Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

Seperti diketahui oleh masyarakat bahwa setiap pasien yang akan menjalani tindakan invasif, seperti tindakan bedah akan menjalani prosedur anestesi. Anestesi melakukan

sendiri secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh.

Terdapat dua jenis anestesi, yang pertama anestesi total, yaitu hilangnya kesadaran secara total, sedangkan anestesi lokal yaitu hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada sebagian kecil daerah tubuh) dan anestesi regional yaitu jenis anestesi yang hanya melumpuhkan sebagian tubuh manusia tanpa menyebabkan hilangnya kesadaran. Berbagai teknik anestesi telah dikembangkan untuk memfasilitasi tindakan operasi. Akhirakhir ini pemakaian anestesi regional menjadi semakin berkembang dan meluas. Anestesi regional merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memberikan efek analgesia pada pasien baik selama operasi berlangsung maupun setelah operasi. Anestesia regional memiliki beberapa keuntungan yaitu teknik anestesi regional menggunakan jumlah obat-obatan dalam jumlah minim, relatif lebih murah, pengaruh sistemik yang minimal, menghasilkan analgesi yang adekuat, kemampuan mencegah respon stress secara lebih sempurna, selain itu anestesi regional juga dapat mengurangi penggunaan ruang perawatan intensif (ICU )(1,2,3)

BAB II PEMBAHASAN
I. DEFINISI Anestesi regional adalah suatu tindakan untuk member hambatan impuls nyeri suatu bagan tubuh sementara pada impuls saraf sensorik, sehingga impuls nyeri dari satu bagian
tubuh diblokir untuk sementara (reversibel). seluruhnya, tetapi pasien tetap sadar. Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau

II. PEMBAGIAN JENIS-JENIS ANETESI REGIONAL Jenis anestesi regional dibagi menjadi dua, yaitu blok sentral (blok neuroaksial) dan blok perifer (blok saraf). Anestesia sentral (anestesia neuroaksial) yaitu meliputi anestesi spinal, epidural, dan kaudal. Sedangkan anestesia perifer misalnya blok pleksus brachialis, anestesi regional intravena, dan lain-lain.(4) a. Anestesi sentral (anesthesia neuroaksial)(5) Sasaran utama dari blokade neuraksial adalah akar saraf . Anestesi lokal disuntikkan ke CSF (untuk anestesi spinal) atau ruang epidural (anestesi epidural dan kaudal). Injeksi langsung dari anestesi lokal ke dalam CSF untuk anestesi spinal memungkinkan penggunaan dosis dan volume anestesi local yang relatif lebih sedikit untuk mencapai blokade sensorik dan motorik. Sebaliknya, konsentrasi anestesi lokal yang lebih tinggi dibutuhkan untuk anestesi local pada epidural dan kaudal. Selain itu , tempat untuk anestesi epidural harus lebih dekat dengan akar saraf yang akan dianestesi.

Indikasi : - Tindakan operasi abdmen, inguinal, urogenital, dan dubur - Operasi ekstremitas bawah. - Operasi neonatal

Kontraindikasi: ABSOLUT - Infeksi pada tempat suntikan. - Pasien menolak. - Koagulopati atau diatesis - Sepsis. - Pasien tidak kooperatif. - Preexisiting defisit neurologis. - Lesi demielinasi. - Lesi katup jantung. - Deformitas yang berat. tulang belakang RELATIF

perdarahan lainnya. - Hipovolemia yang berat. - Peningkatan intracranial. - Stenosis aorta berat. - Stenosis mitral berat. tekanan

Anatomi (4,5) Tulang punggung (columna vertebralis) terdiri dari 7 vertebra cervical, 12 vertebra torakal, 5 vertebra lumbal. 5 vertebra sacral, 4 vertebra coxygeal yang menyatu.

