Anda di halaman 1dari 17

Struktur Mikroskopis Ginjal Struktur internal ginjal dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:3 1.

Hilus (hilum) adalah tingkat kecekungan tepi medial ginjal. 2. Sinus ginjal adalah rongga berisi lemak yang membuka pada hilus. Sinus ini membentuk perlekatan untuk jalan masuk dan keluar ureter, vena dan arteri renalis, saraf dan limfatik. 3. Pelvis ginjal adalah perluasan ujung proksimal ureter. Ujung ini berlanjut menjadi dua

sampai tiga kaliks mayor, yaitu rongga yang mencapai glandular, bagian penghasil urin pada ginjal. Setiap kaliks mayor bercabang menjadi beberapa (8 sampai 18) kaliks minor. 4. Parenkim ginjal adalah jaringan ginjal yang menyelubungi struktur sinus ginjal. Jaringan ini terbagi menjadi medulla dalam dan korteks luar. a. Medulla terdiri dari massa-massa triangular yang disebut piramida ginjal. Ujung yang sempit

dari setiap piramida, papilla, masuk dengan pas dalam kaliks minor dan ditembus mulut duktus pengumpul urin. b. Korteks tersusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron yang merupakan unit structural dan fungsional ginjal. Korteks terletak di dalam di antara piramida-piramida medulla yang bersebelahan untuk membentuk kolumna ginjal yang terdiri dari tubulus-tubulus pengumpul yang mengalr ke dalam duktus pengumpul. 5. Ginjal terbagi-baghi lagi menjadi lobus ginjal. Setiap lobus terdiri dari satu piramida ginjal, kolumna yang saling berdekatan dan jaringan korteks yang melapisinya. Satu ginjal mengandung 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urin. Setiap nefron memiliki satu komponen vascular (kapilar) dan satu komponen tubular. Nefron terdiri dari: 3 1. Glomerulus adalah gulungan kapilar yang dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda disebut kapsul Bowman. Glomerulus dan kapsul Bowman bersama-sama membentuk sebuah korpuskel ginjal. a. Lapisan visceral kapsul Bowman adalah lapisan internal epithelium. Sel-sel lapisan visceral dimodifikasi menjadi podosit (sel seperti kaki), yaitu sel-sel epitel khusus di sekitar kapilar glomerular. 1) Setiap sel podosit melekat pada permukaan luar kapiler glomerular melalui beberapa

prosesus primer panjang yang mengadung prosesus sekunder yang disebut prosesus kaki atau pedikel (kaki kecil).

2) Pedikel berinterdigitasi (saling mengunci) dengan prosesus yang sama dari podosit tetangga. Ruang sempit antar pedikel-pedikel yang berinterdigitasi disebut filtration slits yang lebarnya sekitar 25 nm. Setiap pori dilapisi selapis membrane tipis yang memungkinkan aliran beberapa molekul dan menahan aliran molekul lainnya. 3) Barier filtrasi glomerular adalah barier jaringan yang memisahkan darah dalam kapilar

glomerular dari ruang dalam kapsul Bowman. Barier ini terdiri dari endothelium kapilar, membrane dasar (lamina basalis) kapilar dan filtration slit. b. Lapisan parietal kapsul Bowman membentuk tepi terluar korpuskel ginjal. 1) Pada kutub vascular, korpuskel ginjal, arteriola aferen masuk ke glomerulus dan arteriol eferen keluar dari glomerulus. 2) Pada kutub urinarius korpuskel ginjal, glomerulus memfiltrasi aliran yang masuk ke tubulus kontortus proksimal. 2. Tubulus kontortus proksimal, panjangnya mencapai 15 mm dan sangat berliku. Pada

permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epithelial kuboid yang kaya akan brush border dan memperluas area permukaan lumen. 3. Ansa Henle Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai desenden ansa Henle yang masuk ke dalam medulla, membentuk lengkungan jepit yang tajam (lekukan) dan membalik ke atas membentuk tungkai asenden ansa Henle. a. Nefron korteks terletak di bagian terluar korteks. Nefron ini memliki lekukan pendek yang

memanjang ke sepertiga bagian atas medulla. b. Nefron jukstamedular terletak di dekat medulla. Nefron ini memiliki lekukan panjang yang menjulur ke dalam piramida medulla. 4. Tubulus kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar 5 mm dan membentuk

segmen terakhir nefron. a. Di sepanjang jalurnya, tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen. Bagian

tubulus yang bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel termodifikasi yang disebut macula densa. Macula densa berfungsi sebagai suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh penurunan ion natrium.

b. Dinding arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa mengandung sel-sel otot polos termodifikasi yang disebut sel jukstaglomerular. Sel ini distimulasi melalui penurunan tekanan darah untuk memproduksi rennin. c. Macula densa, sel jukstaglomerular dan sel mesangium saling bekerja sama untuk

membentuk apparatus jukstaglomerular yang penting dalam pengaturan tekanan darah. 5. Tubulus dan duktus pengumpul Karena setiap tubulus pengumpul berdesenden di korteks, maka tubulus tersebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul membentuk duktus pengumpul besar yang lurus. Duktus pengumpul membentuk tuba yang kebih besar yang mengalirkan urine ke dalam kaliks minos. Kaliks minor bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui kaliks mayor. Dari pelvis ginjal, urin dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung kemih.

