Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN A. Penulisan Kasus Tn.

Andi 70Th, TB 168 cm, BB saat ini 55 Kg, mengeluh belakangan ini mengalami masalah saat makan atau minum. Ia seringkali merasakan nyeri membakar dibagian tengah dada saat menelan makanan dan kadang memuntahkan makanan yang belum tercerna. Keadaan ini sudah berlangsung lama tapi 2bulan belakangan ini makin berat sehingga berat badannya

menurun. Sebelumnya Tn.Andi cukup ideal dengan BMI 24.

GASTROESOFAGUS REFLUKS ( GERD ) 1. KONSEP DASAR MEDIS a. DEFINISI Gastroesofagus refluks adalah merupakan kembalinya isi lambung ke esofagus atau lebih proksimal. Isi lambung tersebut dapat berupa asam lambung,udara maupun makanan (resto,2000) Refluks gastro merupakan aliran balik isi lambung atau duodenum ke dalam esofagus.

Esofagus adalah saluran yang meghubungkan mulut ke lambung. Otot berbentuk cincin di bagian bawah esofagus (spinkter esofagus bawah) membuka dan menutup agar makanan masuk ke dalam lambung. Spinkter ini membuka agar udara dapat keluar setelah makanan masuk. Ketika spinkter terbuka,isi lambung masuk ke dalam esofagus dan dapat keluar dari rogga mulut,menyebabkan regurgitasi(aliran balik) meludah dan muntah.

b. ETIOLOGI Beberapa penyebab terjadinya GERD : 1. Bersihan asam dari lumen esofagus menurun. Disebabkan karena kemampuan esofagus untuk membersihkan asam tersebut menurun, sedangkan asam semakin menigkat.

2. Gangguan fungsi (relaksasi sementara LES (lower esophageal sphincter)) atau mekanikal (penurun tekanan LES) menyebabkan peingkatan refluks gastro esofagus 3. Komponen makanan (misalnya kafein,alkohol) obat obatan dapat menurunkan tekanan LES 4. Kegemukan,merupakan faktor penting yang mengontribusi refluks gastro esofagus yang berhubungan dengan peningkatan intra abdomen 5. Usia,meskipun refluks gastro esofagus dapat terjadi pada semua usia,tetapi pada usia lanjut kondisi gastro esofagus meningkat seiring dengan penurunan tekanan LES.

c. MANIFESTASI KLINIK Gejala yang timbul kadang kadang sukar di bedakan dengan kelainan fungsional lain dari traktus gastro intestinal,antara lain : 1. Rasa panas di dada (heart burn) heart burn adalah gejala khas umum dari GERD. Hal ini dirasakan sebagai sensasi retrosternal pembakaran atau ketidaknyamanan yang biasa terjadi setelah makan atau ketika berbaring terlentang/membungkuk. Timbulnya keluhan ini akibat rangsangan kemoreseptor (bagian yang berfungsi untuk menangkap rangsangan kimia yang larut dalam air) pada mukosa. 2. Sendawa,di karenakan isi lambung yang keluar itu berupa udara. 3. Mual,di karenakan lambung yang terlalu terisi penuh,sehingga gerak peristaltik lambung tidak dapat bekerja secara maksimal. 4. Muntah,dikarenakan SEB (spinkter esofagus bawah) mengalami penurunan sehingga makanan yang tadinya berada di lambung keluar melalui mulut. 5. Disfagia,yaitu gangguan menelan bisa di sebabkan oleh paresis saraf pasialis atau saraf hipoglosus dimana makanan sukar di pindah pindahkan. 6. Odinofagia,yaitu kondisi nyeri akut saat menelan,di sebabkan karena radang esofagus atau esofagitis.

d. PATOFISIOLOGI Episode refluks bervariasi hubungannya tergantung dengan kandungan makanan. Pada

isinya,volume,lamanya,dan

proses terjadinya refluks,spinkter esofagus bawah dalam keadaan relaksasi atau melemah oleh peningkatan tekanan intraabdominal sehingga terbentuk rongga diantara esofagus dan lambung. Isi lambung mengalir atau terdorong kuat ke dalam esofagus. Jika isi lambung mencapai esofagus bagian proksimal dan spinkter esofagus atas berkontraksi,maka isi lambung tersebut tetap berada di esofagus dan peristaltik akan mengembalikannya ke dalam lambung. Jika spikter esofagus atas relaksasi sebagai respon terhadap distensi esofagus maka isi lambung akan masuk ke faring,laring,mulut atau nasofaring. Secara ringkas dapat dilihat pada skema di bwah ini.

e. PENATALAKSANAAN MEDIS Pengobatan penderita PRGE terdiri dari : Tahap 1 Bertujuan untuk mengurangi refluks ,menetralisasi bahan refluks,memperbaiki barrier anti refluks dan mempercepat proses pembersihan esofagus dengan cara : a. Posisi kepala/ranjang di tinggikan(6-8inci) b. Diet dengan menghindari makanan tertentu seperti makanan berlemak,berbumbu,asam,coklat,alkohol,dll. c. Menurunkan berat badan bagi penderita yang gemuk d. Jangan makan terlalu kenyang e. Jangan segera tidur setelah makan dan menghidari makan malam terlambat f. Jangan merokok dan hindari obat obat yang dapat menurunkan SEB (spinkter esofagus bawah) seperti kafein,aspirin,teofilin,dll. Tahap II Menggunakan obat obatan seperti : a. Obat prokinetik yang bersifat mempercepat peristaltik dan meninggikan tekan SEB,misalnya metokloramid : 0,1Mg per

