Anda di halaman 1dari 54

GAMBARAN HISTOPATOLOGI BURSA FABRICIUS DAN TIMUS PADA AYAM BROILER YANG TERINFEKSI MAREK DAN PENGARUH PEMBERIAN

BAWANG PUTIH, KUNYIT DAN ZINK

EKA FEBRIANA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

GAMBARAN HISTOPATOLOGI BURSA FABRICIUS DAN TIMUS PADA AYAM BROILER YANG TERINFEKSI MAREK DAN PENGARUH PEMBERIAN BAWANG PUTIH, KUNYIT DAN ZINK

EKA FEBRIANA

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008

ABSTRAK

EKA FEBRIANA. Gambaran Histopatologi Bursa Fabricius dan Timus pada Ayam Broiler yang Terinfeksi Marek dan Pengaruh Pemberian Bawang Putih, Kunyit dan Zink. Dibimbing oleh WIWIN WINARSIH dan SUS DERTHI WIDHYARI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian bawang putih, kunyit dan Zn terhadap perubahan bursa Fabricius dan timus pada ayam broiler yang terinfeksi Marek secara alami. Pada penelitian ini menggunakan 100 ekor DOC yang dibagi secara acak kedalam lima perlakuan, dan masing-masing perlakuan terdiri dari empat ulangan. Kelima perlakuan tersebut adalah R0 : pakan basal (kontrol), R1 : pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5%, R2 : pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + ZnO 120 ppm, R3 : pakan basal + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm dan R4 : pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm. Parameter yang diamati dari penelitian ini adalah persentase deplesi folikel limfoid, persentase atrofi folikel limfoid dan ukuran diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius, serta ketebalan korteks dan diameter medulla pada timus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi antara serbuk bawang putih 2.5% dan ZnO 120 ppm mampu menahan terjadinya deplesi dan atrofi pada bursa Fabricius dan timus. Kata kunci : Bursa Fabricius, Timus, Marek, Bawang Putih, Kunyit, Zink

ABSTRACT

EKA FEBRIANA. Described Histopathology bursa of Fabricius and thymus on broiler chicken that infection by mareks disease and the effects of dietary garlic, tumeric and zinc. Supervisor by WIWIN WINARSIH and SUS DERTHI WIDHYARI. The aims of this research was to observed the effect of garlic, tumeric and zinc on bursa of Fabricius and thymus of broiler chicken which naturally infected Marek disease. This research was used 100 DOC that divided randomly into five treatment, and the every treatments divided into four replicated. The five treatment were R0 : basis feed (control), R1 : basis feed + garlic powder 2.5% + tumeric powder 1.5%, R2 : basis feed + garlic powder 2.5% + ZnO 120 ppm, R3 : basis feed + tumeric powder 1.5% + ZnO 120 ppm and R4 : basis feed + garlic powder 2.5% + tumeric powder 1.5% + ZnO 120 ppm. The observed parameter from this reseach were depletion of lymphoid follicle, atrophy of lymphid follicle, diameter of lymphoid follicle of bursa of Fabricius and size of cortecs and diameter of medulla at thymus. The result of this reseach that is combination of garlic powder 2.5% and ZnO 120 ppm withstand occur depletion and atrophy at bursa of Fabricius and thymus. Key words : Bursa of Fabricius, Thymus, Mareks disease, garlic, tumeric, zinc

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi

: Gambaran Histopatologi Bursa Fabricius dan Timus pada Ayam Broiler yang Terinfeksi Marek dan Pengaruh Pemberian Bawang Putih, Kunyit dan Zink

Nama Mahasiswa NIM

: Eka Febriana : B 04104055

Disetujui

Dr. drh. Wiwin Winarsih, MSi Pembimbing I

Dr. drh. Sus Derthi Widhyari, MSi Pembimbing II

Diketahui

Dr. Nastiti Kusumorini Wakil Dekan FKH IPB

Tanggal lulus :

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi tentang Gambaran Histopatologi Bursa Fabricius dan Timus pada Ayam Broiler yang Terinfeksi Marek dan Pengaruh Pemberian Bawang Putih, Kunyit dan Zink. Dengan selesainya skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Dr. drh. Wiwin Winarsih, MSi selaku dosen pembimbing I atas segala bimbingan, dorongan dan nasehat serta segala kemudahan yang diperoleh penulis selama penelitian dan penulisan skripsi. 2. Dr. drh. Sus Derthi Widhyari, MSi selaku dosen pembimbing II atas segala bimbingan, dorongan dan nasehat serta segala kemudahan yang diperoleh penulis selama penelitian dan penulisan skripsi. 3. drh. Ekowati Handharyani, MS, PhD selaku dosen penguji. 4. Dr. drh. H. Idwan Sudirman, MS selaku dosen pembimbing akademik atas bimbingan, nasehat dan kemudahan selama masa perkuliahan. 5. Seluruh staf di Bagian Patologi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB atas bantuan dan dukungan selama penelitian. 6. Bapak, Ibu dan Dek wiwit beserta keluarga besar atas cinta dan kasih sayang, motivasi serta doanya yang selama ini diberikan kepada penulis. 7. Tim penelitian Kanda Yanuar, Zammily Hati Harahap, Ratna Delima Natalia, Wahyu Kusumaninggrum, Herlina, Sri ulina, Bagus Rafiqi dan Upik Kurotaaini atas semangat dan motivasi yang selama ini diberikan kepada penulis. 8. Sahabat-sahabatku di SMA Irza Kustiani, Ade Wahyuni, Wenda Yulisman dan Elga Putri Fajar yang selalu memberikan suport dan semangat kepada penulis. 9. Sahabat-sahabatku yang jail dan gokil Arie OSA, Muri Muhaerin, Mbak Santi, Fitriana Dewi Puspita Sari, Agus Prastowo. 10. Guru dan teman-teman renangku Bu Eti, Yulia Erika dan Ari Harmayani.

11. Semua teman-teman Astroidea'41. 12. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah banyak membantu untuk keberhasilan penulis. Segala kritik dan saran dari pembaca senantiasa penulis harapkan, kerena penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan.

Bogor, September 2008

Eka Febriana

RIWAYAT HIDUP

Eka Febriana dilahirkan di Solok, 7 Februari 1986 sebagai anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan suami-istri Bambang Dwi Atmoko dan Aspuriyah. Pada tahun 1990 penulis memasuki TK Bayangkari dan pada tahun 1998 penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SDN 08 Nanbalimo. Penulis melanjutkan studinya ke SMPN 1 Kota Solok dan lulus pada tahun 2001 kemudian melanjutkan ke SMAN 1 Kota Solok dan lulus pada tahun 2004. Penulis diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan yang lolos melalui seleksi USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB) IPB pada tahun 2004. Selama mengikuti perkuliahan penulis berperan serta dalam kegiatan kemahasiswaan diantaranya sebagai pengurus Himpro Ornithologi dan Unggas selama dua periode (2005-2006 dan 2006-2007), anggota DKM An Nahl selama dua periode (2005-2006 dan 2006-2007).

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ................................................................................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... PENDAHULUAN Latar Belakang .................................................................................. Tujuan Penelitian .............................................................................. Manfaat Penelitian ............................................................................ TINJAUAN PUSTAKA Ayam Broiler ..................................................................................... Bawang Putih (Allium sativum Linn.)................................................. Kunyit (Curcuma domestica Val)....................................................... Zink (Zn) .......................................................................................... Bursa Fabricius ................................................................................. Timus ................................................................................................ Penyakit Marek ................................................................................. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ Materi Penelitian .............................................................................. Metode Penelitian ............................................................................. HASIL DAN PEMBAHASAN Deplesi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius ................................... Atrofi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius ..................................... Diameter Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius ................................ Tebal Korteks dan Diameter Medulla pada Timus ............................. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... LAMPIRAN ......................................................................................... 23 25 27 29 34 35 39 18 18 20 3 4 6 8 10 11 13 vi vii viii 1 2 2

DAFTAR TABEL

Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. Komposisi ransum ............................................................................ Persentase rataan deplesi folikel limfoid pada bursa Fabricius ........... Persentase rataan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius.............. Rataan diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius ........................ Rataan tebal korteks pada timus ........................................................ Rataan diameter medulla pada timus ................................................. 19 23 25 28 30 31

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Ayam broiler (Gallus gallus domesticus)......................................... Bawang putih (Allium sativum Linn) .............................................. Kunyit (Curcuma domestica Val.) ................................................... Zink (Zn) ........................................................................................ Bursa Fabricius .............................................................................. Timus ............................................................................................. Persentase rataan deplesi folikel limfoid pada bursa Fabricius ........ Deplesi folikel limfoid bursa Fabricius (D) pada kelompok R0 (HE, bar: 100 m) .......................................................................... Persentase rataan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius ........... Atrofi folikel limfoid bursa Fabricius (A) pada kelompok R4 (HE, bar : 100 m) .......................................................................... Rataan diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius ..................... Rataan tebal korteks pada timus ..................................................... Rataan diameter medulla pada timus .............................................. Korteks dan medulla timus pada kelompok R0 (HE, bar : 100 m).. 4 6 8 9 11 13 24 25 26 27 28 30 31 33

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. 2. 3. 4. Analisa data rataan deplesi folikel limfoid pada bursa Fabricius ........ Analisa data rataan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius .......... Analisa data diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius ............... Analisa data tebal korteks dan diameter medulla pada timus ............. 39 39 40 41

