Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI KULTUR ORGAN

Nama NIM Kelompok Asisten

: Gerry P.A. Hasni : 125040200111047 : Selasa, 15.00 minggu kedua :

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dengan semakin berkembangnya usaha di bidang pertanian, maka kebutuhan bibit semakin meningkat. Melalui perbanyakan konvensional sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan bibit yang sangat banyak dengan waktu yang relatif cepat. Oleh karena itu, ditemukan terobosan baru seperti teknik kultur jaringan. Proses pelaksanaan kultur jaringan yang paling akhir yakni penanaman eksplan. Pada penanaman ekspaln, lingkungan yang digunakan haruslah dalam kondisi yang aseptik. Oleh karenanya penanaman biasanya dilakukan di ruangan yang steril yang terdapat Enkas di dalamnya. (Enkas sendiri merupakan sebuah kotak dengan tepi yang transparan dan terdapat lubang untuk tangan, atau dengan menggunakan LAF (Laminar Air Flow).

1.2 Tujuan Mengetahui syarat eksplan dan faktor penentu dalan kultur jaringan, memahami tahap-tahap kultur jaringan, serta jenis kontaminasi, pengaruh media dan tahapan dalam pertumbuhan eksplan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Syarat eksplan dalam kultur jaringan eksplan atau bahan tanam adalah bagian kecil jaringan atau organ yang diambil/dipisahkan dari tanaman induk kemudian dikulturkan. Ketepatan dalam menyiapkan eksplan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi inisiasi eksplan 1) Deskripsi varietas tanaman sumber bahan eksplan. Dalam upaya menghasilkan tanaman induk yang sesuai dengan kriteria diatas dapat dilakukan dengan cara mengkondisikan tanaman induk dalam lingkungan yang lebih terkendali, misalnya dengan cara mencangkok tanaman induk, kemudian ditanam dalam pot dan dipelihara secara optimal di dalam green house/net house. 2) Persyaratan bagian tanaman sebagai bahan eksplan. Bagian tanaman yang dapat dijadikan eksplan adalah ujung akar, pucuk, daun, bunga, buah muda, dan tepung sari. Faktor yang dimiliki eksplan itu sendiri yaitu ukuran, umur fisiologis, sumber genotip dan sterilitas eksplan yang akan menentukan berhasil tidaknya pengkulturan eksplan. Ukuran eksplan yang terlalu kecil

mempunyai daya tahan kurang dibandingkan dengan ukuran eksplan yang lebih besar. Ukuran eksplan yang paling baik adalah antara 0,5 sampai 1 cm, tetapi hal ini tidak mutlak pada semua eksplan, tergantung pada material tanaman yang dipakai serta jenis tanaman. Umur fisiologis eksplan berpengaruh terhadap kemampuannya untuk beregenerasi. Jaringan tanaman yang masih muda yang meristematik (sel-selnya masih aktif membelah) lebih mudah beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang sudah tua, sehingga bagian tanaman yang meristemik paling banyak berhasil bila dijadikan eksplan. Yang termasuk jaringan meristematik adalah pucuk apikal, pucuk lateral dan pucuk axial. Bahan tanam dapat diambil dari tanaman dewasa, yaitu pada bagian pucuk tanaman, daun atau umbi. Untuk eksplan dari daun, digunakan daun yang tidak terlalu muda juga tidak terlalu tua. Pemotongan eksplan dengan menyertakan ibu tulang daun, karena pada bagian ini lebih cepat tumbuh kalus. Apabila bahan tanam (eksplan) berasal dari umbi, biasanya umbi ditumbuhkan dulu tunasnya. Bagian tunas inilah yang dijadikan sebagai eksplan, contohnya pada tanaman kentang. Biji dapat pula dijadikan sebagai eksplan. Sebaiknya biji dipilih yang bersertifikat atau dipetik langsung dari tanaman induknya yang sudah diketahui keunggulan sifatnya. Bagian-bagian biji seperti embrio atau kotiledon dapat dijadikan sebagai

