Anda di halaman 1dari 19

Istilah somatoform berasal dari bahasa Yunani soma yang berarti tubuh. (Elvira, dkk. 2010). 1.

Gangguan somatoform didefinisikan sebagai kelompok kelainan dimana: (Goldberg. 2007) a. Gejala fisik yang mengarahkan kepada dugaan gangguan medis namun tidak dapat dibuktikannya patologi atau bukti-bukti yang mendukung penyakit fisik sebagai penyebab gejala b. Adanya dugaan kuat bahwa gejala- gejala tersebut berkaitan dengan faktor psikologis Karakteristiknya berupa: 1. Sekurang-kurangnya terdapat gejala-gejala yang berbeda dan multipel selama 2 tahun tanpa ditemukannya penjelasan fisik yang memadai. 2. Penolakan menetap untuk menerima nasehat atau usaha beberapa dokter yang berbeda untuk meyakinakan bahwa tidak adanya penjelasan fisis terhadap gejala-gejala yang menyertai. Gangguan-gangguan yang termasuk di dalam kategori gangguan somatoform memiliki beberapa ciri umum yang sama : a. Manifestasi stres psikologik menjadi gejala somatik b. Perilaku sakit yang abnormal (abnormal illness behavior) yaitu disebabkan adanya ketidaksesuaian antara pengertian yang ditangkap pasien tentang kondisi sakitnya (perceived illness) dengan penyakit yang dialaminya (documented disease) c. Adanya amplifikasi, yaitu dimana sensasi dari gejala fisik mengakibatkan rasa cemas (anxiety), kemudian rasa cemas dan aktivasi autonomik yang diasosiasikan dengan rasa cemas tersebut mengakibatkan eksaserbasi gejala fisik. d. Penderitaan (distress) yang bermakna dan seringnya angka kunjungan untuk pelayanan medis (Goldberg. 2007). Beberapa tingkat gangguan fungsi keluarga dan sosial yang berhubungan dengan sifat gejala dan perilaku yang ditimbulkan. ICD membagi gangguan somatoform menjadi gangguan gangguan somatisasi, gangguan hipokondrial, dan gangguan menetap. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, fourth edition (DSM-IV) terdapat 7 gangguan di dalam kategori gangguan somatisasi a. Gangguan somatisasi (somatization disorder)

b. Gangguan somatisasi tidak terinci (undifferentiated somatoform disorder) c. Gangguan konversi (conversion disorder) d. Gangguan nyeri (pain disorder) e. Hipokondriasis (hypochondriasis) f. Body Dysmorphic Disorder (BDD) g. Gangguan somatoform yang tidak tergolongkan (somatoform disorder not otherwise specified-NOS).

2. Menurut ICD-10/PPDGJ-III, dibagi menjadi: a. Gangguan somatisasi (F.45.0) b. Gangguan somatoform tidak terinci (F.45.1) c. Gangguan hipokondrik (F 45.2) d. Disfungsi otonomik somatoform (F 45.3) e. Gangguan nyeri somatoform menetap (F 45.4) f. Gangguan somatoform lainnya (F. 45.8)

3. Perbandingan antara DSM-IV-TR dengan ICD-10 DSM IV-TR memasukkan gangguan konversi dan body dysmorphic disorder dalam gangguan somatoform sedangkan ICD-10 tidak. Dalam ICD-10 gangguan konversi dimasukkan ke dalam gangguan disosiatif, dan ICD-10 juga merincikan yang disebut disfungsi otonomik somatoform dan gangguan somatofrom jenis lainnya yang dalam Menurut DSM-IV-TR juga meliputi gangguan konversi, dan gangguan dismorfik tubuh (dismorfobia) (Sadock.2007). 1. Gangguan hipokondrial (hipokondrialis/neurosis hipokondriakal) Gangguan yang ditandai dengan keyakinan menetap akan adanya satu atau lebih penyakit fisik yang lebih serius yang menyebabkan satu atau lebih gejala yang timbul, meskipun pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan (Puri, dkk.2011) . Gambaran khas: a. Gejala-gejala somatik tanpa penjelasan. b. Pengakuan tentang penyakit (meyakini adanya penyakit samar yang sebenarmya tidak ada).

c. Takut akan penyakit d. Preokupasi terhadap tubuh

Epidemiologi Paling sering terjadi antara usia 20 dan 30 tahun. Kejadian ini lebih sering terjadi pada laki-laki, kebalikkannya dengan gangguan somatoform lain yang sering terjadi pada perempuan. Prevalensi sering tidak diketahui, karena keluhan hipokondrial lebih sering terjadi gangguan depresi. Gangguan hipokondrial primer sering terjadi pada orang-orang golongan sosaial rendah, orang muda, lansia, Yahudi, dan mahasiswa kedokteran.