kilogram BB 2 X 1 sebelum makan dan sebelum tidur. Obat betanekol : 0,1Mg/Kg BB 2X1 sebelum makan dan sebelum tidur. b. Obat anti sekretorik untuk mengurangi keasaman lambung dan menurunkan jumlah sekresi asam lambung,umumnya

menggunakan antagonis reseptor H2 seperti ranitidin : 2Mg/Kg BB 2X1, famotidin : 20Mg 2X1 atau 40Mg sbelum tidur (dewasa),dan jenis penghambat pompa ion hidrogen seperti omeprazole : 20Mg 1-2X/hari untuk dewasa dan 0,7Mg/KG BB/hari untuk anak. c. Obat pelindung mukosa seperti subtralvat : 0,1-1G/dosis 2X1, di berikan sebagai campuran dalam 5-15 Ml air d. Antasida dosis 0,5-1Mg/Kg BB 1-2jam setelah makan atau sebelum tidur,untuk menurukan refluks asam lambung ke esofagus Tahap III Pembedahan anti refluks pada kasus kasus tertentu denga indikasi antara lain malnutrisi berat PRGE persisten,dll. Oprasi yang tersering dilakukan yaitu fundoplikasi nissen,hill dan belsey. Yaitu dibuat semacam katup buatan pada pertemuan gastro sampai esofagus dengan menutup atau merajut fundus gaster di sekitar bagian bawah esofagus. f. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Endoskopi Dewasa ini endoskopi merupakan pemeriksaan pertama yang dipilih oleh evaluasi pasien dengan dugaan PRGE (penyakit refluks gastro esofagus).namun harus di ingat bahwa PRGE tidak selalu di sertai kerusakan mukosa yang dapat dilihat secara mikroskopik dan dalam keadaan ini merupakan biopsi. Endoskopi menetapkan tempat asal perdarahan,striktur,dan berguna pula untuk pengobatan(dilatasi endoskopi).

2. Radiologi Pemeriksaan ini kurang peka dan sering kali tidak menunjukan kelainan,terutama pada kasus esofagitis ringan.disamping itu hanya sekitar 25% pasien PRGE menunjukan refluks barium secara spontan pada pemeriksaan fluoroskopi. Pada keadaan yang lebih berat,gambar radiologi dapat berupa penebalan dinding dan lipatan mukosa,tungkak,atau penyempitan lumen.

3. Tes Provokatif a. Tes Perfusi Asam (Bernstein) untuk mengevaluasi kepekaan mukosa esofagus terhadap asam. Pemeriksaan ini degan menggunakan HCL 0,1 % yang dialirkan ke esofagus. Tes Bernstein yang negatif tidak memiliki arti diagnostik dan tidak bisa menyingkirkan nyeri asal esofagus. Kepekaasn tes perkusi asam untuk nyeri dada asal esofagus menurut kepustakaan berkisar antara 80-90 % b. Tes Edrofonium Tes farmakologis ini menggunakan endrofonium yang

disuntikkan intravena. Dengan dosis 80 g/kg BB untuk menentukkan adanya komponen nyeri motorik yang dapat dilihat dari rekaman gerak peristaltik esofagus secara manometrik untuk memastikan nyeri dada asal esofagus.

4. Pengukuran Ph dan tekanan esofagus Pengukuran pH pada esofagus bagian bawah dapat memestikan ada tidaknya RGE (Refluks gastro esofagus), pH dibawah 4 pada jarak 5 cm diatas SEB (Sfhingter esofagus bawah) dianggap diagnostik untuk RGE. Cara lai untuk memastikan nyeri dada dengan RGE adalah menggunakan alat yang mencatat secara terus menerus selama 24 jam pH intra esofagus dan tekanan manometrik esofagus. Selama rekaman pasien dapat memberi tanda serangan dada yang dialamiya, sehingga dapat dilihat pada hubungan antara serangan dan pH esofagus / gangguan motorik esofagus. Dewasa

ini tes terssebut dianggapa sebagai gold standar untuk memastikan adaya PRGE.

5. Tes PPI (Proton Pump Inhibitor) Gologan obat ini menyekresi produksi asam lambung dengan menghambat molekul di kelenjar lambung yang bertanggung jawab menyekresi asam lambung, biasa disebut pompa asam lambung (Lowe, 2004).

6. Tes Gastro-Esophageal scintigraphy Tes ini mengguakan bahan radio isotop sifatnya untuk non penilaian invasif

pengosongan

esofagus

yang

(Djajapranata,2001).

7. Pemeriksaan Esofagogram Pemeriksaan ini dapat menemukan kelainan berupa penebalan lipatan mukosa esofagus, erosi, dan striktur (penyempitan).

g. PROGNOSIS Gejala GERD biasanya berjalan perlahan-lahan, sangat jarang terjadi episode akut atau keadaan yang bersifat mengancam nyawa (jarang menyebabkan kematian). Prognosis dari penyakit ini baik jika derajat kerusakan esofagus masih rendah dan pengobatan yang diberikan benar pilihan dan pemakaiannya. Pada kasus-kasus dengan esofagitis grade D dapat masuk tahap displasia sel sehingga menjadi Barrets Esofagus dan pada akhirnya Ca Esofagus. 2. KONSEP KEPERAWATAN a. Pengkajian Keperawatan 1. Keluhan utama Keluhan pirosis (nyeri dengan sensasi terbakar pada

esophagus) Disfagia (gangguan menelan). Tentukan berapa lama keluhan muncul dan apakah disertai dengan penurunan berat badan.

