Anda di halaman 1dari 16

Pengaruh Peer Counseling terhadap Perilaku Personal Hygiene Alat Reproduksi Remaja Putri dalam Pencegahan Kanker Serviks

di SMP X

Oleh : Ayu Ervyna ovita Sari !""#!"$"$!

PRO%RAM S&'() )*M' KEPERA+A&A ,AK'*&AS KE(OK&ERA ' )-ERS)&AS '(A.A A #"!/

0A0 ) !1 *atar 0elakang Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis, dan perubahan sosial. Kehidupan remaja adalah kehidupan yang sangat menentukan bagi kehidupan masa depan mereka selanjutnya. Remaja Indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan kerentanan terhadap berbagai ancaman risiko kesehatan terutama yang berkaitan dengan kesehatan seksual dan reproduksi (Rahmayanti, 2 !2". #erdasarkan $ur%ei &emogra'i Kesehatan Indonesia (2 (", berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja mempunyai permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialami remaja. Masalah yang menonjol dikalangan remaja yaitu permasalahan seputar kesehatan reproduksi remaja, yakni seksualitas, )I*+,I&$ serta -ap.a, dikarenakan rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja (#KK#-, 2 !2". Menurut $ensus /enduduk tahun 2 ! , jumlah remaja umur ! -20 tahun sangat besar yaitu sekitar 10 juta atau 2(,12 dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 23(,1 juta jiwa. Melihat jumlahnya yang sangat besar, maka remaja sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan menjadi manusia yang sehat secara jasmani, rohani, mental dan spiritual (#KK#-, 2 !2". Remaja sehat menjadi aset bangsa yang sangat berharga bagi kelangsungan pembangunan dimasa mendatang. Menurut 4)5 dalam &epkes RI (2 6" kelompok remaja yaitu penduduk dalam rentang usia ! -!6 tahun, di Indonesia memiliki proporsi kurang lebih !+7 dari jumlah seluruh penduduk. Ini sesuai dengan proporsi remaja di dunia dimana jumlah remaja diperkirakan !,2 miliar atau sekitar !+7 dari jumlah penduduk dunia. &engan demikian status kesehatan remaja merupakan hal yang perlu dipelihara dan ditingkatkan agar dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, tangguh, dan produkti' serta mampu bersaing (,stiti, 2 !!". $alah satu pilar pembangunan kesehatan nasional adalah paradigma sehat. &alam perwujudan paradigma sehat yang diutamakan adalah upaya pencegahan penyakit (pre%enti'" dan peningkatan kesehatan (promoti'" tanpa mengabaikan upaya pengobatan (kurati'" dan pemulihan kesehatan ()erijulianti, 2 2". Menurut 88 Kesehatan -o 23 tahun !662, sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produkti' secara sosial dan ekonomis. Menurut World Health Organization (4)5", sehat adalah keadaan sejahtera secara 'isik, mental, dan sosial bukan hanya sekedar tidak adanya

