Anda di halaman 1dari 4

A. Amenore Pada pasien dengan cirri-ciri seks sekunder normal 1. Gangguan ovarium primer a.

Genesis gonad : hipogonadisme dapat terjadi akibat tidak berkembangnya ovarium ataupun perkembangan yang tidak lengkap. Kelainan ini dapat disebabkan pengaruh lingkungan pada tahap awal kehamilan b. Syndrome turner (disgenesis gonad) Sindrom turner dan varian disgenesis gonad terkait merupakan penyebab hipogonadisme congenital yang tersering. Kariotip penderita syndrome ini seringkali 45.X. dimana kromosom X kedua tidak ditemukan . selain ketidak matangan seksual, maka gambaran klinik berupa perawakan tubuh yang pendek, leher berlipat, dada temeng dan deformitas valgus pada siku. . disgenesis gonad juga dapat terjadi pada keberadaan banyak garis-garis sel dengan komposisi kromosom yang bervariasi. Keadaan ini dikenal dengan mosaikisme. Banyak pasien dengan mosaikisme memiliki sifat-sifat fenotip yang khas syndrome turner, dan diagnosis dapat ditegakkan sebelum terjadinya pubertas. Suatu kariotip dapat dilakukan pada semua pasien ini guna menentukan ada tidaknya kromosom Y. pasien-pasien yang memiliki kromosom Y perlu menjalani laparotomi dan eksisi daerah gonad guna mencegah perkembangan gonadoblastoma. Juga perlu dicatat bahwa pasien-pasien dengan konstituen XX pada mosaikisme dapat memeilkiki jaringan ovarium fungsional. Pada sebagian kasus pubertas berlangsung normal (termasuk menstruasi), dan penderita mampu bereproduksi. Namun demikian individu-individu ini sering mengalami Monopause dini c. Defisiensi 17-Hidroksilase (P450c17) Hipogonadisme dan kadar gonadotropin yang tinggi dapat dijumpai pada pasien-pasien dengan defisiensi 17 -Hidroksilase, suatu bentuk hyperplasia adrenal congenital yang langka di mana terjadi gangguan dalam konversi pregnenolon dan progesterone menjadi kortisol,

dan menjadi androgen dan estrogen. Gangguan ini menyebabkan peningkatan produksi deoksikortikosteron dan kortikosteron,

menyebabkan hipokalemia dan hipertensi. 1. Gangguan akibat penyakit pada system saraf pusat a. Hipogonadotropsme dan anosmia Syndrome yang srupa dengan syndrome kallman . pada syndrome ini pasien gagal menjadi dewasa pada waktu yang diperkirakan untuk terjadinya pubertas dan ditemukan memiliki kadar gonadotropin yang rendah, perawakan tubuh normal, anosmia, dan suatu kariotip wanita. Gangguan ini diyakini melibatkan kegagalan perkembangan lobus olfaktorius dan suatu defisiensi GnRH. Ovulasi dapat dirangsang dengan injeksi gonadotropin menopause dan injeksi berdenyut GnRH. b. Tumor Hipofisis dan system saraf pusat Pra-puberta Gangguan ataupun tumor pada hiposfisis dan system saraf pusat yang mengganggu fungsi ovarium misalnya kraniofaringeoma, dan adenoma hipofisis.

Amenorea pada pasien dengan ciri-ciri seks sekunder Normal a. Kelainan pada saluran keluar Kelainan ini pasien yang tidak dapat induksi untuk mengalami perdarahan setelah beberapa kali usaha pemberian estrogen bersama dengan suatu obat progestasional, dapat dianggap mengalami kelainan pada saluran keluarnya. Pada pasien-pasien ini , ada tidaknya opulasi dapat ditentukan dengan mengikuti suhu basal selama sebulan atau lebih, atau dengan mengukur kadar progesterone serum sekali seminggu selama beberapa minggu. a. Cacat Mullerian

Pada wanita tanpa riwayat perdarahan vagina, maka perlu dipertimbangkan kelainan perkembangan tuba mulleri. Kelainankelainan ini mulai dari hymen imperforate hingga tidak adanya struktur struktur mulleri secara total. Jika ada uterus yang berlapis endometrium, maka gangguan ataupun sumbatan pada saluran keluar oleh suatu serviks abnormal, sumbatan pada kanalis vaginalis, ataupun sumbatan pada hymen imperforate biasanya disertai kumpulan darah menstruasi proksimal atau akumulasi darah di kavum peritoneum. b. Syndrome asherman (sinekia Uteri) Pada wanita sebelumnya yang sudah mengalami menstruasi teratur, maka pengrusakan rongga endometrium oleh infeksi kronik seperti tuberculosis atau kerusakan endometrium akibat kuretase dapat menyebabkan amenore. Parut seperti ini (syndrome Asherman) cukup sering terbentuk dan dapat diatasi dengan dilatasi yang berhati-hati dibawah histerokopi, yang diikuti penyelipan suatu kateter foley atau alat lain guna mencegah berulangnya perlengketan. Pengobatan perlu menyertakan

antibiotic spectrum luas selama 10 hari setelah prosedur dilakukan, dan stimulasi siklik perkembangan endometrium dengan estrogen dosis tinggi plus suatu progestin c. Gangguan gonad primer Pada pasien-pasien dengan amenorea dan saluran ke luar normal, maka kelainan fungsi ovarium dapat diakibatkan gangguan pada ovarium sendiri atau pun pada mekanisme kontrolnya. FSH plasma yang lebih dari 40mIU/mL disertai kadar LH yang tinggi merupakan bukti bukti kegagalan produksi hormone ovarium. Keadaan ini merupakan diagnosis yang sangat serius, tidak saja karena defisiensi hormone (yang dapat dikoreksi). Tetapi juga

karena dan bahkan merupakan alas an yang lebih penting tidak adanya aparat folikular fungsional menyebabkan sterilisasi. Karena alas an inilah adalah bernilai untuk mengulangi tes ini agar ykin bahwa tidak terjadi kealahan. Pada wanita menjelang menopause, terkadang dijumpai peninggian kadar gonadotropin pada siklussiklus ovulatori. Namun demikian, salah diagnosis pada kelompok pasien ini nyaris tidak berarti secara klinis kecuali jika pasien tersebut hamil. Kegagalan ovarium kadang-kadang terjadi pada wanita dibawah usia 35 tahun menyusul pematangan seksual spontan . pada sebagian pasien, kegagalan ovarium telah dikaitkan dengan adanya antibody terhadap ovarium dan agaknya akibat kerusakan auto imin pada ovarium . kegagalan ini sering disertai dengan autoantibody terhadap kelenjar lain seperti tiroid dan adrenal(sindrom schmidt). Pada psien-pasien lain, ovarium memperlihatkan sedikit folikel primordial, dan sebagian kasus menyerupai ovarium monopase