Anda di halaman 1dari 53

BAB I DASAR TEORI

1.1. Pendahuluan Dalam aplikasi elektronik tuntutan spesifik yang dibuat pada output dari rangkaian, atau sekelompok rangkaian. Dalam beberapa kasus proses pembuatan dari sinyal input yang diinginkan disebut sebagai rangkaian yang memperkenalkan distorsi. Dalam kasus

lain, pengendalian distorsi digunakan untuk menghasilkan bentuk gelombang tertentu. Beberapa jenis distorsi terkontrol, dan rangkaian yang digunakan untuk menjaga bentuk gelombang yang diinginkan. Rangkaian tersebut termasuk diferensiasi, integrasi, pembatasan, atau cliping, dan clamping. Sebelum mempelajari rangkaian tersebut, kita sebaiknya memiliki pengetahuan tentang tegangan, pulsa, gelombang, RC time constan.

1.2. Tegangan Tegangan (beda potensial listrik) dapat digolongkan

berdasarkan arah arus yang mengalir, yaitu tegangan DC (searah) dan tegangan AC (bolak-balik). Tegangan DC merupakan tegangan yang terjadi antara dua titik, dimana polaritas dari kedua titik pernah berhenti. Dengan demikian arus pada rangkaian yang terhubung pada kedua titik mengalir dengan arah tetap searah secara kontinyu sehingga polaritas kedua titik tersebut tidak pernah bertukar. Misalnya titik A lebih positif dari B, dan tidak pernah terjadi polaritas titik A lebih negatif dari titik B, maka dikatakan antara titik A dan titik B telah terjadi tegangan DC. Tegangan DC dihasilkan oleh baterai, accu, keluaran adaptor, keluaran voltase regulator dan lainlain.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 1

Berbeda dengan tegangan DC, tegangan AC merupakan potensial listrik yang terjadi antara dua titik, dimana polaritas dari kedua titik berganti secara kontinyu. Dengan demikian arus pada rangkaian yang terhubung pada kedua titik,mengalir dengan arah selalu berganti (bolak-balik) secara kontinyu pula. +V AO+ +V

BO+ t
DC murni DC tak murni

Gambar 1-1. Tegangan DC

Misalnya titik A lebih positif dari B, kemudian terjadi peruhahan polaritas,dimana polaritas titik A, lebih negatif dari titik B, maka dikatakan antara titik Adan titikB telah terjadi tegangan AC. Tegangan AC dapal dihasilkan oleh pembangkit listrik PLTA, PLTU, PLTG, PLTN, altenator, generator dan lain-lain.

a. Gelombang Sinusoidal

b. Gelombang kotak

c.

Gelombang gigi gergaji

d. Gelombang segitiga

Gambar 1-2. Tegangan AC

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 2

1.3. Pulsa Pulsa merupakan tegangan DC yang terjadi antara dua titik dari sebuah rangkaian,dimana tegangan antara kedua titik kadang ada dan kadang tidak ada pada pulsa sembarang (tak teratur), bentuk pulsa dapat berupa segitiga, segi empat, atau bahkan tanpa bentuk. Pulsa yang teratur, terdiri dari elemen-elemen seperti: lebar pulsa (pulse width/PW), waktu pengulangan pulsa (perioda/T), waktu pembentukan pulsa (t), dan perbandingan t terhadap T yang disebut duty ratio atau duty cycle. Perlu diingat di sini bahwa saat terjadi pulsa dikenal sebagai mark dan jarak antar pulsa disebut space.

+V

t Gambar 1-3. Pulsa tak teratur

+V

t Gambar 1-4. Pulsa yang teratur

space

mark

space

mark

space

Gambar 1-5. Elemen Pulsa

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 3

1.4. Gelombang 1.4.1. Gelombang Sinusoidal Gelombang sinus atau sinusoid adalah fungsi matematika yang berbentuk osilasi halus berulang. Fungsi ini sering muncul dalam ilmu matematika, fisika, pengolahan sinyal, teknik listrik, dan berbagai bidang lain. Bentuk paling sederhana dari fungsi ini terhadap waktu (t) adalah: ( ) dimana:

A, amplitudo, adalah puncak simpangan fungsi dari posisi tengahnya, , frekuensi sudut, menunjukkan berapa banyak gerak bolak-balik yang terjadi dalam satu satuan waktu, dalam radian per detik, , fase, menunjukkan dimana posisi awal gerakan ketika t=0, Jika fase tidak bernilai nol, seluruh gelombang akan nampak bergeser menurut sumbu X (sumbu waktu) sebesar / detik. Nilai negatif pada fase menunjukkan jeda, sedang nilai positif menunjukkan gelombang "berangkat lebih awal".

Gelombang sinus sangat penting dalam bidang fisika karena gelombang ini mempertahankan bentuknya ketika ditambahkan kepada gelombang sinus berfrekuensi sama yang lain walaupun fasenya berbeda. Gelombang ini merupakan satu-satunya fungsi periodik yang memiliki sifat ini. Sifat ini menjadikan gelombang ini bagian penting dalam Analisis Fourier.

Gambar 1-6. Gelombang Sinusoidal

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 4

1.4.2. Gelombang Square Gelombang square adalah jenis nonsinusoidal waveform, paling biasanya ditemui dalam elektronik dan pemrosesan sinyal. Sebuah alternatif yang ideal gelombang persegi teratur dan instan antara dua tingkat. Gelombang square secara universal yang dihadapi dalam digital sirkuit switching dan secara alami dihasilkan oleh biner (dua tingkat) perangkat logika. Mereka digunakan sebagai referensi waktu atau " sinyal clock ", karena transisi cepat mereka cocok untuk memicu logika sinkron sirkuit secara tepat ditentukan. Namun, karena frekuensi domain menunjukkan grafik, gelombang persegi mengandung berbagai harmonik, ini dapat menghasilkan radiasi elektromagnetik atau pulsa arus yang mengganggu sirkuit terdekat lainnya, menyebabkan kebisingan atau kesalahan. Untuk menghindari masalah ini di sirkuit sangat sensitif seperti presisi analog ke digital converter, sinus gelombang yang digunakan sebagai pengganti gelombang persegi sebagai referensi waktu.

Gambar 1-7. Gelombang Square

1.4.3. Glombang Triangle Gelombang triangle adalah bentuk gelombang nonsinusoidal yang dinamakan segitiga bentuk. Ini adalah periodik, sesepenggal linier, terus menerus fungsi nyata. Seperti gelombang persegi, gelombang segitiga hanya berisi aneh harmonik . Namun, harmonik yang lebih tinggi roll off jauh lebih cepat dari pada gelombang persegi (sebanding dengan kuadrat terbalik dari jumlah harmonik sebagai lawan hanya kebalikannya).
Revision : 01 Date : Sept 27th 2013 Page : 5

Ada kemungkinan menjadi gelombang triangle dengan aditif sintesis dengan menambahkan harmonik ganjil dari fundamental, mengalikan setiap th (4n-1) harmonik dengan -1 (atau mengubah fase oleh ), dan meluncur dari harmonik dengan kuadrat terbalik dari mereka relatif frekuensi ke dasar.