penyakit maupun cacat. $ehingga dapat disimpulkan bahwa sehat adalah suatu keadaan 'isik, mental, dan sosial yang terbebas dari suatu penyakit sehingga seseorang dapat melakukan akti%itas secara optimal. &alam hal ini, sehat secara 'isik termasuk kesehatan reproduksi, dimana dalam kebijakan nasional kesehatan reproduksi di Indonesia ditetapkan atas empat komponen, antara lain9 kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana (K#", kesehatan reproduksi remaja, pencegahan dan penanganan penyakit menular termasuk )I*+,I&$. In'ormasi tentang kesehatan reproduksi penting untuk disebarluaskan. :erutama in'eksi saluran reproduksi karena perempuan lebih mudah terkena in'eksi saluran reproduksi dibandingkan dengan pria. /ada perempuan saluran reproduksi mempunyai dampak buruk ke masa depan seperti kemadulan, kanker leher rahim, kehamilan diluar kandungan dan kelainan pada janin+bayi (&epkes RI, 2 !". In'eksi alat reproduksi wanita ditularkan melalui 3 cara 9 pertama, in'eksi yang disebabkan oleh penyakit menular seksual. Kedua adalah in'eksi endogen yaitu in'eksi dari dalam alat reproduksi, karena pertumbuhan kuman yang berlebihan ada dalam alat reproduksi, seperti bakteri dan kandida (jamur". Ketiga, adalah in'eksi iatrogenic yaitu in'eksi yang terjadi karena kesalahan penanganan yang dilakukan terhadap alat reproduksi oleh petugas kesehatan (&epkes RI, 2 !". $alah satu hal yang harus dipersiapkan terhadap proses reproduksi adalah tentang personal hygiene sehingga tidak beresiko terjadinya in'eksi khususnya in'eksi saluran kemih (I$K". /ada tahun !666, insiden I$K di inggris mengatakan kejadian I$K pada wanita 3-0 kali dibandingkan laki-laki. $alah satu 'aktor penyebabnya adalah karena uretra wanita lebih pendek dari pada laki-laki. (Rahayu, 2 !!" M,$,;,) K<$/R5 #erdasarkan data Riskesdas tahun 2 ! , persentase remaja usia ! -20 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan penyuluhan kesehatan reproduksi sebesar 27,! 2, sebanyak (0,62 remaja yang belum mendapatkan pendidikan kesehatan mengenai kesehatan reproduksinya. $edangkan di /ro%insi #ali, sebanyak 71,6 2 remaja yang belum mendapatkan penyuluhan mengenai kesehatan reproduksi. $ehingga dapat disimpulkan, bahwa lebih dari 7 2 remaja masih kurang mendapatkan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi. $ementara, persentase remaja yang belum mendapatkan penyuluhan kesehatan reproduksi berdasarkan karakteristik kelompok umur didapatkan bahwa, remaja usia ! -!0 tahun sebanyak =1,3 2 yang belum mendapatkan penyuluhan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi, usia !7-!6 tahun sebanyak 17,= 2, dan usia 2 -20 tahun sebanyak 16,1 2. (Riskesdas, 2 ! ". /endidikan tentang kesehatan reproduksi merupakan masalah penting yang perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak. /ada masa remaja, pertumbuhan 'isik

dan seksualnya mulai berkembang dengan pesat. Remaja yang akan menikah dan menjadi orang tua sebaiknya mempunyai kesehatan reproduksi yang prima, sehingga menghasilkan generasi yang sehat. &i lingkungan masyarakat, baik orang tua ataupun remaja itu sendiri harus lebih terbuka tentang masalah kesehatan terutama kesehatan reproduksi (Ririn,dkk, 2 !!". $alah satu komplikasi dari masalah kesehatan reproduksi adalah kanker ser%iks. Kanker ser%iks atau kanker leher rahim adalah penyakit yang banyak menyerang wanita. Kanker ser%iks adalah keganasan yang terjadi pada ser%iks (leher rahim" yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama atau %agina (&epkes RI, 2 1". /enyakit ini berawal dari in'eksi %irus yang merangsang perubahan perilaku sel epitel ser%iks. Insidensi dan mortalitas kanker ser%iks di dunia menempati urutan kedua setelah kanker payudara. $ementara di negara berkembang masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker pada wanita usia reprodukti'. )ampir = 2 kasus berada di negara berkembang (,.i. et al., 2 1". In'eksi Human Paviloma Virus ()/*" dapat terjadi saat hubungan seksual pertama, biasanya pada masa awal remaja dan dewasa. /re%alensi tertinggi (sekitar 2 2" ditemukan pada wanita usia kurang dari 27 tahun. /ada wanita usia 27-77 tahun dan masih akti' berhubungan seksual berisiko terkena kanker ser%iks sekitar 7-! persen (#arr, 2 (". $elain disebabkan oleh )/*, kanker ser%iks juga dapat timbul karena personal hygiene (kebersihan diri" yang kurang baik. &i antara semua jenis personal hygiene, genetalia merupakan organ reproduksi wanita yang harus dijaga kebersihannya, karena dapat menimbulkan keputihan, gatal-gatal, bau tidak sedap dan dapat terjadi in'eksi yang memicu terjadinya kanker ser%iks (>ayasan Kanker Indonesia, 2 !2". Menurut International Union Against Cancer +8I?? (2 6", dewasa ini insiden kanker sebagai salah satu jenis penyakit tidak menular semakin meningkat. Menurut 4)5 jumlah penderita kanker di dunia setiap tahun bertambah sekitar ( juta orang, dan dua per tiga diantaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang. @ika tidak dikendalikan, diperkirakan 21 juta orang akan menderita kanker dan !( juta meninggal karena kanker pada tahun 2 3 . Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih cepat di negara miskin dan berkembang (>ayasan Kanker Indonesia, 2 !2". &ata yang berhasil dihimpun oleh &epartemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukan bahwa angka kejadian kanker di Indonesia sampai saat ini diperkirakan setiap tahun muncul sekitar 2 . kasus baru dimana jenis terbesar kanker tersebut adalah kanker ser%iks (Ainting, 2 !2".

