Anda di halaman 1dari 0

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.

USU Repository 2009




COPING STRESS PADA PRIMARY CAREGIVER PENDERITA
PENYAKIT ALZHEIMER




SKRIPSI


Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Ujian Sarjana Psikologi



Oleh


RIANTI WIDIASTUTI
04131080










FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GENAP, 2008/2009



Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



Coping stress pada primary caregiver penderita penyakit Alzheimer

Rianti Widiastuti dan Hasnida, M.Si.,psikolog

ABSTRAK
Alzheimer merupakan suatu gangguan otak yang progresif dan tidak dapat balik, yang
dicirikan dengan kemorosotan secara perlahan dari ingatan, penalaran, bahasa, dan fungsi
fisik (Santrock, 1995). Alzheimer paling banyak timbul pada usia 65 tahun. Penurunan
kognitif pada penderita Alzheimer akan membutuhkan seseorang yang merawat untuk
melakukan kegiatan sehari-hari yang disebut dengan caregiver. Kebanyakan yang menjadi
caregiver adalah istri penderita Alzheimer. Penurunan kognitif, gangguan perilaku dan
ketergantungan melakukan kegiatan sehari-hari pada penderita Alzheimer serta perubahan
hidup yang dialami caregiver akan meningkatkan stres pada caregiver. Oleh karena itu
diperlukan bagi caregiver melakukan metode coping yang tepat agar tidak meningkatkan
resiko yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran coping stress yang
digunakan oleh primary caregiver penderita Alzheimer. Karakteristik responden adalah istri
dari penderita Alzheimer pada stadium menengah dan akhir yang berperan menjadi
caregiver. Jumlah responden adalah 2 orang. Teknik pengambilan sampel adalah dengan
menggunakan teknik berdasarkan teori/konstruk operasional (theory-based/operational
construct sampling). Metode pengumpulan data dilakukan dalam penelitian adalah
wawancara mendalam (in depth interviewing) sebagai metode utama dalam pengambilan
data.
Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa istri yang menjadi caregiver
penderita Alzheimer akan mengalami stres ketika memberikan perawatan. Sumber stres pada
responden A berasal dari perubahan hidup yang dialaminya dan coping yang digunakan
dengan melakukan kekerasan pada suaminya. Hal ini menimbulkan beban pada responden A
dapat dilihat dari responden yang tidak menerima perubahan hidupnya. Sedangkan sumber
stres pada responden B berasal dari penurunan kognitif pada suaminya yang menderita
Alzheimer dan coping yang digunakan dengan mengontrol emosinya dahulu. Hal ini
membuat responden B untuk beradaptasi dengan situasi yang ada.

Kata Kunci : coping stress, caregiver penderita Alzheimer





Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala berkat dan
karunia-Nya yang senantiasa menyertai penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
proposal seminar ini sampai selesai.
Terima kasih penulis ucapkan kepada:
1. Bapak Dr.Hasan Sjahrir dan Ibu Endah, orang tuaku tercinta dan tersayang terima
kasih atas segala pengertian, informasi, dan semangat yang diberikan. Kakakku
tersayang, Mbak Puji terima kasih selalu memberikan semangat dan mendengar
semua cerita adekmu.
2. Ibu Hasnida, M.Si, psikolog selaku dosen pembimbing seminar ini atas segala
waktu yang diluangkan, bimbingan dan saran selama proses pengerjaan proposal
ini dari awal sampai selesai.
3. Ibu Arliza Juairiani Lubis, M.Si, psikolog dan Kak Juliana.I.Saragih, S.Psi selaku
dosen penguji atas petunjuknya hingga proposal ini dapat terselesaikan dengan
baik.
4. Bapak Ari Widiyanta, Psikolog atas keluangan waktu, bimbingan dan masukan
yang diberikan.
5. NK yang bersedia untuk melakukan wawancara dan memberikan cerita yang
membantu penulis menyelesaikan proposal ini.
6. Langit Athar Yudhistira dan Adriansyah Lubis, lelaki baik yang selalu mendengar
semua ceritaku dan memberikan semangat, canda tawa, dan bahagia.
7. Teman-temanku tersayang: Indri, Rina & Liya (kita jarang ketemu ya..), Wita,
Kakak, Ririe, Kiki, Ela (kapan kita nyusul ririe dan wita...?), Edith, Ican, Baleh,
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Kiaw, Ecad (makasih buat semua kata-kata dan masukannya yang membuatku
lebih semangat), teman-teman yang lagi seminar Psikologi Klinis juga (terima
kasih buat semua informasi dan motivasinya...semangat..!!) serta teman-teman
mahasiswa psikologi stambuk 2004 terima kasih buat semua masukan, semangat,
dan cerita yang diberikan.
8. Terima kasih juga penulis ucapkan pada semua pihak yang telah memberikan
dukungan dan bantuan hingga seminar ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa proposal ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pembaca demi kesempurnaan proposal
ini. Harapan peneliti semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait,
lingkungan akademik Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, serta para pembaca
pada umumnya,
Terima kasih
Medan, Juni 2008


Penulis






Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN
I.A. Latar Belakang..................................................................................... 1
I.B. Perumusan Masalah.............................................................................. 9
I.C. Tujuan Penelitian................................................................................. 9
I.D. Manfaat Penelitian............................................................................... 10
I.D.1.Manfaat teoritis............................................................................ 10
I.D.2.Manfaat praktis............................................................................ 10
I.E. Sistematika Penulisan........................................................................... 11
BAB.II. LANDASAN TEORI
II.A. Stres..................................................................................................... 12
II.A.1.Pengertian Stres....................................................................... 12
II.A.2.Sumber Stres............................................................................ 13
II.B. Coping Stress...................................................................................... 14
II.B.1.Pengertian Coping.................................................................... 14
II.B.2.Fungsi Coping Stress................................................................ 16
II.B.3.Metode Coping Stress.............................................................. 16
II.C. Penyakit Alzheimer............................................................................. 18
II.C.1.Gambaran Umum penyakit Alzheimer.................................... 18
II.C.2.Kriteria Diagnostik Alzheimer................................................. 20
II.C.3.Gejala Penyakit Alzheimer....................................................... 21
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


II.C.4.Stadium Penyakit Alzheimer..................................................... 24
II.D.Coping Stress pada Caregiver KeluargaPenderita Alzheimer............. 25
II.F. Paradigma............................................................................................. 28
BAB. III. METODE PENELITIAN
III.A. Penelitian Kualitatif........................................................................... 29
III.B. Subjek Penelitian............................................................................... 30
III.B.1.Karakteristik Subjek Penelitian.............................................. 30
III.B.2.Jumlah Subjek Penelitian....................................................... 30
III.B.3.Teknik Pengambilan Sampel................................................. 31
III.B.4.Lokasi Penelitian................................................................... 31
III.C. Metode Pengumpulan Data.............................................................. 31
III.C.1.Wawancara............................................................................. 32
III.D. Alat Bantu Pengambilan Data.......................................................... 33
III.D.1.Pedoman Wawancara............................................................ 33
III.D.2.Tape Recorder....................................................................... 33
III.E. Prosedur Analisis Data..................................................................... 34
BAB. IV. ANALISA DATA
IV.A.Responden A... 35
A.1. Analisa Data 35
A.2. Pembahasan Data. 40
IV.B. Responden B.. 41
B.1. Analisa Data. 41
B.2. Pembahasan Data.. 55
IV.C. Analisa Banding 57
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


BAB V. KESIMPULAN,DISKUSI,SARAN. 59
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehidupan manusia di dunia akan mengalami beberapa proses dimulai dengan
kelahiran sampai dengan akhir kehidupan. Usia lanjut merupakan periode penutup dalam
rentang kehidupan seseorang dimana telah mengalami perubahan-perubahan yang tidak sama
ketika periode sebelumnya. Dalam proses tersebut manusia akan mengalami tahap
perkembangan yang berbeda dan setiap tahap yang dilalui akan memberikan beberapa
perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada fungsi biologis dan motoris, pengamatan dan
berpikir, motif-motif dan kehidupan afeksi, hubungan sosial serta integrasi masyarakat
(Monks, 2002).
Menurut Hurlock (1980), salah satu ciri usia lanjut adalah mengalami periode
kemunduran. Kemunduran yang terjadi seperti mengalami perubahan fisik dan mental yang
sudah tidak sama ketika periode sebelumnya. Kemunduran fisik dan mental yang terjadi
secara bertahap dan perlahan disebut dengan proses menjadi tua.
Pada saat proses penuaan, otak dapat mengalami gangguan kognitif atau intelektual.
Gangguan tersebut sering diistilahkan dengan kepikunan. Kepikunan dianggap sebagai proses
fisiologis yang wajar pada saat terjadinya penuaan. Cummings dan Benson (1992)
menggunakan istilah "senescence" yang menandakan perubahan proses menua yang masih
dalam taraf normal. Terdapat juga istilah senility untuk gangguan intelektual yang terjadi
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


pada lanjut usia tetapi belum pikun, dan apabila sudah ada gangguan kepikunan maka
istilahnya adalah dementia (Besdin, 1987 dalam Sjahrir, Darulkutni, Rambe, 1999 ).
Demensia merupakan kekurangan fungsi kognitif secara progresif yang banyak
muncul pada usia lanjut (Sarafino, 2006). Karakteristik Demensia ditandai dengan gejala-
gejala gangguan pada komponen kognitif seperti berbahasa, memori, visuospasial, atensi, dan
fungsi eksekutif. Biasanya gangguan memori selalu ada dan diikuti oleh gangguan kognitif
lainnya (Sjahrir, Darulkutni, Rambe, 1999).
Salah satu penyebab dari Demensia adalah penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer
merupakan suatu gangguan otak yang progresif dan tidak dapat balik, yang dicirikan dengan
kemorosotan secara perlahan dari ingatan, penalaran, bahasa, dan fungsi fisik (Santrock,
1995). Penyakit Alzheimer paling banyak timbul setelah usia 65 tahun. Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO), memperkirakan lebih dari satu milyar orang tua yang berusia lebih dari 60
tahun atau 10% penduduk dunia menghidap penyakit Alzheimer pada tahun 2003.
Peningkatan ini, ada kaitannya dengan semakin banyak penduduk dunia yang berusia lanjut.
Pada saat ini penderita penyakit Alzheimer di dunia diperkirakan sebanyak 15 juta orang
(www.w3c.org). Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut di atas 60
tahun adalah 7,2% (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). Peningkatan angka kejadian
kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi.
Penderita penyakit Alzheimer di Indonesia sendiri diperkirakan sebanyak 606.100 orang
dengan insiden 191.400 orang (www.koalisi.org). Penyakit Alzheimer merupakan penyakit
yang menyebabkan kematian nomor empat setelah kanker, stroke, dan penyakit jantung.
Angka kejadian Alzheimer sangat erat dengan penambahan usia. Pada usia 65 tahun
lebih angka kejadian kepikunan adalah 8%, meningkat secara pasti menjadi 25% pada usia
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


lebih dari 80 tahun, dan 40% pada usia 90 tahun lebih ( dalam Sjahrir, Darulkutni,
Rambe, 1999).
Penderita penyakit Alzheimer akan mengalami beberapa perubahan di otak yang akan
menganggu aktivitas kehidupan sehari-hari. Gangguan otak pada penyakit Alzheimer ditandai
dengan penurunan pada perhatian, memori, dan kepribadian. Perubahan kepribadian
penderita Alzheimer terjadi secara tiba-tiba dimana penderita menjadi kurang spontan dan
lebih menarik diri dari orang lain. Penderita penyakit Alzheimer juga sering mengalami
disorientasi dalam waktu, tempat, dan identitas mereka (Sarafino, 2006).
Penurunan kognitif yang terjadi pada penderita penyakit Alzheimer berlangsung
semakin menurun secara progresif dan biasanya tampak dalam waktu lima sampai 10 tahun
mendatang. Kekurangan kemampuan sosial dan penurunan melakukan aktivitas sehari-hari
akan membuat penderita memerlukan bantuan dalam melakukan kegiatan sehari-hari
(Bayer&Reban, 2004). Bantuan dalam melakukan kegiatan sehari-hari akan menyebabkan
penderita membutuhkan seseorang untuk merawat. Seseorang yang melakukan perawatan
disebut dengan caregiver. Caregiver terdiri dari formal dan tidak formal. Caregiver formal
merupakan perawatan yang disediakan oleh rumah sakit, psikiater, pusat perawatan ataupun
tenaga profesional lainnya yang diberikan dan melakukan pembayaran. Sedangkan caregiver
yang tidak formal merupakan perawatan yang dilakukan di rumah dan tidak profesional dan
tanpa melakukan pembayaran seperti keluarga penderita yaitu istri/suami, anak
perempuan/laki-laki, dan anggota keluarga lainnya. Kebanyakan para penderita penyakit
Alzheimer akan tinggal di rumah dan menerima perawatan dari keluarga mereka (Sarafino,
2006). Di Indonesia, para penderita penyakit Alzheimer masih ditangani oleh keluarga dan
lingkungan yang ada di sekitarnya. Organisasi dan kelompok formal yang belum banyak
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


tersedia di Indonesia menyebabkan kebanyakan penderita penyakit Alzheimer menerima
perawatan di rumah dan diberikan oleh keluarganya (Kusumoputro & Sidiarto, 2004).
Caregiver memiliki beberapa tugas yang dilakukan yaitu (1) emotional support,
pemberian saran; (2) asisten dalam pekerjaan rumah tangga (seperti pembersihan rumah,
persiapan makan, belanja, transportasi); (3) perawatan diri (seperti mandi, berpakaian,
makan, persiapan obat); (4) mengatur keuangan; (5) membuat keputusan tentang perawatan
dan berhubungan langsung dengan pelayanan kesehatan formal (seperti mengatur pelayanan
dalam rumah dan pelayanan kesehatan); (6) asisten pengaturan finansial (Brody &
Schoonover, 1986; Horowitz, 1985; Noelker, 1987; Townsend & Poulshock, 1986 dalam
Birren & Schaie, 1990).
Efek dari penyakit Alzheimer tidak hanya berdampak bagi penderita tetapi juga
berdampak pada anggota keluarga yang memberikan perawatan atau caregiving (Berk, 2007).
Kejadian yang stressful pada caregiver saat melakukan perawatan pada penderita penyakit
Alzheimer berhubungan dengan gangguan kognitif, fungsional dan perilaku yang dialami
oleh penderita. Aneshensel et al. (1995) menjelaskan objective stressor seperti kerusakan
kognitif, ketergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan masalah perilaku.
Sedangkan subjective stressor seperti reaksi caregiver pada objective stressor yang ada
(dalam Robertson, Zarit, Duncan, Rovinne, & Femia, 2007).
Salah satu stressors dari objective stressor adalah munculnya gangguan perilaku pada
penderita. Beberapa gangguan perilaku tersebut yaitu termasuk gangguan mood (seperti
depresi dan kecemasan), gangguan aktivitas (seperti mengembara), perilaku yang
mengganggu dan menuntut (seperti agresi secara fisik dan verbal), dan gejala psikotik
(seperti delusi). Gangguan perilaku yang merupakan karakteristik pada penderita Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


dapat berhubungan dengan munculnya depresi pada caregiver (Schulz, 1995 dalam
Neundorfer, McClendon, Smyth, Stuckey, et al, 2001).
Penderita penyakit Alzheimer semakin lama akan kehilangan fungsi kognitif,
kemampuan untuk melakukan tugas yang sederhana dan mengingat. Hilangnya fungsi
kognitif pada penderita penyakit Alzheimer akan membuat keluarga penderita Alzheimer
akan semakin frustasi (Migliorelli, 1995 dalam Sarafino, 2006). Hal ini dapat dilihat dari
hasil wawancara singkat dengan caregiver penderita penyakit Alzheimer. Pernyataan tersebut
seperti :
..kita lihat kemundurannya hari ke hari..kadang-kadang itu yang bikin stres.. kalo kita
perhatiin, kelihatan juga mundur..dari segi daya ingat, pikiran, sifatnya juga dah
berubah.... (Komunikasi Personal, 15 Maret 2008)

Menurut hasil observasi peneliti pada fenomena yang dialami oleh NK (79 tahun)
yang merupakan istri dari KK (91 tahun) di Kota Medan merupakan salah satu contoh dari
munculnya stres pada caregiver akibat gangguan perilaku yang dialami oleh penderita
penyakit Alzheimer. KK menderita penyakit Alzheimer selama kurang lebih tujuh tahun.
Sebelum KK menderita penyakit Alzheimer, KK merupakan sosok yang sangat lembut dan
baik. KK tidak pernah marah kepada istrinya dan anak-anaknya. Setelah KK menderita
penyakit Alzheimer, KK berubah menjadi sosok yang tidak lembut, sering marah tanpa
alasan, dan membentak istrinya dan anak-anaknya. KK juga sulit untuk melakukan aktivitas
sehari-hari seperti makan yang banyak, tidur yang cukup, dan lainnya. Gangguan-gangguan
tersebut menyebabkan istri KK yaitu NK yang merupakan caregiver penderita menjadi stres
yang berlanjut. NK menjadi sulit tidur dan sering meminta obat ke dokter untuk mengurangi
stres.
Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang terkena penyakit Alzheimer
menjadi tuntutan bagi pasangan penderita dan anak penderita yang sudah dewasa.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Pengalaman dalam memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang terkena penyakit
Alzheimer dapat memberikan hasil yang negatif pada caregiver. Hasil negatif tersebut antara
lain stres, strain, masalah kesehatan fisik dan mental, dan beban (Aneshensel, Pearlin,
Mullen, Zarit, & Whitlatch, 1995; Schulz & Beach, 1999 dalam Robertson, Zarit, Duncan,
Rovinne, & Femia, 2007). Caregiver juga memiliki waktu yang sedikit diberikan untuk
anggota keluarga lainnya dan untuk aktivitas waktu luang bagi dirinya sendiri (Ory et al,
1999 dalam Hooyer & Roodin, 2003).
Istri yang menjadi caregiver bagi penderita Alzheimer lebih mengalami simtom
depresi daripada suami. Hal ini dikarenakan kehilangan kedekatan seperti saling bercerita dan
melakukan aktivitas bersama dalam hubungan perkawinan berhubungan dengan kerusakan
kognitif yang dialami penderita Alzheimer (Hoyer&Roodin, 2003).
Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara singkat dengan caregiver penderita
penyakit Alzheimer. Pernyataan tersebut seperti :
...kita butuh kawan..untuk ngobrol dah gak bisa la.. gak bisa cerita apa aja gak bisa
lagi.. dia ngerti sih tapi abis itu lupa lagi.. kadang pengen cerita yang dulu-dulu.. tapi
gak bisa lagi.. memang jadi stres juga.. kita ada anak-anak, tapi dah ada kesibukan
masing-masing.. gak bisa terus sama.. kadang kalo malam dah mau tidur kita gak ada
kawan lagi.. jadi gimanapun juga suka stres sih. .sering lah.. kadang juga sampe minta
obat ma dokter.. jadi susah tidur... (Komunikasi Personal, 15 Maret 2008)

Tuntutan untuk merawat penderita penyakit Alzheimer dapat menimbulkan masalah
fisiologis dan emosional bagi keluarganya (Sarafino, 2006). Istri menjadi lebih terbebani
dengan kesehatan penderita Alzheimer seperti menjadi lebih khawatir, frustasi, dan tidak
sabar sehingga mengakibatkan kerja yang berlebihan (Barrow, 1996). George dan Gwyther
(1986) menemukan bahwa pada caregiver penderita demensia lebih mengalami stres daripada
penyakit kronis lainnya.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Stres yang dialami oleh caregiver akan mempengaruhi kesehatan mereka sendiri yaitu
sistem imun yang rendah, hormon stress yang tinggi, dan tingkat angka kematian yang tinggi
(Sarafino, 2006). Caregiver berusaha untuk mengimbangi potensi yang ia miliki dengan
tuntutan untuk memberikan perawatan. Penerimaan potensi yang dimiliki caregiver dapat
membuat dirinya menjadi lebih aktif dan melihat situasi yang ada dengan pandangan positif
(dalam Dacey dan Travers, 2002).
Pada saat mengalami stres, orang akan mencari dan menggunakan berbagai cara untuk
mengurangi dan menghilangkan stresnya atau biasa disebut dengan coping stress (Sarafino,
2006). Folkman dan Lazarus (dalam Rice, 1992) mendefinisikan coping sebagai usaha
individu dalam menghadapi dan bertingkah laku untuk menguasai, mengurangi, atau
memaklumi permintaan atas dirinya. Menurut Lazarus,dkk (1994) coping mempunyai dua
macam fungsi yaitu emotion-focused coping dan problem-focused coping.
Emotion-focused coping digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres.
Pengaturan respon emosi menggunakan dua pendekatan yaitu perilaku dan kognitif.
Pendekatan perilaku termasuk dengan menggunakan alkohol, mencari social support dari
teman atau keluarga, dan melakukan aktivitas lain. Sedangkan pendekatan kognitif adalah
bagaimana orang berpikir mengenai situasi stressful (Sarafino, 2006). Social support
merupakan perantara bagi caregiver untuk mengurangi stres. Penerimaan social support yang
baik akan meningkatkan semangat dan mengurangi beban pada caregiver(Birren dan Schaie,
1990).
Hal yang sama juga diperoleh dari hasil wawancara singkat dengan caregiver
penderita penyakit Alzheimer. Pernyataan tersebut beragam mulai dari pernyataan seperti:
..banyak baca juga tentang penyakit Alzheimer... kalo gak, jadi kesel terus..soalnya
kita gak ngerti..makanya harus ngerti sama cari-cari informasi... (Komunikasi
Personal, 15 Maret 2008)