Struktur Makroskopis Ginjal Di dalam tubuh kita, terdapat sepasang ginjal yang berbentuk seperti kacang merah.2 Ginjal adalah organ yang berwarna merah tua, panjangnya sekitar 12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm (kurang lebih sebesar kepalan tangan). Berat ginjal seseorang umumnya berkisar 0,5% dari berat badan. 4 Setiap ginjal memlliki berat antara 125 sampai 175 gram pada laki-laki dan 115 sampai 155 gram pada perempuan. Ginjal terletak di area yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan dengan dua pasang iga terakhir. Organ ini merupakan organ retroperitoneal dan terletak di antara otot-otot punggung dan peritoneum rongga abdomen atas. Tiap-tiap ginjal memiliki sebuah kelenjar adrenal di atasnya. Ginjal kanan terletak agak di bawah dibandingkan ginjal kiri karena ada hati pada sisi kanan.3 Ginjal terdiri atas tiga bagian, yaitu:2 1. Kulit ginjal (korteks) 2. Sumsum ginjal (medulla) 3. Ronggga ginjal (pelvis) Pada bagian paling luar, yaitu kulit ginjal (korteks), terdapat alat penyaring darah yang disebut nefron. Dalam setiap ginjal, diperkirakan terdapat sekitar satu juta nefron. Setiap nefron, tersusun oleh badan Malpighi dan saluran panjang (tubulus) yang bergulung. Badan Malpighi tersusun oleh glomerulus dan kapsula Bowman. Glomerulus merupakan anyaman pembuluh kapiler darah

sebagai lanjutan dari arteri ginjal. Kapsula Bowman merupakan bangun seperti mangkuk, yang di dalamnya berkumpul pembuluh darah halus glomerulus. Saluran lanjutan dari kapsula Bowman adalah tubulus.2 Tubulus berupa saluran-saluran panjang bergelung dan dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh kapiler darah. Tubulus yang letaknya dekat dengan badan Malpighi disebut tubulus proksimal, sedangkan tubulus yang letaknya jauh dari badan Malpighi disebut tubulus distal. Tubulus proksimal dan tubulus distal dihubungkan oleh lengkung Henle. Lengkung Henle ini berupa pembuluh menyerupai leher angsa yang turun ke arah medula ginjal kemudian naik kembali menuju korteks ginjal. Bagian akhir dari tubulus distal ginjal adalah saluran pengumpul yang terletak pada sumsum ginjal (medulla).2 Sumsum ginjal merupakan tempat berkumpulnya pembuluh-pembuluh halus dari kapsul Bowman. Pembuluh-pembuluh halus tersebut mengalirkan urin ke saluran yang lebih besar dan bermuara di rongga ginjal (pelvis). Kemudian, urin dialirkan melalui saluran ginjal (ureter) dan ditampung di dalam kantung kencing (kandung kemih). Jika kandung kemih banyak mengandung urin, dinding kandung kemih tertekan sehingga otot melingkar pada pangkal kantung meregang. Akibatnya meregangnya otot melingkar tersebut, timbul rasa ingin buang air kecil. Selanjutnya, urin dikeluarkan melalui saluran kemih (uretra).2 Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat, yaitu:3 a. Fasia renal adalah pembungkus terluar. Pembungkus ini melabuhkan ginjal pada struktur di

sekitarnya dan mempertahankan posisi organ. b. Lemak perirenal adalah jaringan adipose yang terbungkus fasia ginjal. Jaringan ini

membantali ginjal dan membantu organ tetap pada posisinya. c. Kapsul fibrosa adalah membrane halus transparan yang langsung membungkus ginjal dan

dapat dengan mudah dilepas. Suplai darah pada ginjal:3 1. Arteri renalis adalah percabangan aorta abdomen yang mensuplai masing-masing ginjal dan masuk ke hilus melalui cabang anterior dan posterior. 2. Cabang anterior dan posterior arteri renalis membentuk arteri-arteri interlobaris yang

mengalir di antara piramida-piramida ginjal. 3. Arteri arkuata berasal dari arteri interlobaris pada area pertemuan antara korteks dan medulla.

4.

Arteri interlobularis merupakan percabangan arteri arkuata di sudut kanan dan melewati

korteks. 5. Arteriol aferen berasal dari artei interlobularis. Satu arteriol aferen membentuk sekitar 50 kapilar yang membentuk glomerulus. 6. Arteriol eferen meninggalkan setiap glomerulus dan membentuk jaring-jaring kapilar lain, kapilar peritubular yang mengelilingi tubulus proksimal dan distal unutk memberi nutrient pada tubulus tersebut dan mengeluarkan zat-zat yang direabsorbsi. a. Arteriol eferen dari glomerulus nefron korteks memasuki jaring-jaring kapilar peritubular

yang mengelilingi tubulus kontortus distal dan proksimal pada nefron tersebut. b. Arteriol eferen dari glomerulus pada nefron jukstaglomerular memiliki perpanjangan

pembuluh kapilar panjang yang lurus disebut vasa recta yang berdesenden ke dalam piramida medulla. Lekukan vasa recta membentuk lengkungan jepit yang melewati ansa Henle. Lengkungan ini memungkinkan terjadinya pertukaran zat antara ansa Henle dan kapilar serta memegang peranan dalam konsentrasi urin. 7. Kapilar peritubular mengalir ke dalam vena korteks yang kemudian menyatu dan

membentuk vena interlobularis. 8. Vena arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena arkuata bermuara ke dalam

vena interlobaris yang bergabung untuk bermuara ke dalam vena renalis. Vena ini meninggalkan ginjal untuk bersatu dengan vena kava inferior.