Columna vertebralis normalnya berbentuk double-C.lengkung thoracal dan lengkung sakrokoksigeal mencekung ke anterior, sedangkan lengkung cervical dan lengkung lumbal mencembung ke anterior. 3

Vertebrae yang khas terdiri dari corpus vertebrae dan arcus vertebrae.Corpus vertebrae adalah bagian ventral yang memberi kekuatan pada columna vertebralis dan menanggung berat tubuh.Sedangkan arcus vertebrae adalah bagian dorsal vertebrae yang terdiri dari pediculus arcus vertebrae dan lamina arcus vertebrae.Pediculus arcus vertebrae adalah taju pendek yang kokoh dan menghubungkan lengkung pada corpus vertebrae.Pediculus arcus vertebrae menjorok ke arah dorsal untuk bertemu dengan dua lempeng tulang yang lebar dan gepeng, yakni lamina arcus vertebrae.Antar tulang vertebrae dihubungkan oleh jaringan fibrokartilagenosa yang disebut discus

intervertebralis.Terdapat pula suatu foramina di antara dua tulang vertebrae yang berdampingan dan disebut foramen intervertebralis.Foramina ini tempat keluarnya akar saraf yang berasal dari kolumna spinalis.

Terdapat processus yang menonjol dari arcus vertebrae.Processus spinosus menonjol dari tempat persatuan kedua lamina (di garis tengah) dan bertumpang di sebelah dorsal pada processus spinosus vertebra di bawahnya.Lalu, dua processus transversus menonjol ke arah dorsolateral dari tempat persatuan pediculus arcus vertebrae dan lamina arcus vertebrae.Processus articularis superior dan inferior juga berpangkal pada tempat persatuan pediculus arcus vertebrae dan lamina arcus vertebrae.

Ujung processus spinosus vertebra lumbal dapat diraba dan seringkali terlihat sewaktu columna vertebralis difleksikan.Garis horizontal yang menghubungkan titiktitik tertinggi pada kedua crista iliaca melalui ujung processus spinosus vertebra lumbalis IV dan discus intervertebralis L4/ L5 merupakan patokan penting untuk pungsi lumbal. Permukaan vertebra berdekatan yang bersendi memperoleh hubungan melalui sebuah discus dan ligamentum.Setiap discus intervertebralis terdiri dari sebuah anulus fibrosus yang teratur konsentris dan mengelilingi nucleus pulposus.Sedangkan ligamentum yang memperkuat persendian yaitu ligamentum longitudinal anterior, ligamentum longitudinal posterior, ligamentum flavum, ligamentum interspinosus (lemah) dan supraspinosus (kuat), dan ligamentum intertransversus. Kanalis spinalis memanjang dari foramen magnum pada cranium sampai ke ligament sarokoksigeal yang merupakan akhir dari kolumna vertebralis.Ada tiga ruangan penting bagi dokter anestesiologi, yaitu ruangan intratekal/ subarachnoid, ruang subdural, dan ruangan epidural.Ruangan epidural mengandung vena epidural, jaringan lemak, dan serat saraf vertebrae.Ruangan subarachnoid berisi medulla spinalis dan cairan serebrospinalis.Ruangan potensial diantara arachnoid dan duramater disebut ruangan subdural. Medulla spinalis terletak di canalis spinalis columna vertebralis dan dibungkus oleh tiga meninges yaitu duramater, arachnoidea mater, dan piamater. Medulla spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinalis di dalam ruang subarachnoid. Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak setinggi L3, tetapi akan bertambah naik ke kranial seiring dengan pertambahan usia. Oleh karena itu, lumbal pungsi dianjurkan untuk dilakukan di kaudal L1 pada dewasa dan kaudal L3 pada anak untuk menghindari trauma medulla spinalis akibat jarum spinal.Sakus duralis, ruang subarachnoid, dan ruang subdural biasanya memanjang sampai S2 pada dewasa dan sering S3 pada anak.Walaupun begitu, anestesia kaudal pada anak tetap berisiko masuknya obat ke ruang subarachnoid dibanding dengan dewasa.

