Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KIMIA ANORGANIK III

Disusun Oleh :
ARIANTI MARPAUNG NOVARIANI SAGALA JONRA P SITANGGAN CHRISTIANI M S YUNITA SINAGA ARA RIZKI PURILIAN ASRI KURNIATY MENIK SETYOWATI THERESIA DEBORA S CAHYATI PURNAMA SARI 08101003044 08101003040 08111003026 08111003014 08111003022 08111003042 08111003044 08111003045 08111003062 08111003071

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA

TEORI VSEPR DAN GEOMETRI MOLEKUL


Geometri molekul atau sering disebut struktur molekul atau bentuk molekul yaitu gambaran tiga dimensi dari suatu molekul yang ditentukan oleh jumlah ikatan dan besarnya sudut-sudut yang ada disekitar atom pusat.

Cara yang dapat digunakan untuk menentukan atom pusat


Atom pusat biasanya ditulis di awal rumus formulanya. Atom pusat biasanya atom yang lebih elektropositif atau kurang elektronegatif. Atom pusat biasanya atom yang memiliki ukuran lebih besar dari atom atau susbstituen-substituen yang ada. H ukuran paling kecil sehingga tidak pernah berlaku sebagaia atom pusat. Contoh BeCl2 atom pusatnya adalah Be NH3 atom pusatnya adalah N

Gaya Tolak Menolak Antar Elektron


Dalam suatu molekul elektron-elektron tersebut saling tolakmenolak karena memiliki muatan yang sama. Untuk mengurangi gaya tolak tersebut atom-atom yang berikatan membentuk struktur ruang tertentu hingga tercapai gaya tolak yang minimum. Akibat yang ditimbulkan dari tolakan yang yang terjadi yaitu mengecilnya sudut ikatan dalam molekul. Urutan gaya tolak dimulai dari gaya tolak yang terbesar yaitu sebagai berikut :

Gaya tolak antar sesama elektron bebas (PEB vs PEB) Gaya tolak antara pasangan elektron bebas dengan elektron ikatan (PEB vs PEI) Gaya tolak antar pasangan elektron ikatan (PEI vs PEI).

Teori VSEPR
Teori yang digunakan untuk mempelajari gaya tolak antar sesama elektron valensi disebut teori VSEPR (Valence Shell Electron Pair Repulsion) yang dikembangkan oleh Gillespie dan Nylholm sehigga sering disebut sebagai teori Gillespie-Nylholm. Dengan teori ini ternyata struktur ruang suatu senyawa dapat ditentukan dengan memperhatikan elektron bebas dan elektron ikatan dari senyawa yang bersangkutan. Awal perkembangan teori VSEPR, pada tahun 1963 berdasarkan ide-ide yang kembangkan oleh Sidwick dan Powell, Gillespie memberi ceramah tentang teori VSEPR dalam suatu pertemuan yang di adakan oleh American Chemical Society (ACS). Setelah memberi ceramah ia ditantang oleh perserta ceramah yang lain yaitu Rundle. Rundle menyatakan teori VSEPR terlalu naive dan satu-satunya cara pendekatan dalam meramalkan bentuk molekul adalah teori orbital molekul. Setelah mengadakan diskusi yang cukup panjang Gillespie menantang Rundle meramal bentuk molekul dari ksenon fluorida (XeF6) yang pada saat itu baru saja disintesis oleh Malm dan rekan-rekannya.

Beberapa Bentuk Molekul Berdasarkan Teori VSEPR


Pada penentuan struktur ruang molekulmolekul berdasarkan teori VSEPR umumnya atom pusat atom pusat dilambangkan dengan A, jumlah atom yang diikat atau jumlah pasangan elektron ikatan (PEI) dilambangkan dengan X dan pasangan elektron bebas atom pusat dilambangkan dengan E. Berbagai struktur ruang molekul dapat dilihat pada Tabel.

Nama

Sud ut ikat an 180 120

Jumla h PEI (X) 2 3 2 4 3 2 5 4

Jumla h PEB (E) 0 0 1 0 1 2 0 1

Rumus (AXnEm ) AX2 AX3 AX2E AX4 AX3E AX2E2 AX5 AX4E

Bentuk Molekul

Contoh senyawa

Linear Trigonal planar Planar huruf V Tetrahedral Piramida trigonal Planar bentuk V Bipiramida trigonal Bipiramida trigonal

CO2 BF3 SO2 CH4 NH3 H2O PCl5 SF4

Planar bentuk T Linear Oktahedral Piramida segiempat Segiempat datar 90

3 2 6 5 4

2 3 0 1 2

AX3E2 AX2E3 AX6 AX5E AX4E2

ClF3 XeF2 SF6 BrF5 XeF4

Keterangan: PEI = pasangan elektron ikatan, PEB = pasangan elektron bebas, A= atom pusat, X n = jumlah atom yang diikat atom pusat, Em = jumlah pasangan elektron bebas Pada Tabel di atas, nama bentuk molekul yang diberi huruf tebal merupakan bentuk molekul dasar karena semua elektron valensi atom pusat digunakan untuk membentuk ikatan