Fungsi Ginjal Fungsi utama ginjal adalah mengekskresikan/mensekresikan zat sisa metabolism dan zat-zat lain yang berbahaya terhadap tubuh, sambil mempertahankan konstituen darah yang masih berguna. Selain itu ginjal juga memiliki fungsi endokrin yang penting. Setiap fungsi ginjal dapat diukur sesuai lokasi anatomisnya:3,5 1. Keseimbangan elektrolit Ginjal merupakan pengendali utama kalium, karena di ginjal terjadi sekresi kalium ke dalam cairan tubulus yang ditukar dengan ion natrium dan hidrogen serta proses regulasi pH urin. Pada gagal ginjal tahap lanjut, tubulus distal tidak dapat lagi menukar K+/H+ untuk Na+ tubulus sehingga menyebabkan hiperkalemia yang berat yang dapat memicu henti jantung.

Sebagian besar elektrolit yang dikeluarkan dari kapsula Bowman direabsorpsi dalam tubulus proksimal. Konsentrasi elektrolit yang telah direabsorpsi diatur dalam tubulus distal di bawah pengaruh hormone aldosteron dan ADH. Mekanisme yang membuat elektrolit bergerak menyebrangi membrane tubula adlaah mekanisme aktif dan pasif. Gerakan pasif terjadi apabila ada perbedaan konsentrasi molekul. Molekul bergerak dari area yang berkonsentrasi tinggi ke area yang berkonsentrasi rendah. Gerakan aktif memerlukan energi dan dapat membuat molekul bergerak tanpa memperhatikan tingkat konsentrasi molekul. Dengan gerakan aktif dan pasif ini, ginjal dapat mempertahankan keseimbangan elektrolit yang optimal sehingga menjamin fungsi normal sel. 2. Pemeliharaan keseimbangan asam-basa tubuh Agar sel dapat berfungsi normal, perlu juga dipertahankan pH plasma 7,35 untuk darah vena dan pH 7,45 untuk darah arteria. Keseimbangan ini dapat tercapai dengan mempertahankan rasio darah bikarbonat dan karbon dioksida pada 20:1. Ginjal dan paru-paru bekerja lama untuk mempertahankan rasio ini. Paru-paru bekerja dengan menyesuaikan jumlah karbon dioksida dalam darah. Ginjal mengendalikan ekskresi ion hidrogen, bikarbonat dan ammonium serta memproduksi urin asam atau basa, bergantung pada kebutuhan tubuh. 3. Pengaturan produksi sel darah merah Ginjal mempunyai peranan yang sangat penting dalam produksi eritrosit. Ginjal memproduksi enzim yang disebut faktor eripoietin yang mengaktifkan eritropoietin, hormone yang dihasilakn hepar. Fungsi eritropoietin adalah menstimulasi sumsum tulang untuk memproduksi sel darah, terutama sel darah merah. Tanpa eritropoietin, sumsum tulang pasien penyakit hepar atau ginjal tidak dapat memproduksi sel darah merah. 4. Regulasi kalsium dan fosfor Salah satu fungsi penting ginjal adalah mengatur kalsium serum dan fosfor. Kalsium sangat penting untuk pembentukan tulang, pertumbuhan sel, pembekuan darah, respons hormone, dan aktivitas listrik selular. Ginjal adalah pengatur utama keseimbangan kalsium-fosfor. Ginjal melakukan hal ini dengan mengubah vitamin D dalam usus (dari makanan) ke bentuk yang lebih aktif, yaitu 1,25-dihidrovitamin D3. Ginjal meningkatkan kecepatan konversi vitamin D jika kadar kalsium atau fosforus serum menurun. Vitamin D molekul yang aktif bersama hormone paratitoid dapat meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfor oleh usus. 5. Regulasi tekanan darah

