Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan Makanan anak usia 1-3 tahun banyak tergantung pada orang tua atau pengasuhnya, karena anak-anak

ini belum dapat menyebutkan nama masakan yang dia inginkan. Orang tuanyalah yang memilihkan untuk anak. Jadi dapat dikatakan, bahwa tumbuh kembang anak tergantung pada orang tuanya. Kebutuhan gizi pada usia batita akan terus bertambah dan jika dihitung dari saat kelahiran, berat bayi akan bertambah dua kali lipat pada bulan IV : dari 3,2 kg menjadi 6,4 kg. Setelah itu pertumbuhan akan sedikit melambat tidak sepesat pertumbuhan sewaktu bayi, namun tingkat perkembangan anak meningkat. Anak mulai aktif bergerak, mereka sudah mulai dapat berjalan dengan baik. Tingkat eksplorasi mereka terhadap hal-hal baru juga tinggi. Berat badan bayi hanya akan bertambah sebanyak 2,3 kg setahun. Keterlambatan ini berlangsung sampai usia remaja. Setelah itu, BB akan bertambah secara mencengangkan. Tinggi badan juga bertamabah dari hanya 50 cm ketika lahir menjadi 75 cm ( bertambah 25cm) setelah berusia 1 tahun. Di tahun II kehidupan tinggi hanya bertambah 12-13 cm, untuk seterusnya semakin lambat hingga mencapai usia remaja. Perubahan organ tubuh selama tahun pertama memengaruhi kesiapan bayi untuk menerima makanan padat. Pada mulanya, bayi hanya dapat mengisap yang dapat diartikan sebagai kemampuan mengisap payudara untuk memperoleh air susu. Pada bulan kedua, ia mampu memainkan lidah sehingga makanan setengah padat mulai dapat ditelan, sedangkan kepandaian mengunyah baru diperoleh pada usia dua tahun. Di awal kehidupannya, lambung dan usus bayi sesungguhnya belum sepenuhnya matang. Bayi dapat mencerna gula dalam susu (laktosa), tetapi belum mampu menghasilkan amilase dalam jumlah yang cukup. Ini berarti, bahwa bayi tidak dapat mencerna tepung sampai paling tidak usia 3 bulan. Supaya perkembangan anak berjalan baik, maka anak harus terus mendapat asupan gizi yang baik. Masa balita adalah masa emas (golden age) dalam rentang perkembangan seorang individu. Pada masa ini, anak mengalami tumbuh kembang yang luar biasa baik dari segi motorik, emosi, kognitif maupun psikososial (Harlimsyah, 2007: 1). Motorik merupakan perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara susunan saraf, otot, dan serabut saraf spinal (Amori, 2008: 1). Motorik kasar merupakan area terbesar perkembangan di usia batita (bawah tiga tahun) (Irwan, 2008: 1) diawali dengan kemampuan duduk, merangkak, berdiri dan diakhiri dengan berjalan. Kemampuan gerak ditentukan oleh perkembangan kekuatan otot, tulang, dan koordinasi otak untuk menjaga keseimbangan tubuh (Widyastuti dan Widyani, 2007:20). Faktor-faktor yang menghambat perkembangan motorik meliputi kondisi ibu yang kurang menyenangkan selama kehamilan, trauma di kepala akibat kelahiran yang sulit, IQ di bawah normal, perlindungan yang berlebihan atau kelahiran sebelum waktunya, gizi yang kurang setelah lahir, kurangnya rangsangan, dorongan dan kesempatan menggerakkan semua bagian tubuh akan dapat memperlambat perkembangan kemampuan motorik anak (Widyastuti dan Widyani, 2007 : 20). Perkembangan seorang anak merupakan suatu kesatuan yang utuh (Kavindra, 2005: 1). Setiap anak tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri bila pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat, karena itu perkembangan awal merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya (Depkes RI, 2005:4). Sehingga apabila perkembangan motorik anak terganggu, maka perkembangan selanjutnya akan terganggu pula dan jika tidak ditangani dengan baik, apalagi tidak terdeteksi, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia di kelak kemudian (FKUI, 1996 : 12).