LANGKAH-LANGKAH MERAMAL BENTUK MOLEKUL


Menentukan atom pusat. Tuliskan jumlah elektron valensi dari atom pusat. Menentukan jumlah elektron valensi dari masing-masing substituen jika berupa atom. Satu elektron dari substituen dipasangkan dengan satu elektron dari atom pusat sehingga membentuk pasangan elektron (pasangan elektron ikatan, PEI). Perlu diperhatikan bahwa, bahwa jumlah elektron atom pusat tidak selalu memenuhi kaidah oktet. Jika masih terdapat substituen dan masih terdapat elektron pada atom pusat, maka semuanya harus dipasangkan. Jika semua susbtituen telah dipasangkan dengan elektron atom pusat dan masih terdapat elektron yang tidak berpasangan, maka elektron tersebut tetap ditulis pada atom pusat sebagai elektron bebas atau pasangan elektron bebas (PEB). Jika berupa ion poliatomik, maka setelah semua substituen dipasangkan kurangi elektron jika ion bermuatan positif dan tambahkan elektron jika ion bermuatan positif. Menentukan bentuk molekul serta memperkirakan besarnya sudut-sudut ikatan disekitar atom pusat dengan memperhatikan tolakan-tolakan yang terjadi agar diperoleh bentuk dengan tolakan yang minimum.

Contoh berilium klorida, BeCl2

STRUKTUR SENYAWA KOMPLEKS LOGAM TRANSISI

SENYAWA KOMPLEKS
Senyawa kompleks merupakan senyawa yang tersusun dari ion logam dengan satu atau lebih ligan. Interaksi antara logam dengan ligan - ligan dapat diibaratkan seperti reaksi asam-basa lewis, di mana basa lewis merupakan zat yang mampu memberikan satu atau lebih pasangan elektron (ligan). Ion/atom bagian dari senyawa koordinasi yang berada di pusat (bagian tengah) baik dalam keadaan netral ataupun bermuatan positif bertindak sebagai penerima pasangan elektron (Asam Lewis), umumnya berupa logam (terutama logam-logam transisi).Logam transisi memiliki subkulit d atau f yang tidak terisi penuh atau mudah membentuk ion-ion dengan subkulit d atau f yang tidak terisi penuh.

Ini menyebabkan beberapa sifat khas, yaitu: Memiliki warna yg unik Pembentukan senyawa paramagnetik Aktivitas katalitik Cenderung membentuk ion kompleks

STABILITAS ION KOMPLEKS


Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas ion kompleks (ditinjau dari aspek ion pusatnya) antara lain : a. Rapat muatan (perbandingan muatan dengan jari-jari atom) Stabilitas ion kompleks bertambah jika rapat muatan ion pusat bertambah b. CFSE (energi psntabilan medan ligan) Stabilitas ion kompleks bertambah dengan adanya CFSE, karena CFSE pada dasarnya merupakan energi penstabilan tambahan yang diakibatkan oleh terjadinya splitting orbital d. CFSE dihitung dengan pedoman penambahan CFSE sebesar 0,4o untuk setiap penempatan 1 e pada orbital t2g dan pengurangan CFSE sebesar 0,6o untuk setiap penempatan 1 e pada orbital eg.

Pola Pembelahan Orbital d Pada Berbagai Struktur Kompleks


1. Kompleks Oktahedral Orbital eg (dx2-y2 dan dz2) mengalami tolakan yang lebih kuat (oleh ligan) dibanding orbital t2g (dxy,dxz dan dyz), sehingga terjadi splitting yaitu pembelahan orbital d menjadi 2 bagian yang berbeda tingkat energinya (eg memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dibanding t2g). Kompleks Tetragonal Tetragonal merupakan oktahedral cacat (terdistorsi) dimana 2 ligan yang berada pada sumbu z berjarak lebih jauh dibanding 4 ligan lainnya. Akibatnya orbital-orbital yang mengandung unsur z, yaitu dz2, dxz dan dyz tingkat energinya turun, sedang orbitalorbital yang mengandung unsur x dan y, yaitu dx2-y2 dan dxy tingkat energinya naik. Kompleks bujur sangkar Kompleks bujur sangkar dapat dipandang sebagai distorsi ekstrim dari kompleks oktahedral, dimana 2 ligan yang berada pada sumbu z ditarik semakin jauh dari ion pusat. Akibatnya orbital-orbital yang mengandung unsur z, yaitu dz2, dxz dan dyz tingkat energinya semakin turun, sebaliknya orbital-orbital yang mengandung unsur x dan y, yaitu dx2-y2 dan dxy tingkat energinya semakin naik. Kompleks tetrahedral Pada kompleks tetrahedral keempat ligan menempati titik-titik sudut tetrahedral yang berada di antara sumbu atom. Akibatnya Orbital eg (dx2-y2 dan dz2) mengalami tolakan yang lebih lemah (oleh ligan) dibanding orbital t2g (dxy, dxz dan dyz), sehingga terjadi splitting yaitu pembelahan orbital d menjadi 2 bagian yang berbeda tingkat energinya (eg memiliki tingkat energi yang lebih rendah dibanding t2g).

2.

3.

4.

Faktor-Faktor yang menyebabkan Pemisahan Energi Orbital-d


sifat-sifat ion logam. Keadaan oksidasi logam. Keadaan oksidasi yang lebih besar menyebabkan pemisahan yang lebih besar. susunan ligan disekitar ion logam. sifat-sifat ligan yang mengelilingi ion logam. Efek ligan yang lebih kuat akan menyebabkan perbedaan energi yang lebih besar antara orbital 3d yang berenergi tinggi dengan yang berenergi rendah

Gambar Pembelahan medan ligan dalam medan oktahedral dan tetrahedral.