Anda di halaman 1dari 15

Nama NIM

: :

Adindya Febriandana D14112037

Rangkuman Bab II Kimia Air 2.2. Sumber dan Kegunaan Air


Kuantitas dan kualitas air yang sesuai dengan kebutuhan manusia merupakan faktor penting yang menentukan kesehatan hidupnya. Kuantitas air berhubungan dengan adanya bahan-bahan lain terutama senyawa-senyawa kimia, baik dalam bentuk senyawa organik maupun anorganik dan juga adanya mikroorganisme yang memegang peranan penting dalam menentukan komposisi kimia air. Kualitas air yang buruk disebabkan adanya berbagai jenis bakteri pathogen dan kandungan bahanbahan kimia berbahaya. Suplai air dunia didapatkan dari 5 bagian siklus hidrologi. Sebagian besar dari air ditemukan dalam bentuk lautan dan samudra. Bagian lainnya terdapat dalam bentuk uap air di atmosfer. Air dalam betuk padat juga ditemukan di Bumi yaitu yang membentuk salju di daerah kutub utara dan selatan. Air tanah (ground water) dapat melarutkan mineral-mineral bahan induk dari tanah yang dilewatinya. Sebagian besar mikroorganisme yang semula ada dalam air tanah berangsur-angsur disaring sewaktu air meresap dalm tanah. Perbedaan yang cukup besar antara air tanah dengan air permukaan disebabkan oleh kandungan berbagai zat, baik yang terlarut maupun yang tersuspensi dalam perjalanan menuju ke laut. Air permukaan yang mengandung bahan organik mudah terurai dalam konsentrasi tinggi secara normal akan mengandung bakteri dalam jumlah tinggi pula yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap kualitas air permukaan. Keterkaitan yang sangat kuat antara lapisan air (hydrosphere) dimana air berada dengan lapisan tanah/lahan (geosphere) dimana keduanya dipengaruhi oleh kegiatan manusia dan dapat mempengaruhi iklim mikro (mikro climate) di wilayah-wilayah. Akibatnya adalah nebingkatnya limpasan air, erosi, dan akumulasi dari lumpur dalam badan air (sungai) serta dapat meningkatkan unsure-unsur hara dipermukaan air, sehingga siklus nutrient akan dipercepat dan akan sangat memberikan pengaruh terhadap karakteristik kimia dan biologi dari badan air.

2.3. Sifat-Sifat Yang Unik Dari Air


Ilmu yang mempelajari tentang air disebut Ilmu Hidrologi, dan dua cabang dari ilmu ini yaitu Limnologi (mempelajari sifat-sifat air tawar) dan Oseanografi (mempelajari tentang lautan). Molekul air yang satu dengan molekul-molekul air lainnya bergabung dengan satu ikatan hydrogen antara atom H dengan atom O dari molekul air yang lain. Adanya ikatan hydrogen inilah yang menyebabkan air mempunyai sifat-sifat yang khas.

Sifat
Pelarut yang sangat baik. Konstanta dielektrik paling tinggi diantara cairan murni lainnya. Tegangan permukaan lebih tinggi daripada cairan lainnya. Transparan terhadap cahaya tampak dan sinar yang mempunyai panjang gelombang lebih besar dari ultraviolet. Bobot jenis tertinggi dalam bentuk cairan (fasa cair) pada Panas penguapan lebih tinggi dari material lainnya. Kapasitas kalor tinggi dibandingkan dengan cairan lain kecuali ammonia. Panas laten dan peleburan lebih tinggi daripada cairan lain kecuali ammonia.

Efek dan Kegunaan


Transport zat-zat makanan dan bahan buangan yang dihasilkan proses biologi. Kelarutan dan ionisasi dari senyawa ini tinggi dalam larutannya. Faktor pengendali dalam fisiologi; membentuk fenomena tetes dan permukaan Tidak berwarna, mengakibatkan cahaya yang dibutuhkan untuk fotosintesis mencapai kedalaman tertentu. Air beku (es) mengapung, sirkulasi vertikal menghambat stratifikasi badan air. Menentukan transfer panas dan molekul air antara atmosfer dan badan air. Stabilisasi dari temperatur organisme dan wilayah geographis Temperatur stabil pada titik beku.

Air merupakan pelarut yang sangat baik bagi banyak bahan, sehingga air merupakan media transport utama bagi zat-zat makanan dan produk buangan/sampah yang dihasilkan proses kehidupan. Oleh karena itu, air yang ada di Bumi tidak pernah terdapat dalam keadaan murni, tetapi selalu ada senyawa atau mineral/unsur lain yang terdapat di dalamnya. Air mempunyai konstanta dielektrik yang sangat tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap sifat-sifat pelarutnya. Hal ini menyebabkan banyak sekali senyawa ionis berdesosiasi dalam air.

