Anda di halaman 1dari 18

SOL (Space Occupying Lession)

A. Definisi SOL ( Space Occupying Lesion ) merupakan generalisasi masalah tentang adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak dan tumor intracranial ( Long C : 130). Lesi desak ruang (space occupying lesion/SOL) merupakan lesi yang meluas atau menempati ruang dalam otak termasuk tumor, hematoma dan abses. Posisi tumor dalam otak dapat mempunyai pengaruh yang dramatis pada tandatanda dan gejala. Misalnya suatu tumor dapat menyumbat aliran keluar dari cairan serebrospinal atau yang langsung menekan pada vena-vena besar, meyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intracranial dengan cepat. Tumor otak adalah sebuah lesi yang terletak pada intrakranial yang menempati ruang di dalam tengkorak. (http://www.tumor_otak/2008.com). Tumor otak adalah lesi oleh karena ada desakan ruang baik jinak / ganas yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak (Lombardo, Mary caster 2005 : 1183).

B. Etilogi

1. Riwayat trauma kepala Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf pusat belum diketahui gejala klinis. 2. Faktor genetik Tumor susunan saraf pusat primer nerupakan komponen besar dari beberapa gangguan yang diturunkan sebagi kondisi autosomal, dominant termasuk sklerasis tuberose, neurofibromatosis. 3. Paparan zat kimia yang bersifat karsinogenik dan virus

Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan virus menyebabkan terbentuknya neoplasma primer susunan saraf pusat tetapi hubungannya dengan tumor pada manusia masih belum jelas 4. Defisiensi imunologi dan congenital (ngatisyah, 2001) Penyebab dari SOL ini dapat berupa : 1. Malignansi a. Meliputi metastase, glioma, meningioma, adenoma pituitary, dan neuroma akustik merupakan 95% dari seluruh tumor. b. Pada dewasa 2/3 dari tumor primer terletak supratentorial, tetapi pada anakanak 2/3 tumor terletak infratentorial. c. Tumor primer umumnya tidak melakukan metastasis dan sekitar 30% tumor otak merupakan tumor metastasis dan 50% diantaranya adalah tumor multipel. SOL lain meliputi : 2. Hematoma , yang dapat disebabkan trauma. 3. Abses serebral. 4. Amubiasis serebral dan cystiserkosis. 5. Limfoma yang sering terjadi akibat infeksi HIV. 6. Granuloma dan tuberkuloma.

C. Faktor Resiko

Faktor resiko tumor otak dapat terjadi pada setiap kelompok, ras, insiden meningkat seiring dengan pertambahan usia terutama pada dekade kelima, keenam dan ketujuh . Faktor resiko akan meningkat pada orang yang terpajan zat kimia tertentu (okrionitil, tinta, pelarut, minyak pelumas), namun hal tersebut belum bisa dipastikan. Pengaruh genetik berperan serta dalam timbulnya tumor, penyakit sklerosis TB dan penyakit neurofibomatosis.

D. Manifestasi Klinis

1. Gejala klinik umum timbul karena peningkatan tekanan intracranial, meliputi : a. Nyeri kepala merupakan gejala awal pada 20% pasien tumor yang kemudian berkembang menjadi 60% . Nyeri kepala berat juga diperberat dengan oleh perubahan posisi, batuk, manuever valsava dan aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% pasien. Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80% dan terutama pada bagian frontal. Tumor fossa posterior memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher. Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut diketemukan 70% kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut, umumnya bertambah berat pada malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Nyeri kepala terutama terjadi pada waktu bangun tidur, karena selama tidur PCO2 arteri serebral meningkat, sehingga mengakibatkan peningkatan dari serebral blood flow dan dengan demikian mempertinggi lagi tekanan intrakranium. Juga lonjakan tekanan intrakranium sejenak karena batuk, bersin, coitus dan mengejan akan memperberat nyeri kepala. Nyeri kepala juga bertambah berat waktu posisi berbaring, dan berkurang bila duduk. Adanya nyeri kepala dengan psicomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak. Nyeri kepala pada tumor otak, terutama ditemukan pada orang dewasa dan kurang sering pada anak-anak. Pada anak kurang dari 10-12 tahun, nyeri kepala dapat hilang sementara dan biasanya nyeri kepala terasa di daerah bifrontal serta jarang didaerah yang sesuai dengan lokasi tumor. Pada tumor di daerah fossa posterior, nyeri kepala terasa dibagian belakang dan leher.Penyebab nyeri kepala ini diduga akibat tarikan (traksi) pada pain sensitive structure seperti dura, pembuluh darah atau serabut saraf. Nyeri kepala merupakan gejala permulaan dari tumor otak yang berlokasi di daerah lobus oksipitalis. b. Muntah tanpa diawali dengan mual, mengindikasikan tumor yang luas dengan efek massa tumor tersebut juga mengidikasikan adanya pergeseran otak. Muntah dijumpai pada 1/3 penderita dengan gejala tumor otak dan biasanya disertai dengan nyeri kepala. Muntah tersering adalah akibat tumor di fossa posterior.

