Anda di halaman 1dari 12

Pengaruh Tingkat Inflasi, Suku Bunga, dan Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan Produk Domestik Regional Bruto di Bali

Periode (2007-2011) BAB I Pendahuluan


I. Latar Belakang

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang disebabkan beberapa faktor antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang (Nopirin, 2000: 25). Inflasi merupakan indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus menerus. Inflasi merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh Negara di dunia, termasuk negara maju sekalipun. Laju inflasi di Provinsi Bali meliputi periode 2007 hingga 2011 dapat dilihat dalam tabel berikut,: Tabel I.1 Laju Inflasi di Bali Periode 2007-2011

Sumber: www.bps.go.id

Laju inflasi kerap dikaitkan dengan suku bunga. hal ini dikarenakan inflasi merupakan salah satu faktor dalam penentuan suku bunga. Menurut Nopirin (1992:176) fungsi tingkat suku bunga dalam perekonomian yaitu alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dipakai sekarang dan di kemudian hari. Apabila suku bunga tinggi, otomatis orang

akan lebih suka menyimpan dananya di bank karena ia dapat mengharapkan pengembalian yang menguntungkan. Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk memegang uang tunai menjadi lebih rendah karena mereka sibuk mengalokasikannya ke dalam bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan berkurangnya jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun. Selanjutnya harga barang dan jasa umum akan cenderung stagnan, atau tidak terjadi dorongan inflasi. Sebaliknya jika suku bunga rendah, masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank. Pekerjaan atau ketenagakerjaan merupakan isu penting dalam sebuah aktifitas bisnis dan perekonomian indonesia. berdasarkan data strategis dari Badan Pusat Statistik terhadap masalah ketenagakerjaan untuk seseorang sebagai bekerja (currently economically active population), tanpa melihat lapangan usaha, jabatan, maupun status pekerjaannya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), mengindikasikan besarnya penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi di suatu negara atau wilayah. TPAK diukur sebagai persentase jumlah angkatan kerja terhadap jumlah penduduk usia kerja. Indikator ini menunjukkan besaran relatif dari pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barangbarang dan jasa dalam suatu perekonomian.

Tabel I.2 TPAK di Bali Periode 2007-2011


Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 Data 77.38 77.86 77.82 77.38 76.45

Sumber: www.bps.go.id

Dari data diatas, dapat diketahui bahwa TPAK di Bali mengalami penurunan dari tahun 2008 hingga 2010. Diduga hal ini terjadi penurunan tingkat upah dan masih berpusatnya tenaga kerja ke sektor lapangan kerja formal.

II.

Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut,: a. Apakah tingkat inflasi (X1), suku bunga (X2), dan tenaga kerja (X3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Nasional Bruto di Bali periode 2007-2011 (Y)?

b. Apakah tingkat inflasi (X1), suku bunga (X2), dan tenaga kerja (X3) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Nasional Bruto di Bali periode 2007-2011 (Y)?

III.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan pokok permasalahan yang telah diuraikan, maka tujuan dalam penelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui apakah inflasi (X1), suku bunga (X2), dan tenaga kerja (X3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Nasional Bruto di Bali periode 2007-2011 (Y). b. Untuk mengetahui apakah inflasi (X1), suku bunga (X2), dan tenaga kerja (X3) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Nasional Bruto di Bali periode 2007-2011 (Y).

IV.

Kegunaan Penelitian

1. Kegunaan Teoritis Secara teoritis diharapkan penelitian ini dapat memperkaya ragam penelitian khususnya mengenai pengaruh tingkat inflasi, Suku bunga dan tenaga kerja terhadap Produk Domestik Regional Bruto di Bali dan mampu menambah pengetahuan dan wawasan khususnya bagi mahasiswa. 2. Kegunaan Praktis Secara praktis diharapkan penelitian ini mampu membantu pemerintah daerah dalam menganalisis pengaruh pengaruh tingkat inflasi, Suku bunga dan tenaga kerja terhadap Produk Domestik Regional Bruto di Bali.

