Anda di halaman 1dari 11

1. Yang berhak menetapkan kehalalan & keharaman sesuatu hanya Allah dan rasulnya.

Ikan dan semua hewan air kecuali kodok adalah halal. Semua darah kecuali hati dan limfa adalah haram. Berdasarkan hadits Ibnu Umar secara marfu:


Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun kedua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dan adapun kedua darah itu adalah hati dan limfa. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Khamar dan segalanya yang memabukkan adalah haram. Dan dalam hadits riwayat Muslim dari Ibnu Umar -radhiallahu anhuma- secara marfu:

Semua yang memabukkan adalah haram, dan semua khamar adalah haram. Bangkai, darah, daging babi dan daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah adalah haram. Allah -Subhanahu wa Taala- menyatakan dalam firman-Nya:

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya. (QS. Al-Ma`idah: 3) Semua hewan buas yang bertaring. Sahabat Abu Tsalabah Al-Khusyany -radhiallahu anhu- berkata:

Sesungguhnya

Rasulullah

-Shallallahu

alaihi

wasallam-

melarang

dari

(mengkonsumsi) semua hewan buas yang bertaring. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

2. Menghalalkan yang diharamkan oleh Allah dan rasulnya adalah dosa besar. Menghalalkan an-nazhroh (melihat wanita ajnabi).

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata :

"Barangsiapa yang menghalalkan an-nazhroh (melihat wanita ajnabi) maka ia telah kafir menurut ijma' .Dan barangsiapa yang mengharamkan roti maka ia telah kafir menurut ijma' ". Menghalalkan musik. Sebagaimana Nabi shallallahu'alaihi wa sallam tegas mengharamkan musik dalam sabdanya :

"Sungguh akan ada dari umatku kaum-kaum yang menghalalkan zina, kain sutra (bagi lelaki), khomer (segala sesuatu yang memabukkan), dan alat-alat musik" (HR Al-Bukhari). Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan bahwa hukum alat-alat musik adalah Haram, namun akan ada kaum dari umat ini yang akan Menghalalkannya. Menghalalkan berdusta. Sebagaimana tertuang dalam firman Allah Ta'ala berikut ini:

Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahrah, sibah, washlah dan hm. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti [al-M`idah/5:103][2].

3. Mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah dan rasulnya adalah dosa besar. Allah mengharamkan hal-hal yang baik kepada orang-orang Yahudi. Tetapi semua itu merupakan hukuman kepada mereka atas kedurhakaan yang mereka perbuat dan pelanggarannya terhadap larangan Allah. Hai ini telah dijelaskan sendiri oleh Allah dalam firman Nya: Dan kepada orang-orang Yahudi kami haramkan semua binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing kami haramkan lemak-lemaknya, atau (lemak) yang terdapat di punggungnya, atau yang terdapat dalam perut, atau yang tercampur dengan tulang. Yang demikian itu kami (sengaja) hukum mereka lantaran kedurhakaan mereka, dan sesungguhnya kami adalah (di pihak) yang benar. (alAnam: 146)

Di antara bentuk kedurhakaannya itu telah dijelaskan Allah dalam surah lain, yang antara lain berbunyi sebagai berikut: Sebab kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi itu, maka kami haramkan atas mereka (makanan-makanan) yang baik yang tadinya telah dihalalkan untuk mereka; dan sebab gangguan mereka terhadap agama Allah dengan banyak; dan sebab mereka memakan harta riba padahal telah dilarangnya; dan sebab mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil. (an-Nisa: 160-161)

4. Yang halal & haram ada yang ditunjukkan secara tegas dan jelas olah Al-quran atau sunnah atau hadits. Hal semacam ini tidak boleh diperselisihkan. Ayat al quran : Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. (QS Al-Baqarah: 168) Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 188). Dalil dari Hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, diantaranya: Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas untuknya. Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang menyuap dan yang disuap dalam masalah hukum. (HR. Ahmad II/387 no.9019, At-Tirmidzi III/622 no.1387, Ibnu Hibban XI/467 no.5076. Dan dinyatakan Shohih oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/261 no.2212).