Gambar 1-8. Gelombang Triangle

1.4.4. Gelombang Sawtooth ( gigi gergaji) Gelombang saw tooth adalah jenis nonsinusoidal waveform. Hal ini dinamakan sebuah gigi gergaji berdasarkan kemiripannya dengan gigi pada sebilah gergaji. Konvensi adalah bahwa landai gelombang gigi gergaji ke atas dan kemudian turun tajam. Namun, ada juga gelombang gigi gergaji yang landai gelombang ke bawah dan kemudian naik tajam. Jenis gelombang gigi gergaji yang terakhir ini disebut "gelombang gigi gergaji terbalik" atau "terbalik gelombang gigi gergaji".

Gambar 1-9. Gelombang Sawtooth

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 6

1.5. RC Time Constant RC time constant adalah konstanta waktu yang didapatkan dari hasil perkalian antara nilai resistor yang dihubungkan seri dengan kapasitor pada rangkaian DC.

t=RxC dimana: t = RC time constant dalam detik R = Resistor dalam (ohm) C = kapasitor dalam Farad

Rangkaian yang digunakan untuk menjelaskan RC time constant dapat digambarkan seperti pada gambar 1-6. A B

+ E -

R2

R1

Gambar 1-10. Rangkaian pengisian dan pembuatan muatan kapasitor

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 7

Sesaat saklar S1 dihubungkan ke posisi A, kapasitor mulai mengisi. Pengisian muatan pada kapasitor dapat dilihat pada gambar 1-7. Selang waktu dari merupakan waktu RC tirne constant. .

Demikian pula untuk selang waktu dari

Untuk membedakan kurva pengisian dan kurva pengosongan, diberikan gambar kurva dengan ketebalan yang berbeda. Perhitungan dengan menggunakan pembulatan, didapatkan nilai tegangan atau arus setiap RC time constant mencapai pengisian sebesar 63 % yang ada. Pada pengisian antara dihasilkan tegangan sebesar

63% dari tegangan sumber. Misalnya tegangan sumber baterai 10 Volt, saat t1 tegangan kapasitor sebesar 63 Volt. Sehingga selisih tegangan sumber baterai 10 Volt dikurangi tegangan kapasitor 6,3 \/olt sama dengan 3,7 Volt.

Gambar 1-11. Kurva RC time constan

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 8

Saat

t1-t2

pengisian

kapasitor

menghasilkan

tegangan

tambahan sebesar 63 % dari tegangan 3,7 Volt. Demikian seterusnya, setiap satu kali RC time constant menghasilkan tegangan pada kapasitor sebesar 63% dari selisih tegangan antara sumber baterai dan tegangan kapasitor. Oleh sebab itu kapasitor terisi penuh pada saat t5. Dengan kata lain, untuk mengisi penuh sebuah kapasitor, diperlukan waktu selama 5 kali RC time constant. Perlu diingat disini, pengertian dari kapasitor terisi penuh yaitu tegangan kapasitor telah dianggap sama dengan tegangan sumber baterai. Setelah kapasitor terisi penuh, sesaat saklar dipindahkan

dari posisi A ke posisi B, maka kapsitor mulai membuang muatan. Kurva pembuangan muatan pada kapasitor dapat dilihat pada gambar 1-7. Seperti halnya pada proses pengisian kapasitor, selang waktu dari muatan merupakan waktu RC time constant pembuangan Demikian . Dengan perhitungan menggunakan pembulatan, didapatkan nilai tegangan atau arus setiap satu RC time constant, pembuangan muatan dilakukan sebesar 63% dari tegangan kapasitor. Saat kapapsitor membuang muatan sebesar 63%, pula untuk selang waktu dari

kapasitor.

sehingga tegangan kapasitor turun sebesar 63% dari tegangan 3,7 volt. Demikian seterusnya, setiap satu kali RC time constant kapasitor membuang muatan sebesar 63%. Oleh sebab itu kapasitor benar-benar kosong pada saat .

Dengan kata lain, untuk membuang muatan dari sebuah kapasitor sehingga kapasitor benar-benar telah terbuang seluruh muatannya, diperlukan waktu selama 5 (lima) kali RC time constant.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 9

BAB II WAVESHAPING CIRCUIT

2.1. Pendahuluan Sebuah rangkaian yang menghasilkan keluaran dengan bentuk yang spesifik, mungkin dibutuhkan dalam aplikasi elektronika tertentu. Rangkaian spesifik yang lain, mungkin dibutuhkan untuk mengontrol dan menghilangkan cacat (distortion) yang terjadi pada sebuah sinyal. Rangkaian-rangkaian tersebut mungkin berupa rangkaian diferentiator, integrator, limiter, clamper, atau mungkin rangkaian yang lain. Rangkaian differentiator dan integrator menggunakan prinsip dasar dari aksi kapasitor (C) atau induktor (G) yang dihubungkan secara seri dengan resistor (R). Rangkaian limiter digunakan untuk membatasi dan memotong sebuah sinyal sehingga bentuk sinyal berubah. Sedangkan rangkaian clamper digunakan untuk mengubah level tegangan referensi dimana bentuk sinyalnya tidak berubah.

2.2. Differentiator dan Integrator 2.2.1. Differentiator R-C Rangkaian differentiator dibentuk oleh rangkaian elektronik yang berhubungan dengan fungsi turunan pertama matematika (differensial). Pada rangkaian ini kondisi idealnya adalah ketika input berubah dengan cepat maka outputnya bertambah besar. Rangkaian differentiator biasanya terdiri rangkaian seri dari resistor dan kapasitor, atau rangkaian seri dari resistor dan induktor. Gambar 2-1 menunjukkan rangkaian differentiator R-C. Tampak pada gambar tersebut, output diambil dari tegangan jatuh (voltage drop) pada resistor R.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 10

Gambar 2-1. Rangkaian differentiator R-C

Perlu diingat disini, bahwa pada prakteknya rangkaian differentiator dapat digambarkan outputnya dengan pendekatan (approximation). Pemilihan nilai komponen resistor dan kapasitor sangat menentukan nilai time constant dari rangkaian. Dengan nilai time constant lebih kecil atau sama 1/10 dari nilai frekuensi sinyal masukan ( ) akan memberikan gambar keluaran seperti pada

gambar 2-2. Masukan yang diberikan berupa gelombang kotak. Gambar 2-2a menunjukkan sinyal yang diberikan benar-benar gelombang kotak, sehingga garis AB dan CD tegak lurus terhadap ADE. Maka terjadi perubahan amplitudo dari A ke B dalam waktu sesaat. Rangkaian differentiator yang sempurna menghasilkan

tegangan keluaran tak terhingga (infinity) dari titik A ke B dan dari titik C ke D. Pada saat yang lain diiferentiator tidak menghasilkan keluaran. Gambar 2-2b hanya digunakan untuk menggambarkan keluaran dari rangkaian differentiator secara teori saja. Formula sederhana yang dapat digunakan untuk menentukan pengisian sesaat pada kapasitor adalah:

