Anda di halaman 1dari 1

Dari bacaan kita malam ini, mari kita sama-sama merenungkan hakikat dari Doa.

Pernakah terpikir oleh kita, kenapa kita harus berdoa jika Tuhan sudah tahu apa yang kita pikirkan, bahkan sebelum kita mengatakannya (Mat 6:8) ? Pernakah terlintas oleh kita Apakah jika kita berjam-jam doa, maka doa kita akan lebih mungkin untuk dikabulkan daripada doa yang hanya beberapa menit? Bagaimana kalau kita tidak bisa berdoa ? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin seringkali muuncul apabila dikaitkan dengan doa. Doa bisa jadi topic yang gampang-gampang susah. Alkitab banyak sekali membahas tentang doa. Tetapi, doa juga misterius, karena doa ini merupakan satu hal pribadi antara manusia dengan Tuhan. Doa bukan mantra, bukan asal kita berdoa, maka kita pasti bisa begini atau begitu. Tapi, doa adalah cara kita berhubungan dengan Tuhan. Jadi fokusnya di sini yang menjadikan sebuah doa berkuasa adalah Tuhan, dan bukan orang yang berdoa, bukan katakatanya, bukan berapa lama, dsb. Namun, jika kita mengerti bahwa focus dari doa adalah Tuhan, maka kita harus berdoa dengan benar, sesuai apa yang sudah diajarkan dalam Alkitab. Jadi, Kenapa kita BERDOA ? Karena Tuhan memerintahkan kita untuk Berdoa (Filipi 4:6-7). Dan di Alkitab, Tuhan terutama memerintahkan kita untuk berdoa saat kita hendak membuat keputusan-keputusan besar (Luk. 6:12-13), mengatasi kuasa kegelapan yang selalu berusaha menjatuhkan kita (Mat.17:14-21), ketika kita butuh bantuan dan kekuatan (Luk. 10:2, Mat. 26:41), dan juga ketika kita ingin menguatkan orang lain (Ef. 6:18-19). Ternyata banyak juga hal yang harus kita doakan, bahkan dalam Efesus 6:18, kita justru diajarkan untuk berdoa senantiasa alias selalu. Berdoa memang baik dan penting, bahkan dikatakan seperti napas bagi orang Kristen. Namun terkadang, tidak kita sadari, kita bisa saja salah berdoa. Beberapa contoh kesalahan dalam berdoa : 1. Doa yang hanya focus pada keinginan pribadi. Mungkin ini yang paling sering terjadi. Doa kita mungkin sangat panjang tapi hanya berisi permintaan untuk diri sendiri. 2. Doa yang tidak menuruti kehendak Tuhan. Doa bukanlah kondisi di mana kita memerintah Tuhan untuk menuruti perintah kita. Pada saat kta berdoa, kita harus sadar bahwa posisi kita adalah posisi di bawah, artinya bukan kita yang memerintah Tuhan dan Tuhan yang menurut, melainkan sebaliknya. Jadi pastikan doa kita sesuai kehendak-Nya. 3. Doa tanpa iman. Kadang ketika kita berdoa tapi kita juga tidak yakin apakah doa itu didengar. Atau terkadang kita berdoa tapi punya maksud terselubung, misalnya : kita mendoakan seseorang, tetapi kita hanya berdoa supaya orang tersebut atau orang lain tahu kalau kita perhatian dengan orang tersebut atau orang lain, atau justru kita berdoa hanya untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita pintar berdoa, ini juga sama dengan doa tanpa iman. Ingat, kita bukan berdoa kepada manusia, tapi kepada Tuhan ! 4. Doa tanpa pertobatan. Doa adalah relasi dengan Tuhan, dan dosa menghambat kita untuk bisa bersekutu dengan Tuhan. 2 Tawarikh 7:14 menegaskan 3 syarat agar doa kita bisa didengar : merendahkan diri, mencari Tuhan, dan bertobat. Tiga syarat ini sudah sering kita dengar tapi terkadang kita melupakannya. Untuk renungan malam ini, ada sebuah cerita yang berkaitan dengan doa. Satu kali, seorang anak muda sedang mengendarai sepeda motor menuju kampus untuk mengikuti ujian skripsinya. Tiba-tiba hujan lebat turun dan terpaksa si anak muda ini harus berteduh, padahal ia harus segera ke kampus untuk mengikuti ujian skripsinya. Tentu saja, dia tidak mungkin menerobos hujan, dan pergi ke kampus dengan basah kuyup. Dia juga tidak membawa jas hujan untuk melindunginya dari hujan, maka ia pun berdoa, Tuhan,

