Anda di halaman 1dari 14

KELOMPOK 1

Rizkyallah Garuda Sakti Dian Rizky Amelia Tiara Andini Putri N. Youngky Fitra C. Indri Lestari A. Afaf Azizah Firdaus Nur Rahman Lolyta Indah L. Mohammad Ivan Restu A. Ghina Arrum M. Agus Ahmad S. Sheila Eka Elvaretta (201310330311001) (201310330311003) (201310330311009) (201310330311012) (201310330311013) (201310330311014) (201310330311016) (201310330311018) (201310330311020) (201310330311029) (201310330311031) (201310330311033)

Praktikum Farmakologi
Mula Kerja, Puncak Efek dan Lama Kerja Obat pada Obat Analgetik Kelompok 9

Tujuan Praktikum
Mengetahui mula kerja (Onset Of Action) analgetik pada pemberian peroral dan intraperitoneal. Parameter yang diukur adalah waktu (menit) mulai analgetik diberikan sampai terjadi pengurangan rasa nyeri. Mengetahui puncak efek (Peak Effect) analgetik pada pemberian peroral dan intraperitoneal. Parameter yang diukur adalah waktu (menit) terjadi pengurangan rasa nyeri terhadap rangsangan nyeri yang maksimal. Mengetahui lama kerja obat (Duration Of Action) analgetik pada pemberian peroral dan intraperitoneal. Parameter yang diukur adalah waktu (menit) mulai terjadi pengurangan rasa nyeri sampai pengurangan rasa nyeri menghilang.

Alat & Bahan


Alat Analgetic Meter Spuit 1 ml Sonde Stopwacth Bahan Tikus Obat Analgetik - Antalgin Tablet - Metampiron Vial (Xylomidon)

Prosedur Kerja (Rangsangan Nyeri dengan Tekanan)


Menentukan Ambang Nyeri Kontrol Tikus I Denganberatbadan91 gram Ambang nyeri = 5 x10 gram = 50 gram Ambang nyeri setelah diberi obat analgetic = Ambang nyeri awal x 2 = 50 gram x 2
= 100 gram

Tikus II Dengan berat badan 117 gram Ambang nyeri = 5.5 x 10 gram = 55 gram Ambang nyeri setelah diberi obat analgetic = Ambangnyeriawal x 2 = 55 gram x 2
= 110 gram

Prosedur Kerja (Rangsangan Nyeri dengan Tekanan)


2. Pemberian Analgetik Tikus perlakuan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok tikus yang diberi analgetik secara intraperitoneal. Hitung dosis obat yang diberikan dengan cara sebagai berikut : Diketahui : Xyilomidon mengandung metapiron 250 mg/ml Antalgin tablet mengandung metapiron 500 mg Dosis metapiron tikus : 250mg/kgBB/kali, Jika berat badan tikus 117 gr, maka dosisya = 250 x 0,117= 250 x 0,117 = 29.25 mg = 0,12 mL Mengambil Xylomidon 29.25 mg/ tikus dengan spuit 0,12 mL, dan menyuntikkan secara intraperitoneal.

Prosedur Kerja (Rangsangan Nyeri dengan Tekanan)


Memasukan obat a. Peroral, dilakukan per sonde b. Per-intraperitoneal, dilakukan lewat injeksi di daerah perut

Prosedur Kerja (Rangsangan Nyeri dengan Tekanan)


3. Menentukan Efek Analgetik Pegang tikus secara relaks dan berikan beban pada tikus dengan cara yang sama. Berikan beban sebesar dua kali berat beban pada tikus kontrol (analgetik dikatakan mempunyai efek jika setelah analgetik diberikan, tikus mampu menahan beban sebasar 2 kali beban kontrol) setiap 5 menit dan amati adakah respon nyeri tikus (menjerit, mencicit, atau menarik kakinya). Pengamatan dilakukan hingga menit ke 60.

Tabel per-oral
Waktu Cara / Dosis 5' 10' 15' 20' 25' 30' 35' 40' 45' 50' 55' 60'

Per Oral
I II III IV V VI + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + -

0 % Efek

16

16

33

33

33

50

80

100

33

16

Tabel Peritoneal
Waktu Cara / Dosis 5' Per Intraperitoneal I II III IV + + + + + + + + + + + + + + + + + 10' 15' 20' 25' 30' 35' 40' 45' 50' 55' 60'

16

+ 50

+
+ + 80

+
+ 50

+
+ 80

+
+ 80

+
+ 80

+
+ 80

+
+ 80

+
33

+
16

V
VI % Efek

Hasil Pengamatan
Grafik Per Oral dan Per Interperitorial
120

100 100 80 80 80 80 80 80 80

Efek (%) 60

Oral Interperitorial 50 50 50

40

33 20 16 0 5' 0 10' 15' 20' 16 16

33

33

33

16

25'

30'

35' Waktu

40'

45'

50'

55'

60' 0

Kesimpulan
Pemberian obat mempengaruhi onset dan durasi obat. Obat yang diberikan dengan injeksi peritoneal memiliki onset yang lebih cepat dengan durasi obat yang lebih lama. Hal ini disebabkan karena injeksi peritoneal obat langsung masuk sirkulasi sehingga tidak terjadi first pass effect. Lain halnya dengan peroral dimana obat harus menembus membran terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam sirkulasi. Sehingga menyebabkan onset yang lebih lambat.

Dan apabila onset cepat maka durasi obat yang dihasilkan lebih lama dibandingkan dengan per oral.