2.4. Sifat-Sifat Unik Badan Air


Danau dapat diklasifikasikan sebagai oliogotropik (danau yang relatif muda, berair jernih, dan kurang mengandung zat hara akiatnya kurang produktif untuk aktivitas biologis) , eutropik (umur relatif lebih tua dibanding oliogotropik, agak keruh, lebih banyak mengandung zat hara, dan menunjang kehidupan aquatik) , dystropik (umur danau paling tua, dangkal, diepnuhi tumbuhan air dan biasanya airnya berwarna serta mempunyai pH yang rendah). Aliran sungai diklasifikasikan dalam 4 tahapan, yaitu stadium lahir (sungai belum tererosi, air tanah berperan penting pada stadium ini sehingga kalau musim kemarau sungai muda masih didukung oleh aliran air tanah tetapi aliran sungai berjalan secara kontinu) , stadium muda , stadium dewasa (air sungai umumnya bersih dan lebih dalam dibanding sungai muda) dan stadium umur tua (kedalaman hamper mencapai tingkat dasar geologinya). Hubungan khas antara suhu dengan bobot jenis air menyebabkan lapisan-lapisan yang berbeda dalam badan air. Selama musim panas, lapisan permukaan danau atau epilimnion dipanaskan oleh radiasi matahari, sehingga bobotnya lebih kecil. Lapisan ini mengapung diatas lapisan dasar atau hypolimnion. Lapisan diantaranya disebut thermoclyne. Fenomena ini disebut strasifikasi tremal. Ketika terjadi perbedaan suhu antara 2 lapisan, air tidak tercampur dan memiliki sifat-sifat kimia dan biologi yang berbeda. Selama musim gugur, suhu epilimnion dingin. Pada saat suhu epilimnion dan hypolimnion sama, seluruh badan air mempunyai suhu yang tidak berbeda. Hilangnya strasifikasi termal ini menyebabkan badan air mempunyai satu satuan hidrologi dan proses pencapuran yang terjadi dikenal sebagai peristiwa pembalikan (turn-over). Tipe lain dari badan air adalah estuaria. Estuaria dibentuk oleh pertemuan aliran air tawar ke dalam air asin (air laut) sehingga badan air ini mempunyai sifat-sifat kimia dan biologi yang unik. Estuaria

merupakan daerah tempat berkembang biaknya kebanyakan dari kehidupan laut yang membuat kelestarian menjadi sangat penting bagi makhluk-makhluk tersebut. Sifat-sifat kimia dan biologi dari lautan juga sangat unik disebabkan oleh kedalaman air yang cukup tinggi, kadar garam juga yang sangat tinggi dan faktor-faktor lainnya.

2.5. Sifat-Sifat Kimia Perairan


Air secar alamiah tidak pernah dijumpai dalam keadaan betul-betul murni. Oleh karena itu, terdapat kesukaran dalam menjelaskan sifat-sifat kimia dari perairan (sistem akuatik secara alamiah). Sebagai suatu sistem yang terbuka, perairan mempunyai variable input dan output dari energy dan materi. Maka dari itu gambaran yang tepat dari sifat-sifat kimia perairan didasarkan pada alkalinitas/asiditas, kelarutan, kostanta pembentukan kompleks, potensial redoks, dan pH.

Alkalinitas
Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menerima protein. Dengan mengetahui alkalinitas, dapat dihitung jumlah bahan kimia yang harus ditambahkan dalam pengolahan air limbah. Air yang sangat alkali atau bersifat basa sering mempunyai pH tinggi dan umumnya mengandung padatan terlarut yang tinggi. Sifat-sifat ini dapat menurunkan kegunaannya untuk keperluan dalam tangki uap, prosesing makanan dan sistem saluran air dalam kota. Alkalinitas memegang peranan penting dalam penentuan kemampuan air untuk mendukung pertumbuhan ganggang dan kehidupan perairan lainnya. Pada umumnya, komponen utama yang memegang peran dalam menentukan alkalinitas perairan adalah ion bikarbonat, ion karbonat dan ion hidroksil.

Yang lainnya, yang sedikit menyumbang alkalinitas adala ammonia dan konyugat basa-basa dari asamasam fosfat, silikat, borat, dan asam-asam organik. Alkalinitas umumnya dinyatakan sebagai alkalinitas fenolftalein yaitu proses situasi dengan asam untuk mencapai pH 8,3 dimana merupakan ion terbanyak, dan alkalinitas total yang menyatakan situasi dengan asam menuju titik akhir indikator metal jingga (pH 4,3) yang ditunjukkan oleh berubahnya kedua jenis ion karbonat dan bikarbonat menjadi . Kalau pH merupakan faktor intesitas, alkalinitas merupakan faktor kapasitas, dimana kapasitas itu merupakan kapasitas air tersebut untuk menetralkan asam. Oleh karena itu, kadang-kadang penambahan alkalinitas lebih banyak dibutuhkan untuk mencegah supaya air itu tidak menjadi asam. Dalam kebanyakan air alami alkalinitas disebabkan oleh adanya dan sedikit oleh adanya , dan air dengan alkalinitas tinggi mempunyai konsentrasi karbon organik yang tinggi. Dalam media dengan pH rendah, ion hidrogen dalam air mengurangi alkalinitas.

Aciditas
Pada sistem perairan alami, asiditas adalah kapasitas air untuk menetralkan . Penyebab dari asiditas umumnya adalah asam-asam lemah seperti , , protein dan ion-ion logam yang bersifat asam, terutama . Penentuan asiditas lebih sukar dibandingkan alkalinitas, karena oleh adanya 2 zat utama yang berperan yaitu dan yang keduanya mudah menguap, yang mudah hil ang dari sample yang diukur.

+ +

Hal tersebut berakibat terjadinya kesukaran dalam pengawetan contoh air yang baik terhadap adanya gas-gas terseut untuk dianalisa. Istilah asam mineral bebas dipakai dalam asam-asam kuat seperti dan HCl dalam air. Bila total asiditas ditentukan oleh situasi dengan absa sampai titik akhir flenolftalein (pH 8,2), maka untuk asam mineral beas ditentukan oleh situasi dengan basa sampai tiitk akhir indikator metal jingga pada pH 4,3. Sifat asam dari ion-ion logam yang terhidrat dapat berperan terhadap asiditas, seperti :

Al (

Al (

Pada pengolahan air limbah (terutama limbah industri), penentuan asiditas menjadi penting untuk memperhitungkan jumlah kapur atau zat-zat lain yang harus ditambahkan dalam proses pembiakan air limbah.