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 11

dimana:

= tegangan sesaat pada kapasitor = perubahan tegangan dari A ke B = perubahan waktu sesaat

Gambar 2-2. Keluaran dari rangkaian differentiator

Gambar 2-3. Keluaran rangkaian yang mengandung nilai 5 kali RC time constant sama dengan lebar pulsa

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 12

Bentuk keluaran seperti pada gambar 2-2b, hanya didapatkan pada perhitungan matematis secara teori saja. Pada prakteknya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin kita dapat membentuk rangkaian differentiator dengan nilai resistor sebesar nol. Dengan nilai resistor sama dengan nol, berarti nilai RC time constant sama dengan nol pula. Pada kenyataannya, walau sekecil berapapun, nilai RC time constant tidak akan sama dengan nol. Oleh sebab itu pada rangkaian yang memiliki nilai RC time constant kecil, akan dihasilkan keluaran seperti pada gambar 2-2c. Secara sederhana dapat dijelaskan disini, cara kerja dari rangkaian differentiator dengan nilai resistor sebesar nol. Dengan nilai resistor sama dengan nol, berarti nilai RC time constant kecil, akan dihasilkan keluaran seperti gambar 2-2c. Secara sederhana dapat dijelaskan disini, cara kerja dari rangkaian differentiator (mengacu pada gambar 2-4). Saat masukan muncul antara titik A ke B, kapasitor mulai mengisi. Seluruh tegangan sumber jatuh pada resistor. Kemudian dari B ke C, kapasitor semakin terisi muatannya sehingga tegangan pada kapasitor bertambah. Tentu saja tegangan pada resistor berkurang. Dimisalkan kapasitor terisi penuh (5 kali time constant) sama dengan selang waktu antara titik B ke C, maka tegangan dikapasitor sama dengan masukan, dan tegangan di resistor sama dengan nol.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 13

Gambar 2-5. Keluaran rangkaian yang mengandung nilai 5 kali RC time constant lebih kecil dari lebar pulsa

Gambar 2-6. Keluaran rangkaian yang mengandung nilai 5 kali RC time constant lebih besar dari lebar pulsa

Saat tepat di titik D, tegangan masukan menjadi nol. Maka kapasitor akan membuang muatannya melalui resistor. Namun polaritas yang terjadi pada kapasitor menyebabkan tegangan pada resistor berbalik arah menuju negatif.

Selanjutnya

antara

titik

ke

E,

kapasitor

berkurang

tegangannya. Demikian pula halnya dengan tegangan kapasitor.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 14

Saat tepat di titik E, tegangan kapasitor menjadi kosong (nol). Dan sinyal masukan mulai mencul kembali. Proses dari titik A sampai dengan titik E berulang kembali.

2.2.2. Differentiator R-L Gambar 2-7 menunjukkan rangkaian differentiator R-L. Tampak pada gambar tersebut, outputnya diambil dari tegangan jatuh (voltage drop) pada induktor L. Seperti halnya pada rangkaian RC, perhitungan dengan menggunakan pembulatan, didapatkan nilai perubahan arus yang terjadi setiap R-L time constant turun sebesar 63% demikian pula perubahan nilai tegangan pada resistor. Hampir sama dengan kondisi rangkaian RC, kurva yang tergambar semakin baik pada penambahan waktu, menunjukkan nilai arus setiap saat. Atau disebut juga kondisi pengisian induktor. Dan kurva yang tergambar semakin turun, pada kenaikan waktu, menunjukkan perubahan arus (pembuang) dari induktor tersebut. Formula R-L time constant dengan L sebagai induktansi dalam henry dan R sebagai resistor dalam adalah:

Gambar 2-7. Rangkaian differentiator R-L

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 15

Gambar 2-8. Keluaran dari rangkaian differentiator R-L yang memiliki RL time constant menengah

Gambar 2-9. Kurva RL time constant

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 16

2.2.3. Integrator Seperti halnya rangkaian differentiator, rangkaian integrator dibentuk ole rangkaian elektronik yang berhubungan dengan fungsi integral matematika. Pada rangkaian ini kondisi idealnya adalah ketika input berubah dengan cepat maka outputnya bertambah besar. Rangkaian integrator biasanya terdiri dari rangkaian seri resistor dan kapasitor, atau rangkaian seri dari resistor dan induktor. Gambar 2-10 menunjukkan rangkaian integrator R-C. Tampak pada gambar tersebut, output diambil dari tegangan jatuh (voltage drop) pada kapasitor C. Rangkaian integrator R-L memiliki fungsi yang sama dengan integrator R-C. Gambar 2-11 menunjukkan rangkaian integrator R-L. Tampak pada gambar tersebut output diambil dari tegangan jatuh (voltage drop) pada induktor L.

Gambar 2-10. Rangkaian integrator R-C

Untuk integrator R-L, nilai komponen induktor harus dipilih sehingga perubahan pada arus rangkaian selama build up dan decay., selinear mungkin. Hal ini menjadi persyaratan utama yang harus dipenuhi. untuk mendukung persyaratan tersebut, nilai komponen resistor dipiliih sekecil mungkin. Jadi rangkaian integrator R-L tergantung pada nilai arus yang mengalir pada rangkaian dan nilai resistornya.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 17

Gambar 2-11. Rangkaian integrator R-L

Pada

prakteknya

rangkaian

integrator harus

dirancang

sedemikian rupa sehingga nilai time constantnya 10 (sepuluh) kali atau lebih terhadap waktu selebar pulsa masukan. Rangkaianrangkaian integrator banyak digunakan pada peralatan komputer analog.

2.2.4. Differentiator Dan Integrator dengan Sinyal Masukan Tak Simetris Rangkaian integrator R-L memiliki fungsi yang sama dengan integrator R-C. Garnbar 2-11 menunjukkan rangkaian integrator R-L. Tampak pada gambar tersebut output diambil dari tegangan jatuh (voltage drop) pada induktor L.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 18

Gambar 2-12. Keluaran integrator dan differentiator yang mendapatkan masukan gelombang kotak tak simetris

Gambar 2-12 di atas menunjukkan gambar tegangan keluaran dari sebuah rangkaian integrator ataupun differentiator yang mendapatkan masukan gelombang kotak tak simetris. Dan gambar 2-13 menunjukkan gambar tegangan keluaran dari sebuah rangkaian integrator ataupun differentiator yang mendapatkan masukkan gelombang gigi gergaji. Karena sinyal rnasukan berupa gelombang gigi gergaji, maka keluaran dari differentiator, yaitu saat keluaran diambil pada tegangan yang jatuh pada kapasitor, keluaran dihasilkan berupa pulsa positif selama masukan pertama ada. setelah mencapai puncaknya, tegangan masukan tiba-tiba hilang. Hal ini mengakibatkan keluarannya berubah kondisi, dari kondisi ada tegangan positif keluaran sehingga keluaran menghasilkan tegangan negatif.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 19

Pulsa

dari

sinyal

masukan

berikutnya

yang

muncul,

rnengakibatkan tegangan keluaran berubah kondisi lagi, yaitu mengulang dari kondisi awal saat rangkaian mendapatkan masukan.