Gambaran klinis Gejala-gejala yang mendukung adanya penyakit, tetapi tidak bagi dokter yang memeriksanya. Penderita yakin bahwa ia menderita penyakit yang serius yang belum terdeteksi dan tidak dapat dibujuk, meskipun telah diyakini bahwa hasil investigatif negatif dan kondisinya ringan. Ketakutan menetap terhadap penyakit.

Etiologi Faktor predisposisi: Penyakit organik pada masa lalu, terutama pada masa kanak-kanak, baik pada diri sendiri atau pada orang lain menjadi predisposisi pada gangguan ini. Faktor prespitasi dan perpetuasi: faktor presipitasi bisanya berupa stress psikososial yang bermakna. Keadaan ini diperlama dengan menetapnya stress tersebut, faktor-faktor psikodinamik yang tidak dapat diselesaikan dan manfaat peran sakit. Diagnosis berdasarkan DSM-IV, kriteria diagnosis hipokondriasis adalah sebagai berikut: a. Preokupasi dengan ketakutan atau ide bahwa seseorang mempunyai penyakit serius berdasarkan interpretasi yang salah terhadap gejala-gejala tubuh b. Preokupasi menetap meskipun telah dilakukan evaluasi medik dan penentraman c. Keyakinan pada kriteria A tidak mempunyai intensitas seperti waham d. Preokupasi menimbulkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau hendaya dlaam bidang sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya e. Lamanya gangguan sekurangnya 6 bulan

f. Preokupasi bukan disebabkan gangguan cemas menyeluruh, gangguan obsesif kompulsif, gangguan panik Diferensial Diagnosis a. Gangguan Medis i. Gangguan reumatologik, endokrinologik, infeksi, neoplasma, neurologik harus disingkirkan sebelum mendapatkan diagnosis hipokondriasis ii. Komorbid yang sering adalah fibromyalgia, irritable bowel syndrome, chronic fatigue syndrome, dan TMJ syndrome

b. Gangguan Psikiatrik i. Gangguan Obsesif-Kompulsif ii. Gangguan Afektif iii. Demensia iv. Skizofrenia v. Gangguan delusional tipe somatik vi. Body Dysmorphic Disorder vii. Malingering viii. Gangguan Somatoform lain

Perjalanan Penyakit Perjalanan penyakit hipokondriasis biasanya episodik, yang durasinya setiap episode berkisar antara bulan-tahun. Dapat terjadi periode tenang di antara episode-episode.

Tatalaksana a. Kesabaran dan reassurance adalah kunci sebab pasien hipokondriasis sering menggunakan sumber daya medis dan menguras waktu dokter b. Psikoterapi i. Psikoterapi psikoanalitik umumnya tidak bermanfaat ii. Terapi Suportif bermanfaat bila didukung hal-hal berikut : a. Ada informasi akurat mengenai gejala

b. Edukasi mengenai mispersepsi dan misinterpretasi gejala dan sensasi somatik c. Kunjungan dan pemeriksaan fisik secara berkala d. Reassurance e. Penggunaan anxiolytic singkat selama periode stress tinggi iii. Terapi Kognitif-Perilaku (CBT) merupakan bentuk psikoterapi pilihan c. Farmakoterapi `Obat golongan SSRI bermanfaat pada pasien dengan hipokondriasis terisolasi (tanpa komorbid psikiatris seperti gangguan cemas atau panik). Fluoxetine atau paroxetine dengan dosis max 60 mg/h dan dapat juga sertraline dosis minimal 150 mg/h.