Terdapat 31 pasang saraf spinal yang meninggalkan medulla spinalis melalui foramen intervertebralis di columna vertebralis. Saraf spinal tersebut adalah 8 cervicalis, 12 thoracalis, 5 lumbalis, 5 sacralis, dan 1 cocxygeus. Masing-masing saraf spinal berhubungan dengan medulla spinalis melalui dua buah radix yaitu radix anterior (serabut motorik) dan radix posterior (serabut sensorik). Radix nervus spinalis berjalan dari medulla spinalis ke foramen intervertebralis yang sesuai, kemudian bergabung membentuk nervus spinalis. Di sini serabut motorik bergabung dengan serabut sensorik. Medulla spinalis diperdarahi oleh A. Spinalis anterior dan A. Spinalis posterior. Cairan serebrospinalis merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal dari pleksus choroideus dalam ventrikel III, IV, danlateralis. Cairan ini jernih tak berwarna yang sedikit alkalis, mengisi ruang subarachnoid (antara arachnoidea mater dan pia mater) dengan jumlah total 120-150 ml, sedangkan di daerah vertebra sekitar 25-45 ml. Untuk mencapai cairan serebrospinalis, maka jarum yang disuntik akan menembus kulit, subkutis, ligamen supraspinosus, ligamen interspinosus, ligamen flavum, ruang epidural, duramater, dan ruang subarachnoid. Analgesia Spinal Analegesia spinal adalah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Anestesia spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik local ke dalam ruang subarachnoid. Anestesi spinal menjadi popular karena termasuk teknik yang mudah dilakukan untuk mendapatkan kedalaman dan kecepatan blockade saraf dengan cara memasukkan dosis kecil larutan anestesi local ke dalam ruangan subaraknoid. Keuntungan teknik ini antara lain adalah biaya yang relative murah, pasien tetap sadar, relaksasi otot cukup, perdarahan luka operasi lebih sedikit, resiko aspirasi pasien dengan lamung penuh lebih kecil, efek sistemik relative kecil, analgesia adekuat, pemulihan fungsi saluran cerna lebih cepat, dan kemampuan mencegah respon stress lebih sempurna.(1) Terdapat beberapa indikasi dan kontraindikasi dari anesthesia spinal, yaitu:

INDIKASI Bedah ektremitas bawah Bedah panggul Tindakan sekitar rectum-perineum Bedah obstetric-ginekologi Bedah urologi Bedah abdomen bawah Relatif Absolut -

KONTRAINDIKASI

Pasien menolak Infeksi pada tempat suntikan Hipovolemia berat, syok Koagulopati atau mendapat terapi antikoagulan Tekanan intracranial meninggi Fasilitas resusitasi minim

Infeksi sistemik Kelainan neurologis Kelainan psikis Bedah lama Penyakit jantung Hipovolemia ringan Nyeri punggung kronis

Pada anesthesia spinal juga diperlukan beberapa persiapan seperti: Informed consent, apabila pasien menolak maka kita tidak bisa memaksa pasien untuk menyetujui dilakukan anestesi spinal Pemeriksaan fisik, dilihat apakah ada kelainan anatomis tulang punggun atau ada penyulit-penyulit lain untuk dilakukan anestesi spinal atau tidak. Pemeriksaan laboratorium anjuran, seperti hemoglobin, hematokrit, PT, dan PTT. Persiapan alat, seperti peralatan monitor, peralatan resusitasi/anesthesia umum, jarum spinal. Teknik anetesia spinal(4) Anestesia spinal ini dapat dilakukan dengan posisi duduk atau posisi lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah. Pasien diposisikan dalam keadaan membungkuk maksimal agar prosesus spinosus mudah teraba. Titik yang digunakan untuk tempat 7

penusukan adalah perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka dengan tulang punggung, dan titik ini terdapat pada L4 atau L4-5. Tusukan yang terlalu tinggi, misalnya pada L1-2 akan beresiko trauma medulla spinalis. Setelah lokasi anestesi ditentukan, maka sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alcohol, setelah itu beri anetesi local pada tempat tusukan. Jarum yang digunakan biasanya berukuran 22G, 23G, atau 25G untuk jarum yang besar, sedangkan untuk yang berukuran kecil dapat menggunakan jarum berukuran 27G atau 29G. Untuk jarum yang berukuran kecil dianjurkan untuk menggunakan penuntun jarum. Setelah jarum ditusukkan tepat di ruangan subaraknoid maka akan keluar likuor, setelah itu pasang spuit yang sudah diberi obat anestesi dan masukkan obat tersebut secara perlahan-lahan.