Muntah tersebut dapat bersifat proyektil atau tidak dan sering tidak disertai dengan perasaan mual serta dapat hilang untuk sementara waktu. c. Perubahan status mental, penurunan kesadaran meliputi gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan berkurangnya inisiatif yang terletak pada lobus frontal atau temporal. d. Ataksia dan gangguan keseimbangan. e. Gagal nafas karena SOL menekan bagian batang otak dan pons varoli. Karena pons varoli terdapat premotoksid yang mengatur gerakan pernafasan dan reflex. f. Seizure (kejang) adalah gejala tumor yang berkembang lambat, paling sering terjadi pada tumor di lobus frontal kemudian pada tumor lobus parietal dan temporal. Gejala epilepsi yang muncul pertama kali pada usia pertengahan mengindikasikan adanya suatu SOL. Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila:

i. ii. iii. iv. v.

Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun Mengalami post iktal paralisis Mengalami status epilepsi Resisten terhadap obat-obat epilepsi Bangkitan disertai dengan gejala TTIK lain Frekwensi kejang akan meningkat sesuai dengan pertumbuhan tumor. Pada tumor di fossa posterior kejang hanya terlihat pada stadium yang lebih lanjut. Schmidt dan Wilder (1968) mengemukakan bahwa gejala kejang lebih sering pada tumor yang letaknya dekat korteks serebri dan jarang ditemukan bila tumor terletak dibagian yang lebih dalam dari himisfer, batang otak dan difossa posterior. Bangkitan kejang ditemukan pada 70% tumor otak di korteks, 50% pasien dengan astrositoma, glioblastoma. 40% pada pasien meningioma, dan 25% pada

g. Papil edem, dapat dinilai dengan ophthalmoskop. Pada keadaan awal tidak menyebabkan hilangnya daya penglihatan, tetapi edem papil yang berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap.

2. Gejala lokal yang menyesatkan dan tanda lateralisasi Gejala lokal yang menyesatkan ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor yang sebenarnya. Sering disebabkan karena penigkatan tekanan intrakranial, pergeseran dari struktur-struktur intrakranial atau iskemi. Gejalagejala tersebut meliputi parese nervus VI, sindrom horner, gejala-gejala serebelum belum mengindikasikan lokasinya di serebelum. Lesi pada salah satu kompartemen otak dapat menginduksi pergeseran dan kompresi di bagian otak yang jauh dari lesi primer. Tumor otak yang menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dapat menghasilkan false localizing signs atau gejala lokal yang menyesatkan. Suatu tumor intrakranial dapat menimbulkan manifestasi yang tidak sesuai dengan fungsi area yang ditempatinya. Tanda tersebut adalah: a. Kelumpuhan saraf otak. Karena desakan tumor, saraf dapat tertarik atau tertekan. Desakan itu tidak harus langsung terhadap saraf otak. Saraf yang sering terkena tidak langsung adalah saraf III, IV, dan IV. b. Refleks patologis yang positif pada kedua sisi, dapat ditemukan pada tumor yang terdapat di dalam salah satu hemisferium saja. c. d. Gangguan mental Gangguan endokrin dapat juga timbul proses desak ruang di daerah hipofise.