eksplan, misalnya pada tanaman paprika dan jarak. Atau biji dapat langsung ditanam pada media agar contohnya biji anggrek. 3) Karakter bagian tanaman sebagai bahan eksplan. Pemilihan bagian tanaman sebagai bahan eksplan menentukan keberhasilan eksplan untuk dikulturkan. Pada dasarnya setiap bagian tanaman dapat dijadikan sebagai bahan eksplan, tetapi dalam memilih bagian tanaman yang akan dikulturkan harus mempertimbangkan faktor kemudahan beregenerasi dan tingkat kontaminasinya. Bagian tanaman yang banyak mengandung persediaan makanan serta bahanbahan lain untuk pertumbuhan, seperti umbi adalah lebih mudah untuk beregenerasi dibanding dengan bagian tanaman yang kurang mengandung bahan makanan. Bagian yang berasal dari akar yang tumbuh di dalam tanah, tingkat kontaminannya lebih tinggi dibandingkan dengan bagian-bagian tanaman yang ada diatas permukaan tanah seperti pucuk atau daun (Muslim,2010)

2.2 Faktor penentu keberhasilan kultur jaringan Kultur jaringan tanaman akan berhasil apabila lingkungan mendukung. Syarat-syarat tersebut meliputi: 1. pemilihan eksplan 2. penggunaan media yang sesuai 3. keadaan yang aseptic 4. pengaturan lingkungan tempat tumbuh yang sesuai. 5. Komposisi media yang tepat dan proses sterilisasi mempengaruhi keberhasilan dari kultur jaringan. (Santoso, 2001)

2.3 Tahap kultur jaringan Didalam melakukan Kultur Jaringan ada tahaptahap yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut: 1. Pembuatan Media Media merupakan faktor penetu dalam keberhasilan suatu budidaya pada kultur jaringan karena medialah tempat yang menjadi pertumbuhannya tanaman. Komposisi media yang digunakan tergantung jenis tanaman yang akan ditanam 2. Inisiasi Inisiasi merupakan pengambilan eksplan / inokulum dari bagian tanaman yang akan

dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan jaringan adalah tunasnya. Inokulum dapat diambil dari potongan yang berasal dar kecambah atau jaringan tanaman dewasa yang mengandung jaringan meristem. 3. Sterilisasi Sterilisasi merupakan kegiatan dikultur jaringan untuk pengupayan bebas dari kontaminan dari luar yang kiranya dapat mengganggu pertumbuhan pada kultur jaringan. Sterilisai biasanya dengan menggunakan penyemprotan dengan etanol. Dalam kultur jaringan harus selalu steril baik diluar maupun di dalam. 4. Multiplikasi Multiplikasi merupakan kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Perlakuannya dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan dalam keadaan steril dengan suhu kamar. 5. Pengakaran Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun

jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). 6. Aklimatisasi Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hatihati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. (Smith, 2000)

2.4 Jenis kontaminasi pada eksplan Kontaminasi merupakan proses yang lazim terjadi di setiap kegiatan kultur jaringan tumbuhan. Kontaminan dapat berasal dari eksplan, lingkungan kerja, ataupun alat inokulasi dimana responnya dapat berlangsung dalam waktu cepat atau beberapa waktu setelah inokulasi eksplan. Pada umumnya, kontaminasi yang terjadi beberapa waktu (misalnya 1 bulan) setelah inokulasi dikarenakan kontaminan

berada di dalam jaringan eksplan dan disebut kontaminan internal dimana penanggulangannya tidak cukup dengan sterilisasi pada permukaan eksplan. Jika ditinjau dari kecepatan (waktu) kontaminasi, maka kontaminasi dibagi menjadi dua. Yaitu initial dan latent contamination. Dinamakan initial contaminant karena kontaminasi muncul beberapa hari setelah inokulasi. Initial contaminant merupakan jenis kontaminasi yang dapat disebabkan karena materi kultur (eksplan) yang berasal dari greenhouse atau lapangan terlalu kotor dan sterilisasi yang dilakukan kurang optimal. Sedangkan latent contamination merupakan kontaminasi yang muncul pada saat 30 hari (satu bulan) setelah inokulasi dan biasanya kontaminan bersifat internal atau berada di dalam jaringan tumbuhan. Kontaminan yang paling sering menyerang eksplan adalah bakteri dan fungi. Respon eksplan terhadap bakteri adalah 224 jam, sedangkan respon eksplan terhadap fungi adalah 124 jam. Bakteri yang mengkontaminasi eksplan akan membentuk gumpalan lumpur pada permukaan medium dan berwarna kuning atau orange sedangkan fungi berwarna putih dan berbentuk bulu-bulu halus, biasanya menyerang permukaan ujung atas eksplan. (Santoso, 2001)