Pada anestesi spinal ini walaupun dikatakan memiliki banyak keuntungan, namun anestesi jenis ini juga memiliki beberapa komplikasi, yaitu:

KOMPLIKASI SAAT TINDAKAN Hipotensi berat Bradikardi Hipoventilasi Trauma pembuluh darah

KOMPLIKASI PASCA TINDAKAN Nyeri di tempat suntikan Nyeri punggung Nyeri kepala karena kebocoran likuor Retensio urin 8

Trauma saraf Mual, muntah Gangguan pendengaran

Meningitis

Analgesia Epidural (4) Anestesia epidural adalah blockade saraf dengan menempatkan obat di ruangan epidural, dimana ruangan ini berada di antara ligamnetum flavum dan duramater. Bagian atasnya berbatasan dengan foramen magnum di dasar tengkorak dan di bawahnya berbatasan dengan selaput sakrokoksigeal. Obat anestesi local di ruang epidural ini berkerja langsung pada akar saraf spinal yang terletak di bagian lateral. Awal kerja anestesi epidural ini lebih lambat dibanding anesthesia spinal, kualitas blockade sensorik dan motoriknya juga lebih lemah dibanding dengan anestesi spinal. Terdapat beberapa indikasi dari anestesi epidural, yaitu: Pembedahan Penanggulangan nyeri pasca bedah Tatalaksana nyeri saat persalinan Penurunan tekanan darah saat pembedahan supaya tidak banyak perdarahan Tambahan pada anesthesia umum ringan karena penyakit tertentu pada pasien.

Teknik anastesi epidural Tusukan jarum epidural biasanya dikerjakan pada ketinggian L3-4, karena jarak antara ligamentum flavum duramtaer pada ketinggian ini adalah yang terlebar.(4) Untuk menentukan ruangan epidural biasanya menggunakan dua teknik, yaitu teknik hilangnya resistensi (loss of resistance) dan teknik tetes tergantung (hanging drop). Hilangnya teknik perlawanan lebih disukai oleh kebanyakan dokter.(5) Untuk teknik hilangnya resitensi digunakan semprit kaca atau plastic rendah resistensi yang diisi oleh udara atau NaCl sebanyak 3 ml. Setelah diberikan anestesi local pada tempat suntukan, jarum epidural dimasukkan sedalam 1 2 cm. Kemudian udara atau NaCl disuntikan secara perlahan-lahan sambil mendorong jarum epidural sampai terasa menembus

keras (ligamentum flavum) yang disusul oelh hilangnya resistensi. Setelah yakin ujung jarum berada dalam ruang epidural, dilakukan uji dosis.(4) Untuk teknik tetes tergantung, persiapan dilakukan sama seperti teknik hilangnya resistensi, tetapi pada teknik ini hanya menggunakan jarum epidural yang diisi NaCl sampai terlihat ada tetes NaCl yang menggantung. Dengan mendorong jarum epidural perlahanlahan secara lembut sampai terasa menembus jaringan keras yang kemudian disusul oleh tersedotnya tetes NaCl ke ruang epidural. Setelah yakin ujung jarum berada dalam ruang epidural, dilakukan uji dosis.(4)

Uji dosis(4) Uji dosis ini dilakukan setelah ujung jarum diyakini berada dalam ruang epidural. Caranya yaitu dengan memasukkan anestetik local 3ml yang sudah bercampur dengan adrenalin 1:200.000. Bila tidak ada efek setelah beberapa menit, kemungkinan besar letak jarum sudah benar. Apabila terjadi blockade spinal, berarti obat masuk ke ruang subarachnoid karena terlalu dalam. Sedangkan apabila terjadi peningkatan laju nadi sebanyak 20 30%, kemungkinan obat masuk ke vena epidural.

