Anda di halaman 1dari 9

Sintesa Asam Laktat Menggunakan Bakteri Asam Laktat, Rhizopus Oryzae dan Kimiawi sebagai Bahan Dasar Pembuatan

Polylactic Acid

LAPORAN PERANCANGAN PRODUK

Oleh : SYARIF HIDAYAT ( MUHAMMAD RIZKY HANAN ( SITI FATIMAH (11210019)

PROGRAM STUDI REKAYASA HAYATI SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

1. Latar Belakang Plastik sudah menjadi suatu produk yang begitu melekat pada aktivitas- aktivitas manusia. Plastik dapat berfungsi sebagai wadah belanja, wadah makanan, tempat minum, juga bisa untuk material peralatan elektronik. Pada tahun 2012 pemakaian plastik di Indonesia mencapai 3 juta ton lebih. Padahal 10 tahun lalu jumlah pemakaian plastik hanya mencapai 1,35 ton. Peningkatan ini menjadi masalah karena plastik membutuhkan setidaknya 500 tahun sampai bisa mulai terurai didalam tanah. Oleh karena itu, diperlukan suatu material lain untuk membuat plastik yang mudah terdegradasi di dalam tanah juga memiliki kualitas setara atau lebih dari jenis-jenis plastisk yang sudah ada.

Grafik 1.

Gambar 1. Asam laktat merupakan senyawa yang bersifat tidak mudah menguap (non volatile), tidak berbau dan tidak berbahaya. Produksi dari asam laktat mencapai 120.000 tons per tahun pada tahun 2006. Asam laktat memiliki banyak kegunaan dalam bidang industri makanan, industri kimia, industri kosmetik dan industri farmasi. Selain itu asam laktat juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan Polylactic acid, yaitu sebuah polimer asam laktat yang dapat digunakan sebagai pengganti plastik.

Tabel 1.1 Kegunaan Asam Laktat di berbagai Indsutri Industri Industri Kimia Industri Makanan Kosmetik pH regulator Pelarut ramah Pelembab lingkungan Penambah rasa Sebagai Anti acne penetralisisr Bahan pH regulator Pemutih pengawet pH regulator

Industri Farmasi dialisis Mineral preparation

PLA merupakan suatu thermoplastik, artinya plastik yang tahan terhadap panas hingga 110 C. PLA dapat diproses dengan cara ekstrusi, injeksi dalam bentuk cairan, percetakan lembaran dan film, dan juga dapat dibentuk menjadi biji- biji plastik. Suatu keunggulan dari PLA dari plastik konvensional adalah PLA dapat terdegradasi dalam tanah hanya dalam waktu 6 bulan hingga 2 tahun. Sebagai bahan baku, asam laktat umumnya diproduksi secara kimia maupun secara biokonversi menggunakan proses fermentasi . Sintesis dengan menggunakan jalur kimiawi memiliki rangkaian proses produksi yang panjang dan melibatkan senyawa- senyawa kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Selain itu, proses ini juga membutuhkan energi dalam jumlah besar dan secara langsung mempengaruhi biaya produksi menjadi tinggi. Sedangkan jalur produksi menggunakan biokonversi biomassa menggunakan agen hayati seperti bakteri dan jamur tidak memerlukan proses yang panjang dan melibatkan senyawa yang beracun karena asam laktat dapat diproduksi secara langsung didalam sel agen hayati dengan bantuan enzim tertentu ,seperti Lactate Dehidrogenase, dari substrat glukosa. Jalur biokonversi juga tidak melibatkan energi yang tinggi bila dibandingkan dengan jalur sintesis kimiawi karena kondisi produksi dilakukan pada keadaan temperatur yang rendah (30- 40 ) dan tekanan 1 atm.