Ginjal mempunyai peranan aktif dalam pengaturan tekanan darah, terutama dengan mengatur volume plasma dan tonus vascular. Volum plasma dipertahankan melalui reabsopsi air dan pengendalian komposisi cairan ekstraseluler. Korteks adrenal mengeluarkan aldosteron. Aldosteron membuat ginjal menahan natrium yang dapat mengakibatkan reabsorpsi air. Modifikasi tonus vascular oleh ginjal dapat juga mengatur tekanan darah. Hal ini dilakukan terutama oleh system rennin-angiotensin aldosteron. Rennin adalah hormone yang dikeluarkan oleh juksta glomeruli dari nefron sebagai respon terhadap berkurangnya natrium, hipoperfusi arteri renal atau stimulasi saraf renal melalui jaras simpatis waktu tekanan darah menurun. Renin adalah komponen penting dalam mekanisme rennin-angiotensin-aldosteron, yang meningkatkan tekanan darah dan retensi air. Renin menstimulasi konversi angiotensinogen (zat yang dikeluarkan hepar) ke angiotensi I. Konversi angiotensin I ke angiotensin II oleh enzim pengubah angiotensin dari paru-paru, menghasilkan vasokontriksi umum yang kuat. Mekanisme ini dapat membuat tekanan darah meningkat. Prostaglandin dan bradikinin merupakan hormone yang dihasilkan ginjal, juga membantu meningkatkan tekanan darh. Kedua hormone ini dikeluarkan sebagai respons terhadap iskemia ginjal, adanya ADH dan angiotensin II serta stimulasi simpatis. 6. Ekskresi sisa metabolic dan toksin Sisa metabolic diekskresikan dalam filtrate glomerular. Kreatinin diekskresikan ke dalam urin tanpa diubah. Sisa yang lain seperti urea, mengalami reabsorpsi waktu melewati nefron. Biasanya, obat dikeluarkan melalui ginjal atau diubah dulu di hepar ke dalam bentuk inaktif, kemudian diekskresikan oleh ginjal. Oleh karena ginjal berperan dalam ekskresi obat, ada obat yang dikontraindikasi apabila fungsi ginjal mengalami gangguan. 7. Kemampuan ginjal mengkonsentrasikan urin Lengkung Henle, melalui mekanisme arus balik (counter current), mempertahankan gradient osmosis yang meningkat dari korteks sampai medulla. Ekskresi air diatur di duktus koligentes, yang berjalan melalui medulla dan permeabilitas terhadap air diatur oleh hormon antidiuretik (ADH). Kemampuan ginjal mengkonsentrasikan urin terganggu pada berbagai penyakit ginjal intrinsic, terutama penyakit tubulointerstisial, serta pada defisiensi atau gangguan fungsional dari ADH (diabetes insipidus). 8. Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah

Ginjal, melalui ekskresi glukosa dan asam amino berlebih, bertanggung jawab atas konsentrasi nutrient dalam darah Mekanisme Kerja Ginjal Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah cairan yang hampir bebas protein dari kapiler glomerulus ke kapsula Bowman. Kebanyakan zat dalam plasma, kecuali protein, difiltrasi secara bebas sehingga konsentrasinya pada filtrat glomerulus dalam kapsula Bowman hampir sama dengan dalam plasma. Ketika cairan yang telah difiltrasi ini meninggalkan kapsula Bowman dan mengalir melewati tubulus, cairan ini mengalami perubahan akibat adanya reabsorpsi air dan zat terlarit spesifik kembali ke dalam darah atau sekresi zat-zat lain dari kapiler peritubulus ke dalam tubulus. Kombinasi khusus dari filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi terjadi pada setiap zat dalam plasma. Kecepatan zat uang diekskresi dalam urin bergantung pada kecepatan relatif ketiga proses dasar ginjal ini. Pada umumnya, dalam pembentukan urin, reabsorpsi tubulus secara kuantitatif lebih penting daripada sekresi tubulus, tetapi sekresi berperan penting dalam menentukan jumlah ion kalium dan hidrogen serta beberapa zat.6 Filtrasi Glomerulus Filtrasi glomerulus adalah proses pergerakan sekitar 20% plasma yang masuk ke kapiler glomerulus menembus kapiler untuk masuk ke ruang interstisium, lalu menuju kapsula Bowman. Pada ginjal yang sehat, sel darah merah atau protein plasma hamper tidak ada yang mengalami filtrasi.7 Proses filtrasi pada glomerulus serupa dengan proses filtrasi pada kapiler. Perbedaannya adalah, di ginjal kapiler glomerulus sangat permeable terhadap air dan zat terlarut berukuran kecil. Tidak seperti kapiler lain, dorongan filtrasi plasma sepanjang kapiler glomerulus ke dalam kapsula Bowman lebih besar dibanding dorongan reabsorpsi cairan kembali ke kapiler. Dengan demikian, terjadi filtrasi neto cairan ke dalam ruang Bowman yang mengalir kemudian berdifusi ke dalam kapsula Bowman serta ke seluruh nefron.7 Di glumerulus, faktor utama yang mendorong filtrasi adalah tekanan kapiler. Di sebagian besar kapiler lainnya, tekanan ini rata-rata berukuran 18 mmHg; di glomerulus, tekanan rata-rata hamper mencapai 60 mmHg. Hal ini disebabkan oleh rendahnya resistensi terhadap aliran yang dibentuk oleh arteriol eferen yang mengaliri glomerulus, dibandingkan arteriol di tempat lain. Dengan demikian, tekanan hidrostatik yang mencapai glomerulus lebih besar. Tekanan cairan

interstisium di ruang Bowman juga lebih besar dibandingkan tekanan diruang interstisium normal.7 Komposisi Filtrat Glomerulus Pembentukan urin dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan melalui kapiler glomerulus ke dalam kapsula Bowman. Seperti kebanyakan kapiler, kapiler glomerulus juga relatif impermeable terhadap protein, sehingga cairan hasil filtrasi (disebut filtrat glomerulus) pada dasarnya bersifat bebas protein dan tidak mengandung elemen selular, termasuk sel darah merah. Konsentrasi isi filtrat glomerulus lainnya, termasuk sebagian besar garam dan molekul organik, serupa dengan konsentrasinya dalam plasma. Pengecualian terhadap keadaan umum ini ialah beberapa zat dengan berat molekul ringan, seperti kalsium dan asam lemak, yang tidak difiltrasi secara bebas karena zat tersebut sebagian terikat pada protein plasma. Hampir setengah dari kalsium plasma dan sebagian besar asam lemak plasma terikat pada protein, dan bagian yang terikat ini tidak difiltrasi daari kapiler glomerulus.6