3. Gejala klinik local Manifestasi lokal terjadi pada tumor yang menyebabkan destruksi parenkim, infark atau edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor ke daerah sekitar tumor (contohnya : peroksidase, ion hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin), semuanya dapat menyebabkan disfungsi fokal yang reversibel. a. Tumor Lobus Frontal Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti paralisis pos-iktal. Meningioma kompleks atau parasagital dan glioma frontal khusus berkaitan dengan kejang. Tanda lokal tumor frontal antara lain disartri, kelumpuhan kontralateral, dan afasia jika hemisfer dominant dipengaruhi. Anosmia unilateral menunjukkan adanya tumor bulbus olfaktorius. b. Tumor Lobus Temporalis Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, defisit lapangan pandang homonim, perubahan kepribadian,

disfungsi memori dan kejang parsial kompleks. Tumor hemisfer dominan menyebabkan afasia, gangguan sensoris dan berkurangnya konsentrasi yang merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Adapun gejala yang lain diantaranya disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, hemianopsia/

quadrianopsia inferior homonim kontralateral dan simple motor atau kejang sensoris. c. Lobus parietal : Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori , kortikal hemianoksi homonim. Bila terletak di area motorik dapat timbul timbul kejang kokal dan pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom GOSSTMANNS d. Tumor Lobus Oksipital Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang kongruen. Kejang fokal lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral episodic terhadap cahaya senter, warna atau pada bentuk geometri. e. Tumor pada Ventrikel Tiga dan Regio Pineal Tumor di dalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat ventrikel atau aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus. Perubahan posisi dapat meningkatkan tekanan ventrikel sehingga terjadi sakit kepala berat pada daerah frontal dan verteks, muntah dan kadang-kadang pingsan. Hal ini juga menyebabkan gangguan ingatan, diabetes insipidus, amenorea, galaktorea dan gangguan pengecapan dan pengaturan suhu. f. Tumor Batang Otak Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan pandang, nistagmus, ataksia dan kelemahan ekstremitas. Kompresi pada ventrikel empat menyebabkan hidrosepalus obstruktif dan menimbulkan gejala-gejala umum. g. Tumor Serebellar Muntah berulang dan sakit kepala di bagian oksiput merupakan gejala yang sering ditemukan pada tumor serebellar. Pusing, vertigo dan nistagmus mungkin menonjol. h. Tumor di cerebellopontin angie Gangguan fungsi pendengaran i. Tumor hipotalamus Gangguan cerebrospinalis. perkembangan seksual pada anak-anak, gangguan cairan

j.

Tumor fosa posterior Gangguan berjalan, nyeri kepala dan muntah disertai dengan nystacmus.

E. Klasifikasi Berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi : 1. a. b. c. d. 2. Jinak Acoustic neuroma Meningioma Pituitary adenoma Astrocytoma ( grade I ) Malignant a. b. c. Astrocytoma ( grade 2,3,4 ) Oligodendroglioma Apendymoma

Berdasarkan lokasi tumor dapat dibagi menjadi : 1. Tumor intradural : a. Ekstramedular b. Cleurofibroma c. Meningioma intramedural d. Apendimoma e. Astrocytoma f. Oligodendroglioma 2. Hemangioblastoma: a. Tumor ekstradural : Merupakan metastase dari lesi primer. (smeltzer, 2002) Stadium tumor berdasarkan sistem TNM ( stadium TNM ). Terdiri dari 3 kategori, yaitu: T ( tumor primer ), N ( nodul regional, metastase ke kelenjar limfe regional ) dan M ( metastase jauh ). b. Kategori T : 1. Tx = syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi. 2. Tis = Tumor in situ. 3. T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer. 4. T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm.

5. T2 = Tumor dengan f maksimal 2 5 cm. 6. T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm. 7. T4 = Tumor invasi keluar organ. 8. Kategori N : 9. N0 = Nodul regional negative. 10. N1 = Nodul regional positif, mobile ( belum ada perletakan ). 11. N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan. 12. N3 = Nodul jukstregional atau bilateral. 13. Kategori M : 14. Mo = Tidak ada metastase organ jauh. 15. M1 = Ada metastase organ jauh. 16. M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.