BAB II Kajian Pustaka I. Landasan Teori

I.1. Inflasi Menurut Sukirno (2004: 333), inflasi yaitu, kenaikan dalam harga barang dan jasa, yang terjadi karena permintaan bertambah lebih besar dibandingkan dengan penawaran barang di pasar. Dengan kata lain, terlalu banyak uang yang memburu barang yang sedikit. Inflasi menunjuk pada harga-harga lain (harga perdagangan besar, upah, harga, asset, dan sebagainya). Melalui definisi ini, ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, yaitu kenaikan harga, bersifat umum, dan berlangsung terusmenerus. Menurut Paul A. Samuelson, seperti sebuah penyakit, inflasi dapat digolongkan menurut tingkat keparahannya, yaitu sebagai berikut: 1. Moderate Inflation Karakteristik dari inflasi ini adalah kenaikan harga yang lambat. Umumnya disebut sebagai inflasi satu digit. Pada moderate inflasion orang-orang masih mau memegang uang dan menyimpan kekayaannya dalam bentuk uang daripada dalam bentuk aset riil. 2. Galloping Inflation Galloping inflation merupakan inflasi double digit bahkan triple digit. Inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkatan 20%- 200% pertahun. Pada tingkatan ini orang hanya mau memegang uang seperlunya saja, sedangkan kekayaan disimpan dalam bentuk aset-aset riil, seperti emas, rumah, tanah. Perekonomian seperti ini Orang-orang cenderung berinvestasi di luar negeri daripada di dalam negeri. 3. Hyper Inflation yakni inflasi diatas 200% pertahun. Walaupun sepertinya banyak pemerintahan yang perekonomiannya dapat bertahan menghadapi galloping inflation, akan tetapi tidak pernah ada pemerintahan yang dapat bertahan menghadapi jenis ketiga yang amat mematikan ini. Contohnya adalah Weimar Republic di Jerman pada tahun 1920-an. Selain dapat dibedakan menurut tingkat keparahannya, inflasi juga dapat dibedakan menurut penyebab dan asal mula terbentuknya. Yang pertama berdasarkan penyebabnya, dibedakan menjadi dua. Yang pertama yaitu, Natural Inflation & Human Error Inflation. Natural Inflation adalah inflasi yang terjadi karena sebab-sebab alamiah yang manusia tidak mempunyai kekuasaan dalam mencegahnya dan Human Error Inflation adalah inflasi yang terjadi karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Sedangkan yang kedua yaitu, Demand pull dan Cost Push Inflation. Demand pull inflation adalah diakibatkan

oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi permintaan agregat (AD) dari barang dan jasa pada suatu perekonomian. Cost Push Inflation adalah inflasi yang terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada sisi penawaran agregat(AS) dari barang dan jasa Pada suatu perekonomian. Untuk berdasarkan asal mulanya, inflasi juga dibagi menjadi dua bagian yaitu, Imported inflation dan Domestic Inflation. Imported inflation adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh suatu negara karena harus menjadi price taker dalam pasar perdagangan internasional. Domestic Inflation adalah inflasi yang terjadi di dalam suatu negara yang tidak begitu mempengaruhi negara lainnya.

I.2. Pengaruh Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Adanya inflasi atau kenaikan harga akan menjadi insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan produksinya. Hal ini sesuai dengan hukum penawaran dimana kenaikan harga akan meningkatkan produksi total yang mengindikasikan pertumbuhan ekonomi, sehingga adanya inflasi akan meningkatkan pertumbuhan. Tetapi hal tersebut hanya akan terjadi pada tingkat inflasi rendah. Malik dan Chowdhury (2001) meneliti pengaruh Inflasi dan pertumbuhan ekonomi di empat Negara ASEAN menemukan bahwa terdapat hubungan positif dalam jangka panjang antara pertumbuhan GDP dan inflasi pada keempat Negara tersebut. Disamping itu, terdapat juga feedback yang signifikan antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang moderat membantu pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumban ekonomi yang cepat justru berdampak pula terhadap kenaikan inflasil. Dengan demikian, keempat negara itu seakan-akan seperti pisau bermata dua.

I.3. Suku Bunga Menurut yang dikutip dari Chris Pearson (2009; www.jurnal-sdm.blogspot.com), dalam teori Karl dan Fair (2001:635) suku bunga adalah pembayaran bunga tahunan dari suatu pinjaman, dalam bentuk persentase dari pinjaman yang diperoleh dari jumlah bunga yang diterima tiap tahun dibagi dengan jumlah pinjaman. Sedangkan menurut Sunariyah (2004:80) adalah harga dari pinjaman. Suku bunga dinyatakan sebagai persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang harus dibayarkan kepada kreditur. Adapun fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2004:81) adalah : 1. Sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.

