Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN HASIL TUTORIAL BLOK KURHAB 2 SKENARIO 6 KARIES PADA GIGI POSTERIOR

Disusunoleh:

Ketua Scriber papan Scriber meja Anggota

: : : :

Mohamad Basofi RiskyanaDwi Hendra A.R Dwi Sri Lestari Hany Maghfiroh Stefanus Christian Maria Devitha Asyiah Hamasah Izati Inneke Andriani S Deasy Kusuma Ardiani Ita Kurniawati Cindy Uswatun K. Meila Isna Alawiyah Firda Nindita Sari

(111610101077) (111610101010) (111610101094) (111610101036) (111610101051) (111610101085) (111610101088) (111610101089) (111610101091) (111610101092) (111610101095) (111610101097) (111610101099)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami (seluruh anggota kelompok delapan) panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena tanpa limpahan rahmatnya. Kami tidak akan bisa menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini disusun dalam rangka menyelesaikan rangkaian proses diskusi di tutorial blok Kurhab 2 skenario 6 yakni karies pada gigi posterior yang telah dilaksanakan sebelumya.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Drg. Dewi Kristiana, M.Kes selaku tutor kami, teman diskusi kelompok delapan, mahasiswa FKG angkatan 2011 serta semua pihak yang telah membantu dan ikut terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa baik dalam proses penyusunan maupun hasil akhir makalah ini masih banyak kekurangann dan kesalahan. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran yang membangun.

Jember, November 2013

Tim penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .....................................................................................................................i DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii BAB I. PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG.................................................................................................1 1.2 PERUMUSAN MASALAH........................................................................................2 1.3 TUJUAN......................................................................................................................3 1.4 MAPPING....................................................................................................................3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................................4 BAB III.PEMBAHASAN 3.1 MENGAPA DOKTER GIGI MENGANJURKAN UNTUK MENGGUNAKAN GIGI TIRUAN PADA KASUS DI SKENARIO..8 3.2 JENIS GIGI TIRUAN YANG DIANJURKAN PADA KASUS DI SKENARIO.8 3.3 DESAIN DARI GIGI TIRUAN PADA KASUS DI SKENARIO.8 3.4 INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI GTSL PADA ANAK...................................9 3.5 SYARAT GTSL PADA ANAK10 3.6 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN GTSL PADA ANAK10 3.7 PERBEDAAN GTSL PADA ANAK DAN DEWASA11 3.5 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN GTSL PADA ANAK.12

BAB IV. KESIMPULAN.........14 DAFTAR PUSTAKA....15

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Tanggalnya gigi sulung secara dini pada anak, dapat menyebabkan terjadinya migrasi gigi tetangga dan antagonisnya untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh gigi tersebut, sehingga lambat laun akan mengakibatkan berkembang secara optimal, bahkan dapat mastikasi, dan estetik. Gangguan organ bicara dapat mempengaruhi suara pasien, misalnya kehilangan gigi anterior rahang atas dan bawah. Kehilangan gigi anterior dapat mengakibatkan gangguan bicara yang bersifat sementara, setelah menggunakan gigi tiruan mampu meningkatkan fungsi bicara dengan cara membiasakan menggunakan gigi tiruan. Gangguan bicara yang disebabkan tanggalnya gigi anterior, akan berdampak dalam pelafalan kata, terutama pada kata yang mengandung huruf konsonan antara lain (s), (z), (v), (f). Udara bebas yang berada di ruang kosong karena tanggalnya gigi yang hilang, akan merubah bunyi s menjadi th. Kelainan dalam pelafalan dapat menyebabkan trauma psikologis pada anak, sehingga anak menjadi kurang percaya diri. Ruang kosong dalam lengkung rahang anak, dapat dioptimalkan fungsinya yaitu dengan menggunakan suatu alat gigi tiruan sebagian lepasan (removable partial denture) atau gigi tiruan cekat ( fixed partial denture). Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan ditujukan pada keadaan hilangnya gigi, termasuk diastema, dan terjadinya resorpsi tulang. Pembuatan gigi tiruan cekat hanya dapat digunakan bila hilangnya gigi tiap daerah tak bergigi tidak seluruhnya dan pada ke dua sisi daerah yang tidak begigi masih dibatasi gigi asli sehingga memenuhi syarat sebagai gigi pendukung. Apabila alat cekat tidak dapat dipakai karena kurangnya retensi (tidak memenuhi syarat sebagai gigi pendukung), maka gigi tiruan sebagian lepasan menjadi pilihan dokter gigi. Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan dapat disesuaikan dengan pertumbuhan gigi. Selama periode pertumbuhan, gigi tiruan memerlukan penyesuaian secara periodik dan terusmenerus, ketika gigi tiruan sudah tidak sesuai lagi dengan pertumbuhan rahang karena terlalu kecil, maka pemeriksaan dan perawatan harus dihentikan. Pembuatan gigi tiruan baru merupakan maloklusi selain itu lengkung menyebabkan gigi tidak

