Anda di halaman 1dari 30

A. Pendahuluan 1.

Latar Belakang Jeruk merupakan salah satu komoditi buah-buahan penting yang mendapat prioritas utama untuk dikembangkan secara nasional. Hal ini disebabkan antara lain, usahataninya dapat memberikan sumbangan besar dalam peningkatan pendapatan petani, disukai oleh konsumen karena kandungan gizi yang tinggi, dan permintaan pasar (domestik dan luar negeri) yang makin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Abuhaerah (1987), dengan pengelolaan yang baik, usahatani jeruk memberikan nilai hasil di atas Rp. 10 juta per ha per tahun. Peningkatan permintaan yang makin besar mengharuskan upaya yang lebih serius dalam peningkatan produksi jeruk, baik melalui peningkatan luas panen maupun peningkatan produktivitas tanaman. Namun upaya tersebut dihadap-kan kepada beberapa kendala utama antara lain tingkat produktivitas jeruk selama ini masih rendah. Salah satu penyebabnya karena adanya serangan hama dan penyakit pada jeruk. Sebagaimana umumnya tanaman buah-buahan, sejak awal pertumbuhan hingga fase perkembangan dewasa, tanaman jeruk selalu terancam serangan hama dan penyakit. Tercatat sejumlah 43 species dari 20 famili yang umumnya hadir di kompleks agroekosistem jeruk dan menyerang bagian-bagian tanaman mulai dari akar, batang, cabang, daun, bunga sampai buah (Nurhadi dan Djatmiadi 2002). Dari sekian banyak hama tersebut terdapat beberapa hama dan penyakit yang dominan dan menyerang tanaman jeruk yaitu hama Thrips (Scirtothrips citri), kutu daun hitam (Toxoptera aurantii) dan Kutu daun coklat (Toxoptera citricidus), tungau karat (Phyllocoptura oleivera Ashmed), kutu loncat jeruk (Diphorina citri Kuw.), lalat buah (bactrocera spp.), penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (VCPD), penyakit tristeza (Quich Decline), penyakit busuk pangkal batang (Phytophthora spp), penyakit

diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat) dan penyakit embun jelaga (Capnodium citri Berk. & Desm). Adanya serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman jeruk tersebut, maka diperlukan suatu upaya pengendalian yang tepat. Pengendalian ini dimulai dari cara budidaya yang dilakukan. Teknikteknik budidaya yang dilakukan harus tepat, mulai dari pemilihan sampai dengan pasca panennya. 2. Tujuan Tujuan dilakukan perencanaan budidaya tanaman jeruk ini adalah agar kita bisa mengelola dan mengendalikan serta mengantisipasi hama dan penyakit yang akan menyerang tanaman jeruk ini. Hal ini agar tidak menurunkan produksi tanaman jeruk.

B. Pembahasan 1. Hama Penting Tanaman Jeruk a. Hama Thrips (Scirtothrips citri) Populasi hama Thrips dijumpai cukup tinggi mencapai 40-50 ekor per batang tanaman (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat). Hal ini dapat membahayakan pertanaman jeruk, mulai dari daun sampai buahnya. Keberadaan dan serangan hama Thrips jarang diketahui secara baik oleh petani karena ukurannya relatif kecil dan bersembunyi dibalik helaian daun, kelopak bunga, putik dan buah. Hama thrips sangat cepat berkembang biak. Pada kondisi yang menguntungkan satu thrips betina mampu bertelur 200-250 butir. Telur berukuran sangat kecil, biasanya diletakkan pada jaringan daun muda, tangkai kuncup dan buah. Nimfa instar pertama berbentuk seperti kumparan, berwarna putih jernih dan mempunyai 2 mata yang sangat jelas berwarna merah, aktif bergerak memakan jaringan tanaman, mendekati perubahan ke instar 2 warnanya berubah menjadi kuning kehijauan dengan ukuran 0,4 mm. Pada instar kedua thrips aktif bergerak mencari tempat yang terlindung dekat urat daun, lekukan-lekukan di permukaan bawah daun. Pada instar terakhir thrips biasanya mencari tempat di tanah atau serasah dibawah kanopi tanaman sampai membentuk pre pupa dan pupa. Ukuran thrips betina berkisar 0,7-0,9 mm, sedangkan thrips jantan lebih pendek. Perkembangan dalam 1 tahun mencapai 8-12 generasi. Pada musim kemarau, perkembangan telur sampai dewasa berlangsung 13-15 hari dan lama hidup thrips dewasa berkisar 15-20 hari. Fase kritis tanaman dan saat pemantauan populasi adalah pada saat tanaman berbunga sampai berbuah hingga umur buah 2-3

bulan. Disamping itu perlu juga dilakukan pemantauan pada tunas, daun muda dan tangkai daun. Hal ini karena pada fase kritis ini, tangkai, daun muda dan buah muda merupakan sasaran dari hama ini, apabila suhu disekitar tanaman meningkat, sehingga

perkembangan populasi hama semakin cepat. Gejala serangan terlihat penebalan pada daun yang terserang, kedua sisi daun agak menggulung (melengkung) ke atas dan pertumbuhannya tidak normal. Serangan pada buah terjadi pada fase bunga, pada putik terlihat bekas luka berwarna coklat keabu-abuan yang disertai dengan garis nekrotis di sekeliling luka, tampak di permukaan kulit buah di sekeliling tangkai atau melingkar pada sekeliling kulit buah. Berdasarkan hasil penelitian kerusakan hama ini dapat menurunkan kualitas hasil mencapai 30-60%. b. Kutu daun hitam (Toxoptera aurantii) dan Kutu daun coklat (Toxoptera citricidus) Populasi kutu daun hitam (Toxoptera aurantii) relatif tinggi mencapai 50-100 ekor per batang tanaman (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat). Keadaan ini dapat

menyebabakan daun-daun muda dan kuncup daun maupun bunga menjadi kering akibat dihisapnya, sehingga pembentukan daun-daun baru terhalang dan akan mengganggu serta mengurangi foto sintesa. Daun yang terserang akan tertutup oleh embun jelaga dan berakibat buruk terhadap kelangsungan proses fotosintesa dan berpengaruh negatif terhadap mutu buah yang dihasilkan. Kutu daun coklat (Toxoptera citricidus) tidak menyebabkan kerusakan berarti pada tanaman jeruk, tetapi perannya sebagai vektor virus tristeza jauh lebih berbahaya, karena virus ini menyebabkan kerugian ekonomis yang tinggi. Kutu daun coklat merupakan penular virus penyebab penyakit tristeza yang paling efektif. Bentuk dan ukuran kedua kutu daun ini serupa, perbedaanya terlihat pada pembuluh sayap bagian depan dimana kutu daun hitam