tolong saya mohon supaya Engkau menghentikan hujan ini. Dan setelah berdoa demikian, tiba-tiba hujan lebat tersebut mereda dan satu menit kemudian benar-benar cerah. Anak muda ini bersykur dan melanjutkan perjalanannya. Hari berikutnya, anak muda ini sedang menaiki sepeda motornya lagi untuk menuju gereja. Hari itu ia bertugas dalam kebaktian. Tapi, tiba-tiba hujan deras turun lagi. Dan pemuda ini kembali berteduh. Sama seperti kemarin, ia kemudian berdoa minta Tuhan menghentikan hujan. Hanya saja kali ini hujan tidak berhenti, malah terlihat bahwa hujan akan bertambah lama. Anak muda ini berpikir, lalu ia melihat tidak jauh dari tempat teduhnya ada sebuah toko yang menjual jas hujan. Maka ia pergi membeli jas hujan dan meneruskan perjalanan. Hari berikutnya lagi, saat hendak berangkat dari kos-kosan menuju kampus untuk pertemuan penting dengan dosennya, tiba-tiba hujan turun lagi. Ketika anak muda ini hendak mencari jas hujan yang baru dibelinya, ternyata jas hujannya raib entah ke mana. Mungkin ada orang yang mengambilnya. Kemudian ia berdoa kepada Tuhan, dan juga berusaha mencari pinjaman jas hujan. Namun semua penghuni kos sedang tidak ada di tempat. Saat sedang bingung di tempat parkir, tiba-tiba ada suara klakson moobil. Rupanya seorang teman kuliah yang kebetulan tetangganya lewat. Ia menawari anak muda itu untuk ikut saja ke mobilnya. Maka akhirnya anak muda itu bisa sampai ke kampus dengan tepat waktu, bahkan lebih cepat, tanpa kebasahan sama sekali. Satu kejadian yang sama, hujan dan sama-sama berdoa, tapi bisa menghasilkan setidaknya ada tiga kejadian. Kadang, demikian juga yang terjadi dalam kehidupan doa kita sebagai anak Tuhan. Ada kalanya Tuhan akan menjawab sama persis seperti apa yang kita pinta. Namun ada kalanya Tuhan mau kita bekerja sama dengan-Nya, berdoa dan bekerja. Dan ada kalanya, yang perlu kita lakukan hanya berserah, apakah Ia akan memberikan jawaban tidak ataukah Ia memberikan jawaban ya bahkan lebih dari yang kita minta. Jawaban doa adalah hak Tuhan, tapi percayaah bahwa Ia tidak akan memberikan ular saat kita minta ikan, Ia tidak akan memberi yang buruk saat kita minta yang baik, bahkan Ia mampu memberi yang terbaik. Ingatlah bahwa BERDOA bukan hanya sekedar sebuah AKTIVITAS RUTIN. Tapi BERDOA haruslah didasari dengan IMAN. BERDOA bukan hanya tentang MEMINTA KEBUTUHAN KITA. Tapi BERDOA adalah sebuah sarana untuk MEMPERERAT HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN. Dalam doa ada UCAPAN SYUKUR, dalam doa ada PUJIAN, dan dalam doa ada PENYEMBAHAN. Berdoa tidak dipengaruhi oleh suasana dan situasi. Berdoa tidak dipengaruhi oleh penglihatan dan pendengaran. Berdoa tidak dipengaruhi oleh logika dan kepintaran.

Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut tapi daging lemah (Matius 26:41). Kiranya renungan malam ini menjadi pedoman bagi kita untuk menaikkan doa yang benar kepada Tuhan. Amin.