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


kalo jenuh ya keluar...pergi ke supermarket..yang dibeli juga satu atau dua barang aja..
tapi yang penting keluar aja dulu... (Komunikasi Personal, 15 Maret 2008)

Caregiver mengambil salah satu dari tiga tipe emosional dalam coping stress dengan
merawat anggota keluarga yang menderita penyakit Alzheimer. Tipe-tipe tersebut adalah
confrontatial ( seperti marah, bersalah, sedih), denial (seperti menekan emosi negatif), dan
penghindaran (Hooyer & Roodin, 2003).
Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan strategi emotion-focused coping
yang berbeda seperti penghindaran, pengharapan, dan pelepasan emosi dapat meningkatkan
depresi pada caregiver. Penggunaan satu strategi emotion-focused yaitu penerimaan dapat
mengurangi efek negatif pada caregiver (Pruchno & Resch, 1989 dalam Powers, Gallagher-
Thompson, Kraemer, 2002). Hal yang sama juga diperoleh dari hasil wawancara singkat
dengan caregiver penderita penyakit Alzheimer. Pernyataan tersebut beragam mulai dari
pernyataan seperti:
...mesti banyak sabar... kalo marah juga percuma..dianya juga gak tahu.. tapi akhirnya
jadi stres... yah, kita harus bisa nerima memang dah jalannya dan seperti ini.. kita balik
lagi ke agama... (Komunikasi Personal, 15 Maret 2008)

...ada kejenuhan...tapi abis itu mikir jalan hidup yang harus kita jalani..dengan
tawakkal..kalo gak, kita sendiri yang pusing sendiri... (Komunikasi Personal, 15 Maret
2008)

Problem-focused coping digunakan oleh individu dengan mengurangi tuntutan dari
situasi stressful atau mengembangkan sumber pada dirinya. Individu akan mengurangi
stressor dengan mempelajari cara atau ketrampilan baru. Pendekatan problem-focused
cenderung digunakan jika individu yakin akan dapat merubah situasi. Caregiver pada pasien
terminal illness menggunakan problem-focused coping pada beberapa bulan sebelum menuju
kematian (Sarafino, 2006).
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Terkadang individu menggunakan tipe Emotion-Focused Coping dan Problem-
Focused Coping secara bersamaan ketika mereka menghadapi situasi yang stressful. Menurut
Lazarus dan Folkman (1984), penggunaan strategi coping stress yang efektif dapat berbeda-
beda sesuai dengan situasi dimana strategi tersebut digunakan.
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan di atas peneliti ingin mengetahui
bagaimana pengalaman stres yang dialami oleh keluarga penderita Alzheimer dan coping
stress pada keluarga yang merawat individu penderita Alzheimer.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti merumuskan beberapa pertanyaan yang
akan dijawab melalui penelitian ini. Dengan demikian dapat dirumuskan masalah utama
penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah pengalaman stres pada caregiver yaitu pasangan dari individu penderita
Alzheimer?
2. Bagaimanakah strategi coping stress yang digunakan oleh caregiver yaitu pasangan dari
individu penderita Alzheimer?


C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengalaman stres dan gambaran
strategi coping stress yang dialami oleh pasangan penderita penyakit Alzheimer yang
berperan menjadi primary caregiver penderita.

D. Manfaat Penelitian
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk perkembangan ilmu
psikologis, khususnya di bidang Psikologi Klinis dan bermanfaat menjadi salah satu sumber
informasi bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut masalah yang berkaitan dengan
coping stress pada pasangan penderita penyakit Alzheimer yang berperan menjadi primary
caregiver penderita.

2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada keluarga dan
orang-orang di sekitar individu penderita Alzheimer, institusi yang berada dalam bidang
Alzheimer dan pihak lain yang berkepentingan mengenai coping stress pada pasangan dari
individu penderita Alzheimer sehingga diharapkan dapat membantu mengatasi masalah-
masalah yang berhubungan dengan individu penderita Alzheimer tersebut.



E. Sistematika Penulisan
Penelitian ini dirancang dengan susunan sebagai berikut :
BAB I : Pendahuluan
Berisikan latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian,
manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Berisikan teori-teori yang menjelaskan data penelitian yaitu teori tentang stres,
coping stress, caregiving dan caregiver, dan penyakit Alzheimer.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


BAB III : Metodologi Penelitian
Berisikan pendekatan yang digunakan, subjek penelitian, metode
pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data penelitian, prosedur
penelitian dan prosedur analisis data























BAB II
LANDASAN TEORI


A. Stres
1. Pengertian Stres
Dalam buku Stres and Health, Rice (1992), mendefinisikan stres dengan tiga
pengertian yang berbeda, yaitu :
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


a. Stres mengarah pada setiap kejadian atau stimulus lingkungan yang menyebabkan
seseorang merasa tertekan atau dibangkitkan. Dalam hal ini, stres berasal dari
eksternal seseorang. Kondisi yang dapat menimbulkan stres disebut dengan stressor.
Setiap situasi, peristiwa/kejadian atau objek yang memaksa tubuh dan menyebabkan
timbulnya physiological reaction adalah stressor.
b. Stres mengarah pada respon subjektif. Dalam hal ini, stres merupakan bagian internal
dari mental, termasuk didalamnya adalah emosi, pertahanan diri, interpretasi dan
proses coping yang terdapat dalam diri seseorang.
c. Stres mengarah pada physical reaction dalam mengatasi ataupun menghilangkan
gangguan.
Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Sarafino, 2006) mengatakan stres adalah
keadaan dimana transaksi yang ada membuat orang mempunyai kesenjangan antara tuntutan
fisik atau fisiologis dari situasi dan sumber dari sistem biologis, psikologis, dan sosialnya.
Lazarus dan Folkman (dalam Morgan, 1986) mengatakan stres adalah keadaan
internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh (kondisi penyakit, latihan, dan
lainnya) atau oleh kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak
terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk melakukan coping. Penyebab stres yang
berasal dari fisik, lingkungan, dan sosial dapat diartikan dengan stressor. Sekali dimunculkan
oleh stressor maka memberikan berbagai macam respon, yaitu respon secara fisik dan
psikologis seperti kecemasan, depresi, keputusasaan, dan perasaan lainnya yang tidak dapat
diatasi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa stres adalah
terjadinya kesenjangan antara tuntutan fisik, lingkungan, dan sosial dengan sumber daya yang
dimiliki individu.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



2. Sumber Stres
Sarafino (2006) mengatakan tiga jenis sumber stres yang dapat terjadi pada
kehidupan, yaitu :
1. Sumber yang berasal dari individu
Salah satu sumber stres yang berasal dari individu adalah terkenanya penyakit.
Sumber stres yang lain adalah ketika munculnya konflik pada individu.
2. Sumber yang berasal dari keluarga
Tingkah laku, kebutuhan, dan kepribadian masing-masing anggota keluarga dapat
memberikan dampak dan berhubungan dengan sistem keluarga yang terkadang
menghasilkan stres. Sumber-sumber stres dapat berasal dari adanya anggota baru
dalam keluarga misalnya kelahiran anak, perceraian, dan penyakit dan kematian
pada anggota keluarga dimana jika ada orang tua yang sakit dan harus dirawat
oleh anggota keluarganya dapat meningkatkan stres terutama orang tersebut harus
dirawat terus menerus dan mengalami penurunan mental (Martine&Schulz, 2001).
3. Sumber yang berasal dari komunitas dan masyarakat
Hubungan interpersonal yang ada di luar keluarga dapat menjadi sumber stres.
Pengalaman pada orang dewasa yang dapat menjadi sumber stres berhubungan
dengan pekerjaan mereka dan berbagai situasi lingkungan yang dapat menjadi
tertekan.

B. Coping Stress
1. Pengertian Coping
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Taylor, 2003), coping adalah proses yang
mengatur tuntutan dari eksternal atau internal yang muncul melampaui batas sumber daya
seseorang. Coping terdiri dari usaha langsung pada aksi dan intrapsychic untuk mengatur
(seperti mengurangi, memahami, mengecilkan) lingkungan dan tuntutan dari internal serta
konflik diantara keduanya. Definisi dari coping ini mempunyai beberapa aspek, yaitu :
1. Hubungan antara coping dan situasi yang penuh tekanan merupakan proses yang
dinamis. Coping merupakan gabungan transaksi antara seseorang yang
mempunyai susunan sumber daya, nilai, dan komitmen dengan suatu lingkungan
khusus yang mempunyai sumber daya, tuntutan dan paksaannya sendiri.
2. Definisi kedua dari coping adalah keluasan cakupannya. Definisi ini meliputi
banyak aksi dan reaksi terhadap situasi yang penuh tekanan. Reaksi emosi seperti
marah atau depresi dapat dijadikan bagian dari proses coping dan juga aksi yang
dijalankan untuk menghadapi situasi tersebut.

Lazarus dan Folkman (dalam Sarafino, 2006) mengatakan coping adalah usaha
seseorang untuk mengatur kesenjangan antara tuntutan dan sumber daya yang dimiliki dalam
situasi yang penuh dengan tekanan. Usaha coping dapat diartikan dengan memperbaiki
masalah dan dapat juga membantu seseorang merubah pandangannya terhadap kesenjangan,
menerima ancaman, atau menghindar dari situasi.
Menurut Suls dan Fletcher (Rice, 1992) bahwa perilaku coping mungkin bersifat
positif atau negatif, aktif atau menghindar, secara langsung atau tidak langsung. Hal ini
mencakup mencari pertolongan, mencari informasi atau perhatian yang menyenangkan.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa coping adalah suatu
proses dimana individu berusaha untuk mengatur atau mengelola diri terhadap tuntutan-
tuntutan baik secara internal maupun eksternal.

2. Fungsi Coping Stres
Secara umum menurut Lazarus, dkk ( Sarafino, 2006) coping mempunyai dua fungsi,
yaitu:
a. Emotion-focused coping
Digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Pengaturan respon emosi
menggunakan dua pendekatan yaitu perilaku dan kognitif. Pendekatan perilaku
termasuk dengan menggunakan alkohol, mencari social support dari teman atau
keluarga, dan melakukan aktivitas lain. Sedangkan pendekatan kognitif adalah
bagaimana orang berpikir mengenai situasi yang penuh tekanan.

b. Problem-focused coping
Digunakan oleh individu dengan mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh tekanan
atau mengembangkan sumber daya pada dirinya. Individu akan mengurangi stresor
dengan mempelajari cara atau ketrampilan baru. Pendekatan ini cenderung digunakan
jika individu yakin akan dapat merubah situasi.

3. Metode Coping Stres
Taylor (2003) mengatakan bahwa metode coping terdiri dari:
a. Planful Problem Solving yaitu coping yang bertujuan sebagai problem focused, adalah
usaha untuk fokus pada masalah dan mencari pemecahannya.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


b. Confrontative adalah coping yang bertujuan sebagai problem focused, adalah usaha
yang agresif untuk mengubah situasi.
c. Seeking Social Support adalah coping yang bertujuan sebagai Problem focused,
adalah usaha untuk mengatur emosi yang nyaman dan mencari informasi dari orang
lain.
d. Direct Action yaitu coping yang bertujuan sebagai problem focused, adalah tindakan
secara langsung untuk merubah situasi menjadi lebih baik.
e. Distancing adalah coping yang bertujuan sebagai emotion focused, adalah usaha
untuk melepaskan diri dari situasi yang penuh dengan tekanan.
f. Escape/Avoidance yaitu coping yang bertujuan sebagai emotion focused, adalah usaha
untuk meghindar atau lari dari masalah.
g. Self Control yaitu coping yang bertujuan pada emotion focused, adalah yaitu
mengatur perasaan atau tindakan seseorang yang berhubungan dengan masalah yang
ada.
h. Accepting Responsibility yaitu coping yang bertujuan pada emotion focused, adalah
yaitu berusaha mengambil pengetahuan tentang peranannya dalam suatu
masalah,sambil berusaha membetulkan apa yang salah.
i. Positive Appraisal yaitu coping yang bertujuan pada emotion focused, adalah usaha
untuk mendapatkan makna yang positif dalam pengalaman dengan fokus pada
pertumbuhan diri.
j. Emotional Discharge yaitu coping yang bertujuan sebagai emotion focused,adalah
melibatkan pengekspresian atau pelepasan perasaan tentang situasi yang menekan.
k. Religion yaitu coping yang bertujuan sebagai emotion focused,adalah usaha untuk
mendapatkan kenyamanan dari agama dan kepercayaan spiritual.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


l. Acceptance yaitu coping yang bertujuan sebagai emotion focused,adalah usaha untuk
menerima kenyataan mengenai situasi yang terjadi.
m. Cognitive Redefinition yaitu berusaha tetap terlihat baik didalam situasi yang buruk,
membuat sesuatu perbandingan dengan orang lain yang lebih rendah, atau melihat
sesuatu yang baik yang muncul dari masalah itu.
n. Denial yaitu coping yang bertujuan sebagai emotion focused,adalah usaha untuk
menolak situasi yang tidak menyenangkan.
o. Intrusive Troughts yaitu coping yang bertujuan sebagai emotion focused,adalah
berpikir berulang-ulang tentang kesalahan orang lain sehingga muncul masalah
tersebut.

C. Caregiving dan Caregiver
1. Pengertian Caregiving dan Caregiver
Meningkatnya harapan hidup manusia sehingga bisa mencapai usia lanjut merupakan
perubahan demografis yang terjadi paling drastis pada abad ke-20. Usia lanjut merupakan
suatu periode dari rentang kehidupan yang ditandai dengan perubahan atau penurunan fungsi
tubuh yang tidak sama ketika periode sebelumnya (Papalia, 2001).
Penurunan fungsi tubuh yang dialami para lansia merupakan salah satu alasan
mengapa para lansia membutuhkan bantuan dalam melakukan kegiatan sehari-hari
disebabkan mereka menderita penyakit kronis. Pemberian bantuan ini bisa datang dari
institusi formal seperti perawat rumah sakit atau tenaga professional lainnya atau dari
mekanisme informal seperti keluarga, kerabat atau lingkungan di sekitarnya.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Pemberian bantuan atau perawatan oleh anggota keluarga kepada para lanjut usia
biasa disebut dengan caregiving. Lund (1993) mendefinisikan caregiving atau pemberian
perawatan sebagai berikut :

Caregiving is informal, unpaid care of a person whose independence is physically,
mentally, or economically limited. It may include errands, chauffeuring, help with
finances, or housework, or complete physical care.
(dalam Papalia and Sterns, 2002)

Schulz, Mittelmark, Burton, Hirsch, & Jackson (1997) mendefinisikan caregiving
sebagai berikut :

Caregiving is typically defined as living with or being related to an elderly
individual with a cognitive deficit and/or functional disability. Relatives of the
disabled elderly person are presumed to be providing care by virtue of their relation
to the disabled person and/or because they live with them, even though no direct
evidence is reported regarding the extent to which care provision actually occurs
(dalam Schulz, Mittelmark, Burton, Hirsch, & Jackson, 1997)

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa caregiving adalah pemberian
perawatan atau bantuan secara informal dan tidak menerima pembayaran kepada individu
yang tidak mandiri serta memiliki keterbatasan fisik, mental atau ekonomi. Anggota keluarga
dari lansia yang mempunyai keterbatasan mempunyai tanggung jawab untuk memberikan
perawatan kepada lansia tersebut dikarenakan mereka tinggal bersama lansia tersebut atau
mempunyai tugas moral yang harus dipenuhi. Bentuk pemberian bantuan termasuk
berbelanja, membawa kendaraan, membantu secara finansial, pekerjaan rumah atau
perawatan fisik secara utuh.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Mahalnya biaya panti wredha atau rumah perawatan dan keengganan para lanjut usia
untuk dirawat disana, membuat para lanjut usia yang membutuhkan bantuan memperoleh
perawatan di rumah. Baroness Pitkeathley (1989) mendefiniskan caregiver sebagai berikut :

Someone whose life is in some way restricted by the need to be responsible for the
care of someone who is mentally ill, mentally handicapped, physically disabled or
whose health is impaired by sickness or old age.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa caregiver merupakan seseorang yang
mempunyai tanggung jawab untuk memberikan perawatan pada seseorang yang sakit secara
mental, ketidakmampuan secara fisik atau kesehatannya terganggu karena penyakit atau usia
tua yang diderita.

2. Tugas-tugas Caregiving
Menurut Brody & Schoonover (1986), Horowitz (1985), Noelker (1987), Townsend
& Poulshock (1986) (dalam Birren & Schaie, 1990) mengatakan ada enam jenis tugas yang
dilakukan oleh caregiver, yaitu :
1. Memberikan dukungan emosi dan pemberian saran
2. Asisten dalam melakukan pekerjaan rumah tangga seperti pembersihan rumah,
persiapan makan, belanja, dan transportasi
3. Membantu dalam perawatan personal seperti memandikan, membantu berpakaian,
makan, dan mempersiapkan obat
4. Mengatur keuangan
5. Membuat keputusan tentang perawatan dan berhubungan langsung dengan pelayanan
kesehatan formal seperti mengatur pelayanan dalam rumah dan pengasuhan
6. Asisten dalam pengaturan finansial
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



3. Jenis-Jenis Caregiver
Menurut Barrow (1996), caregiver terdiri dari dua jenis, yaitu :
1. Caregiver formal yaitu seseorang yang memberikan perawatan dengan melakukan
pembayaran yang disediakan oleh rumah sakit, psikiater, pusat perawatan ataupun
tenaga profesional lainnya
2. Caregiver informal yaitu seseorang yang memberikan perawatan dengan tidak
melakukan pembayaran dan tidak secara tenaga professional. Perawatan ini dapat
dilakukan di rumah dan biasa diberikan oleh pasangan penderita, anak dari penderita
atau anggota keluarga lainnya.

4. Gambaran Kerangka Proses Stres dan Coping Stres pada Caregiver
Dalam Birren dan Schaie (1999), elemen-elemen dari gambaran proses stress dan
coping pada caregiver terdiri dari :
a. Stressor atau kejadian hidup
Stressor pada model ini terdiri dari dua bentuk yaitu pertama masalah kesehatan yang
dialami oleh penderita seperti gejala penyakit yang timbul. Menurut Aneshensel et al.
(1995) gejala penyakit yang timbul pada penderita Alzheimer seperti kerusakan
kognitif, ketergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan gangguan
perilaku. Hal ini dikatakan sebagai objective stressor pada caregiver. Stressor kedua
yaitu perubahan hidup yang terjadi pada caregiver saat ia memberikan perawatan.
Perubahan hidup yang terjadi pada caregiver seperti berubahnya tuntutan peran dari
yang dahulu dan adanya tuntutan dari keluarga, tempat kerja, pertemanan, dan
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


finansial yang dialami oleh caregiver. Bagaimana reaksi caregiver terhadap objective
stressor yang ada. Hal ini dikatakan sebagai subjective stressor.
b. Appraisal
Appraisal dalam model ini mempunyai dua aspek yaitu pertama persepsi caregiver
terhadap gejala-gejala penyakit yang timbul pada penderita sebagai sesuatu yang
menyedihkan atau dapat diatasi. Sedangkan aspek kedua yaitu penerimaan caregiver
terhadap perubahan hidupnya yang terjadi setelah ia memberikan perawatan.
Perubahan tersebut sebagai sesuatu yang dapat diterima atau tidak diterima dan
seberapa banyak ia dapat memberikan perawatan.
c. Mediator
Pada elemen ini, mediator dari kejadian yang stressful termasuk sumber yang dimiliki
oleh caregiver seperti kontribusi finansial, pendidikan, dukungan sosial, dan asisten
formal. Mediator kedua yaitu kemampuan coping stress pada caregiver. Kemampuan
coping termasuk (1) mengatur situasi yang ada seperti memecahkan masalah atau
mencari bantuan, (2) mengatur arti atau penerimaan dari situasi yang ada seperti
menolak untuk memikirkan, dan (3) mengatur gejala stres seperti mencari dukungan
sosial dan melakukan aktivitas lain.
d. Hasil yang keluar pada caregiver
Hasil yang ada pada caregiver biasanya mengarah pada bentuk stres atau beban yang
dirasakan. Bentuk dari stres termasuk distres secara emosi, muncul masalah kesehatan
pada caregiver, aktivitas sosial yang berkurang dilakukan, perubahan dalam
hubungan dengan penderita yang diberikan perawatan, dan tuntutan finansial yang
muncul.