2. Suku bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Misalnya, pemerintah mendukung pertumbuhan suatu sektor industri tertentu apabila perusahaan-perusahaan dari industri tersebut akan meminjam dana. Maka pemerintah memberi tingkat bunga yang lebih rendah dibandingkan sektor lain. 3. Pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar. Ini berarti, pemerintah dapat mengatur sirkulasi uang dalam suatu perekonomian. Suku bunga itu sendiri ditentukan oleh dua kekuatan, yaitu : penawaran tabungan dan permintaan investasi modal (terutama dari sektor bisnis). Tabungan adalah selisih antara pendapatan dan konsumsi. Bunga pada dasarnya berperan sebagai pendorong utama agar masyarakat bersedia menabung. Jumlah tabungan akan ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat bunga. Semakin tinggi suku bunga, akan semakin tinggi pula minat masyarakat untuk menabung, dan sebaliknya. Tinggi rendahnya penawaran dana investasi ditentukan oleh tinggi rendahnya suku bunga tabungan masyarakat. Menurut Lipsey, Ragan, dan Courant (1997 : 471) suku bunga adalah harga yang dibayarkan untuk satuan mata uang yang dipinjam pada periode waktu tertentu. Suku bunga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu suku bunga nominal dan suku bunga riil. Dimana suku bunga nominal adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan kembali dengan jumlah uang yang dipinjam. Sedang suku bunga riil lebih menekankan pada rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali terhadap daya beli uang yang dipinjam. Suku bunga riil adalah selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi. Menurut Nopirin (1992:176) fungsi tingkat bunga dalam perekonomian yaitu alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dipakai sekarang dan di kemudian hari. Terdapat dua jenis faktor yang menentukan nilai suku bunga, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi pendapatan nasional, jumlah uang beredar, dan inflasi. Sedang faktor eksternal merupakan suku bunga luar negeri dan tingkat perubahan nilai valuta asing yang diduga. Apabila suku bunga tinggi, otomatis orang akan lebih suka menyimpan dananya di bank karena ia dapat mengharapkan pengembalian yang menguntungkan. Dan pada posisi ini, permintaan masyarakat untuk memegang uang tunai menjadi lebih rendah karena mereka sibuk mengalokasikannya ke dalam bentuk portfolio perbankan (deposito dan tabungan). Seiring dengan berkurangnya jumlah uang beredar, gairah belanja pun menurun. Selanjutnya harga barang dan jasa umum akan cenderung stagnan, atau tidak terjadi dorongan inflasi. Sebaliknya jika suku bunga rendah, masyarakat cenderung tidak tertarik lagi untuk menyimpan uangnya di bank.

Beberapa aspek yang dapat menjelaskan fenomena tingginya suku bunga di Indonesia adalah tingginya suku bunga terkait dengan kinerja sektor perbankan yang berfungsi sebagai lembaga intermediasi (perantara), kebiasaan masyarakat untuk bergaul dan memanfaatkan berbagai jasa bank secara relatif masih belum cukup tinggi, dan sulit untuk menurunkan suku bunga perbankan bila laju inflasi selau tinggi ( Prasetiantono, 2000 : 99-101).