Prognosis Hipokondriasis cenderung menjadi kronis dengan periode remisi dan eksaserbasi yang dipicu stres. Prognosis yang baik berkaitan dengan status sosial ekonomi yang tinggi, pengobatan terhadap cemas dan depresi yang responsif, onset gejala mendadak, tidak ada gangguan kepribadian, dan tidak ada gangguan medis non-psikiatrik yang terkait. Bila yang menderita hipokondriasis adalah anak-anak maka akan membaik saat remaja atau dewasa awal (Elvira, dkk.2010) 2. Gangguan somatisasi (Goldberg. 2007) Sindrom kronis gejala-gejala somatik tanpa penjelasan medis yang adekuat, yang mengakibatkan distres psikososial, kerusakan, dan pencarian bantuan medis. Gejala sering dimulai pada remaja, dan sering pada perempuan. Penderita mempunyai riwayat medis lama dan rumit, gambaran meliputi: anxietas, depresi, ancaman bunuh diri, penyalahgunaan alkohol dan obatan, perselisihan interpersonal. Etiologi: faktor genetik dan lingkungan kemungkinan berperan, DD: gangguan konversi, depresi, panik, dan skizofrenia. Gangguan somatisasi merepresentasikan bentuk ekstrim dari gangguan

somatoform dimana gejala multipel yang melibatkan berbagai sistem organ tidak dapat dijelaskan secara medis.

Beberapa bentuk kronis dari proses somatisasi tidak dapat memenuhi kriteria gangguan somatisasi, sehingga dimasukkan dalam kategori gangguan somatoform tidak terinci (lihat bab selanjutnya).

Epidemiologi Prevalensi gangguan somatisasi adalah sebagai berikut : a. Prevalensi sepanjang hidup 0,2-2% pada wanita dan 0,2% pada pria. Rasio wanita : pria adalah 5:1. Onset biasanya dimulai saat remaja b. Adanya asosiasi antara sexual abuse dengan gangguan somatisasi. Pada pasien-pasien semacam ini gejala umumnya berupa nyeri pelvik kronik dan gangguan gastrointestinal fungsional

Etiologi a. Faktor Psikososial Penyebab gangguan somatisasi tidak diketahui. Secara psikososial gejala gangguan ini merupakan bentuk komunikasi sosial yang bertujuan untuk menghindari kewajiban, mengekspresikan emosi, atau menyimpulkan perasaan. Pengajaran orang tua, contoh orang tua, dan budaya dapat mengakibatkan pasien terbiasa menggunakan somatisasi. (Elvira, dkk. 2010). b. Faktor Biologis Transmisi genetik yang berperan dalam gangguan somatisasi terjadi pada 10-20% wanita turunan pertama sedangkan saudara laki-lakinya cenderung menjadi penyalahgunaan zat dan gangguan kepribadian antisosial. Pada kembar monozigot transmisi terjadi 29% sedangkan dizigot 10% (Elvira, dkk. 2010).

Presentasi Klinis Pasien yang memiliki gangguan somatisasi datang dengan keluhan somatik yang banyak serta riwayat yang rumit. Bahkan terkadang pasien sudah melakukan pemeriksaan dengan alat-alat canggih. Gejala umum yang dikeluhkan adalah mual, muntah, sulit menelan, sakit pada lengan dan tungkai, nafas pendek, amnesia, komplikasi kehamilan dan menstruasi. Pasien beranggapan ia sakit sepanjang hidupnya. Sering terdapat gejala

neurologik seperti gangguan keseimbangan, merasa ada gumpalan di tenggorokan, afonia, retensi urin, hilang modalitas sensorik raba dan nyeri, buta, bangkitan, hilang kesadaran bukan karena pingsan (Elvira, dkk. 2010). Pasien merasa menderita dan sering mengalami depresi serta kecemasan. Ancaman bunuh diri sering dilaporkan namun angka bunuh diri aktual sangat jarang. Pasien gangguan somatisasi biasanya tampak mandiri, terpusat pada diri, haus penghargaan, serta manipulatif.