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009








*Kerangka proses terjadinya stres dan coping pada caregiver*

Event Stressor Appraisal Mediator Outcomes
Simtom pada Persepsi caregiver
Orang Tua pada simtom sbg Coping
menyedihkan atau Stress
dapat diatasi


Penyakit Beban,Distress
yang Timbul atau Adaptasi



Perubahan Penerimaan pada Sumber dan
Hidup perubahan hidup Dukungan Sosial
Caregiver caregiver


D. Penyakit Alzheimer
1. Gambaran umum Penyakit Alzheimer
Alzheimer atau sebutannya az-zhai-me, merupakan sejenis penyakit penurunan fungsi
saraf otak yang kompleks dan progresif. Penyakit Alzheimer bukannya sejenis penyakit
menular. Penyakit Alzheimer adalah keadaan di mana daya ingatan seseorang merosot
dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu mengurus diri sendiri. (Wikipedia
Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia).
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Penyakit Alzheimer adalah kerusakan otak yang ditandai dengan penurunan dari
perhatian, memori, dan kepribadian. Fungsi kognitif pada penderita penyakit Alzheimer tidak
hilang pada satu saat. Fungsi pertama yang menurun adalah perhatian dan memori. Perubahan
kepribadian sering muncul dimana penderita menjadi kurang spontan, lebih apatis, dan
menarik diri. Munculnya penurunan perhatian terhadap diri sendiri dan masalah perilaku
muncul ketika penderita menjadi sering berkelana dan tersesat. Penderita mengalami
disorientasi dalam memperhatikan waktu, lokasi, dan identitas mereka. Penurunan ini
semakin berkembang jika penderita mengalami kekurangan dalam bahasa atau mempunyai
sejarah pada alkohol atau gangguan neurologis seperti stroke atau Parkinson (dalam Sarafino,
2006).
Tanda-tanda klasik yang dialami oleh kebanyakan penderita pada stadium awal
sebagai berikut :
1. Short-term memory loss
Kemunduran fungsi memori merupakan tanda yang paling awal
2. Learning and retaining new information
Penderita mengalami kesulitan untuk belajar hal yang baru. Akibatnya adalah
mengulang-ulang sesuatu seperti pada pembicaraan dan janji.
3. Reasoning and abstractive thought
Kesulitan untuk melihat kalender, memahami lelucon, atau menentukan waktu.
Mengalami kesukaran dalam menghitung buku cek, memasak atau tugas yang
membutuhkan langkah berurutan.
4. Judgment and planning
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Mengalami kesukaran dalam kemampuan untuk mengantisipasi atau
mempertimbangkan akibat suatu peristiwa atau tindakan. Tidak mampu memecahkan
masalah sehari-hari.
5. Language skills
Sangat sulit menemukan kata yang benar dalam mengungkapkan pikiran.
6. Inhibition and impulse control
Penderita yang dahulu pasif menjadi lebih agresif dan kadang-kadang berperilaku
tidak wajar.
Berdasarkan beberapa gambaran mengenai penyakit Alzheimer di atas dapat
disimpulkan bahwa penyakit Alzheimer merupakan penurunan kemampuan kognitif yang
terjadi secara progresif dan penderita mengalami beberapa perubahan.

2. Gejala Penyakit Alzheimer
Alzheimer's Disease and Related Disorders Association (dalam Adesla, 2007),
membuat 10 gejala penyakit Alzheimer yang sering muncul sebagai berikut:
1. Hilang ingatan.
Salah satu gejala awal dari demensia adalah melupakan informasi yang baru
dipelajari. Pada orang normal, wajar bila melupakan janji, nama atau nomor telepon.
Pada mereka yang mengidap demensia, mereka akan melupakan berbagai hal seperti
itu lebih sering dan kemudian tidak ingat akan hal tersebut.
2. Sulit untuk mengerjakan tugas yang familiar.
Orang yang terkena demensiaseringkali kesulitan untuk menyelesaikan tugas sehari-
hari yang sangat mereka ketahui yang tidak perlu berpikir untuk melakukannya.
Orang yang terkena demensia tidak akan mengetahui langkah-langkah untuk
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


menyiapkan makanan, menggunakan perabot rumah tangga atau berpartisipasi dalam
melakukan kegemarannya selama ini.
3. Bermasalah dengan bahasa.
Sesekali, setiap orang dapat memiliki masalah dalam menemukan kata yang tepat,
namun pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka seringkali lupa akan kata-kata
sederhatana ataupun substitusi dari kata yang tidak biasa digunakan, membuat ucapan
atau tulisannya sulit untuk dimengerti. Contohnya: jika orang yang mengidap
Alzheimer kesulitan untuk menemukan sikat giginya, maka ia akan bertanya "sesuatu
untuk mulut saya".
4. Disorientasi waktu dan tempat.
Normal jika lupa hari dari minggu itu atau dimana kamu pergi. Tapi orang yang
mengidap Alzheimer dapat tersesat di jalan dekat rumahnya sendiri, lupa dimana dia
berada dan bagaimana ia dapat sampai ke tempat tersebut, dan tidak tahu bagaimana
caranya dia bisa kembali ke rumah.
5. Lemah atau kurang baik dalam mengambil keputusan.
Tidak ada seorang pun yang memiliki keputusan sempurna di sepanjang waktu.
Namun demikian, pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka mengenakan baju
tanpa mempertimbangkan cuaca, memakai beberapa kaos di hari yang panas atau
memakai pakaian yang sangat minim ketika cuaca dingin. Orang dengan demensia
seringkali menunjukkan keputusan yang lemah atau kurang baik mengenai uang,
mereka memberikan sejumlah besar uang kepada para telemarket atau membayar
perbaikan rumah ataupun membeli barang yang tidak mereka butuhkan.
6. Bermasalah dengan pemikiran abstrak.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Menyeimbangkan buku cek mungkin menjadi begitu sulit ketika tugas tersebut lebih
rumit dari biasanya. Namun demikian, pada orang yang mengidap Alzheimer, mereka
akan benar-benar lupa berapa jumlah/angkanya, dan apa yang harus mereka lakukan
terhadap angka-angka tersebut.
7. Salah menempatkan segala sesuatu.
Setiap orang dapat secara tidak disengaja salah menempatkan/menaruh dompet atau
kunci. Orang yang mengidap Alzheimer akan meletakkan segala sesuatu pada tempat
yang tidak sewajarnya, contoh: meletakkan gosokan di dalam freezer atau meletakkan
jam tangan di dalam mangkuk gula.
8. Perubahan mood atau tingkah laku.
Setiap orang dapat menjadi sedih dari waktu ke waktu. Seorang yang mengidap
Alzheimer menampilkan mood yang tidak tentu/berubah-ubah dari tenang menjadi
ketakutan kemudian menjadi marah tanpa ada alasan yang jelas.
9. Perubahan kepribadian.
Kepribadian seseorang wajar mengalami perubahan seiring dengan usia. Namun
seorang yang mengidap Alzheimer dapat sangat berubah , menjadi benar-benar kacau,
penuh kecurigaan, ketakutan atau menjadi bergantung pada anggota keluarga.
10. Kehilangan inisiatif.
Lelah akibat pekerjaan rumah, aktivitas bisnis, atau kewajiban sosial sesekali waktu
adalah wajar. Namun demikian, orang yang mengidap Alzheimer dapat menjadi pasif,
duduk di depan televisi selama berjam-jam, tidur lebih dari biasanya atau tidak ingin
melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.

3. Stadium Penyakit Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


1. Stadium awal
Penderita pada stadium awal menunjukkan gejala kesulitan dalam berbahasa,
mengalami kemunduran daya ingat secara bermakna, disorientasi dalam waktu,
tersesat di tempat yang dikenal, sulit membuat keputusan, kehilangan inisiatif dan
motivasi, menunjukkan gejala depresi dan agitasi, dan kehilangan minat dalam
hobi dan aktivitas.
2. Stadium menengah
Penderita pada stadium menengah menunjukkan gejala mudah lupa yang sering
terutama pada peristiwa baru dan nama orang, tidak dapat mengelola kehidupan
sendiri, sangat bergantung pada orang lain, membutuhkan bantuan untuk
kebersihan diri, makin sulit berbicara, mengalami masalah dalam mengembara (
wondering ) dan beberapa gangguan perilaku, tersesat di rumah sendiri, dan dapat
menunjukkan halusinasi.
3. Stadium akhir
Penderita pada stadium akhir menunjukkan gejala ketidakmandirian yang total,
tidak mengenali lagi anggota keluarganya, sulit memahami dan menilai peristiwa,
tidak mampu menemukan jalan di sekitar rumah sendiri, kesulitan berjalan,
mengalami inkontinensia buang air kecil dan besar, menunjukkan perilaku tidak
wajar di masyarakat, dan akhirnya bergantung pada kursi roda atau tempat tidur.

E. Coping Stress pada Caregiver Penderita Alzheimer
Pada saat lanjut usia, orang akan mengalami beberapa perubahan yaitu perubahan
fisik, kogntif , dan sosioemosional (Santrock, 1995). Perubahan kognitif yang terjadi pada
lanjut usia akan mengalami gangguan kognitif yang sering diistilahkan dengan kepikunan.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Gangguan kognitif ini juga dapat disebut dengan Demensia. Demensia merupakan
kekurangan fungsi kognitif secara progresif yang banyak muncul pada lanjut usia. Salah satu
bagian dari Demensia adalah penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer biasa terjadi pada usia
65 tahun.
Penyakit Alzheimer merupakan jenis penyakit penurunan fungsi otak yang kompleks
dan progresif (Wikipedia Indonesia). Gangguan otak pada penyakit Alzheimer ditandai
dengan penurunan pada perhatian, memori, dan kepribadian (Sarafino, 2006). Penderita
penyakit Alzheimer akan mengalami beberapa tanda masalah pada stadium awal yaitu
kehilangan Short Term Memory, pembelajaran dan penerimaan informasi, pemikiran
abstraktif, penilaian dan perencanaan, kemampuan bahasa, dan kontrol diri. Perubahan-
perubahan yang dialami penderita penyakit Alzheimer akan membutuhkan seseorang untuk
merawat yang biasa disebut caregiver. Caregiver dapat berada pada sebuah institusi yang
khusus di bidang penyakit Alzheimer dan keluarga terdekat dari penderita penyakit
Alzheimer seperti istri, anak perempuan, dan lainnya. Kebanyakan para penderita penyakit
Alzheimer akan tinggal di rumah dan menerima perawatan dari keluarga mereka (Sarafino,
2006).
Tingkah laku penderita penyakit Alzheimer semakin bermasalah selama peningkatan
penyakitnya dan dapat meningkatkan stres dalam keluarganya (Sarafino, 2006). Tingkat
keparahan dari kerusakan kognitif dan masalah perilaku yang dialami oleh penderita
Alzheimer dapat menjadi pengaruh yang besar dalam kesehatan caregiver (Berk, 2007).
Keluarga yang berperan menjadi caregiver akan beresiko mengalami masalah fisik dan
kesehatan mental serta kematian yang lebih cepat jika ia memberikan kapasitas yang
berlebihan dalam caregiving (Schultz&Beach, Sovensen&Pinquart, 2005 dalam Berk 2007).
Caregiver tidak mengalami bentuk stress yang secara signifikan yang sama. Hal ini
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


tergantung pada usia, keadaan yang terjadi, hubungannya dengan penderita dan sumber yang
ada (Harper dan Lund, 1990 dalam Papalia&Sterns, 2002).
Caregiver penderita penyakit Alzheimer lebih banyak menghabiskan waktu untuk
memberikan perawatan dan mengalami stres yang lebih banyak daripada caregiver penderita
penyakit lainnya (Ory et al, 2000). Pada saat mengalami stres, orang akan mencari dan
menggunakan berbagai cara untuk menghilangkan stresnya atau disebut dengan coping stres (
Sarafino, 2006).
Coping stres adalah proses dimana orang berusaha untuk mengatur kesenjangan
antara tuntuan dan sumber yang muncul pada situasi stresful. Usaha coping dapat diartikan
dengan memperbaiki masalah dan dapat juga membantu seseorang merubah pandangannya
terhadap kesenjangan, menerima ancaman, atau menghindar dari situasi (Sarafino,
2006).Coping stres memiliki dua fungsi yaitu emotion-focused coping dan problem-focused
coping.
Emotion-focused coping adalah usaha untuk mengatur respon emosional karena
situasi stresful (Sarafino, 2006). Menurut Folkman dan Lazarus dalam emotion-focused
coping mempunyai strategi coping yang spesifik yaitu self control adalah usaha untuk
mengatur perasaan seseorang, distancing adalah usaha untuk melepaskan diri dari situasi
yang stresful, positive reappraisal adalah usaha untuk mendapatkan makna yang positif
dalam pengalaman, accepting responsibility adalah usaha untuk membenarkan peran sendiri
dalam suatu masalah, dan escape / avoidance adalah usaha untuk menghindar dari masalah
dengan makan, minum, merokok, menggunakan obat, dan lainnya (Taylor, 2003).
Sedangkan problem-focused coping adalah usaha untuk mengurangi tuntutan dari
situasi yang penuh tekanan atau mengembangkan sumber daya pada dirinya (Sarafino, 2006).
Menurut Folkman dan Lazarus, dalam problem-focused coping mempunyai strategi coping
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


yang spesifik yaitu confrontative coping adalah usaha yang agresif untuk mengubah situasi,
seeking social support adalah usaha untuk mengatur emosi yang nyaman dan mencari
informasi dari orang lain, dan planful problem solving adalah usaha untuk fokus pada
masalah dan mencari pemecahan masalahnya (Taylor, 2003).




















Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



Perubahan Fisik Perubahan Kognitif Perubahan
Sosioemosional
Demensia
Alzheimer
Masalah Spesifik Penyakit Alzheimer:
- Perhatian
- Memori
- Kepribadian
Ditangani oleh :
Formal :
Dokter, psikiater
Caregiver
Stres
Coping Stress
Emotion-focused
coping
Problem-focused
coping
Keluarga
(istri)
Demensia Vaskuler Demensia karena kondisi
medis :Penyakit HIV,Trauma
kepala,Penyakit
Parkinson,Penyakit
Pick,Penyakit Creutzfeldt-
J akob
- Self control
- Distancing
- Positive reappraisal
- Accepting
responsibility
- Escape/avoidance
- Confrontative
coping
- Seeking social
support
- Planful problem
solving
Lanjut Usia
Ket :
Area Penelitian :
Informal
Objective
stresssor
Subjective
stressor
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009





BAB III
METODE PENELITIAN

A. Penelitian Kualitatif
Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2006) mendefinisikan metode penelitian
kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini juga
untuk menggambarkan dan menjawab pertanyaan seputar subjek penelitian beserta
konteksnya.
Sejalan dengan definisi tersebut Kirk dan Miller (dalam Moleong, 2006)
mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan yang
secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya
maupun dalam peristilahannya. Menurut Moleong (2006), penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian
misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara keseluruhan, dan dengan
cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah
dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Pemilihan metode penelitian kualitatif menjadi metode dalam penelitian ini karena
peneliti ingin melihat pengalaman subjektif seorang caregiver yang merupakan keluarga dari
penderita penyakit Alzheimer, bagaimana pengalaman stres mereka dan strategi coping yang
digunakan untuk mengatasi stres mereka selama menjadi caregiver. Perbedaan strategi
coping yang digunakan oleh setiap orang untuk mengatasi stres juga merupakan alasan
peneliti mengapa menggunakan metode penelitian kualitatif, hal ini sesuai dengan fungsi dan
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


pemanfaatan kualitatif yaitu dapat melihat sesuatu secara mendalam, memahami isu-isu yang
sensitif, dan isu-isu yang rumit.

B. Subjek Penelitian
1. Karakteristik subjek penelitian
Adapun karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian telah disesuaikan
dengan tujuan penelitian yang akan diteliti adalah :
1. Caregiver penderita penyakit Alzheimer pada stadium menengah dan akhir yang
merupakan istri dari penderita.
Penderita Alzheimer pada stadium menengah dan akhir akan mengalami
peningkatan gangguan perilaku, ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari, dan
penurunan fungsi kognitif. Peningkatan pada stadium menengah dan akhir
berhubungan dengan peningkatan stres dan gangguan kesehatan mental pada
caregiver (Alspaugh, Stephens, Townsend, Zarit, & Greene, 1999; Aneshensel
et.al., 1995; Walker, Acock, Bowman, & Li, 1996; Zarit, Todd, & Zarit, 1986).
Sekitar 40% caregiver disediakan oleh pasangan suami atau istri yaitu 14% oleh
suami dan 26% oleh istri (Harris, 1993 dalam Barrow, 1996).

2. Jumlah subjek penelitian
Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2001), penelitian kualitatif memiliki sifat yang
luwes, oleh sebab itu tidak ada aturan yang pasti mengenai jumlah subjek yang harus diambil
dalam penelitian kualitatif. Jumlah subjek sangat tergantung pada apa yang dianggap
bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia. Jumlah subjek
yang akan diambil dalam penelitian ini adalah dua orang.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



3. Teknik pengambilan subjek
Prosedur pengambilan subjek dalam penelitian ini berdasarkan konstruk operasional
(theory-based/operational construct sampling). Subjek dipilih berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan, berdasarkan teori atau konstruk operasional sesuai dengan studi-studi
sebelumnya, atau sesuai dengan tujuan penelitian (dalam Poerwandari, 2001).

4. Lokasi penelitian
Penelitian akan dilakukan di Kota Medan, karena terdapat alasan kemudahan bagi
peneliti dalam menemukan sampel, mengingat peneliti juga berdomisili di Kota Medan
sekaligus menghemat biaya penelitian. Lokasi penelitian dapat berubah sewaktu-waktu dan
disesuaikan dengan keinginan dari subjek penelitian agar subjek merasa nyaman.

C. Metode Pengumpulan Data
Menurut Lofland dan Lofland (dalam Moleong, 2006) sumber utama dalam penelitian
kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan ini dapat dicatat melalui
perekaman suara atau melalui catatan tertulis, pengambilan foto dan statistik. Pencatatan
sumber data utama dapat dilakukan dengan wawancara dan observasi yang merupakan hasil
gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Dalam penelitian yang dilakukan,
peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan wawancara.

1. Wawancara
Wawancara adalah percakapan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan
tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


pengetahuan makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan topik yang diteliti,
dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat
dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dkk, 1994).
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
menggunakan petunjuk umum wawancara. Jenis wawancara ini mengharuskan pewawancara
membuat kerangka dan garis besar pokok-pokok yang dirumuskan tidak perlu ditanyakan
secara berurutan. Demikian pula penggunaan dan pemilihan kata-kata untuk wawancara
dalam hal tertentu tidak boleh dilakukan sebelumnya. Petunjuk wawancara hanyalah berisi
petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-
pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup. Pelaksanaan wawancara dan
pengurutan pertanyaan disesuaikan dengan keadaan responden dalam konteks wawancara
yang sebenarnya (dalam Moleong, 2006)

D. Alat Bantu Pengambilan Data
Menurut Poerwandari (2001), dalam metode wawancara, alat yang terpenting adalah
peneliti sendiri. Namun, untuk memudahkan pengumpulan data, peneliti membutuhkan alat
bantu. Alat bantu yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah berupa pedoman
wawancara dan alat perekam.

1. Pedoman wawancara
Pedoman umum wawancara memuat isu-isu yang berkaitan dengan tema penelitian
ini. Pertanyaan akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat wawancara berlangsung
tanpa melupakan aspek-aspek yang harus ditanyakan. Pedoman ini digunakan untuk
mengingatkan sekaligus sebagai daftar pengecek bahwa semua aspek yang relevan telah
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


dibahas atau ditanyakan (dalam Poerwandari, 2001). Tema yang akan digunakan pada
pedoman wawancara adalah mengenai perasaan caregiver pada dampak penyakit yang
ditimbulkan oleh penderita, pengalaman stres yang dialami oleh caregiver, dan strategi
coping yang digunakan oleh caregiver.

2. Tape recorder
Tape recorder ini akan digunakan untuk merekam wawancara yang dilakukan
sehingga semua data penting yang diungkapkan subjek tidak ada yang terlupakan. Rekaman
wawancara berguna untuk verbatim sehingga mempermudah dalam melakukan pengkodean
dan analisis data. Penggunaan tape recorder ini akan dilakukan dengan seizin subjek
penelitian (dalam Poerwandari, 2001).