Odinofagia (nyeri saat menelan)

2. Riwayat Penyakit Sekarang Sering kali merasakan nyeri dua bulan terkhir dan merasakan membakar ditengah dada saat menelan makanan Memuntahkan makanan yang belum selesai tercerna Mengalami kesulitan saat makan dan minum

3. Pola Fungsi Keperawatan Aktivitas dan istirahat Data Subyektif: Klien mengatakan agak sulit beraktivitas karena nyeri di daerah epigastrium, seperti terbakar. Data obyektif : Tidak terjadi perubahan tingkat kesadaran. Tidak terjadi perubahan tonus otot.

Sirkulasi Data Subyektif: Klien mengatakan bahwa ia tidak mengalami demam.

Data Obyektif: Suhu tubuh normal (36,5-37,5 oC) Kadar WBC meningkat.

Eliminasi Data Subyektif: Klien mengatakan tidak mengalami gangguan eliminasi.

Data obyektif: Bising usus menurun (<12x/menit)

Makan/ minum Data Subyektif: Klien mengatakan mengalami mual muntah.

Klien mengatakan tidak nafsu makan. Klien mengatakan susah menelan. Klien mengatakan ada rasa pahit di lidah.

Data Obyektif: Klien tampak tidak memakan makanan yang disediakan.

Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: Klien mengatakan mengalami nyeri pada daerah

epigastrium. P : nyeri terjadi akibat perangsangan nervus pada esophagus oleh cairan refluks. Q : klien mengatakan nyeri terasa seperti terbakar R : klien mengatakan nyeri terjadi pada daerah epigastrium. S : klien mengatakan skala nyeri 1-10. T : klien mengatakan nyerinya terjadi pada saat menelan makanan. Nyeri pada dada menetap. Data Obyektif: Klien tampak meringis kesakitan. Klien tampak memegang bagian yang nyeri.

b. Diagnosa Keperawatan 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan 2. Kekurangan volume cairan kurang dari kebutuhan 3. Nyeri Akut 4. Ansietas 5. Gangguan menelan

c. Intervensi

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN

TUJUAN KRITERIA

DAN INTERVENSI (NIC) HASIL

(NOC) 1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang Setelah dilakukan Diskusikan pada pasien makanan yang disukainya dan yang disukainya. berat sesuai Buat masukan jam. Anjurkan mengukur ada tandacairan/makanan dan sedikit ada berat sedikit makan perlahan. Beritahu pasien minum demi atau secara malnutrisi jadwal tiap makanan tidak

dari tindakan keperawatan selama .....x 24 jam, nutrisi pada klien dapat diatasi dengan kriteria hasil: Status hasil: Peningkatan badan

kebutuhan

dengan tujuan skala 4 Tidak tanda skala 4 Tidak penurunan

badan yang berarti skala 4 Mengidentifikasi skala nutrisi skala 4 Stamina dan energi ada skala 4

untuk duduk saat makan/minum. Tekankan pentingnya menyadari kenyang dan

menghentikan masukan. Timbang berat

badan tiap hari. Buat teratur pulang. Kolaborasi jadwal setelah

dengan ahli gizi dilakukan

Kekurangan cairan kurang

volume Setelah

Monitor hidrasi

status

dari tindakan keperawatan selama .....x 24 jam, defisit volume cairan pada klien dapat

kebutuhan

Kaji tanda vital, catat perubahan TD, takikardi,

diatasi dengan kriteria hasil: Mempertahankan urine output sesuai dengan usia BB, BJ urine normal skala 4 dilakukan

turgor kulit dan kelembaban membran mukosa. Berikan tambahan sesuai indikasi. Dorong masukan oral bila mampu cairan IV

Nyeri Akut

Setelah

Kurangi

faktor

tindakan keperawatan selama ......x 24 jam, pasien mengalami tidak nyeri,

presipitasi nyeri Tingkatkan istirahat Berikan informasi tentang nyeri

dengan kriteria hasil: Mampu mengontrol nyeri penyebab mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk nyeri, bantuan). Melaporkan bahwa mengurangi mencari (tahu nyeri,

seperti penyebab nyeri, berapa

lama nyeri akan berkurang, antisipasi ketidaknyamana n prosedur. Ajarkan teknik nonfarmakologi seperti teknik tentang dan

nyeri dengan

berkurang

relaksasi dalam, dan

nafas distraksi kompres

menggunakan manajemen nyeri. Mampu nyeri mengenali (skala,

hangat/dingin. Berikan analgesik untuk

intensitas, frekuensi dan tanda. Tanda vital dalam rentang normal 4 Ansietas Setelah dilakukan

mengurangi nyeri

Dorong untuk

pasien

tindakan keperawatan selama .....x 24 jam, ansietas pada klien

mengungkapkan pikiran perasaan. Berikan informasi yang dipercaya konsisten dapat dan dan dan

dapat diatasi dengan kriteria hasil: Menyingkirkan tanda skala 4. Merencanakan strategi koping skala 4. Intensitas kecemasan skala. Mencari untuk informasi menurunkan kecemasan

dukungan untuk orang terdekat. Tingkatkan rasa tenang lingkungan tenang. Pertahankan kontak dengan bicara sering pasien, dengan bila dan

cemas skala 4

menyentuh tepat. 5 Gangguan berhubungan menelan Setelah dilakukan Pantau

gerakan

dengan tindakan keperawatan

lidah klien saat

penyakit gastroesofagus

refluks selama 2x24 jam, klien dapat menunjukkan

makan Pantau adanya bibir

perawatan diri : makan yang ditandai dengan : Mengidentifikasi factor emosi/psikologis yang memengaruhi menelan Makan tersedak aspirasi Tidak kerusakan tenggorok fasial, ada otot atau menelan,

penutupan saat minum, menelan. Kaji mulut

makan, dan

dari

adanya makanan setelah makan.