Menurut DSM-IV-TR, gangguan somatisasi memiliki kriteria diagnosis sebagai berikut: a. Riwayat gejala fisik yang banyak (atau suatu keyakinan bahwa dirinya sakit) yang mulai sebelum usia 30 tahun, berlangsung selama beberapa tahun, dan mengakibatkan perilaku mencari pertolongan medis (medical seeking behavior) atau hendaya yang bermakna. b. Kombinasi dari gejala-gejala yang tidak terjelaskan, yang terjadi kapanpun selama perjalanan dari gangguan, yang semuanya harus dipenuhi. Gejala-gejala yang dimaksud antara lain: i. 4 gejala nyeri (melibatkan minimal 4 lokasi atau fungsi yang berbeda meliputi kepala dan leher, abdomen, punggung, sendi, ekstremitas, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, dan saat berkemih) ii. 2 gejala gastrointestinal selain nyeri (meliputi mual, kembung, muntah, diare, dan intoleransi makanan) iii. Satu gejala seksual (kehilangan keinginan seksual, disfungsi seksual, mens ireguler, perdarahan mens yang berlebihan, muntah-muntah selama hamil) iv. Satu gejala pseudoneurologik yang bukan nyeri (meliputi gangguan keseimbangan, kelemahan, kesulitan menelan, afonia, retensi urin, halusinasi, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang, disosiasi, dan kehilangan kesadaran) c. Gejala-gejala tersebut bukanlah akibat gangguan kondisi medis, ataupun kalau terdapat gangguan kondisi medis, gejala dan efeknya pada pasien melebihi dari apa yang biasanya dapat disebabkan gangguan kondisi medis tersebut.

d. Gejala-gejala tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat secara sengaja atau berpurapura

Diagnosis Diferensial a. Gangguan medis dengan ciri gejala kronis yang multipel dan samar. Biasanya penyakit-penyakit tersebut masuk dalam golongan infeksi kronis, neoplasma, endokrin, reumatologik, dan neurologik. Macam-macam kemungkinan yang dapat ditemukan (Goldberg. 2007) : i. Penyakit tiroid dan paratiroid ii. Penyakit adrenal iii. Porfiria iv. Multipel Sklerosis v. Lupus Eritematosus Sistemik dan bentuk vaskulitis lainnya vi. Myasthenia gravis vii. Endometriosis viii. Fibromyalgia ix. Gejala awal dari keganasan x. Sifilis xi. Penyakit Lyme xii. Infeksi HIV xiii. Sindroma Temporomandibular xiv. Irritable bowel disease atau Inflammatory bowel disease xv. Sindroma lelah kronik

b. Gangguan Psikiatrik relevan yang mungkin menjadi diagnosa diferensial utama ataupun ko-morbid : i. Schizophrenia dengan waham somatik multipel dan gangguan delusional tipe somatik i. Pada schizophrenia keluhan umumnya bersifat aneh-aneh, serta disertai gejala khas psikotik seperti halusinasi dan gangguan berpikir yang jelas. ii. Pada gangguan delusional tidak terdapat gejala psikotik. Preokupasi somatik yang spesifik ada tanpa gangguan berpikir serta lebih terkesan masuk akal

ii. Gangguan panik : gejala fisik hanya saat episode serangan iii. Malingering : terjadi ketika pasien hendak mendapatkan secondary gain iv. Gangguan Factitius : pasien tidak memiliki motif mendapatkan secondary gain, namun menikmati menjadi orang sakit. Ia mengarang gejala dan riwayat penyakit yang dideritanya v. Depresi kronik vi. Gangguan cemas umum dengan manifestasi somatik multipel vii. Penyalahgunaan zat

Perjalanan Penyakit Perjalanan penyakit gangguan somatisasi bersifat kronik. Diagnosis biasanya ditegakkan sebelum usia 25 tahun, namun gejala awal sudah dimulai saat remaja. Masalah menstruasi merupakan gejala paling dini yang muncul pada wanita. Keluhan seksual sering berkaitan dengan perselisihan dalam perkawinan. Periode keluhan yang ringan 6-9 bulan, sedangkan yang berat 9-12 bulan. Biasanya pasien sudah memulai mencari pertolongan medis sebelum 1 tahun.