Terjadinya Senyawa Kompleks


Dalam air ion logam dapat bergabung dengan ion negative, atau dengan senyawa netral membentuk sebuah kompleks atau senyawa kordinasi. Sebuah kompleks mengandung sebuah atom logam pusat dimana terikat electron-elektron yang dimiliki oleh ligan sebagai donor elektronnya. Ligan-ligan dari banyak senyawa kompleks akan berubah dengan cepat pada larutan yang berbeda. Bilangan koordinasi dari sebuah atom logam atau ion adalah jumlah kelompok donor elektron ligan yang diikat kepada logam itu. Bilangan-bilangan koordinasi yang paling umum adalah 2, 4 atau 6. Senyawa kompleks berinti banyak mengandung 2 atau lebih atom-atom logam yang terikat bersama-sama melalui jembatan ligan, yang sering terjadi adalah . Bila ion kadnium bergabung dengan ion sianida:

Maka terbentuk ion kompleks . Selanjutnyabila ion-ion sianida ditambahkan akan membentuk senyawa kompleks yang lebih lemah, artinya lebih mudah terdisosiasi.

, dan

Dalam contoh tersebut, ligan sianida disebut sebagai ligan unidentat yang berarti hanya mempunyai 1 tempat untuk mengadakan ikatan pada ion logam pusat kadnium. Kompleks yang lebih penting adalah kompleks dengan senyawa pengkelat. Pengkelat mempunyai lebih dari satu atom yang dapat diikat pada sebuah ion logam pusat pada 1 waktu untuk membentuk sebuah struktur cincin. Ion pyrofosfat, mengikat pada 2 temapt terhadap sebuah ion kalsium membentuk sebuah kelat. O O

Kelat lebih stabi dibandingkan dengan kompleks yang melibatkan ligan-ligan unindentat karena mampu berikatan dengan sebuah ion logam pada lebih dari 1 tempat secara simultan. Ligan-ligan yang ditemukan diperairan alami dan air buangan terdiri dari bermacam-macam gugus fungsi senyawa organik yang dapat memberikan elektron-elektron yang dibutuhkan untuk mengikat ligan itu pada ion-ion logam. Di antara gugus-gusus fungsi yang paling umum adalah : O C O Karboksilat

Amino aromatic

Fenoksida

O O P O Banyaknya pengaruh berbahaya dari logam-logam toksik diakibatkan oleh pergantian dari ion-ion logam yang terjadi secara alamiah dalam pembentukan kompleks oleh ion-ion logam kontaminan.Pada umumnya, Pembentukan kompleks dalam perairan alami melibatkan banyak reaksi penting. Hal ini mencakup perubahan-perubahan bilangan oksidasi logam, seperti halnya yang terjadi pada oksidasireduksi, dekarboksilasi atau reaksi-reaksi hidrolistis dari ligan. O Fosfat

Pentingnya Senyawa Kompleks Dalam Perairan


Banyak ion logam yang ditemukan dalam sistem perairan alami terutama ion-ion uang didapat dalam konsentrasi yang sat renik, membentuk kompleks kuat dengan berbagai macam pengaruh seperti : 1. Hilangnya ion-ion logam dalam larutan. 2. Perubahan potensial redoks yang ada. 3. Pembentukan kompleks juga melarutkan ion-ion dari senyawa logam tidak larut. Pupuk fosfat cair dalam bentuk ammonium polifosfat merupakan sumber pencemar yang sangat popular. Salah satu faktor yang memberikan nilai dari pupuk polifosfat adalah kapasitasnya untuk bertindak sebagai zat pengkelat, melarutkan ion-ion logam dari hara mikro dalam tanah dan menjadikan logam-logam esensial lebih berguna bagi tanaman. Beberapa logam yang terdapat dalam jumlah sangat sedikit merupakan unsur penting untuk pertumbuhan ganggang. Logam-logam yang harus ada dalam konsentrasi rendah dalam medium ganggang adalah Cu, Fe, Zn, Ca, Mn. Logam-logam ini membentuk kelat-kelat logam yang relatif kuat.Beberapa diantaranya terdapat sebagai ion logam terhidrasi sederhana, seperti Cu( ,

Fe( , dan Mn( yang tidak stabil dan mengendap sebagai hidroksida-hidroksida atau jenis-jenis lainnya yang tidak larut. Zat pengkelat yang kaut, EDTA(Ethylene Diamine Tetra Acetate), digunakan dalam pengolahan makanan, salah satu pengaruh adalah mengkelat ion-ion logam dan menghilangkan rasa logam. Kadang juga ditambahkan pada air pendingin dan air pemanas masakan untuk menghindari pembentukan karat. Dapat juga terjadi bahwa senyawa EDTA ini didapatkan pada air limbah dan perairan alami. Ligan EDTA mengkoordinasi ion logam yang sama melalui 4 kelompok dan melalui 2 atom nitrogen. Oleh karena itu, secara simultan EDTA dapat mengkoordinasi keenam tempat koordinasi pada sebuah atom logam dengan 6 buah bilangan koordinasi, yang merupakan kompleks yang sangat stabil. Kestabilan senyawa kompleks berkaitan dengan berbagai sifat dari ion logam dan ligan. Berkut ini merupakan hal-hal yang sangat penting : 1. Ukuran dan keadaan oksidai dari logam. Logam dengan ukuran lebih kecil dan dengan keadaan oksidai positif lebih tinggi membentuk kompleks yang lebih kuat. 2. Perubahan energi bebas dari pembentukan kompleks tergantung pada perubahan entropi dan entalpi reaksinya. 3. Konfigurasi elektron dari ion metal. 4. Kekuatan dan kelemahan dari perpaduan antara logam dan ligan.

