Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Banyak umat Islam yang menganggap remeh urusan shalat berjamaah.Kenyataan ini dapat kita lihat di sekitar kita. Masih bagus mau shalat, pikirkebanyakan orang, sehingga tidak berjamaah pun dianggap sudah menjadi muslimyang baik, layak mendapat surga dan ridha Allah. Padahal, Nabi shallallahu 'alaihiwasallam, dalam shahihain, sampai pernah hendak membakar rumah para sahabatyang enggan berjamaah. Kisah ini seharusnya dapat membuka mata kita betapa pentingnya berjamaah dalam melaksanakan rukun Islam kedua ini.Jika mengamati hadits-hadits yang berkaitan dengan shalat berjamaah,barangkali kita dapat menyimpulkan sendiri bahwa hukum shalat berjamaah nyaris wajib. Bagaimana tidak, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan bahwa hanya ada tiga hal yang dapat menjadi alasan bagi kita untuk meninggalkan shalat berjamaah; hujan deras, sakit, dan ketiduran. Di luar itu,beliau akan sangat murka melihat umat Islam menyepelekan shalat berjamaah.Perhatian besar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini cukup beralasan.Karena di dalam shalat berjamaah terdapat banyak hikmah dan manfaat bagi umatIslam, baik untuk maslahat dien, dunia, dan akhirat mereka.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud shalat berjamaah? 2. Apa saja gerakan-gerakan dalam shalat berjamaah? 3. Apa saja adab untuk menjadi imam? 4. Apa saja hikmah shalat bejamaah? 5. Bagaimana cara masbuk (tertinggal)? 1.3 Tujuan Dalam makalah ini yang membahas tentang shalat berjamaah ini, bertujuan untuk: 1. Agar mahasiswa mampu mengetahui definisi dari shalat berjamaah 2. Agar mahasiswa mampu mengetahui fadilah shalat berjamaah
AIK Shalat Berjamaah | 1

3. Agar mahasiswa mampu mengetahuigerakan-gerakan shalat berjamaah 4. Agar mahasiswa mampu mengetahui adab-adab seorang imam 5. Agar mahasiswa mampu mengetahui hikmah dari solat berjamaah 6. Agar mahasiswa mampu mengetahui cara masbuk (tertinggal) dalam shalat berjamaah

AIK Shalat Berjamaah | 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Diantara keistimewaan ajaran Islam adalah disyariatkannya banyak bentuk ibadah dengan cara berjamaah, sehingga bisa menjadi representasi sebuah muktamar Islam, dimana umat Islam berkumpul bersama pada satu tempat dan satu waktu. Mereka bias saling bertemu, bertatap muka, saling mengenal dan saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan mereka bisa saling belajar atas apa yang telah mereka pahami. Allah telah memerintahkan umat Islam untuk berjamaah terutama dalam beribadah kepada-Nya. Maka redaksional perintahnya pun datang dengan bentuk jamak.

AIK Shalat Berjamaah | 3

Hai orang-orang yang beriman, ruku`lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenarbenarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu , dan dalam ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.(QS. Al-HAjj : 77-78) 2.1 Pengertian Shalat Berjamaah Shalat berjamaah adalah salat yang dikerjakan oleh dua atau lebih orang secara bersama-sama dengan satu orang di depan sebagai imam dan yang lainnya di belakang sebagai makmum. Shalat berjamaah minimal atau paling sedikit dilakukan oleh dua orang, namun semakin banyak orang yang ikut solat berjama'ah tersebut jadi jauh lebih baik. Shalat berjama'ah memiliki nilai 27 derajat lebih baik daripada sholat sendiri. Oleh sebab itu kita diharapkan lebih mengutamakan shalat berjamaah daripada solat sendirian saja. 2.2 Fadilah Shalat Berjamaah Sesuai dengan sabda rasulullah SAW: Artinya: dari ibnu ra, bahwa rasulullah SAW bersabda : shalat berjamaah itu melebihi keutamaan shalat sendirian, dengan dua puluh tujuh derajat ( HR. Bukhari) Dan semakin banyak jamaah semakin banyak pahala, sebagaimana sabda Nabi saw: Artinya: seseorang yang mengerjakan shalat bersama satu orang lebih baik dari sendirian dan jika ia shlata bersama dua orang lebih baik dari bersama satu orang, dan jika ia shalat bersama orang lebih banyak lagi, maka hal itu sangat disukai oleh Allah SWT (HR. Ahmad)