PENDAHULUAN

Latar Belakang Perkembangan ayam ras di Indonesia dari masa ke masa mengalami perubahan secara fantastis. Hal ini dapat dilihat dari kecepatan pertumbuhan bobot badan yang mengalami kemajuan pesat. Ayam ras adalah jenis ayam jantan maupun betina muda yang berumur berkisar antara 6 8 minggu yang dipelihara secara intensif untuk memperoleh daging yang optimal. Ditinjau dari segi mutu, daging ayam memiliki nilai gizi yang tinggi dibandingkan dengan ternak lainnya, sedangkan ditinjau dari segi ekonomis khususnya ayam ras potong yang lebih dikenal dengan sebutan broiler merupakan ayam yang bisa diusahakan secara efisien dan cepat dalam pemanenan. Usaha peternakan ayam broiler merupakan salah satu kegiatan yang paling cepat dan efisien untuk menghasilkan bahan pangan hewani yang bermutu dan bernilai gizi tinggi. Kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam broiler terus meningkat, akan tetapi ayam broiler sangat rentan terhadap infeksi penyakit. Salah satu penyakit yang sering menyerang ayam broiler adalah Marek. Menurut Tabbu (2000) penyakit Marek merupakan penyakit limfoproliferatif pada ayam yang sangat mudah menular yang ditandai dengan adanya pembengkakan atau tumor pada berbagai saraf perifer dan pembentukan tumor limfoid pada berbagai organ visceral, kulit dan otot. Penyakit ini disebabkan oleh alfaherpesvirus yang bersifat highly cell-associated pada semua jaringan kecuali pada epitel folikel bulu. Hospes alami pada penyakit marek adalah ayam, disamping itu juga ditemukan pada kalkun dan burung puyuh. Dengan berbagai macam infeksi penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri yang terdapat pada unggas, maka berbagai macam antibiotik dan obat-obatan diproduksi untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit tersebut. Penggunaan antibiotik dan obat-obatan memiliki dampak negatif

terhadap kesehatan yang mengkonsumsi, akibat adanya residu pada produk hasil ternak. Oleh karena itu pengobatan dengan herbal menjadi salah satu alternatif pengobatan yang dipilih banyak pihak. Pengobatan menggunakan obat tradisional lebih mengutamakan terjadinya keseimbangan atau mengatur homeostasis agar

metabolisme tubuh dalam keadaan seimbang, sehingga tubuh mampu untuk melawan penyakit. Selain itu pemberian herbal tidak menyebabkan residu atau tidak berdampak negatif terhadap produk hasil ternak dan pemakaian pada mausia cukup aman. Penggunaan kombinasi herbal-Zn merupakan salah satu alternatif, diharapkan mampu memiliki fungsi sebagai imunostimulan sehingga daya tahan tubuh akan lebih baik dan kejadian penyakit dapat ditekan.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian bawang putih, kunyit dan Zn terhadap perubahan organ bursa Fabricius dan timus pada ayam broiler yang terinfeksi Marek.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pengaruh pemberian bawang putih, kunyit dan Zn terhadap gambaran histopatologi organ bursa Fabricius dan timus pada ayam broiler yang terinfeksi Marek.

TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Broiler Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam (Gambar 1). Ayam broiler baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan penggalakan konsumsi daging ruminansia yang sampai saat itu masih sulit kebaradaanya (Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan,

Pemasyarakatan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2000). Ayam broiler merupakan hasil rekayasa genetika yang dihasilkan dengan cara menyilangkan sesama keturunannya (inbreeding ). Kebanyakan induknya diambil dari Amerika. Prosesnya diawali dengan mengawinkan sekelompok ayam dalam satu keluarga. Hasil perkawinan tersebut dipilih keturunan yang paling cepat tumbuhnya dan dikawinkan lagi dengan sesamanya. Demikian seterusnya hingga diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh yang disebut dengan ayam broiler (Didinkaem 2006). Adapun klasifikasi ayam broiler menurut Linnaeus dalam Anonimus (2008a) : Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies Subspesies : Animalia : Chordata : Aves : Galliformes : Phasianidae : Gallus : G. gallus : Gallus gallus domesticus

Menurut Rasyaf (1985) kemampuan dan keistimewaan ayam broiler yaitu dibatasi oleh umur, sifat daging, cara pemeliharaan, pengolahan dan cara memasak. Selanjutnya dikemukakan bahwa di Indonesia umumnya ayam broiler sudah dipasarkan pada umur 5-6 minggu dengan bobot badan berkisar antara 1.31.4 kg. Laju pertumbuhan broiler akan meningkat pada 2 minggu pertama, kemudian secara bertahap akan menjadi lebih besar sampai sekitar 1.7 kg. Setelah

terjadi kenaikan bobot badan mingguan kemudian akan terlihat penurunan dari peningkatan bobot badan secara progresif (North 1984). Scot et al. (1982) menyatakan bahwa pada pertumbuhan yang cepat inilah ayam broiler sangat sensitif terhadap tingkat nutrisi ransum yang diperoleh, terutama kebutuhan akan protein.

Gambar 1. Ayam Broiler (Gallus gallus domesticus) (http://id.wikipedia.org/wiki/Ayam 2008b)

Bawang Putih (Allium sativum Linn.) Bawang putih sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Asia Tengah, seperti Jepang dan Cina yang beriklim subtropis (Gambar 2). Bawang putih kemudian menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan akhirnya keseluruh dunia. Di Indonesia, bawang putih dibawa oleh pedagang Cina dan Arab, kemudian dibudidayakan di daerah pesisir atau daerah pantai. Seiring dengan berjalannya waktu, bawang putih mulai masuk ke daerah pedalaman dan akhirnya akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia (Syamsiah dan Tajudin 2003). Bawang putih mempunyai nama latin Allium sativum Linn. Sativum berarti dibudidayakan, karena bawang putih diduga merupakan keturunan dari bawang liar Allium longicurpis Regel. Famili atau genus Allium sebenarnya ada sekitar 500 jenis, lebih dari 250 jenis diantaranya termasuk bawang-bawangan. Klasifikasi bawang putih (Allium sativum) menurut Linnaeus dalam Syamsiah dan Tajudin (2003): Kingdom : Plantae

Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Liliales : Liliacea : Allium : Allium sativum Linn.

Tanaman bawang putih bisa ditemukan dalam bentuk terna (bergerombol), tumbuh tegak, dan bisa mencapai ketinggian 30 75 cm, mempunyai batang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun. Helaian daunnya mirip pita, berbentuk pipih dan memanjang. Akar bawang putih terdiri dari serabut-serabut kecil yang berjumlah banyak, dan setiap umbi bawang putih terdiri dari sejumlah anak bawang (siung) yang setiap siungnya terbungkus kulit tipis berwarna putih. Di Indonesia tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah yang mempunyai ketinggian 700-1000 m diatas permukaan laut. Sejalan dengan kemajuan teknologi sekarang bawang putih dapat ditanam di dataran rendah. Jenis bawang putih dataran rendah dapat ditanam pada ketinggian antara 600-700 m diatas permukaan laut dengan suhu diantara 15-26 oC. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan perkembangan umbinya tidak sempurna, sedangkan suhu yang terlalu rendah mengakibatkan tanaman mudah terserang jamur (Ardiansyah 2008). Adapun manfaat dari bawang putih selain sebagai bumbu dapur dapat juga digunakan sebagai obat, diduga karena kombinasi dua senyawa yang ada di dalamnya, yakni alisin dan scordinin. Alisin berfungsi sebagai antibiotik alami yang sanggup membasmi berbagai macam mikroba. Scordinin memiliki kemampuan meningkatkan daya tahan tubuh dan pertumbuhan tubuh. Potensi bawang putih akan sedikit berkurang jika bawang putih dimasak, seperti digoreng. Dengan demikian, pendapat yang menyatakan bahwa khasiat bawang putih akan hilang jika dipanaskan, kurang tepat. Alisin tidak akan hilang, ia hanya tidak tahan terhadap panas. Demikian pula dengan enzim alinase yang ada dalam bawang putih, tidak seluruhnya rusak (Syamsiah dan Tajudin 2003).

Gambar 2. Bawang Putih (Allium sativum Linn) (http://id.wikipedia.org/wiki/Bawang Putih 2008c)

Kunyit (Curcuma domestica Val.) Tanaman kunyit (Curcuma domestica Val.) banyak dibudidayakan sebagai tumbuhan pelengkap bumbu dapur atau obat-obatan. Saat ini kunyit sudah dimanfaatkan secara luas oleh industri makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik dan tekstil. Di dunia kedokteran kunyit dimanfaatkan sebagai bahan baku ramuan obat. Masyarakat saat ini masih percaya akan khasiat dari obat-obatan tradisional. Tanaman ini termasuk suku temu-temuan, terdiri dari 45 genus dan lebih kurang ada 500 spesies. Curcuma berasal dari bahasa Arab kurkum yang berarti kuning. Kelompok tanaman temu-temuan ini mempunyai sel minyak yang sangat halus di seluruh bagian tanaman, higga akar, batang, bunga dan bijinya menghasilkan minyak asiri (Winarto 2003). Menurut Valenton dalam Winarto (2003) taksonomi tumbuhan kunyit dikelompokkan sebagai berikut : Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Zingiberales : Zingiberaceae : Curcuma : Curcuma domestica Val.

