, !rea "#$%&'()(* merupakan produk metabolik mengandung nitrogen dari katabolisme protein pada manusia, yang me+akili lebih dari ,-. nitrogen non-protein yang dieksresikan. /iosintesis urea dari amonia asal nitrogen-asam-amino dilakukan oleh enzim hepatik pada siklus urea. Selama proses katabolisme protein, nitrogen asam amino dikon0ersi menjadi urea dalam hati melalui enzim siklus urea "1br. (2-(*. 3ebih dari 45. urea diekskresikan melalui ginjal, dan sebagian melalui saluran gastrointestinal dan kulit. Akibatnya, penyakit ginjal terkait dengan penumpukan urea dalam darah. Peningkatan konsentrasi urea plasma menandai kondisi uremik "azotemik*. !rea diserap ulang se6ara aktif atau disekresikan oleh tubula-tubula tetapi disaring se6ara bebas oleh glomerulus. Pada ginjal normal, 75. sampai ,5. urea yang sangat difusif bergerak se6ara pasif keluar dari tubula ginjal dan ke dalam interstitium, yang pada akhirnya memasuki plasma kembali. 8ifusi urea yang baik juga tergantung pada laju aliran urin, dengan lebih sedikit yang memasuki interstitium pada keadaan aliran-tinggi "seperti, saat hamil* dan sebaliknya. Akibatnya, bersihan urea pada umumnya menjadi ukuran 19: "laju filtrasi glomerular* yang kurang tepat. Pada ;S:8, diuresis osmotik pada nefron-nefron yang tetap fungsional membatasi difusi balik urea sehingga bersihan urea mendekati bersihan inulin "dengan mempertimbangkan metode referensi untuk penilaian 19:*. Pengukuran kadar urea darah dan plasma telah bertahun-tahun digunakan sebagai indikator fungsi ginjal. Akan tetapi, sekarang ini umumnya disepakati bah+a pengukuran kreatinin memberikan informasi yang lebih baik dalam hal ini. <eskipun demikian, pengukuran urea plasma dan urin mungkin masih memberikan informasi klinis yang bermanfaat pada kondisi-kondisi tertentu, dan pengukuran urea dalam 6airan-6airan dialisis banyak digunakan dalam menilai kelayakan terapi penggantian ginjal. /eberapa faktor eksternal mempengaruhi konsentrasi urea yang bersirkulasi, sehingga membatasi manfaatnya sebagai sebuah uji fungsi ginjal. Sebagai 6ontoh, konsentrasi urea plasma meningkat dengan "2* diet berprotein tinggi, "(* katabolisme protein yang meningkat, "=* reabsorpsi protein darah setelah perdarahan gastrointestinal, "7* pengobatan dengan kortisol atau analog-analog sintetiknya, "-* dehidrasi, dan dengan ">* perfusi ginjal yang menurun "seperti gagal jantung*. Pada kondisi-kondisi pra-renal ini, konsentrasi kreatinin plasma bisa normal. Pada kondisi pas6a-renal obstruktif "seperti tumor ganas, nefrolithiasis, dan prostatisme*, kreatinin plasma dan konsentrasi urea akan meningkat, +alaupun pada situasi-situasi ini sering terdapat peningkatan urea plasma yang lebih besar dibanding kreatinin karena difusi balik yang meningkat. Pertimbanganpertimbangan ini menghasilkan pemanfaatan urea plasma se6ara klinis, yakni pengukuran kadarnya dalam kaitannya dengan kreatinin plasma untuk perhitungan rasio nitrogen