AIK Shalat Berjamaah | 4

Gambar 1. Posisi shalat berjamaah

2.3 Adab- adab Imam a. Menimbang diri, apakah dirinya layak menjadi imam untuk Jamaah, atau ada yang lebih afdhal darinya Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syariat. Diantara yang harus menjadi penilaiannya ialah: 1) Jika seseorang sebagai tamu, maka yang berhak menjadi imam ialah tuan rumah, jika tuan rumah layak menjadi imam. 2) Penguasa lebih berhak menjadi imam, atau yang mewakilinya. Maka tidaklah boleh maju menjadi imam, kecuali atas izinnya. Begitu juga orang yang ditunjuk oleh penguasa sebagai imam, yang disebut dengan imam rawatib. 3) Kefasihan dan kealiman dirinya. Maksudnya, jika ada yang lebih fasih dalam membawakan bacaan Al Quran dan lebih alim, sebaiknya dia mendahulukan orang tersebut. Hal ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan Abi Mas`ud Al Badri Radhiyallahu anhu , dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda

AIK Shalat Berjamaah | 5

Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum, ialah yang paling pandai membaca Kitabullah. Jika mereka dalam bacaan sama, maka yang lebih mengetahui tentang sunnah. Jika mereka dalam sunnah sama, maka yang lebih dahulu hijrah. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang lebih dahulu masuk Islam (dalam riwayat lain: umur). Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang lain di tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya). Dan janganlah duduk di tempat duduknya, kecuali seizinnya (HR Muslim 2/133) 4) Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam, apabila jamaah tidak menyukainya. Dalam sebuah hadits disebutkan, Tiga golongan yang tidak terangkat shalat mereka lebih satu jengkal dari kepala mereka: (Yaitu) seseorang menjadi imam suatu kaum yang membencinya (HR Ibnu Majah no. 971) Berkata Shiddiq Hasan Khan rahimahullah, Dhahir hadits yang menerangkan hal ini, bahwa tidak ada perbedaan antara orang-orang yang membenci dari orangorang yang mulia (ahli ilmu) atau yang lainnya. Maka, dengan adanya unsur kebencian, dapat menjadi udzur bagi yang layak menjadi imam untuk meninggalkannya. b. Seseorang yang menjadi imam harus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat, dari bacaan-bacaan shalat yang shahih, hukum-hukum sujud sahwi dan seterusnya. Karena seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yang salah, sehingga merubah makna ayat, sebagaimana yang pernah penulis dengar dari sebagian imam sedang membawakan surat Al Lumazah, dia mengucapkanAllazi jaama`a maalaw wa `addadah, dengan memanjangkan Ja, sehingga artinya berubah dari arti mengumpulkan harta, menjadi menyetubuhinya . c. Mentakhfif shalat.
AIK Shalat Berjamaah | 6