Tanaman kunyit tumbuh dengan tinggi 40-100 cm. Batangnya merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8 dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang 12.5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1.5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan (Anonimus 2008d). Rimpang kunyit merupakan obat dalam pengobatan herbal, banyak jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan rimpang kunyit. Kunyit memiliki efek farmakologis melancarkan darah dan vital energi (energi hidup yang dinyatakan berdasarkan pandangan bahwa makhluk hidup memiliki energi yang berbeda dan tidak tunduk pada hukum termodinamika biasa), menghilangkan sumbatan peluruh haid (emmenagogue), antiradang (anti-inflamasi), mempermudah

persalinan, peluruh kentut (carminative), antibakteri, memperlancar pengeluaran empedu (kolagogum) dan pelembab (astringent). Kandungan zat aktif yang terdapat pada rimpang ini juga dapat meningkatkan aktivitas seksual (Winarto 2003). Di bidang peternakan, kunyit dimanfaatkan untuk menambah cerah atau warna kuning kemerahan pada kuning telur. Di samping itu, jika dicampurkan pada ransum, dapat menghilangkan bau kotoran dan menambah berat badan ayam. Dalam bidang keamanan pangan, minyak asiri kunyit, memberikan efek antimikroba, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengawetkan makanan. Minyak asiri terbukti bersifat membunuh (bakterisidal) terhadap bakteri Bacillus cereus, B. subtilis, dan B. megaterium. Selain itu, mampu menghambat pertumbuhan sel vegetatif Bacillus dan menghambat pertumbuhan sporanya. Kunyit juga mampu menghambat perkembangan serangga hama gudang (Sitophilus zeamais). Efek yang ditimbulkannya adalah dalam bentuk daya tolak ( repellent) dan daya pencegah (antifeedant) (Winarto 2003).

Gambar 3. Kunyit (Curcuma domestica Val) (http://id.wikipedia.org/wiki/Kunir 2008d)

Zink (Zn) Zn merupakan unsur anorganik yang tidak dapat dikonversi dari zat gizi lain, oleh karena itu mineral ini mutlak dan harus ada di dalam pakan, walaupun dalam jumlah relatif sedikit. Zn merupakan mineral esensial yang berperan penting pada pembentukan, pertumbuhan dan pemeliharaan sel-sel tubuh. Zn berfungsi sebagai antioksidan dan mampu mencegah terjadinya radikal bebas sehingga proses apoptosis atau kematian sel secara terencana dapat ditekan (Fukamachi et al.1998). Zn adalah mineral penting yang ikut membentuk lebih dari 300 enzim dan protein. Zn terlibat dalam pembelahan sel, metabolisme asam nukleat, dan pembuatan protein. Zn juga membantu kerja beberapa hormon termasuk hormon kesuburan, hormon yang diproduksi oleh kelenjar di otak, tiroid, adrenal, dan timus. Contohnya, hormon timulin di kelenjar timus untuk membuat sel limfosit T hanya akan aktif bila sudah berikatan dengan Zn. Padahal sel-T ini merupakan pasukan sel darah putih yang menunjang daya tahan tubuh (Anonimus 2008e). Daging sisa penjagalan dan tepung ikan merupakan sumber Zn yang baik, meskipun demikian bahan-bahan makanan alam tidak mengandung Zn yang cukup untuk anak ayam dan ayam bibit. Oleh karena itu ZnO dipergunakan untuk suplementasi ransum unggas (Wahju 1985). Absorbsi mineral Zn dipengaruhi oleh ukuran tubuh, kadar mineral Zn dalam ransum serta terdapatnya zat-zat yang dapat mengganggu absorbsi mineral

Zn seperti kalsium, fitat, beberapa zat pengikat (Chelating Agent) dan vitamin D. Zn sangat tersedia bagi tubuh dalam bentuk ZnSO4 (Piliang 2006). Zn berfungsi sebagai antioksidan kuat dan mampu mencegah kerusakan sel serta menstabilkan struktur dinding sel. Zn berperan dalam proses penyembuhan luka dengan cara merangsang pembentukan dan pemindahan sel kulit ke daerah luka. Dosis 150-450 mg/hari pada manusia, menimbulkan efek negatif diantaranya terlihat adanya penurunan status mineral lain seperti tembaga (Cu), perubahan fungsi zat besi, menurunnya daya tahan tubuh, dan rendahnya kadar kolestrol (Anonimus 2008e). Pada anak ayam gejala defisiensi Zn meliputi hambatan pertumbuhan tulang, kaki memendek dan menebal serta pengecilan kelenjar timus. Penelitianpenelitian pada ayam petelur di Universitas Wisconsin memperlihatkan produksi telur menurun akibat defisiensi Zn. Anak ayam yang menderita defisiensi Zn menunjukkan pernafasan yang cepat dan cara bernafas yang berat. Apabila anak ayam tersebut terinfeksi penyakit, gejalanya semakin berat dan sering diakhiri dengan kematian. Anak ayam yang menderita defisiensi Zn dapat ditolong dengan pemberian ZnCl sesudah menetas (Wahju 1985). Keracunan Zn biasanya terjadi karena mengkonsumsi jenis yang bukan berupa pakan seperti koin atau logam yang berlapis seng. Anemia, pertumbuhan terganggu pada anak ayam dan kehilangan berat badan pada ayam dewasa merupakan akibat dari keracunan Zn. Kandungan yang tinggi pada pakan unggas (>2g/kg) menyebabkan produksi telur berhenti (Klasing 2006). Pada ayam broiler, level 1.200 1.400 ppm dalam diet belum menunjukkan gejala sakit tetapi pada level 3.000 ppm ditandai dengan pertumbuhan dan nafsu makan yang menurun (Underwood 1966).

Gambar 4. Zink (Zn) (Anonimus 2008f)

Bursa Fabricius Bursa Fabricius adalah organ limfoepitelial yang terdapat pada unggas, tetapi tidak pada mamalia. Berasal dari pertemuan ektoendodermal sebagai struktur berbentuk bulat, seperti kantong tepat di bagian dorsal kloaka (Tizard 1987). Bursa berkembang secara cepat pada ayam muda dan mencapai ukuran maksimum antara umur 4-12 minggu. Pada umumnya, ayam mengalami regresi bursa dengan cepat setelah 20-24 minggu. Involusi bursa Fabricius dimulai pada umur 14 minggu hingga 5 bulan (Riddle 1987). Kecepatan tumbuh dan regresi bursa Fabricius bervariasi tergantung pada tipe, galur, kondisi ayam dan hormon seks, sedangkan kecepatan tumbuh dan besar bursa pada anak ayam ada hubungannya dengan resistensi terhadap penyakit (Glick 2000). Semakin sering bursa Fabricius membentuk antibodi maka akan menyebabkan deplesi dan pengecilan folikel limfoid sehingga berat relatif bursa menurun (Tizard 1987). Struktur bursa Fabricius adalah permukaan dalamnya terdiri dari lipatan longitudinal (plika) besar dan kecil. Lipatan yang besar mencapai keseluruhan dari panjang lumen bursa sedangkan lipatan yang kecil lebih pendek. Lipatan-lipatan ini terdiri dari folikel bursa dan dibawahnya terdapat matriks jaringan ikat, dari lipatan bursa melalui lumen untuk tiap folikel yang disebut lumen bursa. Lipatan epitel longitudinal dibentuk pada permukaan dalam kantung dan epitel kolumnar menutupi plika berproliferasi dan membentuk pertumbuhan ke arah luar dari pucuk epitel ke dalam lamina propia yang berada dibawahnya (Riddle 1996). Jumlah total lipatan mukosa pada bursa yang matang atau dewasa sekitar antara 10-15 plika (Cross 1987). Unit dasar bursa Fabricius adalah folikel bursa. Folikel berkembang dari interaksi pertumbuhan epitel dan sel mesenkim. Setiap folikel matang terdiri dari medulla dan korteks. Pada pewarnaan umum yaitu hematoksilin eosin bagian korteks mengambil warna lebih kuat dibandingkan medulla, sama seperti kandungannya yang relatif lebih banyak mengandung limfosit kecil. Pucuk epitel dipenuhi oleh sel-sel limfosit yang akhirnya membentuk bagian medulla dari folikel bursa. Tiap folikel dipenuhi oleh satu atau dua sel dan koloni tersebut melakukan proliferasi di dalam folikel. Jumlah total folikel pada bursa yang matang atau dewasa sekitar antara 8000-12000 buah dan 109 sel bursa. Korteks

dan medulla dipisahkan oleh membran basal yang berhubungan dengan permukaan epitel. Permukaan medulla dari membran basal folikularis terdiri dari lapisan sel epitel squamous atau kubus. Stroma jaringan epitel secara ekstensif terdapat di dalam medulla. Akibat kerja dari jaringan ini, kehadiran limfosit dan makrofag sulit untuk dilihat (Riddle 1996 dan Eerola et al. 1987). Bagian korteks terdiri dari sel-sel limfosit, sel plasma dan makrofag; sedangkan bagian medullanya hanya berisi sel limfosit. Sel plasma terbentuk dari diferensiasi sel B (limfosit B) yang menjadi populasi sel yang mempunyai kemampuan menghasilkan sejumlah antibodi dan kemampuan mengenali suatu rentetan partikel yang mempunyai ukuran menengah diantara limfosit dan sel plasma. Sel plasma sebenarnya merupakan sel efektor yang mensekresi immunoglobulin dan menetralisir antigen. Sel plasma kaya akan ribosom yang akan menghasilkan antibodi, aparat golgi yang besar sebagai tempat keluarnya antibodi( Eerola et al. 1987 dan Tizard 1987). Menurut Tizard (1987) bursa Fabricius mempunyai fungsi sebagai tempat pendewasaan dan diferensiasi bagi sel dari sistem pembentuk antibodi. Bursa juga berfungsi sebagai organ limfoid sekunder yaitu dapat menangkap antigen dan membentuk antibodi dan juga mengandung sebuah pusat kecil sel T tepat di belakang lubang salurannya.