10

Setelah dipastikan jarum berada dalam lokasi yang benar, suntikan obat anestesi local secara bertahap setiap 3 5 menit sebanyak 3 5 ml sampai tercapai dosis total. Apabila anestesi epidural ini berhasil, maka dapat dilihat dengan: Perubahan suhu, menunjukkan blok simpatik. Uji tusuk jarum, untuk mengetahui blok sensorik. Perubahan motorik yang dapat dietahui dengan skala Bromage

Melipat lutut Blok tak ada Blok parsial Blok hampir lengkap Blok lengkap ++ + -

Melipat jari ++ ++ + -

Komplikasi yang terjadi karena tindakan anestesi epidural dapat berupa: Depresi kardiovaskular (hipotensi) Hipoventilasi Mual, muntah

Anestesi Kaudal Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan anestesi epidural, karena kanalis kaudalis adalah kepanjangan dari ruang epidural.(4) Anestesi kaudal adalah salah satu teknik regional yang paling umum digunakan pada pasien anak . Hal ini juga dapat digunakan dalam operasi anorektal pada orang dewasa.(5) Pada teknik ini, obat ditempatkan pada ruang kaudal melalui hiatus sakralis. Hiatus sakralis ditutup oleh ligamentum sakrokosigeal. Ruang kaual sendiri berisi saraf sacral, plexus venosus, felum terminale, dan kantong dura.(4) Indikasi dari penggunaan anestesi kaudal yaitu pembedahan sekitar perineum, anorektal misalnya hemoroid, dan fistula perianal. Sedangkan kontraindikasi dan komplikasinya hampir sama dengan anestesi spinal dan epidural.(4)

11

Teknik anestesi kaudal(4) Untuk melakukan anestesi kaudal, pasien diposisikan telungkup dangn simfisis diganjal sehingga tungkai dam kepala lebih rendah dari bokong, atau dapat juga diposisikan lateral dekubitus, terutama untuk wanita yang hamil. Setelah itu siapkan venocath atau abbocath dengan ukuran 20-22G. Kemudian tentukan lokasi penusukan, dengan cara indentifikasi hiatus sakralis dengan menemukan kornu sakralis kanan dan kiri dan spina iliaka superior posterior. Dengan menghubungkan ketiga tonjolan tersebut diperoleh hiatus sakralis. Setelah itu dilakukan tindakan asepsis dan atiseptik pada daerah hiatus sakralis, kemudian tusukan jarum dengan sudut awal 90 terhadap kulit. Setelah dipastikan masuk ke dalam kanalis sakralis, sudut jarum diubah menjadi 45- 60 dan jarum didorong sedalam 1-2 cm. Kemudian suntikan NaCl sebanyak 5ml dengan cepat sambil meraba apakah ada pembengkakan di kulit untuk menguji apakah cairan masuk dengan benar di kanalis kaudalis.

b. Anestesi Perifer Ada berbagai macam jenis anestesi perifer, diantaranya adalah blok pleksus brachialis, anestesi regional intravena. Indikasi(5) Pilihan anestesi ditentukan oleh komorbiditas pasien dan informed consent dari pasien yang mencakup pemahaman semua pilihan yang tersedia dan risiko serta manfaatnya. Pertimbangan penting dalam pembahasan pilihan anestesi meliputi: Kesesuaian teknik untuk jenis operasi. Preferensi dokter bedah. Pengalaman ahli anestesi Keadaan fisiologis dan mental pasien.

