Anda di halaman 1dari 11

Sumber: http://dedysetyopermata.wordpress.

com/20 13/02/15/kondisi-geologi-dan-potensibahan-galian-kabupaten-bangka-selatan/

KONDISI GEOLOGI DAN POTENSI BAHAN GALIAN KABUPATEN BANGKA SELATAN


Posted on February 15, 2013 by Dedy Setyo Oetomo , ST.,MBA

KONDISI GEOLOGI DAN POTENSI BAHAN GALIAN KABUPATEN BANGKA SELATAN


3.1 Kondisi Geologi

Proses dan kondisi geologi sangat mempengaruhi terbentuknya potensi sumberdaya bahan galian di suatu tempat/daerah. Proses geologi tersebut diantaranya berupa intrusi magma, tektonik, perlipatan, pelapukan, pengayaan (leaching), erosi dan pengendapan. Berdasarkan keadaan geologisnya Pulau Bangka dan wilayah sekitarnya berada pada Paparan Sunda atau bagian tepi dari kerak benua (craton) Asia. Oleh karena itu, batuan dasar penyusun daerah ini selain batuan malihan adalah batuan inti benua yang berupa batuan beku asam atau bersifat granitik. Dilihat dari posisi waktu terbentuknya batuan beku granitik tersebut merupakan bagian dari busur magmatik yang terbentuk pada umur Trias hingga Jura (230 s/d 135 juta tahun lalu). Kondisi geologi wilayah Kabupaten Bangka Selatan telah digambarkan oleh U. Margono, dkk (1995) dalam Peta Geologi Lembar Bangka Selatan, Sumatra, skala 1 : 250.000 yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (Gambar 3.1). 3.1.1 Stratigrafi

Batuan tertua yang tersingkap di Kabupaten Bangka Selatan adalah batuan yang termasuk dalam Komplek Malihan Pemali (CPp) yang memiliki umur Karbon-Perem. Komplek ini terdiri dari filit, sekis, dan kuarsit.

Filit berwarna abu-abu kecoklatan, struktur mendaun dan berurat kuarsa. Sekis berwarna abu-abu kehijauan, struktur mendaun, terkekarkan, setempat rekahannya terisi kuarsa atau oksida besi, berselingan dengan kuarsit; Kuarsit putih kecoklatan, keras, tersusun oleh kuarsa dan feldspar berukuran halus sedang (U. Margono, dkk 1995). Komplek Malihan Pemali tersebar di bagian Barat Daya Airbara dan sebelah Timur Ranggas.

Tidak selaras di atas Komplek Malihan Pemali (CPp) diendapkan Formasi Tanjung Genting (TRt) yang terdiri dari perselingan batupasir malihan, batupasir dan batulempung dengan Gambar 3.1 Peta Geologi Lembar Bangka Selatan, Sumatra lensa batugamping, setempat di jumpai oksida besi. Batuan-batuan pada formasi ini umumnya berlapis baik, terlipat kuat, terkekarkan dan tersesarkan. Di dalam batugamping di jumpai fosil Montlivaultia Molukkana J. Wanner, Peronidella G. Wilkens, Entrochus sp, dan Enricrinus sp, yang menunjukkan umur Trias dengan lingkungan pengendapan laut dangkal. Formasi Tanjung Genting (TRt) tersebar luas mulai dari bagian utara, tengah dan selatan Kabupaten Bangka Selatan. Granit Klabat (TRJkg) menerobos batuan/formasi yang lebih tua yaitu Formasi Tanjung Genting (TRt) dan Kompleks Malihan Pemali (CPp), terdiri dari granit biotit, granodiorit dan granit genesan,.

Granit biotit mempunyai tekstur porfiritik dengan ukuran kristal sedang-kasar, fenokris feldspar, memperlihatkan struktur foliasi. Granit genesan berwarna abu-abu dan berstruktur mendaun. Umur Granit Klabat berdasarkan pentarikan dengan metoda K-Ardan Rb-Sr adalah Trias Akhir-Jura Awal, tersebar cukup banyak meliputi seluruh kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Bangka Selatan.