Tatalaksana a. Pendekatan untuk tatalaksana gangguan somatisasi harus bersifat realistis dan berfokus pada care dan bukan cure. b. Beberapa poin klinis yang bermanfaat, berdasarkan asumsi bahwa adanya kebutuhan psikologis yang merupakan penyebab mendasar dari gangguan somatisasi: i. Pasien tidak selalu mencari kesembuhan tetapi mungkin menginginkan adanya relasi dengan praktisi ii. Pasien ingin dokter mengakui bahwa dirinya sakit iii. Berikan reassurance (dukungan) secara lambat dan berhati-hati. Pasien seringkali tidak suka dan menolak (resisten) dengan pernyataan-pernyataan bahwa dirinya tidak sakit, bahwa gejalanya bersumber dari emosi/psikis. iv. Hindari dikotomi tubuh-pikiran dalam menginterpretasikan gejala v. Tunjukkan kepedulian pada distress pasien dan tunjukkan keinginan untuk menolong

vi. Hindari penjelasan prematur mengenai hubungan antara gejala fisik dan fenomena psikologis. Lakukan penjelasan secara bertahap yang membuat pasien mengerti dan menganggapnya serius. Hindari saran-saran yang menyatakan bahwa segala masalah terletak dalam kepala pasien vii. Targetkan optimalisasi fungsi 1. Usahakan untuk mengerti sumber stres dan sarana coping, serta tetapkan target untuk perilaku adaptasi yang lebih baik 2. Tanamkan agar pola perilaku dan komunikasi pasien jangan seperti orang sakit terus menerus. Kapan saja bila memungkinkan, bicarakan hal-hal lain dan diskusikanlah selain daripada gejala fisik 3. Ajarkan bahwa adanya relasi erat antara tubuh, otak, dan pikiran dengan menggunakan contoh-contoh sederhana yang bisa diterima pasien (muka memerah bila merasa malu, mulut kering bila berbicara di depan umum, sesak dan jantung berdegup cepat bila cemas, sakit kepala bila tegang) c. Buat jadwal pertemuan terencana, misalnya 1 bulan sekali d. Batasi penggunaan alat diagnostik dan obat-obatan. Beberapa pemeriksaan fisik yang terfokus dan pemeriksaan lab yang kadang-kadang saja sifatnya. Tanda (sign) harus lebih diandalkan daripada gejala (symptoms) e. Terapi kelompok dan terapi kognitif-perilaku dapat bermanfaat f. Belum terdapat psikofarmaka yang efektif untuk mengatasi gejala gangguan somatisasi, dan hanya dianjurkam bila terbukti ada komorbid gangguan psikiatris lainnya.

Prognosis Gangguan somatisasi cenderung bersifat kronis dan berfluktuasi. Remisi total jarang tercapai. Dengan tatalaksana yang tepat maka distress dapat dikurangi namun tidak dapat sama sekali dihilangkan. 3. Gangguan nyeri somatoform atau persisten. Gambarannya berupa nyeri yang menimbulkan distress dan berat yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya dengan proses fisiologis. Terjadi akibat konflik emosional. Nyeri psikogenik murni. Nyeri biasanya krnis sering dihubungkan dengan emosional dan

sensorik yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan. Penyembuhan memerlukan waktu 3 bulan, atau sampai 6 bulan. Sering terjadi pada perempuan, sering terjadi pada usia berapapun. Perjalanan normal sering timbulnya nyeri mendadak dan meningkatkanya keparahan dalam beberapa minggu sampai bulan. Kurang berespon terhadap analgesik,dibanding psikotropik. Nyeri kronis dapat disertai dengan parestesia dan spasme.. Dapat disembuhkan dengan perubahan lingkungan dan psikologis (Elvira, dkk. 2010). Epidemiologi Sekitar 7 juta orang di Amerika mengeluhkan hendaya akibat nyeri pinggang bawah. Gejala nyeri sendiri merupakan gejala paling umum yang akan dijumpai dalam praktek kedokteran. Waspadai keluhan nyeri akibat ketergantungan opioid dan benzodiazepine iatrogenik. Nyeri kronik biasanya dikaitkan dengan gejala depresi berat (25-50%), atau dystimia (60-100%) . Etiologi a. Faktor Psikodinamik i. Bentuk ekspresi konflik intrapsikis secara simbolik melalui tubuh. ii. Pasien dengan aleksitimia tidak mampu perasaannya secara verbal sehingga menggunakan tubuh untuk mengekspresikan diri iii. Beberapa orang menganggap luka emosional sebagai kelemahan sehingga memindahkan (displacing) masalah pada tubuh iv. Bisa juga sebagai bentuk penebusan terhadap rasa berdosa atau bersalah v. Cara untuk mencari cinta b. Faktor perilaku Perilaku nyeri diperkuat ketika pasien dihargai atau dicemaskan dan dihambat ketika pasien diabaikan c. Faktor interpersonal Nyeri yang sulit diobati dapat menjadi sarana untuk memanipulasi hubungan interpersonal, misalnya memastikan kesetiaan pasangan untuk mempertahankan perkawinan yang rapuh d. Faktor Biologis

Defisiensi endorfin dapat menjadi penyebab. Demikian juga pada pasien dengan kelainan struktur limbik dan sensorik, abnormalitas tersebut dapat menjadi faktor predisposisi.