Laju Filtrasi Glomerulus Laju filtrasi glomerulus didefinisikan sebagai volume filtrate yang masuk ke dalam kapsula Bowman per satuan waktu. GRF relative konstan dan member indikasi kuat mengenai kesehatan ginjal. GFR bergantung pada empat tekanan yang menentukan filtrasi dan reabsorpsi (tekanan kapiler, tekanan cairan interstisium,tekanan osmotikkoloid plasma dan tekanan osmotik koloid cairan inter-stisium). Dengan demikian, setiap perubahan tekanan tersebut dapat mengubah GFR. GFR juga bergantung pada ketersediaan luas permukaan glomerulus untuk filtrasi. Penurunan luas permukaan glomerulus akan menurunkan GFR. Nilai rata-rata GFR pada orang dewasa adalah 180 liter per hari (125 ml per menit). Volume plasma normal adalah sekitar liter (dari volume darah total sebesar 5 liter). Hal ini berarti bahwa plasma di filtrasi oleh ginjal sekitar 60 kali sehari. Selain itu, kenyataan yang luar biasa adalah bahwa dari 180 liter cairan per hari yang difiltrasi ke dalam kapsula Bowman, hanya sekitar 1,5 liter per hari diekskresikan dari tubuh sebagai urine. Sisanya diserap kembali ke dalam daerah di sepanjang kapiler peritubulus.7 Reabsorpsi Tubulus Ginjal Reabsorpsi ginjal adalah proses kedua yang dilakukan oleh ginjal untuk menentukan konsentrasi suatu zat yang difiltrasi dari plasma. Transpor natrium keluar dari nefron dan kembali ke kapiler, dapat bergabung dalam arah yang sama dengan reabsorpsi bahan lain (kotranspor), atau dapat

bergabung dalam arah yang berlawanan dengan bahan lain (kontratranspor). Bahan-bahan yang mengalami kotranspor dengan natrium adalah glukosa, asam amino, dan klorida. Ion hidrogen (H+) mengalami ko-tratranspor dan disekresikan ke dalam urine saat ion natrium direabsorbsi.7 Sebagian besar filtrat (99%) secara selektif direabsorpsi dalam tubulus ginjal melalui difusi pasif gradient kimia atau listrik, transport aktif terhadap gradien tersebut atau difusi terfasilitasi. Sekitar 85% natrium klorida dan air serta semua glukosa dan asam amino pada filtrat glomerulus diabsorpsi dalam tubulus kontortus proksimal, walaupun reabsorpsi berlangsung pada semua bagian nefron.1 Reabsorpsi Klorida Reabsorpsi klorida dapat bersifat aktif atau pasif dan hamper selalu bersamaan dengan transport natrium. Proses ini dipengaruhi oleh gradient listrik di tubulus. Seperti natrium, sebagian besar reabsorpsi klorida (65%) terjadi di tubulus lengkung proksimal, sedikit dilengkung Henle (25%) dan sisanya (10%) di antara tubulus lengkung distal dan system duktus pengumpul.7 Reabsorpsi Kalium Sebagian besar kalium di dalam tubuh terletak di intrasel. Dengan demikian, walaupun kalium plasma difiltrasi secara bebas di glomerulus, konsentrasinya di kapsula Bowman rendah.sebagian besar kalium yang difiltrasi akan direabsorpsi: 50% di tubulus proksimal, 40% di pars asendens tebal dan sisanya 10% di bagian akhir nefron duktus pengumpul di medulla. Sebagian besar reabsorpsi kalium adalah difusi pasif. Kalium juga diekskresikan ke dalam tubulus melalui transport aktif di sel-sel tubulus proksimal, pars desendens lengkung Henle dan duktus pengumpul. Jumlah kalium yang disekresikan bervariasi dan bergantung pada jumlah kalium yang masuk melalui makanan. Individu yang melakukan diet rendah kalium hanya melakukan filtrasi dan reabsorpsi, dan tidak melakukan sekresi kalium. Sekresi kalium oleh duktus pengumpul dirangsang oleh hormone aldosteron yang dikeluarkan oleh korteks adrenal.7 Reabsorpsi Asam Amino Asam amino yang difiltrasi di glomerulus secara aktif direabsorpsi di tubulus proksimal. Semua reabsorpsi asam amino diperantarai oleh pembawa. Tim untuk pembawa berada jauh di atas jumlah asam amino yang difiltrasi secara normal sehingga tidak terdapat dalam urine normal.7 Reabsorpsi Glukosa Glukosa biasanya direabsorpsi seluruhnya dalam bagian awal tubula proksimal. Akan tetapi, pada seorang penyandang diabetes, yang kadar glukosa darahnya bisa jadi sangat tinggi,