I.4. Pengaruh Suku Bunga Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Menurut International Mitra Futures dalam www.imfxx.wordpress.com, Kenaikan suku bungaakan direspon para pelaku pasar dan para penanam modal untuk memanfaatkan moment tersebut guna meningkatkan produksinya dan menanamkan investasinya. Seiring dengan itu, akan berdampak juga pada jumlah produksi yang bertambah dan tenaga kerja yang juga akan semakin bertambah. Akibatnya ekspor bertambah dan jumlah pengangguran menurun, sehingga devisa yang masuk ke negara tersebut semakin menguatkan dollar terhadap mata uang lain. Demikian pula sebaliknya, bila suku bunga menurun, produksi industri akan berkurang karena produsen akan membatasi kerugian. Apabila jumlah produksi berkurang, maka akan melemahkan mata uang tersebut. Demikian pula yang terjadi di negara lain seperti Uni Eropa, Inggris, Jepang dan lainnya. Disisi lain kenaikan suku bunga justru sangat dikhawatirkan oleh para kreditur dan tingkat penjualan perumahan yang semakin menurun karena membuat pajak pinjaman modal dan kredit perumahan semakin meningkat, tanpa didukung dalam kelancaran produksi dan bisnis yang menunjang, akan berimbas pada kredit macet seperti halnya kasus sublime mortgage yang terjadi pada tahun 2007 yang berbuntut pada krisis di Amerika Serikat. Hal inilah yang harus disikapi dalam pengaturan kebijakan suku bunga disuatu Negara. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai dalam menaikkan dan menurunkan suku bunga yang semuanya harus berpihak pada kesejahteraan rakyat dalam negeri sebagai prioritas utama. Dampak ekonomi yang harus diwaspadai dalam perubahan suku bunganya diantaranya adalah : a. GDP (Gross Domestik Product) sebagai indikator tingkat kesehatan pertumbuhan ekonomi Negara, meliputi Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + (Ekspor-Impor) apabila peningkatan suku bunga mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi maka interest rate (IR) perlu dinaikkan demikian juga sebaliknya. b. Kredit Perumahan Rakyat, Pengadaan perumahan merupakan bagian terpenting dalam menunjang kesejahteraan hidup manusia, pentingnya data ini terletak pada kemampuannya untuk memicu perubahan kondisi perekonomian, memprediksi

perubahan tingkat pertumbuhan. Turunnya jumlah unit perumahan baru dapat memperlambat perekonomian dan mendorong ke arah resesi. Sebaliknya, peningkatan pada jumlah unit perumahan baru mengindikasikan tumbuhnya perekonomian. Peningkatan bulanan yang melebihi perkiraan diartikan sebagai indikasi naiknya tekanan inflasi. Masalahnya kenaikan interest rate kadang menghambat daya beli masyarakat terhadap perumahan baru dan suku bunga pinjaman (KPR) yang masih dalam masa pembayaran jangka panjang. Problem inilah yang kadang kebijakan kenaikan interest rate sangat tidak disukai oleh rakyat kecil. Contohnya belakangan The Fed selama hampir setahun ini tetap mempertahankan suku bunga rendah < 0.25 % dalam rangka menguatkan ekonomi kerakyatan. c. Tingkat Pengangguran (Unemployment Rate), Dampak yang harus diperhatikan dalam kebijakan naik-turunnya suku bunga apakah semakin meningkatkan peluang usaha dan peluang kerja atau malah justru meningkatkan pengangguran dan PHK. Meski merupakan data yang sangat umum dikenal (karena simple dan ada implikasinya dengan politik), Unemployment/Jobless Rate adalah indeks tingkat pengangguran atau yang aktif mencari lowongan pekerjaan namun belum mendapatkan pekerjaan. Unemployment Rate berpengaruh terhadap sinyal perubahan tren perekonomian Negara.

I.5. Tenaga Kerja Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun 64 tahun. Menurut pengertian ini, setiap orang yang mampu bekerja disebut sebagai tenaga kerja. Ada banyak pendapat mengenai usia dari para tenaga kerja ini, ada yang menyebutkan di atas 17 tahun ada pula yang menyebutkan di atas 20 tahun, bahkan ada yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anakanak jalanan sudah termasuk tenaga kerja. (www.wikipedia.com; 2013)

1.6. Pengaruh Tenaga Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Tenaga kerja merupakan salah satu indikator untuk melihat perkembangan dan kondisi ekonomi suatu daerah. Menurut Todaro (2000: 56) pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan Angkatan Kerja (AK) secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah tingkat produksi. Sudah banyak diungkapkan bahwa modal manusia (human capital) merupakan salah satu faktor penting dalam proses pertumbuhan ekonomi. Dengan modal manusia yang berkualitas kinerja ekonomi diyakini juga akan lebih baik. Tingkat pembangunan manusia yang tinggi akan mempengaruhi perekonomian melalui peningkatan kapabilitas penduduk dan konsekuensinya adalah juga pada produktifitas dan kreatifitas mereka.