5. Hal hal yang ditunjukkan secara tegas dan jelas oleh alquran dan sunnah, hukumnya digali oleh mujtahid lewat: a) Qiyas / analogi Minum narkotik adalah suatu perbuatan yang perlu diterapkan hukumnya, sedang tidak satu nashpun yang dapat dijadikan sebagai dasar hukumnya. Untuk menetapkan hukumnya dapat ditempuh dengan cara qiyas yaitu mencari perbuatan yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash, yaitu perbuatan minum

khamr, yang diharamkan berdasar firman Allah SWT QS. Al maidah ayat: 90. Artinya:Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamr; berjudi, menyembah patung dan mengundi nasib dengan anak panah tidak lain hanyalah suatu yang kotor, termasuk perbuatan syaitan, karena itu hendaklah kamu jauhi agar kamu mendapat keberuntungan. Antara minum narkotik dan minum khamr ada persamaan, illatnya, yaitu samasama berakibat memabukkan para peminumnya, sehingga dapat merusak akal. Berdasarkan persamaan, illat itu ditetapkanlah hukum meminum narkotik itu yaitu haram, sebagaimana haramnya meminum khamr. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa dalam melakukan qiyas ada satu peristiwa atau kejadian yang perlu ditetapkan hukumnya sedang tidak ada satupun nash yang dapat dijadikan dasar hukumnya untuk menetapkan hukum dari peristiwa atau kejadian itu, dicarilah peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash. Kedua peristiwa atau kejadian itu mempunyai illat yang sama pula. Kemudian ditetapkanlah hukum peristiwa atau kejadian yang pertama sama dengan hukum peristiwa atau kejadian yang kedua.

b) Kaidah kaidah. pada prinsipnya yang bermanfaat itu halal dan pada prinsipnya yang membahayakan itu haram. Sebuah hadist nash menyebutkan,: Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, ia halal, dan apa yang Allah haramkan,ia haram. Sedangkan hal-hal yang didiamkan-Nya, ia dimaafkan. Terimalah pemaafan dari Allah, karena Allah sesungguhnya tidak lupa terhadap suatu apapun. (Beliau membaca sebuah ayat) tidaklah Tuhanmu lupa akan sesuatu. (Maryam: 64). Dari Salman Al-Farisi bahwa Rasullah saw. Ditanya tentang minyak samin, keju, dan jubah dari kulit binatang, lalu beliau menjawab Yang halal adalah segala sesuatu yang Allah halalkan dalam Kitab-Nya, dan yang haram adalah segala sesuatu yang Allah haramkan dalam Kitab-Nya. Sedangkan apa yang didiamkanNya maka ia termasuk yang termasuk yang dimaafkan kepada kalian.

6. Sesuatu yang membawa kepada yang haram hukumnya adalah haram. Islam telah menandaskan bahwa sesuatu yang diharamkan, maka cara yang dapat membawa kepada hal yang haram tersebut adalah haram hukumnya. Misalnya saja,