Gambar 5. Bursa Fabricius (http://images.google.com/imgres/bursa Fabricius 2008g)

Timus Secara anatomis, timus ayam terletak pada sisi kanan dan kiri saluran pernafasan (trakea). Warnanya pucat kuning kemerah-merahan, bentuknya tidak

teratur dan berjumlah 3-8 lobi pada masing-masing leher. Tiap lobus dihubungkan oleh jaringan ikat dan membentuk suatu untaian yang berjalan dekat dengan vena jugularis (Getty 1975). Besar timus sangat bervariasi, ukuran relatif yang paling besar pada hewan yang baru lahir sedangkan ukuran absolutnya terbesar pada waktu pubertas. Setelah dewasa timus mengalami atrofi dari parenkhima dan korteks diganti oleh jaringan lemak. Timus yang mengalami atrofi cepat merupakan reaksi terhadap stres, sehingga hewan yang mati sesudah menderita sakit yang lama mungkin mempunyai timus yang sangat kecil (Tizard 1987). Timus dikelilingi oleh jaringan ikat yang berupa kapsula yang berhubungan dengan septa tipis yang membaginya secara tidak sempurna menjadi lobulus. Bagian tengah tiap lobulus disebut medulla sedangkan bagian tepinya disebut korteks. Korteks timus paling utama terdiri dari retikulum epitel dan limfosit. Sel epitel stelata memiliki inti lonjong, besar dan pucat dengan penjuluran bercabang panjang yang mengandung banyak filament mikro, dan saling berhubungan kuat melalui desmosom, organel tidak jelas. Sel-sel epitel membentuk balutan berkesinambungan pada tepi lobulus dan sekitar ruang perivaskular. Ini merupakan bagian penting dari barier antara darah dan timus (Dellman 1989). Pada bagian medulla ada beberapa sel-sel epitel retikuler yang memiliki struktur yang sama dengan korteks, meskipun yang lain jauh lebih besar dan keadaan epitel lebih jelas. Medulla lebih banyak mengandung mitokondria, REr (Reticulum Endoplasmic rough) yang lebih ekstensif, dan apparatus golgi, juga butir-butirnya memberikan aktivitas sekresi. Sel-sel epitel medulla khas membentuk benda-benda timus atau benda Nissl, terdiri dari satu atau beberapa sel-sel yang mengalami degenerasi atau berkapur, dikelilingi oleh sel-sel pipih bertanduk dengan susunan konsentris yang mengandung banyak desmosom dan berkas filament mikro. Sel-sel jalinan retikuler adalah limfosit kecil dengan sedikit makrofag (Dellman 1989). Pada hewan umur muda, timus bersifat sangat aktif yang secara normal mengalami involusi menjelang pubertas dan bertambahnya umur. Proses involusi ditandai dengan berkurangnya secara bertahap limfosit terutama di daerah korteks, pembesaran dari sel-sel epitel retikuler dan parenkim diganti oleh sel-sel lemak.

Pada hewan dewasa, timus terdiri dari jalur-jalur tipis parenkim di mana banyak sel-sel retikuler epitel membesar yang dikelilingi jaringan lemak (Dellman 1989). Timus juga menjamin lingkungan dimana sel bibit (stem cells) yang bermigrasi dari sumsum tulang pascanatal berproliferasi serta berdiferensiasi menjadi limfosit T. Proses ini didorong oleh beberapa bahan kimia berupa polipeptida yang dihasilkan oleh sel-sel epitel retikuler, keadaan sebenarnya dari proses ini tidaklah jelas. Limfosit T menjadi bagian darah dengan migrasi melalui endotel venula pascakapiler yang selanjutnya menetap dalam daerah timus dependen dalam organ limfatik. Mereka adalah limfosit umur panjang yang memiliki antigen permukaan (Dellman 1989).

Gambar 6. Timus (Anonimus 2008h)

Penyakit Marek Penyakit Marek disebut juga fowl paralysis, neurolymphomatosis, acute leucosis atau range paralysis. Marek's disease (MD) merupakan suatu penyakit limfoproliferatif pada ayam yang sangat mudah menular dan bersifat adanya pembengkakan atau tumor pada berbagai saraf perifer dan pembentukan tumor limfoid pada berbagai organ visceral, kulit dan otot. Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Dr. Jozsef Marek pada tahun 1907 di Hongaria. MD sering menyerang pada ayam umur antara 8-24 minggu, tetapi dapat juga menyerang pada ayam yang lebih muda maupun yang lebih tua (Tabbu 2000 dan Jahja et al.2006).

Penyakit Marek disebabkan oleh kelompok alfaherpesvirus dengan spesies Gallid herpesvirus 2 yang bersifat highly cell-associated (sangat tergantung pada sel) pada semua jaringan, kecuali pada epitel folikel bulu (Kemaldeep 2007). Beberapa peneliti mengelompokkan berbagai isolat Marek berdasarkan

patogenitasnya ke dalam tiga kelompok, yaitu isolat yang bersifat apatogenik, isolat yang menyebabkan Marek akut, dan isolat yang menyebabkan Marek klasik (Tabbu 2000). Berdasarkan atas kemampuan membentuk tumor, maka berbagai isolat penyakit Marek dapat dikelompokkan menjadi Marek onkogenik yang sangat virulen dan Marek non-onkogenik yang tidak virulen. Di samping itu, ditemukan juga adanya Marek galur varian yang tersifat oleh adanya atrofi bursa Fabricius dan timus, kematian awal tanpa pembentukan tumor dan mortalitas yang tinggi walaupun ayam telah divaksinasi dengan vaksin herpesvirus of turkey (HVT). Virus penyakit Marek varian ini bersifat sangat onkogenik dan dapat menimbulkan mortalitas yang tinggi (Tabbu 2000). Virus MD dapat digolongkan menjadi 3 serotipe, yaitu serotipe 1, meliputi MDV yang bersifat onkogenik/patogenik dan galur virus tersebut yang telah dilemahkan; serotipe 2, meliputi MDV yang bersifat non onkogenik/apatogenik dan serotipe 3, meliputi MDV yang bersifat non onkogenik, yaitu HVT (herpesvirus of turkey). Berdasarkan atas kemampuan dari Herpesvirus untuk menimbulkan lesi MD pada ayam yang telah divaksinasi dengan vaksin HVT atau vaksin gabungan HVT (herpesvirus of turkey) dan MDV (Marek Disease Virus) serotipe 2, maka berbagai isolat MDV serotipe 1 dapat dikelompokkan menjadi 3 tipe patogenik, yaitu MDV virulen (vMDV), very virulent MDV (vvMDV), dan very virulent + MDV (vv + MDV). Disamping itu, terdapat juga tipe patogenik MDV serotipe 1 yang bersifat ringan (mMDV) (Marsh 1995). Masa inkubasi bervariasi antara 3-4 minggu untuk virus yang sangat ganas dan lebih dari beberapa bulan untuk virus yang kurang ganas. Epitel kulit kantung bulu yang mengandung virus menjadi sumber penularan yang utama. Penularan terjadi diantara ayam dengan cara kontak langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung terjadi jika epitel mengandung virus terhisap atau termakan oleh ayam sehat. Kontak tidak langsung terjadi jika epitel yang mengandung virus

mencemari ransum atau air minum. Virus yang ada di tinja, litter atau kumbang (Alphitobius diaperinus) termakan oleh ayam (Jahja et al. 2006). Rute infeksi alami MDV yang terpenting adalah secara inhalasi melalui saluran pernafasan. Bahan yang dihirup biasanya ketombe yang mengandung folikel bulu (Tabbu 2000). Segera setelah infeksi melalui alat pernafasan virus menyebar ke organ limfoid primer bursa Fabricius dan timus. Target pertama diantaranya adalah derivat bursa Fabricius (limfosit B), namun sejumlah derivat timus (limfosit T) juga mengalami infeksi. Selama 3 sampai 6 atau 7 hari pascainfeksi (p.i.) terjadi infeksi sitolisis, dan sering juga terjadi limforetikulitis, dan pembesaran limpa yang disertai nekrosis dan atrofi bursa Fabricius dan timus (Calnek et al. 1998). Infeksi antara MDV dengan sel dapat terjadi dalam 3 bentuk yaitu : infeksi produktif (sitolitik), infeksi laten yang bersifat non produktif dan infeksi transformasi. Infeksi produktif terjadi dalam epitel folikel bulu dan menghasilkan virion yang mempunyai amplop dan bersifat infeksius. Infeksi produktif menyebabkan lisis, pembentukan badan inklusi intranuklear dan nekrosis sel. Infeksi laten yang bersifat non produktif hanya ditemukan dalam limfosit, terutama limfosit T. Sebagian besar limfosit B dapat juga menunjukkan infeksi laten. Pada infeksi laten, genom dari virus telah terbentuk, tapi tidak diekspresikan. Infeksi transformasi dapat ditemukan pada sebagian besar sel yang mengalami transformasi pada tumor limfoid yang disebabkan MD atau sel limfoblasttoid yang berasal dari tumor limfoid. Berbeda dengan infeksi laten, fenotip yang mengalami transformasi pada infeksi transformasi ditandai oleh adanya ekspresi yang terbatas dari genom MDV (Davison 1997, Fadly 1997 dalam Samsi 2008). Dilihat secara mikroskopik komposisi seluler tumor limfoid terdiri dari limfosit pleomorfik yang mengandung limfosit sel blast kecil dan sedang, serta sel MD paling banyak di organ dan jaringan (Jani 1993). Pada infeksi produktif terjadi replikasi DNA virus, sintesis protein dan menghasilkan partikel virus. Virus menginfeksi dan merusak limfosit B maupun limfosit T. Selama infeksi produktif terjadi lisis pada puncak replikasi virus sehingga menyebabkan imunosupresi dan meningkatnya kepekaan terhadap infeksi, bersamaan dengan