Gambaran klinis Pasien dengan gangguan nyeri akan datang dengan keluhan utama nyeri di berbagai lokasi biasanya nyeri pinggang bawah, nyeri kepala, nyeri fasial atipikial. Pasien umumnya punya riwayat panjang perawatan medis dan pembedahan. Banyak yang mengunjungi beberapa dokter, meminta obat dalam jumlah besar, bahkan mendesak pembedahan.

Kriteria Diagnosis Berdasarkan DSM-IV: a. Nyeri pada satu tempat atau lebih yang menjadi fokus utama dan cukup berat untuk menjadi perhatian klinis b. Nyeri menyebabkan penderitaan klinis bermakna atau hendaya dalam bidang sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya c. Faktor psikologis berperan penting dalam awitan, keparahan, eksaserbasi, atau bertahannya nyeri d. Gejala atau defisit tidak dibuat dengan sengaja atau berpura-pura e. Nyeri tidak dapat dijelaskan sebagai akibat gangguan mood, cemas, atau psikotik, dan tidak memenuhi kriteria dispareunia. Beri kode sebagai berikut : - Gangguan nyeri berasosisasi dengan faktor psikologis : dimana faktor psikologis dinilai mempunya peranan dalam awitan, keparahan, eksaserbasi, atau bertahannya nyeri. Bilamana ada gangguan medis umum hal tersebut dinilai tidak berperan dalam gejala nyeri yang ditimbulkan - Gangguan nyeri berasosiasi baik dengan faktor psikologis maupun kondisi medik umum. Gangguan medis umum yang dimaksud perlu dicantumkan pada Axis III pada bagan diagnosis multiaksial Selanjutnya juga perlu digolongkan apakah berdasarkan perjalanannya gangguan nyeri ini bersifat akut atau kronik, dengan kriteria akut < 6 bulan dan kronik 6 bulan atau lebih.

Diagnosis Diferensial a. Gangguan nyeri berasosiasi dengan kondisi medik umum b. Gangguan somatisasi yang menonjol gejala nyerinya c. Hipokondriasis d. Malingering

Perjalanan Klinis Nyeri muncul secara tiba-tiba dan derajat keparahan meningkat dalam beberapa minggu atau bulan

Tatalaksana a. Kenali dan tangani semua gangguan medis umum yang mungkin berkontribusi terhadap gejala nyeri b. Seperti pada gangguan somatisasi dan hipokondriasis, target tatalaksana bukanlah kesembuhan melainkan perawatan, sebab tidak mungkin menghilangkan nyeri c. Terapis perlu mendiskusikan sejak awal bahwa sumber nyeri pasien adalah psikogenik, menjelaskan berbagai sirkuit dalam otak yang terlibat dengan emosi seperti sistem limbik akan mempengaruhi sensorik. Namun terapis harus memahami bahwa nyeri yang dialami pasien sebagai sesuatu yang nyata d. Klinik nyeri (pain clinic) dengan pendekatan multidisipliner sering bermanfaat, sekaligus menunjukkan pada pasien bahwa penderitaan mereka ditangani secara serius e. Terapi perilaku yang membimbing pasien untuk menerima rasa nyeri dan mengoptimalisasi fungsi mereka walaupun tetap ada rasa nyeri f. Farmakoterapi yang dapat menolong adalah golongan antidepresan trisiklik dan SSRI. Golongan analgetik, sedatif, dan anticemas tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan ketergantungan dan memperparah gejala.

Prognosis Prognosis umumnya kronik dan pada akhirnya menimbulkan penderitaan dan ketidakberdayaan.

