Anda di halaman 1dari 10

BAB 1I PEMILIHAN DAN DESKRIPSI PROSES

Berdasarkan bahan baku yang dipergunakan untuk membuat sabun maka sampai saat ini telah dikenal dua macam proses pembuatan sabun, yaitu proses safonifikasi langsung trigliserida dan netralisasi asam lemak. Saponifikasi langsung trigliserida melalui proses batch dan kontinyu. Proses netralisasi asam lemak berasal dari trigliserida yang telah dihidrolisa dengan menggunakan suhu dan tekanan tinggi (Othmer, 1994). 2.1 Proses Saponifikasi Trigliserida Proses ini merupakan proses yang paling tua diantara proses proses yang ada, karena bahan baku untuk proses ini sangat mudah diperoleh. Dahulu digunakan lemak hewan dan sekarang telah digunakan pada minyak nabati. Pada saat ini, telah digunakan proses saponifikasi trigliserida sistem kontinu sebagai pengganti proses saponifikasi trigliserida sistem batch. Saponifikasi trigliserida secara kontinyu dikembangkan agar proses di Industri sabun mempunyai efisiensi yang bagus dan waktu proses yang singkat. Sistem ini mempunyai perbedaan dalam design alat proses, sedangkan untuk memproduksi sabun sistem ini tetap menggunakan proses yang umum digunakan Tahap pertama proses saponifikasi ini adalah mereaksikan trigliserida dengan basa alkali, air dan garam di dalam reaktor berpengaduk. Kondisi operasi pada reaktor yaitu pada suhu 120 0C dan tekanan 120 kPa atau pada suhu 80 - 90
0

C pada tekanan 1 atm dan reaksi saponifikasi berlangsung secara cepat (<30

menit). Sistem resirkulasi diatur sedemikian rupa di dalam reaktor agar terjadi kontak antara trigliserida dan bahan lainnya, serta proses di dalam reaktor dibantu dengan adanya pengadukan yang bertujuan untuk mempercepat proses homogenasi bahan di dalam reaktor, mempercepat perpindahan panas dan perpindahan massa. Setelah proses berakhir di reaktor berpengaduk, maka produk (sabun, gliserin dll) yang keluar kemudian dipompakan ke cooling mixer. Di dalam

II-1

II-2

cooling mixer produk didinginkan sampai suhu dibawah 100 0C, setelah itu produk yang telah didinginkan dipompakan ke ke static separator dimana gliserin ( 25 30 %) dipisahkan dari sabun. Sabun kemudian dicuci dengan air dan larutan garam menggunakan proses counter-current. Proses ini sering terjadi di kolom vertikal yang dilengkapi dengan pengaduk dan sekat. Sabun berada di bagian bawah kolom dan larutan pencuci dipompa dari atas. Larutan pencuci digunakan untuk membersihkan sabun dari kotoran. Langkah terakhir yaitu memisahkan larutan pencuci dari sabun dengan menggunakan centrifuge. Setelah di centrifuge, caustik yang masih ada di dalam sabun kemudian dimasukan ke dalam tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan jacket-steam dan ditambahkan asam lemak. Produk yang keluar dari tangki berpengaduk yang dilengkapi dengan jacket-steam meruapakan sabun cair yang siap untuk dipasarkan (Baileys, 2004).