F. Stadium 1. Grade 1 Jaringan tersebut jinak, terlihat seperti sel otak normal dan pertumbuhannya lambat 2. Grade 2 Jaringan tersebut ganas, kurang terlihat seperti sel otak normal dibandingkan dengan grade 1 3. Grade 3 Jaringan ganas memiliki sel-sel yang terlihat sangat berbeda dari sel normal, sel-sel yang abnormal secara aktif tumbuh, sel-sel yang abnormal yang muncul disebut anaplastik 4. Grade 4 Jaringan ganas memiliki sel yang terlihat paling abnormal dan cenderung tumbuh sangat cepat. (Vinay Kumar, 2003)

G. Komplikasi a. b. c. d. Gangguan fungsi neurologist Gangguan kognitif Gangguan tidur dan mood Disfungsi seksual

e. f.

Herniasi Foramen magnum Herniasi otak (sering fatal) Herniasi otak merupakan pergeseran dari otak normal melalui atau antar wilayah ke tempat lain karena efek massa, ini adalah komplikasi dari efek massa baik dari tumor, trauma atau infeksi.

g. h. i. j. k.

Herniasi unkal Kerusakan neurologis permanen, progresif, dan amat besar Kehilangan kemampuan untuk berinteraksi atau berfungsi Efek samping medikasi, termasuk kemoterapi Efek samping penatalaksanan radiasi a. selama tindakan: peningkatan edema, reversible b. setelah beberapa minggu/bulan: demielinasi c. enam bulan-10 tahun: radionekrosis, irreversible (biasanya satu hingga dua tahun)

l.

Rekurensi pertumbuhan tumor. (doengoes, 2000)

H. Pemeriksaan Diagnostik

1. CT Scan (Computerized Tomografi) Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan, jejas tumor, dan meluasnya edema serebralsekunder serta member informasi tentang sistem vaskuler

Post-contrast axial CT scan Kepala Gambaran Abscess Cerebri SOL digambarkan dengan hipodens Smooth peripheral ring enhancement (Garis Putih Linier) Di sekelilingnya terdapat edem Lokasi: Regio Fronto-parietal

2. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Membantu dalam mendeteksi jejas yang kecil dan tumor didalam batang otakdan daerah hiposisis, dimana tulang menggangudalam gambaran yang menggunakan CT Scan

MRI pada Ganglia Basalis.Pasien Laki-laki24 tahun dengan HIV Infeksi. Menggambarkan lesi hipointens pada Talamus. Disebabkan Toxoplasmosis.

3. Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberi dasar pengobatan seta informasi prognosisi 4. Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor 5. Elektroensefalografi ( EEG ) Elektroensefalogram (EEG) merekam aktivitas umum elektrik di otak, dengan meletakkan elektroda pada area kulit kepala atau dengan menempatkan mikroelektroda dalam jaringan otak. Pemeriksaan ini memberikan pengkajian fisiologis aktivasi serebral. 6. Mendeteksi gelombang otak abnormal. 7. Ekoensefalogram Ekoensefalogram memberi informasi mengenai pergeseran kandungan intra serebral. 8. Foto rontgen polos

Foto rontgen polos tengkorak dan medulla spinalis sering digunakan untuk mengidentifikasi adanya fraktur, dislokasi, dan abnormalitas tulang lainnya, terutama dalam penatalaksanaan trauma akut. Selain itu, foto rontgen polos mungkin menjadi diagnostik bila kelenjar pineal yang mengalami penyimpangan letak terlihat pada hasil foto rontgen, yang merupakan petunjuk dini tentang adanya SOL (space occupying lesion). (Arif Muttaqin, 2008).