E. Kreadibilitas dan Validitas Penelitian
Dalam penelitian kualitatif dikenal istilah kreadibilitas yaitu istilah yang paling
banyak dipilih untuk mengganti konsep validitas yang dimaksud untuk merangkum bahasan
menyangkut kualitas penelitian kualitatif. Kreadibilitas studi kualitiatif terletak pada
keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting,
proses, kelompok sosial atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2001).
Menurut Sarantoks (dalam Poerwandari, 2001) ada empat jenis validitas yang
digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu :
1. Validitas Kumulatif
Validitas kumulatif dicapai bila temuan dari studi-studi lain mengenai topik yang
sama menunjukkan hasil yang kurang lebih serupa.
2. Validitas Komunikatif
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Validitas komunikatif didapatkan melalui dikonfirmasikannya kembali data dan
analisa pada subjek penelitian. Data-data dan hasil analisa yang diperoleh akan
dikonfirmasikan kembali pada sampel penelitian ini adalah pasangan penderita yang
berperan menjadi caregiver penderita Alzheimer.
3. Validitas Argumentatif
Validitas argumentatif tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti
dengan baik dan rasionalnya, serta dapat dibuktikan dengan melihat kembali ke data
mentah.
4. Validitas Ekologis
Validitas ekologis menunjukkan pada sejauh mana studi dilakukan pada kondisi
alamiah dari partisipan yang teliti, sehingga justru kondisi apa adanya dan
kehidupan sehari-hari menjadi konteks penting penelitian.
Patton (dalam Poerwandari, 2001) mengemukakan beberapa cara untuk meningkatkan
kredibilitas penelitian kualitatif antara lain :
1. Mencatat bebas hal-hal penting serinci mungkin, mencakup catatan pengamatan
objektif terhadap setting, partisipan ataupun hal-hal yang terkait. Peneliti juga perlu
menyediakan catatan khusus yang memungkinkan menuliskan berbagai alternatif
konsep, skema atau metafora yang terkait dengan data. Catatan ini sangat penting
dalam memudahkan mengembangkan analisa dan interpretasi.
2. Mendokumentasikan secara lengkap dan rapi data yang terkumpul, proses,
pengumpulan data dan strategi analisnya.
3. Memanfaatkan langkah-langkah dan proses yang diambil peneliti-peneliti sebelumnya
sebagai masukan bagi peneliti untuk melakukan pendekatan terhadap penelitiannya
dan menjamin pengumpulan data yang berkualitas untuk penelitiaanya sendiri.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


4. Menyertakan partner atau orang-orang yang dapat berperan sebagai setan atau
pengkritik yang memberikan saran-saran dan pembelaan (devil advocate) yang
memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap analisa yang dilakukan peneliti.
5. Melakukan upaya-upaya konstan untuk menemukan kasus-kasus negatif; pemahaman
kita tentang pola dan kecenderungan yang telah kita identifikasikan akan meningkat
bila kita memberikan pula perhatian pada kasus-kasus yang tidak sesuai dengan pola
umum tersebut.
6. Melakukan pengecekan dan pengecekan kembali (checking dan rechecking) data,
dengan usaha menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda. Peneliti perlu
mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisa, dengan
mengaplikasikannya pada data, serta mengajukan pertanyan tentang data.

F. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan yang
diungkapkan Bogdan (dalam Moleong,2000). Terdapat tiga tahapan dalam prosedur
penelitian kualitatif, yaitu tahap pralapangan, pekerjaan lapangan, dan tahap analisa data.

1. Tahap Pralapangan
Pada tahap ini perispan penelitian, peneliti melakukan sejumlah hal yang diperlukan
untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2000) yaitu sebagai berikut:
a. Mengumpulkan berbagai fenomena yang terjadi dimasyarakat
Peneliti mengumpulkan berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat yang
berhubungan dengan istri yang menjadi caregiver penderita Alzheimer, baik melalui
orang-orang sekitar, teman-teman, dosen, artikel, dan internet untuk meyakinkan
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


peneliti mengenai aspek-aspek psikologis yang terjadi pada lansia penderita
kelumpuhan pascastroke. Setelah itu, peneliti merumuskan masalah yang ingin
diteliti sesuai dengan fenomena yang diperoleh.
b. Mempersiapkan landasan teoritis
Peneliti mengumpulkan informasi dan teori yang berhubungan dengan Alzheimer,
caregiver penderita Alzheimer, dan coping stress
c. Menyusun pedoman wawancara
Peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan kerangka teoritis untuk
menjadi pedoman dalam proses wawancara.
d. Persiapan untuk pengumpulan data
Peneliti mencari beberapa orang partisipan yang sesuai denga kriteria sampel yang
telah ditentukan, meminta kesediannya (inform concent) untuk menjadi partisipan.
e. Membangun rapport
Rapport juga dilakukan pada responden A dan responden B. Peneliti mengenal
responden A dan responden B dari Ayah peneliti yang merupakan dokter suami responden
yang menderita Alzheimer.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Peneliti meminta persetujuan partisipan untuk dijadikan partisipan penelitian. Setelah
itu, membuat janji pertemuan dan mulai melakukan wawancara. Wawancara akan dilakukan
di tempat yang ditentukan oleh subjek penelitian dan akan direkam dengan tape recorder
mulai dari awal hingga akhir, dan peneliti juga akan mencatat bahasa non verbal partisipan
ketika wawancara berlangsung.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Pelaksanaan pengambilan data responden A (Nazwa) dilakukan sebanyak 2 kali yaitu
wawancara I dilakukan pada hari Senin, 12 Januari 2009 pada pukul 14.00-16.00 WIB dan
wawancara II dilakukan pada hari Kamis, 29 Januari 2009 pada pukul 11.45-13.00 WIB.
Pelaksanaan pengambilan data responden B (Duma) dilakukan pada hari Rabu, 4 Februari
2009 pada pukul 14.00-16.00 WIB dan wawancara II dilakukan pada hari Jumat, 20 Februari
2009 pada pukul 14.30-16.00 WIB.

3. Tahap Pencatatan Data
Data yang telah diperoleh dari wawancara dituangkan ke dalam bentuk verbatim
berupa tulisan. Sedangkan data yang didapatkan dengan metode observasi berupa data
deskriptif berbentuk narasi. Data ini selanjutnya akan dianalisa sesuai dengan prosedur yang
telah ditentukan.

G. Prosedur Analisis Data
Data akan dianalisis menurut prosedur kualitatif, dengan mengumpulkan verbatim
wawancara dan mengolah data dengan metode kualitatif. Menurut Poerwandari (2001) proses
analisis data adalah sebagai berikut :
1. Organisasi data secara sistematis untuk memperoleh kualitas data yang baik,
mendokumentasikan analisis yang dilakukan dan menyimpan data dan analisis
yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.
2. Koding dan analisis. Mula-mula peneliti menyusun transkripsi verbatim atau
catatan lapangan sedemikian rupa sehingga ada kolom kosong yang cukup besar
sebelah kanan dan kiri transkrip untuk tempat kode-kode atau catatan tertentu,
kemudian secara urut dan kontinu melakukan penomoran pada baris-baris
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


transkrip. Selanjutnya peneliti mulai memberikan perhatian pada substansi data
yang telah dikumpulkan.
3. Pengujian terhadap dugaan. Peneliti akan mempelajari data yang kemudian akan
mengembangkan data yang kemudian akan mengembangkan dugaan-dugaan yang
juga merupakan kesimpulan sementara. Pengujian terhadap dugaan berkaitan erat
dengan upaya mencari penjelasan yang berbeda mengenai data yang sama, dalam
hal ini peneliti harus mengikutsertakan berbagai perspektif untuk memungkinkan
keluasan analitis serta memeriksa bias-bias yang mungkin tidak disadari.
4. Strategi analisis. Proses analisis dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul
dari jawaban atau kata-kata subjek maupun konsep yang dipilih atau
dikembangkan peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis. Kata kunci
dapat diambil dari istilah yang dipakai oleh subjek.
5. Interpretasi, yaitu upaya untuk memahami data secara lebih ekstensif dan
mendalam.



















Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009
















BAB IV
HASIL ANALISA DATA


A. Responden A
1. Analisa Data
a. Identitas Diri Responden A
Tabel 1. Gambaran Umum Responden A
Keterangan Responden A
Nama Nazwa
Usia 71 tahun
Agama Islam
Suku Mandailing
Pekerjaan Pensiunan Guru Sekolah Dasar
Pendidikan Terakhir Sarjana Muda Bahasa Inggris
Jumlah Anak 8 orang
Lama menjadi caregiver 5 tahun

Responden A dalam penelitian ini bernama Nazwa sebagai primary caregiver yang
merupakan istri dari penderita penyakit Alzheimer. Nazwa berusia 71 tahun dan bertempat
tinggal di Kota Medan. Responden yang berkulit putih ini memiliki tinggi badan 153 cm dan
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


berat badan 65 kg. Nazwa sudah menjadi primary caregiver suaminya yang menderita
penyakit Alzheimer semenjak tahun 2004 hingga sekarang tahun 2009.
Responden menikah dengan Raffi yang bersuku Aceh selama 54 tahun sejak tahun
1955 hingga saat ini tahun 2009. Nazwa memiliki delapan orang anak yaitu lima orang
perempuan dan tiga orang laki-laki. Keempat orang anak Nazwa bertempat tinggal di Medan,
dua orang di Jakarta, satu orang di Amerika, dan satu orang lagi di Kalimantan. Anak-anak
Nazwa sudah menikah dan telah memiliki anak kecuali putra keenamnya yang memiliki
keterbelakangan mental dan bertempat tinggal bersama responden hingga saat ini.
Responden merupakan pensiunan guru Sekolah Dasar di Sumatera Utara. Ia mulai
pensiun semenjak tahun 1980 karena harus pindah ke Jakarta bersama suaminya yang pindah
kerja di sana. Responden pernah menjadi guru di Kota Medan, Tapanuli, Siantar, dan daerah
Sumatera Utara lainnya. Nazwa merupakan Sarjana Muda Bahasa Inggris. Semenjak ia
pensiun, ia mengisi waktu luangnya dengan mengikuti kursus seperti kursus menjahit,
memasak, dan lainnya. Ia juga beberapa kali melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi dalam
bidang pendidikan di Jakarta.
Nazwa sudah bertempat tinggal di Medan selama 48 tahun semenjak ia lahir. Ia
pindah ke Jakarta dan tinggal bersama keluarganya selama 13 tahun karena tuntutan
pekerjaan suaminya. Ia juga pernah tinggal di Aceh tempat kelahiran suaminya selama 10
tahun. Sekarang ia bertempat tinggal di rumah yang bersebelahan dengan rumah salah satu
anaknya di Medan.
Saat ini Nazwa banyak menghabiskan waktunya di Rumah Sakit Permata Bunda di
Medan selama beberapa hari karena suaminya yang harus diopname. Ia hanya pulang jika
pakaiannya yang di Rumah Sakit sudah habis dan harus diganti. Selama di sana ia selalu
bercerita pada perawat dan hampir mengenal semua perawatnya. Untuk mengisi waktu
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


luangnya ia sering ke kantin di Rumah Sakit tersebut dan bercerita dengan keluarga pasien
lainnya yang juga dirawat di Rumah Sakit tersebut.

b. Identitas Diri Penderita Alzheimer
Tabel 2. Gambaran Umum Suami Responden A
Keterangan Responden A
Nama Raffi
Usia 75 tahun
Lama menderita Alzheimer 5 tahun
Kategori Stadium Alzheimer Stadium Akhir

Raffi merupakan suami dari Responden yang menderita penyakit Alzheimer semenjak
lima tahun lalu dari tahun 2004 hingga saat ini. Raffi yang bersuku Aceh saat ini berusia 75
tahun dan merupakan pensiunan dari salah satu perusahaan perminyakan di Indonesia.
Saat Raffi masih menikah dengan Nazwa, ia pernah menyakiti hati Nazwa karena ia
sering berpacaran dengan wanita lain. Istrinya mengetahui hal ini dan membuat Nazwa
merasa kesal dan marah. Tetapi mereka masih menikah hingga sekarang dan tidak bercerai.
Hubungan Raffi dan Nazwa kurang harmonis dan banyak masalah karena perilaku Raffi yang
sering berpacaran.
Awal Raffi terkena penyakit Alzheimer ketika ia selesai makan tape yang sangat
banyak di sebuah pesta saudaranya di J akarta. Setelah acara itu, Raffi mulai berbicara-bicara
yang tidak jelas dan berulang-ulang. Kemudian Raffi dibawa ke Rumah Sakit di Jakarta
untuk diperiksa dan Raffi dikatakan oleh dokter menderita penyakit Alzheimer dan
memorinya akan hilang semua.
Semenjak itu Raffi sudah tidak ingat lagi dengan istri dan anak-anaknya yang
dikatakan sebagai teman baiknya dan saudaranya kecuali pada anak pertama yang tinggal di
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Amerika ia masih mengingatnya. Ketika anak pertamanya datang ke Jakarta Raffi masih
ingat dengannya dan menyebutkan nama anaknya. Raffi juga selalu berbicara bahasa Inggris
dan Aceh kepada semua orang di Rumah Sakit tersebut tetapi pembicaraanya tidak pernah
sesuai dengan tujuannya.
Raffi juga sudah tidak dapat lagi melakukan aktivitas sehari-harinya seperti mandi
atau berpakaian secara sendiri. Semua aktivitasnya harus dibantu oleh orang lain. Selama
delapan bulan terakhir ini, Raffi sudah tidak dapat melakukan aktivitas lain selain di tempat
tidur karena ia tidak dapat bergerak lagi dan hanya di tempat tidur. Ia juga susah untuk
melakukan pembicaraan dengan orang lain. Raffi sudah beberapa kali dirawat di Rumah
Sakit karena harus opname dimana kondisi Raffi sudah kurang membaik. Menurut laporan
dokter yang memeriksa Raffi, saat ini Raffi pada stadium akhir dari stadium penyakit
Alzheimer.

2. Observasi Umum Responden A
Tabel 3. Waktu Wawancara Responden A
No. Responden Hari/Tanggal
Wawancara
Waktu Wawancara Tempat
Wawancara
1. Nazwa 12 Januari 2009 14.00 16.00 WIB Di Rumah Sakit
Permata Bunda
2. Nazwa 29 Januari 2009 11.45 13.00 WIB Di Rumah Sakit
Permata Bunda

Peneliti mengenal Nazwa dari Ayah peneliti yang merupakan dokter dari suami
Responden yang menderita penyakit Alzheimer. Nazwa juga merupakan nenek kandung dari
teman peneliti sejak Sekolah Dasar sehingga peneliti juga sudah mengetahui tentang keluarga
responden sejak dahulu. Tetapi peneliti dengan responden belum pernah bertemu dan
berkenalan.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Sebelum melakukan wawancara pertama, peneliti telah bertemu dengan Responden
bersama dengan Ayah peneliti yang sedang melakukan pemeriksaan pada suami Responden
di Rumah Sakit Permata Bunda. Sebelumnya Ayah peneliti telah membicarakan tentang
penelitian ini dan meminta izin untuk memperkenalkan peneliti dengan responden. Peneliti
datang ke ruang Rawat Inap dan dikenalkan oleh Ayah peneliti kepada Responden.
Responden menyambut dengan baik dan langsung bercerita mengenai cucunya yang
merupakan teman peneliti sejak Sekolah Dasar.
Peneliti melakukan perkenalan terlebih dahulu dan meminta kesediaan responden
untuk terlibat dalam penelitian ini setelah menjelaskan maksud dan tujuan penelitian ini.
Perkenalan ini juga bermaksud untuk membangun rapport dengan responden dan mengetahui
apakah responden sesuai dengan karakteristik subjek penelitian yang diinginkan. Setelah
responden bersedia untuk terlibat dalam penelitian ini, peneliti mengatur jadwal yang sesuai
untuk bisa melakukan wawancara pertama. Pertemuan ini berlangsung selama 20 menit pada
pukul 11.00 WIB.
Wawancara pertama dilakukan pada tanggal 12 J anuari 2009 dan pada pukul 14.00-
16.00 WIB di ruang yang sama pada pertemuan pertama di Rumah Sakit Permata Bunda.
Pertemuan ini sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan pada pertemuan pertama dan
sebelumnya peneliti melakukan telepon dulu ke rumah responden untuk mengetahui apakah
responden pada saat itu berada di Rumah Sakit. Saat itu Nazwa sedang sendiri di ruang
Rawat Inap tersebut sedang menunggu suaminya yang sedang tidur. Saat peneliti memasuki
ruang tersebut, responden sedang membaca sebuah tabloid di kursi samping tempat tidur
suaminya. Televisi yang berada di depan tempat tidur dan terletak di atas juga sedang
menyala saat peneliti datang.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Saat peneliti datang, Responden langsung menutup tabloid yang sedang dibacanya
dan mempersilahkan peneliti duduk di sampingnya. Di tempat peneliti duduk terdapat satu
meja di depan dan tiga kursi yang dekat dengan jendela. Depan tempat peneliti duduk
terdapat satu kulkas dan meja kecil yang berisi dengan makanan.
Awal wawancara peneliti menjelaskan lagi tentang tujuan dari penelitian ini dan hasil
wawancara yang diterima akan dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk tujuan dari
penelitian ini. Setelah responden mengerti, peneliti bertanya mengenai awalnya suami Nazwa
terkena Alzheimer dan gejala apa saja yang muncul. Nazwa menceritakan dengan suara kuat
bagaimana awal suaminya terkena penyakit Alzheimer dan gejala yang timbul seperti
berbicara yang tidak jelas, berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris dan tidak ingat
dengan istri dan anak-anaknya. Ketika Nazwa menceritakan suaminya yang berbicara selalu
menggunakan bahasa Inggris dan sudah tidak ingat dengan dirinya, ia tertawa saat mengingat
dirinya dibilang sebagai teman baik suaminya.
Kemudian setelah menceritakan gejala penyakit yang muncul pada suaminya, peneliti
bertanya tentang pengalaman Nazwa dalam memberikan perawatan kepada suaminya yang
menderita penyakit Alzheimer. Responden bercerita bagaimana ia memberikan perawatan,
hal-hal apa saja yang membuat ia stres dan bagaimana ia mengatasinya, bentuk bantuan apa
saja yang ia berikan, dan bagaimana hubungannya dengan suaminya yang kurang harmonis
dan mempunyai masalah sejak dulu. Ia bercerita bagaimana perilaku suaminya yang suka
berpacaran dan membuat Nazwa kesal hingga sekarang. Ketika ia bercerita hubungannya
dengan suaminya yang kurang harmonis terkadang ia tertawa dan mengatakan bahwa tidak
masalah bagi dirinya untuk menceritakan dan mengingat pengalaman pahit yang dialaminya.
Saat wawancara, responden selalu melakukan kontak mata dengan peneliti.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Wawancara kedua dilakukan 17 hari setelah wawancara pertama dilakukan pada
tanggal 29 Januari 2009 pada pukul 11.45-13.00 WIB. Pertemuan ini dilakukan setelah
peneliti menelepon responden ke rumah dan bertanya waktu yang sesuai untuk bertemu.
Peneliti datang ke Rumah Sakit dan ruangan yang sama pada wawancara pertama. Saat
peneliti datang, Nazwa duduk di luar depan ruang Rawat Inapnya dan sedang membaca
tabloid. Peneliti dipersilahkan masuk dalam kamar dan melakukan wawancara di ruangan
tersebut. Dalam ruangan terdapat seorang laki-laki yang sedang duduk di samping suami
Nazwa. Peneliti berkenalan dan mengetahui bahwa lelaki tersebut merupakan kerabat suami
Nazwa dan bertugas untuk menjaga dan membantu Nazwa dalam memberikan perawatan.
Peneliti duduk di kursi yang sama ketika melakukan wawancara pertama sebelumnya.
Pada wawancara ini, peneliti bertanya tentang metode coping apa yang digunakan oleh
responden. Saat wawancara berlangsung, dua orang perawat masuk ke dalam ruangan dan
bertugas untuk memandikan suami Nazwa saat jam 12.30 WIB. Tempat wawancara pindah
ke luar di depan ruangan dan duduk di kursi deret yang telah ada. Setelah 15 menit, peneliti
dan responden kembali melanjutkan wawancara ke kamar karena tugas perawat Rumah Sakit
telah selesai dilakukan. Peneliti juga bertanya mengenai hal-hal apa saja yang membuat
Nazwa stres ketika ia menjadi caregiver suaminya yang menderita penyakit Alzheimer.
Nazwa menceritakan bagaimana ia mengatasi stresnya dengan memukul suaminya
ketika ia sedang kesal saat memberikan perawatan. Responden menunjukkan bagaimana
tangannya memukul suaminya dan mengeluarkan kata Pam..! saat ia memukul suaminya.

3. Data Wawancara Responden A
a. Sumber Stres dan Coping Stress pada Responden A
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Ketika di Jakarta, Responden meminta dokter agar suaminya dipindahkan dari Rumah
Sakit Pertamina untuk ke rumah responden dan dirawat oleh dirinya. Ia ingin agar ketika Hari
Raya Lebaran dapat dilakukan di rumahnya. Pemberian perawatan kepada suaminya di rumah
ia lakukan sendiri tanpa bantuan dari anak-anaknya.

Terus kan,pas mau Hari Raya setelah dah 22 hari di Rumah Sakit..saya minta tolong ma
dokter supaya pulang aja la..cemmana saya mau Hari Raya pas puasa gak pa-pa la..saya juga
bilang,dah la gak usah dirawat di rumah sakit lagi biar saya aja yang rawat di rumah..
(R1. W1/b.69-78/hal 6)

Iya,saya yang lakukan la..siapa lagi..anak-anak juga dah kawin semua gak ada satupun yang
tinggal sama saya..paling-paling orang tu datang sekali trus tengok..yang ngerawat di rumah
juga gak ada..
(R1. W1/b.213-219/hal 7)

Selama lima tahun Nazwa telah memberikan perawatan dan melaksanakan tugas
perawatan yang diberikan kepada suaminya. Tugas tersebut ia lakukan sendiri dan anak-
anaknya terkadang datang ke rumah untuk menjenguk dirinya. Kadang anak-anaknya
membawa Nazwa dan suaminya jalan-jalan ke luar dan makan di luar. Ia merasa lelah dengan
tugas yang dilakukannya dan merasa tidak pernah bisa bebas dari ia muda dulu hingga
sekarang.

