Anda di halaman 1dari 22

FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN KERJA

Retno Rusdjijati

Ada 4 faktor yang mempengaruhi lingkungan Kerja :

Faktor fisik Faktor kimia Faktor biologis Faktor psikologis Faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan gangguan terhadap suasana kerja dan berpengaruh terhadap K3 naker. Lingkungan kerja yang nyaman sangat dibutuhkan oleh pekerja untuk dapat bekerja secara optimal dan produktif (Manuaba, 1992)

FAKTOR FISIK

Mikroklimat Radiasi nonionisasi Kebisingan Getaran Penerangan Ventilasi

Mikroklimat..

Mikroklimat dapat bertindak sebagai stressor yang menyebabkan terjadinya strain pada pekerja apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Mikroklimat terdiri dari unsur suhu udara, kelembaban nisbi, panas radiasi, dan kecepatan gerakan udara (Sumamur, 1984). Mikroklimat yang tidak dikendalikan dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan pekerja dan gangguan kesehatan, sehingga dapat meningkatkan beban kerja, mempercepat munculnya kelelahan, dan keluhan subyektif, serta menurunkan produktivitas kerja.

Rekomendasi mikroklimat untuk negara 4 musim yaitu :

Comfort zone pada musim dingin suhu berkisar antara 19-23C dengan kecepatan udara 0,15-0,4 m/dt. Untuk musim panas suhu ideal antara 22-24C dengan kecepatan udara 0,15-0,4 m/dt dan kelembaban antara 40-60% sepanjang tahun. Batas toleransi suhu tinggi antara 35-40C, kecepatan udara 0,2 m/dt, kelembabab 40-50%, perbedaan suhu permukaan <4C (Grandjean, 1993).

Lingkungan kerja panas

Suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap (homeostatis) oleh suatu pengaturan suhu (thermoregulatory system). Jika lingkungan kerja sangat panas, selain tubuh pekerja dapat menyeimbangan diri, juga dapat beraklimatisasi untuk mengurangi reaksi tubuh terhadap panas (heat strain). Pada kondisi ini denyut jantung lebih rendah dan laju pengeluaran keringat meningkat. Bagi pekerja yang baru berada di lingkungan panas, butuh waktu 1-2 minggu untuk proses aklimatisasi. Dalam proses ini, pekerja butuh banyak air minum yang bermineral. Dia hanya boleh terapapar 50% pada tahap awal, dan ditingkatkan 10% setiap harinya (Grantham, 1992).

Pengaruh fisiologis akibat tekanan panas

Guna mengatasi tekanan panas, maka tubuh bereaksi seperti : 1) vasodilatasi, 2) denyut jantung meningkat, 3) temperatur kulit meningkat 4) suhu inti tubuh pada awalnya turun kemudian meningkat (Pulat, 1992). Jika pemaparan suhu lingkungan panas yang berlebihan, maka dapat mengganggu kesehatan seperti : 1. Gangguan perilaku dan performansi kerja. 2. Dehidrasi. 3. Heat rash 4. Heat cramps 5. Heat syncope/fainting 6. Heat exhaustion

Pengukuran suhu lingkungan kerja harus dilakukan apabila suhu inti tubuh pekerja > 38C. Pengendalian pemaparan tekanan panas : 1. Mengurangi beban kerja dg mekanisasi 2. Mengurangi beban panas radian 3. Mengurangi temperatur dan kelembaban. 4. Meningkatkan pergerakan udara. 5. Pembatasan waktu pemaparan panas. Kesimpulan pengendalian tekanan panas adalah disain sirkulasi udara yang baik, pakaian, dan pemberian minum yang sesuai.

Penerangan ..

Penerangan yang baik adalah penerangan yang memungkinkan naker dapat melihat obyek-obyek yang dikerjakan secara jelas, cepat, dan tanpa upaya-upaya yang tidak perlu (Sumamur, 1984). Intensitas penerangan yang kurang dapat menyebabkan gangguan visibilitas dan eyestrain. Intensitas penerangan yang berlebihan dapat menyebabkan glare, reflection, excessive shadows, visibility, dan eyestrain (Amstrong, 1992).