9. Angiografi serebral Angiografi serebral adalah proses pemeriksaan dengan menggunakan sinar-x terhadap sirkulasi serebral setelah zat kontras disuntikkan ke dalam arteri yang dipilih. 10. Radiogram Memberikan informasi yang sangat berharga mengenai struktur, penebalan dan klasifikasi, posisi kelenjar pineal yang mengapur, dan posisi selatursika. 11. Sidik otak radioaktif Memperlihatkan daerah-daerah akumulasi abnormal dari zat radioaktif. Space Occupying Lesion (SOL) mengakibatkan kerusakan sawar darah otak yang menyebabkan akumulasi abnormal zat radioaktif. 12. Biopsi stereotaktik bantuan-komputer (tiga dimensi) Biopsi stereotaktik digunakan untuk mendiagnosis kedudukan lesi yang dalam dan untuk memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis. (Suzanne C. Smeltzer, 2001).

I. Penalaksanaan Penatalaksanaan tergantung pada penyebab lesi: 1. Untuk tumor primer, jika memungkinkan dilakukan eksisi sempurna, namun umumnya sulit dilakukan sehingga pilihan pada radioterapi dan kemoterapi, namun jika tumor metastase pengobatan paliatif yang dianjurkan. 2. Hematom membutuhkan evakuasi. 3. Lesi infeksi membuthkan evakuasi dan terapi antibiotik. Pengobatan lain yang diperlukan meliputi: a. Deksametason yang dapat menurunkan edem serebral. b. Manitol, untuk menurunkan peningkatan tekanan intrakranial.

c. Antikonvulsan, sesuai gejala yang timbul. (budi sudarwo, 2004) 4. Pembedahan Beberapa tumor jinak harus diangkat melalui pembedahan karena mereka terus tumbuh di dalam rongga sempit dan bisa menyebabkan kerusakan yang lebih parah atau kematian. Meskipun pengangkatan tumor tidak dapat menyembuhkan kanker, tetapi bisa mengurangi ukuran tumor, meringankan gejala dan membantu menentukan jenis tumor serta pengobatan lainnya. Pembedahan tumor primer seringkali diindikasikan untuk mencapai diagnosis histologis dan jika mungkin, untuk meringankan gejala dengan mengurangi massa tumor. Pemeriksaan histologis dari biopsi tumor dapat mengkonfirmasi apakah lesi merupakan suatu glioma dan bukan neoplasma lainnya, misalnya limfoma, atau bahkan kondisi nonneoplasia, misalnya abses. Pemeriksaan ini juga memungkinkan dilakukannya penentuan tingkat derajat diferensiasi tumor yang berhubungan dengan prognosis. Jadi, pasien glioma derajat 1-2 memiliki angka harapan hidup yang tinggi. Akan tetapi, median angka harapan hidup untuk tumor yang terdiferensiasi paling buruk (derajat 4) adalah 9 bulan. Kadang-kadang pembedahan tidak disarankan, misalnya pada pasien dengan kecurigaan glioma derajat rendah dengan gejala epilepsi. Pembedahan juga tidak tepat dilakukan pada metastasis otak multipel, dimana diagnosisnya jelas, walaupun beberapa metastasis soliter dapat ditangani dengan reaksi. a. Craniotomi Menurut Brown CV, Weng J, Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak. Menurut Hamilton MG, Frizzell JB, Tranmer BI, Craniectomy adalah operasi pengangkatan sebagian tengkorak. Sedangkan menurut Chesnut RM, Gautille T, Blunt BA, Craniotomi adalah prosedur untuk menghapus luka di otak melalui lubang di tengkorak (kranium). Dari ketiga pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian dari Craniotomi adalah Operasi membuka tengkorak (tempurung kepala) untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh adanya luka yang ada di otak. Tujuan Craniotomi adalah jenis operasi otak. Ini adalah operasi yang paling umum dilakukan untuk otak pengangkatan tumor. Operasi ini juga

dilakukan

untuk

menghilangkan

bekuan

darah

(hematoma),

untuk

mengendalikan perdarahan dari pembuluh, darah lemah bocor (aneurisma serebral), untuk memperbaiki malformasi arteriovenosa (koneksi abnormal dari pembuluh darah), untuk menguras abses otak, untuk mengurangi tekanan di dalam tengkorak, untuk melakukan biopsi, atau untuk memeriksa otak.