terjadinya gangguan bicara,

perawatan yang dianjurkan dokter gigi untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang. Gigi tiruan sebagian lepasan perlu dibuat ulang mengikuti pola pertumbuhan dan erupsi gigi tetap. Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan memegang peranan penting dalam perawatan gigi anak, oleh karena perawatan tersebut akan memulihkan fungsi mastikasi, bicara, posisi gigi, estetik wajah, dapat mencegah kebiasaan buruk, serta sekaligus memelihara dan

mempertahankan gigi yang tersisa serta jaringan pendukungnya.

1.2 Perumusan Masalah SKENARIO 6 KARIES PADA GIGI POSTERIOR Pasien laki-laki usia 8 tahun diajak ibunya ke RSGM UNEJ dengan keluhan adanya karies pada 85 dan 75. Hasil pemeriksaan klinis gigi 85 dan 75 nekrosis pulpa dan tampak dari radiologi adanya perforasi bifurkasi pada gigi 85 dan 75 serta tidak ada benih gigi permanen pada gigi tersebut. Pada gigi anterior keempat incisive tumbuh dengan baik. Dokter menyarankan untuk dilakukan pencabutan pada gigi 85 dan 75 karena gigi tersebut tidak dapat dirawat dan dianjurkan untuk menggunakan gigi tiruan agar dapat mengembalikan fungsi dengan baik, sehingga pasien tidak tampak ompong dan dapat mengunyah. Dari skenario diatas didapatkan permasalahan sebagai berikut : 1. Mengapa dokter gigi menganjurkan untuk menggunakan gigi tiruan pada kasus di skenario? 2. Apa jenis gigi tiruan yang dianjurkan pada kasus di skenario? 3. Bagaimana desain dari gigi tiruan pada kasus di skenario? 4. Apa indikasi dan kontraindikasi GTSL pada anak? 5. Apa syarat GTSL pada anak ? 6. Apa keuntungan dan kerugian GTSL pada anak? 7. Apa perbedaan GTSL pada anak dan dewasa ? 8. Apa faktor yang mempengaruhi keberhasilan GTSL pada anak?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui, memahami, dan menjelaskan mengapa dokter gigi menganjurkan untuk menggunakan gigi tiruan pada kasus di skenario 2. Mengetahui, memahami, dan menjelaskan jenis gigi tiruan yang dianjurkan pada kasus di skenario 3. Mengetahui, memahami, dan menjelaskan desain dari gigi tiruan pada kasus di skenario 4. Mengetahui, memahami, dan menjelaskan indikasi dan kontraindikasi GTSL pada anak 5. . Mengetahui, memahami, dan menjelaskan syarat GTSL pada anak 6. . Mengetahui, memahami, dan menjelaskan keuntungan dan kerugian GTSL pada anak 7. Mengetahui, memahami, dan menjelaskan perbedaan GTSL pada anak dan dewasa 8. Mengetahui, memahami, dan menjelaskan faktor yang mempengaruhi keberhasilan GTSL pada anak 1.4 Mapping Tanggal prematur dan agenesi