(Toxoptera aurantii) tidak bercabang, sedangkan kutu daun coklat (Toxoptera citricidus) bercabang. Secara umum kutu daun ini berukuran 1-6 mm, tubuh lunak seperti buah per, mobilitas rendah dan pada umumnya hidup berkoloni. Perkembangan optimum terjadi pada saat tanaman bertunas. Siklus hidup satu generasi berlangsung selama 6-8 hari pada suhu 250C dan 3 minggu pada suhu 150C. Bentuk kutu kadang-kadang bersayap, kadang-kadang tidak (sesuai dengan ketersediaan makanan, apabila makanan kurang tersedia maka sering bersayap untuk mempermudah mobilitasnya,

perkembangbiakan bisa secara seksual atau aseksual, menetap atau berpindah-pindah tempat. Pada daerah tropis yang perbedaan musimnya kurang tegas, kutu ini tinggal pada inangnya selama setahun sebagai betina-betina yang vivivar partenogenesis. Kutu dewasa biasanya berpindah tempat untuk menghasilkan keturunan baru dan membentuk koloni baru. Gejala serangan dijumpai adanya embun madu yang dihasilkan kutu melapisi permukaan daun dan dapat meransang peretumbuhan jamur (embun jelaga), disamping itu kutu juga mengeluarkan toksin melalui salivanya sehingga menimbulkan gejala kerdil, deformasi dan terbentuk puru pada helaian daun. Keberadaan kutu daun juga berpotensi sebagai vektor virus penyebab penyakit Virus. c. Tungau Karat (Phyllocoptura oleivera Ashmed) Hama tungau yang dijumpai menyerang tanaman jeruk adalah tungau karat (Phyllocoptura oleivera Ashmed). Tungau karat merusak dengan cara memasukkan cheliceral stylet dalam sel tanaman dan mengisap cairan tanaman. Imago berwarna kuning sampai orange, ukuran panjang 0,2 mm. Telur diletakkan pada permukaan daun dan buah, lama siklus hidup dari telur sampai imago 7-10 hari pada musim panas atau 14 hari pada kondisi dingin.

Imago betina hidup kurang dari 20 hari dan selama masa hidupnya mampu bertelur sebanyak 20 butir. Serangan terutama terjadi pada buah muda, mulai dari buah yang sebesar kacang dan kerusakan akan tampak setelah buah berukuran sebesar kelereng. Lapisan epidermis kulit buah ikut rusak dan seiring dengan membesarnya buah maka akan tampak gejala bekas tusukan pada buah, walaupun hama tungaunya sudah tidak ada. Pada tingkat serangan berat (parah) selain cabang, daun dan buah muda, buah yang masak bisa juga terserang. Serangan awal pada buah menimbulkan gejala warna buah keperakkan. Pada fase selanjutnya buah yang terserang warnanya berubah menjadi coklat sampai ungu kehitaman. Serangan berat dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan diameter, bobot dan kandungan nutrisi buah serta mengakibatkan terjadinya keguguran buah lebih dini. Pada populasi hama yang tinggi dapat menimbulkan kerusakan buah yang parah mencapai 90%, dan menurunkan harga jual hingga 50%. Khloropil daun yang dihisap oleh tungau menimbulkan bintikbintik kelabu dan keperakan. Serangan lebih parah dapat terjadi pada musim kering dimana kelembaban dalam tanaman menurun. Pada kondisi tersebut kombinasi dari efek serangan tungau, iklim dan faktor fisiologis dapat mengakibatkan gugurnya buah dan daun serta dapat mengakibatkan ranting muda mati. d. Kutu Loncat Jeruk (Diphorina citri Kuw.) Kutu loncat jeruk mempunyai 3 stadia hidup, yaitu telur, nimpfa dan dewasa. Siklus hidupnya mulai dari telur sampai dewasa berlangsung antara 16-18 hari pada kondisi panas, sedangkan pada kondisi dingin sampai 45 hari, serangga ini dapat mencapai 9-10 generasi dalam setahun. Telur berbentuk lonjong dan agak menyerupai buah adpokat, warna kuning terang. Cara meletakkan telurnya tidak teratur, kadang- kadang berkelompok atau terpisah sendiri-sendiri. Bagian yang menjadi tempat meletakkan telur adalah

tunas-tunas daun atau jaringan tanaman yang masih muda, seperti tangkai tunas dan permukaan daun bagian atas dan bawah yang belum membuka, telur menetas menjadi nimfa setelah 3 hari. Nimfa yang telah menetas hidup berkelompok pada jaringan tanaman muda dan menghisap cairan tanaman. Setelah nimfa berumur 2-3 hari, menyebar dan mencari makanan pada daun muda di sekitarnya. Periode nimfa berlangsung 12-17 hari, selama terjadi 5 kali penggantian kulit yang disertai bertambahnya kativitaas makanannya. Kelima instar tersebut dapat dibedakan oleh adanya perbedaan ukuran, bentuk awal perkembangan bentuknya sayap dan penyusunan sklerit pada thorax bagian dorsal. Warna nimfa kuning sampai kuning kecoklatan. Stadia dewasa ditandai dengan terbentuknya sayap dan kutu ini dapat terbang atau meloncat, berwarna coklat muda sampai coklat tua, matanya berwarna kelabu dan bercak-bercak coklat, bagian abdomen berwarna hijau terang kebiruan dan orange, panjang tubuh 2-3 mm, pada saat makan posisi tubuhnya menunggingatau membentuk sudut. Kopulasi segera terbentuk setelah serangga menjadi dewasa, selanjutnya serangga betina mencari ranting yang bertunas dan meletakan telurnya mulai berlangsung setelah 8-20 jam setelah kopulasi. Masa bertelur bervariasi antar 10-40 hari, sedangkan jumlah telurnya dapat mencapai 800 butir. Gejala Serangan, daun jeruk menjadi berkerut-kerut,

menggulung atau kering dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak sempurna. Selain menyerang daun muda, dengan styletnya diphorina citri menusuk dan menghisap cairan sel pada tangkai daun, tunas muda atau jaringan lainnya yang masih muda. Hasil sekresi atau kotorannya berupa benang yang berwarna putih dan bentuknya menyerupai sepriral. Apabila serangan berat, bagian tanaman yang terserang menjadi layu, kering dan menjadi mati. Apabila Diphorina citri ini

menyerang satu tanaman dengan merata, maka pertumbuhan bunga menjadi terhampat dan produksi akan berkurang. Diphorina citri ini selain menjadi OPT hama, juga dapat menularkan OPT menyerupai bakteri (BLO), yakni pathogen dari Citrus Vein Phloem