Asi Atau Susu Formula ? Kebutuhan gizi pada bayi melampaui kebutuhan orang dewasa, nyaris dua kali lipat jika diukur berdasarkan persentase berat badan. Makanan pertama dan utama bayi adalah air susu ibu karena ASI cocok sekali untuk memenuhi kebutuhan bayi dalam hal karbohidrat berupa laktosa, lemaknya banyak mengandung polyunsaturated fatty acid (asam lemak tak jenuh ganda), protein utamanya lactalbumin yang mudah di cerna, kandungan vitamin dan mineralnya banyak, rasio kalsium-fosfat sebesar 2:1 yang merupakan kondisi yang ideal bagi penyerapan kalsium, selain itu ASI juga mengandung zat anti infeksi. Kolostrum ialah ASI yang keluar pertama kali, berwarna jernih kekuningan, dan kaya akan zat antibodi seperti : (a) faktor bifidus, (b) SigA, IgM, IgG, (c) faktor antistafilokokus, (d) laktoferin, (e) laktoperoksidase, (f) komplemen : C3, C4, (g) interferon, (h) lisozim, (i) protein pengikat B12, (j) limfosit, (k) makrofag, (l) faktor lipid, asam lemak, dan monogliserida. Jumlah kolostrum yang tersekresi bervariasi antara 10-100 cc (rata-rata 30 cc) sehari. Faktor bifidus adalah faktor spesifik pemacu pertumbuhan Lactobacillus bifidus, bakteri yang dianggap dapat mengganggu kolonisasi bakteri patogen di dalam saluran cerna. Secretory immunoglobullin A (SIg A) dianggap berkemampuan mengikat protein asing bermolekul besar, seperti virus, bakteri, dan zat toksik. Pengikatan ini bertujuan untuk penyerapan sehingga tidak membahayakan bayi serta memainkan peran penting dalam fungsi proteksi. Laktoferin merupakan protein pengikat zat besi agar tidak dapat digunakan oleh bakteri untuk bertumbuh-kembang. Lisozim ialah enzim yang bekerja menghancurkan bakteri dengan jalan merobek dinding sel, yang secara tidak langsung meningkatkan keefektifan antibodi yang sangat menguntungkan dalam menghancurkan bakteri dalam rongga usus. Leukosit sebagian berfungsi mencegah enterokolitis nekrotikan, penyakit mematikan yang lazim menjangkiti bayi berberat badan lahir rendah. Makrofag, selain menyekresi SIg A dan interferon, juga berfungsi untuk memangsa organisme lain. Komplemen, laktoperoksidase, dan faktor anti sterptokokus merupakan faktor pertahanan yang membantu menurunkan insidensi infeksi. Ketersediaan zat ini menyiratkan bahwa masalah yang mungkin timbul pada bayi yang mengisap kolostrum tidak akan separah pada bayi yang teraspirasi susu formula. Sectretory IgA yang terkandung dalam kolostrum berkemampuan mengikat alergen potensial, sekaligus mencegah penyerapannya itulah alasan mengapa bayi peminum ASI jarang mengalami alergi. Pemberian susu formula dapat berarti memaparkan bayi pada alergen dalam jumlah besar, sementara SIg A tidak tersedia. Energi Kebutuhan energi bayi yang cukup selama tahun pertama kehidupan sangat bervariasi menurut usia dan berat badan. Taksiran kebutuhan energi selama 2 bulan pertama, yaitu pada masa pertumbuhan cepat, adalah 120 kkal/kg BB/ hari. Secara umum, selama 6 bulan pertama kehidupan, bayi memerlukan energi sebesar kira-kira 115-120 kkal/kg/hari, yang kemudian bekurang sampai sekitar 105-110mkkal/kg/hari pada 6 bulan sesudahnya. Tabel. Cara sederhana menghitung keluaran energi bayi Berat 1-10 kg Jumlah energi 100 kkal/kg BB 2

11-20 kg >20 kg

1000 kkal + (50 kkal/kg BB di atas 10 kg) 1500 kkal + (20 kkal/kg/BB di atas 20 kg)