I.7. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Produk Domestik Regional Bruto merupakan salah satu indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara/ wilayah/ daerah. Pertumbuhan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya infrastruktur ekonomi. PDRB adalah jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan seluruh unit usaha dalam wilayah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilakan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar penghitungannya. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi, sedangkan harga konstan dapat digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun. Dengan demikian, PDRB merupakan indikator untuk mengatur sampai sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam memanfaatkan sumber daya yang ada, dan dapat digunakan sebagai perencanaan dan pengambilan keputusan. Ada beberapa konsep definisi yang perlu diketahui :

a. Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Pasar PDRB atas dasar harga pasar merupakan penjumlahan nilai tambah bruto dariseluruh sektor perekonomian didalam suatu wilayah dalam periode tertentu, biasanya satutahun, yang dimaksud dengan nilai tambah adalah selisih nilai produksi dengan biayaantara. b. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar harga Pasar

PDRN atas dasar harga pasar merupakan PDRB yang dikurangi dengan penyusutan.Peny usutan dikeluarkan dari PDRB oleh karena susutnya barang modal selama berproduksi. c. Produk Domestik Regional Neto atas Dasar Biaya Faktor PDRN atas dasar biaya faktor adalah PDRN atas dasar harga pas dikurangi pajak tak langsung ditambah dengan subsidi dari pemerintah. d. Pendapatan Regional PDRN atas dasar biaya faktor merupakan jumlah balas jasa faktor-faktor produksidalam proses produksi, dan tidak seluruhnya menjadi milik suatu daerah/wilayah Demikian

karenatermasuk pula didalamnya

pendapatan

penduduk wilayah lain.

sebaliknya,PDRN tersebut harus pula ditambah dengan pendapatan yang diperoleh daerah lain. Bila pendapatan penduduk yang masuk dan keluar dapat dicatat dengan pendapatannetoantar wilayah/daerah didapatkan pendapatan regional (Produk Regional Bruto). Karena sulitnya memperoleh data pendapatan masuk dan keluar suatu wilayah maka PDRN atasdasar biaya faktor diasumsikan sama dengan pendapatan regional atau pendapatan neto e. Pendapatan Regional Perkapita Pendapatan perkapita merupakan pendapatan yang diterima oleh masing-masing perkepalapenduduk.Pendapatan perkapita tersebut dihasilkan dengan membagi pendapat an regional/ produk regional neto dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. f. Produk Domestik dan Produk Regional Ada perbedaan pengertian dalam literatur ekonomi mengenai produk domestik dengan produk regional. Kenyataan menunjukan bahwa sebagian kegiatan produksi

yangdilakukan disuatu daerah, beberapa faktor produksinya berasal dari wilayah/ daerah lainseperti tenaga kerja, mesin dan modal. Sehingga nilai produksi di wilayah atau domestik tidak sama dengan pendapatan yang diterima oleh penduduk tersebut, yang pada akhirnya menimbulkan perbedaan antara produk domestik dan produk regional.Produk regional merupakan produk domestik yang ditambahkan pendapatan yangmengalir kedalam wilayah tersebut, kemudian dikurangi pendapatan yang mengalir keluar wilayah. Sehingga dapat dikatakan produk regional pada dasarnya

merupakan produk yang betul-betul dihasilkan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki penduduk dalam wilayah yang bersangkutan g. Pendapatan Regional Atas Dasar Harga Barlaku dan Harga Konstan Pendapatan regional atas dasar harga konstan.didapat melalui operasi pengurangan Penda patan regional atas dasar harga berlaku dengan perkembangan inflasi.

II.

Rumusan Hipotesis

Berdasarkan pokok permasalahan dan tinjauan pustaka, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. 1) Variabel tingkat inflasi (X1), suku bunga (X2), dan tenaga kerja (X3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Nasional Bruto di Bali periode 2007-2011 (Y). 2) Variabel tingkat inflasi (X1), suku bunga (X2), dan tenaga kerja (X3) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Produk Domestik Nasional Bruto di Bali periode 2007-2011 (Y).

DAFTAR PUSTAKA Sukirno. S, 2008. Makro Ekonomi Teori dan Pengantar Edisi 3. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Amira Salhab, Lasmini Soedjono. PENGARUH INFLASI, JUMLAH TENAGA KERJA, DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI BALI. Universitas Udayana; Bali.
Chris Person, 2009. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/teori-suku-bunga-dan-inflasi.html International Mitra Futures, 2009. http://imffx.wordpress.com/2009/09/22/efek-suku-bungaterhadap-pertumbuhan-ekonomi-negara/ Badan Pusat Statistik, Bali. www.bps.go.id Wikipedia, 2013. http://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_kerja