Di atas formasi batuan yang telah disebutkan terdahulu diendapkan secara tidak selaras Formasi Ranggam (TQr) yang terdiri dari perselingan batupasir, batulempung dan konglomerat.

Batupasir berwarna putih kekuningan sampai dengan kecoklatan, berbutir halus-kasar, menyudut-membundar tanggung, berlapis baik, memiliki struktur sedimen silang siur, perairan sejajar dan perlapisan bersusun, mengandung lensa tipis batubara dan pasir timah sekunder. Batulempung mengandung bahan organik dan lensa gambut. Konglomerat mengandung fragmen granit, kuarsa dan batuan malihan.

Fosil yang ditemukan pada formasi ini adalah Turritella terebra, Amonia sp, Triloculina sp, yang menunjukkan umur pengendapan Miosen Akhir-Plistosen Awal di lingkungan fluvial. Formasi Ranggam (TQr) terdapat di Lesat (selatan Kepoh) dan Mangkapas.

Di atas Formasi Ranggam (TQr) diendapkan endapan kuarter berupa Pasir Kuarsa (Qak),berwarna putih, berbutir kasar sedang, membundar tanggung membundar. Endapan rawa (Qs), Lumpur, lanau dan pasir. Aluvium (Qa) berupa lumpur, lempung, pasir, kerikil dan kerakal, yang keterdapatannya sebagai endapan sungai, rawa dan pantai. Korelasi stratigrafi dan penampang melintang Geologi Kabupaten Bangka Selatan dapat di lihat pada Gambar 3.2 dan 3.3 Gambar 3.2 Korelasi Stratigrafi Bangka Selatan

Gambar 3.3 Penampang Melintang (Cross Section) Geologi Bangka Selatan 3.2 Sumber Daya Bahan Galian Kabupaten Bangka Selatan mempunyai sumberdaya mineral yang banyak dan beragam, mulai dari bahan galian seperti timah serta bahan galian industri antara lain kasiterit, monosit/xenotime, oksida besi, pirit, granit, diabas, kaolin, batupasir dan pasir kuarsa, pasir bangunan, tanah liat. Akan tetapi, pemasukan dari pertambangan dan penggalian ini belum optimal walaupun kontribusinya terhadap PDRB cukup, dan merupakan sumber utama bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sumberdaya bahan di Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari 7 (tujuh) jenis mineral/ bahan galian, yaitu: granit, pasir kuarsa, kaolin, bijih timah, bijih besi, zircon, dan monasit (Gambar 3.4). Berdasarkan data geologi, hampir di semua wilayah baik di darat maupun di laut mempunyai cadangan bijih timah yang dikenal dengan istilah Worlds tin belt (sabuk timah dunia). Dengan struktur tanah yang mempunyai pH rata-rata di bawah 5, di dalamnya mengandung mineral bijih timah dan bahan galian lainnya seperti pasir kuarsa, kaolin, batu granit dan lain sebagainya. Sampai dengan tahun 2004 eksploitasi timah untuk kuasa pertambangan (KP) timah PT. Tambang Timah di Bangka Selatan yang berada di darat dengan luas areal 92.401,74 Ha. Sedangkan yang berada di laut seluas 14.985 Ha. Luas KK PT. Koba Tin sebesar 19.340,74 Ha. Jumlah perusahaan golongan C yang dilengkapi izin di Kabupaten Bangka Selatan sampai dengan tahun 2006 tercatat 6 buah dengan luas areal 368,1 Ha. 3.2.1 Granit Granit adalah jenis batuan beku berwarna putih/terang dengan komposisi utama orthoklas (Kfeldspar) dan kuarsa yang disertai dengan sedikit kandungan biotit, mika, dan amfibol (Gambar 3.5). Granit di wilayah Kabupaten Bangka Selatan terbentuk melalui pembekuan magma pada zaman Trias-Jura. Secara umum penambangan granit dilakukan dengan cara tambang terbuka. Mula-mula dilakukan pembersihan lahan berupa pekerjaan pembabatan pepohonan dan semak belukar dengan bulldozer atau scraper. Setelah itu dilakukan pengupasan tanah penutup dengan

menggunakan backhoe atau shovel. Selanjutnya penggalian granit dilakukan dengan jenjang dengan mengatur ketinggian tiap jenjang 6 m dengan menggunakan alat/mesin potong mekanis dan dragline.