Energi dipasok terutama oleh karbohidrat dan lemak. Protein juga dapat digunakan sebagai sumber energi, terutama jika sumber lain sangat terbatas. Cara menghitung kebutuhan akan energi adalah mengamati pola pertumbuhan yang meliputi berat dan tinggi badan, lingkar kepala, kesehatan, dan kepuasaan bayi. Tabel. Kebutuhan gizi untuk anak usia 1-3 tahun Jenis zat gizi Kebutuhan per hari Kalsium 500 miligran Zat besi 8 miligram Zat seng 10 miligram Vit. A 350 mikogram Vit. C 40 miligram Vit. D) 10 mikrogram Sumber : widyakarya nasional pangan dsn gicxi,1998 Asupan energi dapat diperkirakan dengan jalan menghitung besaran energi yang akan dikeluarkan. Jumlah keluaraan energi dapat ditentukan secara sangat sederhana berdasarkan berat badan. Tabel. Kebutuhan makanan anak usia 1-3 tahun/hari (+ 130 kalori) Bahan makanan Nasi Maizena Biscuit Daging Telur Tempe Sayuran Pisang Susu bubuk Minyak Gula pasir Berat (g) 250 10 20 50 50 50 100 100 30 20 30 Ukuran rumah tangga 1 gelas 2 sdm 2 buah 2 potong kecil 1 butir 2 potong 1 gelas 2 buah 6 sdm 2 sdm 4 sdm

Sumber : Seri ayahbunda makanan Sehat lezat untuk bati & baliea :yayasan aspita pemuda (2007)

Cairan Pada waktu lahir, kapasitas lambung bayi cukup berkisar antara 30-90 cc. Karena itu, volume makanan yang diberikan harus disesuaikan dengan daya tampung lambung. Kebutuhan bayi akan cairan berkaitan dengan asupan kalori, suhu lingkungan, kegiatan fisik, kecepatan pertumbuhan, dan berat jenis air seni. Air menyusun kira-kira 70% berat badan pada saat lahir yang kemudian menurun sampai 60% menjelang bayi berusia 12 bulan. Jumlah air yang dibutuhkan oleh bayi (dan anak) lebih besar 50% dibanding kebutuhan orang dewasa. Rasio cairan : kalori adalah 1,55 cc/1kkal (rasio orang dewasa = 1 cc/kkal).

Tabel. Rata-rata kebutuhan cairan Usia 3 hari 10 hari 3 bulan 6 bulan 9 bulan 12 bulan 24 bulan Lemak Air susu ibu memasok sekitar 40-50% energi sebagai lemak (3-4 g/100cc). Lemak minimal harus menyediakan 30% energi, yang dibutuhkan bukan saja untuk mencukupi kebutuhan energi, tetapi juga memudahkan penyerapan asam lemak esensial, vitamin yang terlarut dalam lemak, kalsium, serta mineral lain, dan juga untuk menyeimbangkan diet agar zat gizi lain tidak terpakai sebagai sumber energi. Setidaknya 10% asam lemak sebaiknya dalam bentuk tak jenuh ganda, yang biasanya dalm bentuk asam linoleat. Asam linoleat juga merupakan asam lemak esensial yang terkandung dalam sebagian besar minyak tetumbuhan. Dari ASI bayi menyerap sekitar 85-90% lemak. Enzim lipase di dalam mulut (lingual lipase) mencerna zat lemak sebesar 50-70%. Berat 3,0 kg 3,2 kg 5,4 kg 7,3 kg 8,6 kg 9,5 kg Cairan (cc/kg) 80-100 125-145 140-160 130-155 125-150 120-135 155-155

Karbohidrat Kebutuhan karbohidrat bergantung pada besarnya kebutuhan akan kalori, tapi sebaiknya 60-70% energi dipasok oleh karbohidrat. Jenis karbohidrat yang sebaiknya diberikan adalah laktosa, bukan sukrosa, karena laktosa bermanfaat untuk saluran pencernaan bayi. Manfaat ini berupa pembentukan flora yang bersifat asam dalam usus besar sehingga penyerapan kalsium meningkat dan penyerapan fenol dapat dikurangi. Pada ASI dan sebagian besar susu formula, laktosa memang menjadi sumber karbohidrat utama. Sumber kalori pasokan karbohidrat diperkirakan sebesar 40-50% yang sebagian besar dalam bentuk laktosa.

