Anda di halaman 1dari 13

PENGERTIAN ALAT REPRODUKSI PRIA DAN FUNGSINYA Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran

dan kelenjar asesoris.

Testis Testis (gonad jantan) berbentuk oval dan terletak didalam kantung pelir (skrotum). Testis berjumlah sepasang (testes = jamak). Testis terdapat di bagian tubuh sebelah kiri dan kanan. Testis kiri dan kanan dibatasi oleh suatu sekat yang terdiri dari serat jaringan ikat dan otot polos.

Fungsi testis secara umum merupakan alat untuk memproduksi sperma dan hormon kelamin jantan yang disebut testoteron. Saluran Pengeluaran Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan uretra.

Epididimis

Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens.

Vas deferens Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens) merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens tidak menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).

Saluran ejakulasi Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke dalam uretra. Uretra Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk membuang urin dari kantung kemih.

Kelenjar Asesoris Selama sperma melalui saluran pengeluaran, terjadi penambahan berbagai getah kelamin yang dihasilkan oleh kelenjar asesoris. Getah-getah ini berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan pergerakakan

sperma. Kelenjar asesoris merupakan kelenjar kelamin yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper.

Vesikula seminalis Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.

Kelenjar prostat Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat menghasilkan getah yang mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup sperma.

Kelenjar Cowper Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

Yang Kedua adalah Organ Reproduksi Luar Organ reproduksi luar pria terdiri dari penis dan skrotum.

Penis Penis terdiri dari tiga rongga yang berisi jaringan spons. Dua rongga yang terletak di bagian atas berupa jaringan spons korpus kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus uretra. Uretra pada penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang ronggarongganya banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan mengembang (ereksi).

Skrotum Skrotum (kantung pelir) merupakan kantung yang di dalamnya berisi testis. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Otot ini bertindak sebagai pengatur suhu lingkungan testis agar kondisinya stabil. Proses pembentukan sperma (spermatogenesis) membutuhkan suhu yang stabil, yaitu beberapa derajat lebih rendah daripada suhu tubuh.

Spermatogenesis Spermatogenesis terjadi di dalam di dalam testis, tepatnya pada tubulus seminiferus. Spermatogenesis mencakup pematangan sel epitel germinal dengan melalui proses pembelahan dan diferensiasi sel, yang mana bertujuan untuk membentu sperma fungsional. Pematangan sel terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis.

Hormon pada Pria Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH (Luteinizing Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan. Testoteron Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus. Hormon ini penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder. LH (Luteinizing Hormone) LH disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk mensekresi testoteron FSH (Follicle Stimulating Hormone) FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior dan berfungsi menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi. Estrogen Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiferus. Kedua hormon ini tersedia untuk pematangan sperma. Hormon Pertumbuhan Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur fungsi metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis.

FUNGSI ALAT REPRODUKSI PRIA Genetalia Eksterna Penis Berfungsi untuk menyalurkan dan menyemprotkan sperma saat ejakulasi

Skrotum Berfungsi untuk melindungi testis dari taruma atau suhu

Genetalia Interna

Testis Berfungsi sebagai : Memproduksi sperma Tempat memproduksi testosteron yang memegang peranan penting untuk sifat kelamin sekunder dan kejantanan Epididimis Berfungsi sebagai: menghubungkan testis dengan saluran vas deferens memproduksi cairan yang banyak mengandung enzym dan gizi yang fungsinya mematangkan / menyempurnakan bentuk sperma Vans deferens Berfungsi untuk menyalurkan sperma dari epididimis ke vesika seminalis Tempat menyimpan sebagian dari sperma sebelum dikeluarkan .

Vesika seminalis Berfungsi sebagai: Tempat untuk mengeluarkan cairan yang sifatnya alkalis atau sedikit basa yang mengandung fruktosa dan zat gizi yang merupakan sumber energi bagi spermatozoa dan agar sperma lebih segar, kuat dan mudah bergerak dalam mencapai ovum, Sebagai tempat penyimpanan spermatozoa sebelum dikeluarkan melalui kegiatan seksual.

Kelenjar prostat Berfungsi sebagai: Mengeluarkan cairan yang bersifat alkalis yang encer berwarna seperti susu mengandung asam sitrat, kalsium dan beberapa zat lain

Kelenjar bulbo uretralis berfungsi mengsekre3si cairan yang membantu agar sperma lebih tahan hidup dan lebih memungkinkan untuk bergerak dan memudahkan pembuahan.