2.6. Mikroorganisme Sebagai Katalis Reaksi Kimia Perairan


Sebagian besar reaksi-reaksi kimia penting yang terjadi dalam perairan, terutama yang melibatkan bahan-bahan organik dan proses oksidasi-reduksi terjadi melalui perantara bakteri. Ganggang merupakan produsen primer bahan organik biologis (biomas) dalam air. Ganggang digolongkan sebagai produsen karena menggunakan energi matahari dan menyimpannya sebagai energi kimia yang terkandung dalam biomas.

Ganggang
Ganggang sebagai organisme mikroskopis umum yang berfungsi sebagai produsen hidup dari harahara anorganik dan menghasilkan bahan organik dan karbondioksida melalui reaksi fotosintesis. Harahara umum yang dibutuhkan oleh ganggang adalah karbon yang berasal dari atau , nitrogen umumnya sebagai , fosfor yang sebagian dalam bentuk ortofosfat, belerang sebagai , dan unsur-unsur renik termasuk natrium, kalsium, magnesium, besi, kobalt dan molibden. Dalam ketiadaan cahaya, ganggang memetaolisme bahan organik dalam hal yang sama seperti organisme non fotosintetik yaitu melakukan metabolimenya dengan menggunakan energi kimia dari degradasi simpanan pati atau lemak, atau dari konsumsi protoplasma ganggang itu sendiri.

Cendawan
Cendawan tidak tumbuh baik dalam air, tetapi cendawan memainkan peranan yang cukup besar dalam penentuan komposisi air karena produksi yang cukup banyak dari hasil-hasil dekomposisi oleh cendawan darat yang akhirnya masuk ke perairan. Cendawan adalah organisme non fotosintetik, membutuhkan oksigen untuk kehidupannya (organisme aerobic), dan umumnya tumbuh dengan subur dalam media yang lebih asam daripada bakteri. Cendawan juga lebih toleran terhadap konsentrasi ion-ion logam berat yang lebih tinggi dibandingkan bakteri.

Bakteri dan Klasifikasinya


Bakteri dibagi menjadi 2 golongan utama, yaitu bakteri autotropik dan bakteri heterotropik. Pertumbuhan autotropik tidak tergantung dari bahan organik, hidup dengan sempurna dalam medium anorganik, menggunakan karbondioksida atau jenis-jenis karbonat lain sebagai sumber karbon dan jumlah sumber energi yang digunakan tergantung dari jenis bakterinya.

Sebuah contoh dari jenis autotropik adalah gallionela. Dengan adanya oksigen bakteri ini tumbuh dalam suatu medium yang mengandung Cl, fosfat, garam-garam mineral, sebagai sumber karbon, dan FeS padat sebagai sumber energi. Reaksi dibawah ini merupakan reaksi yang menghasilkan energi : 4 FeS + 9 + 10 4Fe( +4 +8 Pembentukan endapan Fe( diikuti oleh pertumbuhan bakteri tersebut. Konsumsi dan produksi bakteri autotropik meliputi kisaran mineral-mineral yang sangat luas, maka bakteri autotropik ikut serta dalam banyak perubahan biokimia. Bakteri heterotropik merupakan mikroorganisme yang dalam ekosistem berfungsi menghancurkanbahan-bahan organik pencemar dalam perairan, dalam buangan organik, dalam proses pengolahan air buangan (air limbah) secara biologis. Klasiifikasi lain dari bakteri yaitu dari kebutuhan oksigen molekuler, sebagai bakteri aerobic dan anaerobic. Bakteri aerobic membutuhkan oksigen sebagai akseptor (penerima) elektron, seperti terlihat dari reaksi dibawah ini :

+4

+4

Bakteri anaerobik tidak membutuhkan oksigen dan kadang kala oksigen molekuler sangat toksik terhadap bakteri anaerobik. Hasil perombakan senyawa-senyawa kimia dalam lingkungan oleh kedua jenis bakteri ini berbeda. Bakteri jenis lainnya adalah bakteri fakultatif yaitu bakteriyang menggunakan oksigen bebas bila oksigen molekuler tidak tersedia. Ion nitrat dan ion sulfat merupakan pengganti oksigen dalam perairan. Mengingat mikroorganisme dapat berfungsi sebagai katalis terhadap reaksi-reaksi perairan, maka terdapat enzim-enzim sebagai katalis untuk reaksi-reaksi biokimia didalam mikroorganisme tersebut. Enzim ini diberi nama dengan penambahan akhiran ase pada nama substrat yang dipengaruhinya. Sebagai contoh, urease adalah enzim yang mengkatalisis hidrolisa urea. Aktivitas enzim ini dipengaruhi oleh parameter-parameter sepert pH dan suhu perairan, dimana parameter tersebut mempengaruhi aktivitas microbial.

2.7. Kehidupan Akuatik


Organisme yang hidup dalam ekosistem akuatik (perairan) dapat digolongkan menjadi autotropik (menggunakan sinar matahari atau energi kimia untuk merubah unsur-unsur senyawa organik yang sederhana menjadi sempurna dengan molekul kompleks yang menyusun organisme hidup) dan heterotropik (menggunakan zar-zat organik yang dihasilkan organisme autotropik (produsen) sebagai sumber energi dan sebagai bahan mentah untuk membentuk biomasnya). Kemampuan dari suatu badan air menghasilkan bahan-bahan untuk kehidupan dikenal sebagai produktivitas. Sifat-sifat fisika dan kimia badan air sangat mempengaruhi kehidupan akuatik. Suhu, kecerahan dan turbulensi termasuk 3 sifat fisika utama yang memberikan pengaruh terhadap kehidupan akuatik. Suhu sangat rendah menyebabkan proses biologi berjalan sangat tinggi dapat memusnahkan kehidupan akuatik. Pertumbuhan ganggang sangat ditentukan oleh kecerahan badan air. Oksigen sering merupakan zat kunci dalam menentukan jenis dan keberadaan kehidupan akuatik. Kekurangan oksigen bersifat fatal bagi kebanyakan hewan akuatik, tetapi adanya oksigen juga menyebabkan fatal bagi kehidupan bakteri anaerob. Oleh karena itu, pengukuran terhadap konsentrasi oksigen terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) penting untuk menentukan sifat biologi suatu badan air seperti sungai atau danau.