2. Innovation Map
Customer Value Propotition Environmetal friendly Low cost Safety Used Thermobioplastic

Product

Mixture D- Lactic acid and L-Lactic acid

Pure L-Lactic Acid

Mixture D- Lactic acid and L-Lactic acid

Technical Differentiation

High Energy Consuming

High Nutritional need

Easy Separation

Process/ Manufacturing Technology

Conventional Process (filtration, acidification, carbon adsorbtion and evaporation)

Fungi Fermentation

Bacteria Fermentation

Material Technology

acetaldehyde (CH3CHO) dan hydrogen cyanide (HCN)

Glucose (C6H12O6)

3. Invensi dan inovasi produk yg akan dirancang Pada awalnya, produksi asam laktat sebagai bahan dasar pembuatan PLA dilakukan dengan cara konvensional (sintetik kimia) dimana pada prosesnya melibatkan senyawa-senyawa yang tidak ramah lingkungan. Proses ini mucul dalam skalan komersial di tahun 1963 di jepang dan amerika serikat (Holten, 1971). Pada awal produksinya asam laktat yang dihasilkan merupakan kombinasi dari hidrogen sianida dan asetaldehid yang kemudian dimurnikan denga asam sulfur atau asam hidroklorik. Namun pada kenyataanya produksin secara konvensional ini memiliki hubungan yang erat dengan masalah gypsum disposal. Selain itu, proses ini membutuhkan energi yang tinggi sehingga biaya produksi meningkat. Oleh karena itu diperlukan suatu jalur sintesis lain untuk produksi asam laktat yang lebih ramah lingkungan serta efisien dalam produksinya. Beberapa cara yang telah dikembangkan adalah dengan menggunakan fermentasi jamur dan fermentasi bakteri. Jalur sintetis ini diharapakan dapat mengatasi masalah produksi asam laktat secara konvensional. Pada jalur sintesis

dengan fermentasi jamur, Rhizopus oryzae digunakan untuk prouduksi asam laktat sedangkan dengan fermentasi bakteri Bakteri Asam Laktat yang digunakan untuk produksi asam laktat. Pada kedua jenis fermentasi ini penelitian mengenai jenis strain perlu diteliti lebih lanjut agar dapat memberikan yield produksi asam laktat yang lebih tinggi 4. Potensi Keunggulan Jalur Produksi Baru Pada jalur sintesa dengan menggunakan bakteri asam laktat produk asam laktat yang dihasilkan berupa campuran L-asam laktat dan D-Asam Laktat. Sedangkan, dengan menggunakan R.oryzae asam laktat yang dihasilkan hanya berupa L-Asam Laktat. L-Asam laktat merupakan bahan baku pembuatan PLA. Hal ini membuat proses produksi asam laktat dengan menggunkan R.oryzae lebih cepat karena tidak memerlukan proses pemisahan antara L-Asam Laktat dan D-Asam Lakat. Selain itu, R.oryzae dapat tumbuh pada kondisi media yang minimal dan biaya recovery kultur lebih murah dibanding kultur bakteri. Sifat fisik (morfologi) dari R.oryzae dapat berupa pellet, clumps dan miselia yang dapat mempengaruhi produksi asam laktat. Temperatur yang baik untuk pertumbuhan R.oryzae adalah 300C. Medium yang dibutuhkan untuk pertumbuhan terdiri dari glukosa (100 gl1), (NH4)2SO4(2 l1), KH2PO4 (0.65 g l1), MgSO47H2O (0.25 g l1), dan ZnSO47H2O (0.05 g l1)

5. Sifat fisik dan Kimia yang Masih Perlu di Cari spesifikasi produk dan tahapan proses Jalur Biosintesis Asam Laktat melalui Fermentasi Bakteri 1. Morfologi dan Jenis Bakteri Berdasarkan kebutuhan oksigen, maka terdapat sel yang membutuhkan O2 untuk hidupnya (bersifat aerobik) dan ada sel yang tidak membutuhkan O 2 (bersifat anaerobik). Bioreaktor yang menggunakan sel aerobik, oleh karena kelarutan oksigen dalam media rendah, maka O2 harus selalu dipasok terus menerus. Oksigen dapat diberikan dengan cara mendispersikan udara ke dalam media. Hal ini terkait dengan berbagai perlengkapan bioreaktor yang berfungsi untuk memasok udara. Jenis dan ukuran sel sangat berpengaruh terhadap bioreaktor dan pengoperasiannya. Sel tunggal seperti mikroba tidak tahan terhadap gaya geser dan perlu pendispersian udara lebih tinggi. Mikroba oleh karenanya digunakan bioreaktor permukaan, misal bioreaktor bed atau tray (baki). 2. Konsentrasi produk yang dapat meracuni pertumbuhan bakteri Ada beberapa senyawa kimia yang dapat meracuni pertumbuhan bakteri seperti etanol. Oleh karena itu, perlu diketahui produk-produk sampingan yang dihasilkan dari fermentasi bakteri yang dapat menjadi racun pada pertumbuhan bakteri.