#erdasarkan data Riskesdas tahun 2

(, 'aktor risiko yang menyebabkan tingginya

kejadian kanker di Indonesia yaitu pre%alensi merokok 23,(2, obesitas umum penduduk berusia B !7 tahun pada laki-laki !3,62 dan pada perempuan 23,=2. /re%alensi kurang konsumsi buah dan sayur 63,12, konsumsi makanan diawetkan 1,32, makanan berlemak !2,=2, dan makanan dengan penyedap ((,=2. $edangkan pre%alensi kurang akti%itas 'isik sebesar 0=,22. :ingginya tingkat kematian akibat kanker terutama di Indonesia antara lain disebabkan karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya kanker, tanda-tanda dini dari kanker, 'aktor-'aktor resiko terkena kanker, cara penanggulangannya secara benar serta membiasakan diri dengan pola hidup sehat. :idak sedikit dari mereka yang terkena kanker, datang berobat ketempat yang salah dan baru memeriksakan diri ke sarana pelayanan kesehatan ketika stadiumnya sudah lanjut sehingga biaya pengobatan lebih mahal (>ayasan Kanker Indonesia, 2 !2". Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai kanker ser%iks dan keengganan untuk melakukan deteksi dini menyebabkan lebih dari ( 2 mulai menjalani perawatan medis justru ketika sudah berada pada kondisi parah dan sulit disembuhkan. )anya sekitar 22 dari perempuan Indonesia mengetahui kanker ser%iks ($abrina, 2 6". $osialisasi mengenai pencegahan kanker ser%iks sangat diperlukan untuk dapat mengubah perilaku wanita dalam menjaga kesehatan organ reproduksinya, karena kanker ser%iks merupakan jenis kanker yang paling dapat dicegah yaitu dengan menghindari 'aktor resiko, melakukan skrining atau deteksi dini, dan %aksinasi )/*. &eteksi dini kanker ser%iks dapat dilakukan dengan metode I*, (Inspeksi *isual dengan ,sam ,setat" atau pemeriksaan pap smear. ,kan tetapi menurut <milia (2 ! " bahwa kendala sosial masyarakat berkaitan dengan konsep CtabuD merupakan salah satu hambatan tes skrining kanker ser%iks. $ementara itu program %aksinasi )/* masih merupakan hal yang baru meskipun telah dilisensi pada tahun 2 2 !3". Kanker ser%iks dan upaya pencegahannya masih merupakan masalah yang menarik perhatian para pro'essional kesehatan. &alam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, maka program &inas Kesehatan melalui /uskesmas saat ini lebih menekankan pada upaya promoti' dan pre%enti'. &alam hal ini penting dilakukan upaya pencegahan terhadap penyakit seperti kanker ser%iks karena kanker ser%iks merupakan jenis kanker yang dapat dicegah dan dideteksi secara dini sehingga sangat diperlukan sosialisasi dan skrining terhadap penyakit ini. $alah satu sasaran dari upaya pencegahan kanker ser%iks yaitu remaja putri. 8ntuk itu perlu diberikan in'ormasi dan pengetahuan sejak dini mengenai pencegahan 1, akan tetapi sosialisasinya belum menjangkau wanita secara luas ()erlina,dkk.

