Anda di halaman 1dari 7

TUGAS RMK CHAPTER 3 Etika Profesional

Oleh DIAN MAGFIRAWATI (A311 11 284)

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

BAB 3 ETIKA PROFESIONAL Etika dan Moralitas Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya. Kata lain untuk etika ialah motalitas (morality), yang berasal dari bahasa latin mores, yang berarti kebiasaan. Ada beberapa ahli etika telah mengembangkan suatu kerangka kerja etika umum untuk pengambilan keputusan, yang disebut kerangka kerja enam langkah sebagai berikut: mendapatan fakta yang relevan untuk pengambilan keputusan mengidentifikasi masalah-masalah etika dari fakta relevan tersebut menentukan siapa saja yang dapat dipengaruhi oleh keputusan tersebut dan bagaimana masing-masing dipengaruhi mengidentifiasi alternatif pengembil keputusan mengidentifikasi konsekuensi setiap alternatif membuat pilihan yang beretika Kode Etik Profesi AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) Standar umum perilaku yang ideal dan menjadi khusus perilaku yang harus dilakukan terdiri dari empat bagian, yaitu: 1. Prinsip etika profesi 2. Peraturan etika tentang

3. Interpretasi atas peraturan etika 4. Kaidah etika Disusun berdasarkan urutan makin spesifiknya standar tersebut 1. Prinsip Etika Profesi Membahas prinsip etika profesi yang berisi diskusi umum beberapa syarat karakteristik tertentu sebagai akuntan public. Terdiri dari dua bagian utama : Enam prinsip etika Diskusi keenam prinsip Lima prinsip pertama diterapkan secara sama rata kepada seluruh anggota, kecuali Prinsip Obyektivitas dan Independensi hanya berlaku bagi yang bekerja bagi publik (jasa atestasi/jasa audit). Satu prinsip terakhir, Lingkup dan Sifat Jasa, hanya anggota yang bekerja pada public. 2. Peraturan Etika Melibatkan peraturan eksplisit yang harus dipatuhi oleh semua akuntan publik dalam berpraktek. Perbedaan antara standar etika dalam Prinsip dengan standar etika dalam Peraturan Etika. 3. Interpretasi Peraturan Etika Peraturan yang spesifik yang secara formal tidak harus dipatuhi, tetapi penyimpangan dari interpretasi ini akan menimbulkan kesulitan. 4. Kaidah Etika diterapkan bagi tentang

Rangkaian penjelasan oleh komite eksekutif pada divisi profesional tentang situasi spesifik yang nyata (specific circumtances). Kode Etik Akuntan di Indonesia sebagai berikut: 1. Tanggung Jawab profesi

etika factual

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi. 2. Kepentingan Publik Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. 3. Integritas

Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip. 4. Obyektivitas Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain. 5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir. Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik.

6. Kerahasiaan Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan. 7. Perilaku Profesional Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum. 8. Standar Teknis Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Peraturan Perilaku Kode Etik AICPA Seksi 100 Independensi, Integritas, dan Objektivitas

101 102

Independensi Integritas dan Objektivitas

Seksi 200 Standar Umum dan Prinsip Akuntansi 201 202 203 Standar Umum Kepatuhan terhadap Standar Prinsip-prinsip Akuntansi

Seksi 300 Tanggung Jawab kepada Klien 301 302 Informasi Rahasia Klien Honor Kontinjen

Seksi 400 Tanggung Jawab kepada Kolega Seksi 500 Tanggung Jawab dan Praktik lainnya 501 502 503 505 Tindakan yang Mediskreditkan Perikanan dan Bentuk Solisitasi Lainnya Komisi dan Honor Referal Bentuk Organisasi dan Nama