urea?kreatinin selanjutnya. :asio ini telah digunakan sebagai sebuah pembeda antara azotemia pra-renal dan pas6a-renal. Sebagai 6ontoh, untuk indi0idu normal yang tidak melakukan diet, inter0al referensi untuk rasio ini adalah antara 2( sampai (5 mg urea?mg kreatinin "74 sampai @2 mol urea?mol kreatinin*. :asio yang se6ara signifikan lebih rendah biasanya menunjukkan "2* nekrosis tubular akut, "(* asupan protein rendah, "=* kelaparan, atau "7* penyakit hati parah "sintesis urea menurun*. !rea plasma yang meningkat dengan konsentrasi kreatinin normal sehingga menghasilkan rasio tinggi bisa ditemukan pada kondisi-kondisi pra-renal manapun yang disebutkan di atas. :asio tinggi yang terkait dengan konsentrasi kreatinin yang meningkat bisa menunjukkan obstruksi pas6a-renal atau azotemia pra-renal yang menyertai penyakit ginjal. /ersihan urea merupakan sebuah indikator 19: yang lebih baik, karena tingkat produksinya tergantung pada beberapa faktor yang tidak berkaitan dengan ginjal, termasuk diet dan akti0itas enzim siklus urea. 8iet berprotein tinggi menyebabkan peningkatan eksresi urea dalam urin se6ara signifikan. 8isamping itu, jumlah difusi balik yang ber0ariasi akan mempengaruhi konsentrasi urea dalam plasma dan urin. Pengukuran urea urin hanya sedikit membantu dalam diagnosis klinis dan penatalaksanaan pasien. Akan tetapi, pengukuran urea memberikan indeks kasar tentang keseimbangan nitrogen se6ara keseluruhan dan bisa digunakan sebagai sebuah panduan untuk terapi penggantian "repla6ement therapy* pada pasien-pasien yang mendapatkan gizi parenteral. Pada diet berprotein rata-rata, ekskresi urin yang dinyatakan sebagai nitrogen urea adalah 2( sampai (5 g?hari . <etode kimia dan enzimatis digunakan untuk menghitung urea dalam 6airan tubuh. Kebanyakan metode kimia untuk urea didasarkan pada reaksi 9earon dimana diasetil berkondensasi dengan urea membentuk diazon kromogen, yang menyerap kuat pada panjang gelombang -75 nm. .Karena tidak stabil, diasetil biasanya dihasilkan dalam sistem reaksi dari diasetil monoksida dan asam. Aalaupun pernah banyak digunakan, metode ini telah digantikan oleh pendekatan-pendekatan enzimatis . <etode-<etode ;nzimatis <etode-metode enzimatis untuk pengukuran urea didasarkan pada hidrolisis pendahuluan urea dengan urease "urea amidohidrolase, ;# =.-.2.-* untuk menghasilkan amonia, yang kemudian dihitung. Pendekatan ini telah digunakan dalam "2* fotometri kesetimbangan, "(* fotometri kinetik, "=* konduktimetri, dan "7* sistem kimia kering. !ntuk uji plasma, sistem reaksi mengandung urease sehingga penambahan sampel yang mengandung urea memulai reaksi. Penurunan absorbansi yang disebabkan oleh reaksi glutamat dehidrogenase dipantau pada panjang gelombang =75 nm. Pada 6ontoh lain dari sistem uji enzim-berpasangan untuk urea, amonia yang dihasilkan dari urea oleh urease kemudian bereaksi dengan glutamat dan adenosin trifosfat "ATP* dengan adanya glutamin sintetase ";# >.=.2.(*. Adenosin triposfat "A8P* yang dihasilkan pada reaksi enzimatis kedua ini kemudian dihitung dalam tahap ketiga dan keempat dengan menggunakan piru0at kinase ";# (.,.2.75* dan piru0at oksidase ";# 2.(.=.=*, masingmasing, sehingga menghasilkan peroksida. Pada tahap akhir, peroksida bereaksi dengan fenol dan 7-aminofenazon, yang dikatalisis oleh peroksidase horseradish "donorBhidrogen-peroksida oksidoreduktaseC ;# 2.22.2.,*, untuk menghasilkan zat +arna kuinon-monoamida yang dihitung se6ara spektrofotometri. <etode-metode untuk pengukuran urea dengan menggunakan sistem kimia kering telah