mungkin terdapat glukosa dalam jumlah cukup banyak di dalam filtrate awal yang tersisa dalam urin dan dikeluarkan dari tubuh. Fenomena patologis tersebut, dikenal sebagai glukosuria, seringkali merupakan gejala pertama diabetes. Gula dalam urin meningkatkan tekanan osmotic urin, yang menyebabkan tertariknya lebih banyak air ke dalam nefron dan terbentuknya lebih banyak urin. Rasa haus meningkat sebagai respons terhadap hilangnya air tersebut.7 Reabsorpsi Protein Plasma Hanya sedikit sekali protein plasma yang difiltrasi menembus glomerulus. Protein yang difiltrasi akan secara aktif direabsorpsi di tubulus proksimal. Karena GFR sangat tinggi, walaupun hanya sedikit molekul protein plasma, misalnya albumin yang difiltrasi, pengeluaran protein harian akan tinggi apabila tidak dilakukan reabsorpsi. Sebagian kecil protein yang difiltrasi di glomerulus tidak direabsorpsi. Protein tersebut diuraikan oleh sel tubulus dan diekskresikan di urine. Contoh protein tersebut adalah hormone protein,seperti hormon pertumbuhan dan luteinizing hormon, yang keduanya disekresi hipofisis anterior.7

Reabsorpsi Urea Urea dibentuk di hati sebagai suatu produk akhir metabolisme protein. Urea difiltrasi secara bebas di glomerulus. Karena sangat permaebel menembus sebagian besar (tetapi tidak semua) nefron, urea berdifusi kembali ke kapiler peritubulus. Urea mengikuti air sewaktu air direabsorpsi dari filtrate urine yang bergerak menembus nefron. Di ujung tubulus proksimal, sekitar 50% urea yang difiltrasi telah direabsorpsi. Dari ujung tubulus proksimal ke duktus mengumpul dimedula, tubulus proksimal bersifat tidak permaebel terhadap urea. Di sepanjang rute ini, beberapa bagian tubulus mulai mensekresikan urea ke dalam filtrat. Dengan demikian, pada saat filtrat mencapai duktus pengumpul di medulla, konsentrasi urea telah kembali mencapai konsentrasi seperti di filtrat glomerulus. Di duktus pengumpul di medula, urea kembali menjadi permaebel dan kembali mengikuti reabsorpsi air ke luar tubulus. Sewaktu filtrat meninggalkan ginjal, sekitar 40% urea yang semula difiltrasi menetap dalam filtrate dan diekskresikan. Harus ditekankan bahwa reabsorpsi urea bergantung pada reabsorpsi air. Apabila reabsorpsi air rendah maka semakin banyak urea yang diekskresikan dan demikian sebaliknya.7 Reabsorpsi Bikarbonat Reabsorpsi bikarbonat adlah suatu proses aktif yang terjadi terutama di tubulus proksimal (dan, dengan tingkat yang lebih rendah di duktus pengumpul). Reabsorpsi berlangsung sewaktu sebuah

molekul air terurai di sel tubulus proksimal menajdi sebuah H+ dan sebuah molekul hidroksil (OH). H+ secara aktif disekresikan ke dalam lumen tubulus dan bergabung dengan molekul bikarbonat yang telah difiltrasi di glomerulus. Hidrogen ditambah bikarbonat akan menghasilkan asam karbonat yang dengan adanya enzim karbonat anhidrase, terurai menjadi karbon dioksida dan air. Keduanya berdifusi kembali ke dalam sel tubulus proksimal untuk digunakan kembali sewaktu siklus tersebut berulang. Melalui proses ini, bikarbonat yang telah difiltrasi disimpan dan tidak jadi diekskresikan melalui urin. Reaksi hydrogen dengan bikarbonar bersifat reversible. OH- yang dihasilkan di sel tubulus proksimal berikatan dengan molekul karbon dioksida intrasel. Dengan adanya enzim karbonat anhidrase, molekul tersebut juga bereaksi menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat ini juga kembali ke dalam kapiler peritubulus.7

Reabsorpsi Natrium Sesudah usia 1 tahun, tubulus mempunyai kapasitas reabsorpsi menurunkan kadar natrium urin sampai 1 mEq/L. sekitar 65% natrium yang terfiltrasi secara isotonis direabsorbsi di tubulus proksimal. Glukosa dan asam amino juga direabsopsi di tubulus proksimal bersama dengan pengangkutan natrium. Tambahan 25% natrium yang terfiltrasi direabsorpsi dari lengan asendens langkungan Henle bersama dengan pengangkutan klorida secara aktif. Sisa reabsopsi natrium disempurnakan pada tubulus distal dan duktus kolektivus, sebagian ditengahi oleh aldosteron. Ekskresi natrium sangat terkait dengan volum cairan ekstraseluler dan dapat dimodifikasi oleh faktor-faktor yang mengatur volum cairasn ekstraseluler.8 Reabsorpsi Kalsium Sekitar 98% kalsium yang terfiltrasi diabsorpsi lagi oleh tubulus. Reabsorpsi tubulus proksimal (65% dari beban yang terfiltrasi) dikaitkan dengan reabsorpsi natrium. Reabsorpsi kalsium diperbesar oleh hormone paratiroid, diuretic tiazid dan pengurangan volume cairan ekstraseluler. Ekskresi kalsium ditingkatkan oleh infuse garam fisiologis dan furosemid.8 Reabsorpsi Fosfat Sebagian besar fosfat yang terfiltrasi diabsorpsi lagi di tubulus proksimal. Reabsorpsi dihambat oleh hormone paratiroid.8 Reabsorpsi Magnesium