islam mengharamkan perbuatan zina, maka semua pendahuluan dan apa saja yang dapat membawa kepada perbuatan itu adalah diharamkan juga. Seperti berdua duaan, bercampur dengan bebas, foto foto telanjang, nyanyi nyanyian kegila gilaan dan lain lain. Dari dasar inilah maka para ulama fiqih telah membuat suatu kaedah apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram. Keadaan yang diberikan oleh ulama fiqih tersebut sangat luas daerahnnya, tidak hanya tertuju pada sipelakunya itu sendiri secara langsung, tetapi meliputi semua orang yang bersekutu (kongsi) dengan dia, baik melalui modal ataupun sikap. Misalnya tentang arak, Rosulullah melaknat kepada yang meminumnya, yang membuatnya, yang membawanya, yang diberinya, yang menjual da seterusnya., begitu juga dalam hal riba, akan dilaknat orang yang memakannya, penulisnya dan saksi saksinya. Berpolitik terhadap yang haram, maka hukumnya haram. Diatas telah diterangkan bahwa islam telah mengharamkan seluruh perbuatan / sikap yang dapat membawa kepada haram, maka begitu juga islam telah mengharamkan politik (siasat) yang dapat membawa kepada keharamanya, yang dapat merugikan umat manusia. Sebagai contoh, sikap orang Yahudi ketika dilarang berburu pada hari sabtu, kemudian mereka bersiasat untuk melanggar larangan ini dengan menggali sebuah parit pada hari jumat dengan motif agar pada hari sabtu ikan ikan dapat masuk kedalam parit yang telah digali tersebut, dan akan diambil pada hari ahad. Cara seperti ini dipandang halal oleh orang orang yang bersiasat itu untuk melanggar larangan tersebut, akan tetapi para ahli fiqih memandang hal tersebut adalah haram karena motifnya justru untuk berburu dengan jalan siasat maupun secara langsung. Dalam hal ini rosul bersabda ; jangan kamu berbuat seperti perbuatan Yahudi, dan janganlah kamu menganggap halal terhadap larang larangan Allah walaupun dengan siasat yang paling kecil. Termasuk berpolitik, yaitu menamakan sesuatu yang jaram dengan nama yang lain, merubah bentuk dengan bentuk yang lain, padahal hakikat bendanya itu itu juga. Pada zaman sekarang ini banyak orang yang menamakan khamer sebagai minuman rohani yang dapat menyegarkan badan, tarian porno dinamakan seni tari dan sebagainya, padahal semuanya itu hanya kedok belaka, rupanya Rosul yang hidup pada masa 15 abad yang silam mengetahui pola hidup dan tingkah laku pada zaman sekarang ini, yang menganggap halal minuman arak dan memberi nama lain, hal ini dapat diketahui melalui sabdanya, Sungguh akan ada suatu golongan dari umatku yang menganggap halal minuman arak dengan

memberikan nama lain (HR Imam Ahmad) dan sabdanya yang lain akan datang suatu masa dimana manusia menganggap halal riba dengan nama jual beli.

7. Hilah atau rekayasa terhadap yang haram adalah haram. Hilah seorang suami yang ingin berbuat jahat kepada isterinya, dengan berusaha menggugurkan hak dia untuk mendapatkan warisan dari hartanya, tatkala sedang sakit keras ia segera mentalaknya sebanyak tiga kali. Hilah seorang yang ingin menghindari hukuman bersetubuh pada bulan Ramadhan dengan berpura-pura sakit atau meminum khamr terlebih dahulu, baru kemudian ia bersetubuh dengan isterinya. Hilah orang yang tidak mau berpuasa Ramadhan, dengan cara merencanakan safar setiap bulan Ramadhan datang. Hilah seseorang yang ingin menggugurkan kewajiban zakat hartanya yang akan mencapai satu tahun (masa haul), dengan menukarkannya dengan barang semisal, atau dengan menjualnya karena takut zakat, yang kemudian uangnya dibelikan barang sejenis atau yang lainnya. Sehingga ia akan memulai hitungan awal tahun dari barang baru tersebut. Bagitu seterusnya dan seterusnya, setiap akan mencapai waktu satu tahun umur hartanya tersebut. Dengan berbuat seperti itu, menurutnya, selamanya ia akan terbebas dari kewajiban zakat. Dua orang mempunyai barang yang berkategori riba, tetapi masing-masing memiliki keadaan berbeda. Yang satu bagus dan yang kedua jelek. Mereka menaksir harga setiap barang di ingatan tanpa ada wujud uang yang nyata. Sehingga yang ditaksir dengan harga rendah harus menambah sesuatu (uang) kepada yang mempunyai barang bagus.

8. Hal-hal yang dihalalkan membawa kebaikan. Keberkahan bisa diperoleh jika seseorang berlaku jujur dalam jual beli. Dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang. (HR. Bukhari No. 2079 dan Muslim No. 1532).