ALAT REPRODUKSI PRIA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Organ reproduksi membentuk apa yang dikenal sebagai traktus genitalis yang berkembang setelah traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun perempuan sejak lahir sudah dapat dikenal, sel produksi berkembang di sebelah depan ginjal yang tumbuh sebagai koloni-koloni sel kemudian membentuk kelenjar reproduksi. Perkembangan sifat terjadi pada umur 10-14 tahun. Perubahan penting terjadi pada usia remaja ketika jiwa dan raganya menjadi matang. Dalam pubertas anak tumbuh dengan cepat dan mendapatkan bentuk tubuh yang khas dengan jenisnya. Dengan pubertas ini wanita masuk dalam masa reproduktif, artinya masa mendapat keturunan yang berlangsung kirakira 30 tahun. Pada laki-laki dewasa pubertas dimulai dengan perubahan suara lebih berat, pembesaran genitalia eksterna, tampilnya bulu di atas tubuh dan muka dan tumbuhnya jakun. Pada pria pubertas sering terjadi ereksi akibat rangsangan seksual dan menghasilkan sperma sehingga terjadi mimpi basah sebagai akibat dari mimpi erotik. Hal itu mendorong hubungan seksual yang bertujuan untuk melanjutkan keturunan.

1.2Tujuan

1.2.1 Untuk mengetahui alat-alat reproduksi pada pria beserta fungsinya. 1.2.2 Untuk mengetahui perkembangan alat-alat reproduksi pria.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sistem Reproduksi

Organ reproduksi berkembang sangat menakjubkan. Testis pada pria maupun sel ovarium pada wanita mulai tumbuh pada awal kehidupan janin, tetapi sifat kelamin belum dikenal. Sel reproduksi berkembang di sebelah depan ginjal kemudian membentuk kelenjar reproduksi yang berisi sel benih dan membentuk struktur sekelilingnya. Organ reproduksi disebut traktus genitalis yang berhubungan dengan traktus urinarius, tetapi tidak bersambung. Sebagian besar organ reproduksi terletak di luar pelvis. Traktus genitalis pada perempuan bersambung dengan rongga peritoneum yang terletak dalam rongga panggul kecil.

2.2 Organ Reproduksi Pria

Organ reproduksi pria tidak terpisah dari saluran uretra dan sejajar dengan kelamin luar. Organ reproduksi pria terdiri dari kelenjar (terdiri dari : testis, vesika seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbo uretralis), duktus atau saluran (epididimis, duktus seminalis, uretra) dan bangun penyambung (skrotum, fenikulus spermatikus, dan penis).

2.2.1 Kelenjar

a. Testis Organ ini merupakan 2 bua glandula yang memproduksi semen, terdapat di dalam skrotum yang digantung oleh fenukulus spermatikus. Pada bayi dalam kandungan, testis terdapat dalam kavum abdominalis di belakang peritonium, sebelum kelahiran akan turun ke kanalis inguinalis bersama dengan fenikulus sperma tikus kemudian masuk ke dalam skrotum. Testis merupakan tempat dibentuknya spermatozoa dan hormon pria yang terdiri dari belahan-belahan, disebut lobulus testis yang menghasilkan hormon testosteron dan menimbulkan sifat kejantanan, terjadi setelah masa pubertas, di samping itu, follicle stimulating hormon (FSH)

dan lutein hormon (LH).

b. Pembungkus testis 1) Fasia spermatika eksterna. Suatu membran yang tipis, memanjang ke arah bawah di antara venikulus dan testis, berakhir pada cincin subkutan inguinalis. 2) Lapisan kremasterika, terdiri dari selapis otot. Lapisan ini sesuai dengan m.obligus abdominis internus dan cascies abdominus internus. 3) Fasies spermatika interna. Suatu membran tipis dan menutupi fenikulus spermatikus. Fasia ini akan berakhir pada cincin inguinalis interna bersama dengan fasia transfersalis. Lapisan ini sesuai dengan m.obligus abdominis internus dan fasianya.

c. Pembuluh darah testis 1) Arteri pudenda eksterna pars superfisialis merupakan cabang dari arteri femoralis. 2) Arteri perinealis superfisialis merupakan cabang dari a.pudenda interna. 3) Arteri kremasterika merupakan cabang dari a.epigastrika inferior. 4) Untuk pembuluh darah vena mengikuti arteri.

d. Persarafan testis 1) N. Ilioinguinalis 2) N. Lumbo inguinalis cabang dari pleksus lumbalis. 3) N. Perinealis pars superfisialis.