tanpa Pendidikan

untuk

atau pasien/keluarga Ajarkan pasien

untuk menggapai makanan di bibir atau dengan menggunakan lidah Ajarkan pasien/pemberi perawatan tentang tindakan kegawatan terhadap tersedak Aktivitas kolaboratif Konsultasikan dengan ahli gizi tentang makanan yang ditelan Kolaborasikan mudah di pipi

menggerakkan

dengan terapi untuk mengajarkan keluarga

ahli wicara

pasien

tentang program

d. Daftar Kata Sulit 1. BMI 2. Djfhkg 3. Dfkdghf 4. Dfksdhk 5. Djfhdk 6. Dhdk 7. Dhfkdh 8. Hdfkdhfgk 9. Djfhksdfg 10. Djffdfgk 11. Dhfjhsdfgki 12. Dhfksdhgk 13. Hfjsdgfj 14. Dgfjgd 15. Dfjgdfgj 16. Dgfdjg 17. Ddfgjdghj 18. Dfjdgk 19. Dhfjsdgk 20. Dhkdhgk 21. Dhgjdfhgf 22. Vhkdghfk 23. Gfdjghsj 24. Vghkghk 25. djsgisgt

e. Daftar Pertanyaan 1. Tuliskan anatomi sistem gastrointestinal atas mulai dari mulut sampai esofagus 2. Fungsi dari sistem gastrointestin==al atas mulai dari mulut sampai esofagus 3. Tuliskan sekresi yang terdapat pada mulut sampai esofagus dan cara mengaturnya 4. Apa yang terjadi pada proses menelan 5. Jelaskan proses pencernaan dalam mulut 6. Apa hubungannya jumlah pemasukan kalori yang kurang dengan penurunan BB 7. Penyebab masalah utama dan bagaimana dampak kehidupannya 8. Jelaskan gangguan pada proses menelan 9. Tuliskan pemeriksaan diagnostik pada Tn.Andi 10. tuliskan diagnosa pada masalah Tn.Andi

BAB II HASIL A. Jawaban kata sulit 1. BMI dalah Body Maks Indeks adalah sebuah angka kalkulasi dari berat badan dan tinggi badan seseorang. Indeks massa tubuh memberikan indikator yang bisa dipercaya mengenai kegemukan tubuh bagi kebanyakan orang dan pengukuran ini digunakan untuk screening kategori berat badan yang mungkin bisa mengarah atau mendorong serta berpengaruh pada gangguan atau masalah kesehatan.

Rumus: Satuan Metrik menurut sistem satuan internasional : BMI = kilogram / meter2

BMI = b / t2 dimana b adalah berat badan dalam satuan metrik kilogram dan t adalah tinggi badan dalam meter. BMI <18.5 18.524.9 25.029.9 30.034.9 35.039.9 40.0 2. Ligh 3. Gjhkf 4. Dgfjksdhkj 5. Djghdkfgs 6. Dgkjdhfgjk 7. Hffsdjghdf 8. Hgfhg 9. Hgdhfgj 10. Dgfudj 11. Djgj 12. Dgjdfg 13. Fuygfi 14. Fjghfjk 15. Jfhygfrig 16. fhgjfhtg Klasifikasi berat badan di bawah normal normal normal tinggi Obesitas tingkat 1 Obesitas tingkat 2 Obesitas tingkat 3

B. Jawaban Pertanyaan 1) Tuliskan anatomi sistem gastrointestinal atas mulai dari mulut sampai esofagus a. Mulut (oris) Mulut merupakan jalan masuk menuju system pencernaan dan berisi organ aksesori yang bersifat dalam proses awal pencernaan. Secara umum terdiri dari 2 bagian yaitu : Bagian luar (vestibula) yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi

Bagian rongga mulut ( bagian ) dalam yaitu rongga yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaaris, palatum dan mandibularis di sebelah belakang bersambung dengan faring.

Selaput lendir mulut ditutupi ephitelium yang ber lapis-lapis , dibawahnya terletak kelenjar-kelenjar halus yang mengeluarkan lendir, selaputini kaya akan pembuluh daraah juga memuat banyak ujung saraf asesoris. Di sebealh luar mulut ditutupi oleh kulit dan di sebelah dalam ditutupi oleh selaput lendir mukosa Ada beberapa bagian yang perlu diketahui : Palatum Palatum durum yang tersusun atas tajuk-tajuk palatum dari sebelah depan tulang maksilaris Palatum mole terletak dibelakang yang merupakan lipatan menggantung yang dapat bergerak, terdiri dari jaringan fibrosa dan selaput lendir.

