Anda di halaman 1dari 6

Eksekusi________________________________________________________

1. Eksekusi Dalam KUHAP Indonesia. Diatur dalam Pasal 270-276 KUHAP mengenai Pelaksanaan Putusan Pengadilan. Dalam Pasal 270 KUHAP mengatakan Pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh Jaksa, yang untuk itu Panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya. Eksekusi atau putusan pengadilan sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana diatur dalam pasal 270-276 KUHAP dimana mengatur: a. Pelaksanaan Putusan Dilakukan Oleh Jaksa Pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu Panitera mengirimkan salinan surat putusan kepada jaksa (Pasal 270 KUHAP). Jaksa menerima salinan surat putuan dari panitera. Menurut SEMA No.21 Tahun 1983 Tanggal 8 Desember 1983 batas waktu pengiriman salinan putusan dari Panitera kepada Jaksa untuk perkara acara biasa paling lama satu minggu dan untuk perkara dengan acara singkat paling lama 14 hari.1 Putusan pengadilan dapat dinyatakan telah mempunyai kekuatan hokum tetap, apabila tenggang waktu berpikir telah terlampaui yaitu 7 hari setelah putusan pengadilan Negri dan 14 hari setelah putusan pengadilan tinggi/banding (KEP.MENKEH NO.M.14-PW.07.03 TH.1983 butir 14 o pasal 196 ayat (3) huruf a dan c KUHAP). Apabila putusan pengadilan berisi pidana dang anti kerugian, maka pelaksanaan putusan ganti kerugian dilakukan menurut tatacara putusan perdata (KEP.MENKEH NO.M.14PW.07.03 TH.1983 butir 15 jo Pasal 274 KUHAP) Sesuai dengan UU No.4 tahun 20012/Undnag-Undang Kekuasaan Kehakiman Pasal 36 ayat (1) meskipun berisi ganti kerugian seharusnya dilaksanakan oleh jaksa. Karena sesuai dengan ketentuan tata urutan Peraturan Perundang-undangan, peraturan yang berkedudukan lebih tinggi, seperti UUK
1

Kuffal,HMA.2010.Penerapan KUHAP Dalam Praktik Hukum. Malang:UM Press

Kehakiman dan KUHAP tidak dapat dirubah hanya dengan Keputusan Mentri Kehakiman (Vide TAP MPR No. II/MPR/2000). Jika terpidana dipidana penjara atau kurungan dan keudian dijatuhi pidana yang sejenis sebelum ia menjalani pidana yang dijatuhkan terdahulu, maka pidana itu dijalankan berturut-turut dimulai dengan pidana yang dijatuhkan lebih dahulu (Pasal 272 KUHAP) b. Pidana Mati Pidana Mati diatur dalam pasal 271 KUHAP yakni Dalam hal pidana mati pelaksanaannya dilakukan tidak dimuka umum dan menurut ketentuan

Undang-undang. Dalam Penetapan Presiden No. 2 Tahun 1964, diatur mengenai tata cara pelaksanaan pidana mati dalam peradilan umum dan militer, yaitu ditembak, dilaksanakan di suatu tempat di daerah Pengadilan tingkat I di Lembaga Pemasyarakatan Tentara atau persetujuan antara pengadilan dan pihak TNI karena penembaknya adalah dari militer (TNI) atau ditentukan lain. Menurut ketentuan yang diatur dalam KUHP pasal 11 pelaksanaan hukuman/pidana mati dijalankan pleh algojo di tempat penggantungan dengan menggunakan sebuah jerat di leher terpidana dan mengikatkan jerat itu pada tiang penggantungan dan menjatuhkan papan tempat orang itu berdiri.Namun semenjak adanya UU No.2/PNPS/1964 tentang tata cara pelaksanaan pidana mati yang dijatuhkan oleh pengadilan di lingkungan peradilan umum dan militer. Pelaksanaan eksekusi pidana mati tidak dapat dilakukan sebelum Keputusan Presiden tentang penolakan Grasi diterima oleh terpidana (Pasal 13 UU No. 22 TH. 2002)2 Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan hokum acara pidana yang ada tentang menjalankan putusan pengadilan, maka pelaksanaan pidana mati, yang dijatuhkan oleh pengadilan di lingkungan peradilan umum atau peradilan militer, dilakukan dengan ditembak sampai mati, menurut ketentuanketemtuan dalam pasal-pasal berikut (Pasal 1 ) kepada Polisi Komisariat Daerah (KAPOLDA) tempat kedudukan pengadilan yang menjatuhkan
2