Protein Besaran pasokan protein dihitung berdasarkan kebutuhan untuk bertumbuh kembang dan jumlah nitrogen yang hilang lewat air seni, tinja, dan kulit. Mutu protein bergantung pada kemudahannya untuk di cerna dan di serap (digestibility dan absorpability) serta komposisi asam amino di dalamnya. Jika asupan asam amino kurang, pertumbuhan jaringan dan organ, berta dan tinggi badan, serta lingkar kepala akan terpengaruh. Asupan protein yang berlebihan, terutama pada bayi kecil akan menyebabkan kelebihan asam amino yang harus di metabolisme dan di eliminasi sehingga menimbulkan stess berat pada hati dan ginjal tempat deaminasi berlangsung. Untuk mengetahui ASI teah memuaskan bayi akan terlihat dari tidurnya yang lelap (2-3 jam setelah menyusu), tidak memperpanjang tangisan, berat badan bertambah. Bayi peminum ASI akan tumbuh dengan baik jika ia dapat mengonsumsi air susu ibu sebanyak 150-200 cc/kg BB/hari, yang menyiratkan kebutuhan 1,3-1,8 g protein, peptida, dan asam amino, serta 0,3-0,4 g nitrogen yang bukan asam amino per kilogram berat badan per hari. Nilai biologi protein ASI juga lebih tinggi ketimbang

protein lain. Koefisien pemakaian protein ASI dianggap 100%. Berdasarkan koefisien tersebut, kebutuhan akan protein dihitung menjadi : (1) 1,6g/100kkal untuk bayi dari usia 0-4 bulan, (2) 1,4g/100kkal untuk bayi usia 4-12 bulan, dan (3) 1,2 g/100 kk1l untuk bayi dari 12-36 bulan. Jika dihitung berdasarkan berat badan, besarnya kebutuhan protein adalah : (1) 2,2 g/kg/hari pada usia <6 bulan, (2) 2 g/kg/hari pada usia 6-12 bulan, dan (3) 1-1,5 g/kg/hari pada usia di atas 1 tahun. Asupan protein yang berlebihan dapat menyebabkan intoksikasi protein,yang menampilkan gejala seperti (1) letargi, (2) hiperammonemia, (3) dehidrasi, dan (4) diare. Vitamin dan Mineral Air susu ibu yang sehat dan cukup makan dianggap cukup mengandung elemen kelumit kecuali vitamin D dan dibeberapa daerah tertentu, flour. Sebelum diputuskan untuk memberikan suplementasi, perlu dipertimbangkan keadaan seperti: 1. Status gizi bayi serta ibunya. 2. Perkiraan asupan makanan ibu. 3. Makanan padat apa saja yang akan diberikn pada bayi, pada saat penyapih. 4. Komposisi zat makanan tersebut.

Pola suplementasi secara umum Jika bayi telah diberikan air susu ibu dalam jumlah yang adekuat, dan ibu memiliki status gizi baik. Suplementasi tidak perlu diberikan, kecualipada daerah tertentu yang memerlukan tambahan flour dan vitamin D. Flour yang ditambahkan setiap hari 0,25 cc/hari. Vitamin D dianjurkan 400 UI, terutama bagi mereka yang jarang bersentuhan dengan matahari. Sementara pemberian vitamin K, masih diperdebatkan.

Zat besi Sebagian klinis menganjurkan agar bayi diberikan 7mg Fe sulfat (keterserapan 10%). Namun ada pula yang sebaliknya, karena menurutnya tambahan ini dapat menjenuhkan protein bakteriostatik dalam asi yaitu laktoferin. Gejala yang tidak diizinkan adalah sembelit muntah, diare, pewarnaan gigi, serta defisiensi Zn.

Vitamin K Untuk mencegah pendarahan dianjurkan pemberian vitamin K secara parental.

Gizi bayi sapihan Permulaan masa menyapih merupakan awal dari suatu perubahan besar, baik dari ibu maupun bayinya. Selama masa penyapihan bayi secara berangsur

menyantap makanan biasa dan menjadikan air susu sebagai makanan tambahan.

Usia pertama menyapih Memasuki usia 4-6bulan, bayi telah siap menerima makanan bukan cair, karena telah tumbuh gigi dan lidah tidak lagi menolak makanan setengah padat. Disamping itu lambung juga telah baik mencerna zat tepung. Menjelang usia 9bulan bayi telah pandai memakai tangannya untuk memasukkan makanan kemulutnya. Disamping tujuan fisik(guna mnecukupi kebutuhan zat gizi dan energi), menyusui dapat sekaligus mengakrabkan anak dan ibu, yang bermanfaat pada perkembangan jiwa bayi. Penyapihan sebaiknya dituntaskan pada usia 12bulan.