turunnya bobot relatif bursa Fabricius dan timus. (Calnek et al. 1997, Payne 1985 dan Islam et al. 2003). Replikasi produktif virus herpes pada bursa Fabricius dan timus menimbulkan imunosupresi transien (sementara) dan perubahan akut sitolitik pada organ ini yang ditandai dengan atrofi. Infeksi eksperimental menyebabkan lesi pada bursa Fabricius dalam bentuk lesi folikuler, nekrosis limfoid sehingga mengalami penipisan dan pembentukan kista. Timus mengalami atrofi dan limfosit hilang baik pada korteks maupun medulla. Badan inklusi intrafolikuler dapat muncul pada sel yang mengalami lesi degeneratif (Fadly 2000 dalam Samsi 2008). Gejala klinik sehubungan dengan MD dapat ditemukan dalam beberapa bentuk, yaitu bentuk akut (viseral), bentuk klasik (saraf, kronis) dan sindrom paralisis sementara. Gejala klinik tipe klasik biasanya berhubungan dengan paresis yang bersifat asimetris dan pada stadium lanjut terjadi paralisis pada satu atau lebih ekstrimitas. Kerusakan hanya terjadi pada susunan saraf tepi, saraf akan membesar dan timbul kelumpuhan. Saraf yang sering terkena adalah saraf ischiadicus di daerah kaki, saraf brachialis di daerah sayap, saraf vagus di daerah saluran pernafasan. Tipe transient paralisis jarang muncul dan dapat ditemukan pada ayam umur 5-18 minggu. Pada ayam yang terserang akan menunjukkan berbagai bentuk ataksia dan paralisis parsial atau paralisi total pada kaki, sayap dan leher (Tabbu 2000). Pada gejala klinik tipe akut, sebagian besar ayam menunjukkan gejala depresi sebelum mati. Sejumlah ayam dapat mati mendadak tanpa adanya gejala tertentu. Beberapa hari setelah timbulnya gejala depresi, sejumlah ayam menunjukkan ataksia, yang berlanjut menjadi paralisis unilateral atau bilateral pada ekstremitas (kaki dan sayap). Beberapa ayam dapat juga mengalami dehidrasi, emasiasi dan koma (Tabbu 2000). Perubahan patologi pada MD dapat dilihat melalui lesio makroskopis dan mikroskopis. Pada mikroskopis akan terlihat perubahan patologis anatomi pada saraf perifer atau organ dalam. Pada saraf, akan tampak membesar, menebal, berwarna keabu-abuan, striata berkurang dan edematous. Pada bursa Fabricius secara perlahan mengalami pengecilan dan kadang-kadang terjadi pembentukan

tumor (Retno et al. 1998). Pada awalnya, penyakit ini ditandai oleh proliferasi selsel limfoid yang menjadi progresif pada sejumlah kasus tetapi mengalami regresi pada kasus lainnya. Pada MD bentuk klasik, perubahan regresi lebih sering terjadi dibandingkan dengan MD akut, yang biasanya menyebabkan proliferasi sel-sel limfoid yang mengakibatkan pembentukan tumor pada berbagai organ. Pada bursa Fabricius dan timus herpesvirus yang bersifat produktif akan bereplikasi dan menghasilkan perubahan degeneratif pada kedua organ tersebut. Bursa Fabricius dapat menunjukkan adanya atrofi korteks dan medulla, nekrosis, pembentukan kista dan proliferasi sel-sel limfoid yang bersifat interfolikular. Replikasi virus herpes yang bersifat produktif di dalam bursa Fabricius dan timus dapat menimbulkan perubahan degeneratif pada kedua organ tersebut. Kadangkadang atrofi pada timus bersifat berat dan meliputi korteks dan medulla. Pada sejumlah kasus terdapat daerah tertentu pada timus yang terdiri atas sel limfoid yang berproliferasi (Calnek et al. 1998). Menurut Tabbu (2000) diagnosis klinis MD di lapangan sulit untuk dilakukan, karena adanya perubahan yang non spesifik pada MD. Selain itu, lesio yang disebabkan oleh MD sangat mirip dan erat kaitannya dengan penyakit Lymphoid Leukosis (LL). Pada tahap infeksi virus Marek, tidak selalu memperlihatkan gejala klinis penyakit, sehingga sulit untuk mendeteksi keberadaan virus ini. Akan tetapi MD dapat diidentifikasi dengan menggunakan isolat virus atau agar prescipitation test pada antigen virus yang berasal dari bulu ayam atau antibodi serum.

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli 2007 - Juni 2008. Pemeliharaan ayam broiler di mulai dari bulan Juli 2007 sampai September 2007 di kandang B Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pengamatan histopatologi di mulai dari bulan Maret 2008 Juni 2008 di Bagian Patologi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Materi Penelitian 1. Ayam Broiler Penelitian menggunakan 100 ekor ayam broiler strain Ross 1 Super Jumbo 747 diproduksi oleh PT. Cibadak Nusa Indah Sukabumi berumur satu hari ( day old chick). Ayam broiler ini terinfeksi virus Marek secara alami.

2. Perlakuan Kunyit dan Bawang Putih Serbuk kunyit dan bawang putih diperoleh melalui serangkaian proses, pertama dilakukan pencucian kunyit segar hingga bersih dari tanah yang melekat, kemudian ditiriskan dan diiris-iris tipis. Pada bawang putih dilakukan pengupasan kulit luar dan juga diiris tipis. Irisan kunyit dan bawang putih yang telah dilapisi dan ditutup plastik hitam, dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Kunyit dan bawang putih yang telah kering digiling untuk dibuat serbuk agar mudah tercampur dengan bahan pakan dan siap digunakan sesuai level pada perlakuan.

3. Pakan Pakan yang digunakan dalam penelitian disusun secara iso-protein dan isoenergi. Pakan yang telah disusun dicampur dengan serbuk kunyit, serbuk bawang putih dan penambahan mineral zink dalam bentuk ZnO. Pakan diberikan sejak awal pemeliharaan ayam. Adapun macam dari kombinasi ransum perlakuan adalah sebagai berikut : R0 = Pakan basal (kontrol) R1 = Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5%

R2 = Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + ZnO 120 ppm R3 = Pakan basal + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm R4 = Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm Tabel 1. Komposisi ransum penelitian Bahan Makanan R0 R1 R2 % 51 3 5,5 12 26.3 1 R3 R4

Jagung Dedak Minyak Tepung ikan Bungkil kedelai CaCO3

51 3 5,5 12 26.3 1

51 3 5,5 12 26.3 1

51 3 5,5 12 26.3 1 0.5 0.5 0.1 0.1 100 1.5 0 0.012

51 3 5,5 12 26.3 1 0.5 0.5 0.1 0.1 100 1.5 2.5 0.012 3215.04 23.50 3.39 9.11 1.22 0.45 1.49 0.56 0.0038

DCP 0.5 0.5 0.5 Premiks 0.5 0.5 0.5 Lysin 0.1 0.1 0.1 Methionin 0.1 0.1 0.1 Total 100 100 100 Kunyit 0 1.5 0 Bawang putih 0 2.5 2.5 ZnO 0 0 0.012 Kandungan zat makanan berdasarkan perhitungan : Energi Metabolisme (kkal/kg) Protein kasar (%) Serat kasar (%) Lemak kasar (%) Ca (%) P tersedia (%) Lysin (%) Methionin (%) Zink (%)

4. Bahan dan Alat Penelitian ini menggunakan sampel dari organ ayam broiler yaitu bursa Fabricius dan timus. Bahan yang digunakan adalah buffer netral formalin (BNF) 10%, paraffin, xylol, alkohol 70%, alkohol 80%, alkohol 90%, alkohol 95%, alkohol absolut, lithium karbonat, mayer hematoxylin, eosin, aquades dan lem entelan. Alat yang digunakan adalah alat bedah, cassette, basket, mikrotom, pemanas air, inkubator dengan suhu 53.6oC, tissue prosesor, gelas objek, gelas penutup, mikroskop, mikroskop cahaya dan video mikrometer.

Metoda Penelitian 1. Pelaksanaan Penelitian Sebanyak 100 ekor DOC dibagi secara acak kedalam lima perlakuan, masing-masing perlakuan terdiri dari empat ulangan. Selama penelitian ayam broiler dipelihara dalam kandang beralaskan sekam padi dengan ukuran 1 x 1 m2 yang diisi sebanyak 5 ekor DOC selama 5 minggu. Vaksin ND I diberikan saat ayam berumur 4 hari melalui tetes mata, vaksin gumboro diberikan saat ayam berumur 10 hari melalui air minum dan vaksin ND II diberikan saat ayam berumur 21 hari melalui mulut (cekok).

2. Pembuatan Preparat Histologi Kadaver ayam yang digunakan untuk penelitian diamati kelainan patologinya secara makroskopis. Organ-organ yang akan diperiksa lebih lanjut dipisahkan dan diberi larutan formalin untuk mencegah pembusukan serta diberi kode protokol. Sampel jaringan dipotong kecil dan dimasukkan ke dalam tissue cassette untuk dilakukan proses dehidrasi di dalam seri larutan alkohol dengan konsentrasi bertingkat selama 2 jam, kemudian dijernihkan didalam xylol I, II, III yang masing-masing selama 40 menit dan di embedding dalam paraffin I, II, III dan IV masing-masing selama 30 menit. Organ yang telah berbentuk blok paraffin dipotong dengan menggunakan mikrotom dengan ketebalan 5 m, kemudian hasil potongan dimasukkan ke dalam air yang telah dipanaskan dengan suhu 40oC dan diletakkan pada gelas objek,

proses peletakkan harus cermat dan hati-hati supaya tidak ada rongga udara yang akan menghalangi organ yang akan dilihat. Bila proses peletakkan preparat sudah tepat, kemudian dilakukan pengeringan dan diberi kode protokol pada preparat tersebut dan dimasukkan kedalam inkubator dengan suhu 53.6 oC minimal 2 jam atau maksimal 1 hari. Setelah itu dapat dilakukan pewarnaan pada preparat yang ada.