Kuffal,HMA.2010.Penerapan KUHAP Dalam Praktik Hukum. Malang:UM Press

putusan dalam tingkat pertama, setelah mendengar nasihat dari Jaksa Tinggi (KAJATI)/Jaksa yang bertanggungjawab untuk pelaksanaannya (eksekusinya) menentukan waktu dan tempat pelaksanaan pidana mati (pasal 3 ayat (1)) Kepala Polisi komisariat (KAPOLDA) bertanggungjawab atas keamanan dan ketertiban sewaktu pelaksanaan pidana mati dan menyediakan tenagatenaga serta alat-alat yang diperlukan untuk itu. (PASAL 3 ayat (3)). Pidana mati dilaksanakan tidak dimuka umum dan dengan cara sesederhana mungkin, kecuali ditetapkan lain oleh Presiden (Pasal 9) Untuk pelaksanaan pidana mati Kepala Polisi Komisariat Daerah (KAPOLDA) membentuk sebuah regu penembak yang terdiri dari seorang bintara, dua belas orang tamtama dibawah pimpinan seorang perwira, semuanya dari Brigade Mobil (Brimob). Khusus untuk melaksanakan tugas pelaksanaan pidana mati, Regu penembak tidak menggunakan senjata organiknya. Regu penembak berada dibawah perintah Jaksa Tinggi (KAJATI)/jaksa sampai selesainya pelaksanaan pidana mati (Pasal 10) Setelah terpidana siap di tempat dimana dia akan menjalankan pidana mati, maka Regu Penembak dengan senjata sudah terisi menuju ke tempat yang telah ditentukan oleh Jaksa Tinggi (KAJATI)/Jaksa (Pasal 13 ayat (1)) Apabila semua persiapan telah selesai, maka jaksa Tinggi/Jaksa yang bersangkutan memerintahkan untuk memulai pelaksanaan pidana mati. Dengan menggunakan pedangnya sebagai isyarat, Komandan Regu Penembak membrikan perintah supaya bersiap, kemudian dengan menggerakan pedangnya ke atas memerintahkan regunya untuk membidik jantung terpidana dan dengan menyatakan pedangnya kebawah secar cepat, dia memberikan perintah untuk menembak (Pasal 14). Jaksa Tinggi (KAJATI)/Jaksa pelaksana pidana mati harus segera membuat berita acara pelaksanaan pidana mati. c. Pidana Berturut-turut

d. Eksekusi Pidana Denda Jika putusan pengadilan menjatuhkan pidana denda, kepada terpidana diberikan jangka waktu satu bulan untuk membayar denda tersebut, kecuali dalam

putusan acara pemerikasaan cepat yang harus seketika dilunasi (Pasal 273 ayat (1) KUHAP) Menurut Surat Edaran Mahkamah Agung/SEMA No.22 Tahun 1983 tanggal 8 Desember 1983, yang dimaksud dengan perkataan harus seketika dilunasi dalam Pasal 273 ayat (1) KUHAP Harus diartikan: Apabila terdakwa atau kuasanya hadir pada waktu putusan diucapkan, maka pelunasannya harus dilakukan pada saat diucapkan. Apabila terdakwa atau kuasanya tidak hadir pada waktu putusan diucapkan, maka pelunasannya harus dilakukan pada saat putusan itu oleh jaksa diberitahukan kepada terpidana. Jika terdapat alas an yang kuat, maka jangka waktu pembayaran pidana denda (dalam APB dan APS) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan. Dengan demikian jangka waktu pembayaran pidana denda (APB dan APS) paling lama dua bulan. Dan apabila setelah dua bulan dendanya belum juga dibayar oleh terpidana, maka eksekusi pidana dendanya diganti dengan pidana kurungan sebagai pengganti denda (Pasal 30 ayat (2) KUHP) e. Eksekusi Pidana Bersyarat Dalam hal pengadilan menjatuhkan pidana bersyarat (pasal 14a ayat (1) jo 14 d ayat (1) KUHP) maka pelaksanaannya dilakukan dengan pengawasan serta pengamatan yang sungguh-sungguh menurut ketentuan undang-undang (Pasa 276 KUHAP). Sampai sekarang ini belum ada undang-undang yang mengatur tentang pelaksanaan, pengawasan, dan pengamatan terhadap terpidana yang menjalani pidana bersyarat (Voorwaardeijke Straf) Kejaksaan atau jaksa selaku eksekutor dalam melakukan pengawasan/pengamatan terhadap para terpidana hingga sekarang masih mendasarkan tugasnya pada ordonasi 1926 Staatsblad 1926 No.487. Dan dalam praktik hokum