Gambar 2-13. Keluaran integrator dan differentiator yang mendapatkan masukan gelombang segi tiga

2.2.5. Penentuan Nilai Resistor Dan Kapasitor Penentuan nilai resistor dan kapasitor dari sebuah rangkaian differentiator maupun integrator, didasarkan pada lebar pulsa dari sinyal masukan sebagai contoh: sebuah rangkaian differentiator mendapatkan sinyal masukan berupa gelombang kotak simestris yang memiliki frekuensi 100 Hz Ini berarti bahwa lebar pulsa dari sinyal masukannya dapat dihitung sebagai berikut : Frekuensi Maka, f T T = 100 Hz = = detik

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 20

T Sehingga,

= 0,01 detik = 0,5 T = 0,005 detik

Karena nilai

sama dengan nilai 5 kali time constant maka

dapat ditentukan nilai resistor atau kapasitornya, dengan syarat bahwa salah satu nilai resistor atau kapasitor sudah diketahui terlebih dahulu. Formula untuk menghitung nilai komponen dimaksud adalah sebagai berikut:

Dengan demikian dapat pula dihitung nilai-nilai komponen dengan mengembangkan rumus di atas. Jadi sebenarnya tidaklah sulit jika diinginkan untuk menghitung nilai komponen kapasitor atau resistor yang dipilih untuk digunakan. Tentunya di dalam benak pembaca timbul pertanyaan sebagai berikut: Bagaimana menentukan nilai komponen induktor dan resistor dari sebuah rangkain defferentiator atau integrator? Telah dijelaskan sebelumnya bahwa rumus dasar dari time constant pada rangaian R-L adalah sebagai berikut :

dimana:

= time constant R-L dalam detik L = induktansi dalam Henry R = resistansi dalam

Jika diinginkan nilai time constant R-L sebesar 1/10kali lebar pulsa dari sinyal masukkan (t) dan diketahui pula nilai induktansinya, maka nilai resistansi yang harus digunakan adalah :

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 21

Demikian pula jika diinginkan nilai time constant R-L sebesar 10 kali lebar pulsa dari sinyal masukan ( ) dan diketahui pula nilai resistansinya, maka nilai induktansi yang harus digunakan adalah :

2.2.6. Differentiator menggunakan IC Untuk membuat rangkaian defferentiator dapat memanfaatkan IC Op-Amp dengan lup umpan baliknya. Gambar berikut

memperlihatkan rangkaian dasar differentiator.

Gambar 2-14. Rangkaian dasar differentiator menggunakan IC Op-Amp

Arus yang melalui kapasitor C sebanding dengan kecepatan perubahan dari tegangan masukan. Keluaran menghasilkan arus yang sama mengalir pada resistor umpan balik. Dengan demikian tegangan keluarannya sebanding dengan kecepatan perubahan tegangan masukan. Persamaan tegangan keluarannya adalah: ( dimana: )

= tegangan keluaran dalam Volt = tegangan masukkan dalam Volt R = resistansi umpan balik dalam C = Kapasitansi umpan balik dalam Farad = perubahan waktu dalam detik

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 22

Differentiator peka terhadap perubahan frekuensi. Gambar berikut memperlihatkan rangkaian differentiator yang biasanya digunakan pada rangkaian-rangkaian yang lebih kompleks.

Gambar 2-15. Rangkaian diferentiator dalam praktek

Frekuensi diferensiasi yang tejadi dirumuskan sebagai berikut:

Penguatan

dari

rangkaian

pada

gambar

2-14,

yang

merupakan rangkaian penguat membalik adalah:

Tanda minus ( - ) pada rumus di atas berhubungan dengan pembalikkan fase antara masukan dan keluaran.

2.2.7. Integrator Menggunakan IC Dengan menukar posisi resistor umpan balik dan kapasitor pada gambar 2-14, didapatkan rangkaian integrator.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 23

Gambar 2-16. Rangkaian dasar integrator menggunakan IC Op-Amp

Rangkaian ini memiliki sifat karakteristik yang berkebalikan dengan rangkaian differentiator. Oleh sebab itu rangkaian ini disebut rangkaian integrator. Gambar 2-16 menunjukkan rangkaian dasar integrator menggunakan IC OP-Amp. Sedangkan gambar 2-17 menunjukkan rangkaian integrator menggunakan IC Op-Amp yang biasanya digunakan dalam praktek.

Gambar 2-17. Rangkaian praktis integrator menggunakan IC Op-Amp.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 24

2.3. Rangkaian pembatas (limiter) Rangkaian pembatas (limiter) adalah rangkaian yang

menggunakan komponen aktif, yaitu semi konduktor atau tabung hampa udara, yang berfungsi untuk membatasi level tegangan dari sebuah sinyal masukan. Terdapat dua jenis rangkaian limiter yang menggunakan dioda penyearah, yaitu series limiter dan shunt (parallel) limiter. Seri atau parallelnya jenis limiter yang ada, berdasarkan pada seri atau parallelnya keluaran terhadap komponen aktif dari limiter. Series diode limiter berarti keluaran seri terhadap diodanya. Sebaliknya, shunt diode limiter berarti keluaran parallel terhadap dioda. Karena sifat penyearahnya inilah, dioda dapat digunakan untuk rangkaian limiter.

2.3.1. Series Diode Limiter Dioda memiliki karakteristik dimana jika anoda lebih positif terhadap katoda, dioda tersebut dalam keadaan conduct atau mengalirkan arus. Sebaliknya, jika anoda lebih negatif dari katoda, dioda tersebut dalam keadaan unconduct atau tidak mengalirkan arus. Gambar 2-18.a menunjukkan rangkaian limiter negatif, dimana rangkaian ini membatasi masukan negatifnya, sehingga hanya dihasilkan keluaran positif saja. Tampak adanya pengurangan level tegangan pengeluaran sebesar yaitu tegangan jatuh (voltage

drop) pada dioda. Keluaran tersebut diambil berdasarkan tegangan jatuh pada resistor, sehingga jika dioda conduct berarti terdapat keluaran dan jika dioda unconduct berarti tidak dapat keluaran. Gambar 2-18b menunjukkan rangkaian limiter positif, dimana rangkaian ini membatasi masukan positifnya, sehingga hanya dihasilkan keluaran negatif saja. Tampak pula adanya pengurangan level tegangan keluaran sebesar, seperti pada limiter negatif.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 25

a. Rangkaian limiter negatif

b. Rangkaian limiter positif

Gambar 2-18. Series Dioda Limiter

2.3.2. Shunt Diode Limiter Gambar 2-19.a menunjukkan rangkaian limiter negatif. Dimana rangkaian ini membatasi masukan negatifnya, sehingga hanya dihasilkan keluaran positif saja. Namun pada keluaran negatifnya terdapat keluaran sebesar ED yaitu tegangan jatuh (voltage drop) pada dioda. Keluaran rangkaian diambil berdasarkan tegangan jatuh pada dioda, sehingga jika dioda conduct berarti terdapat keluaran sebesar voltage drop pada dioda saja dan jika dioda unconduct berarti seluruh keluaran sama dengan masukannya. Gambar 2-19.b menunjukkan rangkaian limiter positif, dimana rangkaian ini membatasi masukan positifnya, sehingga hanya dihasilkan keluaran negatif saja. Namun terdapat keluaran sebesar Eo yaitu tegangan jatuh (voltage drop) dioda pada keluaran positifnya.
Revision : 01 Date : Sept 27th 2013 Page : 26

a. Rangkaian limiter negatif

b. Rangkaian limiter positif

Gambar 2-19. Shunt Dioda Limiter

Gambar 2-20. Limiter yang membatasi di bawah nol (ground)