Kebutuhan oksigen biologi (Biochemical Oxygen Deman (BOD)) merupakan salah satu parameter untuk kualitas air yang penting. BOD menunjukkan adanya oksigen yang digunakan bila bahan organik dalam suatu volume air tertentu dirombak/diuraikan secara biologis. Gas dibutuhkan untuk proses produksi biomas melalui proses fotosintesis oleh ganggang. Tingginya konsentrasi gas dalam air yang dihasilkan oleh proses perombakan bahan organik menyebabkan pertumbuhan ganggang sangat cepat dan produktivitasnya. Salinitas perairan sering menentukan jenis biota yang ada.

2.8. Bahan-Bahan Kimia Dalam Perairan


Senyawa-senyawa dalam bentuk ion yang biasa terdapat di perairan :

Nama
Ammonium Hydroxyl Bikarbonat Karbonat Ortofosfat Mono-hidrogen-ortofosfat Di-hidrogen-ortofosfat Bisulfat Sulafat Bisulfit Sulfit Nitrite Nitrat Hipoklorit

Rumus

Muatan Listrik

Senyawa Nitrogen Dalam Air


Dalam air, senyawa-senyawa ntrogen memegang peranan sangat penting dalam perairan reaksi-reaksi biologi perairan. Jenis-jenis nitrogen anorganik utama dalam air adalah ion nitrat ( ), dan ammonium ( ). Dalam kondisi tertentu terdapat dalam bentuk nitrit ( ).Sebagian besar dari nitrogen total dalam air terikat sebagai nitrogen organik, yaitu dalam bahan-bahan yang berprotein, juga dapat berbentuk senyawa/ion-ion lainnya dari bahan pencemar. Nitrogen perairan merupakan penyebab utama pertumbuhan yang sangat cepat dari ganggang yang menyebabkan eutrofikasi. Dalam kondisi tanpa katalis biologi, ion nitrat hanya sedikit bereaksi dalam ait. Kemampuan pertukaran ion dari bahan-bahan yang terjadi secara alamiah tidak mengikat ion dengan kuat. Dalam sistem pencernaan dari bayi dan binatang memamah biak, nitrat direduksi menjadi nitrit. Nitrit ini dapat mengikat hemoglobin dalam darah, sehingga mengurangi kemampuannya sebagai pembawa oksigen dalam darah. Hal ini menyebabkan kondisi yang dikenal dengan methemoglobinemi, dimana korbannya seperti terkena serangan jantung yang disebut penyakit paru-paru (blue baby).

Senyawa Fosfor
Fosfor merupakan salah satu dari beberapa unsur yang essensial untuk pertumbuhan ganggang dalam air. Pertumbuhan ganggang yang berlebihan disamping hasil hancuran biomas dapat menyebabkan pencemaran kualitas air. Sumber fosfor adalah limbah industri, hanyutan dari pupuk, limbah domestik, hancuran bahan organik, dan mineral fosfat.

Fosfor dalam bentuk padat terjadi sebagai suspensi garam-garam yang tidak larut, dalam bahan biologic, atau terabsorbsi dalam bahan padat. Fosfat juga dapat berada sebagai ligan dalam sebuah kompleks logam karena fosfat bereaksi dengan sejumlah zat membentuk senyawa yang tidak larut, dan mudah diabsorpsi oleh tumbuh-tumbuhan, konsentrasi dari fosfat anorganik terlarut dalam kebanyakan perairan konstan. Kenaikan konsentrasi fosfat merupakan adanya zat pencemar dalam perairan. Senyawa-senyawa fosfat tersebut dalam bentuk organofosfat atau polifosfat. Senyawa fosfor organik terdapat antara lain dalam bentuk asam-asam nukleat, fosfolipid, gulafosfat. Senyawa ini masuk ke dalam perairan bersama-sama dengan limbah industri dan rumah tangga.

Bahan Organik
Bahan organik banyak terdapat dalam bentk karbohidrat, protein, lemak yang membentuk organisme hidup dan senyawa-senyawa lainnya yang merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan dibutuhkan oleh manusia. Secara normal, bahan organik tersusun oleh unsur-unsur C, H, O dan dalam beberapa hal mengandung N, S, P dan Fe. Senyawa-senyawa organik pada umumnya tidak stabil dan mudah dioksidasi secara biologis atau kimia menjadi senyawa stabil, antara lain menjadi dan . Proses inilah yang menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan menurun dan hal ini menyebabkan permasalahan bagi kehidupan akuatik. Untuk menyatakan kandungan bahan organik dalam perairan dilakukan dengan mengukur jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan tersebut sehingga menjadi sneyawa yang stabil. 1. Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen yang dibutuhkan mikro organisme selama penghancuran bahan organik dalam waktu tertentu pada suhu 20C. Hasil reaksi biokimia yang berbeda akan diperoleh pada suhu yang berbeda karena kecepatan reaksi biokimia tergantung pada suhu. 2. Chemical Oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen, yaitu oksidasi secara kimiawi dengan menggunakan kaliumbikarbonat yang dipanaskan dengan asam sulfat pekat. COD umumnya lebih besar dari BOD, karena jumlah senyawa kimia yang bisa dioksidasi secara kimiawi lebih besar dibandingkan oksidasi secara biologis.