Degeneration (CVPD). Fase Kritis Tanaman, vektor kutu loncat (Diphorina citri) tertarik pada tunas muda sebagai tempat pelekatan telur, sehingga pertunasan tanaman merupakan faktor penting dalam

perkembangbiakannya. Di Garut, tanaman jeruk bertunas 5 kali dalam setahun, sehingga terdapat 5 periode kritis dimana diphorina citri mencapai jumlah yang sangat tinggi. Untuk mengetahui populasi jumlah populasi diphorina citri perlu diamati kuncup dan tunas. e. Lalat buah (bactrocera spp.) Lalat buah mempunyai 4 stadia metamorphosis, yaitu telur, larva, pupa dan imago (serangga dewasa). Telur lalat buah berbentuk bulat panjang, berwarna putih dan diletakkan berkelompok 2-15 butir pada buah yang agak tersembunyi atau tidak terkena sinar matahari langsung serta pada buah yang agak lunak dan pemukannya agak kasar. Seekor lalat buah dewasa dapat meletakkan telur 1-40 butir/ hari dengan jumlah 1.200-1.500 butir, telur akan menetas menjadi larva 2 hari setelah diletakkan di dalam buah. Siklus hidup dari telur sampai lalat dewasa di daerah tropis berlangsung 25 hari. Fase kritis tanaman, pada saat tanaman mulai memproduksi buah terutama pada saat buah menjelang masak. Gejala serangan, sifat khas lalat buah adalah meletakkan telurnya di dalam buah, tempat peletakkan telur di tandai dengan adanya noda/titik kecil hitam yang tidak terlalu jelas. Noda/ titik kecil bekas tusukan ovipositor ini merupakan gejala awal serangan lalat buah, dimana telur menetas dan menjadi larva (belalang). Buah yang gugur, apabila tidak segera dikumpulkan dan dimusnahka akan

menjadi sumber infeksi atau perkembangan lalat buah generasi selanjutnya. 2. Penyakit Penting Tanaman Jeruk a. Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) Penyakit CVPD merupakan penyakit cukup gawat yang timbul dan menyerang tanaman jeruk. Penyakit ini menyerang bagian daun tanaman jeruk dimana pada serangan lanjut tanaman akan menghasilkan buah yang kecil, buah tidak dapat berkembang lagi dan akhirnya gugur (Dirjen Tanaman Pangan 1992). Infeksi pada tanaman muda ditandai dengan kuncup berkembang lambat, pertumbuhannya menjulang keatas, daun menebal, ukuran menjadi lebih kecil dengan gejala khas blotching, mottle, belang-belang kuning tidak teratur. Gejala pada tanaman dewasa sering bervariasi. Pada tanaman yang sudah berproduksi menyebabkan ukuran buah menjadi kecil hingga sebesar kelereng dan rasanya asam. Gejala penyakit CVPD ini dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu gejala luar dangejala dalam. 1) Gejala luar Tanaman jeruk yang terjangkit penyakit ganas ini menunjukkan gejala kekuning-kuningan pada daun dewasa, seperti halnya kekurangan unsur Zn, Mn dan Fe. Tulang-tulang daun halus berwarna lebih hijau daripada jaringan helaian daunnya. Apabila penyakit telah sampai pada stadium lanjut daun menjadi lebih kecil, kaku, lebih tebal, menjadi kuning pada sebagian atau seluruh tajuk dan sering pula berbercak-bercak klorosis. Gejala ini mirip dengan gejala kelaparan seng (Zn). Pada daun-daun dewasa yang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat, tulang-tulang daun yang halus berwarna lebih gelap sehingga kontras dengan daging daun yang berwarna kuning.

2) Gejala dalam Gejala dalam penyakit CVPD ini, apabila dibuat irisan melintang dari ibu tulang daun/ tangkai daun yang helaian daunnya memperlihatkan gejala, akan terlihat kelainan pada floemnya. Jaringan floem daun dewasa memperlihatkan gejala yang khas yaitu jauh lebih tebal daripada jaringan floem daun yang berwarna hijau. Disamping itu terjadi pengempisan pembuluh-pembuluh tapis dalam floem sehingga seolah-olah terjadi penebalan dinding-dinding sel. Penebalan ini merupakan jalur-jalur putih mulai di dekat sklerenkim sampai xilem terjadi dari dinding-dinding sel yang berdempet-dempetan karena rongga sel telah hilang/ tinggal sedikit. Sel-sel parenkim yang masih berongga biasanya penuh berisi butir-butir pati

(Semangun 1991, Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan 1981, Sarwono 1986). b. Penyakit Tristeza (Quich Decline) Kutu daun ini sudah dapat menularkan virus jika menghisap tanaman sakit selama 5 detik masa inkubasi 5 detik dan hanya dapat menularkan secara efektif bila 27 ekor kutu daun dalam waktu singkat. Gejala Serangan, gejala infeksi pada tanaman adalah kerusakan pada jarigan tapis (floem). Lekukan atau celah-celah pada jaringan kayu pada batang, tetapi tetap merupakan sumber infeksi bagi varietas yang peka. Pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, merana, kerdil, daun kaku dan berukuran lebih kecil dengan tepinya melengkung ke atas, bunga yang dihasilkan berlebihan, tetapi tidak berkembang menjadi buah yang masak. Menurut Tirtawidjaya 1964 diketahui bahwa CVPD berbeda dengan Tristeza. CVPD men yebabkan tulang-tulang daun berwarna hijau tua sedangkan Tristeza

menyebabkan tulang-tulang daun menjadi pucat (Vein Clearing).

10

c.

Penyakit Busuk pangkal batang (Phytophthora spp) Serangan penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh jamur Phytophthora spp tergolong kategori serangan rendah, dengan intensitas serangan berkisar 5-10% (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat). Penyakit busuk pangkal batang dapat dikenali dengan adanya gejala busuk akar dan gummosis encer pada permukaan kulit pangkal batang. Pembusukan dimulai dari pangkal batang dekat permukaan tanah sampai setinggi 40 cm. Jaringan yang terserang akan berubah warna, lama-lama kulit tersebut terkelupas dan akan jatuh sehingga menyebabkan luka lebar. Pada keadaan serangan yang parah, luka terjadi disekeliling pangkal batang, akhirnya tanaman akan mati. Menurut Mutia et al.2004, jamur Phytophthora spp bersifat polyfag dan dapat bertahan di dalam tanah dalam bentuk sporangium dan spora kembara (Klamidiospora). Jamur dipecahkan oleh terpaan air hujan dan menginfeksi melalui luka alami, luka karena alat pertanian ataupun luka karena serangga. Perkembangan penyakit lebih cepat pada temperatur tanah yang tinggi, pH tanah yang agak masam (6,0-6,5), tanah yang lembab dan pada curah hujan yang tinggi.

d.

Penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat) Intensitas serangan penyakit Diplodia (Botryodiplodia

theobromae Pat) mencapai 20% dengan kategori serangan sedang (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat). Jenis diplodia yang dijumpai adalah diplodia kering dengan tanda-tanda serangan kulit batang atau cabang tanaman yang terserang tidak mengeluarkan blendok/ gummosis, kulit yang terserang mudah terkelupas. Kulit mongering, jika dipotong kulit dan kayu dibawahnya berwarna hitam kehijauan. Biasanya infeksibaru diketahui jika daun telah menguning, sehingga terlambat untuk melakukan pengendalian. Bila kondisi tidak menguntungkan, maka pathogen penyakit dapat membentuk struktur tahan. Pada kondisi