Gambar 2.1 Diagram Proses Saponifikasi Trigliserida Sumber : Baileys, 2004

II-3

2.2 Proses Netralisasi Asam Lemak Proses lain yang digunakan untuk memproduksi sabun yaitu dengan proses netralisasi asam lemak. Proses ini menggunakan Asam lemak sebagai bahan baku disamping basa alkali. Asam lemak yang diproduksi melalu proses hidrolisis lemak dan minyak oleh air. Pada proses netralisasi asam lemak, ada dua tahap yaitu tahap hidrolisis dan netralisasi. Reaksi yang terjadi pada tahap hidrolisi berlangsung pada tekanan 580-800 psi dan suhu reaksi 240-270 0C didalam kolom stainless steel yang mempunyai tinggi 24-31 m dan diameter 50-130 cm. ZnO terkadang ditambahkan sebagai katalis pada proses hidrolisis. Produk yang dihasilkan yaitu asam lemak. Selanjutnya asam lemak yang dihasilkan dilanjutkan ke tahap netralisasi. Pada Tahap netralisasi asam lemak direaksikan dengan caustic. Pada proses ini tidak dihasilkan gliserol tetapi dihasilkan air sebagai produk samping. Reaksi yang terjadi adalah reaksi antara asam lemah dan basa kuat.

Gambar 2.2 Diagram Proses Netralisasi Asam Lemak Sumber : Baileys, 2004

II-4

Suhu reaksi pada proses ini berkisar antara 110 1200C (Baileys, 2004) dan tekanan operasi 1 atm. Sodium klorida juga ditambahkan dalam reaksi dan berguna untuk mengurangi viskositas hasil reaksi sehingga memudahkan transportasi hasil reaksi melalui pompa. Reaksi netralisasi berlangsung dalam reaktor sirkulasi yang terdiri dari Turbodisper dan Mixer. Turbodisper berfungsi untuk menghomogenkan campuran reaktan sedangkan mixer berfungsi untuk memberikat waktu tinggal yang cukup bagi reaksi reaktan untuk berekasi tuntas. Konveri yang diperoleh dengan cara ini dapat mencapai lebih dari 99,9 % (Baileys, 2004). Stelah reaksi netralisasi selesai maka sabun yang terbentuk dapat langsung dikeringkan dalam unit yang sama seperti pada proses saponifikasi trigliserida tetapi biasanya zat tambahan, seperti pelembab, antioksidan, pengatur pH ditambahkan sebelum proses pengeringan. Proses netralisasi ini pertama kali dikembangkan oleh Mazzoni. 2.3 Pemilihan Proses Pada prarancangan pabrik sabun mandi cair ini dipilih proses sabun secara kontinyu melalui proses saponifikasi langsung trigliserida. Adapun alasan pemilihan proses ini adalah Proses kontinyu dapat digunakan pada pabrik skala besar dan kecil. Kualitas sabun yang dihasilkan lebih baik karena di dalam sabun tidak mengandung impuritis sehingga sabun yang dihasilkan lebih murni dan dapat dengan mudah untuk dilanjutkan ke berbagai bentuk sabun yang diinginkan. Kebutuhan energi dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk sabun lebih efisien. Tabel 2.1 Perbandingan Proses Saponifikasi Langsung Trigliserida dengan Saponifikasi Asam Lemak No Proses Saponifikasi Langsung Proses Netralisasi Asam Lemak Trigliserida 1 Persiapan bahan baku, hanya Persiapan bahan baku, memerlukan memerlukan pemurnian hidrolisa trigliserida menjadi asam lemak trigliserida dari air dan kotoran di dalam kolom splitting dengan (impurities) menggunakan katalis seng oksida (ZnO) pada temperatur 240-270 oC dan tekanan 580-800 psi

II-5

Proses Saponifikasi Langsung Trigliserida 2 Temperatur reaksi saponifikasi 90 oC dan tekanan 1 atm 3 Konversi reaksi 99,5% 4 Kebutuhan energi rendah 5 Peralatan lebih sederhana dan lebih murah Sumber: Baileys, 2004

No

Proses Netralisasi Asam Lemak Temperatur reaksi saponifikasi 110-120 o C dan tekanan 1 atm Konversi reaksi 98% Kebutuhan energi tinggi Peralatan lebih rumit dan lebih mahal