Kelarutan Gas Dalam Air


Kedua jenis gas yang paling banyak membentuk udara (udara merupakan campuran yang homogen dari berbagai jenis gas), yaitu nitrogen dan oksigen meskipun tidak bereaksi dengan air, tapi larut dalam jumlah yang terbatas. Nitrogen yang larut dalam perairan dapat menyebabkan masalah berat ketika membentuk gelembung gas dalam darah ikan dan menyebabkan ikan kejang dan bahkan kematian. Kelantanan dari setiap gas adalah proporsional dengan tekanan partial gas yang kontak dengan cairan tersebut dikenal dengan Hukum Henry. Dengan catatan, hukum ni hanya berlaku bagi gas yang tidak melakukan interaksi (bereaksi) dengan pelarutnya. Jadi hukum ini tidak berlaku untuk gas dan karena gas-gas tersebut beraksi dengan air. Keseimbangan antara molekul-molekul gas di atmosfer dan didalam larutan dapat dinyatakan sebagai berikut :
(

Sedangkan kelarutan gas didalam air, X, dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan :

] = K.Px

Dimana K adalah konstanta suatu gas pada suhu tertentu dan Px adalah tekanan parsial gas. Beberapa nilai K untuk berbagai macam gas dalam air dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Gas

K, Mol.
1.28 x 3,38 x 7,90 x 6,48 x 1,34 x 2,0 x

NO

Uap air sendiri memberikan tekanan parsial, maka dalam perhitungan kelarutan gas membutuhkan koreksi. Pada tabel dibawah, dimuat tekanan parsial dari uap air pada berbagai suhu :

T, C
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 100

O, torr
4,579 6,543 9,209 12,788 17,535 23,756 31,824 42,175 55,324 71,88 92,51 760,00

O, atm
0,00603 0,00861 0,01212 0,01683 0,02307 0,03126 0,04187 0,05549 0,07279 0,09458 0,12172 1,0000

Kelarutan gas-gas dalam cairan dipengaruhi oleh suhu. Kelarutannya semakin menurun dengan kenaikan suhu. Pengaruh ini dirumuskan dalam persamaan Clausius-Claplyron.

Log
Dimana : D T H R = = = =

Konsentrasi gas Suhu mutlak (K) Kalor larutan dalam Kal/mol Konstanta gas (1,987 Kal. .

Oksigen Dalam Air


Kehidupan akuatik mendapatkan oksigennya dalam bentuk oksigen terlarut. Banyak ikan mati dalam perairan tercemar bukan diakibatkan oleh toksitasi zat pencemar langsung, tetapi karena kekurangan oksigen sebagai akiat dari digunakannya gas tersebut pada proses penguraian/penghancuran zat tercemar. Dalam udara yang bersih dan kering terdapat 20,95% oksigen berdasar volume. Sebagian besar oksigen dalam air berasal dari atmosfer. Oleh karena itu, kemampuan suatu badan air untuk mengisi oksigen kembali dengan cara kontak dengan atmosfer merupakan hal yang sangat penting. Kelarutan oksigen dalam air tergantung dari suhu (persamaan Clausius-Claplyron), tekanan parsial oksigen dalam atmosfer dan kandungan garam dalam air.

Pengaruh suhu terhadap kelarutan gas-gas dalam air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Clausius-Claplyron. Dengan kenaikan suhu air, terjadi penurunan organisme perairan, sehingga sering menyebabkan adanya suatu keadaan dimana naiknya kebutuhan oksigen diikuti oleh turunnya kelarutan gas tersebut dalam air. Berikut adalah tabel kelarutan oksigen dalam air pada berbagai suhu :

Temperatur (C)
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Kelarutan Oksigen (mg/l)


14,6 14,2 13,8 13,5 13,1 12,8 12,5 12,2 11,9 11,6 11,3 11,1 10,8 10,6 10,2 10,4 10,0 9,7 9,5 9,4 9,2 9,0 8,8 8,7 8,5 8,4 8,2 8,1 7,9 7,8 7,6

Tekanan Uap Air (mm Hg)


5 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 10 11 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 24 25 27 28 30 32

Karbondioksida dan Berbagai Jenis Karbonat


Gas mempunyai sifat keasaman, maka akan menjadi lebih rumit dalam menghitung kelarutannya dalam air dibandingkan kelarutan gas-gas yang sukar bereaksi seperti dan . Dalam fotosintesisnya, ganggang menggunakan terlarut untukmenghasilkan biomas. Keseimbangan di atmosfer sebagai berikut :
(

Dan keseimbangan ion

antara larutannya dalam air dengan mineral-mineral karbonat padat adalah :


(garam karbonat yang sedikit larut) Hal ini mempunyai pengaruh buffer yang kuat terhadap pH air.

merupakan komponen sangat kecil dari atmosfer kering yang normal, hanya berkisar 0,0314% volume. Dengan demikian air murni atau air yang bebas alkalinitas dalam keseimbangannya dengan atmsfer hanya mengadung rendah. Oleh karena itu, pembentukan dan akan menaikkan kelarutan . Konsentrasi yang tinggi dari ini memberikan pengaruh yang ccukup besar terhadap kehidupan akuatik karena akan menghambat pernafasan dan pertukaran gas terutama bagi hewan perairan, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Kandungan dalam air yang aman tidak boleh melebihi 25mg/l. Dalam perairan alami, gas dihasilkan dari penguraian bahan-bahan organik oleh bakteri. Ganggang yang menggunakan dalam fotosintesis juga menghasilkan melalui proses metabolism tanpa cahaya.