11

kelembaban, nutrisi, dan suhu tinggi, pathogen akan segera berkecambah dan melakukan penetrasi kedalam jaringan tanaman. Perbedaan kondisi suhu lingkungan yang sangat tinggi antara siang dan malam terutama pada musim kemarau akan memperlemah tanaman sehingga mudah terserang penyakit Diplodia. Pada Diplodia basah, tanaman yang terserang tampak adanya luka-luka pada batang atau cabang-cabang yang sering disertai getah (gum) yang berwarna kuning emas. Kulit yang sakit mengelupas dan mudah jatuh. Jaringan kayu di bawahnya juga terinfeksi. Pada stadium lanjut, timbul piknidia jamur. Akibatnya daun-daun menguning, kering dan terjadi mati ranting. Penyakit ini biasanya ditemukan di kebun-kebun yang tidak dikelola dengan baik. e. Penyakit Embun jelaga (Capnodium citri Berk. & Desm) Serangan penyakit embun jelaga mencapai intensitas 25,0 % dengan kategori serangan sedang (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat). Penyakit ini dapat menyerang daun, ranting dan buah sehingga bagian tanaman yang terserang kelihatan dilapisi oleh kumpulan jamur berwarna hitam. Pada musim kering kumpulan jamur mudah terkelupas dan diterbangkan oleh angin kepada tanaman yang sehat. Buah yang terserang ditutupi oleh lapisan jamur, biasanya ukurannya lebih kecil dan terlambat matang. Jamur Capnodium citri lebih cepat berkembangnya dengan adanya sekresi embun madu yang dihasilkan oleh hama kutu daun sebagai medium pertumbuhannya. 3. Langkah Budidaya a. Pemilihan Lokasi Tanam Tanaman jeruk ditanam diberbagai jenis tanah, dari tanah pasir kasar sampai tanah liat berat. Tanah tidak boleh tergenang air. Pada daerah yang tergenang air harus segera dikeringkan, atau menanamnya pada tanah yang ditinggikan. Drainase yang baik sangat perlu untuk memperoleh hasil yang tinggi. Tanah yang baik

12

untuk tanaman jeruk yaitu bila berasal dari endapat yang subur, cukup dalam dan tidak beragam. Walaupun tanaman jeruk bisa ditanam ditanah berat, tetapi lebih baik bila ditanam di tanah ringan sampai sedang, yang erasi (peredaran udara) cukup baik, gembur, cukup dalam, air bisa merembes, dan cukup bahan organik. Tanaman jeruk tidak mempunyai banyak akar rambut atau boleh dikatakan tidak mempunyai akar rambut. Oleh karena itu, tanah tempat tumbuhnya harus cukup humus atau bahan organik (kompos, pupuk kandang, pupuk hijau).Struktur fisik tanah sangat penting, tanah harus bisa mengikat dan merembeskan air, jangan sampai tanah tergenang. Akar tanaman jeruk memerlukan cukup oksigen, maka erasi tanah sangat penting. Tanaman jeruk manis yang ditanam pada tanah yang cukup bahan organik sampai lapisan dalam lebih dari 50 cm, akan lebih cepat besar pertumbuhannya. Tanaman jeruk sangat sensitif bila tanah banyak mengandung garam. Di Indonesia tanaman jeruk bisa hidup baik pada pH 5-6. Bila pH terlalu rendah, tanah ditambah kapur atau dolomit (dolomit yaitu campuran karbonat dan magnesium karbonat). b. Pengolahan Tanah Bila tempat tanam telah ditetapkan dan syarat-syarat yang diperlukan telah terpenuhi bisa dimulai mengadakan persiapan sebagai berikut : 1) Tanah dibersihkan dari tanaman-tanaman penggangu. Semak, alang-alang, rumput, dan gulma. 2) Selanjutnya buatlah batasan-batasan dengan sebilah bambu (patok) untuk menentukan tempat tanam. Pada pembagian ini diperhitungkan juga pembagian jalan kontrol (bila luas areal tanah 1 ha dibagi menjadi 4). Bila pembuangan air tidak lancar, buatlah selokan-selokan pembuangan air. Ini penting, terutama untuk tempat-tempat yang cekung dan keadaaan tanahnya liat.

13

3) Bila bibit yang digunakan berakar panjang, usahkan agar tanah digembur-gemburkan lebih dalam. Tapi bila bibit yang digunakan berakar dangkal (cangkokan, stek), usahakan agar tanah digemburkan secara meluas. 4) Pada tanah yang letaknya tinggi serta sedang sebaiknya ditanam bibit okulasi, sedang pada areal yang air tanahnya tidak dalam penggunaan bibit cangkokan adalah sangat tepat. 5) Bila tanah tempat areal tanam tidak banyak mengandung humus, kondisi tanah terlalu kurus dan liar, sebaiknya ditanami dulu dengan tanaman pupuk hijau selama 1-2 tahun. Setelah itu batang dan daun dibenamkan, agar tanah menjadi lebih subur. 6) Setelah tanah selesai dikerjakan, mulailah diajir. Pada tempat yang akan ditanami pohon ditancapkan sebuah diperlukan. Caracara memasang yang terpenting harus sama jaraknya dan harus berderet lurus. Aturannya ada dua macam, yaitu bujur sangkar atau segitiga. 7) Setelah jalan induk, jalan kontrol, dan tempat air rampung diatur, dimulailah pembuatan lubang-lubang tempat penanaman. Lubang dibuat 3-4 minggu sebelum bibit ditanam. c. Pembuatan lubang penanaman Saat tanam yang baik untuk menanam bibit jeruk adalah pada permulaan musim hujan. Bisa juga penanaman dilakukan menjelang akhir musim hujan, tetapi resikonya orang harus rajin menyirami bibit mudah setiap hari agar tidak mati kekurangan air pada musim kemarau. Waktu terbaik untuk mulai mengerjakan tanah adalah pada bulan Juni-Agustus. Besarnya lubang minimal 60 x 60 x 60 cm. Lebih besar lebih baik, umpamanya 80 x 80 x 70 cm atau 1 x 1 x 0,5 m. Penggalian lubang jangan terlalu dalam, pengaruhnya kurang baik (merugikan), karena akan tanaman akan mengumpul di lapisan yang dalam dan lapisan atas kurang.

14

Sedangkan perakaran di lapisan atas sangat diperlukan peredaran hawa di lapisan ini lancar, serta pemupukan pun bisa dikerjakan lebih mudah. Selain itu lubang penanaman yang terlalu dalam sering menarik air dari tanah sekelilingnya, hal itu akan merusak akar tanaman dan menghambat pertumbuhannya. Lubang tanaman dibuat dengan cara menggali lubang. Tanah bagian atas yang subur (berwarna kehitam-hitaman) dipisahkan dari tanah bawah. Tanah atas dibuang disebelah kiri, tanah bawah ke sebelah kanan. Selanjutnya lubang dibiarkan menganga terjemur matahari 24 minggu lamanya. Tanah bagian bawah dimasukkan dalam lubang, letaknya tetap dibawah seperti semula. Sedangkan tanah bagian atas, sebelum dimasukkan dalam lubang dicampur dulu dengan 2-3 kaleng pupuk kandang/kompos ditambah 1,5 kg pupuk fosfat. Pada keadaan serupa ini bibit jeruk belum boleh ditanam. Setelah tanah turun kembali, hingga muka tanah diatas lubang sedikit lebih tinggi dari pada tanah disekelilingnya, barulah bibit pohon ditanam. Saat tanam yang baik untuk menanam bibit jeruk adalah pada permulaan musim hujan. Sebelum bibit ditanam, tanah dalam lubang hartus betul-betul basah dari atas sampai kebawah. Lubang digali yang lebar dan dalamnya sesuai dengan akar seluruhnya. Bila bibit terletak dalam keranjang persemaian. Keranjangnya harus dilepas terlebih dahulu, dan selain itu perakarannya juga harus diperiksa. Bibit yang akarnya berbelit-belit dan melingkar-lingkar jangan smapai dipakai. Sebab akan menggangu pertumbuhan tanaman nantinya. Tetapi kalau hendaknya dipakai, letak akar dibenarkan dan diluruskan arah pertumbuhannya. Bila ada akar yang panjangnya melelbihi batas lubang akar, sebaiknya dipotong saja kelebihannya. Janganlah menanam terlalu dalam, tapi jangan pula terlalu dangkal. Batas akar dengan batas sama tinggi dengan permukaan tanah. Labih-lebih untuk bibit okulasi. Jangan sampai tanah