Rongga mulut Bagian gigi terdapat gigi (anterior) tugasnya memotong yang sangat kuat dan gigi posterior tugasnya menggiling.

Pada umumnya otot-otot pengunyah di persarafi oleh cabang motorik dari saraf cranial ke 5. Dan proses mengunyah di control oleh nucleus dalam batang otak. Perangsangan formasio retikularis dekat pusat batang otak untuk pengecapan dapat menimbulakan pergerakan mengunyah secara ritmis dan kontinu.

Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan semua makanan, terutama untuk sebagian besar buah dan syur-sayuran mentah karena zat ini mempunyai membrane selulosa yang tidak dapat dicerna diantara bagian-bagian zat nutrisi yang harus di uraikan sebelum dapat digunakan

Manusia memiliki susunan gigi primer dan sekunder Gigi primer, dimulai dari tuang diantara dua gigi depan yang terdiri dari 2 gigi seri, 1 taring, 3 geraham dan untu total keseluruhan 20 gigi Gigi sekunder, terdiri dari 2 gig seri, 1 taring, 2 premoral dan 3 geraham utuk total keseluruhan 32 buah.

Juga gigi ada 2 macam yaitu, Gigi sulung, mulai tumbuh pada anak-anak umur 6-7 bulan. Gigi tetap (gigi permanen) tumbuh pada umur 6-18 tahun Fungsi gigi jumlahnya adalah dalam 32 proses buah matrikasi

(pengunyahan). Makanan yang masuk kekedalam mulut di potong menjaid bagian-bagian kecil dan bercamput dengan saliva unutk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan Lidah Indera pengecap terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel bebrapa diantaranya disebut sel sustentakular dan yang lainnya di sebut sel pengecap. Lidah berfungsi untuk menggerakan makan saat dikunyah atau ditelan. Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi selaput lendir. Dibagian pangkal lidah terdapat epiglottis berfungsi untuk menutup jalan nafas pada waktu menelan supaya makanan tidak masuk kejalan nafas. Kerja otot dapat di gerakkan 3 bagian: Radiks lingua = pangkal lidah Dorsum lingua = punggung lidah Apek lingua = ujung lidah

Pada lidah terdapat indera peraba dan perasa Asin dibagian lateral lidah Manis dibagian ujung dan anterior lidah Asam, dibagian lateral lidah

Pahit dibagian belakang lidah

Kelenjar ludah Yaitu kelenjar yang memiliki duktus yaitu duktus duktus wartoni dan duktus stensoni. Kelenjar ii mensekresikan saliva jedalan rongga oral di hasilkan di dalam rongga mulut dipersarafi oleh saraf tak sadar Kelenjar parotis, letaknya dibawah depan dari telinga diantara proses mastoid kiri dan kanan mandibularis pada duktus stensoni. Kelenjar submaksilaris terletak dibawah fongga mulut bagian belakang, dukts wartoni Kelenjar subliingualis, dibawah selaput lendir, bermuara di dasar raongga mulut.

KENDALI SYARAF PADA SALIVA Aliran saliva dapt dipicu oleh oleh stimulus psikis (pikiran dan makanan), mekanis atau kimiawi. Stimulus dibawa melalui syaraf eferen melalui syaraf cranial 5,7,9,10 menuju medulla. Semua kelenjar saliva di persyarafi serabut simpati dan para simpatis Kandungan saliva Terdiri dari sekresi serosa 98% air da mengandung amylase serta ion. Juga sekresi mucus yang lebih kental dan lebih sedikit mengandung glikoprotein b. Faring Faring merupakan sauran yang memyiki panajng sekitar 1 cm yang menghubungkan nasal dan rongga mulut kepada laring. Faring dibagi menjadi 3 bagian yaitu nashoparing, oroparing, laringoparing. Nasoparhing Nasofaring terdapt 2 struktur yaitu saluran yang menghubungkan tuba eustachius dan tuba audithory yang menghubungkan nashoparing dengan telinga bagian tengah.

Oropharing Orofaring yaitu bagian tengah pharing antara paratum lunak dan tulang hyoid. Pada bagian ini traktus respiratory dan traktus digestif menyilang dimana oropharing merupakan bagian kedua saluran ini.

Laryngoparing Laryngofaring merupakan posisi terendah dari pharing. Pada bagian ini system respirasi menjadi terpisah dari system digestive. Makan masuk kebagian belakang eshopagus dan udara masuk ke laring. Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan didalam lengkung faring terdapat tonsil. Makanan melalui epiglottis lateral melalui resus reformis masuk ke eshofagus tanpa membahayakan jalan udara. Gerakan menelan mencegah masuknya makanan ke jalan udara, pada waktu yang sama jalan udara ditutup sementara. Permulaan menelan, otot mulut da lidah berkontraksi secara bersaman

c. Esofagus. Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung. Fungsi eshopagus menggerakkan makanan dari faring ke lambung panjangnya sekitar 9-25 cm diameter 2,54 cm dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung.