GTSL pada anak

Indikasi dan kontraindik asi

syarat

Keuntungan dan kerugian

Desain

Perbedaan GTSL pada anak dan dewasa

Faktor keberhasilan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Gigi tiruan sebagian lepasan merupakan bagian dari seni dan ilmu kedokteran gigi yang bertujuan untuk memperbaiki serta menjaga fungsi mulut dengan mengganti gigi dan jaringan yang hilang. Tujuan penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan adalah untuk mempertahankan jaringan yang masih ada serta mengembalikan fungsi mastikasi, bicara, penampilan dan mencegah kebiasaan buruk. Dukungan utama dari gigi tiruan sebagian lepasan diperoleh dari jaringan di bawah landasan serta dukungan tambahan dari gigi kodrat yang masih tinggal. Penggunaan gigi tiruan tersebut dapat dilepas dan dipasang sendiri oleh pasien. Gigi tiruan sebagian lepasan adalah alat prostetik yang menggantikan hilangnya satu atau lebih gigi kodrat yang tanggal, serta harus mendapat dukungan dari gigi kodrat dan jaringan sekitarnya. Gigi tiruan sebagian lepasan merupakan pergantian gigi yang mengenai sebagian dari lengkung gigi dan jaringan sekitarnya, dapat terjadi pada rahang atas maupun bawah, serta dapat dipasang dan dilepas oleh pasien sendiri. Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan dapat memulihkan dan mengembalikan fungsi gigi dengan mempertahankan gigi yang masih ada. Fungsi gigi tiruan sebagian lepasan antara lain : 1. Pemulihan fungsi estetik. Masalah estetik menjadi salah satu alasan utama pasien dalam perawatan pembuatan gigi tiruan. Pasien yang kehilangan gigi anterior, akan memperlihatkan wajah dengan bentuk bibir masuk ke dalam, sehingga pada dasar hidung tampak lebih ke dalam dan dagu menjadi lebih ke depan. Pada anak-anak kehilangan gigi anterior sering terjadi karena kecelakaan,

sehingga tidak sedikit perawatannya dengan cara mencabut gigi yang terkena trauma akibat kegoyangan yang sangat besar. Tanggalnya gigi tersebut akan mengakibatkan

migrasi ke gigi tetangga ke arah gigi yang hilang. 2. Peningkatan fungsi bicara.

Organ bicara yang tidak lengkap dan kurang sempurna dapat mempengaruhi suara pasien, misalnya pasien kehilangan gigi anterior rahang atas dan rahang bawah. Kehilangan gigi anterior dapat mengakibatkan gangguan bicara yang bersifat sementara, setelah menggunakan gigi tiruan mampu meningkatkan fungsi bicara dengan cara membiasakan menggunakan gigi tiruan. Terbentuknya suara berawal dari laring, lidah, palatum dan dibantu gigi-gigi. Rongga mulut dan sinus maksilaris dalam hal ini berfungsi sebagai ruang resonansi. Menurut tempat terjadinya suara yang dihasilkan dapat dibedakan sebagai berikut : 1) Labial Merupakan huruf yang diucapkan oleh bibir, antara lain huruf (b), (p), (m). 2) Labiodental Merupakan huruf yang diucapkan antara bibir bawah dengan tepi insisal gigi anterior rahang atas, antara lain huruf (f), (v), (ph). 3) Linguodental Merupakan huruf yang diucapkan antara lidah dengan gigi anterior rahang atas, antara lain huruf (th). 4) Linguopalatal Merupakan huruf yang diucapkan antara lidah dengan palatum, antara lain huruf (d), (s), (c), (j). 5) Nasal Merupakan huruf yang akan terdengar seperti huruf (n), (ng). 3. Perbaikan dan peningkatan fungsi pengunyahan. Salah satu bagian terpenting dalam proses pencernaan makanan adalah mulut. Makanan akan diproses di dalam rongga mulut dengan gigi, agar proses tersebut dapat berjalan dengan baik harus disertai dengan perawatan dan pemeliharaan yang optimal dari gigi dan mulut tersebut. Penelitian Farrel (1962) menunjukkan bahwa jenis makanan tertentu dapat dicernakan dengan sempurna tanpa perlu dikunyah sama sekali. Penderita yang sudah kehilangan gigi biasanya mengalami perubahan pada mastikasi. Tekanan kunyah akan terpusat pada satu sisi atau satu bagian saja. Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan akan memperbaiki penyaluran tekanan kunyah secara merata ke seluruh bagian jaringan pendukung. 4. Mempertahankan jaringan mulut yang ada. 5

Jaringan mulut yang ada akan dipertahankan dengan pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan, karena dengan gigi tiruan dapat mencegah atau mengurangi efek yang timbul karena hilangnya gigi. 5. Pencegahan migrasi gigi. Tanggalnya gigi sulung yang terlalu dini pada anak, dapat mengakibatkan migrasi gigi tetangga dan antagonisnya untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh gigi tersebut, sehingga lambat laun akan mengakibatkan maloklusi dan lengkung gigi tidak berkembang secara optimal, bahkan akan menyebabkan terjadinya gangguan bicara, mastikasi, dan estetis
(2)