Anak-anak juga dah kawin semua gak ada satupun yang tinggal sama saya..paling-paling
orang tu datang sekali trus tengok..yang ngerawat di rumah juga gak ada..paling-paling
nanti,ayok bu kita bawa keluar aja..kita makan di luar..
(R1. W1/b.214-221/ hal 7-8)

Pokoknya makan dimana-mana..capek,tu lah..saya bilang udah tersiksa masa mudanya
tersiksa pula masa tuanya..jadi kapan lagi saya bebas tu saya belum tau..
(R1. W1/b. 225-230/ hal 8)

1. Perubahan Hidup yang dialami oleh Caregiver
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Ketika masa mudanya responden merasa tidak pernah bebas dan pernah disakiti oleh
suaminya dan sampai sekarang ia merasa tidak bebas lagi karena harus merawat suaminya.
Nazwa merasa kesal dan bodoh untuk menjalankan kehidupan seperti ini. Ia tidak ingin
mengingat pengalamannya ketika muda dulu tetapi terkadang muncul ingatan tentang
pengalamannya dulu dan membuat ia merasa kesal. Nazwa berpikir tidak pernah bebas
hidupnya dari masa muda dulu hingga sekarang. Masa mudanya dulu yang pernah disakiti
oleh suaminya yang berperilaku selalu berpacaran dengan wanita lain membuat ia kesal
hingga sekarang. Ketika ia merasa kesal bahwa hidupnya sekarang masih harus merawat
suaminya membuat ia sering marah dan memukul badan suaminya.

apa namanya, kesel yah,kesel rasanya kita pernah hidupnya gak tenang..pertama aku
muda pernah diinikannya trus kenapa waktu tua aku diginikannya lagi.. rasanya Pam..!
kupukulkan..panas sendiri..sebetulnya yang manasinnya bukan orang lain,kita sendiri..yah itu
la dia..kalo kita sendiri yang bikin kek gitu seharusnya gak boleh..yang harus diatasi kadang
gak teratasi saya..yah,kadang keluar la kumat saya marah gitu..
(R1. W1/b. 274-287/ hal 9-10)


perasaan saya kesel gitu..kenapa saya begini,kenapa saya begini aja..terus kepikir apakah
saya salah pilih dulu..sampe kesitu..saya kok pilih yang ini,kok saya ni bodoh kali dulu ya
sampe sekarang masih tolol ya pikir saya..ya itu,datang itu..padahal sudah kita bunuh itu
dalam-dalam jangan sampe timbul lagi tapi saya gak bisa..timbul juga,macem stress kalo kata
orang gitu..
(R1. W1/ b. 290-302/ hal 10)

Untuk mengatasi rasa kesalnya terhadap hidupnya yang harus dijalani sekarang,
Nazwa berusaha untuk tidak mendekati Raffi dulu agar ia tidak memukul suaminya. Ketika
Nazwa emosi dan marah terkadang ia langsung memukul suaminya sehingga untuk
mengatasinya ia menjauhi suaminya dulu dan mengatur emosi yang dirasakannya kemudian
ia membaca terus majalah yang ada di dekatnya. Pembantu di rumahnya juga membantunya
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


untuk tidak dekat dengan Raffi dan menggantikan tugas caregiving yang sedang dikerjakan
oleh Nazwa pada saat itu.

Yah,jangan la saya deket bapak lama-lama..kalo lagi emosi,jangan deket la..nanti saya
pukul..nanti teriak-teriak saya..paling nanti saya baca majalah gitu la..baca aja terus..
(R1. W2/b. 107-117/hal 4)

Iya..ntar pun pembantu saya bilang,udah ibu kesana aja dulu..
(R1. W2/b. 115-116/hal 4)

Iya..saya tahan aja la dulu emosi ini..jangan deket bapak..nanti saya teriak kalo
emosi..yah,gimana ya..kadang otak ini mikir sampe mana..jadinya emosi saya..
(R1. W2/b. 119-123/hal 4-5)

Ketika suami Nazwa sedang diopname di Rumah Sakit Permata Bunda di Medan,
Nazwa pernah meminta agar suaminya dirawat di rumah saja agar Raffi meninggal di rumah.
Nazwa juga minta kepada dokternya agar tidak memberikan lagi obat-obat yang bagus
kepada suaminya. Hal ini dilakukan untuk mengatasi stress Nazwa karena perubahan
hidupnya dan ia merasa bahwa sudah cukup ia memberikan perawatan kepada suaminya
selama lima tahun.

maksudnya kan manatau dia minta mati di rumah..hehe..saya bilang ma dokter,manatau dok
mau mati di rumah dia..ditunggu-tunggu ya sama aja gitu-gitu aja..ya jangan la dikasih obat
paten-paten itu..macemmana la kalo biar cepet mati aja..hah,dokternya kaget..dokternya
bilang kan saya dokter,gak boleh gitu..abisnya saya bingung..ceplas ceplos aja saya bilang
gitu..
(R1. W2/b. 007-019/hal 15)


abisnya gimana ya..dah 5 tahun lebih Ibu nungguin terus..ngerawat dia aja..apa gak
capek,jenuh..dah cukup la saya membantu..
(R1. W2/ b.022-027/hal 16)

Selain itu cara Nazwa untuk mengatasi stres yang dialami terhadap perubahan
hidupnya yang masih harus memberikan perawatan kepada suaminya yang terkena Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


dengan cara ia melihat apa yang orang lain alami di Rumah Sakit. Raffi sudah beberapa kali
dirawat di Rumah Sakit yang berbeda dan Nazwa selalu menemaninya. Ia melihat seorang
istri yang merawat suaminya dan istri disebut dipukul oleh suaminya menggunakan tongkat.
Nazwa melihat bahwa apa yang dialaminya masih lebih baik dan masih banyak yang lebih
parah daripada apa yang ia alami.

Yah,gimana ya..saya liat apa yang orang lain alami..saya kan banyak di rumah sakit,saya liat
la orang-orang yang di sekitar saya..ternyata ada yang lebih parah lagi..yang istrinya dipukul
la pake tongkat..yah saya bandingkan ma diri saya lagi sendiri ternyata saya masih
mending,masih beruntung la daripada orang lain..bapak juga gak pernah ngeluh jadi ya gak
terlalu parah dibanding orang lain..
(R1. W1/b. 526-539/hal 14)


Iya la..saya liat la orang-orang di sekitar saya..yang di rumah sakit ini..masih untung bukan
saya yang kena pukul..eh,malah saya yang mukul..tapi ngeliat masih banyak yang lebih parah
lagi..itu la yang bikin aku gak terlalu stres..
(R1. W2/b. 241-247/hal 22)

Hidup yang dijalani Nazwa sekarang dalam memberikan perawatan kepada suaminya
yang menderita penyakit Alzheimer sudah merupakan takdir yang memang harus dijalaninya.
Nazwa menerima hidup yang dijalaninya sekarang sebagai suratan takdir yang sudah ada
pada Nazwa.

barangkali itu suratan takdir saya yang memang harus saya jalani..jadi saya gak berapa
dendam la..udah gitu,dia sifatnya gak pernah ngeluh,baek..sakit pun ditahankannya..gak
pernah ngeluh..
(R1. W1/b. 504-510/hal 13-14)


2. Ketergantungan Melakukan Aktvitas Sehari-hari pada Penderita Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Bentuk perawatan yang Nazwa berikan pada suaminya seperti menyediakan makanan,
memandikan, dan membantu memakaikan pakaian. Hal ini karena suami Nazwa yang sudah
tidak mampu lagi untuk melakukan aktivitas sehari-harinya secara sendiri yang merupakan
salah satu gejala penyakit Alzheimer. Ketidakmampuan Raffi yang sudah tidak dapat lagi
melakukan aktivitas sehari-harinya membuat Nazwa stres dan kesal. Ketika responden kesal,
ia sering marah-marah kepada suaminya.

ya,saya yang mandikan,nyediain makan,pakaikan bajunya bapak..tapi ada la yang bantu-
bantu juga di rumah..
(R1. W2/b. 187-190/ hal 6-7)


Yah,kasian juga saya liatnya..bapak dah ingat lagi semuanya..ngomongnya pun tambah gak
jelas..nanti ngomong bahasa Inggris,bahasa Aceh pun dibilangnya..saya juga harus ngerawat
Bapak lagi sekarang..kadang pun saya marah-marah..kok mesti la lagi saya harus ngerawat
bapak kayak gini..stres berat juga la saya..
(R1. W2/ b. 195-205/ hal 7)

Saat ia memandikan suaminya kemudian ia tiba-tiba kesal dan langsung memukul
suaminya dengan keras hingga badan Raffi menjadi biru dan ia berteriak dengan kuat di
dalam rumah. Nazwa selalu berteriak di dalam rumah dari kamar hingga ke depan rumah.
Teriakan Nazwa dapat didengar sampai ke tetangganya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi
stresnya karena kondisi suaminya yang mengalami ketergantungan dalam melakukan
aktivitas sehari-harinya.

Gimana ya..kalo saya lagi emosi gitu,misalnya lagi kasih makan..tiba-tiba saya emosi,nanti
saya bisa teriak sekuat-kuatnya la di rumah tu..teriak aja saya dari belakang ke depan..
(R1. W2/b. 67-72/hal 3)

Yah,saya tekanan batin..waktu ganti bajunya,pakein pampersnya..trus kalo bandel gitu
dia,saya pukul la..saya cubit gitu..kalo dia masih bandel juga,mulai saya teriak-
teriak..daripada saya mukul dia ya bagusan saya teriak aja la..
(R1. W2/b. 75-81/hal 3)
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



Nazwa juga memukul badan suaminya ketika ia sedang memandikan suaminya dan
Raffi tiba-tiba melawan. Nazwa merasa kesal pada suaminya yang terkadang melawan saat
dimandikan dan Nazwa memukul badan suaminya hingga biru.

kalo mandi,saya mandikan..jadi kan dia duduk di tempat duduk WC saya semprot aja trus
saya sabunin bersih..waktu dimandiin suka melawan dia..nah,waktu itu la Pok..! saya pukul
dia..gak mau dia,saya pukul juga..jadi biru kan..anak-anak saya suka nanya kenapa di paha
Abah biru?ya saya bilang aja la kejedot apa..mereka bilang kan karena Ibu..ya iya la,mereka
dah tau..yah gimana,berat juga..
(R1. W1/b. 471-484/hal 12-13)

3.
Selama Nazwa memberikan perawatan kepada suaminya, ia jarang melakukan
aktivitas lain di luar rumah. Hal ini disebabkan karena suami Nazwa yang selalu bertanya
dimana Nazwa berada. Padahal ia telah memberitahukan suaminya bahwa ia akan pergi ke
luar tetapi suaminya tidak pernah ingat pesan yang disampaikan Nazwa dan selalu
mencarinya di rumah sampai menunggunya hingga tengah malam ia pulang. Ketika Nazwa
pergi ke Jakarta, suaminya selalu mencarinya dan menelpon dirinya untuk segera pulang.
Sehingga Nazwa hanya pergi selama satu malam saja di Jakarta dan segera pulang ke Medan.
Ia merasa jenuh dengan kegiatannya yang hanya di rumah saja.

oo..setelah merawat,gak ada aktivitas lain lagi..gak pernah kerja lagi udah di rumah aja,jadi
tambah stress saya..
(R1. W1/b. 416-419/ hal 11)

Ya sudah pasti..ya jenuh kali la..tapi saya tu kan,macem mana ya..pernah kan saya berangkat
pagi ke Jakarta sampe sore..itu terus lapor disuruh pulang..dia muntah-muntah gak mau
makan..jadi,saya balek lagi gak sempet ngurus apa-apa..pulang lagi,cuman nginep aja
semalem di Jakarta..ke undangan,karena famili dekat ya saya kan santai-santai pulang
malam..ditunggunya di luar pake selimut nungguin saya pulang jam 12 malam..gila
gak,walhasil saya gak kemana-mana..
Penurunan Kognitif pada Penderita Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


(R1. W1/b. 425-440/ hal 11)

Gak bisa..dicariin terus,mana dia mana dia..pokoknya saya tu jangan pigi,diliatnya saya ada
di matanya..kalo ada di mata dia,senyum-senyum aja dia tu..kalo gak ada,dicarinya keliling
rumah...padahal kita pergi kan permisi,abis itu dia lupa..dicari la saya setengah mampus..gak
bisa kemana-mana kita..
(R1. W1/b. 443-452/ hal 12)

Nazwa mengatasi kejenuhan dengan aktivitasnya yang selalu di rumah dan tidak
dapat ke luar rumah karena suaminya yang selalu bertanya dimana Nazwa jika ia sedang ke
luar dengan ia pergi berbelanja makanan sebentar ke luar rumah. Hal ini dilakukan untuk
mengatasi stres karena penurunan kognitif yang dialami oleh suaminnya. Nazwa sudah tidak
bersemangat lagi untuk menonton film di rumah ataupun menanam bunga, ia hanya duduk
dan berjalan-jalan dalam rumah untuk menghilangkan kejenuhannya.

Yah,kesel lagi saya..kesel la ya kan,duduk..capek ngomong-ngomong ma dia ngapain
lagi..nonton film di rumah kan bosen..dulu rajin juga mutar-mutar film,sekarang apapun gak
mau..malas..
(R1. W1/b. 455-460/hal 12)

Di rumah la.. jalan dari muka ke belakang terus menghilangkan jenuh..mau tanam bunga
pun,ah malas la...yah,pigi la bentar belanja di luar..rencana mau masak tapi abis itu
lupa..busuk la di lemari itu makanannya..
(R1. W1/b. 463-469/hal 12)

4.
Raffi juga mengalami gangguan perilaku dengan menyapukan kotorannya di tiang
tempat tidur Rumah Sakit. Ia marah ketika ia minta agar dipulangkan saja ke rumah. Nazwa
mengatasinya dengan meminta perawat di Rumah Sakit untuk membersihkan kotorannya.
Hal ini dilakukan karena tidak ada anggota keluarganya yang mau membersihkannya
termasuk dirinya sendiri.

Gangguan Perilaku pada Penderita Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


yang lucunya dianya minta pindah ke Medan pula..tau,eek dia sapukannya semua di tiang-
tiang tempat tidur..habis la semua..aduh,semua lari la keluar..abis tu minta tolong la kami ke
suster biar bersihin..trus dibersihkan la semua itu,kasian kali la kita aja lari..
(R1. W1/b. 127-136/hal 5)

ya kami manggil suster buat ngebersihinnya..orang saya sendiri aja pun jijik liatnya..gak
bisa ngebersihin..gimana ya,saya kasih uang juga la suster itu..ya saya mikir saya sendiri gak
sanggup buat ngebersihin itu..
(R1. W2/b. 164-170/hal 20)

Hal inilah yang membuat caregiver penderita Alzheimer semakin stress dan
bagaimana caregiver mengurangi stresnya dengan melakukan coping stress. Reaksi
responden terhadap sumber stress dapat mempengaruhi kesehatannya dan bagaimana ia
memberikan perawatan kepada suaminya yang menderita penyakit Alzheimer.


4. Pembahasan Data Responden A
Penyakit Alzheimer adalah kerusakan otak yang ditandai dengan penurunan dari
perhatian, memori, dan kepribadian. Penyakit Alzheimer merupakan keadaan di mana
daya ingatan seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu
mengurus diri sendiri. (Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia).
Bantuan dalam melakukan kegiatan sehari-hari akan menyebabkan penderita
membutuhkan seseorang untuk merawat.
Seseorang yang memberikan perawatan disebut dengan caregiver. Nazwa merupakan
caregiver informal suaminya yang menderita penyakit Alzheimer. Pada awalnya Nazwa
hanya sendiri dalam memberikan perawatan kepada suaminya di rumah tanpa bantuan
dari tenaga professional lainnya tetapi saat ini suami Nazwa sedang dirawat di Rumah
Sakit. Sehingga ia sekarang mendapatkan bantuan caregiver formal dari perawat di
Rumah Sakit tempat suaminya sedang dirawat. Nazwa juga melakukan beberapa tugas
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


caregiving seperti perawatan personal dengan memandikan, membantu suaminya
berpakaian, dan menyiapkan makanan serta mempersiapkan obat yang diberikan pada
suami Nazwa.
Efek dari penyakit Alzheimer tidak hanya berdampak bagi penderita tetapi juga
berdampak pada anggota keluarga yang memberikan perawatan atau caregiving (Berk,
2007). Tingkah laku penderita penyakit Alzheimer semakin bermasalah selama
peningkatan penyakitnya dan dapat meningkatkan stres dalam keluarganya (Sarafino,
2006). Hal ini dapat dilihat pada Nazwa yang harus memberikan perawatan kepada
suaminya karena Raffi sudah tidak dapat melakukan aktivitas sehari-harinya dengan
sendiri dan memerlukan bantuan dari Nazwa.
Menurut Aneshensel et.al (1995), stressor pada caregiver Alzheimer terdiri dari dua
yaitu pertama objective stressor seperti penurunan kognitif, ketergantungan melakukan
aktivitas sehari-hari, dan penurunan kognitif pada penderita. Hal ini dapat dilihat ketika
Nazwa membantu suaminya dalam tugas memandikan, sering marah jika suaminya
melawan dan ia akan memukul badan suaminya hingga biru. Nazwa juga jenuh dan bosan
jika harus melakukan tugas dalam memberikan obat kepada suaminya secara rutin karena
ketergantungan suaminya dalam melakukan aktivitas sehari-harinya.
Kedua, subjective stressor seperti perubahan hidup yang dialami oleh caregiver.
Perubahan hidup ini sebagai sesuatu yang diterima atau tidak diterima oleh caregiver.
Nazwa tidak dapat menerima perubahan hidup yang dialaminya dengan adanya tuntutan
peran pada dirinya untuk memberikan perawatan kepada suaminya. Nazwa stres dengan
perubahan hidup yang dialaminya dan ia sering memukul suaminya atau berteriak-teriak
di dalam rumah jika ia sedang kesal.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Keluarga yang berperan menjadi caregiver akan beresiko mengalami masalah fisik
dan kesehatan mental serta kematian yang lebih cepat jika ia memberikan kapasitas yang
berlebihan dalam caregiving (Schultz&Beach, Sovensen&Pinquart, 2005 dalam Berk
2007). Dampak stres pada caregiver semakin meningkatkan resiko yang ada. Untuk
mengurangi resiko masalah fisik dan kesehatan mental pada caregiver maka diperlukan
metode coping stress yang tepat pada caregiver. Coping stress merupakan proses yang
mengatur tuntutan dari eksternal atau internal yang muncul melampaui batas sumber daya
seseorang (dalam Taylor 2003). Usaha coping dapat diartikan dengan memperbaiki
masalah dan dapat juga membantu seseorang merubah pandangannya terhadap
kesenjangan, menerima ancaman, atau menghindar dari situasi.
Menurut Lazzarus & Folkman (dalam Sarafino, 2006) ada dua fungsi coping yaitu
pertama emotion focused coping digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap
stress. Sedangkan fungsi coping yang kedua adalah problem focused coping digunakan
oleh individu dengan mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh tekanan atau
mengembangkan sumber daya pada dirinya.
Caregiver akan memilih beberapa metode coping yang tepat mereka gunakan agar
dapat mengurangi dan menangani stress yang mereka alami. Penggunaan metode coping
yang tepat akan mengurangi factor resiko pada caregiver penderita penyakit Alzheimer.
Nazwa menggunakan beberapa metode coping stress untuk mengatasi permasalahan yang
ia hadapi sebagai berikut :
1) Masalah perubahan hidup yang dialami oleh caregiver
a. Metode confrontative adalah metode yang bertujuan sebagai problem focused, yaitu
usaha yang agresif untuk mengubah situasi yang ada.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Hal ini dapat dilihat ketika Nazwa memikirkan hidupnya yang tidak pernah bebas dari
dulu hingga sekarang karena ia harus memberikan perawatan kepada suaminya maka
Nazwa merasa kesal dan memukul suaminya dengan keras sampai badan suaminya
biru karena pukulannya.
b. Metode acceptance adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused , yaitu
usaha untuk menerima kenyataan mengenai situasi yang terjadi.
Hal ini dapat dilihat dari Nazwa yang berpikir bahwa hidup yang dijalaninya sekarang
sudah menjadi suratan takdir yang harus dijalaninya. Apa yang dialaminya sekarang
memang takdir yang dijalaninya.
c. Metode Cognitive redefinition adalah metode yang bertujuan sebagai emotion
focused, yaitu usaha untuk tetap terlihat baik di dalam situasi yang buruk, membuat
sesuatu perbandingan dengan orang lain yang lebih rendah, atau melihat sesuatu yang
baik yang muncul dari masalah itu.
Hal ini dapat dilihat dari Nazwa yang melihat pengalaman orang lain yang ia temui di
Rumah Sakit. Ia melihat seorang istri yang sedang mendorong kursi kereta suaminya
dan kena pukul suaminya dengan tongkat. Nazwa bersyukur bahwa apa yang
dialaminya masih lebih baik daripada orang lain dan masih banyak yang lebih parah
lagi daripada dirinya.
d. Metode self control adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused, yaitu
usaha untuk mengatur perasaan atau tindakan seseorang yang berhubungan dengan
masalah yang ada.
Hal ini dapat dilihat ketika Nazwa tiba-tiba merasa kesal dengan suaminya karena ia
masih harus memberikan perawatan maka Nazwa berusaha untuk tidak mendekati
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


dulu suaminya sampai ia tidak marah lagi. Ia menjauhi suaminya dulu untuk mengatur
perasaannya agar ia tidak memukul dan berteriak-teriak di dalam rumah.
e. Metode escape/avoidance adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused,
yaitu usaha untuk menghindar atau lari dari masalah.
Hal ini dilihat dari tindakan Nazwa untuk membawa pulang suaminya pulang ke
rumah setelah diopname di Rumah Sakit di Medan agar Raffi dapat meninggal di
rumah. Ia meminta agar dokter tidak harus memberikan obat-obat yang bagus lagi
kepada suaminya.

