Anda di halaman 1dari 3

Kerukunan Antar Umat Beragama Menurut Pandangan Islam

oleh Putri Sakinah Matondang, 1106066795

Data Publikasi : Mubarak, Zaky. 2010. Menjadi Cendekiawan Muslim Kuliah Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Magenta Bhakti Guna. http://www.anneahira.com/kerukunan-umat-beragama-di-indonesia.htm http://nainyxms.blogspot.com/2010/06/makalah-kerukunan-antar-umat-beragama.html bhupalaka.files.wordpress.com/.../tugas-kerukunan-antar-umat-beragama Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna baik dan damai. Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan kesatuan hati dan bersepakat untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) Bila pemaknaan tersebut dijadikan pegangan, maka kerukunan adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia. Manusia ditakdirkan Allah Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material maupun spiritual. Ajaran Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan tolong menolong (taawun) dengan sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, umat Islam dapat berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan ras, bangsa, dan agama.

Islam membangun masyarakat berlandaskan atas azas persaudaraan dan persatuan antar sesama. Tujuannya adalah agar mereka saling memahami dan tak terjadi perpecahan yang disebabkan oleh perbedaan antara satu sama lainnya. Dan Islam juga menegaskan bahwa semua manusia bersaudara serta menempatkan kerukunan adalah hal yang sangat vital demi perdamaian dunia. Kerukunan harus menjadi bagian terpenting dalam ruang lingkup intra dan antar agama. Karena itu memahami hakekat kerukunan menjadi sangat penting. Memahami kerukunan berarti memahami Islam itu sendiri. Bahkan juga memahami agama-agama lain mengingat tak satupun agama mendorong umatnya untuk melakukan kekerasan terhadap antar umat beragama.

Dari sekian banyak perbedaan salah satunya ialah perbedaan dalam beragama. Hal ini terjadi di tengah-tengah masyarakat kita di mana pemerintah mengakui lebih dari satu agama. Maka kehidupan antar agama perlu ditekankan untuk memahami perbedaan agama satu sama lainnya. Mengingat potensi sikap intoleransi akan mudah muncul seiring dengan dorongan aspek-aspek perbedaan lainnya.

Salah satu masalah yang di hadapi umat Islam sekarang ini adalah rendahnya rasa kesatuan dan persatuan sehingga kekuatan umat Islam menjadi lemah. Salah satu sebab rendahnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan umat Islam adalah karena randahnya penghayatan terhadap nilai-nilai Islam. Persatuan di kalangan muslim tampaknya belum dapat diwujudkan secara nyata. Perbedaan kepentingan dan golongan seringkali menjadi sebab perpecahan umat. Perpecahan itu biasanya diawali dengan adanya perbedaan pandangan di kalangan muslim terhadap suatu fenomena. Dalam hal agama, di kalangan umat islam misalnya seringkali terjadi perbedaan pendapat atau penafsiran mengenal sesuatu hukum yang kemudian melahirkan berbagai pandangan atau madzhab. Perbedaan pendapat dan penafsiran pada dasarnya merupakan fenomena yang biasa dan manusiawi, karena itu menyikapi perbedaan pendapat itu adalah memahami berbagai penafsiran dengan sikap toleransi.

Selain itu belakangan ini, muncul sejumlah kelompok yang kerapkali melakukan kekerasan atas nama agama. Bahkan mereka tidak segan-segan akan jihad untuk memerangi orang yang di luar agamanya. Tetapi dengan cara yang jauh dari nilai-nilai kerukunan yang sesuai dengan tuntunan agamanya. Mengesankan bahwa agama itu mengajarkan sesuatu yang tidak baik.

Upaya-upaya menciptakan kerukunan antar umat beragama harus tetap dijaga demi kehidupan yang mengedepankan sikap kerukunan serta jauh dari peristiwa kekerasan atas nama agama. Dengan dialog, umat beragama mempersiapkan diri untuk melakukan diskusi dengan agama lain yang berbeda konsepsi tentang kenyataan hidup. Tentu dialog tersebut bertujuan untuk saling mengenal berbagai macam ajaran dari sudut pandang setiap agama. Serta umat beragama akan memperoleh wawasan baru dengan terselenggaranya dialog tersebut. Terdapat dua komitmen penting yang harus dipegang oleh pelaku dialog. Pertama adalah toleransi, tentu akan sulit bagi pelaku-pelaku dialog antar agama untuk mencapai saling memahami perbedaan apabila salah satu pihak tidak bersikap toleran. Karena

dengan memiliki sikap kemauan toleransi dari pelaku dialog, maka secara otomatis akan membuka diskusi antar agama. Kedua adalah pluralisme, konsep pluralisme tidah hanya menunjuk pada kenyataan tentang adanya kemajemukan. Namun juga keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Karena di manapun kita berada pluralisme akan kita temukan dan hadapi termasuk dalam kehidupan beragama. Sementara itu yang dimaksud dengan pluralisme agama ialah tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan agama lain, tapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan pemahaman guna tercapainya kerukunan.

Tentu saja membangun kerukunan tidak semudah membalikkan kedua belah tangan, mengingat sejarah manusia banyak yang bernuansa intoleransi bahkan belakangan ini, media televisi kita setiap hari menampilkan pemandangan intoleransi. Maka dari itu antar umat beragama perlu menekankan benar-benar sikap yang mengarah kepada kerukunan. Apapun alasannya bertindak kekerasan tidak akan dibenarkan apalagi mengatasnamakan kesakralan agamanya. Betapa indahnya hidup, bila kehidupan antar agama rukun dan damai tanpa adanya konflik. Hal itu berarti nilai-nilai agama secara universal sudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.