Proses yang dipilih dalam Pra Rancangan ini adalah proses saponifikasi trigliserida dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut: 1. Suhu operasi dan tekanan relatif lebih rendah dari proses yang lain sehingga lebih hemat dalam pemakaian energi dan desain peralatan lebih sederhana. 2. Proses lebih sederhana dibandingkan dua proses yang lain. 3. Bahan baku tersedia dari proses pengolahan turunan kelapa sawit. 4. Diharapkan konversi reaksi dapat mencapai 99,5% sehingga secara ekonomis proses ini sangat layak didirikan dalam skala pabrik. 5. Sabun yang dihasilkan mudah dimurnikan dan memiliki kemurnian tinggi. 2.4 Deskripsi Proses Proses saponifikasi ini dapat dibagi menjadi dua tahap proses yaitu: 1. Tahap Pemanasan Umpan. 2. Tahap Pemurnian 3. Tahap Reaksi Saponifikasi Trigliserida 4. Tahap Pemisahan 5. Tahap Pencampuran I 6. Tahap Pencampuran II 7. Tahap Pencampuran II 8. Tahap Pengemasan 2.4.1 Tahap Pemanasan Umpan Umpan terdiri dari RBDPS (Refined Bleached Deoderized Palm Stearin). RBDPS dimasukkan ke dalam tangki yang dilengkapi dengan pemanas (T-101),

II-6

dipanaskan terlebih dahulu menggunakan steam sampai suhu 80 oC sebelum dipompa ke dalam oil purifier (OP-101). Pemanasan dilakukan pada suhu 80 oC karena ditinjau dari titik leleh bahan baku yaitu 72 -75 oC (Product Chemical Properties, 2007). Setelah RBDP-stearin mencair, selanjutnya dipompa ke oil purifier (OP-101) untuk dimurnikan. 2.4.2 Tahap Pemurnian (OP-101) RBDP-Stearin merupakan turunan CPO yang telah mengalami proses rafinasi, proses rafinasi ini bertujuan untuk memucatkan warna, penghilangan bau dan juga digunakan untuk menurunkan tingkat impuritis yang terkandung didalamnya. Impuritis yang terkandung di dalam RBDP-Stearin berasal dari proses pengolahan yang belum sempurna, masih ada kotoran-kotoran yang terbawa selama proses berlangsung, sehingga keadaan ini menyebabkan RBDPStearin mengalami penurunan mutu. Impuritis yang terkandung di dalam RBDP-Stearin perlu dihilangkan dengan cara pemurnian, Alat yang digunakan untuk memurnikan bahan baku adalah Oil Purifier (OP-101). Oil Purifier (OP-101) berfungsi untuk memisahkan sludge-sludge yang melayang/emulsi dalam minyak serta mengurangi kadar impuritis yang terkandung adalam RBDP-Stearin yaitu sekitar 0,015%. Di dalam oil purifier yang berlangsung pada temperatur 80oC dan tekanan 1 atm ini dilakukan pemurnian berdasarkan perbedaan densitas dengan menggunakan gaya sentrifugal, dengan kecepatan perputarannya 6000 rpm. impuritis yang memiliki densitas besar akan berada di bagian luar (dinding bowl), sedangkan minyak yang mempunyai densitas lebih kecil bergerak ke arah poros dan keluar melalui sudutsudut (paring disk) untuk dialirkan ke tangki saponifikasi. Kotoran dan air yang melekat pada dinding bowl di blow down ke saluran pembuangan (Fifi, 2008).

2.4.3 Tahap Reaksi Saponifikasi Trigliserida (R-101) Bahan baku yang keluar dari oil purifier (OP-101) selanjutnya di pompa ke tangki saponifikasi (R-101) Di tangki saponifikasi ditambahkan larutan kalium hidroksida (KOH) 25% dan dipanaskan sampai mendidih pada suhu 90 oC dan

II-7

tekanan 1 atm, kemudian diaduk selama 30 menit. Lemak berhasil disaponifikasi sampai 99,5% pada proses ini. Proses saponifikasi ini berfungsi untuk mereaksikan lemak dan kalium hidroksida membentuk sabun dan gliserin (Baileys, 2004). Reaksi yang terjadi selama proses penyabunan adalah :