kanker ser%iks. ()erlina dkk. 2 !3". $alah satu upaya pencegahan kanker ser%iks dalam le%el pencegahan primer adalah promosi dan edukasi pola hidup sehat dan menghindari 'aktor risiko, serta melakukan %aksinasi )/* (&inkes #ali, 2 6". 8paya pencegahan kanker ser%iks dapat dimulai dari hal yang paling kecil yakni meningkatkan kepedulian wanita terhadap kebersihan perineum (perineal hygiene". Karena salah satu 'aktor yang mempengaruhi kesehatan rahim adalah perineal hygiene. /endidikan kesehatan merupakan suatu cara penunjang programEprogram kesehatan, yang dapat menghasilkan perubahan dan peningkatan pengetahuan dalam waktu yang pendek. Konsep pendidikan kesehatan merupakan proses belajar pada indi%idu, kelompok atau masyarakat dari tindakan tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah kesehatan menjadi mampu. &alam waktu pendek (immediate impact" pendidikan kesehatan menghasilkan perubahan dan peningkatan pengetahuan masyarakat. /engetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah dari pendidikan kesehatan (-otoatmodjo, 2 (". Menurut -otoatmodjo (2 3", keberhasilan suatu proses pendidikan atau penyuluhan tergantung dari materi atau pesannya dan metode penyampaiannya. ,gar tercapai suatu hasil yang optimal maka metode pendidikan haruslah tepat dan materi yang disampaikan mudah dimengerti. $iswa $M/, $M,, dan $MK sesuai dengan usia perkembangannya berada pada masa remaja. /ada masa ini, ketertarikan dan komitmen serta ikatan terhadap teman sebaya menjadi sangat kuat. )al ini antara lain karena remaja merasa bahwa orang dewasa tidak dapat memahami mereka. Keadaan ini sering menjadikan remaja sebagai suatu kelompok yang eksklusi' karena hanya sesama merekalah dapat saling memahami. $ebagian besar siswa lebih sering membicarakan masalah-masalah serius mereka dengan teman sebaya, dibandingkan dengan orang tua dan guru pembimbing. (Ririn,dkk, 2 !!". #erdasarkan hasil penelitian Fathiyah dan )arahap (2 =" yang berjudul Konseling e!aya untu" #ening"atan $%i"asi &iri 'ema(a terhadap Perila"u )erisi"o*+ disebutkan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan e'ekti%itas konseling sebaya untuk meningkatkan e'ikasi diri remaja terhadap perilaku berisiko. $ubjek penelitian ini adalah 7 siswa yang berpartisipasi sebgai konselor sebaya dan 23 siswa kelas ! yang diberi konseling sebaya. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode angket, wawancara mendalam, 'ocus group discussion, dan obser%asi. $ecara kuantitati' hasil penelitian ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan e'ikasi diri siswa yang diberi konseling sebaya sebesar 21, = 2. /ada konselor sebaya peningkatan skor e'ikasi diri sebesar !0,3 2.

$ecara kualitati' hasil penelitian menunjukkan peningkatan e'ikasi diri subjek penelitian ditinjau dari kogniti', moti%asi, a'ekti', dan kecenderungan perilakunya. #erdasarkan penelitian )erniyatun (2 ,roup -erhadap Peru!ahan Pengetahuan+ =" yang berjudul C$%e"tivitas $du"asi Peer i"ap &an Ketrampilan &alam Pencegahan

Kan"er ervi" &i Ka!upaten Ke!umen*, tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi kelompok sebaya atau peer group terhadap perubahan perilaku dalam pencegahan kanker ser%ik, jenis penelitian eksperimen semu, desain non-eGui%alent pretest-postest with control group, dengan inter%ensi edukasi kelompok sebaya yasinan R: oleh kader yang sudah dilatih. /roses penelitian telah dilaksanakan pada bulan $eptember E -o%ember 2 = di Kabupaten Kebumen dengan metode multistage random sampling, jumlah sampel !(1 (== responden kelompok perlakuan, dan == responden kelompok kontrol". )asil penelitian menunjukkan rata-rata umur 48$ 33.7 tahun dengan pendidikan wanita terbesar $&. ,da perbedaan yang signi'ikan rata-rata nilai pengetahuan (p9 , HI . 7", ketrampilan (p9 , 9 HI . 7", sikap (p9 , 20J JHI . 7", antara sebelum dan setelah pada kelompok perlakuan. J

