Anda di halaman 1dari 1

Kista ovarium merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai pada wanita usia reproduksi.

Sebagian dari kista itu menetap atau bahkan menghilang tanpa pengobatan atau operasi (Pribakti 2009). Susanto (2009) mengatakan bahwa 20 30% kista berpotensi menjadi ganas. Salah satu tanda bahwa kista ovarium menjadi ganas adalah adanya pembesaran kista yang cepat dalam waktu yang singkat. Angka kematian akibat kista ovarium cukup tinggi karena penyakit ini awalnya tanpa gejala dan tanpa menimbulkan keluhan. Perjalanan penyakit yang dianggap silent killer atau secara diam-diam menyebabkan banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terserang kista ovarium dan hanya mengetahui pada saat kista sudah teraba dari luar atau membesar. Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada wanita di atas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas, sehingga dianjurkan pada wanita yang berusia di atas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker ovarium (Susanto 2009). Kista ovarium lebih sering ditemukan pada wanita nulipara (Jacoeb 2008). Tumor paling sering terdapat pada wanita berusia antara 20 50 tahun, dan jarang sekali pada masa prapubertas (Wiknjosastro et.al. 2007, h.355). Taylor and Chandrasoma (2006, h.698) menemukan tumor jinak terjadi pada kelompok usia yang lebih muda (20 40 tahun) dibandingkan yang ganas (40 60 tahun). Penyebab dari kista ovarium, belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan kista ovarium, antara lain: faktor hormonal, makanan, psikologis, dan genetik. Ovarium mempunyai fungsi yang sangat vital pada reproduksi dan menstruasi. Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling sering terjadi adalah kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker ovarium (Marret 2001). Kista ovarium biasanya berukuran kecil (<5 cm), berkapsul, dengan isi cairan. Beberapa kista ovarium ini tidak menimbulkan gejala, dan dapat mengalami resolusi spontan, tetapi ada yang menyebabkan nyeri dan perasaan tidak menyenangkan. Ada beberapa yang menjadi ganas, dengan risiko terjadinya karsinoma terutama pada wanita yang mulai menopause (Marret 2001). Insiden kista ovarium yaitu 7% dari populasi wanita dan 85% bersifat jinak (Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi 2006, h.130). Insiden sebenarnya dari kista ovarium di Indonesia tidak diketahui secara pasti, diperkirakan prevalensi dari kista ovarium sebesar 60% dari seluruh kasus gangguan ovarium. Kistadenoma ovarii musinosum sebesar 40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium. Frekuensi kistadenoma ovarii musinosum ditemukan Hariadi (1970) sebesar 27%, Gunawan (1977) menemukan 29,9%, Sapardan (1970) menemukan 37,2%, dan Djaswadi menemukan 15,1%. Frekuensi kistadenoma ovarii serosum ditemukan Hariadi dan Gunawan di Surabaya sebesar masing-masing 39,8% dan 28,5%. Di Jakarta Sapardan menemukan 20%, dan di Yogyakarta ditemukan Djaswadi sebesar 36,1%. Frekuensi kista dermoid ditemukan Sapardan sebesar 16,9%. Djaswadi menemukan 15,1%, Hariadi dan Gunawan masing-masing menemukan 11,1% dan 13,5% (Wiknjosastro et.al. 2007, hh.355 360).