e. Vesika seminalis Vesika seminalis merupakan dua ruangan di antara fundus vesika urinaria dan rektum yang masing-masing ruangan berbentuk piramid, permukaan anterior berhubungan dengan fundus vesika urinaria, dan permukaan posterior terletak di atas rektum yang dipisahkan oleh fasia rektovesikalis. Panjang kelenjar ini 5 10 cm dan merupakan kelenjar sekresi menghasilkan zat mukoid. Zat ini banyak mengandung fruktosa dan zat gizi (prostaglandin dan fibrinogen) yang merupakan sumber energi bagi spermatozoa. Vesika seminalis bermuara pada duktus deferens dan bergabung dengan duktus ferens. Penggabungan ini disebut duktus ejakulatorius. Sekresi vesika seminalis disebut semen sebagai pelindung spermatozoa. Selama ejakulasi, vesika seminalis mengosongkan isinya ke dalam duktus ejakulatorius sehingga menambah semen ejakulasi serta mukosa. Duktus ejakulatorius berjumlah dua buah. Pada sisi lain dari garis tengah, masing-masing duktus akan membentuk gabungan vesikula

seminalis dengan duktus deferens, panjangnya 2 cm, mulai dari basis glandula prostat berjalan ke depan bawah di antara lobus medialis lateralis, dan dari utrikulus prostatikus berakhir ke dalam pinggir urtikulus.

f. Pembuluh darah dan saraf Arteri yang menyuplai vesika seminalis adalah cabang dari a.vesikalis medialis, a.vesikalis inferior dan a.haemorrhoidalis medialis. Vena-vena dan sistem limfe menyertai arteri. Persarafan merupakan cabang dari pleksus pelvikus

g. Glandula prosfat Sebagian glandula prostat bersifat glandular dan sebagian lagi bersifat otot, terdapat di bawah orifisium uretra interna dan sekeliling permukaan uretra, dan melekat di bawah vesika urinaria dalam rongga pelvis di bawah posterior simfisis pubis. Prostat merupakan suatu kelenjar yang mempunyai 4 lobus (lobus posterior, anterior, lateral dan medial). Fungsi kelenjar prostat adalah mengeluarkan cairan alkali yang encer, seperti susu mengandung asam sitrat yang berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan pada uretra.

Basis prostat menghadap ke atas, berhubungan dengan permukaan inferior vesika urinaria, permukaannya berhubungan dengan vesika urinaria, dan mengarah ke bawah dan berhubungan dengan diafragma urogenitalis. Prostat dipertahankan posisinya oleh ligamentum puboprostatika, lapisan dalam diafragma urogenitalis, m.levator ani pars anterior, dan m. Levator prostat bagian dari m.levator ani.

h. Pembuluh darah dan saraf 1) A.pudenda interna 2) A.cesicalis inferior 3) A.Haemorrhoidalis medialis Vena akan membentuk pleksus di sekitar sisi dan basis glandula prostat dan berakhir di vena hipogastrika. Nervus merupakan cabang dari pleksus pelvis.

i. Kelenjar bulbo uretralis Kelenjar ini terdapat di belakang lateral pars memranasea uretra, di antara kedua lapisan diafragma urogenitalis dan di sebelah bawah kelenjar prostat. Bentuknya bundar, kecil dan warnanya kuning, panjangnya 2,5 cm, dan fungsinya hampir sama dengan kelenjar prostat.

Kelenjar bulbo uretralis dibungkus oleh simpai jaringan ikat tipis yang di luarnya terdapat serat-serat otot rangka. Jaringan ikatnya banyak mengandung serat elastin, serat otot rangka, dan serat otot polos.

2.2.2 Duktus

a. Skrotum Skrotum merupakan sepasang kantong yang menggantung di dasar pelvis. Di depan skrotum terdapat penis dan di belakangnya ada anus. Skrotum atau kandung buah pelir berupa kantong yang terdiri dari kulit tanpa lemak yang memiliki sedikit jaringan otot dan berada di dalam pembungkus yang disebut tunika vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk

dari peritonium skrotum yang banyak mengandung pigmen, di dalamnya terdapat kantongkantong. Setiap kantong berisi epididimis feniculus spermatikus. Skrotum kiri tergantung lebih rendah dari skrotum kanan. Skrotum bervariasi dalam beberapa keadaan, misalnya pengaruh panas dan orang tua. Pada keadaan lemah, skrotum akan memanjang dan lemas, sedangkan dalam keadaan dingin akan memendek dan berkerut. Skrotum terdiri dari dua lapisan, yaitu kulit dan tunika dartos. 1) Kulit, warna kecoklatan, tipis, dan mempunyai filica/rugae, terdapat folikel sebasea yang di kelilingi oleh rambut keriting yang akarnya terlihat melalui kulit. 2) Tunika dartos berisi lapisan otot polos yang tipis sepanjang basis skrotum. Tunika dartos ini membentuk septum yang membagi skrotum menjadi dua ruangan untuk testis dan terdapat di bawah permukaan penis. Pada skrotum terdapat m.kremaster yang muncul dari m.obliques internus abdominalis yang menggantungkan testis dan mengangkat testis menurut kemauan dan refleks ejakulasi.