5. Terapi Penatalaksanaan meningioma tergantung dari lokasi dan ukuran tumor itu sendiri. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf, dan pada kasus rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. Lebih jauh lagi, rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko, pola, dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura, jaringan lunak, dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi. 6. Radiotherapi Radioterapi menggunakan X-ray untuk membunuh sel-sel tumor. Sebuah mesin besar diarahkan pada tumor dan jaringan di dekatnya. Mungkin kadang radiasi diarahkan ke seluruh otak atau ke syaraf tulang belakang. Radioterapi biasanya dilakukan sesudah operasi. Radiasi membunuh sel-sel tumor (sisa) yang mungkin tidak dapat diangkat melalui operasi. Radiasi juga dapat dilakukan sebagai terapi pengganti operasi. Jadwal pengobatan tergantung pada jenis dan ukuran tumor serta usia pasien. Setiap sesi radioterapi biasanya hanya berlangsung beberapa menit. Beberapa bentuk terapi radiasi: a. Fraksinasi Radioterapi biasanya diberikan lima hari seminggu selama beberapa minggu. Memberikan dosis total radiasi secara periodik membantu melindungi jaringan sehat di daerah tumor. b. Hyperfractionation Pasien mendapat dosis kecil radiasi dua atau tiga kali sehari, bukan jumlah yang lebih besar sekali sehari.

Efek

samping

dari

radioterapi,

dapat

meliputi:

perasaan

lelah

berkepanjangan, mual, muntah, kerontokan rambut, perubahan warna kulit (seperti terbakar) di lokasi radiasi, sakit kepala dan kejang (gejala nekrosis radiasi). 7. Pendekatan stereotaktik Pendekatan stereotaktik meliputi penggunaan kerangka 3 dimensi yang mengikuti lokasi tumor yang sangat tepat, kerangka stereotaktik dan studi pencitraan multipel (Sinar X, CT-Scan) yang lengkap digunakan untuk menentukan lokasi tumor dan memeriksa posisinya. Laser atau radiasi dapat dilepaskan dengan pendekatan stereotaktik. Radioisotop (131I) dapat juga ditempatkan langsung ke dalam tumor (brankhiterapi) sambil meminimalkan pengaruh pada jaringan otak di sekitarnya. Penggunaan pisau gamma dilakukan pada bedah-bedahradio sampai dalam, untuk tumor yang tidak dapat dimasukkan obat, tindakan tersebut sering dilakukan sendiri. Lokasi yang tepat dilakukan dengan menggunakan pendekatan stereotaktik dan melalui laporan pengujian dan posisi pasien yang tepat. Dosis yang sangat tinggi, radiasi akan dilepaskan pada luas bagian yang kecil. Keuntungan metoda ini adalah tidak membutuhkan insisi pembedahan, kerugiannya adalah waktu yang lambat diantara pengobatan dan hasil yang diharapkan. 8. Transplantasi Sumsum Tulang Analog Intravena Digunakan pada beberapa pasien yang akan menerima kemoterapi atau terapi radiasi, karena keadaan ini penting sekali untuk menolong pasien terhadap adanya keracunan pada sumsum tulang akibat dosis tinggi kemoterapi atau radiasi. Sumsum tulang pasien diaspirasi edikit, biasanya dilakukan pada kepala iliaka dan disimpan. Pasien yang menerima dosis kemoterapi dan terapi radiasi yang banyak, akan menghancurkan sejumlah sel-sel keganasan (malignan). Sumsum kemudian diinfus kembali setelah pengobatan lengkap. 9. Kemoterapi Kemoterapi adalah pengobatan penyakit yang disebabkan oleh agen kimia yang biasanya digunakan untuk terapi kanker. Dasar pengobatan yaitu perbedaan antara sel kanker dan sel normal terhadap reaksi pengobatan sitostatika yang diberikan sendiri-sendiri atau secara kombinasi. Perbedaan tersebut adalah perbedaan sifat biologis, biokimia, reaksi farmakokinetik dan sifat proliferatif.