dilaporkan dengan menggunakan pendekatan urease dan berbagai metode pendeteksian. Pada salah satu pendekatan, sebuah membran semi-permeabel memisahkan tahapan pertama dari reaksi yang melibatkan urease, dan amonia dideteksi dengan menggunakan reaksi indikator p' sederhana. !rea juga telah diukur dengan menggunakan metode konduktimetri dimana sebuah sampel dan reagen yang mengandung urease diinkubasi dalam sebuah sel kondukti0itas dengan laju perubahan produkti0itas yang dipantau pada saat urea dikon0ersi menjadi spesies ionik. Pada sebuah pendekatan potensiometri, sebuah elektroda selektif-ion amonium digunakan dan urease diimobilisasi pada sebuah membranC prinsip ini telah diterapkan pada beberapa alat penguji pera+atan. Spesifitas semua metode ini pada umumnya berterima, khususnya untuk prosedur dehidrogenase urease-glutamatC akan tetapi, interferensi amonia endogen harus diantisipasi ketika protokol yang digunakan memanfaatkan sampel untuk menginisiasi reaksi. Dni bisa rele0an pada sampel-sampel lama, pada beberapa urin, dan pada gangguan metabolik tertentu . Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembuatan urea 9aktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan urea adalah temperatur, tekanan, perbandingan #$( dan &'= dan kandungan air dan oksigen. a) Temperatur Pengaruh temperatur pada proses sintesa urea dapat dijelaskan oleh asas 3e #hatelier yang berbunyi jika suatu sistem berada dalam kesetimbangan, suatu kenaikan temperatur akan menyebabkan kesetimbangan itu bergeser ke arah yang menyerap kalor. :eaksi sintesis urea merupakan reaksi yang eksotermis B (&'="g* E #$("g* &'(#$&'("aF* E '($"l* sedangkan reaksi penguraian urea menurut reaksi diba+ah ini adalah reaksi endotermis B &'(#$&'("aF* E '($"l* (&'="g* E #$("g* Perubahan temperatur akan mengakibatkan bergesernya tetapan kesetimbangan reaksi. &aiknya temperatur akan mengakibatkan reaksi bergeser ke arah kiri "endothermis* atau menurunkan kon0ersi pembentukan urea. 8isamping itu, kenaikan temperatur juga akan mengakibatkan ke6epatan reaksi pembentukan urea menjadi semakin besar. Kondisi yang paling optimal dalam reaktor adalah sekitar (55o# yaitu temperatur di mana kon0ersi mendekati kesetimbangan dengan +aktu tinggal 5,=-2 jam. /ila temperatur reaktor turun, maka kon0ersi ammonium karbamat menjadi urea akan berkurang sehingga memberi beban lebih berat pada seksi-seksi berikutnya. Gika temperatur turun sampai 2-5o# akan menyebabkan timbulnya ammonium karbamat menempel pada reaktor. Sebaliknya, bila temperatur melebihi (55o# maka laju korosi dari Titanium 3ining akan meningkat dan tekanan kesetimbangan di dalam reaktor dari 6ampuran reaksi akan melampaui tekanan yang dibutuhkan. 8i samping itu, hasil dari reaksi samping yang besar akan menyebabkan turunnya kon0ersi pembentukan urea. Gadi laju reaksi yang baik pada suhu 2@5-(55o# dalam +aktu (5->5 menit atau pada suhu rendah dengan ammonia berlebih. b) Tekanan Pengaruh perubahan tekanan dalam 6ampuran kesetimbangan gas dapat dipahami melalui asas 3e #hatelier. <enurut asas ini, kenaikan tekanan menyebabkan reaksi bergeser ke kanan, tetapi jika tekanan berkurang maka ke6epatan tumbukan molekul akan berkurang, sehingga ke6epatan reaksi akan berkurang dalam sistem kesetimbangan,

(&'="l* E #$("g*

&'(#$&'("aF* E '($"l*

Tekanan yang digunakan adalah (55 kg?6m(1. Pemilihan tekanan operasi ini berdasarkan pertimbangan bah+a kon0ersi ammonium karbamat menjadi urea hanya terjadi pada fase 6air dan fase 6air dapat dipertahankan dengan tekanan operasi yang tinggi. Pada suhu tetap kon0ersi naik dengan naiknya tekanan hingga titik kritis, dimana pada titik ini reaktan berada pada fase 6air. !ntuk perbandingan &'= dan #$( yang stokiometris suhu 2-55# dan tekanan 255 atm memberikan keadaan yang hampir optimum tetapi pada suhu ini reaksi berjalan lambat. Pada suhu 245 H ((5o#, tekanan yang digunakan berkisar antara 275 H (-5 atm. c) Perbandingan NH3 dan CO Perbandingan &'= dan #$( berkisar =,- H 7 karena selain mempengaruhi suhu reaktor, jumlah ammonia dapat mempengaruhi reaksi se6ara langsung. Adanya kelebihan ammonia dapat memper6epat reaksi pertama. 8i samping itu, kelebihan ammonia juga akan men6egah terjadinya reaksi pembentukan biuret dengan reaksi B (&'(#$&'("l* &'(#$&'#$&'("l* E &'="g* . Terbentuknya biuret yang berlebihan tidak diinginkan karena merupakan ra6un bagi tanaman sehingga jumlahnya dibatasi hanya 5,- . dari produk urea. Perbandingan mol &'= B #$( optimum adalah 7 B 2. dengan nilai itu diharapkan reaksi pertama dapat berjalan 6epat sekaligus men6egah terjadinya pembentukan biuret. d) !andungan air dan ok"igen Adanya air akan mempengaruhi reaksi terutama reaksi kedua yaitu peruraian karbamat menjadi urea dan air sehingga dapat mengurai kon0ersi karbamat menjadi urea. Pada umumnya, proses didesain untuk meminimalkan jumlah air yang dire6y6le ke reaktor. Adanya sedikit oksigen akan mengurangi korosi. Se6ara keseluruhan reaksi diatas adalah eksotermis sehingga diperlukan pengaturan terhadap suhu didalam reaktor supaya suhu tetap pada kondisi optimum, untuk mengatur suhu maka diaturB a* Gumlah ammonia masuk reaktor b* Gumlah larutan ammonium karbamat re6y6le yang masuk reaktor 6* Pengaturan suhu ammonia umpan dalam ammonia preheater. Sebagai hasil reaksi di atas maka komponen yang keluar reaktor adalah urea, biuret , ammonium karbamat, kelebihan ammonia dan air.