2) Masalah ketergantungan melakukan aktivitas sehari-hari pada penderita Alzheimer
a. Metode emotional discharge adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused,
yaitu usaha untuk melibatkan pengekspresian atau pelepasan tentang situasi yang
menekan.
Hal ini dapat dilihat ketika Nazwa sedang memberikan perawatan suaminya seperti
memandikannya, ia merasa capek dan tiba-tiba marah dengan suaminya. Ia berteriak-
teriak dari dalam kamar sampai ke depan rumah hingga teriakannya terdengar sampai
ke tetangganya.
b. Metode confrontative adalah metode yang bertujuan sebagai problem focused, yaitu
usaha yang agresif untuk mengubah situasi yang ada.
Hal ini dapat dilihat ketika Nazwa sedang memandikan suaminya dan Raffi terkadang
suka melawan sehingga membuat Nazwa kesal maka Nazwa langsung memukulnya di
kamar mandi sehingga badan suaminya menjadi biru.

3) Masalah penurunan kognitif pada penderita Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


a. Metode distancing adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused, yaitu
usaha untuk melepaskan diri dari situasi yang penuh dengan tekanan.
Hal ini dapat dilihat ketika Nazwa sudah susah untuk melakukan aktivitas di luar
rumah karena suaminya yang tidak bisa ditinggal oleh dirinya. Setiap Nazwa pergi ke
luar maka Raffi selalu mencarinya dan tidak pernah ingat jika Nazwa sudah meminta
izin. Ia merasa jenuh maka Nazwa mengatasinya dengan berbelanja makanan di luar.

4) Masalah gangguan perilaku pada penderita Alzheimer
a. Metode planful problem solving adalah metode yang bertujuan sebagai problem
focused, yaitu usaha untuk fokus pada masalah dan mencari pemecahannya.
Hal ini dapat dilihat ketika suami Nazwa yang marah-marah dan menyapukan
kotorannya ke tiang tempat tidur di Rumah Sakit. Nazwa meminta agar perawat di
Rumah Sakit membersihkan kotorannya karena Nazwa tidak bisa untuk
membersihkannya sendiri.

Tabel 4 . Gambaran Metode Coping Stress pada Responden A
No. Aspek Kesimpulan
1. a. Coping terhadap perubahan hidup
yang dialami oleh caregiver











a. Masalah perubahan hidup pada caregiver :
1. Metode confrontative: responden memukul badan
suaminya dengan keras
2. Metode acceptance: responden menerima
hidupnya yang sedang dijalaninya sekarang
sebagai suratan takdir yang harus dijalani.
3. Metode Cognitive redefinition: responden melihat
apa yang dialami oleh orang lain yang ada di
sekitarnya dan di Rumah Sakit. Ia melihat bahwa
ada yang lebih parah lagi daripada apa yang
sedang dialamininya.
4. Metode self control: responden berusaha mengatur
emosinya dan tidak mau mendekati suaminya jika
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



B. Responden B (Duma)
1. Analisa Data
a. Identitas Diri Responden B (Duma)
Tabel 5. Gambaran Umum Responden B
Keterangan Responden B
Nama Duma
Usia 70 tahun
Agama Kristen
Suku Batak
Pekerjaan Pensiunan Guru Sekolah Menengah Umum
Pendidikan Terakhir Sarjana Muda Bahasa Inggris
Jumlah Anak 3 orang









b. Coping terhadap ketergantungan
dalam melakukan aktivitas sehari-
hari pada penderita Alzheimer






c. Coping penurunan kognitif pada
penderita Alzheimer



d. Coping gangguan perilaku pada
penderita Alzheimer
ia sedang marah dan kesal. Ia tidak mau dekat dulu
karena tidak mau memukul suaminya dan
berteriak-teriak maka ia akan ke luar dari kamar
dan mengatur emosinya.
5. Metode escape/avoidance: responden meminta
agar suaminya pulang ke rumah dan minta agar
dokter tidak memberikan lagi obat-obat bagus
kepada suaminya

b. Masalah ketergantungan melakukan aktivitas
sehari-hari pada penderita Alzheimer
1. Metode emotional discharge: responden berteriak-
teriak dari kamar hingga ke depan rumahnya
hingga teriakannya terdengar sampai ke tetangga
2. Metode confrontative: responden langsung
memukul badan suaminya jika bandel ketika
dimandikan di kamar mandi

c. Masalah penurunan kognitif pada penderita
Alzheimer
1. Metode distancing: responden berbelanja ke luar
jika ia jenuh sedang berada di rumah

d. Masalah gangguan perilaku pada penderita
Alzheimer
1. Metode planful problem solving: responden
meminta perawat untuk membersihkan kotoran
suaminya di tempat tidur

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Lama menjadi caregiver 3 tahun

Responden B pada penelitian ini bernama Duma, seorang wanita yang berusia 70
tahun saat ini. Duma telah menjadi primary caregiver suaminya yang menderita penyakit
Alzheimer selama tiga tahun semenjak tahun 2006 hingga sekarang ini. Wanita yang berkulit
sawo matang dan memiliki rambut panjang yang ikal ini memiliki tinggi 168 cm dan berat
badan 63 kg merupakan pensiunan guru Sekolah Menengah Umum di Balige sejak tahun
1970 karena harus ikut suaminya yang pindah kerja ke Medan.
Responden telah menikah selama 47 tahun semenjak tahun 1965 hingga sekarang di
Sumatera Utara. Duma memiliki tiga orang anak yaitu dua orang perempuan dan satu orang
laki-laki. Semua anak Duma telah menikah dan memiliki tempat tinggal bersama
keluarganya. Anak pertama Duma yang perempuan bertempat tinggal di Jakarta setelah
menikah dan dua orang anak Duma bertempat tinggal di Medan. Saat ini Duma bertempat
tinggal bersama anak laki-lakinya di Medan beserta cucu laki-lakinya yang berumur delapan
tahun. Duma sudah bertempat tinggal di Medan sejak ia lahir dan pernah berpindah-pindah
tempat tinggal di kota-kota di Sumatera Utara karena tuntutan kerja suaminya.
Duma sering mengikuti kegiatan sosial dari gerejanya seperti melakukan malam amal,
mengunjungi pasien-pasien di Rumah Sakit dan lainnya. Kegiatan lainnya yaitu Duma juga
mengikuti perkumpulan Batak keluarga Simanjuntak yang diadakan beberapa bulan sekali
yang diikuti oleh seluruh keluarganya.

b. Identitas Diri Penderita Alzheimer
Tabel 6. Gambaran Umum Suami Responden B
Keterangan Responden B
Nama Daniel
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Usia 78 tahun
Lama menderita Alzheimer 3 tahun
Kategori Stadium Alzheimer Stadium Menengah

Daniel merupakan suami dari Responden yang menderita penyakit Alzheimer
semenjak tahun 2006. Pria yang berusia 78 tahun memiliki tinggi 178 cm ini merupakan
pensiunan dari perusahaan perkebunan di Sumatera Utara dan sudah pensiun sejak tujuh
tahun yang lalu.
Awal Daniel diketahui terkena penyakit Alzheimer sejak ingatannya sedikit menurun
dan diperiksa ke dokter dari perusahaan dan dikatakan ia menderita penyakit Alzheimer.
Istrinya melihat Daniel sering lupa dengan jalan untuk kembali rumahnya jika ia sedang pergi
sendiri di luar dan melihat ingatannya sudah tidak sama dengan ingatannya yang dulu maka
Daniel dibawa ke dokter untuk diperiksa. Kemudian Duma memindahkan Daniel untuk
diperiksa oleh dokter yang merupakan Ayah dari peneliti karena istri Daniel yang telah
menjadi pasien Ayah peneliti sejak tahun 1990.
Awalnya gejala ingatan Daniel menurun pada janji dan waktu pada saat itu tetapi
sejak dua tahun terakhir ini ingatan Daniel semakin menurun dan hampir melupakan semua
kegiatannya. Tetapi Daniel masih ingat dengan istri dan anggota keluarganya hanya pada
teman-temannya yang jarang ditemui yang sudah tidak ia ingat lagi.
Daniel masih dapat berjalan-jalan dan melakukan aktivitas lainnya dengan baik tetapi
ia harus selalu diingatkan untuk melakukan aktivitas sehari-harinya seperti mandi atau
berpakaian karena ia sudah tidak ingat lagi untuk berinisiatif sendiri untuk mandi, makan atau
lainnya. Daniel juga sering lupa dengan tanggal dan hari pada saat itu dan terus bertanya
secara berulang-ulang pada istrinya. Menurut laporan dari dokter yang memeriksa Daniel,
saat ini ia berada pada stadium menengah pada penyakit Alzheimer.

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


2. Observasi Umum Responden B
Tabel 7. Waktu Wawancara Responden B
No. Responden Hari/Tanggal
Wawancara
Waktu Wawancara Tempat
Wawancara
1. Duma 4 Februari 2009 14.00 16.00 WIB Di Rumah
Responden
2. Duma 20 Februari 2009 14.30 16.30 WIB Di Rumah
Responden

Peneliti juga mengetahui responden dari Ayah peneliti yang merupakan dokter
responden dan suami responden sejak dulu. Sebelumnya Ayah peneliti telah mengatakan
kepada responden bahwa peneliti ingin bertemu dan wawancara dengan responden terlebih
dahulu. Setelah diberikan alamat dan nomor telepon responden, peneliti melakukan telepon
ke rumah responden untuk menanyakan waktu yang sesuai untuk bertemu dan melakukan
wawancara.
Pada tanggal 4 Februari 2009 dan pada pukul 14.00-16.00 WIB, peneliti datang ke
rumah responden untuk melakukan wawancara pertama sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan terlebih dahulu. Peneliti berkenalan dengan Duma dan suaminya di rumah
responden. Peneliti dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamunya. Peneliti duduk
bersebelahan dengan Duma dan suami Duma duduk di hadapannya. Daniel juga berada di
tempat yang sama selama wawancara berlangsung tetapi tidak ikut pembicaraan dan hanya
diam. Terkadang Daniel berjalan ke teras depan dan berbicara dengan cucunya. Ruang tamu
tersebut memiliki dua kursi yang besar dan dua kursi yang kecil serta satu meja panjang yang
terletak di depan kursi. Dalam ruangan tersebut juga terdapat satu akuarium besar yang berisi
satu ikan arwarna yang besar.
Awal wawancara pertama ini, peneliti menjelaskan terlebih dahulu tujuan dan maksud
dari penelitian ini. Peneliti juga mengatakan bahwa hasil wawancara yang diterima akan
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk tujuan penelitian ini. Setelah Duma
mengerti dan menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian ini , peneliti menanyakan tentang
awalnya suami Duma menderita penyakit Alzheimer dan pengalaman Duma dalam
memberikan perawatan. Duma menceritakan pengalamannya ketika ia memberikan
perawatan kepada suaminya dan gejala-gejala apa yang dialami oleh suaminya seperti selalu
bertanya hal yang sama secara berulang-ulang.
Responden bercerita hal-hal apa saja yang membuat ia stres dan sedih ketika
memberikan perawatan kepada suaminya dan bagaimana ia mengatasinya. Saat Duma
menceritakan mengenai ingatan suaminya yang terus menurun dan bagaimana ia melihat
kondisi suaminya ia meneteskan air mata dan menangis. Duma bercerita dengan suara yang
kecil dan sambil mengelus dadanya ketika ia menceritakan bagaimana ia selalu berdoa
kepada Tuhan untuk diberi ketabahan dan kesabaran dalam memberikan perawatan kepada
suaminya.
Wawancara kedua dilakukan pada tanggal 20 Februari dan pada pukul 14.30-16.30 di
rumah responden. Pertemuan ini dilakukan setelah peneliti menelepon ke rumah responden
dan menentukan waktu yang sesuai untuk bertemu. Saat peneliti datang ke rumah, anak
Duma yang laki-laki yang menyambut peneliti dan mempersilahkan peneliti masuk ke ruang
tamu. Kemudian Duma dan suaminya keluar dari kamar dan bertemu dengan peneliti di ruang
tamu. Pada wawancara ini, peneliti menanyakan hal-hal apa lagi yang membuat responden
stres dan bagaimana ia mengatasinya dengan melakukan coping. Saat wawancara
berlangsung selama 45 menit, ada saudara responden dari Jakarta yang datang ke rumah
sehingga wawancara dihentikan sebentar selama 10 menit.
Kemudian peneliti dan responden pindah ke ruang televisi dan wawancara dilanjutkan
kembali. Saat wawancara berlangsung, Duma tetap melakukan kontak mata dengan peneliti.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Saat Duma menceritakan bagaimana perasaanya melihat suaminya yang sudah tidak aktif lagi
dan merasa disepelekan, ia mengelus-elus dadanya dan mengatakan semoga ia masih tetap
sabar dan tidak emosional.

3. Data Wawancara Responden B
a. Gambaran Sumber Stres dan Reaksi Stresor pada Responden B
1.
Penurunan fungsi kognitif yang dialami oleh suami Duma seperti tidak mengetahui
hari dan tanggal saat itu dan bertanya secara berulang-ulang kepada Duma membuat Duma
menjadi stres. Ketika pertanyaan Daniel sudah dijawab kemudian sekitar lima menit Daniel
akan menanyakan kembali hal yang sama. Hal ini membuat Duma stres dan terkadang marah
jika ia harus menjawab pertanyaan suaminya yang sama. Duma ingin agar ia masih dapat
sabar dan diberi ketabahan untuk menghadapi kondisi suaminya.

Umpama dia nanya ma kita, ditanya terus berulang-ulang..dia nanya hari apa ini,trus gak
berapa lama ditanya lagi hari apa ini..hari senen saya bilang..trus ditanya tanggal
berapa..ditanya terus..
(R2. W1/b. 60-65/ hal 3)

Gimana ya..beratnya kita rasa itu..kita gak bisa lagi meninggalkan dia,umpama kita pergi
keluar jadi emosi yang keluar..misalnya ditanya lagi bolak balik..pertanyaan itu 20 kali dalam
sehari ditanya..
(R2. W1/b. 113-114/hal 4)

Setelah Duma menjawab pertanyaan suaminya yang terus sama, ia ingin agar
suaminya menulis jawaban hari dan tanggal saat itu ditulis di tangan atau kertas agar tidak
ditanyakannya lagi hal yang sama. Tetapi Daniel tidak pernah menulis jawaban tersebut dan
bertanya lagi kepada Duma hal yang sama.
Penurunan Kognitif pada Penderita Alzheiemer

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Saya bilang,pak tolong la kalo udah ditanya dicatat la di tangan..tapi gak pernah
dibuatnya..bolak balik ditanya terus..daripada emosi yang keluar,terpaksa awak menahan
dulu..
(R2. W1/b. 65-71/hal 3)

Trus ditanya mau kemana,dah dikasih tahu..ditanya lagi..capek juga..nanti dia ngerasa kalo
aku rada kesel gitu..ditengoknya mukaku rada lain..dibilangnya,mak jangan marah la..ini gak
sengaja kubuat-buat..tapi setidaknya dia usaha buat inget..dicatat di tangan hari ini tanggal
berapa..
(R2. W2/b. 23-33/hal 2)

Saat suami Duma yang selalu bertanya hal yang sama secara berulang-ulang seperti
pertanyaan hari dan tanggal berapa pada saat itu kepada Duma. Hal ini terkadang membuat
Duma kesal dan marah jika diberikan pertanyaan yang sama. Ketika Duma merasa kesal, ia
berusaha untuk tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya dan berdiam diri dulu untuk
mengatur perasaannya dan menenangkan emosinya terlebih dahulu serta ia berdoa kepada
Tuhan dan meminta agar ia diberi kesabaran untuk menghadapi kondisi suaminya. Ia tidak
ingin menjawab pertanyaan suaminya dengan marah.

Jadi seolah-olah saya hitung 1,2,3..baru saya jawab..tarik napas la dulu aku daripada
langsung kujawab..bolak balik kek gitu..tarik napas la dulu daripada aku marah nanti..buat
mencegah amarahku ini,aku berdoa tolong Tuhan berikan aku kesabaran..
(R2. W1/b. 485-492/hal 13)

Yah itu la..kayak yang waktu itu aku bilang..daripada aku emosi,stres gitu..mending aku
tekan dulu emosiku..jangan langsung marah..umpama dia bolak balik nanya yang sama
misalnya dah lama kali..aku tahan emosiku,kubilang ya Tuhan,beri aku kesabaran..baru bisa
kujawab pertanyaan bapak..kucoba kuredamkan dulu emosiku,supaya gak marah yang
keluar..supaya bisa kuterima kondisi bapak ini..
(R2. W2/b. 197-209/hal 21)

Duma juga merasa sedih ketika ia melihat suaminya yang sudah tidak bisa diajak
untuk berdiskusi dan bercerita bersama lagi jika mereka memiliki masalah. Saat Duma
bertanya pendapat dan meminta keputusan dari suaminya mengenai masalah yang ada, Daniel
sudah tidak dapat memberikan pendapat lagi karena penurunan kognitif yang dialaminya. Hal
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


ini membuat Duma sedih dan stres karena semua keputusan harus ia lakukan sendiri serta ia
merasa tidak ada teman untuk berbagi.

Yah..gimana ya..kayak seolah-olah ngerasa hilang bapak..kayak gak ada lagi kawan awak
ngomong,diskusi gitu..itu la,kadang stres juga..misalnya lagi ada masalah,gak bisa diskusi
lagi..orang ingatannya dah ilang..awak kan ada rasa ingin menopang,tapi sekarang dah gak
bisa lagi..jadi,aku merasa ada yang hilang la..tapi berusaha gak mau terlalu dipikirkan kali..
(R2. W2/ b. 03-14/hal 15)

Ketika Duma melihat anak-anak dan cucunya yang sudah tidak menghargai lagi
suaminya karena ingatan suaminya yang menurun, ia merasa sedih dan ingin agar
keluarganya masih menghargai suaminya. Ia sedih jika mendengar cucunya mengeluh
tentang Daniel yang selalu bertanya secara berulang-ulang.

kadang pun aku ngerasa sedih juga kalo denger cucuku bilang ah,opung ini bolak balik
nanya lagi..kadang sedih juga..aku pikir biar la aku yang ngerasa seperti itu..jangan pula
orang lain negur suamiku..saya bilang gimana lagi,ingatannya dah terganggu..yah,sedih
aku..cuman ya berdoa aja la aku..semoga aku masih kuat..
(R2. W2/b. 160-169/hal 20)

kadang kalo liat orang di rumah ke anak-anak kami kurang bisa menerima atau respect ma
bapak,awak rasanya liat itu sedih..kayak gak dipedulikan la..sakit la memang rasanya,kawan
kita diskusi dah gak bisa lagi..
(R2. W1/b. 461-467/hal 12)

Kondisi suaminya yang sudah mengalami penurunan kognitif sejak menderita
penyakit Alzheimer membuat Duma menjadi lebih sabar lagi dalam menjalani hidup dan ia
lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Duma lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri
dengan Tuhan.

Aku coba sabar aja..tapi aku juga berpikir,karena ada kondisi seperti ini melatih aku buat
bersabar la..aku jadi makin tabah..biasanya dulu aku juga kadang emosional,sekarang aku
menciba sabar la..semakin banyak berdoa juga aku,makin dekat aku sama Tuhan..aku cuman
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


melakukan apa yang bisa kulakukan la..masih berusaha aku membuat bapak semakin
membaik..
(R2. W2/b. 283-294/hal 23-24)

Untuk mengatasi penurunan kognitif yang dialami suaminya, Duma fokus kepada
permasalahan yang dialami suaminya. Duma selalu berusaha dan mencari cara bagaimana
ingatan suaminya dapat lebih membaik lagi. Ia juga berdoa agar dokter yang merawat
suaminya masih dalam keadaan baik dan sehat.

gimana la ya..aku masih berharap juga bapak ingatannya kembali seperti semula atau
setidaknya sedikit membaik la..jadi aku masih berharap juga la..manatau ada keajaiban lagi
dari Tuhan..saya gak mau juga apatis,gak mau putus berusaha buat bikin baik ingatan
bapak..masih berharap saya bapak membaik..saya juga terus berdoa semoga dokter saya
masih baik..
(R2. W2/b. 184-194/hal 20-21)

2.
Kondisi Daniel setelah menderita penyakit Alzheimer sudah tidak dapat melakukan
aktivitas sehari-harinya seperti mandi atau berpakaian sendiri membuat Duma menjadi sedih
dan belum bisa menerima kondisi suaminya seperti ini. Ia ingin agar suaminya berinisiatif
sendiri untuk melakukan aktivitasnya seperti berpakaian tanpa harus diingatkan oleh Duma
dan Duma terkadang capek untuk terus mengingatkan suaminya yang dilihat seperti tanpa
usaha dari diri suaminya sendiri.