pengawasan/pengamatan terpidana bersyarat tersebut oleh jaksa/kejaksaan dilaksanakan dengan meminta bantuan POLRI, camat dan kepala desa/lurah.

Apabila di daerah hokum kejaksaan negri (KEJARI) yang bersangkutan atau balai BISPA maka KEJARI meminta bantuan kepada balai BISPA, jikalau didaerah hukum KEJARI yang bersangkutan belum ada balai BISPA-nya maka permintaan bantuan dialamatkan langsung kepada sub direktorat bimbingan kemasyarakatan departemen kehakiman. f. Pengawasan dan pengamatan putusan pengadilan Pada setiap pengadilan harus ada hakim yang diberi tugas khusus untuk membantu Ketua Pengadilan dalam melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap putusan pengadilan yang menjatuhkan pidana perampasan kemerdekaan. Hakim Pengawas dan pengamat tersebut ditunjuk oleh ketua pengadilan untuk paling lama 2 tahun. (Pasal 277 KUHAP) 2. Eksekusi Dalam KUHAP Jerman (THE GERMAN CODE OF CRIMINAL PROCEDURE) Dasar hukum berakunya eksekusi di Jerman diatur dalam KUHAP Jerman : PART SEVEN. EXECUTION OF THE SENTENCE AND COSTS OF THE PROCEEDINGS Chapter I Execution of Sentence 449-463d Chapter II. Costs of the Proceedings 464-4733 Dalam KUHAP Jerman diatur pula mengenai wewenang eksekusi, dimana dipegang oleh Jaksa setelah diberikan pada kementrian hukumnya. Selain itu eksekusi atau sistem pelaksanaan putusan pengadilan di Jerman dilaksanakan secara terbuka, pelaksanaannya dilakukan oleh jaksa dengan wewenang yang diberikannya sesuai dengan putusannya yang salinannyadikeluarkan oleh petugas pendaftaran (panitera) dan dalam hal pengawasan pelaksanaan putusan pengadilan sesuai dengan KUHAP Jerman dilakukan pleh pengadilan. Sementara itu pelaksanaan putusan pengadilan dalam hal penahanan harus didasari dengan surat perintah, selain itu eksekusi dapat ditunda pelaksanaannnya apabila kondisi terpidana tidak sesuai dengan fasilitas dari lembaga dan tidak boleh lebih dari 4 bulan.
3

THE GERMAN CODE OF CRIMINAL PROCEDURE

Dalam hal eksekusi denda dapat diselesaikan dalam waktu 2 minggu setelah dijatuhkannya putusan, selain itu pelaksanaan denda dapat dikesampingkan bila hal tersebut tidak mengarah ke arah yang baik. Denda dalam hal ini juga tidak dapat dieksekusikan bila telah dilakukan hukuman penjara atau telah ditangguhkan dalam masa percobaan terhadap pidana yang sama serta denda juga tidak dapat dilaksanakan diluar kemampuan terpidana. Dalam KUHAP Jerman atau The German Code of Criminal Procedure diatur pula mengenai pidana penjara dimana pemidanaannya dilakukan sesuai putusan dan tidak akan sampai denda dibayarkan atau tertutupi atau eksekusi ditiadakan berdasarkan pasal-pasal tertentu. Sementara itu jika ada perintah untuk perampasan sita atau memberikan barang yang tidak digunakan dilaksanakan dengan mengambil barang tersebut jauh dari terpidana atau dari orang yang berkepentingan.