Esophagus berawal dari laringoraring melalui hiatus eshopagus. Esophagus terletak dibelakang trakea depan tulang punggung menembus dia fragma masuk keabdomen dan menyambung kelambung. Lapisan terdiri dari 4 lapisan yaitu mucosa, submucosa , otot dan jaringan ikat regang. Makanan berjalan dalam esophagus dengan gerakkan peristaltic. Mucosa eshopagus memproduksi mucus untuk

melumasi dan melindungi eshopagus tetapi eshopagus tidak memproduksi enzim pencernaan. Dinding esofagus terdiri dari 4 lapisan, yaitu : 1. Mukosa Terbentuk dari epitel berlapis gepeng bertingkat yang berlanjut ke faring bagian atas, dalam keadaan normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung yang sangat asam

2. Sub Mukosa Mengandung sel-sel sekretoris yang menghasilkan mukus yang dapat mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia.

3. Muskularis otot bagian esofagus, merupakan otot rangka. Sedangkan otot pada separuh bagian bawah merupakan otot polos, bagian yang diantaranya terdiri dari campuran antara otot rangka dan otot polos.

4. lapisan bagian luar (Serosa) Terdiri dari jaringan ikat yang jarang menghubungkan esofagus dengan struktur-struktur yang berdekatan, tidak adanya serosa mengakibatkan penyebaran sel-sel tumor lebih cepat (bila ada kanker esofagus) dan kemungkinan bocor setelah operasi lebih besar.

2) Fungsi dari sistem gastrointestinal atas mulai dari mulut sampai esofagus mulut Mulut merupakan saluran pertama yang di lalui makanan. Pada rongga mulut, dilengkapi dengan alat cerna dan kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan makanan. Pada mulut terdapat. Gigi memiliki fungsi memotong,mengoyak danmenggiling makanan menjadi partikel yang kecil kecil.

Lidah memiliki peranmengatur letak makanan di dalam mulut serta mengecap rasa makanan. Kelenjar ludah memiliki 3 kelenjar ludah pada rongga mulut,ketiga kelenjar ludah tersebut menghasilkan ludah setiap harinya sampai 1 sampai 2,5 liter ludah. Kerongkongan (esofagus) Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut dengan lambung.pada ujung saluran esofagus setelah mulut terdapat daerah yang disebut faring. Pada faring terdapat klep,yaitu epiglotis yang mengatur makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Fungsi esofagus adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjalan sepanjang esofagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung. sekresi saliva Saliva mengandung 2 tipe sekresi protein yang utama : Sekresi serous (kelenjar parotis) yang mengandung ptialin (amilase) untuk mencerna serat Sekresi mukus (kelenjar submandibularis) yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan dan perlindungan permukaan.

3) Tuliskan sekresi yang terdapat pada mulut sampai esofagus dan cara mengaturnya? Jawab: sekresi saliva Saliva mengandung 2 tipe sekresi protein yang utama : Sekresi serous (kelenjar parotis) yang mengandung ptialin (amilase) untuk mencerna serat Sekresi mukus (kelenjar submandibularis) yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan dan perlindungan permukaan. Kelenjar sublingualis (Tipe mukus anserous) cara pengaturannya dikendalikan melalui refleks lidah. Refleks tersebut tidak di atur oleh

lidah,esofagus,lambung dan usus halus,melainkan di atur di daerah korteksserebri dengan rangsangan

melihat,menghidu,mendengar,dan memikirkan makanan. Dengan perangsangan saraf simpatik,sekresi saliva menjadi encer,volume menjadi besar,dan kandungan bahan organik sedikit fasodilatasi pada kelenjar ludah/saliva. Sekresi esofagus bersifat mukoid yaitu memberi pelumas untuk pergerakan makanan melalui esofagus.pada permukaan esofagus terdapat kelenjar mukosa komposita. Bagian badan utamanya dibatasi oleh banyak kelenjar mukosa simplek yang berfungsi untuk mencegah sekresi mukosa oleh makanan yang baru masuk. Kelenjar komposita yang terletak pada perbatasan esofagus dengan lambung berfungsi untuk melindungi dinding esofagus dari pencernaan getah lambung. Pada peralihan esofagus ke lambung terdapat spinter kardiac yang di bentuk oleh lapisan otot sirkuler esofagus. Spinter ini secara refleks pada akhir proses menelan.

4) Apa yang terjadi pada proses menelan? Jawab: Proses menelan ada beberapa fase yaitu: FASE ORAL Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk ditelan. Proses ini berlangsung secara di sadari. FASE FARINGEAL Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase faringeal ini terjadi : Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X dan n.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat, kemudian

uvula tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring. genioglosus (n.XII, servikal 1), m ariepiglotika (n.IX,nX)

m.krikoaritenoid

lateralis

(n.IX,n.X)

berkontraksi

menyebabkan

aduksi pita suara sehingga laring tertutup. Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena kontraksi m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan n.servikal I). Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m. Konstriktor faring inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor faring inferior (n.X, n.XI) menyebabkan faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring (n.X) Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus esofagus dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus. Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat.

FASE ESOFAGEAL Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik. Fase ini terdiri dari beberapa tahapan : dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang peristaltik primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus bagian proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang merupakan respons akibat regangan dinding esofagus. Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke distal esofagus.

Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun karena gerak peristaltik dan berlangsung selama 8-20 detik. Esophagal transit time bertambah pada lansia akibat dari berkurangnya tonus otototot rongga mulut untuk merangsang gelombang peristaltik primer. 5) Proses pencernaan dalam mulut terdapat 2 fase : Secara mekanik dan kimiawi Proses pencernaan secara mekanik yag terjadi di dalam mulut di lakukan oleh gigi yaitu gigi insisifus yang berfungsi memotong makanan, kaninus yang berfungsi sebagai menyobek makanan dan graham diantara premolar dan molar yang berfungsi menghancurkan makanan dari yang besar hingga mejadi kecil. Proses pencernaan secara kimiawi yang terjadi di dalam mulut dilakukan oleh beberapa kelenjar di antaranya sublingual,mengeluarkan enzim lipase yang mengubah tepung/glukosa menjadi maltosa.