4. Gangguan dismorfik tubuh Pasien dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD) mempunyai perasaan subyektif pervasif bahwa penampilannya buruk padahal penampilannya normal atau bahkan baik. Inti dari kelainan ini adalah bahwa pasien berkeyakinan kuat bahwa dirinya tidak menarik atau menjijikkan. Keyakinan ini sulit diredakan dengan pujian atau penentraman. Pasien biasanya mencari ahli kulit, bedah plastik, atau internis (Goldberg.2007). Epidemiologi Penelitian untuk gangguan ini minim karena pasien umumnya tidak ke psikiater. Awitan umumnya 15-30 tahun dan terjadi pada wanita lebih banyak daripada pria. Ada penelitian yang mengatakan bahwa 90% pasien BDD pernah mengalami satu episode depresi berat, 70% mengalami gangguan cemas, dan 30% mengalami gangguan psikotik.

Etiologi Penyebab penyakit ini belum banyak diketahui. Konsep stereotipik dengan keindahan tubuh yang dianut dalam keluarga atau masyarakat berpengaruh besar pada pasien BDD. Menurut teori psikodinamik, BDD disebabkan konflik seksual atau emosional yang dipindahkan ke organ tubuh lain yang tak terkait.

Gambaran klinis Pasien mengeluhkan bagian tubuh tertentu yang paling sering ialah wajah dan hidung, rambut, buah dada, dan genitalia. Ada penelitian menyatakan pasien mengeluhkan 4 bagian tubuh selama penyakit berlangsung. Varian pada pria adalah usaha untuk memperbesar otot-ototnya sampai menganggu kehidupan sehari-hari. Pasien seringkali mempunya kepribadian dengan ciri obsesif-kompulsif, skizoid, dan narsistik (Elvira, dkk. 2010).

Kriteria Diagnosis BDD menurut DSM-IV : a. Preokupasi dengan cacat yang dikhayalkan, kalaupun ada anomali ringan, keprihatinannya sangat berlebihan

b. Preokupasinmya mengakibatkan penderitaan dan hendaya yang bermakna secara klinis di bidang sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya c. Preokupasinya bukan karena gangguan mental lainnya, seperti ketidakpuasan bentuk dan ukuran tubuh pada anoreksia nervosa

Diagnosis Diferensial a. Depresi b. OCD. Memiliki kemiripan secara fenomena maupun neurobiologis dengan BDD. Pasien BDD akan berulangkali melihat tubuhnya di cermin dan memakan waktu berjamjam untuk memikirkan penampilan mereka. c. Anorexia nervosa. d. Transeksualisme e. Skizofrenia dengan delusi somatik f. Gangguan waham, tipe somatik

Perjalanan Klinis Awitan bertahap, dimana kepedulian tehadap bagian tubuh tertentu akan semakin menjadi-jadi sehingga mencari bantuan medis atau operasi untuk mengatasinya. Derajat kepedulian dapat meningkat atau menyusut, tetapi umumnya menjadi kronis bila tidak diobati (Elvira, dkk. 2010).

Tatalaksana a. Tidak ada bukti bahwa bila permintaan bedah plastik dilakukan akan memperbaiki persepsi pasien tentang cacat tubuhnya. Tindakan bedah harus dihindari bila BDD dicurigai b. Terapi kognitif-perilaku paling efektif diantara opsi jenis psikoterapi lain c. Obat yang dipakai untuk gangguan obsesif-kompulsif seperti SSRI dan Clomipramine dapat memberi kelegaan pada pasien BDD

d. Golongan antipsikotik dapat diberi bila muncul gejala psikotik e. Karena BDD sering komorbid dengan depresi, maka dalam kasus-kasus seperti ini pengggunaan antidepresan dapat dibenarkan Okular Malingering (Gandhy. 2012) Okular malingering adalah berpura-pura sakit berkaitan dengan mata atau penglihatan seseorang. Pasien sering berpura-pura buta. Malingering adalah, sengaja menipu dan berpurapura atau melebih-lebihkan gejala penyakit atau cedera untuk manfaat yang diinginkan. Manfaat yang dirasakan mungkin termasuk menghindari pekerjaan, memperoleh obat, mendapatkan hukuman pidana ringan, menghindari sekolah, atau hanya menarik perhatian atau simpati. Malingering dikaitkan dengan beban sosial ekonomi yang berhubungan dengan efek sebagai berikut:

