Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM MOTOR BAKAR DAN TENAGA PERTANIAN

PENGUKURAN DEBIT

Oleh: DANANG ADI SAPUTRO A1H011069

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS. Debit aliran dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan potensi sumberdaya air permukaan yang ada. Debit air merupakan ukuran banyaknya volume air yang dapat lewat dalam suatu tempat atau yang dapat di tampung dalam sutau tempat tiap satu satuan waktu. Aliran air dikatakan memiliki sifat ideal apabila air tersebut tidak dapat dimanfaatkan dan berpindah tanpa mengalami gesekan, hal ini berarti pada gerakan air tersebut memiliki kecepatan yang tetap pada masing-masing titik dalam pipa dan gerakannya beraturan akibat pengaruh gravitasi bumi.

B. Tujuan

Dapat mengetahui besar debit pada suatu aliran.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Debit aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/dt). Dalam laporan-laporan teknis, debit aliran biasanya ditunjukkan dalam bentuk hidrograf aliran. Hidrograf aliran adalah suatu perilaku debit sebagai respon adanya perubahan karakteristik biogeofsik yang berlangsung dalam suatu DAS (oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS) dan atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau tahunan) iklim lokal (Asdak, 1995). Teknik pengukuran debit aliran langsung di lapangan pada dasarnya dapat dilakukan melalui empat kategori (Gordaon et al., 1992): pengukuran volume debit sungai. a. Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan luas penampang melintang sungai. b. Pengukuran debit dengan menggunakan bahan kimia (pewarna) yang dialirkan dalam aliran sungai. c. Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir (aliran air lambat atau flume (aliran air cepat)). Pengukuran debit pada katergori pertama, biasanya dilakukan untuk keadaan aliran (sungai) lambat. Pengukuran debit dengan cara ini dianggap paling akurat, terutama untuk debit aliran lambat seperti pada aliran mata air.

III. METODOLOGI

A. Alat dan bahan

1. Current meter 2. Pelampung 3. Alat tulis 4. Stopwatch

B. Prosedur Kerja

1. Menentukan panjang lintasan untuk pengukuran debit. 2. Mengukur tinggi dan lebar suatu penampang sungai. 3. Menghitung debit.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Current meter Pengamatan I Lebar: 30cm Kedalaman: 70cm Ketika: h 12 = 0,6 m/s h 48 = 0,6 m/s Vn = = 0,6 m/s Pengamatan II Lebar: 60cm Kedalaman: 71cm Ketika: h 12 = 1,2 m/s h 48 = 0,8 m/s Vn = = 1,0 m/s Pengamatan III Lebar: 150cm Kedalaman: 72cm Ketika: h 12 = 1 m/s h 48 = 1,1 m/s Vn = = 1,05 m/s Pengamatan IV Lebar: 180 Kedalaman: 72 Ketika: h 12 = 1,2 m/s h 48 = 1,2 m/s Vn = = 1,2 m/s Pengamatan V Lebar: 210cm Kedalaman: 73cm Ketika: h 12 = 1,1 m/s h 48 = 1 m/s Vn = = 1,05 m/s

Mencari A A1 = = x by x 30 A3 = = x by x 30

= 2115 cm2 = 0,2115m2 A2 = = x by x 30

= 2130 cm2 = 0,2130 m2 A4 = = x by x 30

= 2145 cm2 = 0,2145 m2 Mencari V V1 = = = 0,8 m/s V2= = = 1,025 m/s Mencari Q Q1 = A1V1 = (0,2115) 0,8 = 0,1692 m3/s Q2 = A2V2 = (0,2145) (1,025) = 0,2198625 m /s = Pelampung 1. Jarak = 5m Waktu = 4,8s = = = 4,63s 2. Jarak = 5m Waktu = 4,7s = 0,217359375 m3/s
3

= 2140 cm2 = 0,2140 m2

V3 = = = 1,125 m/s V4 = = = 1,125 m/s

Q3 = A3V3 = (0,213) (1,125) = 0,239625 m3/s Q4 = A4V4 = (0,214) (1,125) = 0,24075 m3/s