Dengan posisi dioda seperti tampak pada gambar 2-20, saat polaritas positif masukan diberikan, dioda unconduct sehingga keluarannya sama dengan masukan. Saat masukan berpolaritas negatif kurang dari E maka dioda tetap unconduct sehingga keluaran sama dengan masukan. Saat masukan berpolaritas negatif lebih dari

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 27

E diberikan, dioda menjadi conduct maka keluarannya sama dengan tegangan E.

Gambar 2-21. Limiter yang membatasi di bawah nol (ground)

Dengan posisi dioda seperti tampak pada gambar 2-21, saat polaritas negatif masukan diberikan, dioda unconduct sehingga keluarannya sama dengan masukan. Saat masukan berpolaritas positif kurang dari E maka dioda tetap unconduct sehingga keluarannya sama dengan masukan. Saat masukan berpolaritas positif lebih dari E diberikan, dioda menjadi conduct, maka keluarannya sama dengan tegangan E.

2.3.3. Limiter menggunakan Dioda Ganda Jenis lain dari limiter menggunakan dioda penyearah adalah penggunaan dua buah dioda untuk suatu rangkaian limiter. Dengan rangkaian seperti pada gambar 2-22, saat masukan setengah siklus polaritas positif diberikan mengakibatkan dioda D1 selalu conduct. Dalam kondisi in, jika tegangan masukan kurang dari +6 Volt, dioda D2 unconduct. Dan jika tegangan masukan lebih dari +6 Volt, dioda D2 conduct berakibat tegangan keluaran sama dengan +6 Volt. Saat masukkan setengah siklus polaritas positif diberikan mengakibatkan dioda D2 selalu conduct. Dalam kondisi in, jika tegangan masukkan kurang dari +6 Volt, dioda D1 unconduct. Dan

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 28

jika tegangan masukan lebih dari +6 Volt, dioda D1 conduct, berakibat tegangan keluaran sama dengan +6 Volt.

Gambar 2-22. Limiter Dioada Ganda

2.3.4. Zener Diode Limiter Terdapat dua jenis pengoperasian limiter menggunakan dioda zener tunggal dan menggunakan dioda zener ganda. Pada limiter dioda zener tunggal bentuk keluaran tergantung dari posisi arah pemasangan dioda zener terebut. Perhatikan gambar 2-23.

Sedangkan pada limiter dioda zener ganda pemesangan kedua dioda zener tersebut harus saling berhadap-hadapan. Perhatikan gamabr 2-24. Untuk membedakan dan mudah mengingat, pada dioda zener ini diberikan istilah clipping sebagai pengganti istilah pembatasan. EZD adalah tegangan zener dan ED adalah tegangan dioda zener dalam kondisi forward bias.

a. Negatif peak clipping

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 29

b. Positif peak clipping

Gambar 2-23. Rangkaian zener dioda limiter tunggal

(a)

(b)

Gambar 2-24. Rangkaian Zener Dioda Limiter Ganda

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 30

2.3.5. Transistor Limiter Transistor pun dapat digunakan sebagai limiter. Kondisi saturasi (jenuh) dan kondisi cut off (tersumbat) dari transistor, dapat menjadikan transistor difungsikan sebagai limiter. Pada transistor tipe NPN berarti menggunakan catu daya positif (+Vcc), kondisi saturasi akan membatasi masukan positif dan kondisi cut off membatasi masukan negatif.

Gambar 2-25. Timing diagram dari cut off transistor limiter


Date : Sept 27th 2013

Revision : 01

Page : 31

Gambar 2-26. Rangkaian cut off transistor limiter

Gambar 2-27. Rangkaian saturation transistor limiter

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 32

Gambar 2-28. Timing diagram dari saturation limiter

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 33

2.4. Rangkaian Clamping Rangkaian clamping digunakan untuk menggeser tegangan DC super impose AC berbentuk gelombang kotak ke level tagangan referensi 0 volt (zero volt). Rangkaian clamper terbagi dalam dua jenis, yaitu positif clamper dan negatif clamper.

Gambar 2-29. Timing diagram negatif dioda clamper

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 34

Rangkaian negatif clamper menggeser DC super impose AC positif ke level tegangan referensi 0 volt. Rangkaian ini berarti menggeser sabuah sinyal ke arah negatif. Tampak pada gambar 229.a, rangkaian dari negatif dioda clamper. Dan gambar 2-29.b adalah timing diagram dari rangkaian negatif dioda clamper. Rangkaian positif clamper menggeser DC super impose AC negatif ke level tegangan referensi 0 volt. Rangkaian ini berarti menggeser sebuah sinyal ke arah positif. Jenis positif atau kah negatif clamper ditentukan oleh posisi pemasangan dioda yang digunakan. Gambar 2-30.a adalah rangkaian dari positif dioda clamper. Dan gambar 2-30.b adalah timing diagram dari rangkaian positif diode clamper.

Gambar 2-30. Timing diagram positif dioda clamper

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 35

2.4.1. Biased Diode Clamper Biased diode clamper adalah rancangan untuk menggeser sinyal ke level tegangan referensi selain 0 Volt. Dengan rangkaian seperti pada gambar 2-31, dapat dihasilkan keluaran yang merupakan penggeseran level tegangan referensi ke +10 Volt (baterai E). Dengan memberikan baterai E yang lain, dapat dihasilkan rangkaian clamper yang dikehendaki. Misal E sebesar 6 Volt, maka level tegangan referensi keluaran bergeser ke +6 Volt.