H2C-O-COR HC-O-COR H2C-O-COR Trigliserida Kalium Hidroksida 2.4.4 Proses Pemisahan Minyak (DK-101) Sabun + 3 KOH 3 RCOOK +

H2COH HCOH H2COH Gliserin

Setelah proses saponifikasi selesai, minyak dari tangki saponifikasi akan dialirkan ke dekanter sentrifugal (DK-101) untuk memisahkan minyak dan campuran sabun. Dekanter sentrifugal ini bekerja pada tekanan 1 atm. Gaya pisah disini jauh lebih besar dari gaya gravitasi dan bekerja pada arah menjauh dari sumbu putaran dan bukan ke arah bawah ke permukaan bumi. Pada dekanter sentrifugal, zat cair terpisah menjadi dua lapisan. Lapisan yang sebelah dalam, atau minyak menumpah dari tanggul di bagian atas mangkuk dan keluar ke tutup pembuang yang stasioner, kemudian menuju ke suatu corot. Campuran sabun mengalir melalui sebuah tanggul lain ke tutup dan corot pembuang itu sendiri. 2.4.5 Proses Pencampuran (Mixer) I (M-101) Proses Pencampuran I (M-101) ini berfungsi sebagai tangki untuk mencampur sabun dengan bahan-bahan lain yang berbentuk cairan seperti CAPB dan Gliserin serta bahan-bahan yang berasal dari tangki pelarutan (T-105) seperti TCS, KCl dan Asam Sitrat. Penambahan CAPB berfungsi sebagai surfaktan, dimana CAPB mampu meningkatkan volume busa dan juga dapat melindungi kulit dari iritasi serta memberikan efek terhadap kelembutan kulit. Air berfungsi mengurangi viskositas sabun cair yang terbentuk sehingga memudahkan sirkulasi hasil reaksi. Gliserin

II-8

berfungsi sebagai pelembab di dalam sabun mandi cair ini agar kulit tidak menjadi kering saat memakai sabun ini. TCS (Triclosan) berfungsi sebagai antimikrobial agent. Antimikrobial agent dapat digunakan sebagai bahan tambahan untuk menghilangkan bau yang disebabkan adanya pertumbuhan bakteri serta menjaga kulit dari kuman, sehingga kulit tubuh bebas dari kuman. Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang berfungsi sebagai antioksidan, pengelat (pengikat ion-ion logam pemicu oksidasi, sehingga mampu mencegah terjadinya oksidasi pada minyak akibat pemanasan) dan mencegah sabun menjadi tengik. Asam sitrat diperoleh melalui proses hidrolisis pati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Asam sitrat juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan pengatur pH. KCl berfungsi sebagai pembuat busa dan penyeimbang bahan lain penambah sabun, sehingga pada proses pemanasan bahan-bahan tersebut tetap pada kondisi seimbang. Pencampuran bahan-bahan tersebut dilakukan pada suhu 83 oC dan tekanan 1 atm. Selama proses pemanasan dan pencampuran, sabun harus diaduk secara selama 30 menit. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencampur bahan-bahan, baik bahan baku maupun bahan tambahan secara merata, sehingga mencegah penggumpalan, dan menghasilkan sabun yang homogen. Pada akhir proses ini terbentuk sabun mandi cair (liquid soap) yang merupakan sabun akhir yang belum ditambahkan pewangi dan pewarna.