Yaitu mempersingkat shalat demi menjaga keadaan jamaah dan untuk memudahkannya. Batasan dalam hal ini, ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat-sunat saja, atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan. Diantara nash yang menerangkan hal ini, ialah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu: Jika salah seorang kalian shalat bersama manusia, maka hendaklah (dia) mentakhfif, karena pada mereka ada yang sakit, lemah dan orang tua. (Akan tetapi), jika dia shalat sendiri, maka berlamalah sekehandaknya [ HR Bukhari, Fathul Bari, 2/199, no. 703.] Akan tetapi perlu diingat, bahwa takhfif merupakan suatu perkara yang relatif. Tidak ada batasannya menurut syariat atau adat. Bisa saja menurut sebagian orang pelaksanaan shalatnya terasa panjang, sedangkan menurut yang lain terasa pendek, begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, hendaklah bagi imam -dalam hal inimencontoh yang dilakukan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahwa penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan beliau n dalam shalat, kembali kepada mashlahat. Semua itu, hendaklah dikembalikan kepada sunnah, bukan pada keinginan imam, dan tidak juga kepada keinginan makmum. d. Kewajiban imam untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Ketika shaf dilihatnya telah lurus dan rapat, barulah seorang imam bertakbir, sebagaimana Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakannya. Dari Nu`man bin Basyir Radhiyallahu anhu berkata,Adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meluruskan shaf kami. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah. Sampai beliau melihat, bahwa kami telah memenuhi panggilan beliau. Kemudian, suatu hari beliau keluar (untuk shalat). Beliau berdiri, dan ketika hendak bertakbir, nampak seseorang kelihatan dadanya maju dari shaf. Beliaupun berkata:
AIK Shalat Berjamaah | 7

Hendaklah kalian luruskan shaf kalian, atau Allah akan memecah-belah persatuan kalian [HR Muslim no. 436] Salah satu kesalahan yang sering terjadi, seorang imam menghadap kiblat dan dia mengucapkan dengan suara lantang,Rapat dan luruskan shaf, kemudian dia langsung bertakbir. Kita tidak tahu, apakah imam tersebut tidak tahu arti rapat dan lurus. Atau rapat dan lurus yang dia maksud berbeda dengan rapat dan lurus yang dipahami oleh semua orang. Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata, Adalah salah salah seorang

kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki kawannya. Dalam satu riwayat disebutkan,Aku telah melihat seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. Jika engkau lakukan pada zaman sekarang, niscaya mereka bagaikan keledai liar. Oleh karenanya, Busyair bin Yasar Al Anshari berkata, dari Anas Radhiyallahu anhu,Bahwa ketika beliau datang ke Madinah, dikatakan kepadanya,Apa yang engkau ingkari pada mereka semenjak engkau mengenal Rasulullah? Beliau menjawab,Tidak ada yang aku ingkari dari mereka, kecuali mereka tidak merapatkan shaf. [HR Bukhari no. 724] Berkata Syaikh Masyhur bin Hasan-hafizhahullah-,Jika para jamaah tidak mengerjakan apa yang dikatakan oleh Anas dan Nu`man Radhiyallahu anhuma, maka celah-celah tetap ada di shaf. Kenyataanya, jika shaf dirapatkan, tentu shaf dapat diisi oleh dua atau tiga orang lagi. Akan tetapi, jika mereka tidak melakukannya, niscaya mereka akan jatuh ke dalam larangan syariat. Diantaranya; 1) Membiarkan celah untuk syetan dan Allah Azza wa Jalla putuskan perkaranya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallambersabda,Luruskanlah shaf kalian, dan luruskanlah pundak-pundak kalian, dan tutuplah celah-celah. Jangan
AIK Shalat Berjamaah | 8