15

melampaui tatau menutupi batang okulasinya. Untuk menghindari adanya rongga-rongga antar akar dan tanah, siramlah tanah dengan air sebanyak mungkin. adanya rongga dalam tanah akan

mengakibatkan akar mengering (akar jeruk sangat halus), sehingga seluruh pohon bisa mati sebelum tumbuh. Setelah itu tanah dipadatkan dengan tangan. Setelah selesai menanam, sekitar bibit tanaman diberi jerami kering guna melindungi tanah agar tidak kering oleh panas sinar matahari atau mengeras padat karena terkena siraman air hujan. Lebih bagus lagi kalau jauh sebelumnya telah disiapkan bahan perlindungan yang terbuat dari bumbu dengan atap alang-alang, daun nipah atau kelapa. d. Pengairan Selain sinar matahari yang cukup, tanaman jeruk juga memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya. Penyiraman tanaman jeruk dalam pot harus diklakukan secara tepat dan teratur. Pada awal masa pertumbuhan atau musim kemarau, penyiraman perlu dilakaukan dua kali sehari, yakni pada pagidan sore hari. Pasalnya, kekurangan airdapat mengakibatkan tanaman jeruk jadi stresdan sulit berbuah. Penyiraman jangan berlebih. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan dan ditutup mulsa. Tanaman akan menjadi layu bahkan mati, jika mengalami kekurangan air yang berlangsung lama. Namun, penyiraman yang berlebihan juga tidak disarankan karena dapat menyebabkan penyakit busuk pada akar akibat serangan cendawan apabila keadaan media tanam selalu lembap. Selain itu, unsur hara dalam media pun juga akan larut bersama siraman air. Air yang digunakan untuk menyiram jeruk dalam pot sebaiknya menggunakan air sumur atau yang bersasal dari mata air.

16

Penyiraman dilakukan menggunakan slang plastik atau gembor. Penyiraman yang terus-menerus akan menyebabakan pemadatan pada media tanam dalam pot. Hal ini dapat menghambat sirkulasi udara dan peresapan air oleh media tanam. Karena itu, media tanam harus digemburkan setiap 2-3 minggu sekali. e. Pemupukan Pemupukan bertujuan menambah unsur hara tertentu di alam tanah yang tidak cukup bagi kebutuhan tanaman. Terdapat kecenderungan peningkatan jumlah (dosis) dan jenis (macam unsurhara) pupuk yang harus diberikan seiring dengan semakin lamanya budidaya tanaman pada sebidang lahan. Pemupukan sebaiknya dilakukan berdasarkan asas

keseimbangan. Pem-berian pupuk yang mengandung unsur hara tertentu secara berlebihan akan mengganggu penyerapan unsur hara lainnya. Hasil maksimal dari suatu upaya pemupukan akan diperoleh jika dilakukan dengan tepat meliputi dosis, jenis, waktu, dan cara pemberiannya. Pusat penelitian dan pengembangan Hortikultura

menggunakan metode penentuan dosis pupuk berdasarkan jumlah buah yang dipanen tahun sebelumnya, yaitu 3 % dari toral bobot buah tiap pohon dalam bentuk NPK (3:1:2) diberikan dua kali per tahun bersama pupuk kandang. Tetapi secara umum Puslitbanghort juga masih menganjurkan penentuan kebutuhan pupuk pada jeruk berdasarkan umur tanaman dan status hara dalam tanah. Berikut tabel takaran pupuk pada tanaman jeruk. Umur Tanaman Pupuk kandang Urea (g/ph) TSP (g/ph) ZK (g/ph) (tahun) (kg/ph) 1 2 3 4 5 250 400 600 800 1000 25 50 75 100 125 100 200 300 400 500 20 40 60 80 100 17

6 7 8

1200 1400 1600

150 175 200 200

600 700 800 800

120 140 160 200

9 1600-2000 Sumber: Puslitbanghort 2003 f.

Pengelolaan Hama dan Penyakit pada Jeruk 1) Hama Thrips (Scirtothrips citri) Tindakan penerapan pengendalian hama lebih diarahkan (PHT) teknologi kepada yaitu yang

pengendalian

terpadu

mengkombinasikan

beberapa

komponen

sinergis, seperti pemanfaatan musuh alami Coccinellidedan melaksanakan pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS) secara berkelompok. Pengendalian dengan kultur teknis, menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat, sehingga cahaya matahari bisa menerobos sampai kebagian dalam tajuk. Pengendalian dengan kimiawi, menggunakan insektisida efektif, dilakukan terutama pada saat tanaman sedang bertunas, berbunga dan pembentukan buah pada musim kemarau cukup efektif mengendalikan populasi thrips. Tindakan pengendalian dengan insektisida kimia dianjurkan kepada penggunaan insektisida selektif seperti Imidakloprid. 2) Kutu daun hitam (Toxoptera aurantii) dan Kutu daun coklat (Toxoptera citricidus) Tindakan utama yang harus dilakukan terhadap populasi hama kutu daun ini adalah monitoring pada tunas-tunas muda. Pengendalian dilakukan apabila populasi hama dinilai sudah menghambat atau merusak pertunasan tunas. Ambang kendali 25-30 ekor viruliverous. Secara alami kutu ini dikendalikan oleh predator-predator dari famili Syrphidae, Coccinellidae,

Chrysopidae. Secara kimiawi, dengan menggunakan insektisida

18

berbahan

aktif

Dimathoate,

Alfametrin,

Abamectin

dan

Sipermetrin secara penyemprotan terbatas pada tunas-tunas yang terserang atau dengan sistim saputan batang dengan insektisida Imidakloprid. 3) Tungau Karat (Phyllocoptura oleivera Ashmed) Tindakan utama yang harus dilakukan terhadap populasi hama tungau adalah monitoring pada permukaan daun bagian tas dan bawah serta pada permukaan kulit buah. Secara alami populasi tungau dikendalikan oleh musuh alami seperti predator Amblyseius citri,agensia hayati seperti entomopatogen

Hirsutellasp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila pengendalian penyakit pada tanaman jeruk dengan fungisida berbahan aktif sulfur seperti Maneb, Mankozeb, Zineb ataupun bubur California dapat mengendalikan populasi hama tungau. 4) Kutu Loncat Jeruk (Diphorina citri Kuw.) Cara pengendalian hama kutu loncat jeruk ini, dengan kultur Teknis yaitu dengan menggunakan bibit sehat yang berasal dari induk dan daerah yang sehat dan pada fase pembibitan, gunakan mulsa plastik menghambat perkembangan populasi kutu daun. Secara biologi, dengan pemanfaatan predator dari family Syrphidaeseperti menochilus sp.