Kontraindikasi(5) - Pasien tidak kooperatif. - Diathesis perdarahan. 12

- Infeksi. - Toksisitas anestetik local. - Neuropati perifer Blok plexus brachialis(3,6) Blok regional pleksus brakialis akan member efek pereda nyeri yang baik pada fase preoperative. Pleksus brakialis dapat di blok melalui berbagai pendekatan yang berbeda, yaitu pendekatan aksial, infraklavikula, dan interskalenus. Dalam beberapa tahun terakhir, anestesi pleksus brakialis telah menjadi pilihan dalam pengelolaan operasi ekstremitas atas pada anak-anak. Hal ini khususnya dalam bedah trauma pediatric dimana anestesi umum berbahaya karena resiko tinggi terjadinya aspirasi lambung. Untuk blok plexus brakialis pada anak-anak, yang paling sering dilakukan yaitu dengan memblok dari pleksus aksila karena lebih mudah dilakukan dan lebih aman. Blok Plexus Brakial Aksiller(7) Teknik blokade aksiler adalah blokade pleksus brakialis yang sering dilakukan dan memiliki beberapa keuntungan. Teknik ini mudah dilakukan dengan efek samping lebih rendah bila dibanding dengan teknik blok pleksus brakialis yang lain. Blok aksiler akan menjadi lebih mudah lagi bila dilaukan dengan panduan ultrasonografi karena lokasi nervus yang superficial sehingga keakuratan blok lebih tinggi. Blok aksiler dilakukan terhadap 4 nervus, yaitu nervus medialis, ulnaris, radialis, serta muskulokutaneus. Teknik ini sering digunakan pada operasi lengan bawah dan sering dilakukan dengan metode blind

mengandalkan anatomi arteri aksilaris sebagai penanda. Obat anestesi lokal disuntikkan di sekitar arteri aksilaris dalam jumlah banyak sehingga deposit anestetik akan menggenangi seluruh daerah nervus. Teknik(5,7) Pasien diposisikan terlentang dengan lengan diabduksikan dan siku tertekuk dengn sudut 90 dan dirotasi eksternal pada bahu sehingga lengan tergeletak di kepala pasien. Teknik blok aksiler dapat dilakukan dengan memakai panduan nerve stimulator. Dengan panduan alat ini blok yang dihasilkan menjadi lebih baik lagi dibanding dengan cara blind. Jarum yang 13

digunakan pada teknik blok ini merupakan jarum khusus untuk melakukan stimulasi saraf. Nervus yang menjadi tujuan akan diidentifikasi memakua bantuan jarum stimulasi dan nerve stimulator dengan melihat respon motorik pada tiap nervus yang dituju, lalu anestetik local dimasukkan di sekitar nervus tersebut. Anestesi regional intravena Anestesi regional intravena merupakan teknik yang sederhana dan memiliki resiko yang rendah untuk tindakan operasi pada ekstremitas bagian distal. Namun kelemahan yang dimiliki oleh teknik ini yaitu rasa tidak nyaman akibat pemasangan manset dan onset yang lambat.(8) Teknik(4) Untuk melakukan anestesi regional intravena, yang pertama dilakukan adalah memasang venocath pada kedua punggung tangan. Pada sisi tangan atau lengan yang akan dibedah digunakan untuk memasukkan obat anestesi local, sedangkan sisi yang lain untuk memasukan obat yang diperlukan apabila timbul kegawatan atau diperlukan infuse. Sisi lengan yang akan dibedah dinaikan dan diperas secara manual atau dengan menggunakan bantuan perban elastic (Eshmark bandage) dari distal ke proksimal. Tujuannya untuk mengurangi sirkulasi darah dan dosis obat. Kemudian pasang pengukur tekanan darah pada lengan atas seperti akan mengukur tekanan darah biasa dengan manset ganda dan bagian proksimal dikembangkan dahulu sampai 100 mmHg diatas tekanan sistolik supaya darah arteri tidak masuk ke lengan dan darah vena juga tidak akan ke sistemik. Kemudian suntikkan lidokain atau prilokain 0,5% 0,6 ml/kg melalui venocath yang telah terpasang tadi. Efek analgesi akan muncul dalam waktu 5-15 menit. Apabila pasien merasa tidak nyaman, maka kempiskan manset proksimal dan kembangkan manset distal. Setelah pembedahan selesai, buka manset secara bertahap untuk menghindari keracunan obat.