Gambar 3.4 Sebaran Bahan Galian di Kabupaten Bangka Selatan Berdasarkan variasi komposisi mineral penyusunannya, kadar silika, dan adanya kenaikan tekanan dan/temperatur setelah pembentukan granit, maka di Kabupaten Bangka Selatan dapat dibedakan 3 jenis granit, masing-masing granit biotit, granodiorit, dan granit genesen.

Granit biotit adalah jenis granit yang mengandung biotit 10% hingga 25%, ditemukan di Pulau Lepar (Kecamatan Lepar Pongok). Granodiorit adalah jenis granit yang memiliki kandungan mika lebih kecil, serta memiliki kandungan biotit dan amfibol yang lebih besar dari pada granit, ditemukan di Pantai Pasir Putih dan G.Muntai Granit genesan adalah jenis granit yang telah mengalami proses malihan (metamorfosa) akibat kenaikan tekanan dan/temperatur. Granit ini umumnya terdapat di bagian bawah masa batuan granit.

Ketiga jenis granit di atas adakalanya terdapat pada suatu lokasi yang sama seperti yang dijumpai di G. Namak. Di Kabupaten Bangka Selatan, granit yang termasuk ke dalam kelompok Granit Klabat terbesar cukup banyak, yaitu masing-masing di G.Muntai, G.Toboali, G.Namak, Pantai Pasir Putih, Tanjung RU, Tanjung Kubu, dan Tanjung Mempunyai (Kecamatan Toboali, Gambar 3.6); Bukit Murup, Bukit Trubuk manawar, G.Gebang, Bukit Burang, Bukit Keledang, G.Neneh, dan G.Berah (Kecamatan Payung); Bukit Nangka dan Tanjung Berdaun (Kecamatan Simpang Rimba); dan P. Lepar (Kecamatan Lepar Pongok). Potensi cadangan /sumberdaya granit di Kabupaten Bangka Selatan sangat besar, seluruhnya memiliki luas penyebaran 663.125.000 m2. Apabila diasumsikan granit yang dapat ditambang rata-rata setebal 20 m, maka jumlah cadangan sumber daya granit di Kabupaten Bangka Selatan dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1 Cadangan Sumber Daya Granit di Kabupaten Bangka Selatan

No Kecamatan 1 Toboali

Lokasi - Gn. Muntai - Gn Toboali

Cadangan (M)

3.392.500.000

- Gn. Namak - Pantai Pasir putih - Tanjung Ru - Tanjung Kubu - Tanjung Mempunai - Bukit Murup - Bukit Trubukmanawar - Gn. Gebang - Bukit Burang - Bukit Keledang - Gn. Neneh - Gn. Berah - Bukit Batang - Bukit Mundung - Paninyer - Bukit Nangka - Tanjung Berdaun - Pulau Lepar Total 1.998.750.000 5.358.750.000