Hilangnya produktivitas dalam industri sebagai akibat dari ketidakhadiran Penurunan dari manfaat asuransi, jaminan sosial swasta dan pemerintah, dan penyandang cacat dan kompensasi pekerja Berkurangnya sistem medis dari sumber daya

Untuk mendiagnosa pasien dengan malingering, seseorang harus memiliki kecurigaan ke arah itu. Kecurigaan ini lebih kuat dalam kasus kasus medicolegal, ditandai perbedaan dalam sejarah seseorang dan temuan okular, dan ketika pasien tidak kooperatif. Pasien okular malingering biasanya orang dewasa muda ( remaja, terutama laki-laki muda) yang memiliki tekanan mental di rumah atau di tempat kerja dan riwayat cedera mata sepele.

PEMERIKSAAN MALINGERING (Gandhy. 2012) Sikap pasien Orang buta berjalan dengan hati-hati untuk menghindari rintangan. Orang yang berpurapura dengan sengaja menabrak hambatan untuk membuktikan dia buta dan akan menghindari kontak mata atau memakai kacamata hitam bahkan ketika ia tidak memiliki keluhan fotofobia.

Refleks Pupil 1. Adanya refleks langsung dan tidak langsung menunjukkan bahwa tidak ada kelainan pada jalur penglihatan. 2. Refleks pupil tidak akurat pada : 1. Kebutaan kortikal dan subkortikal 2. Pada pasien hysteria, midriasis dan miosis berlebihan, serta spasme otot 3. Penggunaan tetes mata midriatic Menace reflex Pergerakan tiba-tiba tangan pemeriksa kearah pasien menimbulkan respon mengedip Menace reflex dapat berkurang pada pasien malingering yang sudah terlatih.

Schmidt-Rimpler test Pasien diminta melihat tangannya yang diletakkan di depan matanya Pasien yang dicurigai berpura-pura buta tidak akan melihat kearah tangannya Pada pasien dengan agnosia, kebutaan tidak dapat dibuktikan dengan pemeriksaan ini.

AGNOSIA Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengorganisasikan informasi sensorik agar bisa mengenal bendabenda / hilangnya daya untuk mengenali arti stimuli sensoris macamnya sesuai indranya. Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengorganisasikan informasi sensorik agar bisa mengenal bendabenda / hilangnya daya untuk mengenali arti stimuli sensoris macamnya sesuai indranya.

Tes telunjuk Pasien diminta menyentuhkan kedua telunjuknya secara horizontal dengan kedua mata tetap terbuka. Pasien dengan riwayat berpura-pura memiliki hasil test yang negatif. Pasien degan kebutaan dapat melakukan test ini kecuali jika disertai agnosia

Tes Tanda Tangan Pasien dengan kebutaan dapat menandatangani namanya tanpa kesulitan, sedangkan

Pasien yang berpura-pura buta akan membuat tanda tangan yang sangat aneh. Tes ini positif palsu pada orang agnosia dengan kebutaan Optokinetic

nystagmus test Ketika drum optokinetic ini digulirkan di depan mata pasien, secara otomatis menyebabkan nystagmus. Tes ini membuka kedok baik histeria dan malingering.

Uji Cermin Dengan kedua mata terbuka, pasien diinstruksikan untuk melihat lurus ke depan ke cermin, dan cermin itu kemudian diputar dan berbalik dari sisi ke sisi. Perkembangan nystagmus atau gerakan nystagm oid dari mata menunjukkan bahwa pasien dapat melihat gambar bergerak di cermin dan dengan demikian tidak buta.

Tes nystagmus dengan rotasi kepala : Kepala secara pasif diputar sekitar 30 derajat ke kedua sisi, adanya nystagmus menunjukkan kebutaan. Jika nistagmus tidak ada, itu berarti ada mekanisme fiksasi.

Electroencephalogram Catatan ritme basal occipital : jika dengan stimulasi cahaya terdapat perubahan ritme, menandakan adanya proses melihat.

Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2010). Gangguan Somatoform. Jakarta: FKUI. Goldberg, R. M. (2007). Practical Guide to the Care of the Psychiatric Patient. Philadelphia: Elsevier Mosby. Maslim, R. (2003). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya. Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2007). Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott William&Wilkins.

Gandhi, Rashmin. (2012). Malingering in Ophtalmology. medscape reference. Puri, B.K., dkk. (2011). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:EGC.