Submandibularis mengeluarkan enzim pitialin yang berfungsi mencerna makanan berserat, submandibularis mengeluarkan mukus yang bersifat serusin yang berfungsi melumasi permukaan makanan. Dan enzim amilase yang berfungsi mencerna penyerapan makanan. 6) Apa hubungannya jumlah pemasukan kalori yang kurang dengan penurunan BB? Jawab: Kalori berfungsi sebagai sumber energy dan cadangan makanan dalam tubuh hubungannya adalah jika jumlah pemasukan kalori kurang dari kebutuhan tubuh maka akan menyebabkan penurunan BB

7) Penyebab masalah utama dan bagaimana dampak kehidupannya? Jawab: Penyebabnya sering merasakan nyeri membakar pada bagian tengah dada saat menelan makanan dan kadang memuntahkan makanan yang belum tercerna.karena nyeri dapat di sebabkan karena refluks asam lambung /

sekret empedu kedalam esofagus bagian bawah kedua sangat mengiritasi mukosa. Refluks yang menetap di sebabkan oleh inkopetensi spingter esofagus bagian bawah. Nyeri saat menelan dapat dirasakan sebagai sensasi ketat/ membakar itu juga dapat disebkan oleh spasme esofagus yang di sebabkan oleh peradangan akut.

8) Jelaskan gangguan pada proses menelan? Jawab: Secara medis gangguan pada peristiwa deglutasi disebut disfagia atau sulit menelan, yang merupakan masalah yang sering dikeluhkan baik oleh pasien dewasa, lansia ataupun anak-anak.

Menurut catatan rata-rata manusia dalam sehari menelan sebanyak kurang lebih 2000 kali, sehingga masalah disfagia merupakan masalah yang sangat menggangu kualitas hidup seseorang.

Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung. Kegagalan dapat terjedi pada kelainan neuromuskular, sumbatan mekanik sepanjang saluran mulai dari rongga mulut sampai lambung serta gangguan emosi .

Disfagia dapat disertai dengan rasa nyeri yang disebut odinofagia. Berdasarkan difinisi menurut para pakar (Mettew, Scott Brown dan Boeis) disfagia dibagi berdasarkan letak kelainannya yaitu di rongga mulut, orofaring, esofagus atau berdasarkan mekanismenya yaitu dapat menelan tetapi enggan, memang dapat menelan atau tidak dapat menelan sama sekali, atau baru dapat menelan jika minum segelas air, atau kelainannya hanya dilihat dari gangguan di esofagusnya.

9) Tuliskan pemeriksaan diagnostik pada Tn.Andi? Jawab: Endoskopi Endoskopi adalah prosedur di mana alat yang disebut Endoskopi memeriksa bagian esofagus. Ini adalah sebuah tipis panjang tabung

fleksibel dengan kamera di ujungnya. Kamera mengirim gambar dari wilayah diperiksa ke monitor eksternal. Endoskopi dimasukkan ke dalam mulut dan dilewatkan ke dalam kerongkongan.

Pasien biasanya terjaga tetapi sedated selama prosedur. Endoskopi memeriksa bagian esofagus mungkin iritasi dan peradangan yang disebabkan oleh asam regurgitating. Itu juga dapat menyingkirkan lebih serius kondisi yang juga dapat menyebabkan mulas, seperti kanker perut atau esofagus.

Setelah Endoskopi lesi dinilai untuk keparahan menggunakan sistem penilaian Savary Miller; 1. Grade 1: satu atau beberapa erosi pada satu lipatan. 2. Grade 2: beberapa erosi yang mempengaruhi beberapa lipatan. Erosi mungkin anak sungai. 3. Grade 3: beberapa erosi lingkar atau bulat. 4. Grade 4: Maag, stenosis atau memperpendek esofagus. 5. Grade 5: Barrett's epitelium. Metaplasia kolumnar (selular perubahan pada tingkat miscroscopic) dalam bentuk ekstensi (Kepulauan atau lidah) melingkar atau non-melingkar. Manometry Manometry disarankan jika Endoskopi tidak menemukan bukti

kerusakan esofagus. Ini menilai kekuatan rendah esophageal sphincter (LES). Mengukur tingkat tekanan di dalam otot sphincter.

Selama prosedur salah satu lubang hidung akan numbed menggunakan topikal penawar sakit. Sebuah tabung kecil akan kemudian diteruskan ke bawah ke dalam kerongkongan sampai LES.

Tabung berisi sejumlah tekanan sensor yang terhubung ke komputer eksternal. Pasien kemudian diberikan beberapa makanan dan minuman untuk menelan dan tekanan pada LES direkam.

Tes manometry mengambil sekitar 20 sampai 30 menit dan biasanya tidak menyakitkan. Ini dapat meninggalkan mimisan sedikit atau sakit tenggorokan, tetapi ini biasanya menyelesaikan tanpa pengobatan.