Gambar 2-31. Biased Positif Clamper

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 36

BAB III MULTIVIBRATOR

3.1. Pendahuluan Multivibrator adalah rangkaian elektronika yang dapat

menghasilkan tegangan keluaran berupa gelombang kotak (square wave / rectangular wave). Keluaran dari multivibrator dapat berupa continuous wave atau keluaran yang berubah level tegangannya jika diberikan pemicu (trigger) Dalam dunia elektronika, terdapat bermacam-macam jenis rangkaian multivibrator, dimana masing-masing rangkaian dirancang untuk penggunaan yang spesifik. Frekuensi dan ketajaman atau bentuk gelombang kotak yang dihasilkan tergantung dari jenis multivibrator dan nilai dari komponen yang digunakan. Untuk lebih mudah memahami kerja multivibrator sebaiknya memilki pemahaman yang cukup tentang RC time constant, transistor switching (pensaklaran transistor) dan penggambaran timing diagram dari sinyal-sinyal yang ada di tiap-tiap titik pada rangkaian yang ada. Prinsip dasar tentang RC time constant telah dibahas pembahasan terdahulu. Sedangkan prinsip dasar transistor bekerja sebagai saklar (switching) berdasarkan kerja transistor pada daerah cut off (tersumbat) dan saturation (jenuh). Multivibrator dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu penggolongan ini berdasarkan pada: mode operasi dan lebar dari bentuk pulsa keluaran. Teradapt tiga jenis multivibrator berdasarkan moda operasi, yaitu : a. Multivibrator tidak stabil (astable multivibrator) atau sering disebut free running multivibrator. b. Monostable multivibrator (one shoot multivibrato ) c. Bistable multivibrator (flip-flop)

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 37

Terdapat dua jenis multivibrator berdasarkan lebar dari bentuk pulsa keluarannya, yaitu : a. Symmetrical multivibrator (balanced multivibrator) b. Asymmetrical multivibrator (unbalanced multivibrator)

Dalam symmetrical multivibrator, waktu (duration) atau lebar (width) dari pulsa keluaran sama dengan waktu antara pulsa yang satu dengan yang lainya (time interval). Dengan demikian bentuk gelombang kotak ini akan seimbang (balance), perhatikan gambar 3-1.

Gambar 3-1. Symmetrical square wave

Dalam asymmetrical multivibrator, waktu (duration) atau lebar (width) dari pulsa keluaran tidak sama dengan waktu antara pulsa yang satu dengan yang lainnya (time interval). Dengan demikian bentuk gelombang kotak ini tidak seimbang (unbalance), perhatikan gambar 3-2.

Gambar 3-2. Asymmetrical square wave

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 38

3.2. Astable Multivibrator Rangkaian dasar dari abstable multivibrator terdiri dari penguat yang mnggunakan R-C coupled dua tingkat. Output dari tiap-tiap transistor di kopel menyilang ke basis transistor yang lain. Jadi, astable multivibrator dibentuk dari osilator relaksasi yang menggunakan dua transistor. Rangkaian ini menghasilkan keluaran gelombang kotak yang mana frekuensinya rangkaian RC time constant. Disebut astable multivibrator, karena begitu rangkaian ditentukan oleh

diberikan sumber tegangan (satu daya) maka secara otomatis akan dihasilkan keluaran berupa gelombang kotak. Selama satu daya diberikan, multivibrator ini akan terus bekerja. Itulah sebabnya itu disebut free running multivibrator. Rangkaian akan berhenti bekerja jika satu daya dilepaskan atau diputus darinya. Perhatikan gambar 3-3 yang merupakan gambar rangkaian astable multivibrator yang memanfaatkan kopel dari kolektor.

Gambar 3-3. Symmetrical collector coupled astable multivibrator

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 39

Gambar 3-4. Timing diagram dari rangkaian pada gambar 3-3.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 40

3.3. Monostable (One-Shot) Multivibrators Dalam aplikasi tertentu, multivibrator yang harus queiscent, atau stabil, sampai action dimulai oleh sebuah pulsa tegangan dari sumber eksternal. Multivibrator kemudian pergi melalui satu siklus operasi. Setelah multivibrator selesai satu siklus, itu akan beralih ke kondisi aslinya. Tetap di sini sampai dipicu oleh pulsa lain. Sirkuit ini disebut multivibrator monostable atau one shot. Sebuah multivibrator monostable digunakan untuk menghasilkan pulsa durasi preset. Pulsa ini dapat digunakan untuk waktu, mengendalikan proses, atau terjadinya suatu peristiwa. Selain itu juga dapat digunakan untuk memberikan penundaan preset, atau pulsa durasi standar. Misalnya, ketika waktu dasar linear durasi tertentu diperlukan untuk sapuan horizontal sebuah osciloscope, monostable multivibrator juga dapat digunakan. Sebuah multivibrator monostable juga dapat digunakan mulai beberapa saat setelah terjadi sinyal sync. Hal ini juga mungkin dipicu oleh osilator free running untuk menghasilkan aliran pulsa dengan durasi preset. Emiter coupled multivibrators monostable, dan multivibrators monostable yang menggunakan perangkat solid state selain transistor konvensional, juga disertakan. Perangkat padat lainnya termasuk dioda, oksida logam silikon transistor efek medan (MOSFET) dan sirkuit terpadu penguat operasional.

3.3.1. Multivibrator Emitter-Coupled One-Shot Diagram skematik dari one-shot emiter-coupled multivibrator ditunjukkan pada gambar 3-5A. Pada sirkuit ini hanya menggunakan satu supplai. Dasar tegangan bias untuk Q1 diperoleh dari pembagi tegangan, R1 dan R2, terhubung dari VCC ke ground. Input pulsa trigger diterapkan melalui C1 dan CR1 ke basis Q1.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 41

Gambar 3-5. Emitter Coupled One Shot dan Bentuk Gelombang yang berhubungan

Analisis pengoperasian sirkuit ini seperti berikut. Berasumsi bahwa bias resistor R1 dan R2 diatur sehingga Q1 yang terpotong, dan Q2 terkonduksi dalam keadaan saturate, sebelum t1. Lihat bagian C dan D dari gambar. ketika Q1 terkonduksi, ia menetapkan sebuah tegangan common emitor resistor R5 yang menempatkan

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 42

emitor Q1 pada potensial yang relatif tinggi, lihat bagian F. Tegangan basis Q1 adalah 12,7 V, sehingga Q1 terputus, karena memiliki tegangan negatif basis-emitor. Bagian B menunjukkan pulsa trigger positif yang diterapkan dasar Q1 saat t1. Pulsa trigger ini menyebabkan konduksi untuk beralih dari Q2 ke Q1. Selama interval waktu antara t1 dan t2, C2 discharge melalui jalan yang ditunjukkan di bagian A. Beralih multvibrator normal terjadi ketika tegangan basis-emiter dari Q2 mencapai nol dan terkonduksi, dan Q1 sekali lagi dipotong. Kondisi ini berlanjut sampai penerapan pulsa trigger kedua, di t3, sekali lagi mendorong Q1 konduksi. Sirkuit juga dapat dipicu oleh trigger negatif yang diterapkan pada kolektor Q1 atau ke dasar Q2. Perlakuan diberkan sama dalam kedua kasus.