Ketika seseorang mencari harta dengan tidak diliputi rasa tamak, maka keberkahan pun akan mudah datang. Nabi shallallahualaihi wa sallam pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam, Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah (HR. Bukhari No. 1472)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, Qonaah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna. (Syarh Ibni Batthol, 6/48) Keberkahan dalam hal duniawiyah bisa diperoleh jika digunakan dalam ketaatan pada Allah. Jika digunakan bukan pada ketaatan, itu bukanlah nikmat, namun hanyalah musibah. (At Tabarruk, hal. 44). Begitu pula keberkahan dapat diperoleh dengan berpagi-pagi dalam mencari rezeki. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya. Apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta.

Menjaga pandangan mata dari memandang hal-hal yang diharamkan oleh Allah merupakan akhlak yang mulia, bahkan Rasulullah r menjamin masuk surga bagi orang-orang yang salah satu dari sifat-sifat mereka dalah menjaga pandangan. Abu Umamah berkata,Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Berilah jaminan padaku enam perkara, maka aku jamin bagi kalian surga. Jika salah seorang kalian berkata maka janganlah berdusta, dan jika diberi amanah janganlah berkhianat, dan jika dia berjanji janganlah menyelisihinya, dan tundukkanlah pandangan kalian, cegahlah tangan-tangan kalian (dari menyakiti orang lain), dan jagalah kemaluan kalian.[2]

Bahkan orang jahiliyahpun mengetahui bahwa menjaga pandangan adalah akhlak yang mulia. Berkata Antarah bin Syaddad seorang penyair di zaman jahiliyah:

Dan akupun terus menundukkan pandanganku tatkala tampak istri tetanggaku sampai masuklah dia ke rumahnya[3] Syaikh Abdurrazzaq bin Abdilmuhsin Al-Abbad Hafidzohumulloh- berkata,Inilah salah satu akhlak mulia yang dipraktekkan oleh orang pada zaman jahiliyah, namun yang sangat memprihatinkan justru kaum muslimin di zaman sekarang meninggalkannya.

9. Hal -hal yang diharamkan pasti membawa bencana/ keburukan. Memakan makanan yang haram ataupun syubhat, tidak diragukan lagi, pasti akan memalingkan orang dari amal taat dan mendorong pada maksiat. Nabi SAW telah bersabda : Barang siapa memakannya dari barang yang halal, niscaya seluruh anggota tubuhnya akan mendorongnya kearah taat. Dan barang siapa memakannya dari yang haram, niscaya anggota tubuhnya akan mendorong pada perbuatan durhaka. Diriwayatkan pula : Makanlah makanan apa saja yang kamu inginkan, niscaya perbuatanmu sejalan dengan apa yang kamu makan. Dan sebagian kaum arifin berkata : Tiada satu perkara yang dapat memutuskan hubungan antara manusia dengan Allah atau mengeluarkannya dari golongan para Wali Nya , melainkan karena tidak hati-hatinya mereka dalam memperhatikan apa yang mereka makan, apakah makanan haram atau syubhat. Seseorang melakukan taat namun Allah tidak menerima amalnya, karena Allah SWT berkata :Allah hanyan menerima ( amal ) dari orang-orang yang bertkwa, dan Yang Maha Suci tidak menerima kecuali yang suci.

Harta yang didapat dengan cara tidak halal dapat menolak ibadah yang dilakukan. Hal ini seperti yang dikatakan Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhuma,