(Coccinellidae), Crysophidae, Scrymnus sp. Dan Lycosidae. Pemanfaatan parasitoid Aphytis sp. Entomooatogen yang telah diketahui dapat menginfeksi diphoma citri adalah Fusarium coccophilum. Kimiawi, pengendalian memanfaatkan insektisida selektif hendaknya dilakukan segera setelah gejala koloni kutu daun terlihat pada tunas, dengan insektisida berbahan aktif dimethoate, methidatiom, malathion, phosphamidon, diazinon dan monocrotophos yang diaplikasikan secara ldquo, Ispot spray dan rdquo; pada daun atau tunas yang terserang dengan bijaksana dan sesuai anjuran

19

5) Lalat buah (bactrocera spp.) Cara pengendalian lalat buah, dengan karantina

(Peraturan) yaitu pencegahan terhadap serangan lalat buah dengan penerapan peraturan karantina yang ketat untuk mencegah masuknya lalat buah dari wilayah atau Negara yagn diketahui mempunyai masalah lalat. Kultur teknis, dengan penggunaan tanaman perangkap. Tanaman yang memiliki nilai ekonomi rendah dapat dijadikan tanaman perangkap, seperti selasih, sehingga lalat buah akan berkumpul disekitar pohon selasih, kemudian dijaring. Fisik/ Mekanik, dengan

pengerodongan buah keuntungan dari cara ini adalah buah terhindar dari serangan lalat buah, mulus, bersih tanpa pencemaran bahan kimia, tetapi untuk areal yang luas tidak praktis. Penggunaan perangkap dan attraktan perangkap yang terbuat dari plastik atau botol air mineral yang sudah dipasang attraktan (methyleugenol, cuelure, med-lure, protein hidrosila, ekstrak daun selasih dan daun melaleuca ). Attraktan dapat dicampur dengan pestisida dan diteteskan pada kapas. Perangkap ini dipasang pada ranting atau cabang pohon setinggi 2-3 m dari permukaan tanah. Pemasangan efektif 16 buah/ha secara terus menerus dalam areal yang luas. Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami berupa predator, seperti semut, laba-laba kumbang stafilinid dan cocopet dapat menekan populasi lalat buah dan parasitoid, seperti Biosteres sp. Dan Opius sp. (family Braconidae). Teknik jantan mandul teknik ini pada prinsipnya mengendalikan lalat buah dengan cara melepas lalat buah jantan mandul dikebun agar bersaing kawin dengan lalat normal. Secara kimiawi, penggunaan pektisida bisa dilakukan dengan cara penyemprotan,pengabutan, pencelupan dan pencampuran dengan attraktan adalah cara mudah dan

20

efektif. Pengendalian pasca panen bisa dilakukan dengan perlakuan uap/ udara panas, udara dingin, dan fungsi. 6) Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (VCPD) Agar pengendalian vector CVPD lebih tepat sasaran, dinamika populasi perlu dipahami berdasarkan monitoring. Monitoring dapat dilakukan menggunakan perangkap kuning yellow trap yang dipasang di antara pon jeruk setinggi sekitar setengah tajuk tanaman. Pengendalian vektor CVPD dapat dikendalikan secara efektif dengan metode saputan batang dengan insektisida sistemik berbahan aktif imidakloprid. Penyaputan batang dapat diulang setiap 2-4 minggu. Penyaputan batang di atas bidang tempelan dengan kuas yang sudah dicelupkan ke dalam insektisida murni tersebut (tidak dilarutkan) sebanyak 10-15 ml (untuk lingkar batrang 18-20 cm) dengan tinggi saputan selebar diameter batang (Lolit Jeruk, 2003) 7) Penyakit Tristeza (Quich Decline) Cara Pengendalian dengan kultur teknis, penggunaan bibit sehat, penggunaan mata temple yang bebas penyakit dan batang bawah tahan terhadap virus Tristeza serta eradikasi terhadap tanaman sakit dan tanaman inang serangga penular, kemudian di bakar. Kimiawi, pengendalian dengan

menggunakan insektisida efektif secara bijaksana sesuai anjuran. 8) Penyakit Busuk pangkal batang (Phytophthora spp) Pengendalian secara terpadu lebih diutamakan guna memperoleh hasil yang maksimal seperti memakai batang bawah yang tahan, misalnya Cleopatra mandarin, menjaga sanitasi kebun, pemantauan dini (bila ada gejala serangan kulit terinfeksi dikelupaskan dengan pisau dan dioles dengan Mankozeb), memperbaiki drainase kebun dan pelaburan bubur California.

21

Cara Pengendalian dengan kultur teknis yaitu sanitasi tanaman dari gulma dan inang alternative, tinggi sambungan okulasi sebaiknya berada 60 cm di atas permukaan tanah, penanaman jeruk dilakukan diatas gundukan setinggi 15-20 cm dan tidak dibumbun, mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur jarak tanam dan melakukan pemangkasan. Fisik/ Mekanis yaitu membuang bagian (kulit) yang sakit sampai paling sedikit 1 cm mengenai kulit yang sehat, bekas luka di tutup/ dilabor dengan fungsida, mengumpulkan sisa tanaman dan tanaman yang mati terserang penyakit, di cakut dan di bakar. Biologi, penggunaan benih jeruk dengan batang bawah yang tahan terhadap phytophthora spp., penggunaan bahan organik/ pupuk kompos/kandang mengandung Trichoderma harzianum, T. viride , T.hamantum, T.koningli dan lainnya. Kimiawi, setelah kulit di buang pada perlakuan-perlakuan, luka ditutup dengan bubur bordok atau fungsida yang efektif dan terdaftar fungsida yang telah terdaftar antara lain berbahan aktif benomil, tiabendazola, metal tiofanat, tembaga oksiklorida dan mankozeb dengan cara aplikasi yang bijaksan sesuai anjuran. 9) Penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat) Penyakit busuk Diplodia juga menjadi masalah utama dalam usahatani jeruk. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan kombinasi sayatan batang dengan mengikutkan 1-2 cm bagian kulit yang sehat dan pengolesan fungisida carbendazim + mancozeb dan benomyl konsentrasi 0,3%. Luas luka pada batang yang disebabkan oleh jamur Diplodia tidak bertambah secara nyata setelah dilakukan pengendalian. Beberapa teknologi pengendalian yang dapat dilakukan adalah menjaga kebersihan kebun, memangkas bagian tanaman yang sakit, menjaga kebersihan alat-alat pertanian dengan