Ruang kosong pada gigi yang tanggal akan mengakibatkan makanan tertinggal pada daerah yang kosong, sehingga mudah terjadi akumulasi plak interdental, serta akan mengakibatkan peradangan jaringan periodontal dan dekalsifikasi permukaan proksimal gigi. Akibat lain dapat terjadi erupsi berlebih gigi antagonis. Prinsip dan teknik perawatan pembuatan gigi tiruan pada anak sama dengan pembuatan gigi tiruan dewasa. Perbedaan yang harus diperhatikan yaitu mengenai pertumbuhan dan perkembangan terutama gigi dan rahang. Pembuatan gigi tiruan anak harus memperhatikan perkembangan alveolar akan berjalan ke arah lateral, maka disain landasan dibuat sampai 1/3 forniks atau kurang lebih sejajar dengan puncak alveolar (alveolar crest), dengan tujuan agar tidak menghambat pertumbuhan. Disain landasan dapat dibuat sampai forniks tetapi dengan menggunakan tissue conditioner atau soft acrylic. Pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa perluasan sayap landasan dibuat sampai forniks dengan tujuan mendapatkan retensi dan stabilisasi. Selama periode pertumbuhan, gigi tiruan memerlukan penyesuaian secara periodik dan terus-menerus. Gigi tiruan yang sudah tidak sesuai lagi dengan pertumbuhan rahang karena terlalu kecil, maka perawatan harus dihentikan. Pembuatan gigi tiruan baru merupakan perawatan yang dilakukan dokter gigi untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang. Perawatan pada pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dewasa dilakukan pemeriksaan jika ada keluhan dan tidak dilakukan pemeriksaan secara terus-menerus . Pengguanaan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa selamanya dan diganti atau dibuat ulang jika terdapat keluhan pada gigi tiruan tersebut, sedangkan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak perlu dibuat ulang mengikuti pola pertumbuhan dan erupsi gigi tetap. Prosedur ini dilakukan agar pasien lebih nyaman dalam penggunaan gigi tiruan. 6

Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan memegang peranan penting dalam perawatan gigi anak, sebab perawatan tersebut bertujuan untuk memulihkan fungsi mastikasi dan bicara anak, mengembalikan keadaan gigi dan estetik wajah anak serta mencegah kebiasaan buruk. Gigi tiruan dapat mengembalikan fungsi estetik, sekaligus memelihara dan mempertahankan gigi yang tersisa serta jaringan pendukungnya. Pembuatan gigi tiruan ini juga dapat membantu mengatasi masalah-masalah psikologis yang timbul pada pasien.

BAB III PEMBAHASAN

3.1. MENGAPA DOKTER GIGI MENGANJURKAN UNTUK MENGGUNAKAN GIGI


TIRUAN PADA KASUS DI SKENARIO a. Tidak ada benih gigi b. Indikasi ekstraksi gigi pada gigi 85 dan 75 c. Untuk mengembalikan fungsi kunyah d. Mencegah tipping gigi tetangga agar gigi permanen tetap tumbuh pada tempatnya

3.2. JENIS GIGI TIRUAN YANG DIANJURKAN PADA KASUS DISKENARIO Jenis gigi tiruan yang dianjurkan adalah gigi tiruan sebagian lepasan dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Pasien masih pada fase geligi sulung sehingga gigi yang ada tidak bisa digunakan sebagai gigi penyangga b. Pasien dalam masa pertumbuhan dan perkembangan

3.3. DESAIN DARI GIGI TIRUAN PADA KASUS DI SKENARIO Keterangan: Menggunakan bounded sadel Menggunakan tooth born support Gigi penyangga: 36, 46, 84, dan 74 Retensi : klamer adam pada gigi 46 dan 36, half Jackson pada 74 dan 84 Stabilisasi: lengan klamer diatas garis survey, perluasan sayap gigi tiruan

3.4. Indikasi dan Kontraindikasi GTSL Pada Anak

Indikasi gigi tiruan sebagian lepasan anak : 1. Secara radiografis, mempunyai gambaran gigi tetap pengganti yang diperkirakan akan erupsi lebih dari enam bulan. 2. Tanggalnya gigi molar sulung secara dini, sehingga memerlukan penahan ruang untuk perbaikan fungsi mastikasi. 3. Gigi penyangga tidak mampu mendukung alat prostodonti cekat, akibat adanya resorpsi akar, trauma atau karies luas yang melibatkan pulpa. 4. Tanggalnya gigi anterior sulung akibat trauma. 5. Pada kasus tidak adanya gigi secara kongenital, misalnya oligodonsia sebagian. Oligodonsia dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi tetap. 6. Adanya celah pada palatum yang harus ditutup dengan protesa. 7. Kehilangan gigi tetap muda akibat trauma. 8. Pasien kooperatif, tidak ada keluhan jika dilakukan perawatan.