Sekitar 25% magnesium yang terfiltrasi diabsorpsi lagi dalam tubulus proksimal; tempat utama reabsorpsi magnesium dan penengah (moderator) utama ekskresi magnesium adalah lengan asendens Henle yang tebal.8 Sekresi Tubular Mekanisme sekresi tubular adalah proses aktif yang memindahkan zat keluar dari darah dalam kapilar peritubular melewati sel-sel tubular menuju caian tubular untuk dikeluarkan dalam urine. Sekresi tubulus meliputi:1 1. Zat-zat seperti ion hidrogen, kalium dan ammonium, produk akhir metabolic kreatinin dan asam hipurat serta obat-obatan tertentu (penisilin) secara aktif disekresi ke dalam tubulus. 2. Ion hidrogen dan ammonium diganti dengan ion natrium dalam tubulus kontortus distal dan tubulus pengumpul. Sekresi tubular yang selektif terhadap ion hidrogen dan ammonium membantu dalam pengaturan pH plasma dan keseimbangan asam basa cairan tubuh. 3. Sekresi tubular merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat-zat kimia asing atau tidak diinginkan. Sekresi dan Ekskresi Asam Ginjal mensekresikan dan mengekskresikan H+ ke dalam urin sehingga ginjal dapat membersihkan darah dari asam-asam yang tidak mudah menguap yang diproduksi secara metabolic. Ekskresi H+ terjadi setelah sebagian besar bikarbonat yang difiltrasi mengalami reabsorpsi. Pada keadaan ini, H+ yang dihasilkan di sel tubulus proksimal dari penguraian air berpindah ke lumen tubulus dan berikatan dengan ion-ion fosfat yang difiltrasi (atau dengan tingkatan yang lebih rendah dengan ion sulfat) dan keluar melalui urin. Efek ekskresi hidrogen yang terikat ke fosfat tidak hanya menyebabkan pengeluaran asam melalui urine, tetapi juga terjadi penambahan neto bikarbonat. Hal ini terjadi karena ion bikarbonat tetap diproduksi di tubulus proksimal sewaktu karbon dioksida berikatan dengan OH-. Bikarbonat ini dikembalikan ke plasma.7 Mekanisme kedua yang digunakan oleh ginjal untuk mengekskresikan asam adalah dengan sekresi aktif ion ammonium ke dalam cairan tubulus. Ion ammonium dihasilkan oleh sel tubulus proksimal sebagai hasil dari metabolism glutamine. Glutamine masuk ke dalam sel dari kapiler peritubulus dan lumen tubulus setelah difiltrasi di glomerulus. Setelah berada di dalam tubulus, ion ammonium tidak dapat kembali ke dalam sel-sel tubulus proksimal sehingga diekskresikan melalui urin. Bikarbonat yang dihasilkan dari metabolism glutamine berdifusi kembali ke dalam

kapiler peritubulus sehingga mengembalikan basa ke darah. Akhirnya, sejumlah kecil ion hidrogen diekskresikan secara bebas dalam urin menyebabkan urin normal memiliki pH asam.7

Sekresi Bikarbonat Di bawah kondisi alkalosis, ginjal dapat mensekresikan bikarbonat sehingga basa plasma berkurang dan pH kembali ke tingkat normal. Sekresi bikarbonat adalah suatu proses aktif yang terjadi di duktus pengumpul di korteks. Namun, bahkan pada keadaan alkalosis, reabsorpsi bikarbonat di tubulus proksimal terus berlangsung dan tetap penting. Hilangnya semua bikarbonat yang difiltrasi dapat menyebabkan kematian.7

Tes Fungsi Ginjal Kemampuan ginjal menyaring darar dinilai dengan penghitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) atau dikenal sebagai glomerular filtration rate (GFR). Bila nilai LFG-nya 90, fungsi ginjal masih dikategorikan 90% baik, dianggap masuk dalam criteria kondisi normal. Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin dan kadar nitrogen urea (blood urea nitrogen/ BUN) di dalam darah.9 Kreatinin Clearance Kreatinin merupakan protein produk sisa (buangan) dari perombakan keratin fosfat yang dibentuk oleh metabolism otot dan dibuang dari dalam tubuh melalui ginjal. Berhubung kreatinin dilepaskan pada kecepatan tetap (bergantung dengan masa otot), kadar kreatinin serum menjadi indicator fungsi ginjal yang cukup akurat. Kadar kreatinin akan meningkat untuk sementara waktu sebagai akibat terjadinya cedera otot.10 Bila fungsi ginjal menurun, kadar kreatinin di dalam darah akan meningkat. Kadar kreatinin normal dalam plasma darah adalah 0,6-1,2 mg/dL. LFG dihitung dari jumlah kadar kreatinin yang menunjukan kemampuan fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1,73m2.9 Kemampuan ginjal membuang cairan berlebih sebagai urin dihitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu, dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut selama 24