22

alkohol 70% atau Sodium hipoklorit 10%, pelaburan batang dan dahan tanaman jeruk dengan residu bubur California. 10) Penyakit Embun jelaga (Capnodium citri Berk. & Desm) Pengendalian dengan penyemptotan dengan fungisida anjuran serta melakukan pemangkasan dapat mengurangi tingkat serangan. Tingkat serangan pada saat sebelum aplikasi Bubur California adalah 9.83-22 % daun per pohon dan sesudah perlakuan menurun menjadi 7.81-17 % daun per pohon. Penyemprotan Bubur California dapat menggantikan fungisida oleh karena mengandung bahan aktif belerang. Tindakan pengendalian penyakit jamur Capnodium citri dapat dilakukan dengan cara mengendalikan populasi hama kutu-kutu daun (aphis) dan penyemprotan detergen 5% sebanyak dua kali sebulan. g. Pengolahan Panen dan Pasca Panen 1) Panen Umur buah/tingkat kematangan buah yang dipanen, kondisi saat panen, dan cara panen merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi mutu jeruk. Umur buah yang optimum untuk dipanen adalah sekitar 8 bulan dari saat bunga mekar. Ciri-ciri buah yang siap dipanen: jika dipijit tidak terlalu keras; bagian bawah buah jika dipijit terasa lunak dan jika dijentik dengan jari tidak berbunyi nyaring, warnanya menarik (muncul warna kuning untuk jeruk siam), dan kadar gula (PTT) minimal 10%. Kadar gula dapat ditentukan dengan alat hand refraktometer di kebun. Dalam satu pohon, buah jeruk tidak semuanya dapat dipanen sekaligus, tergantung pada kematangannya. Jeruk termasuk buah yang kandungan patinya rendah sehingga bila dipanen masih muda tidak akan menjadi masak seperti mangga. Jika panen dilakukan setelah melampaui tingkat kematangan optimum atau buah dibiarkan terlalu lama pada pohon, sari buah

23

akan berkurang dan akan banyak energi yang dikuras dari pohon sehingga mengganggu kesehatan tanaman dan produksi musim berikutnya. Panen yang tepat adalah pada saat buah telah masak dan belum memasuki fase akhir pemasakan buah. Dalam penyimpanan, rasa asam akan berkurang karena terjadi penguraian persenyawaan asam lebih cepat dari pada peruraian gula. Kerusakan mekanis selama panen bisa menjadi masalah yang serius, karena kerusakan tersebut menentukan kecepatan produk untuk membusuk, meningkatnya kehilangan cairan dan meningkatnya laju respirasi serta produksi etilen yang berakibat pada cepatnya kemunduran produk. Panen dapat dilakukan dengan tangan maupun gunting. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam panen jeruk: a) Jangan melakukan panen sebelum embun pagi lenyap b) Tangkai buah yang terlalu panjang akan melukai buah jeruk yang lain sehingga harus di potong di sisakan sekitar 2 mm dari buah c) Panen buah di pohon yang tinggi harus menggunakan tangga, agar cabang dan ranting tidak rusak d) Jangan memanen buah dengan cara memanjat pohon, karena kaki kotor dapat menyebarkan penyakit pada pohon e) Pemanen buah dilengkapi dengan keranjang yang dilapisi karung plastik atau kantong yang dapat digantungkan pada leher f) Wadah penampung buah terbuat dari bahan yang lunak, bersih, dan buah diletakkan secara perlahan. Krat walau biaya awalnya mahal, bisa ditumpuk, bertahan lama, dapat dipakai berulang-ulang dan mudah dibersihkan.

24

2. Sortasi dan Pencucian Sortasi atau seleksi merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan setelah panen yang umumnya dikerjakan di bangsal pengemasan atau di kebun dengan tujuan memisahkan buah yang layak dan tidak layak untuk dipasarkan (busuk, terserang penyakit, cacat, terlalu muda/tua dan lain-lain). Sortasi juga dilakukan untuk memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah atau pasar. Setelah sortasi, buah jeruk dicuci untuk membersihkan kotoran dan pestisida yang masih menempel pada permukaan kulit buah. Buah direndam dalam air yang dicampur deterjen atau cairan pembersih 0,5-1 %, kemudian digosok pelan-pelan menggunakan lap halus atau sikat lunak jangan sampai merusak kulit. Selanjutnya buah dibilas dengan air bersih, dikeringkan menggunakan lap lunak dan bersih atau ditiriskan. 3. Pemutuan Pemutuan atau grading dilakukan setelah sortasi dan pencucian untuk mengelompokan buah berdasarkan mutu yaitu, ukuran, berat, warna, bentuk, tekstur, dan kebebasan buah dari kotoran atau bahan asing. Peranan penerintah tidak hanya terbatas pada bidang pemasaran saja. Tetapi yang paling penting ialah penetapan standarisasi buah, yang mencakup kualitas buah.Sehubumgan dengan standarisasi buah tersebut, Standar Nasional Indonesia (SNI) menggolongkan buah jeruk kedalam 4 kelas berdasarkan bobot atau diameter buah (Tabel 1). Tabel 1. Kriteria Jeruk (SNI 01-3165-1992)
Kelas A B C D Bobot (g) 151 101 150 51 100 50 Diameter (cm) 71 61 -70 51 - 60 40 50

25

4. Pelilinan Beberapaa jenis buah secara alami dilapisi oleh lilin yang berfungsi sebagai pelindung terhadap serangan fisik, mekanik, dan mikrobiologis. Pelapisan lilin pada buah-buahan sebenarnya adalah menggantikan dan menambah lapisan lilin alami yang terdapat pada buah yang sebagian besar hilang selama penanganan karena lapisan lilin yang menutupi pori-pori buah dapat menekan respirasi dan transpirasi sehingga daya simpan buah lebih lama dan nilai jualnya lebih baik. Manfaat lainnya adalah meningkatkan kilau dan menutupi luka atau goresan pada permukaan kulit buah sehingga penampilannya menjadi lebih baik. Pelilinan terhadap buah jeruk segar pertama kali dikenal sejak abad 12-13 oleh bangsa Cina, tetapi pada saat itu tanpa memperhatikan adanya efek-efek respirasi dan tranpirasi sehingga lapisan lilin yang terbentuk terlalu tebal, mengakibatkan respirasi anaerob (fermentasi) dan menghasilkan jeruk yang masam dan busuk. Oleh karena itu, pelilinan harus diupayakan agar pori-pori kulit buah tidak tertutupi sama sekali agar tidak terjadi kondisi anaerob di dalam buah. Sebaliknya, jika lapisan lilin terlalu tipis hasilnya kurang efektif mengurangi dengan laju respirasi dan lilin

transpirasi. Dibandingkan

pendinginan.aplikasi

kurang efektif dalam menurunkan laju respirasi sehingga pelilinan banyak dilakukan untuk melengkapi penyipanan dalam suhu dingin. Lilin yang digunakan dapat berasal dari berbagai sumber seperti tanaman, hewan, mineral maupun sintetis. Kebanyakan formula lilin dipersiapkan dengan satu atau lebih bahan seprti beeswax, parafin wax, carnauba wax (secara alami didapat dari carnauba palm) dan shellac (lilin dari insekta). Syarat lilin yang digunakan : tidak mempengaruhi bau dan rasa buah, cepat kering,

