Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS PERUBAHAN PP RI NO.14 TAHUN 1993 DENGAN PPRI NO.

53 TAHUN 2012

AGUSTINA DWI I KELAS B R0012002

PROGRAN STUDI HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

1. Ketentuan ayat (4) Pasal 9 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal 9 ayat 4 PPRI NO 14 TAHUN 1993 Dasar perhitungan iuran jaminan Pemeliharaan kesehatan dari upah sebulan sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu) huruf d, setinggitingginya Rp.1.000.000,- (satu juta rupiah). Menjadi Dasar perhitungan iuran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan dari upah sebulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, paling tinggi 2 (dua) kali PTKP - K1 (Pendapatan Tidak Kena Pajak - Tenaga Kerja Kawin dengan Anak 1 (satu)) per bulan. KOMENTAR : Perubahan peraturan ini menyebutkan bahwa besarnya nilai jaminan pemeliharaan yang baru lebih besar 2 kali lipat disesuaikan dengan kemajuan zaman dan kebutuhan manusia. 2. Pasal 22 Ayat 1: Jaminan Kematian dibayar sekaligus kepada Janda atau Duda, atau Anak, dan meliputi: a. Santunan kematian sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah); dan b. Biaya pemakaman sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah). MENJADI Jaminan Kematian dibayarkan kepada Janda atau Duda atau Anak meliputi: a. santunan kematian dibayarkan sekaligus sebesar Rp14.200.000,00 (empat belas juta dua ratus ribu rupiah); b. biaya pemakaman dibayarkan sekaligus sebesar Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah); dan c. santunan berkala dibayarkan sebesar Rp200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) per bulan selama 24 (dua puluh empat) bulan atau dibayarkan dimuka sekaligus sebesar Rp4.800.000,00 (empat juta delapan ratus ribu rupiah) atas pilihan Janda atau Duda atau Anak tenaga kerja yang bersangkutan.

KOMENTAR Berdasarkan perubahan peraturan ini dapat dijelaskan bahwa seiring berjalannya waktu pemerintah sudah benar-benar memikirkan tentang kehidupan keluarga yang ditinggal mati oleh penanggung nafkah, dengan ditandai adanya santunan yang diberikan lebih banyak dan ada santunan berkala guna mencukupi kebutuhan yang akan datang sehingga mereka (keluarga yang ditinggal) tidak begitu saja merasakan keterpurukan ekonomi. 3. Pasal 22 Ayat 2 : Dalam janda atau Duda atau Anak tidak ada, maka Jaminan Kematian dibayar sekaligus kepada keturunan sedarah yang ada dari tenaga kerja, menurut garis lurus ke bawah dan garis lurus ke atas dihitung sampai derajat kedua. MENJADI Dalam hal janda atau duda atau anak tidak ada, maka Jaminan Kematian dibayar kepada orang tua, cucu, kakek atau nenek, saudara kandung, atau mertua dari tenaga kerja yang bersangkutan secara berurutan. KOMENTAR : Dalam hal ini, tenaga kerja yang dimaksud adalah belum menikah dan belum mempunyai keturunan, ataupun sudah menikah tetapi ditinggal istri atau suaminya, dan belum memiliki keturunan. Berdasarkan peraturan yang baru santunan kematian diberikan kepada orang yang terdekat atau kerabat terdekat ( dalam hal ini orang yang membiayai kehidupan semasa hidupnya) secara berurutan mulai dari kedua orangtuanya, sedangkan pada peraturan yang lama lebih dispesifikan pada saudara sedarahnya. 4. Pasal 22 Ayat 3 : Dalam hal tenaga kerja tidak mempunyai keturunan sedarah

sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka jaminan Kematian

dibayarkan sekaligus kepada pihak yang ditunjuk oleh tenaga kerja dalam wasiatnya. MENJADI Dalam hal tenaga kerja tidak mempunyai janda atau duda, anak, orang tua, cucu, kakek atau nenek, saudara kandung atau mertua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) maka Jaminan Kematian dibayarkan kepada pihak yang ditunjuk oleh tenaga kerja dalam wasiatnya KOMENTAR Pemberian santunan pada peraturan lama hanya terbatas pada saudara sedarahnya, jika tidak ada maka langsung diberikan kepada seseorang yang berhak mendapatkan santunan berdasarkan wasiat yang dibuat oleh tenaga kerja sebelum mati, tetapi pada peraturan baru santunan kematian diurutkan dari orang tua sampai kerabat terdekat, kalau tidak ada baru diberikan kepada seseoarang penerima santunan berdasar wasiat. Menurut saya peraturan baru lebih efektif, kaarena pemerintah mulai