"Siapa membeli pakaian dengan 10 dirham, satu dirham di antaranya adalah uang haram maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama pakaian itu dikenakannya." Maksud dari tidak diterima adalah tidak diberi pahala dan ganjaran di akhirat kelak. Sedangkan gugurnya kewajiban atas dirinya telah terpenuhi, jika ia telah menunaikan ibadah tersebut dengan syarat dan rukunnya. Terdapat perbedaan antara hukum dunia dan akhirat, sebagaimana keadaan shalatnya orang yang pergi ke dukun yang tidak akan diterima selama empat puluh hari, tapi kewajiban shalat telah gugur darinya. Dari sini para ulama salaf sangat takut dengan ayat, "Sesungguhnya Allah hanya akan menerima dari orang-orang bertakwa." (QS. Al-Maidah: 27), mereka sangat takut tidak termasuk orang-orang bertakwa yang amal mereka diterima. Islam menganggap fitnah satu daripada sifat mazmumah (tercela) dan dilarang Allah seperti dalam firman-Nya yang bermaksud: Fitnah itu lebih bahaya daripada pembunuhan.(al-Baqarah:191) Jangan kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang gemar menyebarkan fitnah. (al-Qalam: 29). Dalam sejarah umat Islam, kita menyaksikan betapa fitnah membawa bencana dan malapetaka dalam masyarakat. Fitnah inilah yang membawa kepada pembunuhan Saidina Uthman r.a yang dituduh menjalankan dasar kronisme dan nepotisme dalam pentadbirannya. Fitnah juga menyebabkan berlaku pertembungan di antara para sahabat besar seperti Saidina Ali bin Abi Talib r.a dan Muawiyah bin Abi Sufyan r.a. Munir al-Ghadban menyebut dalam kitabnya berkenaan Muawiyah bin Abi Sufyan: Aku tidak berpendapat bahawa adanya suatu peribadi di dalam sejarah umat Islam yang terdiri daripada kalangan para sahabat yang awal, yang ditarbiah dengan tangan Rasulullah SAW dan mereka yang hidup dengan wahyu langit, lalu diperburukkan, dibohongi mengenainya dan didustakan kepadanya seperti yang terkena pada Muawiyah bin Abi Sufyan r.a.

10. Niat yang baik tidak dapat mengubah /membenarkan yang haram. Islam memberikan penghargaan terhadap setiap hal yang dapat mendorong untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dan niat yang bagus, baik dalam perundangundangannya maupun dalam seluruh pengarahannya. Untuk itulah maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya semua amal itu harus disertai dengan

niat (ikhlas karena Allah), dan setiap orang dinilai menurut niatnya." (Riwayat Bukhari) Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama dia itu tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai alat untuk mencapai tujuan yang terpuji. Sebab Islam selamanya menginginkan tujuan yang suci dan caranya pun harus suci juga. Syariat Islam tidak membenarkan prinsip apa yang disebut al-ghayah tubarrirul wasilah (untuk mencapai tujuan, cara apapun dibenarkan), atau suatu prinsip yang mengatakan: al-wushulu ilal haq bil khaudhi fil katsiri minal bathil (untuk dapat memperoleh sesuatu yang baik, boleh dilakukan dengan bergelimang dalam kebatilan). Bahkan yang ada adalah sebaliknya, setiap tujuan baik, harus dicapai dengan cara yang baik pula. Oleh karena itu, barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh dengan jalan riba, maksiat, permainan haram, judi dan sebagainya yang dapat dikategorikan haram, dengan maksud untuk mendirikan masjid atau untuk terlaksananya rencana-rencana yang baik lainnya, maka tujuan baiknya tidak akan menjadi syafaat baginya, sehingga dengan demikian dosa haramnya itu dihapus. Haram dalam syariat Islam tidak dapat dipengaruhi oleh tujuan dan niat. Demikian seperti apa yang diajarkan kepada kita oleh Rasulullah s.a.w., sebagaimana disabdakan: "Sesungguhnya Allah itu baik, Ia tidak mau menerima kecuali yang baik pula. Allah pun memerintah kepada orang mu'min seperti halnya perintah kepada para Rasul." Dan sabdanya pula: "Barangsiapa mengumpulkan uang dari jalan yang haram kemudian dia sedekahkan harta itu, samasekali dia tidak akan beroleh pahala, bahkan dosanya akan menimpa dia " (Riwayat Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim) Dan sabdanya pula: "Tidak seorang pun yang bekerja untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan haram kemudian ia sedekahkan, bahwa sedekahnya itu akan diterima; dan kalau dia infaqkan tidak juga mendapat barakah; dan tidak pula ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan dia itu sebagai perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kejahatan dapat dihapus dengan kebaikan. Kejelekan tidaklah dapat menghapuskan kejelekan." (Riwayat Ahmad dan lain-lain)

Tugas Kehalalan Obat Makanan & Kosmetik

Disusun Oleh :

Putri Nur Handayani 1111102000104 Farmasi V D

Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2013