Airgegas

Payung

Simpang Rimba

Lepar Pongok

1.425.000.000 1.087.500.000 13.262.500.000

Berdasarkan keadaan batuan, bentuk mineral, komposisi, dan hasil kuat tekan dengan nilai rata-rata > 340 kg/cm2, maka granit di Kabupaten Bangka Selatan dapat digunakan sebagai batu ornamen, lantai, dinding, dan dinding bangunan. Granit di daerah ini belum banyak diusahakan, sebagian kecil digali oleh penduduk untuk bahan pengeras jalan dan pondasi rumah. Vegetasi yang menutupi sebaran granit pada umumnya berupa hutan primer, sekunder dan lahan pertanian/kebun penduduk. 3.2.2 Pasir Kuarsa Pasir kuarsa adalah jenis bahan terdiri dari butiran-butiran kuarsa yang berukuran 0,06 2,0 mm. Butiran-butiran kuarsa tersebut memiliki kadungan Si02 (>90%) Gambar 3.7. Bahan galian ini terjadi dari hasil pelapukan batuan yang banyak mengandung kuarsa, feldsdpatic, dan sebagainya yang tercuci atau terbawa air/angin dan diendapkan di sekitar sungai, pantai, atau di tempat yang rendah.

Di Kabupaten Bangka Selatan pasir kuarsa terbentuk dari hasil pelapukan granit yang kaya akan kuarsa dan K-felspar serta dari formasi-formasi batuan lainnya yang memiliki kandungan kuarsa. Penggunaan pasir kuarsa terutama sebagai bahan baku utama atau bahan tambahan dalam industri gelas-kaca, refraktori, pengecoran logam, pembuatan ferro silicon, silicon karbida, ampelas, penyaring, bahan baku semen dan lain-lain. Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan memanfaatkan pasir kuarsa untuk penggunaan lainnya, yakni dengan memenuhi persyaratan spesifikasi penggunaannya. Untuk mencapai spesifikasi tersebut sering dilakukan pengolahan/pencucian guna menghilangkan zat-zat/mineral pengotor serta meninggikan kadar Si02. Selain itu untuk mencapai ukuran butir tertentu perlu dilakukan penggilingan untuk memperoleh butiran yang sangat halus yang diperlukan dalam industri cat, ampelas, bahan pengisi dan sebagainya. Dengan demikian tingkat pengolahan pasir kuarsa sangat ditentukan oleh jenis penggunaannya. Sebaran pasir kuarsa di Kabupaten Bangka Selatan sangat luas (Gambar 3.8), meliputi hampir seluruh kecamatan yang ada, terutama di sekitar pantai, sungai dan tempat yang rendah/rawa. Luas sebaran pasir kuarsa di Kabupaten Bangka Selatan diperkirakan mencapai 4.143.68 Ha dengan ketebalan yang sangat bervariasi antara 2-6 mete,r sehingga potensi cadangannya mencapai 200.000.000 m3. Potensi pasir kuarsa di Kabupaten Bangka Selatan telah ada yang mengusahakan oleh suatu perusahaan yang berizin dengan menambang endapan pasir kuarsa yang terdapat di sekitar Tanjung Kubu. Pasir kuarsa tersebut tanpa melalui proses pengolahan dan pencucian terlebih dahulu langsung dikirim ke Jakarta dengan kapal Tongkang melalui dermaga pantai Gambar 3.9. 3.2.3 Kaolin Kaolin adalah bahan galian yang tersusun dari lempung kualitas tinggi, mempunyai komposisi kimia hydrous aluminium silicate Al203, 2Si02.2H20, berukuran butir sangat halus dan bersifat lunak. Kaolin terdiri dari hasil pelapukan dan dekomposisi batuan feldpatic dimana mineral-mineral potash alumunium silicate dan feldspar berubah menjadi kaolin. Endapan kaolin di Kabupaten Bangka Selatan (Gambar 3.10) terbentuk dari hasil pelapukan dan dekomposisi batuan granit yang banyak mengandung K-feldspar. Endapan Kaolin di Kabupaten Bangka Selatan dijumpai pada beberapa tempat di antaranya di daerah Parit 3 dan tepi jalan raya Toboali Sadai. Kaolin ini berwarna putih, berbutir halus, lunak dan lengket apabila basah, sebagian bersifat pasiran. Endapan ini dapat di lihat pada gambar 3.11. Luas penyebaran kaolin ini pada dua lokasi tersebut di atas sekitar 4.42 Ha. Tebal kaolin belum dapat diketahui dengan pasti, namun diperkirakan tidak lebih dari 3 m. Dengan demikian, potensi cadangan kaolin diperkirakan mencapai 120.000 m3. Kaolin dipergunakan pada industri karet, kertas, tekstil, keramik, refraktori, kimia, cat, pasta gigi,

bahan pemutih pada industri gula, makanan, obat-obatan dan sebagainya. Tiap-tiap penggunaan kaolin memerlukan spesifikasi tersendiri, misalnya untuk bahan pelapis kertas digunakan mineral lempungnya jenis kaolinit, berukuran <2 mikron sebanyak 80%, daya tukar kation 5-15 mili ekuivalen/100 gr dan sebagianya.