14

III. OBAT-OBAT ANALGESIA LOKAL Obat analgesia lokal adalah suatu ikatan kimia yang mampu menghambat konduksi saraf perifer apabila obat ini disuntikkan di daerah perjalanan serabut saraf dengan dosis tertentu.(9) Obat analgesia lokal ini mencegah proses terjadinya depolarisasi membrane saraf pada tempat suntikkan tersebut sehingga membrane akson tidak akan dapat beraksi dengan asetilkholin sehingga membran akan tetap dalam keadaan semipermeabel dan tidak terjadi perubahan potensial. Hal ini menyebabkan aliran impuls yang melewati saraf tersebut terhenti, sehingga berbagai rangsangan tidak akan sampai ke susunan saraf pusat.(9) Obat analgesia local ini dibagi berdasarkan ikatan kimia, berdasarkan potensi dan lama kerja atau durasi obat tersebut, berdasarkan berat jenis dan penggunannya.(9) a) Berdasarkan ikatan kimia: Secara kimiawi obat analgesia lok al dibagi dalam dua golongan besar, yaitu ester dan amide. Perbedaan kimia ini direfleksikan dalam perbedaan tempat metabolism, dimana golongan ester terutama di metabolism oleh enxim pseudokolinesterase di plasma, sedangkan golongan amide terutama melalui degradasi enzimatis di hati.(2) Derivat Ester - Derivat asam benzoate, contohnya : kokain. - Derivat asam para amino benzoate, contohnya : prokain dan klorprokain. Derivat Amide, contohnya : lidokain, prilokain, mepivakain, bupivacain, dan etidokain. b) Berdasarkan potensi dan durasi Potensi rendah dan durasi singkat - Prokain : potensi 1 dan durasi 60 90 menit. - Klorprokain : potensi 1 dan durasi 30 60 menit. Potensi dan durasi sedang - Mepivakain : potensi 2 dan durasi 120 140 menit. - Prilokain : potensi 2 dan durasi 120 140 menit. - Lidokain : potensi 2 dan durasi 90 200 menit. Potensi kuat dan durasi panjang - Tetrakain : potensi 8 dan durasi 180 600 menit. 15

- Bupivakain : potensi 8 dan durasi 180 600 menit. - Etidokain : potensi 6 dan durasi 180 600 menit. c) Berdasarkan berat jenis dan penggunaannya Isobarik, digunakan untuk infiltrasi local, blok lapangan, blok saraf, blok fleksus dan blok epidural. Konsentrasi obat: - Prokain : 1 2% - Klorprokain : 1 3% - Lidokain : 1 2% - Mepivikain : 1 2% - Prilokain : 1 3% - Tetrakain : 0,25 0,5% - Bupivikain : 0,25 0,5% - Etidokain : 1 1,5% Hipobarik, digunakan untuk analgesia regional intravena. Konsentrasi obat ini separuh dari konsentrasi isobaric. Hiperbarik, digunakan khusus untuk injeksi intratekal atau blok subarachnoid. Konsentrasi obat ini dibuat lebih tinggi, misalnya lidokain 5% hiperbarik dan bupivacain 0,5% hiperbarik. Dosis dan penggunaan klinik obat analgesia local(9) 1. Prokain Dosisnya tergantung dari cara pemberiannya: - Infiltrasi local : larutan 0,5 1% dengan dosis maksimal 1 gram (200 ml) - Blok saraf : larutan 1% - 2% sebanyak 75 ml. - Blok plexus : larutan 1% sebanyak 30 ml. - Blok epidural : larutan 1% sebanyak 15 50 ml. - Blok subarachnoid : larutan 5% sebanyak 2cc. 2. Lidokain Dosis: 50 750 mg (7 10 mg/kgBB) Penggunaan klinik: 16