Silikon Dalam Air


Silikon merupakan unsure kedua terbanyak di kerak bumi setelah oksigen yaitu sebesar 27,7%. Hal ini menyebabkan silikon tersebar luas dalam air. Konsentrasi normal dari silikon dalam air berkisar antara 1 sampai 30 mg/l sebagai , meskipun kadang kala mencapai 100mg/l. Suatu fenomena yang menarik adalah air laut di bagian permukaan umumnya konsentrasi silikonnya sangat rendah karena unsur ini digunakan oleh kerang dan pembentukan tulang organisme laut.

Belerang Dalam Air


Secara umum, sebagian besar belerang yang terdapat dalam air adalah S(IV) dalam ion sulfat . Dalam kondisi anaerobis, dapat direduksi oleh aktivitas bakteri menjadi , , atau garam sulfida yang tidak larut. Gas yang dihasilkan dari reduksi sulafat tersebut menyebabkan bau telur busuk yang dikeluarkan oleh banyak air yang tergenang dan air-air tanah. Adanya perbedaan jenis belerang (bilangan oksidasinya) dalam air menggambarkan adanya hubungan antara pH air, potensial oksidasi dan aktivitas bakteri. Sulfat dapat berasal dari hasil pencucian mineral utama gips, , . Oksidasi dari mineralmineral sulfida yang dipengaruhi oleh mikroorganisme, seperti pyrite, menghasilkan sulfat. Garam sulfat digunakan dalam pembuatan deterjen dan dalam banyak hasil industri seperti industry pupuk ZA, maka ion sulfat merupakan komponen yang umum dari air buangan. Air hujan diberbagai belahan dunia mengandung sejumlah besar ion sulfat yang dikenal dengan hujan asam (acid rain). Hal ini disebabkan oleh adanya pencemaran udara yang cukup berat oleh gas yang kemudian mengalami oksidasi di udara sebagai berikut :

2
Adanya mencapai 4.

+2

+2

di atmosfer inilah yang menyebabkan terjadinya hujan asam yang kadang kala pH-nya

Klorida dan Fluorida Dalam Air


Garam-garam klorida dapat menyebabkan penurunan kualitas air yang disebabkan oleh tingginya salinitas. Air ini tidak layak untuk air pengairan dan keperluan rumah tangga. Ion Fluorida jauh lebih penting dalam air daripada ion-ion klorida. Fluor adalah salah satu unsur halogen yang keelektronegatifannya paling tinggi dibandingkan unsur-unsur halogen lainnya. Dalam media asam, ion fluoride membentuk asam hidrofluorat yang mengion :

HF

Harga pKa = 3,13. Oleh karena itu, dalam kisaran pH normal air fluoride lebih banyak terdapat sebagai daripada HF. Garam-garam fluoride dari kation-kation divalent mempunyai kelarutan sedang. Konstanta hasil kali kelarutan dari beberapa garam fluoride seperti pada tabel dibawah ini :

Senyawa

Konstanta Hasil Kali Kelarutan 1,05 x 3,9 x 3,1 x 2,7 x

Beberapa sifat geokimia dan fisiologis ion fluorida berasal dari kenyataan bahwa ion ini mempunyai jari-jari dan muatan yang sama dengan ion . Sebagai konsekuensinya, fuorida dan hidroksida mempunyai tingkah laku yang sama. Oleh karena itu, ion fluorida dapat diganti dengan ion hidroksida dalam mineral-mineral dan dalam bahan mineral dari gigi dan tulang. Dalam kebanyakan air tawar, ion fluorida umumnya terdapat dalam konsentrasi kurang dari 1mg / l. Konsentrasi yang melebihi 10mg / l jarang ditemukan. Fluorida ditambahkan pada banyak air untuk keperluan air minum rumah tangga untuk mencegah kerusakan gigi dengan konsentrasi kurang lebih 1mg / l.

Kalsium dan Magnesium Dalam Air


Kalsium adalah unsur kimia yang memegang peranan penting dalam banyak proses geokimia. Mineral merupakan sumber primer ion kalsium dalam air. Diantara mineral-mineral primer yang berperan penting adalah gips ( .2 ), anhidratnya ( ), dolomite (CaMg.( ), kalsit dan aragonit yang merupakan modifikasi yang berbeda dari . Air yang mengandung kalrbondioksida tinggi mudah melarutkan kalsium dan minera-mineral karbonatnya. Pernafasan mikroorganisme, penghancuran bahan organik dalam air da sediment berperan sangat besar terhadap kadar dan dalam air. Hal ini merupakan faktor penting dalam proses kimia perairan dan geokimia. Ion kalsium, bersama-sama dengan magnesium dan kadang-kadang ion ferro, ikut menyebabkan kesadahan air, baik yang bersifat kesadahan sementara maupun kesadahan tetap. Kesadahan sementara disebabkan oleh adanya ion-ion kalsium dan bikarbonat dalam air dan dapat dihilangkan dengan jalan mendidihkan air tersebut karena terjadi reaksi : +2 + + O

Sedangkan kesadahan tetap disebabkan oleh adanya kalsium atau magnesium sulfat yang proses pelunakannya melalui proses kapur-soda abu, proses zeolit dan proses resin organik. Ion kalsium ( mempunyai kecenderungan relatif kecil untuk membentuk ion kompleks. Dalam kebanyakan sistem perairan air tawar, jenis kalsium yang pertama-tama larut yang ada adalah . Oleh karena itu, pada konsentrasi yang sangat tinggi, pasangan ion dapat terbentuk dalam jumlah yang cukup banyak. Hal yang sama dalam air yang kandungan sulfatnya tinggi pasangan ion dapat terjadi. Densitas muatan ion jauh lebih besar dan ikatan yang lebih kuat dengan air untuk melakukan hidrasi. Magnesium dalam air terutama terdapat sebagai ion . dan . terjadi bila konsentrasi bikarbonat dan sulfat yang tinggi.