Penambang kaolin biasanya dilakukan dengan sistem tambang terbuka dengan membersihkan lahan di permukaannya terlebih dahulu menggunakan bulldozer. Selanjutnya penggalian dapat dilakukan dengan shovel. Kaolin yang telah di tambang perlu diolah terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan atau spesifiksi penggunaannya. 3.2.4 Bijih Timah Mineralisasi timah di wilayah Pulau Bangka dan sekitarnya merupakan bagian dari sabuk timah (tin belt) di Asia Tenggara yang memanjang mulai dari Yunan (cina), Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaysia sampai ke Indonesia. Tipe endapan timah yang terdapat pada sabuk timah Asia Tenggara tersebut dapat dibagi atas lima tipe endapan kasiterit (Sn02) yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Magmatic Dissemination Pegmantit dan Apliet Cebakan Kontak Metamorfosa Cebakan Hidroternal Endapan Sekunder.

Endapan Bijih Timah di Pulau Bangka, terdiri dari 2 macam, yaitu : berupa mineralisasi pada batuan granit dan berupa endapan sekunder baik di darat maupun di lepas pantai. Dalam pengamatan lapangan kali ini jumlah cadangan timah di Kabupaten Bangka Selatan belum dapat ditentukan, baik yang tergolong timah primer berupa urat-urat timah pada batuan granit maupun yang tergolong endapan sekunder di darat dan lepas pantai. Namun demikian, PT. Timah, Tbk telah melakukan eksplorasi bijih timah di wilayah ini, sehingga jumlah dan kualitas cadangannya telah terdata. Endapan bijih timah tersebar luas di Kabupaten Bangka Selatan, sehingga sebagian kelompok masyarakat telah mengembangkannya sebagai kegiatan usaha pertambangan bijih timah. Meskipun legalitas pertambangan belum dilengkap,i namun beberapa lokasi penggalian tetap berjalan, baik di darat maupun di perairan pantai, seperti terlihat pada

Hingga saat ini penyelesaian masalah legalitas pertambangan timah ini masih dalam proses penyelesaiannya antara Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, para pelaku pertambangan (Masyarakat (Gambar 3.13) dan PT. Timah,Tbk), dan Pemerintah Pusat (Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral).

3.2.5 Besi Endapan besi yang berupa batu besi di Kabupaten Bangka Selatan ditemukan di sebelah barat Bukit Pelawan (Kecamatan Payung). Endapan besi tersebut berasal dari pengisian oksida besi pada rekahan-rekahan batuan Formasi Tanjung Genting. Batu besi berwarna abu-abu kehitaman sampai abu-abu kecoklatan, berupa magnetit, hematite, limonit, berasosiasi dengan psilomelan dan urat kuarsa, bersifat berat dan bereaksi dengan magnet. Jumlah cadangan teridikasi batu besi di Bukit Pelawan adalah sebesar 58.785,25 ton dengan kadar Fe = 45,24% (Direktorat Sumber Daya Mineral, 1998). Endapan bijih besi yang berupa batu besi di Kabupaten Bangka Selatan di temukan di sebelah Barat Bukit Pelawan (Kecamatan Payung) Gambar 3.14. Endapan bijih besi tersebut berasal dari pengisian oksida besi pada rekahan-rekahan batuan Formasi Tanjung Genting. Batu besi berwarna abu-abu kehitaman sampai abu-abu kecoklatan, berupa magnetit, hematite, limonite, berasosiasi dengan psilomelan dan urat kuarsa, bersifat berat dan bereaksi dengan magnet. Direktorat Sumber Daya Mineral (1998) memperkirakan jumlah cadangan terindikasi batu besi di Bukit Pelawan adalah sebesar 58.785.25 ton dengan kadar Fe = 45.24%. Namun demikian dalam pengamatan lapangan kali ini luas sebarannya kurang dari 1 Ha dan jumlah cadangan tersebut telah berukuran. Pengurangan tersebut diperkirakan karena telah terjadi penggalian di lokasi tersebut. Salah satu hasil penambangan bijih besi hasil rakyat dapat dilihat pada gambar 3.15.