2.4.6

Proses Pencampuran (Mixer) II (M-102) Proses Pencampuran II (M-101) ini berfungsi sebagai tangki untuk

mencampur sabun dengan ekstrak bengkuang dan pewangi. Ekstrak bengkuang ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah yaitu untuk membuat kulit sehat, sedangkan pewangi ditambahkan untuk memberikan efek wangi pada produk sabun yang dihasilkan. Khusus untuk ekstrak bengkuang dan pewangi, penambahan bahan-bahan tersebut dilakukan pada suhu 30 oC dan tekanan 1 atm. Suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan pewangi menguap saat dituangkan sehingga kehilangan pewangi yang cukup besar akan terjadi. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan

II-9

kerugian yang cukup besar mengingat harga bahan pewangi sangat mahal. Kemudian diaduk secara kontinyu selama 30 menit untuk menghasilkan sabun yang homogen (Fifi, 2008). 2.4.7 Proses Pencampuran (Mixer) III (M-103) Proses Pencampuran III (M-103) ini berfungsi sebagai tangki untuk

mencampur sabun dengan ekstrak teh hijau dan pewangi. Ekstrak teh hijau ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah yaitu untuk membuat kulit sehat, sedangkan pewangi ditambahkan untuk memberikan efek wangi pada produk sabun yang dihasilkan. Khusus untuk ekstrak bengkuang dan pewangi, penambahan bahan-bahan tersebut dilakukan pada suhu 30 oC dan tekanan 1 atm. Suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan pewangi menguap saat dituangkan sehingga kehilangan pewangi yang cukup besar akan terjadi. Hal ini tentu saja dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar mengingat harga bahan pewangi sangat mahal. Kemudian diaduk secara kontinyu selama 30 menit untuk menghasilkan sabun yang homogen (Fifi, 2008). 2.4.8 Pengemasan Pengemasan merupakan salah satu proses penting untuk mencegah atau mengurangi kerusakan serta melindungi produk dari bahaya pencemaran dan gangguan fisik terhadap produk. Jenis kemasan yang dapat digunakan untuk produk sabun mandi cair adalah jenis botol plastik. Kemudian dilakukan penempelan kertas label pada botol plastik. Untuk memudahkan penyimpanan dan pengangkutan selama transportasi produk selanjutnya dikemas dalam kemasan sekunder. Jenis kemasan sekunder yang dapat digunakan adalah kardus. Aksesori yang menyertai kemasan primer dan sekunder adalah label. Label berfungsi untuk memberikan informasi kepada konsumen. Secara umum informasi yang diberikan meliputi nama produk, gambar produk, bahan penyusun, identitas produsen, tanggal produksi, izin Depkes, berat bersih, dan informasi lainnya. Informasi yang disajikan dalam label dibuat ringkas dan menarik perhatian dengan komposisi warna, jenis dan besar huruf yang menarik. Khusus

II-10

untuk kemasan sekunder dilengkapi dengan cara penanganan produk selama pengangkutan dan penyimpanan serta nama distributor (Hambali, 2005). Produk yang telah dikemas dalam kemasan sekunder bila tidak langsung disalurkan sebaiknya disimpan terlebih dahulu dalam gudang. Tempat penyimpanan sebaiknya cukup luas, tidak lembab, bersih, lantainya kering, dan bebas dari binatang. Untuk menghindari kerusakan, penumpukan kardus tidak boleh lebih dari delapan tumpukan. Kardus yang berada ditumpukan paling bawah diberi palet. Palet terbuat dari papan kayu yang berfungsi untuk menghindari kontak langsung antara produk dengan lantai sehingga kerusakan produk dapat dihindari. Pengaturan keluar masuk produk hendaknya dilakukan dengan baik. Produk yang lebih dahulu masuk tempat penyimpanan sebaiknya lebih dahulu didistribusikan. Sistem tersebut dikenal dengan istilah first in first out (FIFO). Sistem ini bertujuan untuk menghindari produk terlalu lama dalam tempat penyimpanan. Penyimpanan yang baik akan membantu mempertahankan kualitas produk dan kemasan. Kemasan produk pun dapat mengalami kerusakan. Kemasan sekunder (kardus) dapat rusak karena adanya hewan penggangu maupun lantai basah dan tidak menggunakan palet. Meskipun kemasan sekunder tidak berkaitan langsung dengan produk, kerusakan kemasan sekunder akan mempengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk (Hambali, 2005).