Ada 2 jenis penerangan : buatan dan alamiah. Penerangan buatan harus dirawat dengan baik, jika kotor dapat menurunkan intensitas cahaya sampai 30%. Penerangan yang kurang memenuhi syarat dapat menyebabkan : 1. Kelelahan mata 2. Kelelahan mental 3. Keluhan pegal mata dan sakit kepala 4. Kerusakan indra mata

Kelelahan mata akan menyebabkan : 1. Kehilangan produktivitas 2. Kualitas kerja rendah 3. Banyak terjadi kesalahan 4. Kecelakaan kerja meningkat

Pengendalian masalah penerangan di tempat kerja


Modifikasi sistem penerangan yang sudah ada. Modifikasi pekerjaan Pemeliharaan dan pembersihan lampu Penyediaan penerangan lokal Penggunaan korden dan perawatan jendela Menghindari penempatan arah cahaya langsung dalam lapangan pengelihatan naker. Menghindari penggunaan cat yang mengilat pada peralatan kerja. Menggunakan cahaya difusi Menggunakan lebih banyak lampu dengan daya kecil. Menghindari lokasi pencahayaan dalam 30 dari garis normal lihat. Menghindari sumber cahaya berkedip (Sanders & McCormick, 1987)

Penggunaan warna di tempat kerja

Penggunaan warna di tempat kerja bertujuan : menjaga keselamatan para pekerja, karena mudah ditangkap oleh mata. Misalnya warna merah dan kuning. Penciptaan kontras agar mudah ditangkap mata. Kerapian atau keteraturan dan sebagai alat bantu untuk identifikasi masalah pencahayaan di tempat kerja. Pengadaan lingkungan psikologis yang optimal.

Standar penerangan di tempat kerja

Semakin tinggi tingkat ketelitian suatu pekerjaan, maka akan semakin besar kebutuhan intensitas penerangan yang diperlukan, demikian pula sebaliknya. Standar penerangan ditetapkan dalam Peraturan menteri Perburuhan (PMP) No. 7 tahun 1964, tentang syarat-syarat kesehatan, kebersihan, dan penerangan di tempat kerja.

KEBISINGAN

Kebisingan : bunyi atau suara yang tidak dikehendaki yang bersifat mengganggu pendengaran dan bahkan menurunkan daya dengar sesorang yang terpapar (WJS, 1993). Kualitas bunyi ditentukan oleh frekuensi suara dan intensitas suara (Sumamur, 1984).

Sumber kebisingan

Generator, mesin diesel untuk pembangkit listrik. Mesin-mesin produksi Mesin potong, gergaji, dan serut di perusahaan kayu. Ketel uap atau boiler pemanas air. Alat-alat pertukangan Lalu-lintas

Standar Pengukuran Kebisingan

Nilai Ambang Batas Pendengaran pekerja sesuai dengan Kepmenaker No. Kep.51/MEN/1999 yaitu 85 dB untuk waktu kerja terus-menerus tidak lebih dari 8 jam/hari atau 40 jam seminggu.

Pengaruh kebisingan intensitas tinggi

Kerusakan indra pendengaran yang dapat menurunkan daya dengar sementara maupun permanen atau ketulian. Gangguan kesehatan seperti meningkatnya tekanan darah dan denyut jantung, resiko serangan jantung meningkat,dan gangguan pencernaan.

Pengaruh kebisingan intensitas rendah

Stres (cepat marah, sakit kepala, dan gangguan tidur) Gangguan raksi psikomotor Kehilangan konsentrasi Gangguan komunikasi antara lawan bicara Penurunan performansi kerja, hilangnya efisiensi, dan penurunan produktivitas kerja.

Pengendalian Kebisingan

Eliminasi sumber kebisingan Pengendalian kebisingan secara teknik Pengendalian kebisingan secara administratif Pengendalian kebisingan pada penerima atau pekerja.

KUALITAS UDARA

Kualitas udara yang rendah dalam suatu bangunan akan memicu terjadinya sick

building syndrome dan building related illness. Keluhan-keluhan tersebut disebabkan oleh kontaminan udara dalam ruangan, faktor fisik, dan sistem ventilasi udara yang digunakan.

Langkah-langkah Pengendalian

Pemindahan atau penggantian sumber pencemaran. Modifikasi tempat atau proses kerja. Desain sistem ventilasi udara. Pengendalian administrasi

Anda mungkin juga menyukai