Kontraindikasi dalam pembuatan gigi tiruan anak diantaranya : 1. Pasien yang tidak kooperatif, dapat dikatakan termasuk dalam kelompok hysterical mind. 2. Faktor kesehatan secara umum yang tidak mendukung untuk dilakukan perawatan. 3. Keadaan sosial ekonomi dapat menjadi pertimbangan dalam melanjutkan rencana perawatan. 4. Kasus hilangnya semua gigi yang memerlukan pembuatan gigi tiruan penuh. 5. Dalam foto rontgen terlihat gigi pengganti yang akan erupsi. 6. Pasien yang mengalami keterbelakangan mental akan sulit untuk memberikan penjelasan dalam perawatan penggunaan gigi tiruan.

3. 5. Syarat GTSL Pada Anak

Syarat pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan antara lain : 1. Alat yang dipakai dapat mengembalikan dan memperbaiki fungsi mastikasi, estetik dan bentuk muka pasien. 2. Alat memiliki kekuatan yang baik untuk mengunyah dan stabil bila digunakan. 3. Tidak mengganggu fungsi bicara. 4. Tidak menghambat pertumbuhan normal lengkung rahang. 5. Dapat mencegah erupsi berlebihan gigi antagonis, migrasi dan kemungkinan terjadinya kebiasaan buruk. 6. Mudah untuk dibersihkan. 7. Disain harus disesuaikan, agar mudah dipasang dan dikeluarkan oleh pasien. 8. Disain harus seimbang, agar dapat diperbaiki untuk penyesuaian erupsi gigi tetap. 9. Alat tidak menyebabkan karies dan tidak mengiritasi jaringan pendukungnya.

3.6. Keuntungan dan Kerugian GTSL Pada Anak

Keuntungan menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan anak : 1. Mengembalikan fungsi mastikasi dan estetik. 2. Mudah dalam membersihkan. 3. Pasien serta orang tua pasien dapat memasang dan mengeluarkan gigi tiruan. 4. Perawatan gigi tiruan lebih mudah, karena dapat diperbaiki mengikuti perkembangan rahang anak.

Kerugian menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan anak : 1. Perawatan tergantung pada pasien dan orang tua yang kooperatif. 2. Peningkatan akumulasi plak. 3. Penyaluran daya kunyah yang tidak seimbang. 4. Terjadi peradangan mukosa. 5. Resorpsi tulang alveolar, jika terjadi kontak prematur. 6. Halitosis pada pasien yang kurang memperhatikan oral higiene yang baik. 10

7. Kelainan gigi penyangga dapat berupa gingivitis dan periodontitis. 8. Karies dan kegoyangan pada gigi sandaran.

3.7. Perbedaan GTSL Pada Anak Dan Dewasa Perbedaaan : Prinsip dan teknik perawatan pembuatan gigi tiruan pada anak sama dengan pembuatan gigi tiruan dewasa. Perbedaan yang harus diperhatikan yaitu mengenai pertumbuhan dan perkembangan terutama gigi dan rahang. Pembuatan gigi tiruan anak harus memperhatikan perkembangan alveolar akan berjalan ke arah lateral, maka disain landasan dibuat sampai 1/3 forniks atau kurang lebih sejajar dengan puncak alveolar (alveolar crest), dengan tujuan agar tidak menghambat pertumbuhan. Disain landasan dapat dibuat sampai forniks tetapi dengan menggunakan tissue conditioner atau soft acrylic. Pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa perluasan sayap landasan dibuat sampai forniks dengan tujuan mendapatkan retensi dan stabilisasi . Selama periode pertumbuhan, gigi tiruan memerlukan penyesuaian secara periodik dan terus-menerus. Gigi tiruan yang sudah tidak sesuai lagi dengan pertumbuhan rahang karena terlalu kecil, maka perawatan harus dihentikan. Pembuatan gigi tiruan baru merupakan perawatan yang dilakukan dokter gigi untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang. Perawatan pada pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dewasa dilakukan pemeriksaan jika ada keluhan dan tidak dilakukan pemeriksaan secara terus-menerus. Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa selamanya dan diganti atau dibuat ulang jika terdapat keluhan pada gigi tiruan tersebut, sedangkan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak perlu dibuat ulang mengikuti pola pertumbuhan dan erupsi gigi tetap. Prosedur ini dilakukan agar pasien lebih nyaman dalam penggunaan gigi tiruan.