3. Pewarnaan Preparat Histologi Pewarnaan HE (Hematoxilin dan Eosin) diawali dengan proses deparafinisasi menggunakan xylol I dan II masing-masing selama 2 menit untuk melarutkan paraffin dari jaringan. Kemudian dilanjutkan dengan proses rehidrasi dengan menggunakan alkohol absolut, alkohol 95% dan alkohol 80% secara berurutan masing-masing selama 2 menit dan dicuci dengan air mengalir. Sediaan diwarnai dengan pewarnaan hematoksilin selama 8 menit, dibilas dengan air mengalir, dicuci dengan lithium karbonat selama 15-30 detik, kemudian dibilas dengan air mengalir dan akhirnya dengan eosin 2-3 menit. Setelah itu sediaan dicuci dengan air mengalir untuk membersihkan warna eosin yang berlebihan, lalu dikeringkan. Sediaan dimasukkan ke dalam alkohol 90%, alkohol absolut I masing-masing selama 10 kali celupan, alkohol absolut II selama 2 menit, xylol I selama 1 menit dan xylol II selama 2 menit. Akhirnya sediaan ditetesi dengan perekat dan ditutupi dengan gelas penutup dan selanjutnya siap diperiksa dibawah mikroskop.

4. Pengamatan Histopatologi Bursa Fabricius dan Timus Pengamatan jumlah folikel limfoid bursa Fabricius yang mengalami deplesi dan atrofi menggunakan mikroskop dengan perbesaran 4x dan 10x. Pengamatan pada organ ini dilakukan sebanyak lima plika yang dipilih secara acak tiap preparatnya. Pada pengamatan struktur bursa Fabricius dan timus menggunakan mikroskop cahaya yang dihubungkan dengan video mikrometer berskala m, dengan pembesaran objektif 4x. Pengukuran diameter bursa Fabricius dilakukan sebanyak tiga plika yang dipilih secara acak tiap preparatnya, sedangkan pengukuran tebal korteks dan diameter medulla pada timus dilakukan

sebanyak tiga lobulus tiap preparatnya yang dipilih secara acak. Hasil pengamatan tersebut selanjutnya dievaluasi.

5. Analisis Data Data histopatologi yang didapatkan dianalisa menggunakan Analisa Ragam (Analysis of Variance / ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (Duncans Multiple Range Test). Parameter yang dianalisa adalah persentase deplesi folikel limfoid, ukuran diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius, serta ukuran tebal korteks dan diameter medulla pada timus. Persentase atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius dianalisa secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deplesi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius Bursa Fabricius adalah organ tempat pendewasaan dan diferensiasi sel limfosit B yang berperan untuk memberi reaksi terhadap benda asing atau antigen yang masuk kedalam tubuh. Deplesi pada bursa Fabricius merupakan suatu keadaan dimana jumlah sel limfoid pada folikel limfoid berkurang yang ditunjukkan dengan kerenggangan sel-sel limfoid dalam tiap folikel sebagai akibat adanya infeksi virus Marek. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan histopatologi pada bursa Fabricius yang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Persentase rataan deplesi folikel limfoid pada bursa Fabricius Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Persentase Deplesi (%) 21.40 12.82ab 25.70 18.80 b 25.90 11.76 b 26.00 14.28 b 13.30 12.40 a

Keterangan : Nilai dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05) R0 : Pakan basal (kontrol) R1 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% R2 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + ZnO 120 ppm R3 : Pakan basal + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm R4 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120ppm

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa R1 (25.70 18.80), R2 (25.90 11.76), R3 (26.00 14.28), dan R4 (13.30 12.40) dibandingkan dengan R0 (21.40 12.82) tidak berbeda nyata. Persentase deplesi yang paling tinggi diantara kelima perlakuan tersebut adalah R3 (26%), dan persentase deplesi yang paling rendah adalah R4 (13.30%). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 7.

30 25
Deplesi (%)

20 15 10 5 0 R0 R1 R2 Perlakuan R3 R4 deplesi (%)

Gambar 7. Persentase rataan deplesi folikel limfoid pada bursa Fabricius

Tingginya tingkat deplesi R3 pada bursa Fabricius disebabkan oleh infeksi virus Marek. Hal ini sesuai dengan Nakamura et al. (1986) dan Tizard (1987) yang menyatakan bahwa bursa Fabricius akan membentuk antibodi sebagai

sistem kekebalan humoral terhadap infeksi virus Marek, sehingga terjadi mobilisasi sel limfosit B ke organ yang mengalami peradangan. Hal tersebut menyebabkan deplesi dan pengecilan folikel limfoid. Persentase deplesi pada R0, R1 dan R2 jika dibandingkan dengan R3 hampir sama. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat infeksi yang terjadi pada keempat perlakuan sama yaitu pada tahap infeksi sitolitik (produktif) awal. Selaras dengan pernyataan Tabbu (2000) yang menyatakan bahwa pada tahap infeksi sitolitik terjadi penekanan sistem kekebalan tubuh secara permanen yang ditandai dengan banyaknya folikel limfoid yang mengalami deplesi pada bursa Fabricius. Tingkat keparahan deplesi dipengaruhi oleh jumlah sel yang mengalami nekrosa. Umumnya deplesi folikel bursa terjadi karena nekrosis sel-sel limfosit B akibat kejadian imunosupresif (Tabbu 2000). Semakin sering organ ini membentuk antibodi, maka akan menyebabkan deplesi dan pengecilan folikel limfoid sehingga persentase berat bursa Fabricius menurun. Deplesi folikel limfoid pada bursa Fabricius dapat menjadi faktor yang menunjukkan perubahan dan tingkat kerusakan dari organ ini (Glick 1956, Tizard 1987 dalam Bunawan 2003).

D D

Gambar 8. Deplesi folikel limfoid bursa Fabricius (D) Kelompok R0 (HE, bar : 100 m)

Atrofi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius Atrofi adalah penyusutan atau mengecilnya suatu alat tubuh atau jaringan yang menjadi lebih kecil dari bentuk normalnya. Atrofi dapat juga disebabkan oleh infeksi virus Marek yang bereplikasi pada bursa Fabricius dan timus sehingga kedua organ tersebut mengalami perubahan degeneratif. Adapun perubahan yang terjadi pada bursa Fabricius adalah atofi pada korteks dan medulla, nekrosis, pembentukan kista, dan proliferasi sel-sel limfoid (Tabbu 2000).

Tabel 3. Persentase rataan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Persentase Atrofi (%) 4.9 26.7 1.9 18.4 55.6

Keterangan : R0 : Pakan basal (kontrol) R1 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% R2 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + ZnO 120 ppm R3 : Pakan basal + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm R4 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm

60 50
Atrofi (%)

40 30 20 10 0 R0 R1 R2 Perlakuan R3 R4 Atrofi

Gambar 9. Persentase rataan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase atrofi yang paling rendah terdapat pada R2 yaitu 1.9%. Pada R2 terdiri dari serbuk bawang putih 2.5% dan ZnO 120 ppm. Rendahnya persentase atrofi ini mungkin disebabkan oleh serbuk bawang putih yang mengandung scordinin. Senyawa scordinin memiliki kemampuan meningkatkan daya tahan tubuh dan pertumbuhan tubuh. Disamping itu, Zn berfungsi sebagai antioksidan kuat dan mampu mencegah kerusakan sel, menstabilkan struktur dinding sel serta meningkatkan daya tahan tubuh. Zn juga berfungsi mencegah terjadinya radikal bebas sehingga proses apoptosis atau kematian sel secara terencana dapat ditekan (Fukamachi et al.1998). Menurut Pond et al. (2005) Zn juga memiliki pengaruh terhadap imunitas dan dapat meningkatkan aktivitas sel limfoid. Persentase atrofi yang paling tinggi terdapat pada R4 yaitu 55.6%. Atrofi ini diakibatkan oleh adanya infeksi produktif virus Marek terhadap bursa Fabricius ayam sehingga menyebabkan terjadinya atrofi bursa dan imunosupresi. Hal ini sesuai dengan penelitian Murtini (2006) yang menyatakan bahwa pada infeksi produktif, virus melakukan perusakan limfosit B, sehingga mengakibatkan imunosupresi sementara yang ditandai dengan berkurangnya sel limfosit aktif dan menurunnya bobot relatif organ, kemudian terjadi atrofi pada bursa Fabricius. Virulensi MDV mengalami peningkatan seiring berjalannya waktu. Infeksi virus secara umum menjadi lebih akut dan lebih bervariasi dalam kejadian secara alami dan spektrum penyebaran pada inang. Pada R4 persentase deplesinya lebih rendah dibandingkan dengan persentase atrofi. Hal ini disebabkan oleh infeksi

virus Marek telah mencapai tahap infeksi sitolitik (produktif) akhir yang ditandai dengan banyaknya folikel limfoid yang mengalami atrofi. Selaras dengan pernyataan Samsi (2008) akhir infeksi sitolitik menyebabkan lisis sel limfosit, pembentukan badan inklusi intranuklear dan nekrosis sel, sehingga terjadi atrofi pada bursa Fabricius.

Gambar 10. Atrofi folikel limfoid bursa Fabricius (A) Kelompok R4 (HE, bar : 100 m)

Diameter Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius Kecepatan tumbuh dan regresi bursa Fabricius bervariasi tergantung pada tipe, galur, kondisi ayam dan hormon seks (Glick 2000). Pertumbuhan bursa terjadi secara cepat pada ayam muda dan mencapai ukuran maksimum antara umur 4-12 minggu. Regresi organ ini terjadi secara lengkap pada saat ayam mencapai kematangan seksual setelah 20-24 minggu (Riddel 1987). Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa R1 (258.47 84.11) dan R2 (236.76 70.89) berbeda nyata dibandingkan dengan R0 (283.39 71.94), sedangkan R3 (284.34 85.12) dan R4 (296.99 104.14) jika dibandingkan dengan R0 (283.39 71.94) tidak berbeda nyata. Pada Gambar 11 menunjukkan bahwa R4 mempunyai ukuran diameter yang paling tinggi yaitu 296.99 104.14.