memperhatikan tingkat kesejahteraan penanggung hidup tenaga kerja, jadi mereka keluarganya tidak merasa merugi. 5. Di antara ayat (3) dan ayat (4) Pasal 22 disisipkan 1 (satu) ayat, yakni ayat (3a), Dalam hal tenaga kerja tidak membuat wasiat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) maka Jaminan Kematian dibayarkan oleh Badan Penyelenggara kepada Balai Harta Peninggalan sesuai peraturan perundang-undangan. KOMENTAR : Apabila tenaga kerja tidak mempunyai ahli waris sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 3 dan tidak membuat wasiat atas jaminan kematiannya, maka jaminan kematian itu dibayarkan kepada Balai Harta Peninggalan oleh Badan Penyelenggara sesuai dengan peraturan perundangaan yanag berlaku, karena hal ini cenderung bertujuan untuk menghindari terjadinya kemelut atau perselisihan perebutan hak atas santunan jaminan kematian tersebut.

6. Pasal 26 ayat 2 Dalam hal tidak ada Janda atau Duda maka pembayaran jaminan Hari Tua sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan kepada Anak. MENJADI Dalam hal tidak ada janda atau duda atau anak maka pembayaran jaminan hari tua sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dilakukan kepada orang tua, cucu, kakek tau nenek, saudara kandung atau mertua dari tenaga kerja yang bersangkutan secara berurutan. KOMENTAR Dalam hal ini yang dimaksud dengan pemberian Jaminan Hari Tua secara berurutan pada ayat ini apabila janda atau duda atau anak tenaga kerja tidak ada maka Jaminan Hari Tua diberikan dengan urutan penerima yang dimulai dari orang tua, cucu demikian seterusnya sampai dengan mertua dari tenaga kerja yang bersangkutan. 7. Pasal 26 Ayat (3) Janda atau duda atau anak mengajukan pembayaran jaminan hari tua kepada badan penyelenggara. MENJADI Pengajuan pembayaran jaminan hari tua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disampaikan kepada badan penyelenggara. 8. Pasal 26 ayat 4 Dalam hal tenaga kerja tidak mempunyai janda atau duda, anak, orang tua, cucu, kakek atau nenek, saudara kandung atau mertua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) maka Jaminan Hari Tua dibayar kepada pihak yang ditunjuk oleh tenaga kerja dalam wasiatnya. 9. Pasal 26 ayat 5 Dalam hal tenaga kerja tidak membuat wasiat sebagaimana dimaksud pada ayat (4) maka Jaminan Hari Tua dibayarkan oleh Badan Penyelenggara kepada Balai Harta Peninggalan sesuai peraturan perundang-undangan.

10. Ketentuan Lampiran II romawi I huruf A angka 2 huruf b dan angka 3 huruf b dan huruf c diubah, dan E ditambah 1 (satu) angka yakni angka 4. I. BESARNYA JAMINAN KECELAKAAN KERJA

A. Santunan 1. Santunan Sementara Tidak Mampu Bekerja (STMB) 4 (empat) bulan pertama 100% x upah sebulan, 4 (empat) bulan kedua 75% x upah sebulan dan seterusnya 50% x upah sebulan. 2. Santunan cacat : a) Santunan cacat sebagian untuk selama-lamanya dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dengan bearnya % sesuai tabel x 80 bulan upah. b) Santunan cacat total untuk selama-lamanya diayarkan secara sekaligus (lumpsum) dan secara berkala dengan besarnya santunan adalah : b.1) Santunan sekaligus sebesar 70% x 80 bulan upah; b.2) Santunan berkala dibayarkan sebesar Rp 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) perbulan selama 24 (dua puluh empat) bulan atau dibayarkan dimuka sekaligus sebesar Rp 4.800.000,(empat juta delapan ratus ribu rupiah) atas pilihan tenaga kerja yang bersangkutan. c) Santunan cacat kekurangan fungsi dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dengan besarnya santunan adalah : % berkurangnya fungsi x % sesuai tabel x 80 (delapan puluh) bulan upah. 3. Santunan kematian dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dan secara berkala dengan besarnya santunan adalah : a. Santunan sekaligus sebesar 60% x 80 bulan upah, sekurangkurangnya sebesar santunan kematiasn; b. Santunan berkala dibayarkan sebesar Rp 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) perbulan selama 24 (dua puluh empat) bulan atau dibayarkan dimuka sekaligus sebesar Rp 4.800.000,- (empat juta