2.5 Pengaruh media terhadap pertumbuhan eksplan Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengankultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media kultur yang baik seharusnya menyediakan unsur hara baik makro maupun mikro,sumber vitamin dan asam amino, sumber karbohidrat, zat pengatur tumbuh, senyawa organik sebagai tambahan seperti air kelapa,ekstrak buah dll, bahan pemadat: agar-agar dan gelrite dan jugamenyediakan arang aktif untuk kasus tertentu untuk tanaman (Sriyanti, 1994) 2.6 Tahapan pertumbuhan eksplan 1. Pemilihan dan Penyiapan Tanaman Induk Sumber Eksplan Sebelum melakukan kultur jaringan untuk suatu tanaman, kegiatan yang pertama harus dilakukan adalah memilih bahan induk yang akan diperbanyak. Tanaman tersebut harus jelas jenis, spesies, dan varietasnya serta harus sehat dan bebas dari hama dan penyakit. Tanaman indukan sumber eksplan tersebut harus dikondisikan dan dipersiapkan secara khusus di rumah kaca atau greenhouse agar eksplan yang akan dikulturkan sehat dan dapat tumbuh baik

serta bebas dari sumber kontaminan pada waktu dikulturkan secara in-vitro.Lingkungan tanaman induk yang lebih higienis dan bersih dapat meningkatkan kualitas eksplan. Pemeliharaan rutin yang harus dilakukan meliputi: pemangkasan, pemupukan, dan penyemprotan dengan pestisida (fungisida, bakterisida, dan insektisida), sehingga tunas baru yang tumbuh menjadi lebih sehat dan dan bersih dari kontaminan. Selain itu pengubahan status fisiologi tanaman induk sumber eksplan kadang-kadang perlu dilakukan seperti memanipulasi parameter cahaya, suhu, dan zat pengatur tumbuh. Manipulasi tersebut bisa dilakukan dengan mengondisikan tanaman induk dengan fotoperiodisitas dan temperatur tertentu untuk mengatasi dormansi serta penambahan ZPT seperti sitokinin untuk merangsang tumbuhnya mata tunas baru dan untuk meningkatkan reaktivitas eksplan pada tahap inisiasi kultur. 2. Inisiasi Kultur Tujuan utama dari propagasi secara in-vitro tahap ini adalah pembuatan kultur dari eksplan yang bebas mikroorganisme serta inisiasi pertumbuhan baru. Pada tahap ini mengusahakan kultur yang aseptik atau aksenik. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme, sedangkan aksenik berarti

bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam tahap ini juga diharapkan bahwa eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi pertumbuhan baru, sehingga akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat,untuk perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya. Untuk mendapakan kultur yang bebas dari kontaminasi, eksplan harus disterilisasi. Sterilisasi merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan mikroorganisme yang menempel di permukaan eksplan. beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk mensterilkan permukaan eksplan adalah NaOCl, CaOCl2, etanol, dan HgCl2.Kesesuaian bagian tanaman untuk dijadikan eksplan, dipengaruhi oleh banyak faktor. Tanaman yang memiliki hubungan kekerabatan dekat pun, belum tentu menunjukkan rspon in-vitro yang sama. Penggunaan eksplan yang tepat merupakan hal penting yang juga harus diperhatikan pada tahap ini. Umur fisiologis dan ontogenetik tanaman induk, serta ukuran eksplan bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan, merupakan faktor penting dalam tahap ini. Bagi kebanyakan tanaman, eksplan yang sering digunakan adalah tunas pucuk (tunas apikal) atau mata tunas lateral pada potongan batang berbuku. Namun belakangan ini, eksplan potongan daun yang