- Infiltrasi local : larutan 0,5% - Blok saraf kecil : larutan 1% - Blok saraf besar : larutan 1,5% - Blok epidural : larutan 1,5 2% - Blok subarachnoid : larutan hiperbarik 5% 3. Prilokain Dosis : dosis maksimal 400 mg tanpa adrenalin, sedangkan dengan adrenalin dapat diberikan sampai dosis 600 mg. Penggunaan klinik: - Infiltasi local : larutan 0,5% - Blok pleksus : larutan 2% - 3% - Blok epidural : larutan 2% - 4% - Blok subarachnoid : larutan 5% 4. Bupivakain Dosis : 1 2 mg/kgBB Penggunaan klinik: - Infiltrasi local : larutan 0,25% - Blok saraf kecil : larutan 0,25% - Blok saraf besar : larutan 0,5% - Blok epidural : 0,5% - 0,75% - Blok spinal : 0,5 0,75%

17

BAB III KESIMPULAN


Anestesi regional adalah tindakan menghilangkan rasa sakit sementara pada bagian tubuh tertentu ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Anestesi regional dibagi menjadi dua, yaitu blok sentral (blok neuroaksial) yang meliputi anestesi spinal, epidural, dan kaudal dan blok perifer (blok saraf) yang meliputi blok pleksus brachialis, anestesi regional intravena, dan lain-lain. Untuk melakukan anestesi regional ini, dibutuhkan obat-obatan analgesia lokal. Obatobatan ini bekerja dengan cara menghambat depolarisasi membrane saraf yang menyebabkan aliran impuls yang melewati saraf tersebut terhenti, sehingga berbagai rangsangan tidak akan sampai ke susunan saraf pusat. Obat analgesia lokal ini juga dibagi menjadi berapa golongan, berdasarkan ikatan kimia, berdasarkan potensi dan lama kerja atau durasi obat tersebut, berdasarkan berat jenis dan penggunannya.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Londong JF, Redjeki IS, Wargahadibrata AH. Jurnal Anestesi Perioperatif. In: Perbandingan Efektifitas Anestesi Spinal Menggunakan Bupivakain Isobarik dengan Bupivakain Hiperbarik pada Pasien yang Menjalani Operasi Abdomen Bagian Bawah. Available at: http://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/117/109. Accessed November 9, 2013. 2. Kresnoadi E. Jurnal Kedokteran Unram. In: Penggunaan Anestesi Regional pada Kasus Trauma. Vol 1. 2nd ed. Available at: http://fk.unram.ac.id/wp.content/uploads/2012/02/jurnal-kedokteran-unram-ed-22013.pdf. Accessed November 8, 2013. 3. Samodro R, Sutiyono D, Satoto HH. Jurnal Anestesiologi Indonesia. In: Mekanisme Kerja Obat Anestesi Lokal. Vol 3. Available at:

http://www.janesti.com/journal/view/article/49 . Accessed November 8, 2013. 4. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Analgesia Regional. In: Petunjuk Praktis Anestesiologi. 2nd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2002.p. 105 120. 5. Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ. Chapter 16: Spinal, Epidural, and Caudal Block. In: Clinical Anesthesiology. 4th ed. Stamford: Appleton & Lange; 2005.p. 369 413. 6. Marhofer P. Ultrasound Guidance for Infraclavicular Brachial Plexus Anesthesia in Children. Available at: www.ncbi.nlm.nih.gov/m/pubmed/15200537/related. Accessed November 10, 2013. 7. Prihartono MA, Yadi DF, Praidan E. Jurnal Anestesi Perioperatif. In: Blok Aksilar dengan Panduan Ultrasonografi pada Operasi Debridement Lengan Bawah Pasien Systemic Lupus Eritrematosus, Gagal Ginjal Kronik, Sirosis Hepatis, dan Gagal Jantung. Available at: http://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/download/124/117.

Accessed November 9, 2013.


8. Flood

P.

Personalized

Intravenous

Regional

Anesthesia.

Available

at:

www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2945513/. Accessed November 9, 2013.


9. Mangku G, Senapathi TG. In: Wiryana IM, Sujana IB, Sinardja K, Budiarta IG, editors.

Obat-Obat Analgesia Lokal. 1st ed. Jakarta: Indeks; 2010.p. 70 77.

19

20