Yah,itu dia bapak gak berinisiatif sendiri mau pake bajunya..mesti aku juga yang
bilangin..nanti gak mikir mana baju yang buat jalan-jalan,pesta,di rumah sama rata aja ma
bapak..jadi,mesti kita ingatkan lagi..yah,terkadang capek juga la aku..sepertinya usaha kita
mau bangkitkan cara pikirnya juga kayaknya gak berhasil juga..tak ada juga usaha dari dia
sendiri..yah,nanti dia bilang kan bukan aku yang bikin kayak gini..betul juga itu,aku
pikir..bukan dia yang bikin sendiri tapi aku mau ada usahanya sedikit..
(R2. W2/b. 64-79/hal 17)

Ketergantungan Melakukan Aktivitas Sehari-hari pada Penderita Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Duma berusaha untuk membuat suaminya berinsiatif sendiri untuk melakukan
aktivitasnya sehari-hari seperti berpakaian sendiri. Cara yang Duma lakukan dengan ia sudah
menyiapkan pakaian suaminya di tempat tidur dan ia ingin agar suaminya sendiri yang
memilih bajunya dan memakainya. Tetapi kadang suaminya masih memakai baju yang sudah
dipakainya selama beberapa hari.
kadang saya latih la bapak buat bekerja lagi otaknya..bapak sendiri yang berusaha..kayak
baju dah kusiapkan yang mau dipakai,tapi bapak sendiri yang berinisiatif pake bajunya..tapi
terkadang masih baju yang lama juga yang dipakainya..
(R2. W2/b. 53-60/hal 16-17)

Selain itu, Duma juga meminta saran kepada salah saudaranya yang juga pernah
merawat suaminya yang menderita penyakit Alzheimer. Ia bertanya bagaimana cara yang
dilakukan oleh saudaranya ketika merawat suaminya. Tetapi kondisi suami saudaranya lebih
parah lagi dibanding dengan kondisi Daniel.

jadi,ada la saudara saya juga..suaminya hampir kayak gini tapi dah meninggal..saya minta
saran juga sama dia gimana caranya dia..kepingin juga aku minta saran dari kawan yang lebih
berpengalaman..tapi dia lebih parah lagi penyakitnya..
(R2. W2/b. 82-89/hal 17-18)

Duma melihat beberapa pengalaman dari temannya yang juga merawat suaminya.
Duma melihat ternyata ada yang lebih parah lagi daripada dirinya dimana kondisi suami
temannya yang sudah melakukan semua aktivitas di tempat tidur saja. Duma melihat
pengalaman orang lain yang membuat dirinya menjadi lebih beruntung daripada orang lain
dapat membuat Duma menjadi lebih baik.

kayak suami temanku di gereja, yang suaminya gak bisa ngapa-ngapain lagi..semua
aktivitasnya di kamar tidur aja..ngeliat itu,masih beruntung la saya..suami saya gak sampe
kayak gitu..terkadang kalo liat itu,bikin kita terobati juga..kalo liat yang mulus-mulus,kadang
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


sakit hati juga..biar agak terobati juga hati awak..jadi,berat pikiran juga la ngurus yang kayak
gini..
(R2. W1/b. 495-506/hal 13)

Kondisi Daniel yang sejak menderita penyakit sudah tidak dapat melakukan aktivitas
sehari-hari seperti mandi, berpakaian, mengingat waktu untuk makan, dan lainnya
membutuhkan bantuan dari Duma untuk melaksanakan aktivitasnya. Hal ini membuat Duma
membutuhkan kesabaran untuk memberikan perawatan kepada suaminya dengan cara ia
selalu berdoa kepada Tuhan untuk kuat dan sabar. Saat ia merasa marah dan emosi dengan
melihat kondisi suaminya yang tidak bisa berinisiatif sendiri untuk mandi atau berpakaian,
Duma selalu berdoa pada Tuhan agar ia tidak marah dan selalu sabar.

Ha,iya la..jangan sampe saya berdosa..karena kalo sempet aku bilang,ah repot kali pun
ngerawat dia..kan dah berdosa nanti aku..terkadang mengganti pakaiannya angin-
anginan..nanti sekali pake bisa dipake terus mpe berapa hari..jadi sekarang kayak bayi
lagi..semua saya siapin bajunya,celananya..dalam hal ini pun saya,itu la kalo saya rasa
dengan doa la yang bikin aku kuat menghadapi si bapak..kalo dengan emosi,termasuk
emosional juga aku..tapi karena dengan kita mengandalkan diri kita sendiri emosi yang
keluar..tapi itu la,kucoba la..kalo bapak nanya gak langsung kujawab..supaya mengendalikan
ato menurunkan emosiku ini..Tuhan tolong la berikan aku kesabaran,jangan sampe aku marah
sama suamiku..jadi,sebagai orang yang beragama saya percaya sama kekuatan Tuhan..
(R2. W1/b. 237-261/hal 7-8)

3.
Selain itu, Duma juga selalu memikirkan Daniel di rumah jika ia sedang di luar.
Duma takut suaminya akan pergi jalan-jalan ke luar rumah dan tersesat tidak mengetahui
jalan untuk pulang ke rumah. Hal ini membuat Duma selalu memikirkan suaminya jika ia
sedang pergi ke luar rumah dan suaminya berada di rumah. Ia tidak pernah tenang jika
meninggalkan suaminya di rumah walaupun suaminya bersama anaknya di rumah. Sehingga
Duma susah untuk melakukan kegiatan sosial di luar rumah.
Gangguan Perilaku pada Penderita Alzheimer

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Terkadang juga,ya lumayan fisik saya gak capek kali..tapi sama aja beratnya,fisik capek
pikiran saya pun capek..jadi kadang kalo kita pergi keluar,saya mikir juga dia di rumah
gimana..karena pernah tetangga disana,seminggu gak nampak..gak tau pigi kemana..jadi,saya
mikir jangan sampe ke gitu la nanti..jadi kalo ada orang di rumah pun,saya gak percaya
lagi..kalo bisa ada duplikat saya di rumah..
(R2. W1/b. 90-103/hal 4)

Ya,kalo aku keluar sama aja aku juga mikirin gimana bapak di rumah..takut aku nanti bapak
keluar terus tersesat..walaupun ada anakku yang jaga tetap aja aku masih kepikiran..takut aku
bapakku tersesat..itu terus yang aku pikirin..jadi susah juga la kalo aku keluar..
(R2. W2/b. 232-240/ hal 22)

yah,gimana ya..aku susah juga buat keluar..mau gimana lagi,daripada waktu aku di luar..aku
kepikiran terus bapak gimana di rumah..ada keluar-keluar gak..aku selalu telepon ke rumah la
buat tanya bapak dimana..di rumah apa gak..susah juga la kalo mau ditinggal..
(R2. W2/b. 243-251/hal 22)

Saat ada tamu di rumah atau acara perkumpulan Batak, Daniel sudah tidak bisa aktif
lagi seperti dulu. Daniel sudah tidak dapat ikut dalam pembicaraan dan memberikan pendapat
ke orang lain seperti ketika dulu sebelum ia menderita penyakit Alzheimer. Hal ini membuat
Duma merasa suaminya disepelekan oleh orang lain dan sudah tidak dipandang lagi seperti
dulu. Duma sedih melihat aktivitas suaminya yang sudah tidak aktif lagi dan terlihat apatis
untuk tidak ikut terlibat lagi dalam kegiatan sosial baik di gereja maupun di perkumpulan
Batak.

Yah,sedih ya..kadang kan kita ngeliat punya suami yang biasa tampil..misalnya ada acara
gitu,tapi dia pikir ah udah la biar aja itu..jadi dah apatis dia kan..kita rasanya kecil juga..jadi
itu la perasaan itu penghargaan orang awak rasa dah gak seperti sedia kala..ke disepelekan
gitu..karena dia dulunya aktif gitu ya di perkumpulan..kok sekarang jadi gak ke dulu lagi
ya,diem aja..tapi yah sudah la,udah ke gini ya..
(R2. W1/b. 207-219/hal 7)

jadi,kan itu perkumpulan batak gitu..kalo orang Batak kan harus ngomong la di depan,ada
yang diomongin..saya rasa kan nanti di mata orang itu nanti Bapak kayak disepelekan gitu
kan..
(R2. W2/b. 113-118/hal 18)

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Selain itu, Duma mengatasi rasa sedihnya ketika ia melihat suaminya yang sudah
tidak aktif lagi dan apatis dalam perkumpulan Batak dengan cara ia mendorong suaminya
untuk memberikan pendapat dan berbicara di depan umum. Hal ini merupakan salah satu
gangguan perilaku pada suaminya yang menderita Alzheimer. Ia mendorong suaminya untuk
membicarakan apa yang dirasakan Daniel dan berbicara berdua dengan Duma. Hal ini
dilakukan agar ia merasa suaminya tidak disepelekan dan masih dihargai oleh orang lain
karena Daniel masih dapat memberikan pendapat.

jadi saya usahakan la bapak buat ngomong di depan..setidaknya ada ikut
berpartisipasi..kadang bapak gak mau,tapi saya usahakan..berdua pun tak apa,ngomong apa
aja apa yang bapak rasakan..biar diliat orang masih dipandang..gak saya rasa disepelekan
suami saya..jadi saya usahakan,dorong bapak buat ngomong..
(R2. W2/b. 118-128/hal 17-18)

Yah,itu la..saya dorong bapak untuk ngomong di depan..agar ada partisipasi di pertemuan
itu..biar gak dilihat diam aja,biar gak dirasa disepelekan..aku gak mau orang lain liat suamiku
cuman diam aja..
(R2. W2/b. 140-145/hal 19)

4. Pembahasan Data Responden B
Penyakit Alzheimer adalah kerusakan otak yang ditandai dengan penurunan dari
perhatian, memori, dan kepribadian. Penyakit Alzheimer merupakan keadaan di mana daya
ingatan seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu mengurus
diri sendiri. (Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia). Bantuan dalam
melakukan kegiatan sehari-hari akan menyebabkan penderita membutuhkan seseorang untuk
merawat.
Seseorang yang memberikan perawatan disebut dengan caregiver. Duma merupakan
caregiver informal suaminya yang menderita penyakit Alzheimer. Duma hanya sendiri dalam
memberikan perawatan kepada suaminya tanpa bantuan dari tenaga professional lainnya.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Duma juga melakukan beberapa tugas caregiving seperti perawatan personal dengan
memandikan, membantu suaminya berpakaian, dan menyiapkan makanan dan memberikan
dukungan emosional serta pemberian saran kepada suaminya.
Efek dari penyakit Alzheimer tidak hanya berdampak bagi penderita tetapi juga
berdampak pada anggota keluarga yang memberikan perawatan atau caregiving (Berk, 2007).
Tingkah laku penderita penyakit Alzheimer semakin bermasalah selama peningkatan
penyakitnya dan dapat meningkatkan stres dalam keluarganya (Sarafino, 2006). Hal ini dapat
dilihat pada Duma yang semakin stres karena kondisi suaminya yang semakin menurun
seperti penurunan kognitif, ketergantungan melakukan aktivitas sehari-harinya, dan gangguan
perilaku. Ketika Duma stres, ia sering menangis melihat kondisi suaminya.
Menurut Aneshensel et.al (1995), stressor pada caregiver Alzheimer terdiri dari dua
yaitu pertama objective stressor seperti penurunan kognitif, ketergantungan melakukan
aktivitas sehari-hari, dan gangguan perilaku pada penderita Alzheimer. Duma merasa sedih
dan stres pada kondisi suaminya yang mulai menurun. Duma sering menangis pada malam
hari saat suaminya sudah tertidur. Penerimaan Duma terhadap kondisi suaminya yang
semakin menurun sebagai sesuatu yang menyedihkan. Duma juga sudah tidak dapat banyak
melakukan kegiatan sosial di luar rumah karena ia takut suaminya akan pergi ke luar dan
tersesat karena Daniel pernah lupa pada alamat rumahnya. Bentuk gangguan perilaku pada
suaminya seperti sudah tidak aktif lagi seperti dulu dan tidak berpartisipasi lagi dalam
kegiatan sosial yang ada. Hal ini membuat Duma menjadi stress dan sedih, ia merasa bahwa
suaminya disepelekan oleh orang lain.
Kedua, subjective stressor seperti perubahan hidup yang dialami oleh caregiver.
Perubahan hidup ini sebagai sesuatu yang diterima atau tidak diterima oleh caregiver.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Keluarga yang berperan menjadi caregiver akan beresiko mengalami masalah fisik
dan kesehatan mental serta kematian yang lebih cepat jika ia memberikan kapasitas yang
berlebihan dalam caregiving (Schultz&Beach, Sovensen&Pinquart, 2005 dalam Berk 2007).
Dampak stres pada caregiver semakin meningkatkan resiko yang ada. Untuk mengurangi
resiko masalah fisik dan kesehatan mental pada caregiver maka diperlukan metode coping
stress yang tepat pada caregiver. Coping stress merupakan proses yang mengatur tuntutan
dari eksternal atau internal yang muncul melampaui batas sumber daya seseorang (dalam
Taylor 2003). Usaha coping dapat diartikan dengan memperbaiki masalah dan dapat juga
membantu seseorang merubah pandangannya terhadap kesenjangan, menerima ancaman, atau
menghindar dari situasi.
Menurut Lazzarus & Folkman (dalam Sarafino, 2006) ada dua fungsi coping yaitu
pertama emotion focused coping digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap
stress. Sedangkan fungsi coping yang kedua adalah problem focused coping digunakan oleh
individu dengan mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh tekanan atau mengembangkan
sumber daya pada dirinya.
Caregiver akan memilih beberapa metode coping yang tepat mereka gunakan agar
dapat mengurangi dan menangani stress yang mereka alami. Penggunaan metode coping yang
tepat akan mengurangi faktor resiko pada caregiver penderita penyakit Alzheimer.
Duma menggunakan beberapa metode coping stres sebagai berikut :
1) Masalah ketergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari pada penderita Alzheimer
a. Metode cognitive redefinition adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused,
yaitu usaha untuk tetap terlihat baik di dalam situasi yang buruk, membuat sesuatu
perbandingan dengan orang lain yang lebih rendah, atau melihat sesuatu yang baik
yang muncul dari masalah itu.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Hal ini dapat dilihat ketika Duma melihat suami temannya yang sudah tidak bisa
melakukan aktivitas apapun sehingga istrinya harus melakukan aktivitas dan merawat
suaminya di kamar tidur saja karena suaminya sudah tidak dapat berjalan lagi. Duma
berpikir bahwa sekarang apa yang dialaminya masih lebih baik karena suaminya
masih dapat berjalan.
b. Metode seeking sosial support adalah metode yang bertujuan sebagai emotion
focused, yaitu usaha untuk mengatur emosi yang nyaman dan mencari informasi dari
orang lain.
Hal ini dapat dilihat ketika Duma meminta saran dari salah satu keluarganya yang
pernah merawat suaminya yang juga menderita penyakit Alzheimer. Duma bertanya
bagaimana cara dan pengalaman saudaranya ketika merawat suaminya yang
menderita Alzheimer juga.
c. Metode direct action adalah metode yang bertujuan sebagai problem focused, yaitu
tindakan secara langsung untuk untuk merubah situasi yang ada menjadi lebih baik.
Hal ini dapat dilihat dari tindakan Duma untuk membiarkan suaminya berinisiatif
memilih pakaian dan berpakaian. Duma sudah menyediakan pakaian Daniel di tempat
tidur dan ingin agar suaminya sendiri yang memilih pakaiannya. Tindakan ini
dilakukan Duma untuk melatih suaminya melakukan sendiri aktivitas sehari-harinya.
d. Metode religion adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused, yaitu usaha
untuk mendapatkan kenyamanan dari agama dan kepercayaan spiritual.
Hal ini dapat dilihat ketika Duma merasa kesal ketika memberikan perawatan kepada
suaminya seperti memandikan maka ia akan berdoa kepada Tuhan agar diberikan
kesabaran dan ketabahan dalam memberikan perawatan. Ia tidak ingin berdosa kepada
suaminya
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



2) Masalah penurunan kognitif pada penderita Alzheimer
a. Metode self control adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused yaitu
usaha untuk mengatur perasaan atau tindakan seseorang yang berhubungan dengan
masalah yang ada.
Hal ini dapat dilihat ketika Duma menghadapi suaminya yang selalu bertanya hal
yang sama secara berulang-ulang maka ia akan menahan emosinya dulu agar ia tidak
marah kepada suaminya. Duma akan menarik napas kemudian menghitung dari angka
1,2,3 baru setelah ia tenang akan menjawab pertanyaan suaminya.
b. Metode religion adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused, yaitu usaha
untuk mendapatkan kenyamanan dari agama dan kepercayaan spiritual.
Hal ini dapat dilihat ketika Duma menghadapi suaminya yang selalu bertanya hal
yang sama maka Duma berdoa kepada Tuhan agar ia diberi kesabaran dan ketabahan
dalam memberikan perawatan kepada suaminya.
c. Metode positive appraisal adalah metode yang bertujuan sebagai emotion focused,
yaitu usaha untuk mendapatkan makna yang positif dalam pengalaman dengan focus
pada pertumbuhan diri.
Hal ini dapat dilihat ketika Duma merasa bahwa dengan kondisi suaminya yang
fungsi kognitifnya sudah menurun membuatnya menjadi lebih sabar dan sudah tidak
emosional lagi dalam menjalani hidup. Duma juga lebih mendekatkan diri dengan
Tuhan dan semakin banyak berdoa kepada Tuhan.
d. Metode planful problem solving adalah metode yang bertujuan sebagai problem
focused, yaitu usaha untuk focus pada masalah dan mencari pemecahannya.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Hal ini dapat dilihat ketika Duma selalu terus berusaha dan mencari cara bagaimana
ingatan suaminya menjadi lebih baik lagi. Ia juga selalu berdoa kepada Tuhan agar
dokter yang merawat suaminya tetap baik dan sehat.

3) Masalah gangguan perilaku pada penderita Alzheimer
a. Metode direct action adalah metode yang bertujuan sebagai problem focused, yaitu
tindakan secara langsung untuk untuk merubah situasi yang ada menjadi lebih baik.
Hal ini dapat dilihat ketika Duma mendorong suaminya untuk memberikan pendapat
dan berbicara di depan umum saat acara perkumpulan Batak yang bisa mereka
datangi.
b. Metode accepting responsibility adalah metode yang bertujuan sebagi emotion
focused , yaitu usaha untuk mengambil perngetahuan tentang peranannya sambil
berusaha membetulkan apa yang salah.
Hal ini dapat dilihat ketika Duma sudah tidak banyak lagi melakukan kegiatan sosial
di luar rumah karena ia takut suaminya akan pergi ke luar dan tersesat di jalan. J ika
Duma pergi ke luar maka suaminya akan dirawat oleh anaknya dan ia tidak pergi lama
di luar rumah.







Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



Tabel 8. Gambaran Metode Coping Stress pada Responden B
No. Aspek Kesimpulan
1. a. Coping terhadap ketergantungan
dalam melakukan aktivitas sehari-
hari pada penderita Alzheimer












b. Coping terhadap penurunan
kognitif pada penderita Alzheimer
















c. Coping terhadap gangguan
perilaku pada penderita Alzheimer
a. Masalah ketergantungan dalam melakukan
aktivitas sehari-hari pada penderita Alzheimer
1. Metode cognitive redefinition: responden melihat
pengalaman temannya dan ada yang lebih parah
lagi daripada apa yang ia alami
2. Metode seeking social support: responden
menanyakan saran kepada saudaranya yang pernah
merawat suaminya yang menderita Alzheimer
3. Metode direct action: responden menyediakan
pakaian suaminya di kamar dan membiarkan
Daniel untuk memilih sendiri baju yang akan
dipakai
4. Metode religion: responden berdoa kepada Tuhan
untuk diberikan kesabaran dan ketabahan

b. Masalah penurunan penurunan kognitif pada
penderita Alzheimer
1 Metode self control: responden menahan dulu
emosinya dan menarik napas agar ia tidak marah
ketika menjawab pertanyaan suaminya yang sama
secara berulang-ulang
2. Metode religion: responden selalu berdoa pada
Tuhan agar ia selalu diberikan kesabaran dalam
menghadapi suaminya yang selalu bertanya hal
yang sama
3. Metode positive appraisal: responden menjadi
lebih sabar lagi dan lebih mendekatkan diri dengan
Tuhan karena kondisi suaminya. Ia menjadi lebih
sabar dalam menjalani hidup
4. Metode planful problem solving: responden selalu
berusaha dan mencari cara agar ingatan suaminya
semakin membaik

c. Masalah gangguan perilaku pada penderita
Alzheimer
1. Metode direct action: responden mendorong
suaminya untuk memberikan pendapat dan berbicara
di acara perkumpulan Batak
2. Metode accepting responsibility: responden sudah
jarang untuk melakukan aktivitas social di luar rumah
agar ia tidak meninggalkan suaminya di rumah

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



C. Analisa Data Antar Responden
Agar dapat melihat lebih mendalam tentang analisa data hasil wawancara antar
responden, berikut ini disajikan tabel yang memuat tentang analisa data antar responden
berdasarkan gambaran pasangan responden dan gambaran metode coping yang digunakan
oleh responden. Analisa banding diperlukan antar responden juga berguna untuk mengetahui
sejauhmana kesamaan, perbedaan, saling melengkapi, dan kondisi antar partisipan
(Bastaman, 1996).