dulunya hanya digunakan untuk tanamantanaman herba, seperti violces, begonia, petunia dan tomat, ternyata dapat digunakan juga untuk tanaman-tanaman berkayu seperti Ficus lyrata, Annona squamosa, dan melinjo. Eksplan yang dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman Anthurium sendiri diantaranya adalah tunas pucuk, daun, tangkai daun muda, tangkai bunga, spate, spandik, biji, ruas batang dan anther. Umur fisiologis dan umur ontogenetik jaringan tanaman yang dijadikan eksplan juga berpengaruh terhadap potensi morfogenetiknya. Umumnya, eksplan yang berasal dari tanaman juvenile mempunyai daya regenerasi tinggi untuk membentuk tunas lebih cepat dibandingakan dengan eksplan yang berasal dari tanaman yang sudah dewasa. Masalah yang sering dihadapi pada kultur tahap ini adalah terjadinya pencokelatan atau penghitaman bagian eksplan (browning). Hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang timbul akibat stress mekanik yang timbul akibat pelukaan pada waktu proses isolasi eksplan dari tanaman induk. Senyawa fenol tersebut bersifat toksik, menghambat pertumbuhan atau bahkan dapat mematikan jaringan eksplan.

3. Multiplikasi atau Perbanyakan Propagul Tahap ini bertujuan untuk menggandakan propagul atau bahan tanaman yang diperbanyak seperti tunas atau embrio, serta memeliharanya dalam keadaan tertentu sehingga sewaktu-waktu bisa dilanjutkan untuk tahap berikutnya. Pada tahap ini, perbanyakan dapat dilakukan dengan cara merangsang terjadinya pertumbuhan tunas cabang dan percabangan aksiler atau merangsang terbentuknya tunas pucuk tanaman secara adventif, baik secara langsung maupun melalui induksi kalus terlebih dahulu. Seperti halnya dalam kultur fase inisiasi, di dalam media harus terkandung mineral, gula, vitamin, dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan secara tepat. Hormon yang digunakan untuk merangsang pembentukan tunas tersebut berasal dari golongan sitokinin seperti BAP, 2-iP, kinetin, atau thidiadzuron (TDZ). Kemampuan memperbanyak diri yang sesungguhnya dari suatu perbanyakan secara in-vitro terletak pada mudah tidaknya suatu materi ditanam ulang selama multiplikasi. Eksplan yang dalam kondisi bagus dan tidak terkontaminasi dari tahap inisiasi kultur dipindahkan atau di subkulturkan ke media yang mengandung sitokinin. Subkultur dapat dilakukan berulang-ulang kali sampai jumlah tunas

yang kita harapkan, namun subkultur yang terlalu banyak dapat menurunkan mutu dari tunas yang dihasilkan, seperti terjadinya penyimpangan genetik (aberasi), menimbulkan suatu gejala ketidak normalan (vitrifikasi) dan frekuensi terjadinya tanaman off-type sangat besar. 4. Pemanjangan Tunas, Induksi, dan Perkembangan Akar Tujuan dari tahap ini adalah untuk membentuk akar dan pucuk tanaman yang cukup kuat untuk dapat bertahan hidup sampai saat dipindahkan dari lingkungan invitro ke lingkungan luar. Dalam tahap ini, kultur tanaman akan memperoleh ketahanannya terhadap pengaruh lingkungan, sehingga siap untuk diaklimatisasikan. Tunas-tunas yang dihasilkan pada tahap multiplikasi di pindahkan ke media lain untuk pemanjangan tunas. Media untuk pemanjangan tunas mengandung sitokinin sangat rendah atau tanpa sitokinin. Tunas tersebut dapat dipindahkan secara individu atau berkelompok. Pemanjangan tunas secara berkelompok lebih ekonomis daripada secara individu. Setelah tumbuh cukup panjang, tunas tersebut dapat diakarkan. Pemanjangan tunas dan pengakarannya dapat dilakukan sekaligus atau secara

bertahap, yaitu setelah dipanjangkan baru diakarkan. Pengakaran tunas in-vitro dapat dilakukan dengan memindahkan tunas ke media pengakaran yang umumnya memerlukan auksin seperti NAA atau IBA. Keberhasilan tahap ini tergantung pada tingginya mutu tunas yang dihasilkan pada tahap sebelumnya. Disamping itu, beberapa perlakuan yang disebut hardening in vitro telah dilaporkan dapat meningkatkan mutu tunas sehingga planlet atau tunas mikro tersebut dapat diaklimatisasikan dengan persentase yang lebih tinggi. Beberapa perlakuan yang bisa dilakukan sebagai berikut: Mengondisikan kultur di tempat yang pencahaannya berintensitas lebih tinggi (contohnya 10000 lux) dan suhunya lebih tinggi.Pemanjangan tunas mikro dilakukan dalam media kultur dengan hara mineral dan sukrosa lebih rendah dan konsentrasi agaragar lebih tinggi. 5. Aklimatisasi Dalam proses perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, tahap aklimatisasi planlet merupakan salah satu tahap kritis yang sering menjadi kendala dalam produksi bibit secara masal. Pada tahap ini, planlet atau tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol seperti rumah kaca , rumah plastik, atau screen house (rumah kaca kedap

