Anda di halaman 1dari 2

Rhinitis Alergi Rhinitis Alergi dapat dikategorikan kedalam tiga sub-kelompok dasar: seasonal (musiman), perennial (sepanjang tahun),

dan occupational (pekerjaan). Kategori seasonal yang dimediasi IgE, perennial maupun occupational memiliki respon yang berbeda-beda terhadap alergen yang berbeda pula. Pohon, rumput dan penyebaran serbuk sari secara umum menyebabkan gejala rhinitis alergi seasonal. Spora jamur dapat menyebabkan gejala rhinitis alergi seasonal dan perennial. Adapun alergen dalam ruangan seperti debu tungau, bulu hewan peliharaan dan jamur seringkali menyebabkan gejala-gejala perennial. Rhinitis Occupational dipicu oleh paparan iritan atau allergen tertentu. Alergen dari rhinitis occupational jelas termasuk dalam kategori rhinitis alergi, sedangkan Iritan dari rhinitis occupational lebih dikategorikan kepada rhinitis non-alergi. Yang termasuk penyebab sub-tipe alergen adalah hewanhewan laboratorium (contoh: pengerat, tikus, marmot), butir-butiran biji kopi, dan debu kayu. Penyebab dari sub-tipe iritan adalah asap rokok, udara dingin, formaldehida dan hair spray. Gejala-gejala rhinitis alergi baik respon cepat dan lambat sama seperti yang terjadi pada respon alergi uji kulit. Respon cepat dan lambat ini ditunjukkan dengan bersin, hidung tersumbat dan rhinorrhea; namun, pada respon lambat cenderung terjadi hidung tersumbat yang lebih parah. Rhinitis alergi seasonal dan perennial dapat dihubungkan dengan respon sistemik seperti rasa tidak enak (malaise), kelemahan, dan kelelahan (fatigue). Pasien dengan rhinitis alergi seasonal dan perennial juga dapat memiliki konjugtivitis alergi, asma dan ekzema. Rhinitis Non-alergi Diagnosa dari rhinitis non-alergi ditegakkan setelah mengeliminasi penyebab-penyebab alergi atau mediasi IgE. Penyebab tersering dari rhinitis non-alergi adalah infeksi akut dari virus. Penyebab kronik yang kurang umum lainnya termasuk rhinitis vasomotor, rhinitis hormonal, rhinitis non-alergi dengan sindrom eosinophil, rhinitis occupational (sub-tipe iritan), rhinitis gustatory, rhinitis medikamentosa dan rhinitis yang dipicu obat. Kontroversi seputar rhinits non-alergi terjadi karena kriteria epidemiologi dan diagnostik yang membingungkan. Kontroversi utama adalah bagaimana membedakan alergi rhinitis dari rhinitis alergi. Selain itu, saat ini terdapat penelitian yang muncul untuk menggambarkan kategori ketiga yang mencakup baik karakteristik rinitis alergi dan non-alergi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi rinitis alergi murni pada populasi orang dewasa dengan gejala adalah 43 persen, rinitis alergi dan kombinasi rinitis non-alergi adalah 23 persen. Penanganan rinitis alergi dan non-alergi sedikit berbeda, karena itu menentukan perbedaan antara dua jenis akan menjadi lebih penting. Seorang pasien yang dikelola alat screening (Pasien Rhinitis Screen) untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien dengan rhinitis kombinasi tidak sering dibahas dalam literatur. Karena kurangnya penelitian yang dipublikasikan, penggunaan alat di luar pengumpulan data demografis menjadi tidak begitu jelas.

TABLE 3 Rhinitis Alergi vs Non-alergi Karakteristik klinik Temuan tambahan Faktor yang memperburuk Riwayat alergi keluarga Nasal eosinophilia Rhinitis Alergi Uji kulit positif Paparan alergen Biasanya ada Biasanya ada Rhinitis Non-alergi Uji kulit negatif Paparan iritan, perubahan cuaca Biasanya tidak ada Terdapat pada pasien dengan rhinitis non-alergi dengan sindrom eusinofil Umum Menonjol Jarang Biasanya tidak umum, tapi dapat terlihat di beberapa pasien Biasanya tidak menonjol, tetapi dapat mencolok pada beberapa pasien Tidak ada

Sifat gejala. Kemampetan Postnasal drip Pruritus Rhinorrhea Bersin

Umum Tidak menonjol Umum Umum Menonjol

Gejala alergi lain Tampilan fisik mukosa hidung

Sering ada

Variabel, terdeskripsi sebagai Variabel, eritematosa pucat, berair, dan bengkak Variasi musim Biasanya perennial, tetapi gejalagejala dapat memburuk seiring dengan perubahan cuaca

Musiman

Diadaptasi dengan izin dari Mastin T. Recognizing and treating non-infectious rhinitis. J Am Acad Nurse Pract 2003;15:403.