11

3.8. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan GTSL Pada Anak

1. Kemampuan dokter gigi Dokter gigi dan tekniker harus dapat merancang gigi tiruan yang mampu beradaptasi dengan baik sesuai bentuk anatomi gigi yang hilang. Kemampuan dokter gigi dalam memberikan motivasi kepada pasien dapat mempengaruhi keberhasilan dalam penggunaan gigi tiruan. 2. Usia pasien Berdasarkan penelitian, penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak usia 2,5 tahun dan usia 5 tahun tidak ditemukan adanya perubahan, perbaikan atau kesulitan yang berarti. Penggunaan gigi tiruan lepasan dapat disesuaikan dengan usia pasien sehingga dapat dilakukan perbaikan atau penggantian gigi tiruan lepasan. 3. Kerjasama orang tua Memberikan informasi secara langsung mengenai pemakaian gigi tiruan kepada pasien maupun orang tua pasien sehingga mempermudah dalam penggunaan dan pemeliharaan, selain itu orang tua yang berpengalaman dalam pemakaian gigi tiruan lepasan dapat membantu anaknya dalam memakai dan merawat gigi tiruan tersebut. 4. Instruksi pada anak Anak diberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana, sehingga anak dapat memberikan kerjasama yang baik, selain itu anak dianjurkan untuk memberitahukan kepada orang tuanya jika ada keluhan pada pemakaian gigi tiruan. Memberikan motivasi terutama pada anak usia 2 5 tahun agar gigi tiruan tidak dilepas dari dalam mulut tanpa sepengetahuan orang tua. Pemasangan gigi tiruan pertama kali dilakukan oleh dokter dengan menggunakan cermin untuk melihat cara memasang dan melepas gigi tiruan, setelah itu anak dapat mencoba sendiri. Gigi tiruan sebagian lepasan sebaiknya dilepas pada saat

12

berolah raga dan pada saat malam hari, gigi tiruan direndam dalam air dan dibersihkan setiap hari dengan bantuan orang tua. 6. Instruksi orang tua Orang tua diharapkan ikut melihat pada saat anak memasang dan melepas gigi tiruan, selain itu jika anak tidak memakai gigi tiruan karena ada keluhan rasa sakit pada gusi maka orang tua diharapkan segera untuk menghubungi dokter gigi untuk mengatasi masalah yang dikhawatirkan mengganggu pemakaian gigi tiruan tersebut. Pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dapat mengakibatkan perubahan patologis, jika tidak mengikuti instruksi mengenai pemeliharaan kebersihan mulut
(1)

. Dampak yang timbul antara

lain bertambahnya akumulasi plak, meningkatnya frekuensi karies, terjadi denture stomatitis dan menyebabkan gigi tetangga menjadi goyang.

13

BAB IV KESIMPULAN

Tanggal premature gigi dan agenisi pada anak merupakan indikasi menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan. Pada prinsipnya gigi tiruan sebagian lepasan pada anak sama dengan gigi tiruan sebagian lepasan pada dewasa. Salah satu perbedaanya adalah gigi tiruan sebagian lepasan pada anak masih dalam fase pertumbuhan. Sehingga mempertimbangkan pertumbuhan pada anak. Faktor yang mempengarungi keberhasilan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak bergantung pada kerjasama yang baik antara dokter gigi, pasien dan orang tua pasien.

14

DAFTAR PUSTAKA
Gunadi, H.A. 1995. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan. Jilid 1. Hal 12, 30-50, 108111 Jakarta: Hipokrates Herman, W. 1980. Majalah Kedokteran Gigi. Volume 1. Bandung: Yabina. Sasmita, dkk. 2001. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Anak. Bandung: Universitas Padjajaran.

15