)asil penelitian juga menunjukkan bahwa antara kelompok perlakuan dan kontrol ada perbedaan yang signi'ikan rata-rata nilai sikap (p9 , 2(9 HI . 7", ketrampilan (p9 , HI . 7" tetapi tidak signi'ikan untuk meningkatkan pengetahuan (p9 ,!7 J HI . 7". $ikap dan ketrampilan pencegahan kanker ser%ik tidak dipengaruhi oleh umur dan tingkat pendidikan tetapi dipengaruhi oleh inter%ensi edukasi peer group. <dukasi ini akan bisa merubah perilaku pencegahan kanker ser%ik jika dilakukan oleh kader kesehatan yang terpilih, yang bisa menstrans'er ilmu tentang pencegahan ini secara tuntas, sehingga tidak hanya sikap dan ketrampilan yang bisa berubah tetapi pengetahuan yang luas tentang kanker ser%ik juga bisa dimiliki oleh semua anggota peer group yang ada di masyarakat Kebumen. )asil penelitian ,isah, dkk. (2 ! ", menunjukkan bahwa terdapat CPengaruh $du"asi Kelompo" e!aya -erhadap Peru!ahan Perila"u Pencegahan Anemia ,izi )esi Pada Wanita Usia u!ur. ,da hubungan yang signi'ikan antara usia dengan pengetahuan (pI . 7". ,da hubungan yang signi'ikan antara pendidikan dengan pengetahuan dan sikap (pI . 7". ,da perbedaan yang signi'ikan (pI . 7" rata-rata nilai pengetahuan, sikap, ketrampilan antara sebelum dan setelah pada kedua kelompok, namun masih lebih tinggi pada kelompok perlakuan yang mendapat inter%ensi edukasi kelompok sebaya. ,da perbedaan yang signi'ikan (pI . 7" rata-rata nilai pengetahuan, sikap, ketrampilan antara kelompok perlakuan dan kontrol. Inter%ensi edukasi kelompok sebaya mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dapat dilihat dari nilai pI . 7, berarti bahwa pengetahuan, sikap, dan ketrampilan tidak dipengaruhi oleh umur dan tingkat pendidikan tetapi dipengaruhi oleh

inter%ensi edukasi kelompok sebaya. #erdasar hasil tersebut perlu optimalisasi kelompok sebaya wanita yang sudah ada di masyarakat, mengintegrasikan upaya promoti' dan pre%enti' ,A# kedalam programnya. Menurut penelitian Rahmayanti, 2 !2 yang berjudul ,am!aran perila"u pera/atan "e!ersihan alat reprodu"si dalam pencegahan "an"er servi"s pada sis/i #A0 1 Ke!on Pala 2a"arta -imur tahun 3455*, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku siswi $M,- 6 Kebon /ala @akarta :imur dalam menjaga kebersihan alat reproduksinya dan 'aktor-'aktor yang berhubungan dengan perilaku tersebut. /enelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan studi kuantitati' dengan desain cross sectional terhadap 6( responden yang merupakan siswi $M,- 6 Kebon /ala @akarta :imur. )asil uji bi%ariat menunjukkan bahwa %ariable pengetahaun, keterpaparan in'ormasi dari media massa dan lingkungan sosial memilki hubungan yang bermakna dengan perilaku perawatan kebersihan alat reproduksi. &ari penelitian tersebut diharapkan bahwa pemberian in'ormasi mengenai perilaku kebersihan alat reproduksi yang baik dapat dilakukan dengan tepat dan jelas. Konseling sebaya dipandang cukup e'ekti' karena diberikan oleh teman sebayanya sendiri. Konseling merupakan proses yang dilakukan oleh pro'esional terlatih dalam hubungan saling percaya terhadap indi%idu yang membutuhkan bantuan. /ada remaja ada kecenderungan untuk memiliki personal %a!le yaitu keyakinan bahwa hanya dia yang mengalami pengalaman unik, bukan orang dewasa lain. 5leh karena itu, penguatan melalui konseling sebaya dipandang cukup bermakna untuk dilakukan (:hompson dkk, 2 0". :eman sebaya atau peers adalah anak-anak dengan tingkat kematangan atau usia yang kurang lebih sama. $alah satu 'ungsi terpenting dari kelompok teman sebaya adalah untuk memberikan sumber in'ormasi dan komparasi tentang dunia di luar keluarga. Melalui kelompok teman sebaya, anak-anak menerima umpan balik dari teman-teman mereka tentang kemampuan mereka. ,nak-anak menilai apa-apa yang mereka lakukan, apakah dia lebih baik dari pada teman-temannya, sama, ataukah lebih buruk dari apa yang anak-anak lain kerjakan. ($antrock, 2 0 9 2=(". )ubungan yang baik di antara teman sebaya akan sangat membantu perkembangan aspek sosial anak secara normal. Aladding (!667" mengungkapkan bahwa dalam interaksi teman sebaya memungkinkan terjadinya proses identi'ikasi, kerjasama dan proses kolaborasi. /roses-proses tersebut akan mewarnai proses pembentukan tingkah laku yang khas pada remaja. Fungsi konselor sebaya adalah sebagai !" sahabat yang bersedia membantu, mendengarkan, dan memahami, 2" 'asilitator yang bersedia membantu remaja untuk tumbuh dan berkembang bersama kelompoknya, dan 3" sebagai pemimpin yang karena