3.2.6 Zirkon Zirkon terbentuk sebagai mineral ikutan pada batuan yang mengandung Na-felspar seperti granit dan syenit dan batuan malihan jenis genes dan sekis. Secara ekonomis zircon dijumpai dalam bentuk butiran (pasir) baik yang terdapat pada sedimen sungai maupun sedimen pantai, berasosiasi dengan mineral berat dan kasiterit. Zirkon di Kabupaten Bangka Selatan diperkirakan terdapat bersamaan dengan endapan timah sekunder, baik berupa endapan sungai maupun endapan pantai. Butirannya yang halus dan warna yang bening agak sulit dibedakan dari butiran kuarsa yang banyak dijumpai di seluruh wilayah Bangka Selatan. Sebagaimana endapan timah, untuk mengetahui potensi zirkon ini perlu dilakukan penelitian dan eksplorasi lebih lanjut.

3.2.7 Monasit Monasit banyak dijumpai berupa endapan sekunder bersama-sama dengan zircon dan kasiterit, berupa dengan endapan sungai dan pantai. Selain itu monasit ditemukan juga pada batuan granit berupa endapan primer. Hingga saat ini belum banyak penelitian tentang monazite di Indonesia, baik jumlah cadangan maupun kualitasnya.

Endapan Monasit di Kabupaten Bangka Selatan ditemukan di Gunung Muntai Kecamatan Toboali. Menurut Direktorat Sumber Daya mineral (Peta sebaran Mineral Logam P. Sumatera Bagian Selatan, 1998) monasit di Gunung Muntai memiliki cadangan terukur sebesar 182.9 ton. Selanjutnya dalam pengamatan lapangan di Gunung Muntai dijumpai banyak singkapan batu granit yang diduga mengandung Monazit di bagian pinggang dan puncak gunung, namun secara megaskopis sangat sulit mengetahui kandungan mineral tersebut dalam batu granit. 3.2.8 Tanah Liat Bahan galian ini banyak ditemukan di beberapa daerah terutama di sekitar lokasi penambangan timah. Ketebalannya bervariasi berkisar antara 1-3 meter, berwarna coklat kemerahan dan lengket pada saat basah. Selain itu, endapan tanah liat juga banyak dijumpai di daerah Parit Tiga dan lokasi pembangunan kantor bupati dengan luas sekitar 200 Ha. Meskipun kualitas tanah liat ini tidak sebaik ballclay, namun jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku : gerabah, batu bata dan genteng. 3.2.9 Tanah Urug Tanah urug merupakan jenis material yang sebelumnya tidak pernah di kategorikan sebagai bahan galian. Jenis bahan galian ini telah banyak dimanfaatkan masyarakat pada pembangunan berbagai sarana dan prasarana publik. Namun demikian, di wilayah Bangka Selatan belum dikembangkan dengan baik meskipun cadangannya cukup besar. Secara umum tanah urug adalah material bahan galian yang tidak diolah atau diproses lebih lanjut, namun langsung digunakan sebagai filling material, seperti pengurugan untuk bangunan: jalan, bendungan, gedung, dan fasilitas publik lainnya. Potensi bahan galian yang terdapat di Kabupaten Bangka Selatan dapat di lihat pada Tabel 3.2. Tabel 3.2 Cadangan Bahan Galian Hasil Pengamatan Lapangan