3.4. Bistable Multivibrators Pengoperasian multivibrator bistable tidak tergantung pada pengisian dan pengosongan dari kapasitor dan kapasitansi. Beralih hanya terjadi selama transfer konduksi dari satu transistor ke yang lain. Transfer dilakukan hanya dengan input pulsa pemicu amplitudo yang cukup dan polaritas yang tepat. Multivibrator bistable membutuhkan dua masukan memicu pulsa untuk menyelesaikan satu siklus operasi. seperti rangkaian memiliki dua kondisi operasi yang stabil: Q1 conduct dan Q2 cutoff, Q2 conduct dan Q1 cutoff. Tidak ada kapasitor coupling antara transistor dalam

multivibrator bistable seperti ditunjukkan pada gambar 3-6A. Operating bias pada rangkaian ditentukan oleh dua pembagi tegangan. Pembagi terdiri dari R1 dan R4 untuk transistor Q1, dan R2 dan R3 untuk transistor Q2. Tegangan pembagi yang mengatur tegangan basis masing-masing transistor dihubungkan antara VB dan kolektor dari transistor lainnya. Pada circuit operasi, ketika satu transistor conduct, tegangan kolektor tersebut cukup rendah untuk menjaga transistor lain cut-off.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 43

Anggapan tersebut ketika supply tegangan collector ditampilkan, cukup banyak arus pada Q1 daripada Q2. Sebagai hasil, tegangan drop terbesar melalui collector load resistor R5 dari pada yang melalui collector load resistor R6. Tegangan collector terendah pada Q1 ditampilkan pada base Q2, tegangan base ini menjadikannya lebih negatif. Karenanya, arus collector pada Q2 menurun, dan tegangan collectornya meningkat. Peningkatan pada tegangan collector Q2 ditampilkan pada base Q2 , membuat base ini lebih positif. Ini berkelanjutan samapi Q2 conducting dengan kuat, dan Q2nya cut off. Rangkaian tersebut memperoleh satu dari kondisi operasi stabil, seperti diindikasikan pada t0 pada Gambar 3-6C dan D, tidak ada coupling kapasitor untuk discharge dan mengendalikan base pada transistor non penghantar diatas cut off. Kemudian, rangkaian sama pada kondisi ini sampai sebuah input pulsa trigger ditampilkan. Reset positif pulsa trigger digunakan pada kaki base dari Q2, kemudian CR2 mulai switching. Pulsa trigger positif, digunakan pada t1 tidak berpengaruh aktif untuk Q. Bagaimanapun, jika pulsa trigger mencukupi amplitude, maka kaki base pada Q2 berada di atas cutoff, Q2 menyebabkan arus collector, kemudian Q2 conduct, diikuti dengan switching. Hasilnya Q2 conduct dan Q1 conduct. Rangkaian ini menghasilkkan kondisi yang stabil sampai SET pulsa positif trigger. Pada t2, rangkaian ini mengembalikan ke kondisi aslinya, Q1 conduct dan Q2 conduct. Ketika positif pulsa trigger diberikan pada t4, multivibrator bistabil dalam keadaan tidak diswitcing, pada saat Q2 saturate. Juga, ketika SET pulsa trigger diberikan pada t6, sebuah multivibrator bistabil dalam keadaan tidak diswitching, pada saat Q1 akan saturate.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 44

Gambar 3-6. Bistble multivibrator dan bentuk gelombang yang berhububgan

3.5. IC 555 Timer Di dalam dunia elektronika, baik analog maupun digital, IC 555 sangat banyak dijumpai sebagai komponen utama pewaktu (timer) dan pembangkit pulsa (pulse generator). Hal ini disebabkan karena selain harganya yang murah, juga karena IC 555 sangat mudah dalam perancangan dan stabil saat digunakan.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 45

Gambar 3-7. IC 555 timer

IC 555 diperkenalkan pertama kali oleh Signetics (diakuisisi oleh Philips) pada tahun 1971 dengan nama asli SE555/NE555 dan mendapat sebutan "The IC Time Machine". Nama 555 sendiri diambil dari penggunaan 3 buah resistor 5-kohm yang terdapat di dalam atau sebagai penyusun IC ini. Secara keseluruhan IC 555 tersusun atas 2 komparator tegangan, 1 flip-flop bistable, 1 transistor pembuangan (discharge), dan 3 resistor pembagi tegangan. Untuk mengenal lebih jauh mengenai IC 555, ada baiknya kita mengetahui juga fungsi-fungsi pin/kaki IC 555 seperti yang ditunjukkan pada susunan pin dan blok diagram IC 555 berikut.

Gambar 3-8. Pin IC 555

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 46

Gambar 3-9. Blok Diagram IC 555

Definisi dan fungsi masing-masing pin IC 555 dapat dijelaskan sebagai berikut. a. Pin 1 (GROUND) : Merupakan titik 0V komponen yang dihubungkan dengan ground rangkaian atau ground supply. Pin ini ditunjukkan komponen. b. Pin 2 (TRIGGER) : Merupakan salah satu input komparator bagian bawah yang akan dibandingkan dengan input lain pada komparator tersebut yang telah direferensikan nilainya sebesar 1/3 tegangan supply (Vs). Jika input trigger berubah dari HIGH ke LOW dan besarnya kurang dari 1/3 Vs maka komparator bagian bawah ini akan mengaktifkan flip-flop sehingga akan dihasilkan output IC 555 dalam kondisi HIGH. Pin trigger ini mempunyai impedansi yang sangat besar, yaitu > 2M oleh titik (notch) yang terdapat pada badan

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 47

c. Pin 3 (OUTPUT) : Output IC 555 dinyatakan pada pin ini. d. Pin 4 (RESET) : Digunakan untuk membuat output IC 555 dalam kondisi LOW (reset) untuk semua kondisi input. Reset akan terjadi saat pin ini diberikan tegangan sebesar 0,7V. e. Pin 5 (CONTROL) : Merupakan salah satu input komparator bagian atas dimana input lain dari komparator adalah pin Threshold pada IC 555. Pin ini digunakan untuk mengatur tegangan ambang (threshold) yang telah diatur secara default sebesar 2/3 tegangan supply (Vs). Biasanya pin ini jarang digunakan dan saat tidak digunakan pin ini dihubungkan pada titik ground rangkaian melalui sebuah kapasitor 0,01uF yang berguna untuk mengurangi gangguan noise (desah). f. Pin 6 (THRESHOLD) : Saat tegangan input pin ini berubah dari LOW ke HIGH dan besarnya lebih dari 2/3 tegangan supply (Vs) maka komparator bagian atas akan mereset flip-flop sehingga akan dihasilkan output IC 555 dalam kondisi LOW. g. Pin 7 (DISCHARGE) : Merupakan jalur pembuangan arus yang berasal dari kaki kolektor transistor NPN yang terdapat pada IC 555. Pin ini biasanya dihubungkan pada sebuah kapasitor yang juga berfungsi untuk mengatur pewaktuan (timing) IC 555. h. Pin 8 (VCC) : Sebagai input sumber tegangan DC yang digunakan untuk mengaktifkan IC 555. Sumber tegangan yang dapat digunakan sebesar 5V 15V Ada dua macam rangkaian dasar yang banyak digunakan untuk mengaplikasikan IC timer ini, yaitu rangkaian monostable dan rangkaian astable.