biarkan celah-celah tersebut untuk syetan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambung (urusan)nya. Barangsiapa yang memutuskan shaf, niscaya Allah akan memutus (urusan)nya. [ HR Abu Daud] 2) Perpecahan hati dan banyaknya perselisihan diantara jamaah. 3) Hilangnya pahala yang besar, sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih, diantaranya sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya mendoakan kepada orang yang menyambung shaf [HR. Ahmad] e. Meletakkan orang-orang yang telah baligh dan berilmu. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallm: Hendaklah yang mengiringiku orang-orang yang telah baligh dan berakal, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka, dan janganlah kalian berselisih, niscaya berselisih juga hati kalian, dan jauhilah oleh kalian suara riuh seperti di pasar [HR Muslim no. 432]. f. Menjadikan sutrah (pembatas) ketika hendak shalat. Hadits yang menerangkan hal ini sangat mashur. Diantaranya hadits Ibnu Umar Radhiyallahu anhu : Janganlah shalat, kecuali dengan menggunakan sutrah (pembatas). Dan jangan biarkan seseorang lewat di hadapanmu. Jika dia tidak mau, maka laranglah dia, sesungguhnya bersamanya jin. [ HR Muslim no. 260] g. Menasihati jamaah, agar tidak mendahului imam dalam ruku atau sujudnya, karena (seorang) imam dijadikan untuk diikuti. Imam Ahmad berkata,Imam (adalah) orang yang paling layak dalam menasihati orang-orang yang shalat di belakangnya, dan melarang mereka dari mendahuluinya dalam ruku atau sujud. Janganlah mereka ruku dan sujud serentak (bersamaan) dengan imam. Akan tetapi, hendaklah memerintahkan mereka agar rukuk dan sujud
AIK Shalat Berjamaah | 9

mereka, bangkit dan turun mereka (dilakukannya) setelah imam. Dan hendaklah dia berbaik dalam mengajar mereka, karena dia bertanggung jawab kepada mereka dan akan diminta pertanggungjawaban besok. Dan seharusnyalah imam meperbaiki shalatnya, menyempurnakan serta memperkokohnya. Dan hendaklah hal itu menjadi perhatiannya, karena, jika dia mendirikan shalat dengan baik, maka dia pun memperoleh ganjaran yang serupa dengan orang yang shalat di belakangnya. Sebaliknya, dia berdosa seperti dosa mereka, jika dia tidak menyempurnakan shalatnya. h. Dianjurkan bagi imam, ketika dia ruku agar memanjangkan sedikit rukunya, manakala merasa ada yang masuk, sehingga (yang masuk itu) dapat memperoleh satu rakaat, selagi tidak memberatkan makmum, karena kehormatan orang-orang yang makmum lebih mulia dari kehormatan orang yang masuk tersebu. Jadi dapat disimpulkan, Sebelum memulai shalat dengan makmumnya, seorang imam setelah muazin selesai mengumandangkan azan dan komat, maka imam berdiri paling depan dan menghadap makmum untuk mengatur barisan terlebih dahulu. Jika sudah lurus, rapat dan rapi imam menghadap kiblat untuk mulai ibadah sholat berjamaah dengan khusyuk.Syarat Untuk Menjadi Imam Sholat Berjama'ah : 1. Lebih banyak mengerti dan paham masalah ibadah solat. 2. Lebih banyak hapal surat-surat Alquran. 3. Lebih fasih dan baik dalam membaca bacaan-baca'an salat. 4. Lebih senior / tua daripada jama'ah lainny 5. Tidak mengikuti gerakan shalat orang lain. 6. Laki-laki. Tetapi jika semua makmum adalah wanita, maka imam boleh perempuan. Bacaan dua rokaat awal untuk sholat zuhur dan ashar pada surat Al-fatihah dan bacaan surat pengiringnya dibaca secara sirran atau lirih yang hanya bisa didengar sendiri, orang lain tidak jelas mendengarnya. Sedangkan pada solat maghrib, isya
AIK Shalat Berjamaah | 10