No Jenis Bahan Galian Luas Sebaran (Ha)

Jumlah Cadangan

Lokasi

Granit

66.312.50

2 3 4 5

Pasir Kuarsa Kaolin Bijih Timah*) Bijih Besi

4.143.68 - 4.42 275.288.05 <1

(x 1000 M3) 13.262.500 Kec. Toboali, Air Gegas, Payung, Simpang Rimba, Lepar Pongok 200.000 Kec. Toboali, Lepar Pongok, Simpang Rimba, 120 Kec. Toboali 11.011.522 Kec. Seluruh kecamatan 15 Kec. Payung

6 7

Zirkon Monasit

182.9 (ton) Gn. Muntai Kec. Toboali 6000 Parit Tiga Kec. Toboali 100.000 Tersebar di seluruh kecamatan

8 9

Tanah Liat **) Tanah Urug

200 -

*) sampai kedalaman 6 M **) sampai kedalaman 3 M 3.3 Perijinan Pertambangan Pada saat ini kegiatan usaha pertambangan yang dikeluarkan oleh Dinas Pertambangan, Energi dan Lingkungan , Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari bahan galian pasir kuarsa dan timah. Dari 17 Perusahaan yang diberikan ijin terdiri dari 8 perusahaan Pasir Kuarsa dengan luas keseluruhan 368,1 Ha dan 9 Perusahaan Timah dengan luas keseluruhan 3.442,06 Ha. 17 perusahaan tersebut tersebar di Kecamatan Toboali, Kecamatan Lepar Pongok, Kecamatan Simpang Rimba, Kecamatan Air Gegas. Yang tergolong masih aktif hanya dua perusahaan, termasuk berhenti atau tidak aktif terdapat 12 perusahaan, 1 perusahaan masih tergolong belum aktif atau belum proses. Tabel 3.3 Daftar Izin Penambangan di Kabupaten Bangka Selatan

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8

Nama PT. Surya Johari Abadi PT. Cipta Karya Lahanindo CV. Kawo Karya PT. Surya Salura Mandiri CV. Sumber Alam Antarnusa CV. Confortindo Bangka PT. Surya Johor Abadi CV. Harapan Maju Bersama

Jenis Bahan Galian Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa Pasir Kuarsa Total KP Kuarsa

Luas [Ha] 120 43.6 50 4.5 20 100 10 20

Wilayah Toboali, Kec. Toboali Tanjung Kubu, Kec. Toboali Desa Tanung Labu, Kec. Lepar Pongok Gunung Namak Kec. Toboali S. Gusung Desa Rias Kec. Toboali Ds. Tanjung Labu Kec. Lepar Pongok Gn. Namak Ds. Pasir putih

Status Berhenti Berhenti Tidak aktif Tidak aktif Berhenti Berhenti Berhenti Aktif

Total IUP = 368.1 Ha

9. 10. 11.

PT. Tambang Timah PT. Tambang Timah PT. Serui indah jaya CV. Basuki CV. Bayu Mandiri Pratama PT. Stania Prima Indoncoi PT. Prima Stania Nusantara PT. Prima Stania Nusantara PT. Prima Stania Nusantara

Timah Timah Timah

12. 13. 14. 15. 16. 17.

Timah Timah Timah

749.70 Laut Permis, Kec. Simpang Rimba 199.85 Laut Permis, Kec. Simpang Rimba 28.510 Ds. Sebagin Betumpang Kec. Simpang Rimba 200 Air Ketiak Kec. Air Gegas 49 Sadai Kec. Toboali 500

Aktif Aktif Belum Aktif/Proses Tidak Aktif Tidak Aktif Tidak Aktif Tidak aktif Tidak aktif Tidak aktif

Ds. Gumba Kec. Toboali Timah 150 BangkaKota Kec. Toboali Timah 730 Ds. Jelutung II Kec. Simpang Rimba Timah 815 Ds. Pergam Kec. Air Gegas Total KP Timah 3.422.06 Ha