kepeduliannya pada orang lain menjadi penggerak perubahan sosial. &alam prakteknya, konseling sebaya hendaknya dapat memberikan pemahaman yang utuh tentang perilaku dan risikonya terhadap kesehatan 'isik maupun psikis baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. $elain itu, diharapkan konseling kesehatan pada remaja dapat !" menumbuhkan keyakinan personal remaja untuk tetap melakukan perilaku sehat meskipun tantangannya besar, 2" meningkatkan keyakinan remaja untuk mampu mempelajari semua kemampuan untuk menghindari perilaku berisiko, dan yakin mampu mengendalikan diri dari perilaku berisiko meskipun tekanan internal maupun eksternal sangat kuat. /roses psikologis yang diharapkan tercipta dalam konseling sebaya mencakup 0 proses yang meliputi 9 a" proses kogniti', b" proses moti%asional, c" proses a'ekti', dan d" proses seleksi. /roses kogniti' menumbuhkan pemikiran remaja mengenai kapasitas dan komitmennya untuk berperilaku sehat dan menghindari perilaku berisiko. /roses moti%asional menjadikan remaja dapat menetapkan tujuan sendiri, menentukan besarnya usaha, dan menetapkan kegigihan menghadapi kesulitan dan kegagalan. /roses a'ekti' menjadikan remaja tidak akan mengalami gangguan pola ber'ikir dan berani menghadapi tekanan dan ancaman. /roses seleksi yang terjadi menjadikan remaja dapat memilih jenis akti%itas dan lingkungan yang dapat mendukung perilaku sehat dan menghindari perilaku berisiko. (Kusmilah dkk, 2 0"

/erubahan pengetahuan diharapkan akan merubah sikap dan bila sikap telah dirubah ini merupakan modal untuk merubah perilaku, dan bekal pengetahuan yang cukup, besar kemungkinan orang bersikap positi' terhadap suatu objek. $ikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. $ikap belum merupakan suatu tindakan atau akti%itas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku dan sikap juga merupakan e'ek positi' atau negati' terhadap objek psikologis (-otoatmodjo, 2 3". #erdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti /engaruh Peer Counseling terhadap /erilaku Personal Hygiene ,lat Reproduksi Remaja /utri dalam /encegahan Kanker $er%iks di $M/ KKK. #1 Rumusan Masalah #erdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut 9

C,dakah /engaruh Peer Counseling terhadap /erilaku Personal Hygiene ,lat Reproduksi Remaja /utri dalam /encegahan Kanker $er%iks di $M/ LMD /1 &ujuan Penelitian !. :ujuan 8mum 8ntuk mengetahui pengaruh peer counseling terhadap perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. 2. :ujuan Khusus a. Mengidenti'ikasi karakteristik remaja putri terhadap perilaku perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. b. Mengidenti'ikasi tingkat pengetahuan remaja putri tentang perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. c. Mengidenti'ikasi ketrampilan remaja putri dalam perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. d. Mengidenti'ikasi sikap remaja putri dalam perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. e. Mengidenti'ikasi tingkat pengetahuan remaja putri tentang perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. '. Mengidenti'ikasi tingkat pengetahuan, ketrampilan, dan sikap remaja putri sebelum diberikan peer counseling tentang perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. g. Mengidenti'ikasi tingkat pengetahuan, ketrampilan, dan sikap remaja putri setelah diberikan peer counseling tentang perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. h. Mengidenti'ikasi pengaruh peer counseling terhadap perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. 21 Man3aat Penelitian !. Man'aat /raktis a. Melalui penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan mengenai bagaimana pengetahuan, ketrampilan dan sikap remaja putri tentang perilaku personal hygiene alat