serangga). Proses ini disebut aklimatisasi. Aklimatisasi adalah proses pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika pengakaran dilakukan secara ex-vitro) di lingkungan baru yang aseptik di luar botol, dengan media tanah, atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Prosedur pembiakan dengan kultur jaringan baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. Tahap ini merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik, rumah bibit, dan lapangan sangatlah jauh berbeda dengan kondisi iklim mikro di dalam botol. Kondisi di luar botol bekelembaban nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi dalam botol. Planlet atau tunas mikro lebih bersifat heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik, serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan. Disamping itu tanaman tersebut memperlihatkan beberapa gejala ketidak normalan, seperti bersifat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vaskulernya tidak berkembang sempurna, morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagai mana mestinya. Strutur mesofil berubah, dan

aktifitas fotosintesis sangat rendah. Dengan karakteristik seperti itu, palanlet atau tunas mikro mudah menjadi layu atau kering jika dipindahkan ke kondisi eksternl secara tibatiba. Karena itu, planlet atau tunas mikro tersebut diadaptasikan ke kondisi lngkungan yang baru yang lebih keras. Dengan kata lain planlet atau tunas mikro perlu diaklimatisasikan. (Hendrayanto, 2003)

DAFTAR PUSTAKA

Hendrayanto. D.P.S., 2003. Teknik Kultur Jaringan, Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Secara Vegetatif Modern. Kansius:Yogyakarta. Muslim, Ahmadi. 2010. Kultur Jaringan Tumbuhan. http://mediakulturjaringan.blogspot.com/2010/12/k ultur-jaringan-tumbuhan.html. Diakses pada tanggal 1 Desember 2013. Santoso, Untung dan F. Nursandi. 2001. Kultur Jaringan Tanaman. Unibraw Press. Malang. Smith, R.H. 2000. Plant Tissue Culture: Techniques and Experiments. Academic press, London. Sriyanti, Daisy P. 1994.Teknik Kanisius.Yogyakarta Kultur Jaringan.

Eka Handayani, Sakka Samudin,Zainuddin Basri.2013. PERTUMBUHAN EKSPLAN BUAH NAGA (Hylocereus undatus) PADA POSISI TANAM DAN KOMPOSISI MEDIA BERBEDA SECARA IN VITRO. e-J. Agrotekbis 1 (1) : 1-7, April 2013. ISSN : 2338-3011.

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat Bahan dan Fungsi 3.1.1 Alat : Pinset : Untuk mengambil benda berukuran kecil Skalpel : Untuk memotong bahan. Petridish : Sebagai wadah / tempat membuang carrier. LAFC :Tempat melakukan kultur. Sprayers : Untuk menyemprotkan larutan. Mata pisau : Untuk memotong ujung organ. Gelas Ukur 400 ml :Untuk meletakkan larutan. Botol Kultur : Sebagai tempat media. Saringan : Untuk menyaring larutan. Spatula : Untuk mengambil media kultur. Bunsen : Untuk mensterilkan media dan untuk menghindari kontaminasi alat.

3.1.2 Bahan : Tunas Krisan Deterjen Bayclean Aquades Fungisida Etanol (C2H5OH) 700% : Sebagai tanaman yang akan di kultur. : Untuk membersihkan bahan dari kotoran. : Untuk memutihkan bahan kultur. : Untuk pencampuran bahan :Untuk mencegah tumbuhnya jamur. : Sebagai bahan dalam media kultur organ. Dan juga untuk mensterilkan bahan kultur agar tidak terjadi kontaminasi dari bakteri dan jamur.