3. Jarak = 5m Waktu = 4,4s

= = 0,712 m = = A=l. = 2,7 . 0,712 = 1,9224 m2 = 1,0799 m/s

Q=A.V = 1,9224 . 1,0799 = 2,076 m3/s

B. Pembahasan

Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS. Debit aliran dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan potensi sumberdaya air permukaan yang ada. Cara pengukuran debit aliran: Pengukuran dengan Current Meter Alat ini terdiri dari flow detecting unit dan counter unit. Aliran yang diterima detecting unit akan terbaca pada counter unit. Yang terbaca pada counter unit dapat merupakan jumlah putaran dari propeler maupun langsung

menunjukkan kecepatan aliran. Pengukuran dengan pelampung Tipe pelampung tangkai lebih teliti dibanding dengan tipe pelampung permukaan. Pada pengukuran debit dengan pelampung, dipilih bagian sungai yang lurus dan seragam, kondisi aliran seragam dengan pergolakannya seminim mungkin. Pengukuran dilaksanakan pada saat tidak ada angin. Pengukuran dengan Weir (ambal) Alat ukur tipe ini banyak digunakan pada saluran-saluran pengairan. Perhitungan alirannya berdasarkan prinsip-prinsip aliran melewati suatu ambang. Ketelitian pengukuran ditentukan oleh ketepatan pemasangan dan pembacaan tinggi air di atas ambang.

Pengukuran dengan flume Alat ini berdasarkan prinsip-prinsip venturi untuk aliran permukaan yang bebas (free surface flow). Cara kerja Current meter yaitu alat tersebut dimasukkan ke dalam air kemudian baling-balingnya akan berputar dan menunjukan indikator angka yang menunjukan kecepatan arus. Keunggulan penggunaan current meter mudah digunakan dan data yang dihasilkan dari current meter ini cukup akurat dalam mengukur debit aliran air. Kekurangan dari penggunaan current meter mungkin butuh orang lebih untuk mengukur kedalaman dan lebar aliran air untuk mendapatkan hasil pengukuran yang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan debit: 1. Angin Karena angin berpengaruh pada kecepatan aliran fluida, maka berpengaruh pula pada debit air. Semakin cepat angin yang berhembus pada aliran tersebut, maka debit aliran akan semakin tinggi. Dan semakin lambat angin yang berhembus maka aliran akan memiliki kecepatan yang rendah dan debit air pun akan rendah. 2. Kecepatan aliran Kecepatan aliran sangat berpengaruh dalam debit aliran. Semakin cepat aliran mengalir, maka semakin besar debit aliran yang dihasilkan. Semakin lambat aliran mengalir, maka semakin sedikit debit aliran yang dihasilkan. 3. Permukaan saluran Debit aliran akan besar apabila permukaan aliran halus atau tidak bergelombang. Karena permukaan yang kasar atau bergelombang akan mempengaruhi kecepatan aliran sehingga berdampak pada debit aliran yang dihasilkan. Hal ini juga mempengaruhi kehilangan head aliran yang berpengaruh pada debit. Nilai debit yang didapatkan pada praktikum dengan menggunakan current meter didapatkan debit aliran rata-rata sebesar 0,217 m3/s ini sangat berbeda sekali dengan cara pengukuran debit aliran dengan menggunakan pelampung yang didapatkan hasil sebesar 2,076 m3/s.

Kendala yang didapatkan saat pada praktikum adalah akses yang sulit untuk menuju ke tempat praktikum.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS. Debit aliran dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air suatu kawasan melalui pendekatan potensi sumberdaya air permukaan yang ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan debit adalah angin, kecepatan aliran dan permukaan saluran.

B. Saran

Ketelitian pada saat mengukur debit aliran menggunakan current meter ditingkatkan agar mendapat hasil yang diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad,. S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB: Bogor. Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Sosrodarsono. 1976. Hidrologi untuk Pengairan. Pradnya Paramita: Jakarta. Tim penyusun.2013.Panduan Praktikum Teknik Irigasi dan Drainase. UNSOED. Purwokerto.

Beri Nilai