reproduksi dalam pencegahan kanker ser%iks, sehingga nantinya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 2. Man'aat :eoritis a. #agi instansi pemerintah &inas Kesehatan dan &inas /endidikan dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai masukan untuk membuat perencanaan pengembangan program /K/R (/rogram Kesehatan /eduli Remaja" yang dapat meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja khususnya pada siswi $M/ terhadap perilaku personal hygiene remaja putri dalam pencegahan penyakit kanker ser%iks. b. #agi sekolah &iharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk membuat perencanaan pengembangan program /K/R (/rogram Kesehatan /eduli Remaja" yang yang dapat meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja khususnya pada siswi $M/ terhadap perilaku personal hygiene remaja putri dalam pencegahan penyakit kanker ser%iks. c. #agi tenaga kesehatan &iharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk menambah pengetahuan dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh. b. #agi masyarakat dan orang tua Memberi in'ormasi tentang perilaku personal hygiene alat reproduksi dalam pencegahan kanker ser%iks d. #agi peneliti &apat menambah wawasan bagi mahasiswa dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan atau re'erensi serta sebagai bahan dalam melanjutkan penelitian terkait dengan pengaruh peer counseling terhadap perilaku personal hygiene alat reproduksi remaja putri dalam pencegahan kanker ser%iks. &apat memberikan in'ormasi atau data dasar bagi peneliti selanjutnya untuk menyadari pentingnya upaya pencegahan kanker ser%iks.

&a'tar /ustaka ,minati &ini, 2 !3. Cara )i(a" #enghadapi dan #encegah Kan"er 6eher 'ahim 7servi"s8. >ogyakarta 9 #rilliant #ooks ,.i., MF., ,ndrijono, $ai'uddin ,#, editors., 2 1. #uku ,cuan -asional 5nkologi

Ainekologi. <disi kedua. @akarta9 >ayasan #ina /ustaka $arwono /rawirohardjo Ainting, )erlina. 2 !2. )ubungan antara dukungan sosial dengan optimisme pada penderita kanker ser%iks. Karya :ulis Ilmiah. 8ni%ersitas /endidikan Indonesia 9 #andung. ,isah, $iti , $ahar,@ahar, )astono, /.$. 2 ! /engaruh <dukasi Kelompok $ebaya :erhadap /erubahan /erilaku /encegahan ,nemia Ai.i #esi /ada 4anita 8sia $ubur. $emarang 9 8-IM8$ -otoatmodjo, $oekidjo. 2 3. Pendidi"an dan Perila"u Kesehatan. Rineka ?ipta 9 @akarta. =. $%e"tivitas $du"asi Peer ,roup

)erniyatun, &iah ,stutiningrum dan -urlaila. 2 -erhadap Peru!ahan Pengetahuan+

i"ap &an Ketrampilan &alam Pencegahan Kan"er

ervi" &i Ka!upaten Ke!umen. jurusan Keperawatan $tkes Muhammadiyah Aombong :hompson ?;, Rudolph ;#, dan )enderson &,. 2 :hompson #rooks+?ole. Riskesdas. 2 (. /erempuan Merupakan Kelompok >ang /aling #anyak :erkena Kanker. 0. Counseling %or Children. 8$,9

http9++www.in'odokterku.com+ indeK.php. &iakses tanggal 3 oktober 2 !3. &inkesbali. 2 6. osialisasi 9a"tor 'isi"o Penya"it Kan"er. &inas Kesehatan /ro%insi #ali.

http9++dinkesbali.wordpress.com (diakses tanggal 3 5ktober 2 !3" >KI. 2 !2. http9++yayasankankerindonesia.org+2 !2+yki-jakarta-race+ ( diakses tanggal 3 oktober 2 !3"