3.2 Cara Kerja Sterilisasi Ambil eksplan dari tanaman hidup

Gojok eksplan dengan deterjen 10% (10 g/100 %) selama 5 menit

Bilas dengan air yang biasanya mengalir

Rendam dalam larutan fungisida 5 % (5 g/100 %) selama 5 menit

Bilas dengan air yang mengalir

Cuci dengan Clorox (Bayclean) 10 %

Aduk dengan spatula

Rendam dengan aquades steril

Penanaman Eksplan Potong bagian bagian eksplan

Tanam semua bagian tadi kealam MS

Tutup botol kultur dengan plastik dan karet

Ikat dengan karet (nb: mulut tutup botol disemprot alkohol terlebih dahulu)

Lakukan pengamatan 3 hari sekali selama 2 minggu

Dokumentasi botol kultur (lihat yang terkontaminasi)

3.3 Analisa Perlakuan Pertama sekali kita harus melakukan sterilisasi terhadap bahan perlakuan maupun alat-alat yang akan digunakan untuk melakukan kultur jaringan. Dalam praktikum ini bahan yang diguakan untuk mensterilkan bahan praktikum adalah fungisida, Clorox, dan baycline. Kemudian hal yang perlu diperhatikan adalah saat pembilasan air haruslah dengan air yang mengalir. Hal ini disebabkan agar eksplan tidak mudah terkontaminasi dengan air bekas bilasan yang telah digunakan. Kemudian pencucian dengan Clorox atau bayclean ditujukan karena bayclean memiliki kandungan yang dapat membersihkan eksplan dari berbagai macam

kontaminan. Setelah dicuci dengan bahan-bahan tersebut direndam dengan aquades steril dan dibilas. Selanjutnya pada saat penanaman ekpslan, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah sterilisasi. Setiap bahan dan alat yang akan digunakan harus dalam kondisi yang steril. Termasuk juga kita. Sebelum kita melakukan penanaman eksplan di dalam Laminar air Flow Cabinet, semprotkan alcohol ke tangan kita sesudah memakai sarung tangan lateks. Dan juga menggunakan masker agar tidak terjadi kontaminasi dari mulut. Begitu juga dengan peralatan yang akan digunakan seperti pinset dan scalpel, haruslah direndam alcohol apabila tidak diunakan, dan apabila akan digunakan harus di panaskan terlebih dahulu di atasapi Bunsen. Semua ini dilakukan dengan tujun sterilisasi agar semua proses pengerjaan dilakukan dengan alat dan bahan yang steril karena penanaman eksplan ini sangatlah mudah terkena kontaminan yang dapat menggalalkan penanaman eksplan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil No. Tanggal Pengamatan 22-11-2013 Dokumentasi Kondisi Eksplan Kontaminan / Tidak Kontaminan Tidak kontaminan Keterangan

1.

Eksplan masih baik-baik saja keadaanya pada pengamatan awal

Tidak kontaminan 2. 25-11-2013

Belum ada kerusakan yang terlihat pada ke seluruh eksplan

Tidak kontaminan 3. 28-11-2013

Ada 1 eksplan yang rusak, karena disebabkan kontaminasi jamur namun untuk eksplan yang lainnya berhasil

4.2 Pembahasan Pada pembuatan kultur organ kali ini didapatkan bahwa dari ke 10 eksplan 9 diantaranya berhasil dan 1 gagal. Hal itu mungkin disebabkan karena posisi tanam eksplan yang kurang tepat pada kultur organ ini. Hal ini sesuai dengan literatur, dimana keberhasilan

pertumbuhan eksplan pada media kultur jaringan ditentukanoleh beberapa faktor penting, diantaranya adalah komposisi hara yang ditambahkan ke dalam media tumbuh tanaman dan posisi tanam yang dapat dilakukan pada beberapa jenis tanaman. (Eka, 2013)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum kultur organ ini dapat disimpulkan bahwa dalam menanam eksplan memang dibutuhkan teknik yang tepat serta lingkungan yang steril agar eksplan yang ditanam tidak terkontaminasi oleh apapun sehingga nantinya eksplan dapat berhasil. Oleh karena itu, perlengkapan yang lengkap serta pengalaman menjadi salah satu kunci sukses dalam penerapan kultur organ

5.2 Saran Mohon lain kali kalau sudah menetapkan jadwal jangan dirubah-rubah karena mahasiswa yang sudah terlanjur daftar pada jadwal itu jadi pontang-panting mencari kelompok pengganti buat praktikum