Mineral-mineral seperti dolomite adalah sumber magnesium yang paling umum dalam air. Pada umumnya konsentrasi magnesium dalam air tawar lebih kecil dibandingkan kalsium. Dilautan, magnesium dalam bentu larutan lebih lama dari kalsium. Hal ini disebabkan senyawa mengendap lebih lambat dibandingkan senyawa .

Logam Alkali Dalam Air


Natrium umumnya terdapat dakam konsentrasi yang lebih tinggi didalam air tawar dibandingkan dengan kalium. Ion natrium sama dengna iom klorida, bersosiasi dengan salinitas yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan kualitas air yang cukup serius. Kalium dalam perairan alami relatif rendah konsentrasinya dari natrium karena unsur ini tidak mudah dilepaskan dari sumbernya dan unsur ini mudah sekali diadsorpsi oleh mineral-mineral. Jenis sumber alami dari kalium adalah feldspar, esensial dan bergabung kedalam bahan tanaman.

Alumunium Dalam Air


Alumunium merupakan unsur terbanyak ketiga dalam kerak Bumi. Kebanyakan alumunium yang dibawa air terdapat sebagai partikel-partikel mineral mikroskopik yang tersuspensi. Konsentrasi dari alumunium yang terlarut dalam kebanyakan air kemungkinan kurang dari 1,0 mg / l. Pada nilai pH dari 4,0 jenis alumunium yang terlarut adalah Al( dan ion yang terhidrasi kehilangan ion hidrogen pada nilai pH > 4,0. Dalam kisaran pH 4,5-6,5 , terjadi polimerisasi dimulai dengan pembentukan dimmer, yang akhirnya berhenti dengan pembentukan partikel-partikel padat dari gibbsit, ,3 . Alumunium bersifat amfoter dan pada perairan alami dengan pH diatas kurang lebih 10, terbentuk ion aluminat yang larut Al( . Ion fluoride membentuk kompleks yang sangat kuat dengan alumunium dan dengan adanya fluoride dengan konsentrasi tinggi terbentuk jenis kompleks fluoride seperti mungkin akan terbentuk dalam air. Ion Alumunium membentuk endapan dengan silika dan dengan ion ortofosfat.

Besi Dalam Air


Besi adalah salah satu dari unsur-unsur penting dalam air permukaan dan air tanah. Sifat kimia perairan dari besi adalah sifat redoks. Pembentukan kompleks, metabolism oleh mikroorganisme dan pertukaran dari besi antara fasa dan fase padat yang mengandung besi karbonat, hidroksida dan sulfida. Besi(III) sebagai ion berhidrat yang dapat larut ( ) merupakan jenis besi yang terdapat dalam air tanah. Karena air tanah tidak berhubungan dengan oksigend ari atmosfer, konsumsi oksigen bahan organik dalammedia mikroorganisme sehingga menghasilkan keadaan reduksi dalam air tanah. Oleh karena itu, besi dengan biloks rendah (Fe(II)) umum ditemukan dalam air tanah dibandingkan Fe(III). Dalam perairan dengan pH sangat rendah, kedua bentuk ion ferro dan ferri dapat ditemukan. Hal ini terjadi bila perairan memperoleh buangan dari limbah tambang asam (Acid Mine Waters). Limbah yang bersifat yang dihasilkan oleh oksidasi dari oksidasi, Fe ( bijih besi) melalui reaksi berikut :

2Fe (s) + 2

O+7

+4

+2

Dan tahap selanjutnya oksidasi dari ion ferro menjadi ion ferri dalam suatu proses yang

+4

+2

terjadi sangat lambat. Dibawah pH 3.5 oksidasi tersebut dikatalisis oleh bakteri besi (Thiobacillus ferroxidaus). Bakteri lainnya yang terlibat dalam oksidasi besi dengan adanya air tambang asam adalah Thiobacillus thiooxidaus dan Thiobacillus ferrooxidaus. Dengan bantuan bakteri ini, ioin ferri selanjutnya melarutkan pyrit :

Fe (s) + 14

+8

O 15

+2

+ 16

Ion ferro selanjutnya mengalami oksidasi menjadi ion ferri. Peristiwa tersebut merupakan siklus dari pelarutan pyrit. Kerusakan perairan yang disebabkan oleh aliran limbah tambang asam ini diperlihatka dengan penutupan permukaan air oleh suatu lapisan yang sangat tipis dari Fe( yang bersifat semigelatin.

Mangan Dalam Air


Toksisitas Mangan (Mn) relatif sudah tampak pada konsentrasi rendah. Dengan demikian, Mn yang diizinkan dalam air yang digunakan untuk keperluan domestik sangat rendah, yaitu 0,05 mg / l. Dalam kondisi aerob, mangan dalam perairan terdapat dalam bentuk Mn dan pada dasar perairan tereduksi menjadi atau dalam air yang kekurangan oksigen (DO rendah). Oleh karena itu, pemakaian air yang berasal dari dasar suatu sumber air sering ditemukan mangan dalam konsentrasi tinggi. Pada pH yang agak tinggi dan kondisi aerob terbentuk mangan yang tidak larut seperti Mn , atau MnC meskipun oksidasi dari itu berjalan relative lambat.

- SELESAI -