b. Fenikulus spermatikus Fenikulus spermatikus merupakan bangun penyambung yang berisi duktus seminalis, pembuluh limfe, dan serabut saraf. Bentuknya memanjang dari abdominalis inguinalis dan tersusun konvergen ke bagian belakang testis, melewati cincin subkutan dan turun hampir vertikal ke skrotum. Fenikulus spermatikus kiri lebih panjang dari yang kanan karena testis kiri tergantung lebih rendah dari testis kanan.

c. Pembuluh darah fenikulus spermatikus 1) Arteri spermatika interna, merupakan cabang aorta abdominalis, keluar dari abdomen melalui cincin inguinalis abdominalis dan bergabung dengan fenikulus spermatikus sepanjang kanalis inguinalis yang memberikan darah untuk epididimis dan subtansia testis. 2) Arteri spermatika eksterna, merupakan cabang dari a.epigastrika inferior yang berfungsi memberikan darah untuk fenikulus spermatikus beranastomosis dengan a.spermatika interna. 3) Arteri duktus deferens merupakan cabang dari a.fesikalis inferior, bentuknya panjang dan bergabung dengan duktus deferens beranatomosis dengan a.spermatika interna di dekat testis. 4) V. Permatika, mulai dari belakang testis, menerima darah dari epididimis, membentuk pompa, bagian dari fenikulus spermatikus. Pembuluh-pembuluh yang membentuk pleksus banyak masuk sepanjang fenikulus spermatikus di depan duktus diferens. Di bawah cincin substansia inguinalis, pembuluh ini bersatu membentuk 2-4 vena, lewat kanalis inguinalis masuk ke abdomen. Melalui cincin inguinalis abdominalis, yang kanan bermuara ke vena kava inferior dan yang kiri bermuara ke vena renalis sinistra.

d. Pembuluh limfe Pembulh limfe terdiri dari dua bagian, yaitu permukaan luar dan permukaan dalam. Pembuluh limfe berasal dari permukaan tunika vaginalis epididimis dan korpus testis. Pembuluh ini akan membentuk 4-8 traktus dan berakhir pada bagian lateral dari pronatik dan nervus lumbalis II.

e. Pembuluh saraf Pleksus spermatikus merupakan saraf simpatis yang bergabung dengan cabang dari pleksus pelvis yang menyertai arteri duktus deferens.

f. Penis Bagian ini terletak menggantung di depan skrotum. Bagian ujungnya disebut glans penis, bagian tengah disebut korpus penis, dan bagian pangkal disebut radiks penis. Kulit ini berhubungan dengan pelvis, skrotum dan perineum. Kulit pembungkus amat tipis dan tidak berhubungan dengan bagian permukaan dalam organ dan tidak mempunyai jaringan adiposa. Di belakang orifisium uretra eksterna, kulit ini membentuk perlipatan kecil yang disebut frenulus preputium. Kulit yang menutupi glans penis bersambung dengan membran mukosa uretra pada orifisium dan tidak mempunyai rambut. Prepusium yang menutupi glans dipisahkan dari prepusium dan didalamnya terdapat ruangan yang dangkal.

1) Fasia superfisialis : secara langsung berhubungan dengan fasia skrotum dengan lapisan sel otot polos. Di antara fasia superfisialis dan profunda terdapat celah yang menyebabkan kulit bergerak bebas. Pada bagian anterior ujung m.bulbokavernosus dan m.iskhiakavernosus terbelah menjadi lapisan dalam dan lapisan luar. Lapisan luar menutupi permukaan superior otot-otot ini dan fasia perinealis dari perineum. Lapisan dalam merupakan lanjutan fasia penis dan lamina profunda. Fasia profunda dari penis menutupi organ dengan kapsul yang kuat. 2) Korpora kavernosa penis : terdiri dari dua masa silinder yang erektil, terdiri dari dari bagian anterior batang penis. Pada simpisis pubis bagian posterior secara berangsur-angsur membentuk bangun yang lonjong. Korpora kavernosus penis ditutupi oleh kapsul yang kuat, terdiri dari benang-benang superfisialis dan profunda yang mempunyai arah longitudinal dan membentuk satu saluran yang masing-masing mengelilingi korpora dan membentuk satu saluran yang masing-masing mengelilingi korpora dan membentuk septum penis. Septum ini tebal dan terdiri dari bangunan vertikal yang disebut septum pektini formis. Pada permukaan atas terdapat celah kecil tempat v. Dorsalis penis profunda dan pada permukaan bawah terdapat celah yang dalam dan luas berisi korpus kavernosa uretra. Bagian anterior korpus kavernosa penis akan melebar dan disebut bulbus korpus kavernosa penis. Bagian ini terikat kuat pada ramus iskhium pubis yang ditutupi oleh m.iskhium kavernosus.

