Anda di halaman 1dari 4

KLASIFIKASI DAN ETIOLOGI PNEUMOTORAKS

Pneumotoraks dapat terjadi secara spontan atau traumatic dan klasifikasi pneumotorak nerdasarkan penyebabnya adalah sebagai berikut : 1. Pneumotoraks spontan Adalah setiap pneumotoraks yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab (trauma ataupun iatrogenik), ada 2 jenis yaitu : a. Pneumotoraks spontan primer Suatu pneumotoraks yang terjadi tanpa adanya suatu penyakit paru yang mendasari sebelumnya. Umumnya pada individu sehat, dewasa muda, tidak berhubungan dengan aktivitas fisik yang berat tettapi justru terjadi pada saat istirahat dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya. b. Pneumotoraks spontan sekunder Suatu pneumotoraks yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberculosis paru, PPOK, asma bronchial, pneumonia, tumor paru, dan sebagainya). 2. Pneumotoraks traumatik Pneumotoraks yang terjadi akibat suatu trauma, baik trauma penetrasi ataaupun bukan yang menyebabkan robeknya pleura, dinding dada atau paru. Pneumotorak traumatic diperkirakan 40% dari semua kasus pneumotorak. Pneumotorak tidak harus disertai dengan fraktur iga maupun luka penetrasi yang terbuka. Trauma tumpul atau kontusio juga dapat menimbulkan pneumotorak. Beberapa penyebab trauma penetrasi pada dinding dada adalah luka tusuk, luka tembak, akibat tusukan jarum maupun pada saat dilakukan kanulasi vena sentral. Berdasarkan kejadianya, penumotorak traumatic dibagi menjadi 2 jenis yaitu : a. Pneumotorak bukan iatrogenik Terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada baik terbuka maupun tertutup, barotrauma. b. Oneumotorak traumatik iatrogenic Terjadi akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumotorak jenis ini masih dibedakan menjadi dua, yakni : b.1. Pneumotorak traumatic iatrogenic aksidental, adalah kesalahan atau komplikasi tindakan tersebut, misalnya pada parasentesis dada, biopsy pleura, biopsy

tranbronkial, biopsy/aspirasi paru perkutaneus, kanulasi vena sentral, barotrauma (ventilasi mekanik). b.2. Pneumotoraks traumatic iatrogenic artificial (deliberate), adalah pneumotorak yang sengaja dilakukan dengan mengisi udara ke dalam rongga pleura melalui jarum dengan suatu alat Maxwell box. Biasanya untuk terapi tuberculosis (sebelum era antibiotik), atau untuk menilai permukaan paru.

Penegakan Diagnosis 1. Keluhan Subyektif Berdasarkan anamnesis, gejala-gejala yang sering muncul adalah: a. Sesak napas, yang didapatkan pada 80-100% pasien b. Nyeri dada, yang didapatkan pada 75-90% pasien. c. Batuk-batuk, yang didapatkan pada 25-35% pasien d. Tidak menunjukan gejala (silent) yang didapatkan pada 5-10% pasien, dan biasnya pada pasies pneumotoraks spontan primer Gejala tersebut dapat berdiri sendiri maupun kombinasi dan derajat gangguanya bisa mulai dari asimptomatik sampai menimbulkan gangguan baik ringan maupun berat. 2. Pemeriksaan Fisik Suara napas melemah sampai menghilang, fremitus melemah sampai menghilang, resonansi perkusi dapat normal atau meningkat / hipersonor. Pneumotorak ukuran kecil biasanya hanya menimbulkan takikardi ringan dan gejala yang tidak khas. Pada pneumotorak ukuran besar biasanya didapatkan suara napas yang melemah bahkan sampai menghilang pasa auskultasi, fremitus raba menurun, dan perkusi hipersonor. Pneumotoraks tension dicurigai apabila didapatkanya adanya takikardi berat, hipotensi, pergesera mediastinum atau trakea.

3. Pemeriksaan Penunjang Analisis gas darah arteri memberikan gambaran hipoksemia meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan. Pada sebuah penelitian didapatkan 17% dengan PO2 < 55 mmHg, 4% dengan PO2 < 45mmHg, 16% dengan PCO2> 50 mmHg dan 4% dengan PCO2 > 60 mmHg. Pada pasien PPOK lebih mudah terjadi pneumotorak spontan. Pneumotorak paru kiri dapat menimbulkan perubahan aksis QRS dan gelombang T prekordial pada rekaman EKG dan dapat ditafsirkan sebagai infark miokard akit (IMA). Pemeriksaan foto dan garis pleura viseralis tampak putih, lurus atau cembung terhadap dinding dada dan terpisah dari garis pleura parietalis. Celah antara kedua garis pleura tampak lusens karena berisi kumpulan udara dan tidak didapatkan corakan vascular pada daerah tersebut. Pada tension pneumotoraks gambaran foto dadanya tampak jumlah udara pada hemitotorak yang cukupbesar dan susunan mediastinum yang bergeser kea rah kontralateral.

Gambar 1. Radiologi Pneumotorak

Pemeriksaan CT scan mungkin diperlukan apabila dengan pemeriksaan foto dada diagnosis belum dapat ditegakan. Pemeriksaan ini lebih spesifik untuk membedakan antara emfisema bullosa dengan pneumotorak, batas antara udara dengan cairan intra dan ekstra pulmoner serta untuk membedakan antara pneumotoraks spontan primer atau sekunder. Pemeriksaan endoskopi (torakoskopi) merupakan pemeriksaan invasive, tetapi memiliki sensitifitas yang lebih besar dibandingkan pemeriksaan CT-scan. Hasil pemeriksaan endoskopi dibagi menjadi 4 derajat : a. b. c. d. Derajat I : pneumotoraks dengan gambaran paru yang mendekati normal Derajat II : pneumotorak dengan perlengketan disertai hematotoraks Derajat III :pneumotorak dengan diameter bleb atau bulla <2cm Derajat IV :neumotorak dengan banyak bulla yang besar, diameter >2cm

Hisyam, Barmawi.2009. Pneumotorak. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Jakarta. Interna Publishing Rizka.dana @gmail.com