dan subuh dibaca secara jahran atau nyaring yang dapat didengar makmum. Untuk shalat sunah jumat, idul fitri, idul adha, gerhana, istiqo, tarawih dan witir dibaca nyaring, sedangkan untuk sholat malam dibaca sedang, tidak nyaring dan tidak lirih. Dan posisi imam dan makmum sholat Jama'ah / Besama-Sama 1. Jika terdiri dari dua pria atau dua wanita saja, maka yang satu menjadi imam dan yang satu menjadi makmum berada di sebelah kanan imam agak ke belakang sedikit. 2. Jika makmum terdiri dari dua orang atau lebih maka posisi makmum adalah membuat barisan sendiri di belakang imam. Jika makmum yang kedua adalah masbuk, maka masbuh menepuk pundak mamum pertama untuk melangkah mundur membuat barisan tanpa membatalkan sholat. 3. Jika terdiri dari makmum pria dan makmum wanita, maka makmum laki-laki berada dibelakang imam, dan wanita dibalakang makmum lakilaki. 4. Jika ada anak-anak maka anak lelaki berada di belakang makmum laki-laki dewasa dan disusul dengan makmum anak-anak perempuan dan kemudian yang terakhir adalah makmum perempuan dewasa. 5. Makmum bencong atau transeksual tetap tidak diakui dan kalau ingin sholat berjama'ah mengikuti jenis kelamin awal beserta perangkat sholat yang dikenakan

2.4 Hikmah shalat berjamaah Banyak umat Islam yang menganggap remeh urusan shalat berjamaah. Kenyataan ini dapat kita lihat di sekitar kita. Masih bagus mau shalat, pikir kebanyakan orang, sehingga tidak berjamaah pun dianggap sudah menjadi muslim yang baik, layak mendapat surga dan ridha Allah. Padahal, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dalam shahihain, sampai pernah hendak membakar rumah para sahabat yang enggan berjamaah. Kisah ini seharusnya dapat membuka mata kita betapa pentingnya berjamaah dalam melaksanakan rukun Islam kedua ini.

AIK Shalat Berjamaah | 11

Jika mengamati hadits-hadits yang berkaitan dengan shalat berjamaah, barangkali kita dapat menyimpulkan sendiri bahwa hukum shalat berjamaah nyaris wajib. Bagaimana tidak, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan bahwa hanya ada tiga hal yang dapat menjadi alasan bagi kita untuk meninggalkan shalat berjamaah; hujan deras, sakit, dan ketiduran. Di luar itu, beliau akan sangat murka melihat umat Islam menyepelekan shalat berjamaah. Perhatian besar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini cukup beralasan. Karena di dalam shalat berjamaah terdapat banyak hikmah dan manfaat bagi umat Islam, baik untuk maslahat dien, dunia, dan akhirat mereka. Berikut ini beberapa hikmah dan manfaat yang bisa diunduh umat Islam dari shalat berjamaah. 1. Allah telah mensyariatkan pertemuan bagi umat ini pada waktu-waktu tertentu. Ada yang dilaksanakan secara berulang kali dalam sehari semalam, yaitu shalat lima waktu dengan berjamaah di masjid. Ada juga pertemuan yang dilaksanakan sekali dalam sepekan, yaitu shalat Jum'at. Ada juga yang dilangsungkan setelah pelaksanaan ibadah yang agung, dan terulang dua kali setiap tahunnya. Yaitu Iedul Fitri sesudah pelaksanaan ibadah puasa Ramadlan dan Iedul Adha sesudah pelaksanaan ibadah Haji. Dan ada juga yang dilaksakan setahun sekali yang dihadiri umat Islam dari seluruh penjuru negeri, yaitu wukuf di Arafah. Semua ini untuk menjalin hubungan persaudaraan dan kasih sayang sesama umat Islam, juga dalam rangka membersihkan hati sekaligus dakwah ke jalan Allah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. 2. 3. Sebagai bentuk ibadah kepada Allah melalui pertemuan ini dalam rangka memperoleh pahala dari-Nya dan takut akan adzab-Nya. Menanamkan rasa saling mencintai. Melalui pelaksanaan shalat berjamaah, akan saling mengetahui keadaan sesamanya. Jika ada yang sakit dijenguk, ada yang meninggal di antarkan jenazahnya, dan jika ada yang kesusahan cepat dibantu. Karena seringnya bertemu, maka akan tumbuh dalam diri umat Islam rasa cinta dan kasih sayang.

AIK Shalat Berjamaah | 12

4.