jam, yang disebut dengan Ccrea (creatinine clearance). Ccrea normal untuk pria adalah 95-145 ml/menit dan wanita 75-115 ml/menit. Untuk tes ini menggunakan urin 24 jam yang telah diawetkan dengan HCl 6M atau asam borat.9 Tujuan pemeriksaan ini adalah memberikan nilai rata-rata kecepatan filtrasi glomerulus, mengukur volume darah dengan kreatinin yang telah dibersihkan dalam waktu 1 menit merupakan indicator yang peka untuk penyakit ginjal dini, berguna dalam mengikuti kemjuan status ginjal pasien.11 BUN (Blood Urea Nitrogen) Pengukuran jumlah nitrogen urea dalam darah dan pengukuran fungsi ginjal. Urea merupakan unsur utama yang dihasilkan dari proses penguraian protein dan senyawa kimia lain yang mengandung nitrogen.10 Salah satu tugas penting ginjal adalah mengeliminasi zat yang berpotensi toksik ini dari tubuh. Pada penurunan fungsi ginjal, kadar nitrogen urea darah meningkat dengan demikian, pengukuran BUN memberikan petunjuk mengenai keadaan kesehatan ginjal. BUN merupakan indeks kapasitas urine.12 BUN tidak hanya ditentukan oleh fungsi ginjal. BUN juga dapat dipengaruhi oleh keadaan yang tidak berkaitan dengan ginjal, misalnya peningkatan atau penurunan asupan protein dalam makanan, atau setiap peningkatan penguraian protein yang tidak lazim misalnya cedera otot. Demikian juga penyakit hati juga dapat menurunkan BUN karena kurangnya pembentukan urea karena penurunan fungsi hati. BUN merupakan indicator yang kurang tepat dalam pemeriksaan ginjal karena mudah dipengaruhi oleh factor lain, dengan demikian yang sering dilaporkan adalah rasio BUN dengan kreatinin. Normalnya adalah 10:1, jika rasionya lebih besar dari 15:1 mengisyaratkan peningkatan urea yang disebabkan oleh factor di luar ginjal. Rasio yang dibawah 10:1 terjadi pada gangguan fungsi hati.12 Tes Kemampuan Pemekatan Ginjal Jenis tesnya adalah berat jenis osmolalitas urine. Tujuan pemeriksaan ini adalah memeriksa kemampuan untuk memekatkan cairan dalam urin. Kemampuan pemekatan mengalami gangguan dini pada penyakit ginjal. Oleh karena itu, pemeriksaan ini akan memperlihatkan gangguan dini fungsi ginjal. Pemberian cairan dapat dihentikan selama 12-14 jam untuk mengkaji kemampuan pemekatan pada tubulus dalam keadaan terkendali. Pengukuran berat jenis urin dilakukan pada waktu yang ditentukan untuk pemekatan urin.11 Penutup

Sistem perkemihan (urinaria) terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Dalam setiap ginjal, diperkirakan terdapat sekitar satu juta nefron. Setiap nefron, tersusun oleh badan Malpighi dan tubulus. Ginjal merupakan alat ekskresi yang menghasilkan urin. Urin mengandung zat-zat racun dan zat sisa hasil metabolisme atau zat yang tidak berguna bagi tubuh. Mekanisme pembentukan urin oleh ginjal berlangsung dalam tiga tahap yaitu filtrasi, reabsorpsi dan sekresi. Ginjal juga berperan dalam mengatur keseimbangan air untuk mempertahankan cairan ekstraseluler dengan mengeluarkan air dalam tubuh bila jumlahnya berlebihan. Hal ini merupakan fungsi ginjal dalam osmoregulasi. Selain itu, ginjal berperan penting

dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa, metabolisme vitamin D, berfungsi endokrin yaitu membebaskan eritropoietin (bekerja pada sumsum tulang untuk merangsang produksi erotrosit) dan rennin (penting untuk mengatur tekanan darah). Ada beberapa tes pemeriksaan ginjal, antara lain: BUN (Blood Urea Nitrogen), kreatinin clearance, dan tes kemampuan pemekatan ginjal. Daftar Pustaka 1. Widyastuti P, penyunting. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC, 2003.h.31821. 2. Wijaya A, Suryatin B, Salirawati D. IPA terpadu untuk sekolah menengah pertama dan MTS kelas IX. Jakarta: Grasindo, 2009.h.3-6. 3. Hartanto H, penyunting. Buku ajar histologi. Edisi ke-12. Jakarta: EGC, 2002.h.650. 4. Abdullah EM, Saktiyono, Lutfi. IPA terpadu SMP dan MTs untuk kelas IX semester 1.

Jakarta: Erlangga, 2007.h.2-4. 5. Safitri A, penyunting. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga, 2006.h.234-5. 6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-11. Jakarta: EGC, 2006. h.3317. 7. Yudha EK, Wahyunigsih E, Yulianti D, Karyuni PE, penyunting. Buku saku patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: EGC, 2009.h.685-98. 8. Wahab S, penyunting. Ilmu kesehatan anak nelson. Edisi ke-15. Jakarta: EGC,2009.h.1832. 9. Alam S, Hadibroto I. Gagal ginjal. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.h.24. 10. Aini N, Kurniati W, penyunting. Being beautiful: sehat dan cantik luar dalam. Bandung: Mizan Pustaka, 2010.h.525.

11. Aziz MF, Witjaksono J, Rasjidi IR. Panduan pelayanan medik: model interdisiplin penatalaksanaan kanker serviks dengan gangguan ginjal. Jakarta: EGC, 2008.h.47-9. 12. Sukandar E. Nefrologi klinik. Edisi ke-3. Bandung: Pusat Informasi Ilmiah Bagian Ilmu Penyakit Alam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, 2006.h.11-6. Saat