Manometry dapat berguna untuk mengkonfirmasi diagnosis GERD dan juga membantu untuk mendeteksi kondisi lain seperti kejang otot atau achalasia cardia (cacat esofagus otot). 24 jam pH pemantauan Jika manometry mampu mendeteksi GERD 24 jam pH pemantauan dianjurkan. pH adalah satuan ukur yang digunakan dalam kimia, dan menjelaskan bagaimana asam solusi. Semakin rendah tingkat pH, lebih asam solusi.

Tes ini terlihat pada tingkat pH sekitar esofagus. Sebelum ujian pasien disarankan untuk menghentikan semua GERD obat untuk setidaknya 7 hari. Selama tes, tabung kecil yang mengandung pesawat akan melewati lubang hidung ke esofagus. Hal ini biasanya dilakukan setelah menerapkan anestesi lokal dalam hidung. Probe terhubung ke perangkat rekaman portabel yang dipakai di sekitar pergelangan tangan.

Sepanjang periode 24 jam tes pasien menekan tombol ketika dia menyadari gejala. Diet biasa memastikan rekaman biasa. Jika hasil tes menunjukkan peningkatan tingkat pH yang tiba-tiba setelah makan, GERD dapat didiagnosis.

PH nirkabel pemantauan kapsul juga akan dituntut untuk tujuan yang sama. Ada tidak ada standar emas untuk mendiagnosa GERD namun 24 jam pH pemantauan adalah standar diterima untuk mendirikan atau tidak termasuk kehadirannya. Impedansi esofagus dan pH melalui hidung kateter digunakan untuk memeriksa refluks sebenarnya dan perubahan di pH.

Tes menelan barium Ini menilai kemampuan untuk menelan dan juga menemukan situs masalah. Tes sering dapat mengidentifikasi penyumbatan atau masalah dengan otot-otot yang digunakan selama menelan.

Pasien diberikan barium solusi untuk minum. Barium adalah kimia beracun. Kemudian serangkaian sinar x dada diambil untuk melihat bagaimana Barium bergerak ke bawah esofagus ke perut. Tes membantu dalam deteksi hiatus hernia juga.

Tes menelan Barium melibatkan puasa selama paling sedikit 6 jam sebelum ujian. Menelan barium biasanya memakan waktu sekitar 15 menit untuk melakukan. Mungkin ada ringan mual atau sembelit setelah tes. Ini biasanya menyelesaikan tanpa terapi.

Bangku mungkin putih selama beberapa hari setelah itu seperti barium melewati sistem. Barium radiologi jarang berguna untuk mendiagnosa GERD. Tes darah Tes darah rutin dilakukan untuk mencegah anemia.

10) Tuliskan diagnosa keperawatan dari kasus Tn. Andi? Jawab: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan asam lambung ditandai dengan : Ds : - klien mengeluh mengalami masalah makan dan minum -Klien mengeluh sering memuntahkan makanan yang belum tercerna - Klien mengeluh merasakan nyeri pada bagian tengah dada saat menelan makanan. Do : - BB menurun selama 2bulan -Klien nampak muntah saat makan. - resiko intoleransi aktifitas berhubungan dengan intake inadekuat.

Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan asam lambung ditadai dengan: Ds : - Klien mengeluh mengalami mual dan muntah Do : - BB menurun -Klien tampak mual dan muntah nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung ditandai dengan : Ds : - klien mengeluh nyeri pada bagian tengah dada Do : - klien nampak meringis kesakitan Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit Ds : Do: - klien tampak tidak dapat mengatasi penyakitnya Kurang pengetahuan berhubungan dengan kecemasan

SKEMA/BAGAN SOLUSI
Komponen makanan ( kafein, alkohol dan obat-obatan )

Tekanan LES

Gangguan fungsi kontraksi dan relaksasi LES Mual Muntah Penurunan nafsu makan Intake nutrisi inadekuat

Sfingter esofagus bawah mengalami gangguan ( relaksasi ) tidak adekuat

Kadar keasaman isi lambung Refluks lambung ke esofagus Tingkat keasaman mengiritasi lambung Perasaan panas pada dada ( heartburn ) NYERI AKUT

DEFISIT VOLUME CAIRAN

BB menurun

KEBUTUHAN NUTRISI KURANG DARI KEBUTUHAN TUBUH

ANSIETAS
Odinofagia GANGGUAN MENELAN

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Sudarth. 1996. Buku Ajar Keperawatan medikal Bedah. Jilid 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Price, Sylvia, dkk. 1994. Patofisiologi Konsep Klinik, Proses-Proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Corwin, elizabeth J. 1999. Buku Saku PATOFISIOLOGI. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. http://doc-alfarisi.blogspot.com/2011/04/apa-yang-di-maksud-denganbody-mass.html http://www.news-medical.net/health/Diagnosis-of-Gastro-EsophagealReflux-Disease-%28GERD%29-%28Indonesian%29.aspx http://juniatinkline-health.blogspot.com/2008/anatomi-gastrointestinal.html

LAPORAN KELOMPOK MAKALAH TUTORIAL SKENARIO I

OLEH KELOMPOK 1
1. FITRI AYU SANTRI 2. AYU ANDIRA WARDANA 3. FIRDA RUSDIN 4. UMY RESTU MARANTY 5. CITA ANGGRAENI 6. RISNA 7. WA ODE SITTI EKA JUMRIANI 8. ASTATI 9. RABIATUL ADAWIAH 10. KARMI LESTARI 11. AHMAD MUHAYA 12. IRNAYANTI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA KENDARI 2013