3) Korpus kavernosa uretra merupakan bagian penis yang berisi uretra, di dalam batang penis berbentuk silinder yang lebih kecil dari kavernosa penis, pada ujungnya agak melebar, bagian anterior membentuk glans penis dan posterior membentuk bulbus uretra. 4) Glans penis merupakan bagian akhir anterior korpus kavernosa uretra yang memanjang ke dalam, bentuknya seperti jamur. Glans penis ini licin dan kuat, bagian perifer lebih besar hingga membentuk pinggir yang bundar yang disebut koronaglandis. Bagian perifer menyempit membentuk bulbus retroglandularis dari leher penis dan pada puncak glans penis terdapat celah dari orifisium uretra eksterna. 5) Bulbus uretra : merupakan pembesaran bagian posterior, 3-4 cm, dari korpus kavernosa uretra dan letaknya superfisialis dari diafragma urogenitas. Fasia superfisialis bercampur dengan kapsula fibrosa dan disebut ligamentum bulbus yang ditutupi oleh fasia bulbus kavernosus.

g. Penggantung penis 1) Ligamentum fundiformis penis, lapisan tebal yang berasal dari fasia superfisialis dari dinding abdominalis anterior di atas pubis.

2) Ligamentum suspensorium penis, berupa benang berbentuk segitiga, bagian eksterna dari fasia profunda menggantung dorsum dan akar penis ke bagian inferior linea alba. Simfisis pubis dan ligamentum arquarta pubis, kruris ischio pubis dan bulbu diafragma urogenitalis merupakan alat penggantung penis.

h. Pembuluh darah penis 1) Arteri pudenda interna, merupakan cabang a.hipogastrika yang menyuplai darah untuk ruangan kavernosus. 2) Arteri profunda penis, merupakan cabang dari a.dorsalis penis. Bercabang terbuka langsung ke ruangan kavernosa. Cabang kapilernya menyuplai darah ke trabekula di ruangan kavernosa, dikembalikan ke vena pada dorsum dan membentuk vena dorsalis penis yang melewati permukaan superrior korpora kavernosa dan bergabung dengan vena yang lain.

i. Carian semen Cairan semen terdiri dari spermatozoa dan cairan yang dihasilkan oleh seluruh kelenjar kelamin, serta sedikit tambahan yang berasal dari sistem saluran kelamin. Semen merupakan cairan keruh keputihan yang mengandung 100 juta/ml spermatozoa dan jumlahnya sangat bervariasi. Setiap ejakulasi mengeluarkan 3 ml (300 juta spermatozoa). Pengeluaran semen berlangsung dalam urutan tertentu. Kelenjar bulbo uretralis dan kelenjar uretra mengeluarkan sekret berupa lendir ketika ereksi dan akan melumasi uretra paras kavernosa sewaktu ejakulasi kelenjar prostat bersekresi lebih dahulu. Sekretnya bersifat basa dan menurunkan keasaman uretra yang mengandung sisa air kemih kemudian disusul oleh spermatozoa yang diperas ke luar dari duktus epididimis dan duktus deferens melalui kontraksi dinding otot. Akhirnya, sekresi kental dari vesikula seminalis mengandung fruktosa dan bahan makanan bagi sperma ditambahkan ke dalam massa tersebut.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Organ utama reproduksi pada pria adalah testis. Fungsi testis : 1. Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa dilakukan di tubulus seminiferus. 2. Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interstisial. Setelah pembentukan tubulus seminiferus, sperma masuk ke semini ferus selama 18 jam sampai 10 hari hingga mengalami proses pematangan. Fungsi testoteron : 1. Efek desensus testis. 2. Perkembangan seksual primer dan sekunder.

3.2 Saran Seperti kata pepatah Tak ada gading yang tak retak. Dalam pembuatan makalah ini tentu masih banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan saran dari para pembaca demi kesempurnaan di masa yang akan datang.