Sebelum membahas mengenai cara kerja masing-masing golongan obat antineoplasma, perlu diketahui dulu hubungan kerja obat antineoplasma dengan siklus sel kanker. Sel tumor dapat berada dalam 3 keadaan yaitu : a. Yang sedang membelah (siklus proliferatif). b. Yang dalam keadaan istirahat (tidak membelah, G0). c. Yang secara permanen tidak membelah Sel tumor yang sedang membelah terdapat dalam beberapa fase yaitu : a. b. c. d. fase mitosis (M) fase pramitosis (G1) fase sintesis DNA (S) fase pascamitosis (G2) 1

Pada akhir fase G1 terjadi peningkatan RNA disusul dengan fase S yang merupakan saat terjadinya replikasi DNA. Setelah fase S berakhir sel masuk dalam fase pramitosis (G2) dengan ciri-ciri : a. sel berbentuk tetraploid b. mengandung DNA lebih banyak daripada sel fase lain c. masih berlangsungnya sintesis RNA dan protein Sewaktu mitosis berlangsung (fase M) sintesis protein dan RNA berkurang secara tiba-tiba, dan terjadi pembelahan menjadi 2 sel. Setelah itu sel dapat memasuki interfase untuk kembali memasuki fase G1, saat sel berproliferasi atau memasuki fase istirahat (G0). Sel dalam fase G0 yang masih potensial untuk berproliferasi disebut sel klonogenik atau sel induk (stem cell). Jadi yang menambah jumlah sel kanker adalah sel dalam siklus proliferasi dan dalam fase G0 1. Ditinjau dari siklus sel, obat dapat digolongkan dalam 2 golongan yaitu : a. Yang memperlihatkan toksisitas selektif terhadap fase fase tertentu dari siklus sel (cell cycle specific), misalnya vinkristin, vinblastin, merkaptopurin, metotreksat, asparaginase. Zat ini terbukti efektif terhadap kanker yang berproliferasi tinggi misalnya kanker sel darah. b. Zat cell cycle nonspecific, misalnya zat alkilator, antibiotik antikanker, sisplatin.

J. Peran Perawat

1. Peran sebagai pemberi Asuhan Keperawatan Perawat memberikan pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bias direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia,kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. 2. Peran sebagai advokat klien Perawat membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien juga dapat berperan mempertahankan hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaikbaiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. 3. Peran Edukator Perawat membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. 4. Peran Koordinator Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta

mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta dengan kebutuhan klien. 5. Peran Kolaborator Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi, dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya. 6. Peran Konsultan Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan. 7. Peran Pembaharu Peran ini dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.

K. ASPEK LEGAL ETIK 1. Autonomy Perawat harus menjelaskan dengan jelas kepada keluarga tentang kondisi yang dialami pasien tanpa ada sedikitpun yang ditutupi sehingga pasien mendapatkan haknya. 2. Non- Maleficence Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Perawat melakukan prosedur keperawatan dengan benar sehingga klien terhindar dari hal yang merugikan. Perawat melakukan kewaspadaan universal untuk mencegah terjadinya infeksi yang lebih lanjut 3. Beneficence Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik.Perawat memberikan intervensi sesuai dengan kebutuhan dan diagnosa klien. 4. Justice a. Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang benar pelayanan kesehatan.

untuk memperoleh kualitas

b. Perawat harus bertindak adil dalam melakukan tindakan keperawatan tanpa membedakan status ekonomi, suku, agama, dll. Agar pasien dapat merasakan kenyamanan.

5.

Kejujuran (Veracity) Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan.

DAFTAR PUSTAKA Barbara C. Long, alih bahasa R.Karnaen dkk, 2000, Perawatan Medikal Bedah. EGC, Jakarta Barbara L. Bullock 2000, Patofisiology, Adaptasi and alterations infeksius function, Fourth edition, Lipincott, Philadelpia Brunner & Sudarth, 2003, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Ed 8 Vol 3 , EGC, jakarta Lynda Juall Carpenito, Alih bahasa Yasmin Asih, 2002, Diagnosa Keperawatan , ed 6, EGC, Jakarta Marilyn E. Doenges, et al, 2003, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, jakarta Sylvia A. Price, Alih bahasa Adji Dharma, 2004Patofisiologi, konsep klinik prosesproses penyakit ed. 4, EGC, Jakarta