Anda di halaman 1dari 4

PERAN AKUNTAN DALAM MEMBERANTAS KORUPSI Dewasa ini korupsi sering kali di beritakan oleh media cetak, elektronik

bahkan dalam obrolan kita sehari-hari. Hal ini disebabkan karena banyaknya kasus korupsi di Indonesia, sehingga menjadi suatu topik yang menarik untuk dibicarakan. Menurut Corruption Perception Index (CPI) yang diambil dari Transparancy International pemberantasan korupsi di Indonesia di tahun 2008 mengalami kemajuan yang cukup significant, dengan score 2,6. Meskipun masih jauh dari angka ideal yaitu score 5, akan tetapi angka ini lebih bagus dari tahun sebelumnya 2,3 (2007) dan 2.4 (2006). Sedangkan peringkat korupsi ada di posisi 126 yang juga lebih bagus dari tahun sebelumnya 143 (2007) dan 130 (2006). Mengaitkan antara korupsi dan akuntan hanyalah salah satu pendekatan untuk membenahi budaya dan sistem di Indonesia. Pandangan ini masih dipersempit dengan pendekatan sisi etika akuntansi dan etika bisnis. Sebuah pertanyaan menggelitik dilontarkan oleh McPhail dan Walters (2009) mengapa para akuntan seharusnya baik (why should accountants be good)?. Ia prihatin bahwa etika para akuntan dalam profesinya masih rendah. Sistem pendidikan juga belum mendukung kesadaran dan pengetahuan etika akuntansi. Pertanyaan tersebut

mengembangkan perenungan kita, apakah selama ini akuntan kurang baik? Apakah esensinya jika akuntan tidak begitu baik? Dan bagaimanakah cara menjadikan akuntan menjadi baik? Lebih cocok apabila pikiran McPhail ini ditarik pada keadaan di Indonesia. Keprihatinan akan korupsi banyak dilontarkan oleh pemerhati politik ataupun budaya. Sementara pandangan dari para akuntan untuk memperbaiki sistemnya masih kurang. Ketika terjadi skandal yang menyebabkan krisis ekonomi, pada saat itu kredibilitas para akuntan dipertanyakan. Faktor penyebab terjadinya korupsi antara lain rendahnya tanggung jawab

profesi, moral, dan sosial. Selain itu adalah lemahnya pengawasan dalam pelaksanaan tugas serta kurangnya evaluasi program kinerja yang terjadi dalam organisasi. Anggota V Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Drs. Sapto Amal Damandari, Ak., CPA. Menuturkan profesi akuntan memiliki tiga peran utama yang mendasar dalam upaya pemberantasan korupsi. Peran tersebut diwujudkan melalui perangkat pendeteksi

penyimpangan dalam pengelolaan entitas, desainer sekaligus reviewer sistem pengelolaan entitas, dan terakhir pelaku penyajian dan pengungkapan informasi keuangan dalam laporan keuangan. Ketiga peran tersebut dapat menjadi instrumen untuk mencegah (preventif) perbuatan koruptif, mendeteksi (detektif) adanya perbuatan koruptif maupun memberikan solusi penyelesaian atas perbuatan korupsi yang telah terjadi sebagai upaya represif. Strategi yang bisa di lakukan oleh akuntan dalam membantu pemberantasan korupsi, misalnya, melakukan audit keuangan dan kinerja secara periodik secara profesional dan melaporkannya kepada DPR dan masyarakat, Penetapan sebuah sistem evaluasi kinerja yang baru, untuk menumbuhkan orientasi positif dalam melakukan pekerjaan, yaitu sebagai lawan dari ketidakjelasan orientasi yang menyebabkan tumbuh suburnya korupsi, dan Memberikan dukungan teknis kepada gerakan atau lembaga anti-korupsi. Dukungan teknis sangat mungkin dilakukan oleh IAI karena organisasi ini mempunyai anggota yang ahli dalam menentukan ada tidaknya penyelewengan keuangan atau korupsi, yaitu akuntan yang bertindak sebagai auditor. Selain itu, seorang akuntan harus memiliki karakter yanag memiliki nilai khusus tersendiri yang menjadi suatu keunggulan seorang akuntan di dalam lingkungannya. Salah satu nilai karakter yang harus dipegang, yaitu: akuntabel (dapat dipertanggung jawabkan). Karakter dasar yang juga harus dimiliki seorang akuntan, antara lain:

a) Akurat, seorang akuntan harus dapat mengakurasikan dan mempertanggungjawabkan setiap aktivitasnya. Akurasi dapat menimbulkan kepercayaan dari lingkungan bisnis maupun lingkungan masyarakat, b) Detail, dalam keakurasian membutuhkan detail pada setiap aktivitas. Setiap keputusan diambil dengan menggunakan data yang detail, karena dengan data yang detail cenderung lebih tepat daripada dengan menggunakan pertimbangan. c) Logis, digunakan seorang akuntan dalam pengambilan keputusan, karena akuntansi bukan ilmu yang pasti melainkan banyak menggunakan prinsip dan asumsi. Logis merupakan nilai positif dalam lingkungan bisnis dan lingkungan msyarakat. d) Terukur, logis yang digunakan akuntan harus terukur yang sesuai dengan prinsip dan asumsi yang diterima oleh umum, misalnya: prinsip akuntansi berterima umum (PABU) dan menggunakan dasar yang pasti (seperti: etika, hukum, norma) yang berlaku di lingkungan. e) Konsisten, akuntan harus memiliki pola pikir yang konsisten baik dalam prosedur akuntansi, metode akuntansi, satuan ukuran terkecil, format penyajian laporan keuangan. Tujuan konsisten harus jelas dalam pola pikir dan perilaku akuntan di lingkungan manapun akuntan berada. f) Disiplin, untuk mewujudkan konsistensi, harus memiliki kedisiplinan yang tinggi, seperti taat pada aturan pemerintah, taat pada standar kode etik, taat pada prosedur dan kebijakan pemerintah, tidak menyepelekan fakta, menyajikan laporan keuangan tepat waktu. g) Skeptis, akuntan menjadi skeptis merupakan suatu keharusan. Skeptis dimaksudkan dengan mencari tahu fakta dan mengumpulkan data untuk menyakinkan suatu informasi. Setelah mendapatkan informasi, maka dapat diverifikasi validitas data tersebut. h) Sederhana, akuntan dalam mewujudkan sikap akuntabel harus mengedepankan kehatihatian dalam menjalankan aktivitas. Kehati-hatian yang diwujudkan dengan melindungi diri

dari risiko lebih mengakui nilai perusahaan klien. Kehati-hatian merupakan wujud kesederhanaan seorang akuntan. i) Jujur, merupakan hal terpenting dalam mewujudkan akuntabilitas. Kinerja akuntan dapat dinilai berhasil jika memiliki kejujuran, karena kejujuran nilai yang harus dipegang akuntan.