3. pH optimal Mikroba umumnya menyukai pH netral (pH 7). Akan tetapi, beberapa bakteri dapat hidup pada pH tinggi (medium alkalin) dan pH rendah. Mikroba dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu (a) mikroba asidofil, adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 2,05,0 (b) mikroba mesofil (neutrofil) adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5-8,0, dan (c) mikroba alkalifil, adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8,49,5 Agar pertumbuhan bakteri optimal maka perlu diketahui pH optimal dari bakteri yang digunakan untuk menghasilkan asam laktat yang tinggi 4. Temperatur Ada beberapa jenis bakteri berdasarkan perbedaan temperatur. 1. Bakteri psikrofil hidup pada kisaran suhu 0-20 0C 2. Bakteri psikotrop dapat tumbuh pada suhu 0-350C 3. Bakteri mesofil dapat tumbuh pada suhu 20-45 0C 4. Bakteri termofil tumbuh pada suhu 45-650C. 5. Bakteri hipertermofil hidup pada suhu pada suhu di atas 900 dan maksimal pada suhu 100 0C Oleh karena itu perlu ketahui jenis bakteri yang digunakan agar dapat menentukan suhu optimal dari pertumbuhan bakteri tersebut. 5. Kecepatan aerasi Kecepatan aerasi dan jenis impeller perlu diperhatikan agar tidak membunuh bakteri Jalur Biosintesis Asam Laktat melalui Fermentasi Rhizopus Morfologi dari Rhizopus Rhizopus dapat berbentuk pellet, miselia dan rumpun. Setiap bentuk memiliki transfer massa yang berbeda-beda yang dapat mempengaruhi pertumbuhan Rhizopus dan produktivitas asam laktat. Konsentrasi maksimal yang dapat meracuni pertumbuhan Rhizopus Sama halnya seperti bakteri, ada senyawa yang dihasilkan oleh Rhizopus yang dapat menjadi racun pada pertumbuhan Rhizopus pH optimal Kisaran pH untuk pertumbuhan Rhizopus berkisar antara 3.4 6. pH yang paling optimal untuk pertumbuhan Rhizopus untuk menghasilkan produksi asam laktat yang tinggi perlu diketahui. Temperatur

1.

2.

3.

4.

Temperatur juga mempengaruhi pertumbuhan Rhizopus agar dapat tumbuh secara optimal. Rhizopus dapat tumbuh pada temperatur berkisar 30 440C 5. Kecepatan aerasi Kecepatan aerasi mempengaruhi transfer oksigen ke dalam sel Rhizopus. Kecepatan aerasi perlu di atur agar Rhizopus tidak mengalami kematian 6. Ukuran inokulum Ukuran inokulum dapat mempengaruhi produktvitas asam laktat. Semakin kecil konsentrasi inokulum akan menghasilkan asam laktat yang tinggi sebaliknya semakin besar konsentrasi inokulum akan menghasilkan etanol. Oleh karena itu, ukuran inokulm yang paling baik perlu diketahui 7. Jenis reaktor yang digunakan Jenis reaktor yang sesuai untuk pertumbuhan Rhizopus perlu di teliti lebih lanjut agar pertumbuhan Rhizopus dapat optimal 6. Reaksi Biosintesis Asam Laktat Proses sintesis asam laktat dengan menggunakan bakteri dan R.oryzae bersumber dari glukosa. Glukosa akan diubah menjadi piruvat yang kemudian menjadi asam laktat. Pada titik percabangan asam piruvat, piruvat dapat berubah menjadi etanol, fumarat dan masuk ke jalur respirasi. Oleh karena itu, enzim yang terlibat pada titik percabangan piruvat akan sangat menentukan kemana jalur sintesis akan terjadi. Untuk meningkatkan produksi asam laktat makan enzim LDH (Lactic Dehidrogenase) sangat berperan pada proses konversi ini. Selain itu enzim PDC (Pyrivat Decarboxilase) harus dihambat agar piruvat tidak berubah menjadi etanol. Yield lampirin

Gambar 5 Proses Sintesis Asam Laktat dari Glukosa