Tabel 4. Rataan diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Diameter Folikel Limfoid (m) 283.39 71.94c 258.47 84.11b 236.76 70.89a 284.34 85.12c 296.99 104.14 c

Keterangan : Nilai dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05) R0 : Pakan basal (kontrol) R1 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% R2 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.55 + ZnO 120 ppm R3 : Pakan basal + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm R4 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm

Pertambahan ukuran diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius disebabkan adanya proliferasi sel B dalam folikel tersebut sebagai indikasi adanya respon imun humoral terhadap infeksi virus Marek. Hal ini selaras dengan yang dikemukakan oleh Padmasari (2007) yang menyatakan bahwa pertambahan ukuran bursa Fabricius disebabkan oleh infeksi produktif virus Marek yang menginduksi terjadinya imunosupresif yang bersifat sementara. Saat infeksi produktif berakhir , maka akan dilanjutkan menjadi infeksi proliferatif yaitu proliferasi sel-sel limfosit menjadi sel tumor.

350 300
U kuran (m ikrom eter)

250 200 diameter 150 100 50 0 R0 R1 R2 Perlakuan R3 R4

Gambar 11. Rataan diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius

Jika dari kelima perlakuan tersebut dibandingkan dengan diameter ukuran normal bursa Fabricius yaitu 201.47 5.94 m pada umur 6 minggu (Padmasari 2007), maka semua perlakuan mengalami pertambahan ukuran diameter yang disebabkan oleh infeksi virus Marek, sehingga sel-sel limfosit mengalami proliferasi yang akhirnya menjadi sel tumor. Diameter folikel limfoid yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan kontrol adalah R2 yaitu 236.76 70.89. Hal ini mungkin disebabkan kombinasi antara serbuk bawang putih 2.5% dengan ZnO 120 ppm dapat menekan pertumbuhan tumor pada folikel bursa Fabricius. Dimana pada bawang putih terdapat senyawa alisin yang mengandung organosulfida yang berfungsi menghambat pertumbuhan tumor dan memiliki khasiat sebagai antikarsinogen. Proses antikarsinogen oleh alisin yang mengandung organosulfida adalah menghambat secara langsung metabolisme sel tumor atau menghambat munculnya detoksikasi karsinogen dengan meningkatnya glutathione S-tranferase atau memodulasi respon imun inang (Nangpurkar et al. 1998). Disamping itu Zn juga berfungsi mencegah kerusakan sel, menstabilkan struktur dinding sel dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Tebal Korteks dan Diameter Medulla pada Timus Timus merupakan organ pertama yang memperlihatkan adanya limfosit selama perkembangan embrionik. Pada mamalia timus dikenal sebagai organ limfatik primer, sedang lainnya sebagai organ limfatik sekunder (Dellman 1989). Besar timus sangat bervariasi, ukuran relatif yang paling besar pada hewan yang baru lahir sedangkan ukuran absolut terbesar pada waktu pubertas. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pada tebal korteks R1 (577.17 163.04), R3 (481.83 110.07), dan R4 (436.83 102.64) tidak berbeda nyata dibandingkan dengan R0 (516.00 52.76), sedangkan R2 (344.00 229.17) jika dibandingkan dengan R0 (516.00 52.76) berbeda nyata.

Tabel 5. Rataan tebal korteks pada timus Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Tebal Korteks (m) 516.00 52.76bc 577.17 163.04c 344.00 229.17a 481.83 110.07 bc 436.83 102.64 ab

Keterangan : Nilai dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0.05) R0 : Pakan basal (kontrol) R1 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% R2 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.55 + ZnO 120 ppm R3 : Pakan basal + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm R4 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm

Dari Tabel 5 terlihat bahwa R1 (577.17 163.04) ukuran tebal korteksnya lebih besar dibandingkan dengan R0 (516.00 52.76), sedangkan pada R2 (344.00 229.17) ukuran tebal korteksnya lebih kecil dibandingkan R0 sebagai kontrol.

700 600
Tebal Korteks

500 400 Korteks 300 200 100 0 R0 R1 R2 Perlakuan R3 R4

Gambar 12. Rataan tebal korteks pada timus

Tabel 6. Rataan diameter medulla pada timus Perlakuan R0 R1 R2 R3 R4 Diameter Medulla (m) 627.00 155.10a 677.83 248.41a 673.50 233.23a 527.33 142.42a 529.83 176.76a

Keterangan : Nilai dengan huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata R0 : Pakan basal (kontro) R1 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% R2 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.55 + ZnO 120 ppm R3 : Pakan basal + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm R4 : Pakan basal + serbuk bawang putih 2.5% + serbuk kunyit 1.5% + ZnO 120 ppm

Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa R1 (677.83 248.41), R2 (673.50 233.23), R3 (527.33 142.42) dan R4 (529.83 176.76) jika dibandingkan dengan R0 (627.00 155.10) tidak berbeda nyata. Ukuran diameter medulla yang lebih besar dari R0 adalah R1 (677.83 248.41) dan yang lebih kecil dari R0 adalah R3 (527.33 142.42).

800 700
Diam eter Med u lla

600 500 400 300 200 100 0 R0 R1 R2 Perlakuan R3 R4 Medulla

Gambar 13. Rataan diameter medulla pada timus

Pada Gambar 12 dan Gambar 13 menunjukkan bahwa ukuran tebal korteks dan diameter medulla yang lebih besar adalah R1 yaitu 577.17 163.04 dan 677.83 248.41. Hal ini dikarenakan infeksi virus Marek yang menyebabkan proliferasi sel-sel limfosit yang kemudian akan menjadi sel tumor, sehingga

ukuran timus menjadi lebih besar. Sesuai dengan pernyataan Tabbu (2000) yang menyatakan bahwa penyakit Marek ditandai dengan adanya tumor limfoid pada satu atau lebih organ viseral salah satunya adalah timus. Organ yang terserang biasanya ukurannya akan lebih besar beberapa kali dari ukuran normal. Virus yang masuk melalui saluran pernafasan akan bereplikasi di paru-paru kemudian diikuti replikasi di organ limfoid. Infeksi bersifat lisis pada makrofag dan sel B, menyebabkan aktivitas sel T yang menjadi target utama virus. Sel T kemudian ditransformasikan oleh virus untuk membentuk tumor pada beberapa organ viseral salah satunya adalah timus dalam waktu 2-3 minggu setelah infeksi (Ross 1999 dalam Syah 2005). Pada R3 dan R4 ukuran tebal korteks lebih kecil dibandingkan dengan R0, tetapi secara statistik dan secara klinis R3 dan R4 tidak berbeda nyata atau tidak mengalami perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan R0, sehingga pemberian herbal dan Zn pada R3 dan R4 tidak berpengaruh terhadap perubahan ukuran tebal korteks pada timus. Ukuran tebal korteks yang lebih kecil dibandingkan kontrol adalah R2 (344.00 229.17) sedangkan ukuran diameter medulla yang lebih kecil dari kontrol adalah R3 (527.33 142.42). Kombinasi ransum kedua perlakuan tersebut sama-sama mengandung ZnO 120 ppm, dimana Zn memiliki pengaruh terhadap imunitas dan dapat meningkatkan aktivitas sel limfoid (Pond et.al 2005). Zn juga berfungsi mencegah kerusakan sel dan menstabilkan struktur dinding sel serta berfungsi mencegah terjadinya radikal bebas sehingga proses apoptosis atau kematian sel secara terencana dapat ditekan (Fukamachi et al.1998).

Korteks Medulla

100 m
Gambar 14. Korteks dan medulla timus pada kelompok R0 (HE, bar : 100 m)

Pada Tabel 5 dan Tabel 6 terlihat bahwa ukuran medulla lebih besar dari ukuran korteks. Hal ini menunjukkan bahwa timus mengalami atrofi akibat dari infeksi virus Marek. Selaras dengan pernyataan Tabbu (2000) yang mengatakan bahwa penyakit Marek akan menimbulkan efek imunosupresif sebagai akibat langsung dari infeksi sitolitik pada limfosit. Efek Imunosupresif berhubungan dengan adanya limfoblas yang mengalami transformasi yang mengakibatkan gagalnya pembentukan limfosit B dan T sehubungan dengan adanya infeksi sitolitik. Hal ini akan mengakibatkan atrofi pada timus yang biasanya ditemukan pada ayam yang mati akibat Marek.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 1. Infeksi virus Marek dapat menyebabkan terjadinya deplesi dan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius dan timus. 2. Pemberian kombinasi serbuk bawang putih 2.5% dan ZnO 120 ppm dapat mengurangi terjadinya deplesi dan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius dan timus.