Ta'aruf (saling mengenal). Jika orang-orang mengerjakan shalat secara berjamaah akan terwujud ta'aruf. Darinya akan diketahui beberapa kerabat sehingga akan tersambung kembali tali silaturahim yang hampr putus dan terkuatkan kembali yang sebelumnya telah renggang. Dari situ juga akan diketahui orang musafir dan ibnu sabil sehingga orang lain akan bisa memberikan haknya.

5.

Memperlihatkan salah satu syi'ar Islam terbesar. Jika seluruh umat Islam shalat di rumah mereka masing-masing, maka tidak mungkin diketahui adanya ibadah shalat di sana.

6.

Memperlihatkan kemuliaan kaum muslimin. Yaitu jika mereka masuk ke masjidmasjid dan keluar secara bersamaan, maka orang kafir dan munafik akan menjadi ciut nyalinya.

7.

Memberi tahu orang yang bodoh terhadap syariat agamanya. Melalui shalat berjamaah, seorang muslim akan mengetahui beberapa persoalan dan hukum shalat yang sebelumnya tidak diketahuinya. Dia bisa mendengarkan bacaan yang bisa dia petik manfaat sekaligus dijadikan pelajaran. Dia juga bisa mendengarkan beberapa bacaan dzikir shalat sehinga lebih mudah menghafalnya. Dari sini, orang yang belum mengetahui tentang syariat shalat, khususnya, bisa mengetahuinya.

8.

Memberikan motifasi bagi orang yang belum bisa rutin menjalankan shalat berjamaah, sekaligus mengarahkan dan membimbingnya seraya saling mengingatkan untuk membela kebenaran dan senantiasa bersabar dalam menjalankannya.

9.

Membiasakan umat Islam untuk senantiasa bersatu dan tidak berpecah belah. Dalam berjamaah terdapat kekuasaan kecil, karena terdapat imam yang diikuti dan ditaati secara tepat. Hal ini akan membentuk pandangan berIslam secara benar dan tepat tentang pentingnya kepemimpinan (imamah atau khilafah) dalam Islam.

10. Membiasakan seseorang untuk bisa menahan diri dari menuruti kemauan egonya. Ketika dia mengikuti imam secara tepat, tidak bertakbir sebelum imam bertakbir, tidak mendahului gerakan imam dan tidak pula terlambat jauh darinya serta tidak melakukan gerakan bebarengan dengannya, maka dia akan terbiasa mengendalikan dirinya.
AIK Shalat Berjamaah | 13

11. Membangkitkan perasaan orang muslim dalam barisan jihad, sebagaimana yang Allah firmankan, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. Ash Shaff: 4) Orang yang mengerjakan shalat lima waktu dengan berjamaah dan membiasakan diri untuk berbaris rapi, lurus dan rapat, akan menumbuhkan dalam dirinya kesetiaan terhadap komandan dalam barisan jihad sehingga dia tidak mendahului dan tidak menunda perintah-peritnahnya. 12. Menumbuhkan perasaan sama dan sederajat dan menghilang status sosial yang terkadang menjadi sekat pembatas di antara mereka. Di sana, tidak ada pengistimewaan tempat bagi orang kaya, pemimpin, dan penguasa. Orang yang miskin bisa berdampingan dengan yang kaya, rakyat jelata bisa berbaur dengan penguasa, dan orang kecil bisa duduk berdampingan dengan orang besar. Karena itulah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk menyamakan shaff (barisan) shalat. Beliau bersabda, "janganlah kalian berselisih yang akan menyebabkan perselisihan hati-hati kalian." (HR. Muslim) 13. Dapat terlihat orang fakir miskin yang serba kekurangan, orang sakit, dan orangorang yang suka meremehkan shalat. Jika terlihat orang memakai pakaian lusuh dan tampak tanda kelaparan dan kesusahan, maka jamaah yang lain akan mengasihi dan membantunya. Jika ada yang tidak terlihat di masjid, akan segera diketahui keadaannya, apakah sakit atau meremehkan kewajiban shalat berjamaah. Orang yang sakit akan dijenguk dan diringankan rasa sakit dan kesusahannya, sedangkan orang yang meremehkan shalat akan cepat mendapat nasihat sehingga akan tercipta suasana saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. 14. Akan menggugah keinginan untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shabatnya. Melalui shalat berjamaah, umat Islam bisa membayangkan apa yang pernah dijalani oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
AIK Shalat Berjamaah | 14