Bahan makanan sapihan Makanan sapihan yang ideal harus mengandung: 1. 2. 3. 4. 5. Makanan pokok Kacang, sayuran, berdaun hijau atau kunung Buah Daging hewan Minyak atau lemak

Frekuensi pemberian makanan Pemberian pertama cukup dua kali sehari, namun jika sugah menggemari makanan tersebut dia bisa mengkonsumsi 3-6 sendok besar. Sedangkan pada usia 6-9bulan bisa menghabiskan 4porsi. Jika bayi masih merasa lapar, berikan saja makanan selingan yang diberikan 2jam begitu ia terbangun. Menginjak usia 9bulan bayi telah memiliki gigi dan mulai pandai mengunyak kepingan makanan. Sekitar usia 1tahu bayi mampu makan makanan orang dewasa empat sampai lima kali sehari. Anank 2tahun memerlukan makanan separuh takaran orang dewasa.

Pedoman pemberian makanan sapihan Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan makanan sapihan: 1. Harus bertekstur halus dan licin 2. Bubur saring untuk bayi yang telah tumbuh gigi dan cincang pada bayi yang telah pandai mengunyah 3. Ajari bayi cara memegang makanan ajari pula cara mengambil makanan padat dari sendok makan 4. Makanan sebaiknya tidak dicampur, agar bayi dapat mempelajari perbedaan tekstur dan rasa makanan 5. Jangan memasukkan makanan pda botol susu 6

6. Volume pemberian susu dikurangi sampai bayi mampu bersantap dengan sendok 7. Makanan padat sebaiknya disuapkan sebelum susu diberikan 8. Selama menyuapi tersenyum dan bicaralah padanya

Tabel makanan bayi usia 0-3 tahun Usia BB kkal Cairan Susu Formula (30cc) 0 1 3,3 4,1 115 kkal/kg (95-145 kkal) 125-145 ml/kg 8/ 7/8 2,5-4 3,5-5 2 5,0 3 5,7

6/7 4-6

4 atau 5 5-7

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal untuk meningkatkan mutu kehidupan bangsa, keadaan gizi yang baik merupakan salah satu unsur penting. Kekurangan gizi , terutama pada anak-anak akan menghambat proses pembangunan . Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang

anak, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Lingkungan disini merupakan lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial yang mempengaruhi individu setiap hari mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya. Gizi anak merupakan faktor biologis dalam faktor lingkungan,memegang peranan penting dalam tumbuh kembang. Menurut SKRT 1992 kematian bayi dan anak balita pada tahun 1992 adalah sekitar 30 % dari seluruh kematian. Dari 30 % kematian ini, 10% atau 1/3 nya terjadi pada neonatus, 7,5 % terjadi pada bayi usia 7 hari. Data tersebut memberikan gambaran bahwasannya golongan bayi dan anak anak benar benar rentan terhadap penyakit dan gizi kurang yang seringkali menyebabkan kematian. Asi dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas anak karena disamping nilai gizinya tinggi juga mengandung zat imunologis yang melindungi anak dari berbagai macam infeksi. Menurut Departemen Kesehatan RI 1995, pemberian ASI merupakan cara pemberian makanan bayi yang paling baik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada saat awal. Tetapi pemberian asi yang benar antara lain pemberian asi ekslusif hanya ditemui pada 47 % populasi dan menyusui dini pada jam pertama ditemui hanya pada 8 % populasi saja. Fenomena inilah yang pada akhirnya mendorong pemerintah untuk menggalakkan program asi ekslusif. Dengan melihat hal diatas, maka peneliti ingin melihat perbandingan tumbuh kembang anak usia 1-4 bulan yang mendapat asi ekslusif dan yang mendapat asi non ekslusif.

Batasan dan Rumusan Masalah Permasalahan yang kami teliti kami batasi, pada tumbuh kembang anak usia 1-4 bulan yang mendapat asi eksklusif dan yang tidak mendapat asi eksklusif, kemudian kami bandingkan tumbuh kembangnya. Penilaian pertumbuhan pada penelitian ini

adalah secara antropometri sedangkan penilaian perkembangan pada anak usia 1-4 bulan menggunakan Denver Development Screening Test. Berdasarkan batasan tersebut diatas, maka penelitian ini dilakukan untuk

membandingkan tumbuh kembang bayi yang mendapat asi eksklusif dan bayi yang mendapat asi non eksklusif.

Anda mungkin juga menyukai