Saran Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai dosis kombinasi bawang putih, kunyit, dan Zn untuk mencegah penyakit Marek pada ayam.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah. 2008. Bawang Putih. www.medikaholistik.com. [26 Februari 2008]. Anonimus. 2008c. Bawang Putih. http://id.wikipedia.org/wiki/Bawang Putih. [26 Februari 2008]. ________. 2008d. Kunir. http://id.wikipedia.org/wiki/kunir. [26 Februari 2008]. ________. 2008g. Bursa Fabrisius. http://images.google.com/imgres/bursa fabrisis. [2 Juli 2008]. ________. 2008h. Timus. http://images.google.co.id/images?um=1&hl=id&q=thymus&btnG=Cari+ Gambar. [2 Juli 2008]. ________. 2008e. Suplementasi Zink untuk Cegah Infeksi. http://www.dechacare.com/Suplementasi-Zink-untuk-Cegah-InfeksiI42.html. [8 Juli 2008]. ________. 2008f. Zink. http://www.feedindustrynetwork.com/uploadedImages/FeedInternational/ Cabinetmaker_Articles/0609FMtrace2.jpg. [8 Juli 2008]. ________. 2008a. Ayam. http://encyclopedia.thefreedictionary.com/gallus+gallus+domesticus.[9 Juli 2008]. ________. 2008b. Ayam. http://id.wikipedia.org/wiki/Ayam. [9 Juli 2008]. Bunawan A. 2003. Pengaruh Ekstrak Batang Benalu Teh (Scurrula oortiana) terhadap Perkembangan Folikel Limfoid Bursa Fabricius pada Embrio Telur Tertunas [skripsi]. Bogor : Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Calnek BW, Witter RL. 1997. Mareks Disease. Di dalam Calnek FW, Barnes HJ, Beard CW, McDougald LR, Saif YM, editor. Disease of Poultry. Ed 10 th. Ames : Iowa State University Press. hlm : 369-400. Calnek BW, Harris RW, Buscaglia C, Schat KA and Lucio B. 1998. Relationship Between The Immunosuppressive Potential and The Pathotype of Marek's Disease Virus Isolate. Journal of Avian Disease 42 : 124-132.

Coss GM. 1987. Proceeding of Workshop on Avian Histopathology. Aus. Vet. Poultry Association. hlm : 123. Dellman B. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner I. Penerjemah Hartono,R. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia. Didinkaem. 2008. Ayam Broiler. http://www. guide. halal. com. [8 juli 2008]. Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2000. Budidaya Ayam Ras Pedaging. Jakarta.

Eerola E, Veromma T, Toivanen P. 1987. Special Features in The Structural Organization of The Avian Lymphoid System. Avian Immunology : Basic and Practice. Boca Raton : CRC Pr. hlm : 9-21. Fukamachi. Y, Karasak Y, Sugiura T, Itoh H, Abe T. 1998. Zinc suppreses apoptosis of U937 cells induc by hydrogen peroxide trough an increase of Bcl-2/Bax ratio. Biochem Biophys Res Commun 19 : 364-369. Getty R.1975. Sisson and Grossmans. The Anatomy of Domestic Animals. 5th Edition W.B. Saunders Company, Philadelphia. Glick B. 2000. Immunophysiology. Di dalam : Whittow GC, editor. Sturkies Avian Physiology. Edisi ke-5. London : academic Press. hlm 658-659. Islam SM, Murphy TJ, Thai SNM, Eichman A, Alva an JA. 2003. Selective Binding of Lectins to Embryonic Chicken Vasculature. Journal of Histochemitrstry and Cytochemistry 51: 597-604. Jahja J, Lilis L, Nur F, T Murwijati, Tatik S. 2006. Penyakit-penyakit Penting Pada Ayam. Jakarta. Jani PB, Ghodasara DJ, Khanna K and Prajapati KS. 1993. Pathological and Serological Studies on Natural Outbreaks of Acute (Visceral) Marek's Disease in Chicken. Indian Vet Journal 108-112. Klasing KC. 2006. Comparative Avian Nutrition. United Kingdom. CAB International. Kemaldeep, Sharma PC, Jindal N, Narang G. 2007. Occurence of Mareks Disease in Vaccinated Poultry Flocks of Haryana (India). International Journal of Poultry Science 6 (5) : 372-377. Marsh JD, Bacon LD and Fadly AM. 1995. Effect of Serotype 2 and 3 Marek's Disease Vaccines on the Development of Avian Leukosis Virus-Induced Pre-neoplastic Bursal Follicles. Journal of Avian Disease 39: 743-751.

Murtini S. 2006. Kajian Ekstrak Benalu Teh (Scurrula oortiana) pada Ayam Petelur yang Diinfeksi Virus Marek : Kajian Histopatologi Folikel Bursa Fabricius [skripsi]. Bogor : Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Nakamura K, Imada Y, Maeda M.1986. Lymphocyte Depleton of Bursa of Fabricius and Thymus in Chickens Inoculated with Escherichia coli. Vet. Pathol. 23 : 712-717. Nangpurkar A, Peschell J, Holub BJ. 1998. Herbs, Botanicals, and Teas. New York. North. 1984. Commercial Chickens Production Manual. 3 nd edition. The Avi Publishing Co Inc. Wesport Connenticut. Padmasari SP. 2007. Penggnaan Ekstrak Benalu Teh (Scurrula oortiana) pada Ayam Petelur yang Diinfeksi Virus Marek : Kajian Histopatologi Folikel Bursa Fabricius [skripsi]. Bogor : Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Payne LN. 1985. Mareks Disease. Boston : Martinus Nijhoff Publishing. Piliang, WG. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume II. Bogor : IPB Press. Pond WG, Church DC, Pond KR, Schoknecht PA. 2005. Basic Animal Nutrition and Feeding . 5 th edition. United States of America : Wiley. Rasyaf M. 1985. Beternak Ayam Pedaging. PT. Penebar Swadaya. Jakarta. Retno FD, Jahja J and Suryani R. 1998. Penyakit-penyakit Penting pada Ayam. Bandung : Medion. Riddle C. 1987. Avian Histopathology. American Association of Avian Pathologists, Inc. Pennsylvania. Riddle C. 1996. Avian Histopathology. 2 nd . American Association of Avian Pathologists, Inc. Canada. Samsi M. 2008. Imunitas Tubuh. http://www.damandiri.or.id/file/muhamadsamsiipbbab2.pdf. [8 Juli 2008]. Scott ML, Nesheim dan Yaoung RJ. 1982. Nutrition of the Chicken. M L Scott and Associates, Ithaca. New York. Syah IF. 2005. Kajian Histopatologi Organ Hati, Limpa, Proventikulus dan Jantung pada Ayam Petelur yang Diinfeksi Virus Marek [skripsi]. Bogor : Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Syamsiah IS dan Tajudin. 2003. Khasiat dan Manfaat Bawang Putih Raja Antibiotik Alami. Jakarta : Agromedia Pustaka. Tabbu CR. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya (Penyakit Bakterial, Mikal dan Viral) Volume I. Yogyakarta : Kanisius. Tizard IR. 1987. Pengantar Imunologi Veteriner. Penerjemah Soehardjo H. Bogor : Airlangga University Press. Wahju J. 1985. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Winarto WP. 2003. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta : Agromedia Pustaka. Underwood EJ. 1966. The Mineral Nutrition of Livestock. Australia : The Central Press.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Analisa data rataan deplesi folikel limfoid pada bursa Fabricius
Analisa Sidik Ragam (ANOVA) untuk Rataan Deplesi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius

Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 2397,840 19261,000 21658,840 df 4 95 99

Mean Square 599,460 202,747 F 2,957 Sig. ,024

Uji Duncan untuk Rataan Deplesi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius

Subset for alpha = .05 Perlakuan R4 R0 R1 R2 R3 Sig. N 20 20 20 20 20 ,075 a 13,3000 21,4000 21,4000 25,7000 25,9000 26,0000 ,359 b

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a Uses Harmonic Mean Sample Size = 20,000.

Lampiran 2. Analisa data rataan atrofi folikel limfoid pada bursa Fabricius
Analisa Sidik Ragam (ANOVA) untuk Rataan Atrofi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius

Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 5357,200 15253,550 20610,750 df 4 95 99

Mean Square 1339,300 160,564 F 8,341 Sig. ,000

Uji Duncan untuk Rataan Atrofi Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius

Perlakuan

N a

Subset for alpha = .05 b ,3500 ,6500 4,5500 4,5500 9,6500 20,0500 ,328 ,206 1,000 c

R2 R0 R3 R1 R4 Sig.

20 20 20 20 20

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a Uses Harmonic Mean Sample Size = 20,000.

Lampiran 3. Analisa data diameter folikel limfoid pada bursa Fabricius


Analisa Sidik Ragam (ANOVA) untuk Diameter Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius

Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 458407,878 7071674,301 7530082,180 df

Mean Square 4 114601,970 964 968 7335,762 F 15,622 Sig. ,000

Uji Duncan untuk Diameter Folikel Limfoid pada Bursa Fabricius

Perlakuan

N a

Subset for alpha = .05 b c

R2 R1 R0 R3 R4 Sig.

183 204 147 204 231

236,7596 258,4706 283,3946 284,3431 296,9870 1,000 1,000 ,146

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a Uses Harmonic Mean Sample Size = 189,393. b The group sizes are unequal. The harmonic mean of the group sizes is used. Type I error levels are not guaranteed.

Lampiran 4. Analisa data tebal korteks dan diameter medulla pada timus
Analisa Sidik Ragam (ANOVA) untuk Tebal Korteks dan Diameter Medulla pada Timus

Sum of Squares Korteks Between Groups Within Groups Total Medulla Between Groups Within Groups Total 368519,333 1149867,000 1518386,333 186967,600 2108527,000 2295494,600 df 4 55 59 4 55 59

Mean Square 92129,833 20906,673 F 4,407 Sig. ,004

46741,900 38336,855

1,219

,313

Uji Duncan untuk Tebal Korteks pada Timus

Perlakuan

N a

Subset for alpha = .05 b c

R2 R4 R3 R0 R1 Sig.

12 12 12 12 12

344,0000 436,8333 436,8333 481,8333 516,0000 481,8333 516,0000 577,1667 ,122 ,212 ,133

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a Uses Harmonic Mean Sample Size = 12,000.

Uji Duncan untuk Diameter Medulla pada Timus

Perlakuan

Subset for alpha = .05 a

R3 R4 R0 R2 R1 Sig.

12 12 12 12 12

527,3333 592,8333 627,0000 673,5000 677,8333 ,098

Means for groups in homogeneous subsets are displayed. a Uses Harmonic Mean Sample Size = 12,000