26

tidak lengket, tidak mudah pecah, mengkilap dan licin, tipis, tidak mengandung racun. Syarat komoditi yang dilapisi adalah segar (baru dipanen) dan bersih, sehat (tidak terserang hama/penyakit), dan ketuaan cukup. Lilin yang banyak digunakan adalah lilin lebah yang diemulsikan dengan konsentrasi 4 12%.Air yang digunakan tidak boleh menggunakan air sadah karena garam-garam yang terkandung dalam air tersebut dapat merusak emulsi lilin. Aplikasinya dapat dilakukan dengan, penyemprotan, pencelupan, atau pengolesan. Sebenarnya pelilinan buah-buahan itu tidak mengandung racun karena menggunakan lilin lebah dan konsentrasinya pelilinannya sedikit sekali. Hal yang paling dikuatirkan buah-buahan itu rawan kandungan pestisida kemudian terlapisi lilin sehingga pestisidanya masih menempel pada buah. Kandungan pestisida inilah yang sangat berbahaya bila sampai termakan, bisa menyebabkan banyak penyakit diantaranya kanker, leukimia, tumor, neoplasma indung telur dll. 5. Labeling dan Pengemasan Pengemasan buah bertujuan melindungi buah dari luka, memudahkan pengelolaan (penyimpanan, pengangkutan,

distribusi), mempertahankan mutu, mempermudah perlakuan khusus, dan memberikan estetika yang menarik konsumen. Kemasan dan lebel jeruk perlu di desain sebaik mungkin baik warna dan dekorasinya karena kemasan yang bagus dapat menjadi daya daya tarik bagi konsumen. 6. Penyimpanan Penyimpanan buah jeruk bertujuan: memperpanjang kegunaan, menampung hasil panen yang melimpah, menyediakan buah jeruk sepanjang tahun, membantu pengaturan pemasaran, meningkatkan keuntungan financial, mempertahankan kualitas jeruk yang disimpan. Prinsip dari perlakuan penyimpanan:

27

mengendalikan laju respirasi dan transpirasi, mengendalikan atau mencegah penyakit dan perubahan-perubahan yang tidak

dikehendaki oleh konsumen. Penyimpanan di ruang dingin dapat mengurangi aktivitas respirasi dan metabolisme, pelunakan, kehilangan air dan pelayuan, kerusakan karena aktivitas mikroba (bakteri,

kapang/cendawan).Jeruk yang disimpan hendaknya bebas dari lecet kulit, memar, busuk dan kerusakan lainnya.Untuk

mendapatkan hasil yang baik, suhu ruang penyimpanan dijaga agar stabil.Suhu optimum untuk penyimpanan buah jeruk adalah 5 10oC.Jika suhu terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan buah (chiling injury). Jika kelembaban rendah akan terjadi pelayuan atau pengkeriputan dan jika terlalu tinggi akan merangsang proses pembusukan, terutama apabila ada variasi suhu dalam ruangan. Kelembaban nisbi antara 85-90% diperlukan untuk menghindari pelayuan dan pelunakan pada beberapa jenis sayuran. Beberapa produk bahkan memerlukan kelembaban sekitar 90-95%. Kelembaban udara dalam ruangan pendinginan dapat dipertinggi antara lain dengan cara menyemprot lantai dengan air. Kelembaban yang tepat akan menjamin tingkat keamanan bahan yang disimpan terhadap pertumbuhan mikroba. Sirkulasi udara diperlukan secukupnya untuk membuang panas yang berasal dari hasil respirasi atau panas yang masuk dari luar.

28

C. Penutup 1. Kesimpulan Kesimpulan dari makalah Pengelolahan Hama Terpadu pada Budidaya Tanaman Jeruk sebagai berikut: a. Hama Penting Tanaman Jeruk : Hama Thrips (Scirtothrips citri), Kutu daun hitam (Toxoptera aurantii) dan Kutu daun coklat (Toxoptera citricidus), Tungau Karat (Phyllocoptura oleivera Ashmed), Kutu Loncat Jeruk (Diphorina citri Kuw.), Lalat buah (bactrocera spp.). b. Penyakit Penting Tanaman Jeruk: Penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (VCPD), Penyakit Tristeza (Quich Decline), Penyakit Busuk pangkal batang (Phytophthora spp), Penyakit Diplodia (Botryodiplodia theobromae Pat), Penyakit Embun jelaga

(Capnodium citri Berk. & Desm). c. Pengendalian hama dan penyakit masing-masing spesies berbedabeda tergantung kerusakan yang ditimbulkan. d. Langkah Budidaya: Pemilihan lokasi tanam, pengolahan tanah, pembuatan lubang penanaman, pengairan, pemupukan, pengelolaan hama dan penyakit pada jeruk, pengolahan panen dan pasca panen. 2. Saran Teknik budidaya yang dilakukan harus tepat yaitu selain dapat meningkatkan produksi dengan pengendalian hama dan penyakit, juga sebisa mungkin pengelolaan hama dan penyakit yang dilakukan dapat memperhatikan kondisi lingkungan.

29

DAFTAR PUSTAKA Abuhaerah 1987. Strategi Pengembangan Jeruk di Indonesia. Risalah Lokakarya Implementasi Rehabilitasi Jeruk. Sub Balithorti Tlekung dan UNDP/FAO BP4K 2012. OPT Tanaman Jeruk. http://bp4kkabsukabumi.net. Diakses pada 23 November 2013. BPTP 2007. Rekomendasi Teknologi Budidaya Jeruk dan Mangga. Buletin Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan 1 (1). Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan 1981. Penyakit Pada Tanaman Jeruk dan Usaha Pengendaliannya. Fak. Pertanian IPB. Bogor. Loka Penelitian Jeruk dan Hortikultura Subtropik 2003. Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat, Strategi Pengendalian Penyakit CVPD. Puslitbang Hortikultura. Muhammad H dan Idaryani 2005. Metode Penentuan Kebutuhan Hara pada Tanaman Jeruk. Buletin Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan 1 (1). Nainggolan P, Delima N dan Loso W 2004. Pengendalian Hama Penyakit Penting Tanaman Jeruk Siam Madu dengan Menggunakan Bubur California. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara. Nurhadi dan D Djatmiadi 2002. Manajemen Hama dan Penyakit Tanaman Jeruk : Hasil Penelitian dan Implementasi. Makalah disampaikan pada Semiloka Nasional Pengembangan Jeruk dan Pameran Buah Jeruk Unggulan di Bogor. Puslitbang Hortikultura 2003. Pedoman Umum Penelitian dan Pengkajian Penerapan Perbaikan Pengelolaan Tanaman (PTT) Jeruk. Puslitbang Hortikultura. Sarwono B 1986. Jeruk Dan Kerabatnya. PT. Penebar Swadaya. Jakarta. Semangun H 1991. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Syafril 2006. Jenis Hama dan Penyakit Penting Menyerang Jeruk Koto Tinggi Kabupaten Lima Puluh Kota. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Tandisau P 2006. Lahan untuk Usaha Tani Tanaman Jeruk. Buletin Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan1 (1).

30