wasallam bersama para shabatnya. Sang imam seolah menempati tempat Rasulullah yang para jamaah seolah menempati posisi sahabat. 15. Berjamaah menjadi sarana turunnya rahmat dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. 16. Akan menumbuhkan semangat dalam diri seseorang untuk meningkatkan amal shalihnya dikarenakan ia melihat semangat ibadah dan amal shalih saudaranya yang hadir berjamaah bersamanya. 17. Akan mendapatkan pahala dan kebaikan yang berlipat ganda, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "shalat berjamaah itu lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian." (HR. Muslim) 18. Menjadi sarana untuk berdakwah, baik dengan lisan maupun perbuatan. Berkumpulnya kaum muslimin pada waktu-waktu tertentu akan mendidik mereka untuk senantiasa mengatur dan menjaga waktu.

2.5 Cara magbu dalam shalat berjamaah Makmum masbuq ialah makmum yang tidak mendapati kesempatan yang cukup untuk membaca fatihah bersama imam. Dalam hal ini ada beberapa ketentuan :

a. Jika sholat baru di rakaat pertama, dan imam belum rukuk, maka kita bias langsung
mengikuti imam setelah takbiratul ihrom,sampai selesai tanpa menambah apapun.

b. Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat pertama, maka kita juga bisa langsung
mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 1 rakaat lagi setelah imam salam.

c. Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat kedua, maka kita juga bisa langsung
mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 2 rakaat lagi setelah imam salam.

d. Jika imam sudah melewati rukuk pada rakaat ke tiga, maka kita juga bisa langsung
mengikuti gerakan imam setelah takbiratul ihrom, tapi harus menambah 3 rakaat lagi setelah imam salam, hitung rakaat terakhir saja.

AIK Shalat Berjamaah | 15

Contoh : jika imam sholat ashar sudah selesai rukuk rakaat ke tiga, kita baru ikut jamaah, maka kita takbiratul ihrom, lalu langsung mengikuti gerakan imam, setelah sholat jamaah selesai (imam mengucap salam) kita berdiri untuk melanjutkan sholat dengan menambah 3 rakaat lagi, yaitu rakaat ke 2, lalu ke 3 dan rakaat terakhir. Walaupun jamaah tadi sudah selesai, kita masih mendapatkan kebaikan sholat jamaah sama seperti mereka.

AIK Shalat Berjamaah | 16

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan 1. Shalat berjamaah adaah shalat yang dilakukan secara bersama-sama oleh dua oramg atau lebih, salah seorang di antara mereka menjadi imam dan yang lain sebagai makmum, dengan aturan serta kaifiat yang tertentu 2. Salah satu keutamaan shalat berjamaah adalah pahala dengan dua puluh tujuh derajat sesuai dengan hadits nabi SAW dalam HR. Bukhari 3. Semakin banyak jamaah dalam shalat berjamaah maka semakin banyak pahala

AIK Shalat Berjamaah | 17

DAFTAR PUSTAKA

http://organisasi.org/definisi-pengertian-shalat-berjamaah-dan-hukum-sholat-berjamaahilmu-agama-islam diunduh tanggal 21 april 2013 http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/07/21/adab-imam-dalam-shalatberjamaah/ diunduh tanggal 21 april 2013 Nawawi, Novrizal dkk. 2010. Al Islam Kemuhammadiyahan. Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang

AIK Shalat Berjamaah | 18