Riskesdas 2 ! . :abel Riskesdas 2 ! . #adan /enenlitian dan /engembangan Kesehatan kementrian 2 !3" Alading, $.:. (!667". Aroup 4ork 9 , ?ounseling $pecialty 1 <nglewood ?li''s 9 /rentice)all. $antrock, @.4. (2 ?ompanies. &r. $uwarjo, M.$i. 2 =. Konseling :eman $ebaya (/eer ?ounseling" 8ntuk 0". ;i'e-$pan &e%elopment. -inth <dition. #oston 9 McAraw-)ill Kesehatan RI tahun 2 ! www.riskesdas.litbang.depkes.go.id+download+:abelRiskesdas2 ! .pd' (diakses 3 oktober

Mengembangkan Resiliensi Remaja. Makalah. >ogyakarta9 FI/ 8-> Kusmilah, $, Rimayanti, ,ini, -, )artanto &, dan /urwoko, F. 2 0. Model /eer ?ounseling

dalam Mengatasi /roblematika Remaja ,khir. 6aporan Penelitian. >ogyakarta9 FI/ 8-> Fathiyah, Kartika -ur dan )arahap, Farida. 2 =. Konseling $ebaya untuk Meningkatan

<'ikasi &iri Remaja terhadap /erilaku #erisiko. ;aporan /enelitian. >ogyakarta 9 FI/ 8-> )erlina,dkk. 2 !3. Pengaruh Pendidi"an Kesehatan -erhadap -ing"at Pengetahuan is/i -entang Pencegahan Kan"er ervi"s &i ma 0egeri 5 #anado. ejournal keperawatan (e-Kp". Manado 9 /$IK FK 8ni%ersitas $am Ratulangi Rahmayanti, -o%ita. 2 !2. Aambaran perilaku perawatan kebersihan alat reproduksi dalam pencegahan kanker ser%iks pada siswi $M,- 6 Kebon /ala. @akarta 9 FKM 8I

$abrina, M. 2

6. #engenal 5: 2enis Kan"er dan Pengo!atannya. >ogyakarta9 Kata )ati.

@urnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, *olume (, -o. 3, 5ktober 2 !! <'ekti%itas /enyuluhan /eer Aroup &engan /enyuluhan 5leh /etugas Kesehatan :erhadap :ingkat /engetahuan :entang Menarche Ririn :ri Rahayu! ?okro ,minoto2, M.Madkhan @urusan Keperawatan $:IKes Muhammadiyah Aombong

$ur%ei &emogra'i Kesehatan Indonesia ($&KI, 2 2 ("

("

$ur%ei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia ($KRRI, $ensus /enduduk, 2 !

#KK#-. 2 !2. Pedoman Pengelolaan Pusat )n3ormasi (an Konseling Remaja (an Mahasis4a 5Pik Remaja6Mahasis4a7. #adan Kependudukan &an Keluarga #erencana -asional &irektorat #ina Ketahanan Remaja 9 @akarta

)erijulianti, dkk. 2

2.Pendidi"an Kesehatan. @akarta9 <A?

,stiti. 2 !!. :esis )ubungan Faktor /elatihan Kesehatan Reproduksi &engan Implementasi /asca /elatihan /ada Konselor $ebaya Kesehatan Reproduksi Remaja &i /ro%insi #ali. /sikm /rogram /ascasarjana 8nud 9 #ali

Menurut de'inisi 5rganisasi Kesehatan &unia (4)5", remaja (adolescence" adalah mereka yang berusia ! -!6 tahun. $ementara /## menyebut anak muda (youth" untuk usia !7-20 tahun.

5utlook.2

. %olume !1

Konselor $ebaya (K$" adalah /endidik $ebaya yang secara 'ungsional punya komitmen dan moti%asi yang tinggi untuk memberikan konseling bagi kelompok remaja+mahasiswa sebayanya, telah mengikuti pelatihan+orientasi konseling atau yang belum dilatih dengan mempergunakan /anduan Kurikulum dan Modul /elatihan yang telah disusun oleh #KK#-, serta bertanggung jawab kepada Ketua /IK R+M.