3.5.1. Rangkaian Monostable IC ini didesain sedemikian rupa sehingga hanya memerlukan sedikit komponen luar untuk bekerja. Diantaranya yang utama adalah resistor dan kapasitor luar (eksternal). IC ini memang bekerja dengan memanfaatkan prinsip pengisian (charging)
Page : 48

dan

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

pengosongan (discharging) dari kapasitor melalui resistor luar tersebut. Untuk menjelaskan prinsip kerjanya, coba perhatikan diagram gambar IC 555 dengan resistor dan kapasitor luar berikut ini. Rangkaian ini tidak lain adalah sebuah rangkaian pewaktu ( timer) monostable. Prinsipnya rangkaian ini akan menghasilkan pulsa tunggal dengan lama tertentu pada keluaran pin 3, jika pin 2 dari komponen ini dipicu. Perhatikan di dalam IC ini ada dua komparator yaitu Comp A dan Comp B. Perhatikan juga di dalam IC ini ada 3 resistor internal R yang besarnya sama. Dengan susunan seri yang sedemikian terhadap VCC dan GND, rangkaian resistor internal ini merupakan pembagi tegangan. Susunan ini memberikan tegangan referensi yang masing-masing besarnya 2/3 VCC pada input negatif komparator A dan 1/3 VCC pada input positif komparator B.

Gambar 3-10. Rangkaian pewaktu monostable

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 49

Pada keadaan tanpa input, keluaran pin 3 adalah 0 ( ground atau normally low). Transistor Q1 yang ada di dalam IC ini selalu ON dan mencegah kapasitor eksternal C dari proses pengisisian (charging). Ketika ada sinyal trigger dari 1 ke 0 (VCC to GND) yang diumpankan ke pin 2 dan lebih kecil dari 1/3 VCC, maka serta merta komparator B men-set keluaran flip-flop. Ini pada gilirannya memicu transistor Q1 menjadi OFF. Jika transistor Q1 OFF akan membuka jalan bagi resistor eksternal R untuk mulai mengisi kapasitor C (charging). Pada saat yang sama output dari pin 3 menjadi high (VCC), dan terus high sampai satu saat tertentu yang diinginkan. Sebut saja lamanya adalah t detik, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengisi kapasitor C mencapai tegangan 2/3 VCC. Tegangan C ini disambungkan ke pin 6 yang tidak lain merupakan input positif comp A. Maka jika tegangan 2/3 VCC ini tercapai, komparator A akan menreset flip-flop dan serta merta transistor internal Q1 menjadi ON kembali. Pada saat yang sama keluaran pin 3 dari IC 555 tersebut kembali menjadi 0 (GND). Berapa lama pulsa yang dihasilkan amat tergantung dari nilai resitor dan kapasitor eksternal yang dipasang. Dari rumus

ekponensial pengisian kapasitor diketahui bahwa : Vt = VCC(1- e-t/RC) .. (1) Vt adalah tegangan pada saat waktu t. Jika t adalah waktu eksponensial yang diperlukan untuk mengisi kapasitor sampai Vt = 2/3 VCC, maka rumus (1) dapat disubstitusi dengan nilai ini menjadi : 2/3 = 1-e-t/RC 1/3 = e-t/RC ln(1/3) = -t/RC dan seterusnya dapat diperoleh

t = (1.0986123)RC yang dibulatkan menjadi t = 1.1 RC Inilah rumusan untuk mengitung lamanya keluaran pulsa tunggal yang dapat dihasilkan dengan rangkaian monostable dari IC 555.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 50

3.5.2. Rangkaian Astable Sedikit berdeda dengan rangkaian monostable, rangkaian astable dibuat dengan mengubah susunan resitor dan kapasitor luar pada IC 555 seperti gambar berikut. Ada dua buah resistor Ra dan Rb serta satu kapasitor eksternal C yang diperlukan. Prinsipnya rangkaian astable dibuat agar memicu dirinya sendiri berulang-ulang sehingga rangkaian ini dapat menghasilkan sinyal osilasi pada keluarannya. Pada saat power supply rangkaian ini di hidupkan, kapasitor C mulai terisi melalui resistor Ra dan Rb sampai mencapai tegangan 2/3 VCC. Pada saat tegangan ini tercapai, dapat dimengerti komparator A dari IC 555 mulai bekerja mereset flip-flop dan seterusnya membuat transistor Q1 ON. Ketika transisor ON, resitor Rb seolah dihubung singkat ke ground sehingga kapasitor C membuang muatannya (discharging) melalui resistor Rb. Pada saat ini keluaran pin 3 menjadi 0 (GND). Ketika discharging, tegangan pada pin 2 terus turun sampai mencapai 1/3 VCC. Ketika tegangan ini tercapai, bisa dipahami giliran komparator B yang bekerja dan kembali memicu transistor Q1 menjadi OFF. Ini menyebabkan keluaran pin 3 kembali menjadi high (VCC). Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga terbentuk sinyal osilasi pada keluaran pin 3. Terlihat di sini sinyal pemicu (trigger) kedua komparator tersebut bekerja bergantian pada tegangan antara 1/3 VCC dan 2/3 VCC. Inilah batasan untuk mengetahui lebar pulsa dan periode osilasi yang dihasilkan. Misal diasumsikan t1 adalah waktu proses pengisian kapasitor yang di isi melalui resistor Ra dan Rb dari 1/3 VCC sampai 2/3 VCC. Diasumsikan juga t2 adalah waktu discharging kapasitor melalui resistor Rb dari tegangan 2/3 VCC menjadi 1/3 VCC. Dengan perhitungan eksponensial dengan batasan 1/3 VCC dan 2/3 VCC maka dapat diperoleh : t1 = ln(2) (Ra+Rb)C = 0.693 (Ra+Rb)C dan t2 = ln(2) RbC = 0.693 RbC

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 51

Gambar 3-11. Rangkaian osilator astable

Periode osilator adalah dapat diketahui dengan menghitung T = t1 + t2. Persentasi duty cycle dari sinyal osilasi yang dihasilkan dihitung dari rumus t1/T. Jadi jika diinginkan duty cycle osilator sebesar (mendekati) 50%, maka dapat digunakan resistor R a yang relatif jauh lebih kecil dari resistor Rb.

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 52

DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, Ibnu. 2000. Bahan Ajar Teknik Pulsa. STPI.

Anonim. 2013. Bahan Ajar Mata Kuliah Teknik Pulsa. STPI

Hamonangan,

Aswan.

2013.

IC

Timer

555.

Tersedia

pada:

http://www.electroniclab.com. Diakses pada tanggal: 2 Oktober 2013

Sasongko, Bayu. 2011. Mengenal IC Timer 555. Tersedia pada: http://etekno.blogspot.com. Diakses pada tanggal: 2013 2 Oktober

Revision : 01

Date : Sept 27th 2013

Page : 53