Tabel 9. Analisa Banding Antar Responden
No. Analisa Data Pasangan Responden A Pasangan Responden B
1.




Gambaran penderita
Alzheimer



Usia : 75 tahun
Lama menderita Alzheimer : 5
tahun
Kategori Stadium Alzheimer :
Stadium akhir
Usia : 78 tahun
Lama menderita Alzheimer :
3 tahun
Kategori Stadium Alzheimer
: Stadium menengah

2.

Gambaran Metode
Coping Stress

Responden A

Responden B
a. Coping terhadap
perubahan hidup pada
caregiver











Coping terhadap perubahan hidup
pada caregiver :
1.Metode confrontative: Nazwa
memukul badan suaminya
dengan keras
6. Metode acceptance: Nazwa
menerima hidupnya yang
sedang dijalaninya sekarang
sebagai suratan takdir yang
harus dijalani.
7. Metode Cognitive redefinition:
Nazwa melihat apa yang
dialami oleh orang lain yang
ada di sekitarnya dan di Rumah














Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009






















b. Coping terhadap
ketergantungan
melakukan aktivitas
sehari-hari pada
penderita Alzheimer





















c. Coping terhadap
penurunan kognitif
Sakit. Ia melihat bahwa ada
yang lebih parah lagi daripada
apa yang sedang dialamininya.
8. Metode self control: Nazwa
berusaha mengatur emosinya
dan tidak mau mendekati
suaminya jika ia sedang marah
dan kesal. Ia tidak mau dekat
dulu karena tidak mau
memukul suaminya dan
berteriak-teriak maka ia akan
ke luar dari kamar dan
mengatur emosinya.
9. Metode escape/avoidance:
Nazwa meminta agar suaminya
pulang ke rumah dan minta
agar dokter tidak memberikan
lagi obat-obat bagus kepada
suaminya

b.Coping terhadap
ketergantungan melakukan
aktivitas sehari-hari pada
penderita Alzheimer :
3. Metode emotional discharge:
Nazwa berteriak-teriak dari
kamar hingga ke depan
rumahnya hingga teriakannya
terdengar sampai ke tetangga
4. Metode confrontative: Nazwa
langsung memukul badan
suaminya jika bandel ketika
dimandikan di kamar mandi













c.Coping terhadap penurunan
kognitif pada penderita




















b.Coping terhadap
ketergantungan melakukan
aktivitas sehari-hari pada
penderita Alzheimer:
1.Metode cognitive redefinition:
Duma melihat pengalaman
temannya dan ada yang lebih
parah lagi daripada apa yang
ia alami
2.Metode seeking social
support: Duma menanyakan
saran kepada saudaranya
yang pernah merawat
suaminya yang menderita
Alzheimer
3.Metode direct action: Duma
menyediakan pakaian
suaminya di kamar dan
membiarkan Daniel untuk
memilih sendiri baju yang
akan dipakai
4.Metode religion: Duma
berdoa kepada Tuhan untuk
diberikan kesabaran dan
ketabahan

c.Coping terhadap penurunan
kognitif pada penderita
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009








pada penderita
Alzheimer
























d. Coping terhadap
gangguan perilaku pada
penderita Alzheimer
Alzheimer:
1. Metode distancing: Nazwa
berbelanja ke luar jika ia jenuh
sedang berada di rumah






















d. Coping terhadap gangguan
perilaku pada penderita
Alzheimer :
1. Metode planful problem
solving: Nazwa meminta perawat
untuk membersihkan kotoran
suaminya di tempat tidur

Alzheimer :
1. Metode self control: Duma
menahan dulu emosinya dan
menarik napas agar ia tidak
marah ketika menjawab
pertanyaan suaminya yang
sama secara berulang-ulang
2. Metode religion: Duma selalu
berdoa pada Tuhan agar ia
selalu diberikan kesabaran
dalam menghadapi suaminya
yang selalu bertanya hal yang
sama
3. Metode positive appraisal:
Duma menjadi lebih sabar
lagi dan lebih mendekatkan
diri dengan Tuhan karena
kondisi suaminya. Ia menjadi
lebih sabar dalam menjalani
hidup
4.Metode planful problem
solving: Duma selalu
berusaha dan mencari cara
agar ingatan suaminya
semakin membaik

d.Coping terhadap gangguan
perilaku pada penderita
Alzheimer :
1. Metode direct action: Duma
mendorong suaminya untuk
memberikan pendapat dan
berbicara di acara perkumpulan
Batak
2. Metode accepting
responsibility: Duma sudah
jarang untuk melakukan
aktivitas social di luar rumah
agar ia tidak meninggalkan
suaminya di rumah

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009








BAB V
KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan analisa hasil yang diperoleh dari kedua partisipan pada penelitian ini,
maka ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Sumber stres pada Responden A berasal dari perubahan hidup yang dialaminya
semenjak ia memberikan perawatan kepada suaminya yang menderita penyakit
Alzheimer. Nazwa kesal dengan hidupnya yang tidak pernah bebas dari ia muda
hingga sekarang karena ia harus memberikan perawatan kepada suaminya. Nazwa
merasa jenuh dan bosan pada tugas perawatan yang rutin dilakukannya seperti
memandikan, membantu suaminya berpakaian, dan memberikan obat kepada
suaminya. Nazwa sering marah ketika suaminya melawan dirinya ketika sedang
dimandikan atau diberikan bentuk perawatan lainnya.
Sedangkan sumber stres pada Responden B berasal dari penurunan kognitif yang
dialami oleh suaminya yang menderita penyakit Alzheimer. Duma sedih dan
terkadang kesal jika mendengar suaminya yang selalu bertanya hal yang sama seperti
hari dan tanggal saat itu secara berulang-ulang. Hal ini terjadi karena ingatan
suaminya menurun yang merupakan salah satu gejala penyakit Alzheimer. Duma
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


juga merasa suaminya sudah tidak dihargai dan disepelekan oleh anggota keluarganya
dan orang lain disekitarnya seperti di perkumpulan Batak karena Daniel yang sudah
tidak aktif dan berpartisipasi lagi pada perkumpulan seperti dulu.
2. Untuk mengatasi stres pada kedua responden maka diperlukan coping stres yang tepat
agar tidak meningkatkan resiko stres yang ada pada caregiver penderita Alzheimer.
Coping stres yang dipakai oleh kedua responden dapat dilihat sebagai berikut:
a. Pada responden A:
5) Masalah perubahan hidup yang dialami oleh caregiver
f. Metode confrontative : Nazwa merasa kesal dengan hidup yang dijalaninya
dan memukul suaminya dengan keras sampai badan suaminya biru karena
pukulannya.
g. Metode acceptance : Nazwa berpikir bahwa hidup yang dijalaninya sekarang
sudah menjadi suratan takdir yang harus dijalaninya.
h. Metode Cognitive redefinition : Nazwa melihat pengalaman orang lain yang
ia temui di Rumah Sakit dan ia bersyukur bahwa apa yang dialaminya masih
lebih baik daripada orang lain dan masih banyak yang lebih parah lagi
daripada dirinya.
i. Metode self control : Nazwa berusaha untuk tidak mendekati dulu suaminya
sampai ia tidak marah lagi. Ia menjauhi suaminya dulu untuk mengatur
perasaannya agar ia tidak memukul dan berteriak-teriak di dalam rumah.
j. Metode escape/avoidance : Nazwa membawa pulang suaminya pulang ke
rumah setelah diopname di Rumah Sakit di Medan agar Raffi dapat
meninggal di rumah. Ia meminta agar dokter tidak harus memberikan obat-
obat yang bagus lagi kepada suaminya.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


6) Masalah ketergantungan melakukan aktivitas sehari-hari pada penderita
Alzheimer
c. Metode emotional discharge : Nazwa berteriak-teriak dari dalam kamar
sampai ke depan rumah hingga teriakannya terdengar sampai ke
tetangganya.
d. Metode confrontative : Ketika Nazwa sedang memandikan suaminya dan
Raffi terkadang suka melawan sehingga membuat Nazwa kesal maka Nazwa
langsung memukulnya di kamar mandi sehingga badan suaminya menjadi
biru.

7) Masalah penurunan kognitif pada penderita Alzheimer
b. Metode distancing : Nazwa pergi berbelanja ke luar jika ia sedang jenuh
dengan aktivitasnya yang di rumah saja

8) Masalah gangguan perilaku pada penderita Alzheimer
b. Metode planful problem solving : Ketika suami Nazwa yang marah-marah
dan menyapukan kotorannya ke tiang tempat tidur di Rumah Sakit. Nazwa
meminta agar perawat di Rumah Sakit membersihkan kotorannya karena
Nazwa tidak bisa untuk membersihkannya sendiri.

c. Pada Responden B :
4) Masalah ketergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari pada penderita
Alzheimer
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


d. Metode cognitive redefinition : Duma melihat pengalaman temannya dan ia
berpikir bahwa sekarang apa yang dialaminya masih lebih baik karena
suaminya masih dapat berjalan.
e. Metode seeking sosial support : Duma meminta saran dari saudaranya yang
juga pernah merawat suaminya yang menderita Alzheimer
f. Metode direct action : Duma sudah menyediakan pakaian suaminya di
tempat tidur dan membiarkan Daniel berinisiatif memilih pakaiannya
sendiri
g. Metode religion : Nazwa berdoa kepada Tuhan agar diberikan kesabaran
dan ketabahan dalam memberikan perawatan. Ia tidak ingin berdosa kepada
suaminya

5) Masalah penurunan kognitif pada penderita Alzheimer
e. Metode self control : Duma akan menahan emosinya dan menarik napas
dulu agar ia tidak marah ketika menjawab pertanyaan suaminya yang selalu
berulang-ulang
f. Metode religion : Duma berdoa kepada Tuhan agar ia diberi kesabaran dan
ketabahan dalam menghadapi suaminya yang selalu bertanya hal yang sama
g.Metode positive appraisal : Duma menjadi lebih sabar dan sudah tidak
emosional lagi dalam menjalani hidup. Duma juga lebih mendekatkan diri
dengan Tuhan dan semakin banyak berdoa kepada Tuhan.
h. Metode planful problem solving : Duma selalu terus berusaha dan mencari
cara bagaimana ingatan suaminya semakin membaik. Ia juga selalu berdoa
kepada Tuhan agar dokter yang merawat suaminya tetap baik dan sehat.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009



6) Masalah gangguan perilaku pada penderita Alzheimer
c. Metode direct action : Duma mendorong suaminya untuk memberikan
pendapat dan berbicara di depan umum saat acara perkumpulan Batak yang
biasa mereka datangi
d. Metode accepting responsibility : Duma sudah jarang melakukan kegiatan
sosial di luar rumah. J ika Duma pergi ke luar maka suaminya akan dirawat
oleh anaknya dan ia tidak pergi lama di luar rumah.

B. Diskusi
Pada sub bab ini akan diutarakan hal-hal tambahan yang ditemukan di lapangan
penelitian sekiranya patut dijadiakn bahan diskusi.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap kedua responden ditemukan bahwa sumber
stress pada Responden A berasal dari perubahan hidup yang dialaminya semenjak ia rutin
memberikan perawatan kepada suaminya yang menderita penyakit Alzheimer sedangkan
pada Responden B berasal dari penurunan kognitif dan gangguan perilaku yang dialami oleh
suaminya yang merupakan salah satu gejala penyakit Alzheimer.
Hal ini dikarenakan hubungan Responden A dengan suaminya yang kurang baik dan
harmonis sebelum Raffi menderita penyakit Alzheimer dari lima tahun yang lalu. Perilaku
Raffi yang suka berpacaran dengan wanita lain ketika ia masih menikah dan telah menyakiti
hati Nazwa hingga sekarang. Nazwa telah mengetahui perilaku suaminya dulu tetapi tidak
pernah bercerai dengan suaminya. Hingga sekarang Nazwa sering merasa kesal jika ia masih
harus memberikan perawatan kepada suaminya karena ia berpikir bahwa hidupnya tidak
pernah bebas dan ia merasa bahwa dirinya bodoh untuk diperbudak terus oleh suaminya.
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Menurut Harper dan Lund (1990), mengatakan bahwa caregiver tidak mengalami
bentuk stres yang signifikan tergantung kepada hubungannya dengan penderita Alzheimer
yang merupakan suami dari Responden A.
Sedangkan pada Responden B yang mengalami stress berasal dari penurunan kognitif
yang dialami oleh suaminya. Hal ini dilihat dari ingatan suaminya menurun yang selalu
bertanya hal yang sama secara berulang-ulang kepada Duma. Duma masih berharap bahwa
ingatan suaminya akan kembali seperti semula atau semakin membaik lagi. Ia terus berusaha
dan mencari cara agar ingatan suaminya yang dapat kembali lagi seperti semula dengan
melatih suaminya untuk berinisiatif sendiri melakukan aktivitas sehari-harinya.
Menurut penelitian Pruchno dan Resch (1989), mengatakan bahwa strategi coping
dengan pengharapan akan meningkatkan depresi pada caregiver penderita Alzheimer.
Sedangkan penurunan kognitif yang dialami oleh penderita Alzheimer akan semakin
menurun secara perlahan yang biasanya tampak dalam waktu lima tahun mendatang
(Bayer&Reban, 2004).
Duma merasa sedih ketika melihat anggota keluarganya yang tidak menghargai lagi
suaminya Duma karena kondisi Duma yang sudah tidak aktif lagi seperti dulu. Duma juga
sudah tidak dapat berdiskusi dan bercerita lagi kepada suaminya karena kondisi ingatan
suaminya yang tidak ingat lagi dengan cerita yang ada. Hal ini membuat Duma sedih dan
merasa bahwa ia sudah tidak ada lagi kawan berbaginya di rumah. Ia merasa bahwa hanya
fisik suaminya saja yang ada tetapi nyawa suaminya tidak ada di rumah.
Hal ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya simtom depresi pada istri yang
menjadi caregiver suaminya yang menderita penyakit Alzheimer. Kurangnya kedekatan
dalam perkawinan dan melakukan aktivitas bersama seperti saling bercerita akan
meningkatan stres pada istri yang menjadi caregiver (Hooyer dan Roodin, 2003).
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan kedua responden ditemukan bahwa
kedua responden hanya mengetahui sedikit informasi tentang penyakit Alzheimer. Nazwa
hanya mengetahuinya dari dokter yang pertama memeriksa suaminya di Jakarta dan yang ia
ketahui bahwa memori suaminya yang akan menurun dan fisik suaminya tidak mengalami
kelumpuhan. Sedangkan Duma mengetahui informasi mengenai penyakit Alzheimer dari
brosur yang ia baca di ruangan dokter yang merawat suaminya. Ia mengetahui tentang
memori yang menurun dan bagian syarafnya yang terkena.

C. Saran
Dari hasil penelitian yang diperoleh, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai
berikut :
a. Saran Penelitian Lanjutan
1. Dalam penelitian selanjutnya diharapkan agar lebih menggali informasi tentang
hubungan caregiver dengan penderita Alzheimer dan dukungan sosial yang
didapatkan dari keluarga caregiver
2. Peneliti perlu melakukan wawancara dengan anggota keluarga yang terkait seperti
anak dari caregiver penderita Alzheimer yang merupakan pasangan penderita
Alzheimer agar lebih mendapatkan data yang akurat

b. Saran Praktis
1. Bagi responden sebagai primary caregiver penderita Alzheimer
Responden yang berperan sebagai primary caregiver penderita Alzheimer untuk
menemukan metode coping yang tepat dengan melihat dan mendengar metode
coping yang digunakan oleh caregiver penderita Alzheimer lainnya agar tidak
Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


meningkatkan stres dan mengalami faktor resiko yang ada. Disarankan juga bagi
responden untuk mengetahui informasi mengenai penyakit Alzheimer.
2. Bagi keluarga responden caregiver penderita Alzheimer
Pihak keluarga juga dapat memberikan dukungan sosial kepada pasangan penderita
yang berperan sebagai caregiver penderita Alzheimer. Disarankan bagi keluarga
untuk menerima dan mengerti gejala yang muncul pada penderita Alzheimer
seperti penurunan kognitif, ketergantungan melakukan aktivitas sehari-hari, dan
gangguan perilaku.
3. Bagi yayasan, lembaga, rumah sakit dan praktisi kesehatan yang berada dalam
bidang Alzheimer dan menangani penderita Alzheimer
Bagi institusi yang berada dalam bidang Alzheimer dapat membuat program yang
dapat mengatasi stress pada caregiver penderita Alzheimer seperti support group
agar para caregiver memiliki perkumpulan dan melihat pengalaman caregiver
lainnya. Program ini disarankan untuk memberikan dukungan sosial yang
dibutuhkan oleh caregiver penderita Alzheimer .
4. Bagi masyarakat luas
Masyarakat luas dapat memberikan dukungan positif yang dapat mengurangi stres
pada caregiver penderita Alzheimer. Disarankan juga agar masyarakat dapat
memahami dan mengerti gejala yang timbul pada penderita Alzheimer.





Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009










DAFTAR PUSTAKA



Alzheimer , [on-line] http://www.w3c.org/TR/1999/REC-html401-19991224/loos. (Diakses
tanggal 15 Februari 2008).

Adesla, V. (2007). Alzheimer: Anda Yakin Anda Tahu Alzheimer, [on-line] http://www.e-
psikologi.com/epsi/klinis.asp. (Diakses tanggal 15 Februari 2008).

Barrow, G.M. (1996). Aging, the Individual, and Society 6
th
edition. Amerika: West
Publishing Company.

Bayer, A & Reban, J. (2004). Alzheimers Disease and Related Conditions. Czech: MEDEA-
Press.

Birren, J.E & Schaie, K.W. (1990). The Psychology of Aging 3
rd
edition. Amerika: Academic
Press,INC.

Caregiver, [on-line] http://www.w3c.org/TR/1999/REC-html401-19991224/loose.dtd.
(Diakses tanggal 2 Januari 2009)


Dacey, J.S & Travers, J.F. (2002). Human Development Across The Lifespan 5
th
edition. New
York: The Mc-Graw Hill Companies

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) 4
th
edition Text Revision,
2002. Arlington: American Psychiatric Association.

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Dimatteo, M.R. (1991). The Psychology of Health, Illness, and Medical Care. Amerika:
Brooks/Cole Publishing Company.

Hoyer, W.J & Roodin, P.A. (2003). Adult Development and Aging 5
th
edition. New York:
McGraw-Hill.

Hurlock, E.B. (1980). Psikologi Perkembangan.Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan, edisi 5. Jakarta: Penebit Erlangga.

Kail, R.V & Cavanaugh, J.C. (2000). Human Development a Lifespan View 2
nd
edition.
Wadsworth: Thomson Learning

Kusumoputro, S & Sidiarto, L.D. (2004). Mengenal Awal Pikun Alzheimer. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia (UI-press).

Koalisi untuk Indonesia Sehat. (2007). Mudah Lupa, Pertanda Terserang Alzheimer, [on-
line] http://www.koalisi.org/detail.php. (Diakses tanggal 20 Februari 2008).

Moleong. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Moonks, P.J & Knoers, A.M.P. (2002) Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press

Morgan, et al. (1986). Introduction to Psychology. 7
th
Ed. New York: Mc Graw-Hill.

Neundorfer, McClendon, Smyth & Stuckey. (2001). A Longitudinal Study of the
Relationship Between Levels of Depression among Persons with Alzheimer's Disease
and Levels of Depression among Their Family Caregivers. The Journals of
Gerontology, Vol 56B.

Poerwandari (2001). Pendekatan Kualitatif dan Penelitian Psikologi. Jakarta : Lembaga
Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) UI.

Powers, Gallagher-Thompson & Kraemer. (2002). Coping and Depression in Alzheimer's
Caregivers: Longitudinal Evidence of Stability. The Journals of Gerontology,
Vol.57B.

Rice, P.L. (1992). Stress and Health. Ed.2. California: Brooks / Cole Publishing Company.

Rianti Widiastuti : Coping Stress Pada Primary Caregiver Penderita Penyakit Alzheimer, 2009.
USU Repository 2009


Robertson, Zarit, Duncan, Rovine & Femia. Family Caregivers Patterns of Positive and
Negative Affect. Minneopolis, Vol 56

Sarafino, E.P. (2006). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. Amerika: John
Willey &Sons,INC.

Sjahrir, H. ,Nasution, D., &Rambe, H.H. (1999). Demensia. Medan: USU Press.

Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development edisi 5, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Taylor, S.E. (2003). Health Psychology 5
th
edition. New York: McGraw-Hill

Wibowo, A.S (2007). Manajemen Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler, [on-
line]http://abgnet.blogspot.com/2007/09/manajemen-demensia-alzheimer-dan.html
(Diakses tanggal 25 Februari, 2007)