delapan ratus ribu rupiah) atas pilihan janda atau duda atau anak tenaga kerja yang bersangkutan; c. Biaya pemakaman dibayarkan sekaligus sebesar Rp 2.000.000,(dua juta rupiah). B. Pengobatan dan perawatan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk : 1. Dokter; 2. Obat; 3. Operasi; 4. Rontgen, laboratorium; 5. Perawatan puskesmas, rumah sakit umum pemerintah kelas I atau swasta yang setara; 6. Gigi; 7. Mata; dan/atau 8. Jasa tabib/sinshe/tradisional yang telah mendapat ijin resmi dari instansi berwenang. Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk peristiwa kecelakaan tersebut pada B.1 sampa B.8 dibayar maksimum sebesar Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah). Biaya penggantian gigi tiruan maksimal Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah). C. Biaya rehalibitasi harga berupa penggantian pembelian alat bantu (orthose) dan/atau alat pengganti (prothose) diberikan satu kali untuk setiap kasus dengan patokan harga yang ditetapkan oleh Pusat Rehalibitasi Rumah Sakit Umum Pemerintah dan ditambah 40% (empat puluh persen) dari harga tersebut serta biaya rehabilitasi medik maksimum sebesar Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah). D. Penyakit yang timbul karena hubungan kerja. Besarnya santunan dan biaya pengobatan/biaya perawatan sama dengan huruf A dan huruf B.

E. Biaya pengangkutan tenaga kerja dari tempat kejadian kecelakaan ke rumah sakit diberikan biaya penggantuan sebagai berikut : 1. Apabila hanya menggunakan jasa angkutan darat/sungai/danau maksimum sebesar Rp 750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah); 2. Apabila hanya menggunakan jasa angkutan laut maksimal sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah); 3. Apabila hanya menggunakan jasa angkutan udara maksimal Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah); 4. Apabila menggunakan lebih dari 1 (satu) jenis jasa angkutan, maka berhak atas biaya maksimal dari masing-masing angkutan sebagaimana dimaksud pada angka 1, angka 2 dan/atau angka 3.

ANALISIS : Peraturan pemerintah yang baru untuk merevisi atau memperbaiki bahkan menambah jumlah point perlindungan terhadap tenaga kerja ini disesuaikan dengan kebutuhan manusia sekarang ini yaang semakin meningkat. Kebanyakaan pemerintah merubah jumlah nominal uang santunan jaminan hari tua dan jaminan kematian menjadi lebih besar, dan itu baik karena pemerintah sudah benar-benar mempertimbangakan berbagai aspek perubahan global yang terjadi, yang menjadikan nilai tukar rupiah kita menjadi kecil di pasar Internasional dan cenderung mengakibatkan lonjakan harga kebutuhan kita di Indonesia. Pemerintah juga menambahkan poin dalam peraturan, jika keluarga yang ditinggal oleh tenaga kerja wajib mendapat santunan secara berkala selama 2 tahun, hal ini saya kira untuk menjamin kehidupan sehari-hari keluarga, sehingga pihak yang ditinggal bisa mempersiapkan diri untuk survive menjadi lebih maju sepeninggal tenaga kerja. Peraturan Pemerintah kita yang baru sudah lebih detail dan rinci dalam memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi sepeninggal tenaga kerja, sehingga untuk menghindari terjadinya perselisihan perebutan hak waris mereka menentukan dalam peraturan siapa-siapa saja yang berhak mendapatkan hak waris sesuai dengan urutan berdasarkan tingkat kekerabatan kepada tenaga

kerja. Menurut saya, perubahan-perubahan seperti ini harus dilakukan secara berkala disesuaikan dengan situasi yang terjadi saat ini, sehingga tidak ada pihak yang merugi dan dirugikan.